Cinta Palsu, Part 11

Tepat pada pukul 3 sore, mereka bertiga dengan tampang yang lesu keluar dari ruangan tersebut.

*Drek-DRAK!

“Argh! Mantap!”

“Punggung lo sampai bunyi gitu,” ucap Michelle

“Itu karena kegiatan hari ini benar-benar melelahkan,”

“Nanti dipijitin deh pas sampai rumah,”

“HEH! Ayana!” ucapnya seperti menegur sambil sedikit melirik ke arah Michelle

“Huah! M-Maaf Al,” gadis itu berbisik balik

“Em…Chelle, sorry ya hari ini gw gak bisa nemenin lo. Biasa ada urusan penting,”

“Cih! Siapa juga yang minta pengen di temenin,” balasnya

“Bwah! A-Anu…kalau gitu gw pulang duluan ya,” ucap Aldo kembali

Mereka bertiga tampak berpisah.

Kemudian…

*

*

“Err! Tega banget dia nyuruh istrinya sendiri nunggu lama di depan halte kayak gini!”

Gadis berkacamata itu terus saja menggerutu sambil menginjak-injak jalanan dengan kasar.

*BRUM!

“Yo! Naik…,”

“Sheeshh! Lama!”

“Maaf-maaf, kalau gak begini bisa-bisa dia curiga,”

“Huft…kamu gak lagi akting selingkuh kan?”

“Bwah! Apaan selingkuh!”

“Pake harus sembunyi-sembunyi segala…,” ucap gadis berkacamata itu dengan wajah datar

Gadis itu masuk ke dalam mobil.

“Yee…kamu sendiri kan yang bilang pengen dirahasiain dari siapapun disekolahan?”

Mobil kembali melaju.

“Yang aku maksud dirahasiakan itu bukan kayak gitu…,”

“Ayana…daritadi aku masih gak ngerti kamu ngomong apa,”

Ayana yang terlihat semakin kesal pun menatap tajam ke arah Aldo.

“Kamu harus lebih mengerti lagi perasaan istri kamu, HUH!”

“Huey! J-Jaah…jangan bawa-bawa kata istri lah, uh…,” Aldo terlihat grogi namun pandangannya masih fokus ke jalanan

“Mulai sekarang sampai seterusnya, aku-sebagai istri kamu harus terus memperhatikan aktivitas kamu. Aku gak akan lepasin kamu dari pengawasanku Al,”

“Huu…,” Aldo terlihat lesu. “Emangnya aku ini cowok murahan yang suka mainin cewek apa, beh…,”

“Terlebih lagi, mana mungkin aku selingkuh kayak yang di film-film sinetron itu, terus ujung-ujungnya malah kawin lari sama cewek lain,” lanjutnya

“Oh, jadi kamu berharap bisa kawin lari sama cewek lain?”

“Hoi! Makannya kalau dengerin orang ngomong tuh jangan setengah-setengah!”

Aldo mencubit keras pipi Ayana.

“Kyaaaa~”

“Makan tuh!” ucap Aldo

“Hmph!” Ayana langsung memalingkan pandangannya

“Hiss…ngambek mulu. Ini kan hari pertama kita jadi kelinci percobaan, udah ada masalah aja,”

“Bodo!” balas Ayana dengan acuh

“Hueee! J-Jangan marah lah! Eh gak apa-apa marah asal buatin dulu makanan untuk hari ini! Please…,”

“Hmph! Bisa aja ngerayu kayak gitu, lagipula masakanku gak terlalu enak juga kok,”

“Hey-hey! Sekarang ini kamu itu kan istri aku! Makanan apapun mau enak atau enggak, aku pasti bakalan abisin!” ucapnya sambil memegang erat tangan Ayana

“KYA!”

“Jangan bikin suara aneh kayak gitu!”

“Eh tunggu dulu Al, kenapa sekarang kamu jadi ngomong pake kata *Aku* *Kamu* begitu?” ucap Ayana

“Hmm…setelah dipikir-pikir, gak ada gunanya aku ngeluh terus, dan yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah menjalaninya. Selain itu, aku juga harus ganti gaya bahasa aku kalau kita lagi berduaan,”

Wajah ayana tampak memerah.

“B-Bagus kalau begitu…,” ucap Ayana sambil memalingkan pandangannya

(…………………………………………………………………)

-Ayana POV-

“Ek! F-Fokus ke jalanan Al!”

“Huh? Oke…,”

Sungguh betapa mudah mengelabui dirinya.

Kini ia tidak lagi memegang tanganku dan kembali fokus ke jalanan. Sedari tadi ku mencoba untuk menjahilinya dengan kata-kata yang dapat membuatnya sampai memohon-mohon padaku. Dan ternyata rencanaku ini benar-benar berhasil! Kyaaaaa~

Ups…maaf…

“Jadi hari ini kita ke supermarket dulu kan Ay?”

“A-Ah…iya,” balasku singkat

Aku anggap hari ini adalah hari ulang tahun pernikahanku bersamanya, itu karena kami tidak pernah mengadakan upacara pernikahan sebelumnya bukan? Jadi yang bisa dilakukan hanyalah membuat hari ini menjadi hari ulang tahun pernikahanku bersamanya.

Setelah sampai di rumah nanti, aku akan menunjukan keahlianku dalam memasak. Entah bagaimana ekspresinya nanti ketika mencicipi masakanku nanti.

~oOo~

*TIT-TIT-TIT!

“Kiri! Kiri lagi dikit! Ya STOP!”

“Gimana! Udah pas parkirnya?”

“udah kok!” balasku berteriak

Kami telah sampai di rumah baru.

Aku tidak terlalu kagum karena sebelumnya aku pernah datang ke rumah ini, tapi ketika dia melihat rumah baru itu…

“Bwaha! I-Ini gak terlalu besar buat kita berdua Ay!?”

“Yah, aku juga berfikir begitu awalnya. Tapi mereka bilang rumah ini sudah disesuaikan dengan kita,”

“Apanya?”

“Halah lupakan, mendingan kita masuk,”

Ku mulai membuka kunci pintu itu.

“Cepetan buka!”

“Hiss…sabar dulu Al! Ngomong-ngomong garasinya udah di tutup lagi belum?”

“Oh iya, Belum!”

“Huh! Cepetan tutup sana!” suruhku

Ia langsung berlari menuju garasi mobil, sementara aku lanjut membuka pintu rumah.

*Ceklek!

Pintu terbuka…

*Hesp-Hesp!

“Ternyata udah dikasih pengharum ruangan ya,” ucapku

“WHOA! Luas bener!”

“Hey-hey! Garasinya udah di tutup belum!”

“udah kok-udah!”

“Hemm…,”

Ku tutup kembali pintu itu.

“Huah sofanya empuk banget lagi!”

“Mandi dulu! Jangan kotorin sofanya!” ucapku

“Iya-iya bawel! Kamu juga musti mandi kan?”

“Nanti aku mandi habis kamu Al, aku kan mau nyiapin makan malam dulu,”

“Oh…,” ia membalasnya dengan singkat sambil memainkan remote Tv disana

*Tlek!

            Ia menyalakan Tv itu.

“Ngomong-ngomong, kamu keliatannya jadi semangat sekarang, padahal waktu kemarin malam kamu sampai marah-marah gitu di depan papi,”

“Hoooh! Kenapa ada Mr.Bean jam segini!”

“Hey jawab pertanyaanku Al!”

“Tadi kan udah dibilang, gak ada gunanya kita ngeluh terus, karena yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah menjalaninya bukan?”

Memang benar apa yang dikatakannya. Aku sedikit lega karena sekarang ia dapat menerimanya dengan senang hati tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Ku rebahkan tubuhku sejenak disampingnya sambil melepas sweater yang ku kenakan sejak tadi pagi.

“Hihi, syukurlah sekarang kamu udah mengerti situasinya,”

“Makanya!”

“HA!?”

Aku sedikit terkejut ketika ia berbicara tepat di depan wajahku. Mata kami saling bertatapan dan tanpa kusadari tangan kanannya tengah mengelus pipi kananku.

“Jadi istri yang baik ya, Ay…,”

“EK!” Aku hanya mengangguk

Lagi-lagi aku membuang muka darinya. Tapi mau bagaimana lagi, aku benar-benar tidak tahan dengan tatapannya!

“Kalau gitu aku mandi duluan ya,”

“Ah…handuknya ada di jemuran deket kamar mandinya kok,” ucapku

“Oke!”

Sekarang kehidupanku sebagai seorang istri pun dimulai. Aku langsung bergegas menuju kamar untuk mencari baju dan celana yang akan ia pakai nanti, tak lupa juga ku simpan tasnya di gantungan belakang pintu kamar agar ia dapat mencarinya dengan mudah. Kemudian setelah itu aku langsung menyiapkan makan malam.

Lalu…

*

*

-Aldo POV-

“Bwah! Seger banget airnya! Padahal kan mandinya pake air hangat,”

*Hesp-Hesp!

“B-Bau ini! Chicken Nugget!”

Insting gw dalam hal makanan tiba-tiba muncul saat mencium bau yang begitu menyengat ini. Bau khas daging yang digoreng sekitar 3-5 menit begitu terasa. Tanpa pikir panjang, gw langsung pergi ke kamar untuk ganti baju.

Tapi setelah di pikir-pikir…

Dimana kamarnya!

“AL! Aku udah siapin baju kamu di kamar! Cepetan ganti karena makan malam udah siap!”

“Cih! Apanya yang disiapin, nemu kamarnya aja belum!”

*Treeek!

“Heh?”

Gw melihat salah satu ruangan yang pintunya kebuka sendiri, benar-benar bercahaya terang bagaikan cahaya surga! #ALAY…

Karena cuma ruangan itu yang belum gw periksa, lantas gw masuk ke dalam.

“Oh, ini ya kamarnya?”

Gw sedikit terdiam ketika berada tepat di depan jendela kamar. Pemandangannya begitu jelas terlihat dari jendela mengingat kediaman gw yang sekarang berada di dataran tinggi. Tapi…

“BWAH! D-Dia beneran nyiapin bajunya sama celana dalemnya!”

“Geez…meskipun sekarang dia berperan sebagai istri, tapi kalau soal celana dalam tetep aja harus di siapkan secara pribadi!”

“AAALLL!”

“Woo-OKE! Ini lagi pake baju AY!” balasku berteriak

“Sigh…masa bodo soal menyiapkan pakaian, yang terpenting sekarang gw harus ke meja makan dulu,”

Kemudian…

*

*

*JENG-JENG!

“Makan malamnya sudah siap!”

“Huh? Apa harus pake backsound JENG-JENG segala?”

“Berisik! Udah cepetan cicipin makananya!”

*AM!…

10 Detik kemudian…

“G-Gimana, Al?”

“100,”

“HEEEE! Kok bisa!”

“Udah dikasih nilai sempuran masih pengen ngeluh?”

“Kamu ini kasih nilai sempurna tapi ekspresinya keliatan biasa-biasa aja!”

“Ya mau gimana lagi, enak kok masakannya,”

“Shesh…,”

“Nah Ay, kamu juga harus makan,”

“Ha-Ah…aku mau mandi dulu Al,”

“Satu suap!”

“AH! I-Iya deh…,”

*AM!

“Jangan di suapin AL, malu…,”

“Malu-malu…gak ada yang liat juga,”

“Tapi…Eng…,”

“Kamu harus banyak makan Ay, biar badan kamu tuh seimbang,”

“M-Maksudnya seimbang?”

“harus dijelasin? Oke!” Gw menjelaskan semuanya sambil menyuapinya

“Kamu ini kan cantik, Dada kamu juga lumayan besar buat cewek seumuran kamu, tapi kalau badan kamu kurus kan jadi gak seimbang,”

“HA, A-Apa!? D-Dada Aku!?”

“WAHA! M-Maksud aku tadi itu…yah, Dada kamu emang lumayan besar kan?”

*GEPLAK!

Begitulah akhir dari kisah ini…

Di informasikan bahwa tidak akan ada lanjutan dari CINTA PALSU setelah part ini berakhir…

TAMAT…

~oOo~

-Author POV-

Di malam hari…

“Brr! Dingingnya!”

“Uh-Umm…,”

“Loh? Kenapa Ay? Kedinginan juga ya?”

“Ek…bukan itu, Al…,”

“Huh?” Aldo terlihat kebingungan, ia terlihat menutup pintu kamarnya dengan perlahan

“Setelah semuanya aku baru sadar kalau kita…tidur di kasur yang sama…,”

“W-Whoa! Jangan suram begitu! A-Aku bisa tidur di lantai kok!” ucap Aldo

Aldo langsung membawa satu bantal dari kasur.

“Kamu tidur aja yang nyenyak yah,” ujar Aldo

*Tap!

“Um,” Ayana menggelengkan kepala sambil memegang tangan Aldo

“K-Kita…sekarang ini kita adalah pasangan suami-istri, kan?”

“I-iyaaa…,” Aldo sedikit heran melihat tingkah laku Ayana

*GRAB!

“WAH!”

Ayana sedikit mendorong Aldo sampai berbaring di kasur. Lalu Ayana juga langsung berbaring di samping Aldo.

“Se-Selamat tidur, Al…,”

“Hoi-hoi, emangnya gak apa-apa kalau aku tidur di sini?” ucap Aldo

“udah aku bilang kan! Kita ini S-Su…,”

“OKE!”

*BRAH!

            Aldo langsung menarik selimut itu sehingga Ayana tidak kebagian jatah selimutnya.

“HEY! Bagi-bagi!” Ayana merebut kembali selimutnya

“Gak boleh! Selimutnya kekecilan AY!”

“Gak MAU!” Ayana tidak mau kalah, begitu juga dengan Aldo

“Kalau gitu!” ucap Aldo menggantung

“APA!” bentak Ayana sambil berbalik menghadap Aldo

*Grab!

Mereka berdua mengabaikan selimut itu. Aldo terlihat memeluk Ayana dengan erat sambil mengusap-usap rambutnya.

“Biar aku peluk kamu Ay, jadi kamu gak akan kedinginan lagi,”

“KE-EK! Al…,”

“Huah! Sorry-sorry! Tadi itu, A-Aku gak bermaksud…uh…,” wajah Aldo terlihat memerah

“Liat aku Al!” ucap Ayana

Aldo langsung menatap ke arah Ayana

“Cuma untuk hari ini, k-kamu…kamu boleh peluk Aku, Oke!?” ucap Ayana

Wajah Ayana terlihat memerah. Tubuhnya bergemetar dan tangannya terlihat meraih jari-jari tangan Aldo.

“C-Cuma hari ini, ya…,”

“Um!” Aldo hanya mengangguk dengan semangat

“Eng-Tapi…aku masih belum bisa tidur Ay,”

“Yaudah jangan tidur! Peluk aku aja!” ucap Ayana memaksa

“HAH!?”

“KYA! M-Maksud aku…umm…kalau mau peluk doang, siang-siang juga bisa kan!”

“Kalau gitu aku gak akan peluk kamu deh, um…,” Aldo melepaskan pelukannya

“Bukan itu maksudku!” bentak Ayana lagi

Ayana terlihat makin grogi. Kemudian tangannya menarik tangan Aldo sehingga kembali memeluk tubuhnya.

“A-Aku…,” ucap Ayana menggantung

“Um Ay, besok…,” ucap Aldo berbisik di telinga Ayana

“Ahk…umm…,” Ayana sedikit menekan tubuhnya sambil menyembunyikan wajahnya

“Geli, Al…,” ucap Ayana

“M-Maaf…,” ucap Aldo

“Tadi kamu mau ngomong apa?” ucap Ayana kembali

“Besok…hari sabtu kan? Kita Ngedate,”

“HAH!” Ayana terlihat terkejut

“Ek-Itupun kalau kamu mau,”

“Geez…Gak bisa Al!”

“…yaudah deh,” Aldo terlihat murung

“Maksud aku…emangnya kita punya waktu untuk itu? Karena aku kan harus nyiapin makan malam,”

“Kita makan di luar aja! Khusus untuk hari sabtu doang Ay!”

“Sheessh…sampai segitunya ya pengen Ngedate? Ahaha…,”

“Um, b-biar kita bisa lebih deket lagi kan, eng…,” wajah Aldo terlihat memerah

“Huft yaudah deh, tapi makan malamnya juga nanti di luar lagi ya,”

“O-OKE!” Aldo kembali bersemangat

“Kalau gitu cepet tidur!” ujar Ayana

~oOo~

Keesokan harinya, tepat pada pukul 6 pagi…

*Puk-Puk…

“Al-Bangun…udah pagi,” ucapnya sambil menepuk-nepuk pipi Aldo

“Uh…,” Aldo terlihat membuka matanya

“Jam berapa nih…,” Aldo mengambil sesuatu di bawah bantal, yang ternyata adalah jam wekernya

“Jam 6 pagi?” ucap Aldo dengan mata yang masih mengantuk

“Kamu udah mandi Ay?”

“udah, soalnya kita mau-Ngedate kan!”

“Duuh…masih ngantuk…,” Aldo kembali memejamkan mata

“Heeey! Jangan tidur lagi! Atau mau aku mandiin!?”

“Mandiin ajah, ung…berisik dasar!”

*HUP!

*Gruduk-Gruduk-Gruduk!

“OHOK! UHUK!” Aldo terbatuk

“Cepet bangun!” Ayana tampak menginjak-injak badan Aldo

“AAAARGH! S-Sabar-sabar!”

Aldo tampak bangun dengan paksa.

“Duuuh…jangan jam segini juga Ay, ini kan masih pagi,” ucap Aldo

“Hey…,” Ayana mendekatkan wajahnya sehingga dahi mereka berdua bersentuhan

“Hari ini adalah hari yang spesial untuk kita, aku mau semuanya berjalan dengan lancar dimulai dari sekarang,” ucap Ayana

“A-Ah…,”Aldo terdiam

“Kalau gitu, umm…,” ucap Aldo yang beranjak dari kasur

“Jangan kelamaan ya mandinya!” teriak Ayana

 

To Be Continue…

Author : Shoryu_So

Iklan

3 tanggapan untuk “Cinta Palsu, Part 11

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s