“Saat Cinta Merubah Segalanya2,” Part 28

Robby ermenung duduk di kantin kampusnya. Sejak semalam ia terus memikirkan apa yang diminta oleh Shania.

Mengapa ia mau dirinya bersama Shani? Ada apa sebenarnya? Banyak peranyaan muncul dibenaknya, mungkin ada yang disembunyikan oleh Shania atau mungkin.. Shani?

Robby menoleh ketika ada yang menepuk pundaknya.

“Ngelamun mulu.” Reizo berjalan duduk di hadapan Robby setelah mengambil minuman di kulkas kantin. “Ada masalah lagi lo?”

Robby menghela nafasnya, “Gue kemarin ketemuan sama Shania.”

“Terus?” Reizo menatap Robby bingung.

“Dan disana juga ada.. Shani..”

“Tunggu dulu, lo bawa Shania ketemuan sama Shania?”

Robby menggelengkan kepalanya.

“Terus? Dia datang tiba-tiba?”

Robby menggelengkan kepalanya lagi, tidak membenarkan tebakan Reizo.

“Terus? Gimana ceritanya Shani ada di sana juga saat lo ketemuan sama Shania?” tanya Reizo bingung.

“Shania yang bawa Shani kemarin, gue ngerasa ada yang disembunyiin mereka berdua dari gue. Dan anehnya Shania mau gue sama Shani.” Robby menghela nafasnya lelah mengingat permintaan Shania tadi malam. “Gue kemarin ngajaka dia balikan, dan gue nunggu dia mikirin selama satu minggu. Dan kemarin dia jawab, dia mau gue sama Shani. Apa yang harus gue lakuin? Gue sayang Shania, tapi di satu sisi Shania minta gue sama Shani. Apa lo gak ngerasa aneh Zo?”

Reizo menganggukkan kepalanya paham, “Gue juga ngerasa kayak ada yang disembunyiin juga deh dari cerita lo itu. Kadang gue ngeliat juga Shani pulang buru-buru, dan waktu itu gue gak sengaja ngeliat kalau Shania nelpon Shani. Mungkin mereka sekarang sudah berteman, itu bagus sih. Tapi dari cerita lo gue jadi ngerasa ada yang mereka sembunyiin.”

Robby menghela nafasnya, “Sekarang gue harus gimana?”

Reizo mengangkat bahunya, “Itu terserah lo. Kan lo yang nentuin bukan gue, gue sebagai sahabat lo cuma dukung keputusan lo dan nasehatin lo kalau salah.”

“Kalian berdua pada ngapain deh? Serius amat. Kayak homo deh berdua gini.” Aldy datang bersam Viny, di belakangnya ada Shani dan Gre.

“Eh, jaga omongan lo ya!” sewot Reizo.

“Yee, becanda kali.” Aldy pun duduk di samping Reizo. Dan diikuti Viny di sampingnya. Sedangkan Shani dan Gre, mereka duduk bersebrangan dengan Aldy dan Viny. Gre duduk di samping Robby, dan di sampingnya Shani telah duduk dengan manisnya.

Entah kenapa Shani lebih memilih untuk menjauh dari Robby hari ini, ia seperti malas dengan dirinya hari ini. Otaknya selalu memutar kejadian tadi malam dimana Shania tengah memeluk Robby. Dadanya terasa sesak ketika mengingat hal tersebut.

“Pada pesen apa nih? Gue mesen sekalian deh.” Reizo bangkit dari duduknya.

“Nasi pecel dua Zo,” ucap Aldy.

“Gue bakso deh. Ci Shani, apa?” tanya Gre.

“Ngg, aku samain sama kamu aja deh Gre,” jawab Shani.

“Oke, lo apa Rob?” Reizo kini beralih pada Robby.

“Gue es jeruk aja, gue udah kenyang.”

“Serius nih?” tanya Reizo memastikan.

Robby mengangguk tanpa membalas perkataan Reizo. Reizo pun berjalan menuju ibu-ibu penjual yang ada di kantin memesankan pesanan mereka. Dan tak berapa lama, Reizo kembali bergabung dengan mereka. Setelah itu, pesanan mereka pun datang. Dan mereka makan dengan candaan yang mengundang gelak tawa, tetapi Robby dan Shai hanya menanggapinya dengan tersenyum tipis..

~

Robby memasukkan mobilnya ke garasi rumah. Hari ini, ia diminta Naomi untuk pulang, karena memang ia hanya sendiri dan kangen dengan adiknya itu. Yupi belum pulang dari sekolahnya, ia sedang sibuk kerja kelompok di rumah temannya.

Robby berjalan masuk ke dalam rumah setelah melepas sepatunya. Ia berjalan menuju ruang tengah, dan merebahkan tubuhnya pada sofa yang ada di sana.

“Bersih-bersih dulu kali dek, baru rebahan,” nasehat Naomi yang membawakan minum dan cemilan untuk Robby. Mungkin sedari tadi ia tengah menyiapkan minum untuk dirinya.

“Males. Nanti aja.: Robby sibuk memainkan handphone miliknya.

“Geseran sana.” Robby pun bangkit dari rebahannya menjadi duduk. Naomi meletakkan yang ia bawa pada meja kecil di depan mereka. Lalu duduk di samping Robby.

Mereka hanya diam, Robby yang masih asik memainkan handphonenya dan Naomi hanya menatap adiknya itu.

“Yupi sudah besar, dia gak bisa nemenin kakak kayak dulu. Dan kamu, sekarang kamu lebih sibuk lagi dan kamu juga udah gak tinggal di sini.” Naomi mengalihkan pandangannya ke langit-langit ruang tengah. “Kadang kakak ngerasa kangen kalian dulu, apalagi waktu kita masih berempat. Sinka, dia juga sedang sibuk sama sekolahnya.”

Robby memasukkan handphonenya ke dalam saku celana. Lalu dengan perlahan ia merengkuh tubuh Naomi untuk dipeluknya, “Maaf kak, kadang aku suka keterlaluan sama kakak. Tapi dari dalam hati aku, aku sayang banget sama kakak. Aku juga kangen kita ngumpul berempat. Mungkin nanti liburan kita ke tempat Papah, gimana?”

Naomi tersenyum dalam pelukkan Robby, lalu ia menganggukkan kepalanya, “Nanti kita lihat jadwal masing-masing dulu. Kamu kuliah, mungkin gak akan sama jadwalnya sama Yupi. Kalau kakak, bisa-bisa aja soalnya kan udah lulus juga kuliahnya tinggal ngurus usaha dari Mamah aja.”

“Hem.. kapan nikah kak?” tanya Robby dengan gelak tawanya. “A-adudu!! Kok dicubit sih?!” Robby mengelus perutnya setelah Naomi melepaskan pelukkannya.

“Kamu nyebelin! Kakak emang lagi pengen sendiri, mau usaha dulu. Gak mau mikirin kaya gitu.”

“Ya.. terserah.” Robby merebahkan tubuhnya dengan berbantalkan paha Naomi.

Naomi terdiam sejenak ketika Robby memejamkan matanya. Seketika ia mengingat pertemuannya dengan Shania beberapa hari yang lalu. Naomi tersenyum perih, ada perasaan sedih ketika mendengar ungkapan Shania saat itu..

Flashback On.

Kini Naomi sedang berjalan menuju sebuah café sembari menunggu Yupi yang belum minta dijemput. Ia memesan hot cappuccino dan kentang goring untuk menemaninya selama menunggu Yupi.

Naomi mengesap hot cappuccino pesanannya sambil memperhatikan handphonenya yang sedang banyak menerima pesanan pembeli. Naomi setelah lulus kuliahnya tahun lalu, ia lebih memilih membantu usaha Mamahnya yaitu membuka toko roti dan ada juga yang memesan lewat dirinya.

“Kak Naomi.” Naomi mendongakkan kepalanya, dahinya berkerut bingung. “Ngg, Shania?”

Shania mengangguk, “Kak Naomi, apa kabar?”

Naomi tersenyum, “Baik. Bagaimana dengan kamu? Oh iya, duduk dulu yuk sini sama kakak kita ngobrol-ngobrol.”

Shania mengangguk, ia pun duduk berhadapan dengan Naomi. “Baik juga kak,” terdengar jawaban lirihan dari Shania yang dapat Naomi dengar/

Naomi mengernyit, mungkin ada masalah pikirnya. “Ada apa? Kamu kenapa?”

Shania menggelengkan kepalanya tersenyum, “Gakpapa kak.”

Naomi memperhatikan wajah Shania, agak terlihat berbeda dari sebelumnya ketika terakhir mereka bertemu. Dan ia terlihat pucat, dan juga.. agak kurusan?

“Kamu baik-baik aja kan?” tanya Naomi memastikan.

“Emang kenapa kak?”

“Muka kamu pucat, kamu sakit?”

Shania tersenyum. Baginya Naomi ini adalah kakak keduanya, ia sudah menganggap Naomi ini adalah kakaknya sendiri. Selain dirinya yang memang baik sekali pada Shania. Ia juga berteman baik dengan kakaknya dulu.

“Kak Naomi, kalau aku udah gak ada. Kakak mau kan bantu aku?”

“Maksud kamu?” Naomi menatap Shania bingung.

Shania menghela nafasnya terlebih dahulu, lalu ia menatap dalam mata Naomi, “A-aku sakit kak. Dan mungkin gak bakalan lama lagi aku bisa bertahan. Dan aku mohon banget, bantu aku buat jagain Robby ya? Aku mau kakak, bantu Robby buat masa depannya. Aku mau Robby sama Shani, bantu aku buat deketin mereka ya kak?”

Naomi terdiam. Mencerna apa yang telah dikatakan oleh Shania. Maksudnya tidak lama lagi bisa bertahan itu apa?

“Maksud kamu apa Shania?” tanya Naomi pelan.

Shania menutupi wajahnya dengan kedua tangan, lalu ia mengatur nafasnya dan menatap Naomi kembali.

“Aku sakit leukemia kak. Dan itu sekarang sudah stadium dua, itu artinya waktu Shania tinggal sebentar lagi.” Shania tersenyum getir menahan tangisnya.

Naomi menutup mulutnya tidak percaya. Ia tidak percaya bahwa Shania juga menderita penyakit itu. Setelah kemarin Ve, dan sekarang Shania. Dan setau Naomi, Ibu mereka pergi meninggalkan mereka akibat penyakit itu. Apa ini artinya penyakit itu menurun pada keduanya?

“Kak.. bantu aku ya?”

Naomi mengangguk tersenyum tulus, lalu ia mengusap lembut tangan Shania yang ada di atas meja, “Kakak selalu jaga Robby sebelum kamu minta Shania, kakak sayang sama dia. Dan soal ia bersama Shania, apa kamu gak salah?

Shania menggelengka kepalanya, “Enggak sama sekali. Karena aku yakin, sekarang yang cocok untuk menggantikkan posisiku itu adalah Shani.”

“Yasudah, kalau begitu kakak akan membantumu. Tetapi tidak bisa sepenuhnya, karena Robby yang berhak untuk memutuskannya sendiri.”

Shania mengangguk, “Aku tau kak. Nanti akan aku bicarakan sama Robby soal ini.”

“Yasud-,”

“Shania, apa sudah selesai?”

Naomi menolehkan kepalanya menatap sang pemilik suara.

Shania menoleh pada Shani, lalu ia mengangguk, “Tunggu bentar lagi.” Lalu ia menolehkan kepalanya pada Naomi, “Kak, aku mohon ya? Dan jangan kasih tau Robby soal ini ya?”

Naomi menoleh pada Shania, “Kenapa? Bukankah kalau Robby tau malah bagus?”

Shania menggelengkan kepalanya, “Enggak kak. Aku rasa nanti malah jadi ribet, dan aku gak mau Robby fokusnya cuma ke aku.” Shania bangkit dari duduknya, “Aku duluan ya kak.” Shania pun berjalan keluar café.

“Duluan kak Naomi.” Setelah berkata seperti itu, Shani pun menyusul Shania keluar café.

Naomi duduk termenung memikirkan apa yang barusan ia bicarakan bersama Shania. Membantunya? Pikirnya.

Flashback Off.

Tangan Naomi bergerak perlahan mengelus dengan lembut kepala Robby.

“Dek, misalnya Shania pergi lagi gimana?” tanya Naomi.

Robby membuka matanya, ia menatap heran pada Naomi, “Maksudnya kak?”

Naomi menghela nafasnya, “Kalau Shania pergi lagi, gimana?”

“Emangnya kenapa kak?”

Naomi menggelengkan kepalanya, “Kakak cuman nanya.”

Mereka berdua terdiam. Pikiran mereka entah melayang kemana, Naomi tetap setia mengelus kepala Robby hingga akhirnya tangannya ditahan oleh Robby.

“Kalau emang itu terjadi, aku gak tau kak,” lirih Robby.

Naomi tersenyum miris, “Udah ah, jangan terlalu dipikirin. Kakak cuma nanya aja kok.”

Robby mengangguk. Lalu mereka pun larut dalam tontonan tv yang menayangkan sebuah film. Tak terasa yupi pun datang, dan ia hanya menatap heran pada kedua kakaknya yang sedang menonton tv itu..

Malam harinya, di sebuah rumah mewah, kini terlihat tiga orang perempuan yang tengah makan malam bersama. Hanya suara sendok dan garpu yang terdengar saling beradu. Satu orang dari perempuan tersebut telah selesai dengan makan malamnya, ia pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju wastafel.

“Udah, biar aku aja yang nyucinya.” Seorang perempuan yang tingginya hampir sama dengan dirinya, berada di sampingnya. “Udah Shania, biar aku aja.”

“Tapi aku juga bisa kok Shani.” Shania tetap kekeuh pada pendiriannya, tetapi Shani mengambil piring yang di tangan Shania, “Udah gakpapa.” Shani mencuci piring bekas mereka makan tadi.

“Shani..” Shania menatap punggung Shani, “Kamu mau kan?”

Shani terdiam, ia tetap mencuci piring dan tak mau menjawab pertanyaan Shania.

“Shani.” Panggil Shania.

Shani menghela nafasnya, “Ya, apa?” Shani menaruh piring yang telah selesai dicucinya di rak, dan ia mencuci tangannya kembali, lalu mengelap tangannya pada lap yang tergantung tak jauh dari wastafel.

“Kamu mau kan nurutin permintaan aku?”

“Aku gak bisa.” Shani melipat tangannya di dada menghadap Shania. “Kenapa sih kamu mau aku kayak gitu?”

“Karena aku percaya sama kamu Shani.” Shania menatap dalam mata Shani. “Kamu mau ya?”

Shani menghela nafasnya menggeleng, “Aku gak mau. Kamu kan sama dia.”

Shania berbalik, “Udahlah Shan, kamu jangan nyakitin perasaan kamu sendiri.” Shani pun mulai melangkah menuju ruang tengah.

Tetapi baru saja ia melangkah tiba-tiba..

Bruk!

Shani berbalik, matanya membulat melihat apa yang di hadapannya..

“Shania!”

 

*To be continued*

 

Created by: @RabiurR

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s