Death Lullaby, Chapter 6

Aku terbangun oleh sebuah panggilan yang masuk ke handphoneku, dengan sedikit merentangkan tangan aku meraih handphoneku yang bergetar di atas meja. Aku bukanlah orang yang suka bangun pagi, tapi panggilan telpon sepagi ini pasti penting.

“Halo,” ucapku yang masih setengah mengantuk.

“Chris kau menjijikan,” ucap sebuah suara yang sangat kukenal.

“Pagi Yon dan terima kasih untuk motivasi paginya,” aku duduk dan mengucek mataku untuk membangunkan diriku.

“Ada apa ?” tanya Anin yang mungkin terbangun karena suaraku.

“Nggak apa apa, lanjut tidur gih. Masih pagi,” aku mengelus kepalanya dan membiarkan dia kembali tidur.

Dia hanya memberikan senyuman sebagai jawaban dan menarik sisa selimut dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Aku memutuskan untuk pergi keluar kamar karena aku merasa Anin tak perlu mendengar pembicaraanku dengan Yona.

“Maaf soal itu, jadi apa yang membuatmu menelponku pagi pagi buta ?”

“Aku melakukan apa yang kau minta dan mencari informasi tentang Anin yang kutebak baru saja kau tidu…”

“Yon,” potongku.

“Apa ?” dia menaikan nada suaranya, dia masih tak suka aku memotong omongannya.

“Apa yang kau temukan ?”

“Well, banyak hal sebenarnya, pertama dan yang paling menarik adalah Anin baru pindah ke sekolah kita dua bulan yang lalu dan dikeluarkan dua minggu yang lalu.”

Jadi Anin adalah murid baru, wajar jika itu menjadi hal yang menarik bagi Yona.

“Kapan teror pertama lagu itu terjadi ?”

“Tepat satu  bulan yang lalu,”

Kasus ini terjadi setelah Anin pindah kesekolah, wajar jika Melody mencurigainya. Meski begitu fakta bahwa dia menyuruhku menyelidiki tentang siswa yang sudah dikeluarkan itu aneh. Meski dia dikeluarkan untuk mempermudah penyelidikan yang masih berhubungan dengan kasus ini.

“Apa hal lain yang kau temukan ?”

“Dia sudah dikeluarkan dari total enam sekolah ?”

“Enam ?”

“Ya, dengan catatan menarik bahwa alasan dia dikeluarkan tak dicantumkan. Chris aku tahu dia gadis yang cantik, tapi sepertinya dia gadis yang berbahaya,”

“Aku senang kau perhatian kepadaku.”

“Najis,”

“Yon, ayolah kau tahu perasaanku padamu,”

“Datang kemari bawa kartunya,”

Yona mengakhiri panggilannya, sekali lagi meninggalkanku tanpa jawaban. Meninggalkan kisah cinta searahku dengannya. Saat aku kembali ke kamarku, gadis kemarin menghabiskan waktu bersamaku telah bangun. Berapa lama aku berbicara dengan Yona ?.

“Hei,” ucapnya yang sedang mengancingkan kemeja putih miliknya.

Aku menghabiskan beberapa hari mencoba mencari informasi tentangnya, dan sekarang dia berada didepanku dan aku tak tahu harus berkata apa. Aku seharusnya mengali informasi yang kubutuhkan dari Anin, tapi untuk suatu alasan aku tak mendapatkan informasi apapun. Kemarin Anin selalu berhasil mengelak dari pertanyaanku, dan meski kami bersama seharian informasi yang kupunya tak bertambah.

“Sudah mau pulang ?” tanyaku.

“Iya, semalamkan udah aku bilang harus ngasih keterangan ke kantor polisi untuk kasus kemarin,”

“Mau ku antar ?”

“Nggak usah, aku pulang dulu ya,” ucapnya setelah memberikan ku sebuah kecupan.

Aku adalah pesuruh OSIS yang buruk. Aku seharusnya menyelidiki gadis itu dan mengumpulkan informasi yang akan membantuku memecahkan kasus yang sedang kutangani. Tapi aku malah menghabiskan waktu dengannya tanpa sedikitpun mendapatkan informasi, lalu sekarang aku membiarkannya pergi setelah menghabiskan malam bersama. Jika Melody tahu, aku tak bisa membayangkan reaksinya.

Jadi untuk menghindari nasib buruk yang bisa kuterima jika Melody tahu aku tak mendapat informasi apapun dari Anin, meski aku punya waktu seharian untuk menanyainya aku tak mendapatkan jawaban yang memuaskan atau yang benar benar menjawab pertanyaanku. Anin selalu berhasil menghindari atau menganti topik pembicaraan.

Aku tak bisa memaksanya menjawab pertanyaan yang kuajukan, kami baru bertemu beberapa jam jadi aku tak punya hak untuk membuatnya bicara tanpa keinginan darinya. Aku memang terlalu lemah kepada wanita.

Hari ini aku tak bisa mencoba mencari informasi dari Anin karena aku tak tahu berapa lama dia akan berada dikantor polisi. Aku juga tak bisa memaksanya menghabiskan hari bersamaku. Jadi hari ini aku memutuskan untuk menemui Yona. Meski lidahnya tajam dan tatapannya menjengkelkan tapi dia orang yang bisa diandalkan. Berbeda dengan aku orang yang meminta bantuan kepadanya.

Jika kuingat kembali dulu saat aku pertama bertemu dengannya Yona adalah gadis paling sempuna yang kukenal. Aku mengenal Yona jauh sebelum aku mengenal Melody atau gadis yang lain. Seperti yang kuingat dia adalah gadis pertama yang membuatku benar benar tertarik kepada seorang wanita.

Bukan saatnya bernostalgia, aku ada tugas yang harus kulakukan dan aku sudah membuang satu hari dan tak mendapatkan hasil apapun. Sekarang aku cukup beruntung punya Yona yang mau membantuku, meski tak gratis.

Tapi sebelum semua penyelidikan itu aku harus membangunkan kak Shafa, memastikan dia memakan semua sarapannya, dan mengantarnya ke kampus.

“Kak bangun,” aku mengetuk pintu kamarnya beberapa kali tapi tak ada jawaban. Ini memang masih pagi tapi seharusnya dia sudah bangun. Aku mengetuk pintunya beberapa kali sebelum suara kunci terdengar dan Kak Shafa berdiri disana dengan wajah cemberut.

“Kenapa dek ?”

“Hari ini kakak kuliah,” jawabku.

“Tapi kan kemarin udah,”

“Iya dan hari ini kakak juga ada jadwal,”

“Mata kuliah ?”

“Pajak,”

“Cuma itu ?”

“Iya,”

“Ah males,” rengek Kak Shafa, dia memang sedikit pemalas tapi dia harus tetap melakukan kewajibannya.

“Ayo kuliah nanti pulangnya kita bisa beli makanan,” rayuku, akan menyebalkan bagi kak Shafa untuk kuliah karena aku paksa. Dia pasti tak akan serius dan aku khawatir dia tak akan lulus pada mata kuliahnya. Sedikit motivasi akan membuat dia paling tidak akan membuat dia kuliah tanpa rasa terpaksa.

“Domino ya, dua yang besar.”

“Iya tapi harus dihabisin,”

“OK,” ucapnya dengan mood yang lebih baik.

“Mandi terus kita sarapan,”

“Pake apa sarapannya ?”

“Roti selai kacang,”

“Pake jelly ya,”

“Iya, udah mandi sana.”

Aku pergi kedapur untuk menyiapkan sarapan. Dua porsi roti serta susu coklat untuk kak shafa. Meski setiap pagi kami sarapan dengan hal yang sama, dia masih terus menanyakan apakah yang akan kami makan untuk sarapan.

Aku menambahkan lebih banyak susu pada gelas kak Shafa untuk menutupi rasa pahit dari obatnya, dia tak pernah suka rasa obat itu karena itu aku harus terus mencari cara agar kak Shafa memakan obatnya. Mungkin aku harus berkonsultasi dengan dokter yang lain, aku merasa kak Shafa tak mengalami kemajuan. Aku ingin kak Shafa bisa memulai harinya tanpa obat apapun, seperti dulu.

Hari ini Kak Shafa memakai kemeja biru kesukaannya, dan untuk suatu alasan dia memakai rok putih yang dulu dibencinya, tapi mungkin dia tak ingat betapa bencinya dia dengan rok itu.

“Cantik nggak ?”

“Jelek,”

“Jahat,”

Kak Shafa meminum susu coklatnya tanpa menyadari obat yang kumasukan sebelumnya, itu bagus yang berati aku belum harus memikirkan cara baru agar dia makan obatnya.

“Kenapa dek ? ada sesuatu diwajah kakak ?”

“Nggak, tumben aja kakak mau bangun pagi,”

“Demi Domino,”

Setelah kak Shafa memakan sarapannya kami berangkat menuju kampusnya. Aku sudah menyiapkan buku dan alat tulis di dalam tas yang dibawanya, aku tak ingin dia punya alasan untuk tak belajar.

Didepan gerbang kampus sudah menunggu Kak Novinta, dia adalah sahabat dan teman sekelas kak Shafa  dia yang memberitahu jadwal kuliah untuk kak Shafa.  Dia gadis yang cantik dengan rambut panjang berwarna hitam, dia lebih tinggi dari kak Shafa membuat dia terlihat seperti kakak dari kakakku.

Dia adalah satu satunya orang yang tahu keadaan Kak Shafa, dia lah yang membantu kakakku dikampus. Membantunya dengan semua tugas dan kehidupannya secara keseluruhan dikampus. Aku senang kak Shafa punya sahabat seperti dia.

“Pagi,” sapanya kepada kami berdua.

Kak Shafa yang lupa kepada sahabatnya sendiri berdiri dibelakangku sambil memeluk lenganku.

“Siapa ?” tanya kak Shafa pelan.

“Baca catatannya kak.” Jawabku.

Kak Shafa membuka catatan kecil yang kuikatkan pada tas yang selalu dibawanya. Catatan kecil yang berisi semua hal yang harus diingatnya. Alamat, nomorku, dan juga informasi tentang orang orang yang penting untuk dia ingat seperti Kak Novinta.

“Dia sahabat kakak ? kok kakak lupa ya ?”

“Kakak kan emang pelupa,” jawabku.

Kami pun mendatangi Kak Novinta, dia sudah mengerti kenapa kak Shafa bersembunyi dibelakangku lalu memandanginya dengan ekspresi canggung. Dia sudah melihat hal itu ratusan kali, dan aku bersyukur dia masih mau melaluinya.

“Lupa sama aku ya ? kamu juga lupa sama utang kamu ?” ucap kak Novinta.

“Utang ?”

“Iya, lima puluh ribu,”

“Tunggu,” kak Shafa mengambil uang dari dompetnya dan memberikannya kepada Kak Novinta, yang tentu saja kurebut sebelum diambil oleh kak Novinta.

“DEK, kamu kok nggak sopan. Kasih uangnya ke kak Nobinta,”

“Novinta kak,” ucapku membenarkan ucapan kak Shafa.”Lagian kak Shafa nggak punya utang sama kak Novinta.”

Kak Novinta hanya menahan senyumnya saat aku menjelaskan kepada Kak Shafa jika kak Novinta selalu melakukan hal itu, menjelaskan padanya bahwa kak Novinta punya selera humor yang aneh dan dia tak bermaksud jahat.

“Maaf maaf, oh ya udah sarapan ?” tanya Kak Novinta.

“Udah sih, tapi ngemil sebelum masuk kelas boleh lah,” jawab kakakku.

“Jangan makan terus, baju dilemari udah sempit semua tuh,” ucapku yang disambut kakakku dengan pandangan serius, seperti berkata “biarin yang penting happy”.

“Shaf, jam segini roti coklat kejunya masih panas kayaknya,”

“Oh iya, harus cepat cepat kalo nggak habis,”

Kakak ku itu tak pernah melupakan beberapa hal, seperti tentang diriku yang mungkin karena akulah yang selalu bersamanya, dan juga roti keju kesukaaannya yang entah kenapa tak pernah dia lupakan.

“Makasih ya udah selalu jagain kak Shafa,”

“Dia sahabatku, itulah hal yang sewajarnya aku lakukan. Duluannya ntar kakak mu nyasar.” Kak Novinta pun berlari menyusul kak Shafa, yang meski ingat bahwa dia sangat menyukai roti itu tapi mungkin lupa dimana mereka dijual.

Setelah mengantarkan kak Shafa ke kampusnya masih ada satu hal lagi yang harus kulakukan sebelum ke sekolah, dalam perjalanan tak lupa aku membeli setangkai bunga sebelum menemui Zara.

Sudah setahun sejak pertama kali aku datang kemari, setiap pagi menganti mawar yang layu dengan yang baru. Setahun yang lalu Zara mengalami kecelakaan dan koma, aku lah yang menyebabkan dia koma. Meski kedua orang tuanya berkata ini bukanlah salahku, dan aku harus berhenti menyakiti diriku sendiri dengan datang kemari. Aku tak mungkin melakukan itu karena aku tahu pasti itu semua adalah salahku aku lah yang menyebabkan semua rasa sakit yang dirasakan oleh mereka.

Tiap pagi aku selalu membawa diriku kesini bukan karena rasa bersalahku, tapi karena aku ingin minta maaf. Sesuatu yang belum bisa kulakukan sebelumnya. Aku menganti mawar kemarin yang telah layu, mawar adalah bunga favoritnya mungkin dengan mencium wangi mawar akan membuat rasa sakit yang dirasakannya akan hilang. Hari ini juga dia belum bangun, mungkin besok, atau suatu saat dia akan membuka matanya dan aku bisa memperbaiki kesalahanku.

Ada banyak alat bantu dan penunjang keselamatan yang dipasang pada tubuh Zara. Aku hampir lupa wajahnya tanpa masker oksigen, dan alat lain yang ditempelkan pada wajahnya. Diatas meja ada sebingkai foto Zara, dia tertawa lebar disana bersama kakak perempuannya.

“Chris,”

“Kyla,”

Kyla adalah kakak perempuan Zara, dia dulu adalah teman sekelasku setiap pagi kami bertemu disini. Sama sepertiku dia setiap pagi dia membawa setangkai mawar untuk adiknya. Sudah setahun semenjak Kyla keluar dari sekolah, aku rasa dia tak tahan harus melihat wajah orang yang sudah membuat celaka adiknya.

“Kenapa kau terus datang kemari ?” pertanyaan yang sama yang terus ditanyakan olehnya, mungkin bukan karena lupa seperti kak Shafa tapi didasari oleh rasa bencinya kepadaku. Aku bisa memahami rasa bencinya kepadaku, aku juga akan marah kepada orang yang menyakiti kak Shafa.

“Aku hanya ingin meminta maaf,”

Kyla tak mau capek capek memandangku, dia hanya duduk disamping tempat tidur dan merapikan rambut adiknya. Dia memandang fotonya bersama Zara tertawa lebar, pasti menyakitkan melihat foto tersebut saat adiknya harus hidup dengan semua alat bantu pada tubuhnya.

“Sudah satu tahun, Ayah dan Ibu sudah memaafkanmu. Pergilah aku tak mau adikku melihat wajahmu saat dia bangun,”

“Aku akan pergi,”

“Dan kau tak perlu datang kemari setiap pagi dan membawakan adikku mawar, semua bungamu tak akan menghapus apa yang sudah kau lakukan padanya.”

“Aku tahu, aku salah paling tidak biarkan aku minta maaf,”

“Pergilah,”

Begitulah hariku selalu dimulai, dengan sebuah kewajiban dan kesalahan yang kupunya. Semua itu sebelum aku mulai melakukan tugasku, sedikit egois tapi aku tak akan lari dari mereka.

Pagi ini ruangan klub IT terlihat sepi, aku masuk dan menemukan Yona sedang sibuk dengan komputernya. Entah dia bisa mendengar suara langkah kakiku atau hal lain yang bisa membuatnya sadar akan kehadiranku, dan mengangkat wajahnya dari layar komputer dan memandangku. Kali ini dengan ekspresi marah atau jijik kepadaku, sedikit sulit dibedakan.

“Pagi,” sapaku.

“Apa kau bawa kartunya ?”

“Tentu,” dia tak membalas sapaanku, nampaknya dia marah.

“Mana ? awas kalo bohong,”

Aku merogoh kantong jaketku dan melemparkan kotak berisi kartu yang kujanjikan kepada Yona.  Dia dengan cukup baik menangkapnya, sedikit tatapan marah sebelum mengalihkan pandangannya ke kotak yang kulemparkan. Dia mengeluarkan isinya keatas meja, mengambil satu dan memeriksa keasliannya.

Aku duduk disalah satu kursi, memandanginya terpesona oleh kartu yang ada ditangannya. Salah satu alasan aku menganggapnya sempurna adalah kesukaannya kepada pop culture yang juga kusuka. Aku tak pernah mengenal wanita yang suka dengan hal hal yang kusukai sebelumnya, jadi dia selalu punya nilai plus di mataku.

“Ini kartu asli tapi aku tak tahu keaslian tanda tangannya. Meski begitu ini cukup bagus untukku.”

“Kau pikir aku akan berbohong ?”

“Chris, kau berharap aku menjawab pertanyaan itu ?”

“Sudahlah, apa informasi lain yang kau janjikan,”

Aku mengikuti Yona berjalan menuju komputer miliknya. Aku selalu berpikir jika komputer yang klubku punya adalah komputer yang bagus, tapi saat aku melihat milik Yona aku selalu merasa komputer klubku hanya komputer biasa.

Yona duduk dikursi kebesarannya dan membuka beberapa folder sebelum membuka sebuah folder yang diberi nama Anindhita. Folder itu berisi beberapa foto, video, dan dokumen. Yona tersenyum bangga menunjukan hasil kerjanya.

“Aku tahu OSIS mengumpulkan data tentang siswa disekolah kita, tapi untuk seorang siswa baru ini luar biasa.”

“Menurutmu kenapa Melody tertarik dengan Anin ?”

“Aku tak mau berspekulasi tentang ketua OSIS kita, tunggu apa kau mencurigai Melody ?”

“Aku mencurigai semua orang, begitulah cara kerjanya,” jawaban yang sama seperti yang kuberikan kepada Melody, bukan prosedur standar tapi itu cukup sering membantuku.

“Apa itu termasuk aku ?”

“Iya, terutama orang yang tahu banyak seperti mu ?”

Dia memukul lenganku dengan ekspresi wajah yang datar, aku tak bisa mengartikan tindakannya barusan. Akan lebih mudah jika dia memukulku dengan ekspresi diwajahnya, dengan ekspresi kesal yang artinya dia marah atau dengan senyum atau sedikit tawa yang artinya dia melakukannya karena sedang bercanda denganku. Tapi dengan wajah datar dia meninggalkanku tanpa petunjuk yang sedikit membuatku kesal.

“Kau tak seriuskan curiga kepadaku yang sudah banyak membantumu ?” kali ini aku bisa membaca ekspresinya yang penasaran.

“Maaf tapi aku tak bisa menjawab pertanyaanmu itu,” jawaban yang membuat ekspresi kecewa terlihat jelas di wajahnya.

“Aku akan mengirim filenya ke emailmu,”

“Baiklah,”

Yona mematikan komputernya, meski dia tak mengucapkannya tapi aku mengerti bahwa dia tak menginginan keberadaanku lagi disini. Dia hanya diam dan memandangku dengan ekspresi wajah yang hanya bisa kuartikan sebagai “pergilah”.

“Terima kasih kau sangat membantu,”

Dia memberikan sebuah anggukan, mungkin dia merasa tak seharusnya aku mencurigainya. Tapi meski aku tak punya bukti atau petunjuk apapun yang mengarah padanya, aku juga tak bisa menutup kemungkinan apapun hingga aku menemukan kebenaran atas kasus ini.

Berbicara tentang kemungkinan, aku masih harus mencari tahu kenapa Frieska sudah membohongiku tentang Anin. Dibalik kebohongannya padaku pasti ada sebuah kebenaran yang disembuyikannya, dan aku harus tahu kenapa dia melakukannya karena tak ada kebohongan yang tidak disengaja.

Dengan Ikha yang tak mau lagi membantuku pilihanku yang lain adalah Shinta dan Naomi, itu dengan harapan dia mau membantuku. Ada kemungkinan Shinta dan Naomi akan seperti Ikha yang tak mau memberiku informasi apapun jika itu berhubungan dengan Frieska. Aku hanya berharap mereka mau membantuku.

Aku mengirimkan pesan kepada mereka dan mengajak mereka untuk bertemu, mereka setuju dan berkata bahwa mereka sedang sarapan dikantin. Tak membuang waktu aku pergi ke kantin sekolah, aku harus turun tangga kerena ruang IT berada dilantai dua.

Senyumnya kalem dengan tatapan yang terlihat lebih teduh, yang sedang kutemui sekarang adalah Shinta.

“Maaf menganggu kalian sepagi ini,” sapaku.

“Nggak apa apa, kami berhutang lebih banyak,”

“Lupakan, itu bukan apa apa.” Dulu aku pernah membantu mereka, dan mereka merasa berhutang kepadaku. Aku tak suka mereka mengungkitnya, aku membantu mereka karena kami berteman.

“Jadi apa yang bisa kami bantu ?”

“Aku ingin tahu, apa benar Anin dikeluarkan dari sekolah.” Sebenarnya aku cukup khawatir menanyakan langsung tentang Anin, mengingat sebelumnya Shinta ketakutan dan bertukar tempat dengan Naomi.

Sesuai dugaanku ekspresi Shinta berubah tak nyaman, kedua bola matanya bergerak dengan cepat. Aku bisa melihat dia mengigit ujung bibir bawahnya yang menunjukan dia berusaha menahan dirinya, dia sedang berusaha keras agar emosinya tak meluap.

“Shin, tolong aku kali ini,” ucapku cepat sebelum Shinta ketakutan dan bertukar tempat. Aku mengenggam tangannya dan menatap langsung dirinya. Aku merasakan tangannya gemetaran tapi aku mengenggam tangannya sedikit lebih erat berusaha membuat dia nyaman.

“Shin, aku hanya ingin tahu apa Frieska bohong kepadaku, aku takut dia sudah tak jujur kepadaku.” Aku benci melodrama dan membuat hubunganku dengan Frieska sebagai alasan, tapi yang aku tahu jika wanita akan lebih simpati kepadaku saat aku melakukannya. Aku benar benar menjijikan.

Gemetar pada tangan Shinta berkurang dan dia membalas tatapanku, kali ini dengan ekspresi wajah yang simpatik kepadaku. Dia melihatku sebentar, mungkin memastikan apa benar aku baru menceritakan hubunganku dengan Frieska kepadanya.

“Bohong ?”

“Ya, Frieska kemarin bilang bahwa Anin hanya diskors tapi pagi ini aku baru tahu jika Anin sudah dikeluarkan.”

“Mungkin Frieska sendiri nggak tahu kalau Anin dikeluarkan,”

“Shin, aku pikir kau tahu kalau Frieska peduli dengan klub renang. Apa mungkin dia tak tahu jika salah satu anggota klub renang dikeluarkan ?”

“Ya…mungkin…”

“Apa kau sendiri sudah tahu tentang hal itu ?” mungkin aku tak langsung menanyakan tentang ini, tentu pertanyaan ini akan membuatnya tak nyaman. Dia mungkin akan merasa bahwa aku mencurigainya, tapi cepat atau lambat aku akan menanyakan hal ini kepadanya meski mungkin hanya sekedar konfirmasi.

Dia tak menjawab hanya sebuah anggukan yang diberikannya sebagai jawaban, dia sudah tahu tapi seperti yang lain memutuskan tak memberitahuku.

“Apa itu alasannya kamu menghindar dariku kemarin ?” menghindar yang kumaksud adalah saat dia memutuskan bertukar tubuh dengan Shinta saat aku bertanya tentang Anin kepadanya kemarin.

“Bukan,” gelengnya “Aku kemarin Cuma kaget aja,”

“Kaget ?”

“Iya soalnya Frieska bilang kalau kamu mungkin akan tanya tanya soal Anin,”

“Frieska ngomong gitu ke kamu ?”

“Bukan seluruh anggota klub renang,”

Apa itu alasan Ikha pergi kemarin karena dia sudah diperingatkan oleh Frieska, lalu memutuskan untuk menjaga rahasia temannya. Teman yang baik itu buruk untuk penyelidikanku, mereka akan menutupi rahasia temannya, yang lebih buruk mereka akan membela temannya meski mereka salah.

Dengan ini penyelidikanku meruncing kepada dua hal, Anin dan Frieska. Aku belum mendapatkan informasi apa apa dari Anin, jadi dia masih ada dalam daftarku. Dan untuk Frieska ada beberapa hal yang ingin kupastikan darinya, yang kuharap akan membantu penyelidikanku.

“Makasih ya,”

“Untuk apa ?” tanya Shinta sedikit bingung.

“Kau sudah sangat membantu.”

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Death Lullaby, Chapter 6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s