Pengagum Rahasia 2, Part 43

Telah lewat satu minggu setelah kejadian itu berakhir. Shania, Lidya dan juga Sinka tampak masih canggung, namun kini Shania dan Lidya kembali duduk di bangku yang sama. Suasana di dalam kelaspun kini sudah kembali kondusif. Hilangnya keberadaan Deva tidak terlalu berpengaruh bagi murid-murid yang lainnya, namun banyak sekali guru yang menanyakan tentang keberadaannya.

Lidya, ia sesekali bertanya kepada Shania tentang Deva. Namun jawaban yang selalu ia dapatkan adalah *Tidak*. Tidak tau? Ataukah Shania tidak mau menjawabnya?

“Hari senin udah mulai UAS,” ucap Lidya

“Ya,” balas Shania

Phew…kelompok yang pertama tampilnya kelompok gw lagi,”

“Huh? Kelompok apa?” ucap Shania

“Seni Musik lah, memangnya pelajaran mana lagi yang UAS-nya berkelompok?” Jawab Lidya

Shania terdiam.

Ia menghela nafas kasar sambil mengusap wajahnya sendiri. Sampai sekarang ia masih memikirkan tentang semua kejadian yang ia alami minggu lalu, bahkan ia sampai melupakaan sesuatu yang penting di sekolah. Yaitu kelompoknya sendiri…

Disimpannya pulpen itu pada samping bukunya, lalu ia tampak melamun disana.

Apa yang harus ia lakukan sekarang? Salah satu orang penting dalam kelompoknya telah hilang. Shania tampak membuka sebuah buku besar disana, lalu megeceknya.

“Buku apa tuh Shan?” tanya Lidya

“Kas…,” Jawabnya singkat

“Oh,” ucap Lidya

“Lid, lo mau gak kalau jadi bendahara kelas?”

“Loh? Kenapa gw? Kan yang kemarin masih aktif?”

“Gak…dia udah jarang nagihin uang kas lagi, gak tau deh kenapa,”

“Yah…oke deh. Tapi gw pengennya berdua, gak mau sendirian,”

“Itu gampang, nanti gw cari orang satu lagi untuk nemenin lo jadi bendahara,”

Lidya hanya mengangguk.

“Sebenarnya gw gak harus mengganti bendahara kelas sekarang,”

“Huh?” Lidya menengok ke arah Shania

“Karena…sebentar lagi kenaikan kelas, dan mungkin nantinya lo cuma dapat jabatan aja,” Jelas Shania

“Terus?”

“Ya lo gak akan merasakan sensasi menagih uang kas,”

“Pst…iya juga sih. Tapi yang menjadi pertanyaannya adalah, kenapa harus lo ganti bendaharanya? Terlebih lagi…kenapa harus gw?”

“Err…,” Shania menggaruk kepalanya

“…mungkin gak ada alasan apapun untuk itu, haha…,” Shania tertawa

Shesh! Kebiasaan…,” Lidya pun menghiraukan Shania dan kembali menempelkan pipinya di meja

“Gimana soal kelompok lo nanti?” ucap Lidya

“E-Eh? Kelompok?” balas Shania balik bertanya

“Seni Musik Shan! Err!” Lidya tampak geram

“Ahaha…iya, kalau itu…,”

Shania berusaha untuk tidak menjawabnya. Justru hal tersebutlah yang sedang tidak ingin ia bahas sekarang. Ia terus mengalihkan pembicaraan ketika Lidya mulai bertanya tentang kelompok seni musiknya.

Sampai pada akhirnya…

“Seni Musik nanti…,”

“Gw pengen masuk kelompok lo Lid!” lanjut Shania

“Eh?” Lidya terlihat kebingungan

~oOo~

X-5 Jam pelajaran ketiga. Tampaknya guru hanya memberikan tugas kelompok saja, dilihat dari mereka semua yang tengah mengerjakan sesuatu namun tidak ada satupun guru di dalam kelas.

“Nih, salin semuanya ke dalam kertas folio,” ucap Yupi

“Ah ya…biar aku yang urus,” balas Viny sembari menerima kertas itu

Yupi tampak menyimpan pensilnya di atas buku itu lalu beranjak dari kursinya.

“Mau kemana?” tanya Viny

“Ke Ruang OSIS,” Jawab Yupi

“Mau bolos lagi?!” timbal Viny

“Bukan…tapi mau fotokopi ini…,”

“Itu…soal matematika?”

“Aku dapat soal ini dari anak-anak OSIS. Katanya…ini bocoran…,”

“He?! Kamu mau nyontek ya?! Ngapain nyontek segala sih, kamu kan udah pintar,”

“Siapa bilang…aku pakai soal ini bukan untuk nyontek. Tapi…untuk perbandingan,”

“Hah?” Viny tampak kebingungan

“Lagipula aku gak punya niatan untuk nyontek, hanya saja…siapa tau kertas ini nantinya dapat berguna,” Yupi meninggalkan mejanya

Sementara Viny pun lanjut menyalin semua jawaban ke dalam kertas folio itu.

“Sekarang…apalagi yang mau dia rencakanakan?” Viny bergumam

-SKIP-

*

Ruangan OSIS SMAN 48 Bandung. Suasananya tampak sepi, seperti tidak ada hawa seseorang di dalam ruangan tersebut. Namun gadis itu tetap masuk ke dalam.

Ketika ia membuka pintu ruangan tersebut…

“Sigh…sudah ku duga, pasti kamu ada disini…,”

“Oh Yupi. Kenapa? Bukannya kemarin sudah aku bilang, ruangan OSIS akan di tutup untuk beberapa hari,” balas gadis yang duduk di kursi itu

“Kamu sendiri…kenapa ada di tempat ini?”

“Karena aku ini ketua OSIS, aku bisa masuk kesini kapanpun aku mau,”

“Pst…kalau alasannya seperti itu, aku seharusnya gak bertanya…,” ucap Yupi

“Hemm…ya deh. Aku…cuma lagi bosan. Jadi aku datang ke sini,”

Gadis yang bukan lain adalah Riskha, Yupi tampak menggeleng menanggapi sikap temannya itu.

“Jadi…kenapa kamu kesini?” tanya Riskha

“Ini…,” Yupi menunjukan kertasnya

“Oh, itu kertas yang kemarin ya. Mau di fotokopi? Shesh…ternyata kamu cerdik juga,” ucap Riskha

“Jangan salah paham dulu…aku gak berniat untuk membuat contekan nanti. Hanya saja…aku cuma ingin membandingkannya dengan soal yang lain,”

“Hah? Apa maksud kamu?” tanya Riskha

“Yah…karena kamu itu adalah orang yang bisa aku percaya, jadi…,” Yupi tampak mengeluarkan sesuatu dari belakang punggungnya

Ternyata benda itu adalah sebuah kertas yang di dalamnya terlihat seperti kumpulan soal.

“Kertas ini…sebenarnya kemarin aku mendapat 2 bocoran soal dari 2 orang yang berbeda. Dan setelah ku lihat-lihat, ternyata isi dari masing-masing kertas itu sangatlah berbeda,”

“Jadi maksudnya, kamu mau membuat 2 contekan sekaligus?” ucap Riskha

“Pffft…hahaha! Padahal sudah aku bilang tadi, aku tidak akan menyontek saat ujian. Aku hanya ingin membuat UAS nanti akan jadi lebih mudah dengan 2 kertas ini,” Jelas Yupi

“Itu berarti kamu mau belajar bersama ya! Kalau gitu aku ikut!” ucap Riskha dengan bersemangat

“Eh? T-Tapi aku gak bilang mau belajar bersama, dan juga…,”

“Sudahlah! Pokoknya pulang sekolah nanti, aku bakal ajakin 3 orang lainnya untuk belajar bersama di rumah kamu,”

“3 orang?! Dan kenapa harus di rumahku!” ucap Yupi

“Sini kertasnya!” Riskha merebut kertas itu

Kemudian ia lekas menyalakan mesin fotokopi disana.

“Mau di buat berapa?” tanya Riskha

“2 aja,” Jawab Yupi

Mesin fotokopi itu mulai berfungsi.

“Ah…soal ruangan OSIS ini, alasan utama kamu menutup ruangan ini, bukan karena ingin memberi sedikit waktu istirahat pada anggota yang lain kan?” ucap Yupi

“Hmm?” Riskha menengok ke arah Yupi

“Aku pikir memberi waktu istirahat untuk anggota OSIS yang lain dengan menutup ruangan OSIS itu terlalu berlebihan. Dan juga…aku bukannya sok tau, tapi…aku juga pernah menjadi anggota OSIS sebelum masuk ke sekolah ini.” Jelas Yupi

“Heh,” Riskha mendengus seperti menertawai Yupi. “Memangnya kamu pikir aku ini bodoh? Tentu saja aku tidak mungkin memberi alasan bodoh seperti itu. Alasan itu hanya untuk Lidya seorang,”

“Jadi?” ucap Yupi kembali bertanya

“Tujuanku untuk menutup ruangan ini adalah, agar ruangan ini tidak dijadikan tempat pelarian oleh nya,” Jawab Riskha

“Tidak peduli seberapa besar masalahnya di dalam kelas, aku hanya tidak ingin dia terus-terusan datang ke tempat ini hanya untuk bersembunyi dan lari dari masalahnya. Bukankah lebih baik kalau dia segera menyelsaikan masalahnya itu?”

“Itu…benar juga…,” ucap Yupi yang tampak tegar

“Hanya tinggal menghitung hari, sampai ke hari H ujian kenaikan kelas. Apa kamu sudah mempersiapkan segalanya?” tanya Riskha

Yupi menggeleng. “Aku tidak perlu menyiapkan apapun untuk ujian nanti. Yang harusku persiapkan hanyalah barang-barang…yang harus ku bawa untuk kesana,” ucap Yupi

“Hah? Kemana?” tanya Riskha kembali

“Ah…kita bicarakan ini lagi nanti,” ucap Yupi

Riskha tampak mengambil copyan dari kedua kertas yang diberikan Yupi sebelumnya, kemudian ia memberikannya pada Yupi.

“Kamu boleh menyimpannya satu,” ucap Yupi

“Oh-oke…,” Riskha menerima copyan itu

Yupi kemudian merapikan kertas-kertasnya itu di meja.

“Ngomong-ngomong, untuk kelas XI nanti…apa kamu mau menjadi anggota OSIS?” tanya Riskha

“Eh?” Yupi menengok dengan tampang kebingungan

“Ya…selama ini kamu hampir sering datang ke ruangan OSIS, padahal kamu sendiri bukanlah anggota OSIS. Jadi…,”

“Tidak,” Yupi memotong kata-kata Riskha

“Huh? K-Kenapa?” ucap Riskha seperti tidak menerima jawaban Yupi

“Aku sudah tau seberapa sibuknya anggota OSIS itu, dan aku pikir sepertinya aku tidak punya cukup waktu untuk terus mengikuti kegiatan OSIS. Terlebih lagi…aku juga sekarang sudah menjadi anggota klub basket SMAN 48. Klub itu juga sudah cukup memakan waktu luangku,” Jelas Yupi

“Tapi akhir-akhir ini klub basket bukannya sedang istirahat ya?” ucap Riskha

“Aku tau itu…karena dalam waktu dekat kita akan menghadapi ujian kenaikan kelas. Maka dari itu klub basket untuk sementara di liburkan. Tapi tetap saja, ketika sudah masuk ke tahun ajaran baru, kegiatan basket akan kembali di jalankan,” Jelas Yupi lagi

Phew…padahal aku sangat mengharapkan kamu untuk menjadi anggota OSIS,” Riskha terlihat tertawa pasrah

“Aku tau betapa sibuknya anggota OSIS itu, karena aku sendiri pernah merasakannya disana. Ah iya, apa kamu tidak berniat untuk masuk ke kelas sekarang? Guru matematika sudah memberikan tugas kelompok tadi,” ucap Yupi

“Hah…sudahlah, lagipula pasti Gery yang mengerjakan semuanya,” Jawab Riskha

“Huft…kamu selalu saja memanfaatkan seseorang,”

“Memang begitulah kenyataannya,” Jawab Riskha lagi dengan polos

“Lagipula kalaupun aku datang ke kelas dan ikut bekerjasama mengerjakan soal itu, aku pasti tidak akan berpengaruh baginya. Karena aku sama sekali tidak mengerti tentang matematika,” tambahnya

Yupi tampak mengusap wajahnya sendiri.

“Yasudah, aku harus kembali ke kelas sekarang,” ucap Yupi

“Baiklah, sampaikan salamku ke Gery ya,”

“Ya,” balas Yupi singkat

~oOo~

“Ihza?!”

Mereka berdua tampak sedang memperdebatkan sesuatu.

“Maksudnya…lo satu kelompok sama Ihza?” ucapnya lagi

“Ya. Justru dia ketua kelompoknya,”

Shania menghembuskan nafas kasar dengan bahu yang turun. Ia tampak sangat pasrah dengan jawaban yang diberikan oleh Lidya.

“Nah kebetulan orangnya datang, Oi! Za!” Panggil Lidya

Orang yang dipanggil pun datang.

“Kenapa?” ucap Ihza

“Ini…katanya Shania mau ikut ke kelompok kita,” Jelas Lidya

“Oh…,”

Ihza seperti memalingkan pandangannya dari mereka berdua, dan ia tampak melihat ke arah meja di seberang.

“Gak bisa…,”

“EH?! Kenapa!” ucap Shania yang tampak tidak menerima jawaban itu

“Gw bilang gak bisa ya gak bisa…,” ucap Ihza kembali

“Oke Fine! Tapi gw harus tau kenapa lo gak mau nerima gw,” ucap Shania

“Gak ada alasan khusus untuk itu, jadi…sebaiknya lo cari kelompok lain,” Jelas Ihza

“Sigh!” Shania tampak kesal dengan perkataan Ihza

“H-hei…kesini sebentar!” Lidya tiba-tiba menarik tangan Ihza dan membawanya pergi keluar kelas

Ketika mereka telah berada di luar ruangan, Lidya mulai berbicara…

“Kenapa lo jadi tegaan gini sih! Lagipula dia itu kan suaranya bagus! Pastinya kita bakalan untung kalau dia ada di dalam kelompok,” ucap Lidya

“Nilai yang harus kita dapatkan untuk ujian seni musik nanti tidak bergantung pada bagus atau tidaknya suara kita. Tapi…kerjasama kita yang dibutuhkan nanti,” Jelas Ihza

“Iya gw tau! Terus kenapa lo malah nolak dia sih!” ucap Lidya lagi

“Karena dia itu sudah punya kelompok sendiri,”

“A-Apa?!” Lidya seperti kebingungan

“Kalau dia masuk ke kelompok kita, itu berarti dia akan menelantarkan anggota kelompoknya sendiri nanti. Dan anggota kelompoknya pasti akan beranggapan bahwa kita sudah merebut Shania darinya,” Jelas Ihza

“Tapi siapa anggota kelompoknya itu?!” tanya Lidya

“Gw gak akan kasih tau…,” ucap Ihza, kini ia membelakangi Lidya

“Sigh! Gw benar-benar kesal sekarang!”

“Terserah…tapi yang pasti gw gak akan menerimanya jadi anggota kelompok kita,” ucap Ihza

“Kalau begitu biar gw yang keluar dari kelompok ini!” ucap Lidya

Ihza pun kembali berbalik menghadap Lidya.

“Heh,” ia mendengus. “Silahkan saja…,” ucap Ihza sembari tersenyum

Senyuman yang membuat Lidya semakin meluapkan amarahnya.

“Cih! Minggir!” Lidya sedikit mendorong Ihza lalu kembali ke dalam kelas

~oOo~

Jam pulang pun tiba, murid-murid mulai keluar dari dalam kelasnya.

“Ayo Shan kita pulang!” ajak Lidya

“H-Hei…kenapa lo jadi bersemangat gitu?!” ucap Shania

“Kita bakalan latihan musik di rumah gw,” ucap Lidya kembali

“Loh? Bukannya tadi Ihza gak nerima gw ya?”

“Gw yang keluar dari kelompoknya, supaya kita berdua bisa satu kelompok,” Jelas Lidya

“Eh!? T-Tapi Lid…,”

“Udahlah gak usah banyak komen! Kita pulang sekarang!” Lidya menarik tangan Shania

Sementara Shania terlihat pasrah dan ia hanya bisa mengikuti kemana Lidya pergi.

Di samping itu…

Seorang Gadis baru saja selesai membereskan barang-barangnya ke dalam tas. Tiba-tiba seorang laki-laki datang menghampirinya.

“Yo!” Laki-laki itu menyaoanya

“Oh, ada apa?”

“Lo mau gak jadi partner gw?”

“Partner?” Gadis itu balik bertanya

“Ya. Mulai sekarang, kita berdua satu kelompok seni musik,”

“Shesh…merepotkan,” Gadis itu menghiraukannya lalu pergi

“Hei tunggu dulu, sekarang ini lo udah gak punya kelompok!” Laki-laki itu berusaha mengimbangi jalannya

“Gw tau…,” Jawab gadis itu dengan singkat

“Oleh karena itu, lo harus masuk ke kelompok gw, ya-ya!”

“Maaf…tapi untuk sekarang gw gak mau membicarakan hal apapun,”

“E-EH! Sinka tunggu!”

Aksi kejar-kejaran pun di mulai. Sinka berlari sangat cepat meninggalkan ihza dibelakang. Tapi Ihza juga tidak kalah cepat, ia berusaha untuk mengimbanginya.

Sampai pada akhirnya mereka pun berada di luar area sekolahan.

“Gah! Capeknya! Gw gak tau lo bisa lari secepat itu Sin! Phew…,”

“Ihza…percuma lo ngikutin gw,”

“T-Tapi Sin dengerin gw dulu!”

“Di kelas…,” ucap Sinka menggantung. “Hanya ada dua orang yang tau…identitas gw yang sebenarnya,” lanjutnya

“Tapi…kalau lo mau membokar semuanya, silahkan saja…,” tambah Sinka

“Hei…lo ini bicara apa sih, mana mungkin gw ngelakuin hal seperti itu. Selain itu…,” ucap Ihza menggantung

Ihza kini berdiri tegap dihadapan Sinka.

“Untuk hal seperti itu, bukankah seharusnya lo sendiri yang memutuskan?” ucap Ihza

“Gw?” Sinka mendengus dihadapan Ihza

“Soal sifat asli lo itu, bukannya bagus kalau semua orang tau tentang itu?”

“Ya,” Jawab Sinka

“Mereka akan tau, betapa jahatnya diriku ini…,” ucap Sinka dengan tatapan tajam

“Kyahaha! Bahasa lu jadi rumit begitu,” ucap Ihza sembari tertawa

Sinka tidak menunjukan ekspresi apapun, melainkan hanya diam saja. Tak lama kemudian, ia kembali pergi meninggalkan Ihza.

“Loh hei! Kalau lu gak mau masuk kelompok gw, terus nasib gw gimana!” teriak Ihza

~oOo~

Kediaman Lidya tampak sepi, dengan adanya satu motor yang parkir di depan rumahnya, itu menandakan bahwa seseorang berada di dalam rumah tersebut.

“S-Siapa?” tanya Shania

“Adik gw…,”

“Hah?”

Mereka pun masuk ke dalam, di mulai dari Lidya.

“Woah…ngomong-ngomong, ini pertamakalinya gw datang ke rumah lo,”

“Oh, beneran?” tanya Lidya

“Iya. Hemm…rumah lo memang gak mewah, tapi suasana di dalam rumah ini benar-benar sejuk. Gak kayak rumah gw yang sumpek begitu…,” ungkap Shania

“Yah…kita simpan kata-kata lo itu untuk jadi bahan obrolan nanti. Yang terpenting sekarang, kita harus latihan,”

“Eh gw merasa kalau ini gak benar…,”

“Hah? Apanya yang gak benar?” tanya Lidya balik

“Apa lo yakin mau keluar dari kelompoknya Ihza? Dia itu kan ketua kelompoknya,” ucap Shania

“Bukan mau, tapi memang sudah keluar. Selain itu, dia bukan lagi ketua kelompok kalau dia gak punya anggota sama sekali,”

Shania terdiam.

“Gw gak tau…,”

“Eh?” Lidya menengok

“Gw rasa ini masih salah. Kita seharusnya gak melakukan ini…,”

“Melakukan apa? Sudahlah! Sini ikut gw…,” ajak Lidya

Shania pun di bawa ke suatu ruangan di rumahnya. Lalu ketika mereka sampai di ruangan itu…

“Eh?! Ada studio musik?!” ucap Shania benar-benar terkejut

“Ini studio musiknya adik gw,” ucap Lidya

“Hah? Gak masalah nih kalau kita pinjam studio musiknya?”

“Gak masalah lah…selagi kita gak merusak apapun,”

“O-Oke…,” balas Shania

Mereka masuk ke ruangan tersebut.

“Ini…benar-benar kumplit. Bahkan ada drum juga,”

“Namanya juga studio musik, ya pasti kumplit lah!” timbal Lidya

Lidya mulai mengangkat gitar itu.

“Coba nyalain mesin itu,” ujar Lidya

“Yang mana?” tanya Shania balik

“Itu, yang besar kayak speaker!”

“Maksudnya amplinya?” ucap Shania kembali

“Iya itulah pokoknya! Cepet nyalain!”

“Ya ampun…bahkan lo gak tau nama dari alatnya sendiri apa. Kalau ada yang rusak gimana…,” ucap Shania yang tampak mulai khawatir

“Nyalain aja Shan! Percaya deh sama gw!”

“Sigh…yasudah deh…,” Shania pun menyalakan ampli itu

Tiba-tiba…

*JRENG! JRENG!

“GWAAAAAHHH!”

Mereka berdua langsung menutup telinga.

“HEY! G-Gitarnya jangan di jatuhin!” ucap Shania

“Hah?! WOAH!” Lidya baru menyadari kalau gitar yang sebelumnya ia pegang itu lepas dari tangannya

Lantas Lidya pun kembali mengambil gitar itu.

Phew…gw kira tadi bakalan terjadi sesuatu, tapi ternyata kita masih aman. Oke sekarang…,”

“T-Tunggu Lid!” Shania menghentikan permainan Lidya

“Eh? Apa?” ucap Lidya

“Lihat! S-SENARNYA…longgar…,”

“HE?! Beneran?!” Lidya langsung melihat senar gitar itu

“Woah beneran jadi longgar! Kenapa bisa jadi begini!”

“Duuh…gimana nih!” Shania tampak panik

“Sigh…ternyata gw memang gak ahli dalam gitar,”

“Lantas kenapa lo masih mau mainin sih! Err!” Shania geram

“Haha…oke-oke, gw bakalan ganti alat musiknya,”

“Ganti?! Tapi…gimana kalau yang lain juga ikut rusak,”

“Mana mungkin…sudahlah, sekarang lihat…,” Lidya berjalan menuju keyboard disana

“Keyboard? Lo bisa maininnya?”

“Heh,” Lidya mendengus seperti meremehkan Shania

 

 

BERSAMBUNG…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s