Noor, Part 7

“Sekarang kamu udah sama mama kamu.” Melody mengelus gundukan tanah yang masih basah itu sambil terus menangis. “Baik-baik ya di sana.”

“Udah kak, ayo pulang, bentar lagi ujan,” ajak Gre memegang pundak Melody dari belakang.

Usaha bunuh diri Yupi kali ini berhasil setelah pihak rumah sakit kesulitan mencari golongan darah yang sama dengannya.

“Ngapain masih di situ?” tanya Naomi menoleh ke arah Rezza yang masih berdiri di sebelah makam Yupi sendirian.

“Duluan aja, gue masih pen di sini,” jawab Rezza tanpa mengalihkan pandangannya dari makam Yupi.

“Udah tinggal aja, kasian papanya Yupi pasti lagi kerepotan di rumah sendirian,” ucap Ayana kembali berjalan menuju mobil Melody.

Dengan berat hati, Naomi, Melody, Gre, Najong dan Sinka ikut meninggalkan Rezza.

“Umm… kak, aku temenin Rezza aja deh di sini, kasian kalo dia sendirian,” ucap Sinka setelah sampai di mobil Naomi.

“Gausah deh, ini mau ujan, trus kalian ntar pulangnya gimana?” tanya Naomi kembali menutup pintu mobilnya.

“Gapapa, ntar pulangnya bisa cari ojek ato taksi,” jawab Sinka tersenyum.

“Yaudah deh, jangan lama-lama ya, bujuk Rezza pulang,” ucap Naomi lalu masuk ke mobilnya.

Sinka mengangguk lalu berjalan menghampiri Rezza.

“Ngapain nggak ikut pulang?” tanya Rezza sedikit menoleh ke arah Sinka yang berdiri di sebelahnya.

“Gapapa, aku masih pengen di sini,” jawab Sinka tersenyum sambil terus memandang makam Yupi.

Kemudian hening, mereka berdua terdiam menatap makam Yupi.

“Kamu gaboleh sedih terus, aku yakin Yupi juga gamau liat kamu sedih kaya gini,” ucap Sinka menoleh ke arah Rezza.

“Kalo dia gamau liat gue kaya gini, ngapain dia lakuin ini?” tanya Rezza yang air matanya mulai mengalir keluar.

Sinka terdiam, ia kembali menatap makam Yupi.

Seolah merasa ikut kehilangan, awan pun ikut menangis meluapkan emosinya. Air mata kesedihan Rezza pun terbawa air hujan yang semakin deras.

“Ayo pulang, ntar kamu sakit,” ajak Sinka mencoba menutupi kepala Rezza dengan jaketnya.

Rezza masih terdiam dalam tangisnya.

Tak jauh dari tempat mereka berdua berdiri, terlihat seseorang dengan baju putih panjang dan celana hitam panjang serta payung hitam sedang berjalan ke arah mereka.

Orang itu berhenti di belakang Sinka lalu menyentuh pundaknya.

Sinka langsung menoleh ke arah orang itu, tampak wajahnya dihiasi ekspresi kaget setelah melihat wajah orang itu. Sedangkan orang itu terlihat tidak memperdulikan Sinka yang sedang kaget, ia malah memberinya isyarat untuk menyingkir.

Setelah Sinka menyingkir, orang itu menarik bahu Rezza agar berhadapan dengannya.

Rezza sedikit terkejut dengan perlakuan orang itu, namun belum sempat ia berbicara, orang itu sudah memukul wajahnya dengan sangat keras sehingga membuatnya tak sadarkan diri.

~oOo~

“K-kak,” sapa Sinka pada orang yang sedang duduk menonton TV.

“Hmmm…,” orang itu hanya begumam tanpa menoleh ke arah Sinka.

Sinka berjalan memutari sofa lalu duduk di sebelah orang itu.

“Kak Luki kenal juga sama mereka?” tanya Sinka menatap orang yang bernama Luki itu.

“Kaga,” jawab Luki singkat.

Kemudian hening, mereka berdua hanya fokus menonton film yang sedang tayang di TV.

“Yang kemaren makan sendirian itu kakak?” tanya Sinka menoleh ke arah Luki.

Luki menoleh ke arah Sinka. “Bukan.”

Sinka tersenyum menatap Luki.

“Ngapain senyum-senyum?” tanya Luki dengan wajah heran.

“Gapapa,” jawab Sinka.

Pukul 21:00 di rumah Rezza.

Di ruang tamu, terlihat Sinka sedang duduk sendirian sambil mendengarkan lagu.

“Rezza mana?” tanya Luki yang baru saja memasuki rumah.

“Di belakang sama yang lain,” jawab Sinka setelah melepaskan earphone-nya dan menoleh ke arah Luki.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Luki langsung berjalan menuju belakang rumah. Namun saat ia memasuki lorong penghubung antara ruang tengah dan teras belakang, ia melihat Ayana tergeletak di ujung lorong.

Luki pun langsung berlari menghampiri Ayana, tercium aroma alkohol yang cukup menyengat dari tubuh Ayana setelahLuki berada di sebelahnya. Luki sedikit terkejut saat melihat darah tiba-tiba keluar dari hidung Ayana, dengan cepat ia pun membuka kelopak mata Ayana dan terlihat jelas putih matanya yang sangat merah, seakan ada darah yang di sana.

Tanpa banyak berfikir lagi, Luki langsung mengangkat tubuh Ayana dan membawanya ke rumah sakit.

“Kenapa?!” tanya Sinka saat Luki berlari keluar rumah sambil membawa Ayana.

Luki tidak menjawab pertanyaan Sinka, ia dengan tergesa-gesa membawa Ayana ke dalam mobilnya yang belum ia masukkan ke dalam garasi.

Sinka bangkit dari sofa lalu berjalan menuju pintu depan yang belum ditutup oleh Luki.

“Kenapa sih?” batin Sinka saat melihat mobil Luki yang mulai menjauh.

Setelah menutup pintu, Sinka berjalan menuju teras belakang.

“Itu kak Ayana kenapa?” tanya Sinka setelah sampai di teras belakang.

Rezza, Najong, Gre, Melody dan Naomi hanya menoleh ke arah Sinka tanpa menjawab pertanyaannya.

“Ah iya, Achan ke mana sih? Ke toilet aja lama banget,” tanya Melody.

“Udah lah biarin, palingan udah tepar,” jawab Rezza sambil menuangkan minuman ke dalam gelas.

“Kak Ayana di bawa sama kak Luki,” ucap Sinka lalu berjalan kembali menuju ruang tengah.

Sesampainya di ruang tengah, Sinka langsung menyalakan TV lalu duduk di sofa.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, itu berarti sudah satu jam sejak Luki pergi membawa Ayana.

BRUAK!!

Sinka langsung menoleh ke pintu depan yang baru dibuka dengan keras, terlihat Luki berjalan ke arahnya dengan cepat.

“Kak Ayana mana?” tanya Sinka saat Luki sudah dekat dengannya.

Luki tak menghiraukan pertanyaan Sinka, ia hanya melewatinya begitu saja.

Beberapa saat setelah Luki berjalan menuju teras belakang, Sinka mendengar suara guyuran air dari teras belakang. Ia pun langsung berlari ke sana.

Saat sampai di teras belakang, Sinka terkejut melihat Rezza, Najong, Gre, Melody dan Naomi sudah basah kuyub.

“Siapa yang ngajakin kaya gini?!” tanya Luki berdiri di antara Rezza, Najong, Gre, Melody dan Naomi yang masih duduk melingkar di lantai.

Tidak ada yang menjawab, semuanya hanya diam dan menunduk.

“Jawab anjing!!” bentak Luki.

“Nggak ada, kita semua cuma pengen lupain kematian Yupi,” ucap Naomi masih tetap menunduk.

Luki menoleh ke arah Naomi lalu menarik bajunya hingga ia berdiri.

“Lupain lo bilang?” tanya Luki menatap tajam Naomi yang masih menunduk.

“Iya,” jawab Naomi sedikit mengangkat wajahnya.

PLAK!

Sebuah tamparan dari Luki yang cukup keras membuat tubuh Naomi tersungkur ke lantai.

Sinka yang berdiri di belakang Luki hanya bisa menutup mulutnya melihat kakaknya baru saja ditampar hingga tersungkur, ia tak berani melakukan apa-apa untuk menolong kakaknya itu.

Luki menatap Melody lalu menarik bajunya hingga ia berdiri dan langsung menampar pipinya.

“Lo sebagai yang paling tua bukannya ngelarang mereka malah ikut-ikutan, lo nggak kasian kalo mereka sampe kenapa-kenapa?!” bentak Luki sebelum melepaskan tubuh Melody.

Terlihat raut ketakutan di wajah Gre saat Luki berjongkok di depannya.

Luki memegang dagu Gre lalu mengangkat wajahnya. “Ada yang mau lo sampein?”

Gre hanya menggeleng dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.

“Kalo bukan abang yang ngajarin, kita nggak mungkin kaya gini,” ucap Rezza yang duduk di sebelah Gre.

“Kapan gue ngajarin lo semua kaya gini?” tanya Luki menoleh ke arah Rezza.

“Dulu pas abang masih di rumah, aku tau kalo abang suka mabok sama temen-temen abang, pake narkoba, berantem, dan abis lulus SMA abang mulai bikin tattoo sama ditindik,” jawab Rezza menatap Luki dengan sedikit ketakutan.

BUGHH!

Sebuah tonjokan keras mendarat di wajah Rezza dengan mulus.

“Gue tau dulu gue nggak bener!” bentak Luki sambil mencengkeram kerah baju Rezza.

“Tapi itu semua gue lakuin bukan tanpa alasan! Gue lakuin itu biar elo sama Melody tau kaya gimana kalo jadi orang nggak bener! Orang kaya gue cuma bakalan dipandang kaya sampah sama orang lain! Gue pengen lo sama Melody jadi orang bener, gamau jadi sampah kaya abangnya!” lanjut Luki.

Luki menghela nafas lalu melepaskan tangannya dari kerah baju Rezza. “Gue tau cara gue salah, dan gue juga tau resikonya bakalan kaya gini, tapi semuanya belom telat, lo masih bisa berubah jadi orang bener, jangan ngikutin gue.”

Semua orang terdiam, mencoba memahami maksut omongan Luki.

Sorry kalo gue belom bisa jadi abang yang baik buat elo sama Melody,” ucap Luki lalu berdiri dan masuk ke dalam rumah.

~oOo~

Banyak sekali pelajaran yang aku dapet hari ini, aku belajar bagaimana seorang kakak yang akan selalu menjauhkan adik-adiknya dari hal-hal buruk meskipun dirinya sendiri melakukan hal buruk.

Dari awal aku sadar bahwa lingkungan persahabatan ini bagaikan sebuah tempat gelap tanpa adanya cahanya sedikit pun, dan dengan bodohnya aku tetap memasuki tempat ini.

Seperti sebuah pepatah, “setelah badai berlalu, pasti akan ada pelangi” , “habis gelap terbitlah terang”. Ya meskipun pelangi dan cahaya yang muncul di sini nggak sebagus dan seterang di tempat lain, pelangi tetaplah pelangi dan cahaya tetaplah cahaya.

Sinka menutup buku diary-nya, lalu tersenyum menatap boneka panda kecil yang ia letakkan di atas meja belajarnya.

“Semoga semuanya jadi lebih baik setelah ini,” ucap Sinka sambil mengelus boneka itu, boneka pemberian Luki saat ia berpacaran dengannya empat tahun yang lalu.

 

The end

 

Note: Noor dalam bahasa Inggris dibaca Nur, dan dalam bahasa Arab Nur artinya cahaya.

Iklan

3 tanggapan untuk “Noor, Part 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s