Kita

Hari pertama

Yona berusaha semampunya untuk tak melayangkan pukulannya kewajah pria yang berdiri didepannya. Pria itu adalah lawan debatnya, mereka berdua adalah finalis dari lomba debat yang akan menentukan siapakah yang akan mewakili kelas mereka dalam lomba debat akbar kampus mereka.

Yona tidaklah terlihat sebagai tipe mahasiswa yang rajin dan pintar, dia mewarnai rambutnya yang panjang sebahu dengan cat pirang yang sedikit coklat. tapi dibalik penampilannya itu Yona adalah mahasiswa yang gemilang dengan nilai nilai yang mumpuni, membuatnya seperti manifestasi dari pribahasa “jangan nilai buku dari sampulnya.”

Joseph lawan Yona merupakan manifestasi lain dari pribahasa “Jangan nilai buku dari sampulnya.” Dia pria adalah pria tinggi, kurus yang banyak bicara. Dia hampir selalu membuka mulutnya disetiap kesempatan yang ada. Mengomentari apapun yang dia bisa, atau berbicara dengan siapapun dengan topik apapun. Tapi dibalik hal itu Joseph cukup mampu menjadi rival Yona dalam hal akademik dikelas, pria yang banyak bicara yang seharusnya menjadi badut dikelas ini merupakan salah satu mahasiswa terbaik dikelasnya.

Mereka berdua berada diperingkat satu dan dua dikelas mereka, tak ada yang tahu urutan pastinya tapi semua orang dikelas tahu tentang hal itu.Sekarang sekali lagi kedua rival itu sekali lagi menjadi lawan. Sebuah kompetisi tak resmi antara dua orang yang tidak diketahui ujung pangkalnya. Satu yang pasti pertandingan mereka kali ini sudah memanas, dengan Yona yang merasa emosinya sudah berada diubun ubun kepalanya.

Yang membuat Yona kesal dan hampir memukul pria itu sangat sederhana. Pria itu terlalu keras kepala untuk mengakui bahwa dia mengunakan argumen yang salah. Ini bukan pertama kalinya Yona merasa kesal kepada Joseph, dia sudah tak tahu pasti berapa kali Joseph membuat dirinya kesal. Yona merasa jika Joseph mendapatkan kebahagiaan saat berhasil membuat dirinya kesal, karena itulah hampir disetiap kesempatan yang ada dia selalu memancing emosinya.

“Mengaku saja jika kau salah,” ucap Yona hampir berteriak.

“Salah ucap yang kulakukan tak membuat argumen yang kau ucapkan menjadi benar,” ucap Joseph membela diri.

Sekarang kelas terbagi menjadi dua, sebagian besar wanita mendukung Yona. Selain karena mereka setuju dengan Yona, juga karena mereka memiliki kesamaan gender. Mereka merasa Yona menjadi representasi bahwa wanita juga dan bisa lebih pintar dari lelaki. Terdengar seperti alasan premodial tapi para wanita menyimpan perasaan bahwa mereka juga bisa lebih baik dari pada lelaki.

Sebagian kecil dari para wanita dan keseluruhan pria didalam kelas mendukung Joseph. Untuk para pria, Joseph adalah perwakilan mereka. Sama seperti para wanita yang mendukung Yona, para pria itu tak ingin kalah dari para wanita dan Joseph mewakili itu. Lalu untuk sebagian kecil wanita yang mendukung Joseph, mereka melakukannya karena mereka punya ketertarikan seksual kepadanya.

Adalah hal wajar menyerang argumen dari lawanmu didalam lomba debat, hal itulah yang kadang menjadi penentu hasil akhir. Tapi kali ini kedua finalisnya menyerang hal hal kecil pada arguman lawan mereka, hal kecil seperti tata bahasa yang digunakan. Hal yang sedang diperdebatkan adalah Joseph yang melewatkan tanda berhenti pada argumennya, dan Yona menyadari hal itu dan mengunakannya untuk menyerang Joseph. Tapi Joseph menyerang balik Yona dengan mengatakan bahwa itu hanya sebuah kesalahan pengucapan.

“Jadi kau mengakui jika kau salah ?” tanya Yona menyerang perkataan Joseph sebelumnya.

“Aku tahu kau putus asa tapi apa kau harus menyerang hal kecil seperti tata bahasaku ?”

Tepuk riuh penonton terdengar saat Joseph berbalik menyerang argumen dari Yona. Wajah Yona berubah merah bukan karena merasa malu, tapi menahan amarahnya yang hampir meledak. Satu satunya yang mencegah Yona tak memukul pria didepannya adalah dia tak ingin didiskualifikasi dan harus kalah dari pria itu tanpa perlawanan hingga titik akhir.

Sebaliknya Joseph mendapatkan kembali rasa percaya dirinya yang sempat turun saat dia menyadari bahwa argumen yang digunakannya salah. Argumen yang kemudian digunakan Yona untuk menyerangnya, dia merasa beruntung masih bisa menyerang balik Yona. Karena serangannya yang terakhir adalah serangan putus asa, dan Joseph tak bisa lebih bersyukur penonton menjadi riuh karena nya.

“Putus asa, apa yang kau maksud adalah dirimu sendiri. Karena kau baru saja menyerangku secara personal, bukan argumen yang kugunakan.”

Joseph tahu itu benar, tapi dia tak bisa mengakui hal itu, tidak saat dia begitu dekat dengan kemenangan.

What the actual fuck

Saat Joseph ingin membalas argumen Yona, ucapannya tersangkut diujung lidahnya. Penyebabnya adalah rasa terkejut yang dia rasakan, dia mengucek matanya mencoba memastikan bahwa tak salah lihat, Joseph baru saja menyaksikan Dosen yang menjadi moderator untuk debatnya menghilang. Menghilang tanpa jejak, dalam sepersekian detik sang Dosen yang berdiri dibelakang Yona menghilang begitu saja.

Joseph lalu memalingkan wajahnya karena reflek ingin bertanya kepada teman temannya,  apakah mereka juga melihat hal yang sama seperti yang baru dia lihat. Tapi itu adalah tindakan yang buruk karena hanya menambah rasa terkejutnya.

Apa yang sebenarnya terjadi ? kemana semua orang.

Yona yang merasa aneh melihat lawannya berhenti bicara merasa bingung karena yang dia tahu pria itu sangat suka bicara.

“Apa kau mengaku kalah ?” tanya Yona ingin memastikan kemenangannya.

Joseph tak membalas ucapan Yona, dia menghampiri gadis itu dan memutar badannya menunjukkan apa yang membuatnya terkejut. Semua orang menghilang, lenyap tanpa jejak. Melihat itu Yona tak percaya, dia mencoba memukul wajahnya memastikan ini semua nyata.

Kemana semua orang

Yona berbalik dan melihat Joseph yang juga tak sanggup bicara. Joseph yang benar benar melihat Pak Giri yang tiba tiba menghilang dari mejanya.

“Kemana…kemana semua orang ?” tanya Yona kepada satu satunya orang yang masih ada didepannya.

Joseph tak bisa menjawab, dia masih shock atas apa yang baru dilihatnya. Dia masih mencoba memproses apa yang baru saja terjadi, mencoba membuat semuanya masuk akal sebagai satu satunya tindakan masuk akal yang bisa dilakukannya sekarang.

“Kemana semua orang !!!” Yona yang ingin mendapat jawaban atas apa yang baru terjadi berteriak kepada Joseph. Yona tak tahu apa yang baru saja terjadi, dan rasa takut muncul dan memenuhi pikirannya.

“Nggak tahu…aku tak tahu,” Joseph mengeleng dan memutuskan duduk dilantai ubin kelasnya. Dia tak memperdulikan bahwa ubin itu dingin, dia tak memperdulikan bahwa ubin itu kotor. Dia terlalu terkejut, bingung, dan takut untuk peduli terhadap hal remeh seperti itu.

Yona yang merupakan orang yang cukup bersih ikut duduk diubin yang kotor itu, sama seperti Joseph dia tak memperdulikan hal remeh seperti itu. Lagi pula duduk merupakan ide terbaik yang ada sekarang, Yona ingin duduk  dan mencoba memproses apa yang baru terjadi dipikirannya.

Apa ini mimpi ?

Kali ini Yona menampar wajahnya untuk memastikan bahwa ini semua nyata, dan sekali lagi untuk memastikan ini semua bukan mimpi buruk. Tapi saat dia bisa merasakan rasa sakit dari tamparan yang dia berikan kepada dirinya sendiri, Yona tak tahu harus berbuat apa. Dia tak pernah merasakan ketakutan yang begitu besar menyelimuti dirinya.

Apa yang sebenarnya terjadi

Saat Yona sudah cukup tenang, dia mendekat kepada Joseph dan mengelus kepalanya. Joseph menundukan wajahnya, semua ini terlalu mengejutkan baginya sehingga dia masih berusaha menenangkan pikirannya.

“Hei…Hei…HEI,” Yona mengucangkan bahu Joseph mencoba menarik perhatiannya.

Joseph pun mengangkat wajahnya dan melihat wajah yang memaksakan dirinya untuk tersenyum. Melihat itu dia sadar bahwa ini semua nyata, dan dia harus menghadapinya, suka atau tidak dia terhadap hal itu.

“Aku tak tahu apa yang baru terjadi…tapi…tapi kita harus…”

“Aku tahu, kita harus…harus setidaknya mencari bantuan..atau…mencari tahu apa yang sedang terjadi.”

Yona dan Joseph sama sama tak mengerti apa yang baru saja terjadi, tapi mereka berdua tahu jika mereka harus mencari tahu apa yang sedang terjadi. Lalu mereka bisa melakukan sesuatu terhadap apapun yang baru terjadi.

Joseph pun berdiri dan membantu Yona untuk berdiri. Yona yang awalnya mencoba menguatkan diri tak sanggup untuk melangkah. Perasaan takut yang dirasakannya semakin membesar, memikirkan hal ini terjadi kepada Ayah, Ibu, adiknya cukup membuat tubuh Yona lemas.

Apa Ayah dan Ibu baik baik saja ? apakah adikku juga ikut menghilang ?

Pikiran pikiran atas sesuatu yang buruk menimpa keluarganya membuat badan Yona terasa lemas. Pikiran pikiran itu membuat langkahnya berat, dan keberaniannya menghilang. Untuk pertama kalinya Yona merasa bersyukur ada Joseph disampingnya.

Merasa gadis disebelahnya tak sanggup berjalan Joseph memutuskan untuk merangkulkan tangan Yona kebahunya dan membantunya berjalan.Yona menyadari bahwa sekarang dia merangkul Joseph, sesuatu yang tak pernah terpikir olehnya. Meski pria yang sedang merangkulnya itu beberapa menit yang lalu ingin sekali dipukul olehnya.

Dilorong kampus tak ada seorangpun, tak ada orang yang duduk duduk dibangku panjang yang ada dilorong, tak ada yang bersandar didinding dengan laptop dipangkuan sambil menikmati WI-FI gratis yang disediakan kampus, tak ada yang berdiri atau berlari dilorong. Untuk pertama kalinya Yona dan Joseph melihat lorong kampus mereka kosong.

“Kemana ?” tanya Joseph.

“Kantin, mungkin masih ada orang disana.”

Joseph pun berjalan perlahan membiarkan Yona jalan dengan bertopang pada tubuhnya. Joseph yang jauh lebih tinggi dari Yona harus sedikit membungkukkan badannya agar Yona bisa tetap bisa bertopang pada bahunya. Merepotkan dan melelahkan tapi Joseph tak mengeluh, adalah idenya untuk membuat Yona merangkulkan tangannya pada bahunya.

Saat melewati ruang kelas mereka berdua memeriksa ruangan tersebut, tapi sejauh ini mereka tak menemukan seorangpun. Saat akhirnya mereka sampai dikantin, tempat yang seharusnya selalu ramai. Mereka tak menemukan siapapun, tempat itu kosong seakan tak pernah ada orang yang pernah mendatanginya.

Joseph membiarkan Yona duduk disalah satu kursi, lalu berlari dan mengambil dua botol air mineral dari salah satu vendor penjual makanan dan memberikannya kepada Yona.

“Thanks,” ucap Yona pelan.

Joseph membuka dan menenguk air mineral tersebut, cukup untuk membuatnya tenang. Sementara Yona berhasil menghabiskan setengah dari isi botolnya, lalu membasuh wajahnya dengan sisa air mineral tersebut.

Joseph menunggu sampai Yona bisa menenangkan dirinya, dan berharap jika Yona bisa memutuskan untuk melangkah maju. Hal ini memang mengejutkan, Joseph paham tentang hal itu tapi dia juga paham jika mereka harus melakukan sesuatu. Mencari tahu apa yang terjadi, mencari orang lain yang mungkin masih ada disuatu tempat tentu lebih baik dari pada hanya berdiam diri dan meratapi ini semua.

Handphone milik Joseph berbunyi, mendengar hal itu Yona dan Joseph saling bertatapan.

Ada orang lain yang selamat

Pikir keduanya.

Joseph pun mengeluarkan handphonenya dan saat Joseph melihatnya itu adalah sebuah notifikasi dari permainan daring yang dimainkannya.

“Notif game,” jelas Joseph yang membanting handphone miliknya keatas meja.

“Notifikasi otomatis ?” tanya Yona mencoba memastikan dan juga memberi harapan pada dirinya sendiri.

“Otomatis,” jawab Joseph pelan.

Perasaan kecewa memenuhi keduanya, harapan bahwa ada orang lain yang mungkin belum menghilang memudar saat tahu itu hanya pesan otomatis dari sebuah permainan. Untuk pertama kalinya mereka merasa dipermainkan oleh permainan mereka sendiri.

Yona meraih handphone Joseph yang tergeletak diatas meja. Sebuah ide muncul kedalam kepalanya. Jika ada suatu tempat yang selalu ramai akan aktivitas, dan selalu ada disana menjawab dan membantu dirinya dengan serius atau hanya bergurau. Internet.

Joseph menyadari bahwa Yona sedang melakukan sesuatu dengan handphonenya merasa penasaran.

Apa yang sedang dilakukannya ? menghubungi keluarganya ? mencari bantuan ?

“Yon ?” tanya Joseph yang penasaran.

Yona mengangkat satu jarinya memberi isyarat pada Joseph untuk menunggu. Joseph yang ingin tahu apa yang sedang Yona lakukan berdiri dari kursinya dan berdiri dibelakang Yona.

Twitter ? disaat seperti ini.

“Bukankah ada hal yang lebih penting untuk dilakukan dibandingkan dengan main twitter,” ucap Joseph setengah memprotes tindakan Yona.

“Aku sedang memeriksa sesuatu.” Jawab Yona.

“Timeline twittermu ?” ucap Joseph dengan penuh sarkasme.

Yona yang sudah cukup sering mendengar sarkasme dari Joseph langsung menyadari saat pria itu mengunakannya. Dia langsung menurunkan handphone tersebut keatas meja dan memberikan pandangan membunuh padanya.

“Jo, kau tahu tempat yang selalu ramai setiap saat dan selalu ada orang disana ?”

“Warnet ?”

“Hampir, internet.”

“OHHHH.” Joseph akhirnya menyadari apa yang coba dilakukan Yona.

Tentu saja

Jika ada tempat yang selalu ramai dengan aktivitas, tempat yang tak punya batasan waktu dimana selalu ada orang setiap saat. Jika ada satu tempat untuk memeriksa apakah ada orang, atau aktivitas maka tempat itu adalah internet.

“Apakah ada orang disana ?” tanya Joseph yang akhirnya menanyakan pertanyaan yang benar.

“Tidak, aku belum mendapat respon apapun,”

“Facebook ?”

“Belum,”

“Youtube ?”

“Sama,”

“4chan ?”

“Sama,”

“Pornhub ?”

“Pornhub ? Joseph kau…”

“Dengar dulu,” potong Joseph yang tak ingin Yona berpikiran aneh tentangnya, yang sepertinya terlambat karena Yona sudah memandangnya dengan aneh.

“Traffic situs Pornhub salah satu yang tertinggi diinternet, jadi seharusnya ada orang disana.” Ucap Joseph menjelaskan maksudnya, meski begitu Yona tetap memandanganya dengan aneh.

“Dan dari mana kau tahu ?”

“Aku punya waktuku diinternet,” jawab Joseph.

Meski merasa ragu Yona memeriksa situs yang menurutnya menjijikan tersebut dan sama seperti beberapa situs yang dicobanya dia tak mendapatkan respon.

“Tidak ada apapun.” Ucap Yona lalu sekali lagi dia membanting handphone tersebut keatas meja.

“Aneh tempat itu seharusnya selalu ramai,”

Yona dan Joseph bersandar pada kursi yang mereka duduki, sama sama menyadari bahwa internet yang kosong berarti dunia yang mereka tempati juga kosong. Harapan mereka menemukan orang lain pun semakin memudar. Hey kami sudah memeriksa internet dan itu kosong, apa kesempatan kami menemukan orang lain sekarang.

“Sekarang apa ?”

“Entahlah, tak pernah kubayangkan menjadi orang terakhir dibumi.”

Dengan akhirnya menerima kenyataan yang ada pikiran Yona dan Joseph berkelana ketempat yang berbeda. Yona memikirkan sarapan pada pagi hari ini, saat terakhir seluruh anggota keluarganya berkumpul ditempat yang sama.

Meski seluruh anggota keluarga ini sibuk dengan urusannya masing masing, tapi setiap pagi sang Ayah mengharuskan mereka untuk sarapan bersama. Tak boleh ada alasan, maka setiap pagi seluruh anggota keluarga ini berkumpul dimeja makan.

“Jadi hari ini finalnya kak ?” tanya Irfan adik lelaki Yona yang sedang mengoleskan selai pada rotinya.

“Iya,” jawab Yona yang sudah tahu kemana arah pembicaraan ini.

“Siapa lawannya ?” tanya Ayah yang sedang melipat koran yang tadi dibacanya dan lebih memilih mendengarkan masalah yang dihadapi oleh putrinya. Selain karena lebih menarik, juga kadang lebih menghibur. Ayah sedikit berharap Joseph lah yang menjadi lawan putrinya karena dia tahu itu akan menjadi menarik. Ayah tak akan pernah lupa bahwa putrinya pernah perang telur dikampus karena mereka berdebat cara menyebutkan kata “Telur” atau “Telor” menurut putrinya. Hikmahnya perang telur menjadi agenda tahunan baru dikampus Yona.

“Joseph,” jawab Yona.

Saat mendengar itu Ayah merasa senang karena dia tahu ini akan menjadi pagi yang menarik. Ibu yang datang dengan membawa susu memberikan pandangan “Ayah kok senang, Ayah tahu kan Yona selalu marah marah kalau berurusan dengan si Joseph ini”. yang dibalas Ayah dengan tatapan “Tapi kan Bu, cerita Yona setelah ketemu dengan Joseph selalu lucu. Maksud Ayah mereka pernah perang dikampusnya” Ibu pun membalas tatapan Ayah dengan tatapan “Boleh aja ketawa tapi jangan dipanas panasin” mengerti dengan maksud tatapan Ibu, Ayah pun membalas dengan tatapan “Nggak perlu Bu”

Setelah saling menatap Ibu pun membawa kembali ke dapur, sementara Ayah sudah bersiap siap mendengar cerita putrinya.

Selain makan pagi bersama, kegiatan lain pada setiap sarapan dikeluarga Yona adalah “Laporan” atau begitulah Ayah menyebutnya. Setiap anggota keluarga menceritakan masalah yang sedang mereka hadapi, atau hal lain yang menganggu pikiran mereka. harapannya agar seluruh anggota keluarga dapat membantu memecahkan masalah yang sedang dihadapi.

Yona lah yang paling sering menceritakan masalahnya, karena itulah Ayah, Ibu, dan Irfan sudah sering mendengar Yona menceritakan tentang Joseph kepada mereka. Selain perang telur yang menjadi cerita favorit Ayah, Yona juga menceritakan bagaimana Joseph sering berdebat dengannya, membuatnya marah, dan menjadi orang paling menyebalkan yang pernah ditemui.

Sudah beberapa menit berlalu dan Yona belum menceritakan apapun selain Joseph lah yang akan menjadi lawannya. Hal itu membuat Ayah sedikit kecewa dan merasakan sensasi yang disebut dengan geregetan. Itu membuat Ibu senang karena menurut Ibu menceritakan tentang Joseph hanya akan membuat Yona kesal dan itu buruk. Menurut Ibu pagi hari tak seharusnya dimulai dengan perasaan kesal.

Tapi Ayah punya rencana candangan, saat Yona tak ingin menceritakannya maka Ayah tinggal memancing putrinya untuk bercerita. Tapi karena Ibu sudah memperingatkan Ayah, maka dia beralih ke putranya Irfan dan memberikan tatapan “Cepat komporin kakak kamu” Ayah melakukannya diam diam agar tak disadari oleh Ibu.

“Kak,” ucap Irfan yang mengerti akan tugasnya.

“Hmmm,” jawab Yong masih mengunyah roti miliknya.

Melihat gelagat putranya yang akan memancing kakaknya untuk bercerita, Ibu menatap Ayah dengan pandangan “Ayah, sudah Ibu bilang jangan dipanas panasin” Ayah hanya memasang wajah polos dan memberikan tatapan “Ibu, Ayah nggak ngelakuin apapun” Ayah memasang wajah tak bersalah terbaiknya, tak ingin disalahkan oleh Ibu atas tindakannya sendiri.

Tapi Ibu melakukan kesalahan besar dengan memberikan tatapan “Jangan pancing Yona untuk bicara tentang Joseph” kepada Ayah, tatapan itu seharusnya Ibu berikan kepada Irfan yang diam diam telah menjadi double agent untuk Ayah dan Ibu. Irfan adalah tenaga bayaran yang akan melakukan apapun dengan uang…jajan. Saat Ibu menyadari kesalahannya, Irfan sudah siap menyiram bensin kedalam percikan emosi yang tak pernah padam didalam hati kakaknya. Api kecil kekesalan yang akan terus hidup didalam hati Yona, hasil semua kekesalan yang dia rasakan untuk seseorang bernama Joseph.

“Bukannya Bang Joseph juga yang ngalahin kakak dilomba essay ?”

Oh satu kalimat itu sempurna, kalimat itu membuat percikan kecil kekesalan yang ada dihati Yona terbakar hebat. Saat mendengar itu Ibu sadar dia sudah salah, Irfan lah yang seharusnya dihentikan. Dan Ayah hampir berteriak girang mendengar perkataan Irfan. Pancingan itu tak bisa lebih sempurna, dan Ayah memberikan tatapan “Bagus, kau melakukan pekerjaan yang sangat hebat dan itu akan diberi penghargaan yang setimpal” kepada Irfan dengan ekspresi bangga terurat jelas diwajahnya.

Perkataan Irfan tadi langsung menyengat seperti tusukan jarum panas ke hati Yona. Seketika dia teringat kembali saat Joseph memenangkan lomba essay fakultas. Yona tak mempermasalahkan posisi kedua yang didapatkannya, lagi pula lomba itu diikuti oleh seluruh mahasiswa difakultasnya. Menjadi yang terbaik pada urutan kedua tentu prestasi yang patut dibanggakan.

TAPI !!!

Hal yang membuat Yona merasakan sakit saat mengingat kembali lomba tersebut adalah pidato yang diberikan Joseph saat menerima penghargaanya. Dengan senyum lebar Joseph hanya mengucapkan satu kalimat, tapi Yona tahu itu ditujukan padanya dan itu lah yang membuat ada percikan api kebencian didalam hati Yona.

“Jika sedikit belajar pasti kalian juga bisa menang,”

Satu kalimat, terukir selamanya.

Sekarang sang adik membangkitkan kembali memori kelam itu, yang membuat setiap sel dalam tubuh Yona bergerak tanpa henti, yang membuat darahnya mendidih. Yona meletakan rotinya diatas piring, dan siap meledak.

“Iya dia memang menang kemarin, dan dengan sombongnya bilang jika kalian belajar pasti bisa menang. Baru sedikit pintar aja udah sombong, seharusnya dia sadar kalau masih banyak yang lebih pintar dari dia…..” Yona dengan mengebu gebu menumpahkan kekesalannya, Ayah menyaksikannya dengan senyum lebar, Ibu yang sadar dia gagal bangkit dan mencoba menenangkan putrinya, dan Irfan hanya melanjutkan sarapannya karena tahu dia telah berhasil dan akan diberi uang jajan lebih.

Yona begitu sering menceritakan tentang Joseph kepada keluarganya hingga sang Ibu sempat mengira bahwa Joseph adalah kekasih dari putrinya. Sebelum tahu kebenaran bahwa sang putri begitu membenci pria tersebut. Yang tentu saja ditentang keras oleh Yona, yang berkata bahwa meski Joseph adalah lelaki terakhir dimuka bumi, dia lebih memilih mati sendiri. Yang cukup ironis karena sekarang hanya mereka berdua manusia terakhir yang ada dimuka bumi.

Sedangkan Joseph, dia tak tahu mengapa dia teringat dengan kejadian yang dialaminya pagi ini. Bagaimana dia menemukan secarik kertas berwarna kuning, yang bertuliskan huruf huruf yang tak bisa dia baca, dan dia lupa apa yang dia lakukan setelahnya. Ingatannya memang sedikit buruk, karena itu juga dia sering membaca buku berulang kali agar bisa mengingat isinya. Mungkin kekurangan yang dimiliki Joseph itu menjadi salah satu hal terbaik yang terjadi padanya, karena harus terus membaca buku itu menjadi hobi yang membuatnya mengetahui banyak hal.

“Mungkin ini tak terlalu buruk,” ucap Joseph yang tersadar dari lamunannya dan bangkit dari kursinya.

“Apa maksudmu ?”

“Maksudku.” Joseph mengangkat kursinya tinggi tinggi dan melemparkannya kearah jendela, memecahkan jendela tersebut. “Sekarang aku bisa melakukan apapun,”

Yona memandangi pria tersebut, memastikan apakah dia baik baik saja. Dan dari senyuman lebar diwajahnya, Yona menyimpulkan bahwa dia baik baik saja dan sadar atas apa yang baru dilakukannya.

“Kau bisa merusak kantin ?” Yona masih tak mengerti jalan pikiran dari pria yang berdiri didepannya sekarang. Fakta jika mungkin Mereka berdua adalah manusia terakhir yang belum menghilang, dan bagaimana pria itu bisa begitu senang merusak properti kampus.

“Really ? maksudku kau tak paham apa yang sedang terjadi ?”

“Ya semua orang menghilang. Aku cukup belajar untuk tahu hal itu,” untuk suatu alasan Yona mengulangi perkataan Joseph saat memenangkan lomba essay.

“Lalu apa yang ingin kau lakukan ?”

“Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, mencari cara untuk mengembalikan semua orang, hal hal yang seharusnya kita lakukan.” Bagi Yona jawabannya sudah jelas, dan dia tak bisa menghabiskan waktunya menghancurkan properti kampus.

Tapi bagi Joseph ini adalah saat yang hebat, dengan menghilangnya semua orang dia bisa melakukan apapun yang dia mau. Semua hal yang dulu tak bisa dilakukannya. Sekarang tak ada lagi orang yang melarangnya melakukan hal hal yang dulu dia anggap tabu oleh masyarakat, hal hal yang dulu dianggap sebagai salah atau kejahatan. Dan dari semua hal yang terlintas dipikirannya, sudah sangat lama dia ingin membuat mie goreng yang benar benar digoreng.

 

-Chris vylendo-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s