Noor, Part 6

“Dari tadi gue liatin lu senyum-senyum mulu,” ucap Rezza menatap Sinka dengan heran.

“Sakit?” lanjut Rezza.

“Sembaragan kalo ngomong, aku cuma lagi seneng aja hari ini,” jawab Sinka ikut meletakkan kepalanya ke atas meja.

Kemudian hening, mereka berdua masih bertatapan dengan kepala yang diletakkan di atas meja.

Rezza mengeryitkan dahinya sambil terus menatap Sinka. “Lu kenapa sih?”

“Kepo ihh,” Sinka tersenyum sambil mencubit pipi Rezza lalu mengangkat kembali kepalanya.

“Mau ikut ke perpus nggak sin?” tanya Gre menoleh ke arah Sinka.

Sinka hanya tersenyum lalu menyusul Gre yang sudah berada di ambang pintu.

“Tuh anak kenapa sih?” batin Rezza sambil menatap kepergian Sinka bersama Gre.

~oOo~

“Mau?” tawar Gre sambil menyodorkan es krimnya pada Rezza.

Rezza hanya menggeleng dan tersenyum kecil.

Gre kembali memakan es krimnya. “Kamu lagi mikirin apa sih? Dari tadi diem mulu.”

“Enggak.” Rezza menoleh ke arah Gre sebentar. “Tiba-tiba aja kepikiran sama Yupi.”

“Udah gausah dipikirin, palingan dia lagi nge-game kao nggak latian,” ucap Gre.

“Yaudah lah, kuy pulang, udah sore,” ajak Rezza bangkit dari kursi.

Gre langsung berdiri dan memeluk tangan kiri Rezza.

Kemudian mereka berjalan meninggalkan taman itu.

“Za, kalo kita pacaran aneh nggak?” tanya Gre.

“Kenapa lu nanya gitu?” Rezza sedikit menoleh ke arah Gre yang duduk di belakangnya.

“Gapapa, pengen tau aja,” jawab Gre tersenyum.

“Gue lagi nggak pengen punya pacar, temenan aja udah cukup buat gue,” ucap Rezza kembali fokus menyetir motornya.

Gre mempererat pelukannya pada Rezza. “Sama, aku juga lagi nggak pengen pacaran.”

30 menit kemudian, mereka berdua telah sampai di rumah Rezza.

“Jan diminum!” seru Najong saat melihat hendak meminum jus yang ada di meja makan.

“Halah, bikin lagi kan bisa,” ucap Gre lalu meminum jus itu.

“Napa muka lu panik gitu?” tanya Rezza menatap Najong dengan heran.

“Ng-nggak, gapapa,” jawab Najong yang wajahnya mulai pucat.

Rezza hanya menggeleng pelan dan berjalan menuju kamarnya.

“Ikut!” ucap Gre meletakkan gelas jus yang sudah habis lalu menyusul Rezza.

Sesampainya di kamar Rezza, Gre langsung melepaskan tasnya lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Sedangkan Rezza mengambil handuk dan pakaian lalu masuk ke kamar mandi.

“Cepet banget mandinya,” ucap Gre saat Rezza keluar dari kamar mandi.

“Emangnya elu, mandi dua jam,” balas Rezza menghampiri Gre yang masih berbaring di atas kasur.

Saat Rezza sudah duduk di atas kasur memelakangi Gre, tiba-tiba bahunya ditarik oleh Gre.

“Apaan sih?!” tanya Rezza sedikit kesal.

“Gapapa kok,” jawab Gre tersenyum lalu meletakkan kepalanya ke atas dada Rezza.

Kemudian hening, Rezza hanya diam menatap langit-langit kamarnya, sedangkan Gre malah mengelus-elus dada Rezza.

“Kamu kalo lagi kaya gini suka pengen nggak sih?” tanya Gre sedikit mengangkat wajahnya.

Rezza menyingkirkan kepala Gre dari dadanya. “Gausah aneh-aneh.”

 

Drrrtt… drrrtt… drrrtt…

Rezza bangun lalu meraih smartphone-nya yang tergeletak di atas meja.

“Siapa?” tanya Gre juga ikut bangun.

Setelah membaca chat yang masuk, Rezza langsung beranjak dari kasur dan berlari keluar kamar.

Sesampainya di depan kamar, Rezza melihat Melody tengah berdiri di depan kamarnya dengan raut wajah khawatir. Rezza menoleh ke arah Najong yang sedang meminum beer di ruang tengah, ekspresi Najong tak jauh berbeda dengan Melody.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Rezza langsung berlari menuju garasi dan menyalakan motornya. Meskipun hanya menggunakan celana pendek dan kaos, ia tidak ragu untuk memacu motornya dengan kencang.

Sekitar dua menit kemudian, Rezza berhenti di depan sebuah rumah. Ia langsung turun dari motornya dan menuju pintu depan rumah itu.

“Bangsat!” teriak Rezza setelah tau pintu depan rumah itu terkunci.

Ia pun langsung berlari menuju pintu belakang.

“Yup! Buka!” teriak Rezza yang kini sudah berada di depan kamar Yupi sambil menggedor-gedor pintunya.

Tidak ada jawaban dari dalam kamar Yupi.

“Gimana?” tanya Najong berlari menghampiri Rezza.

Rezza menoleh ke arah Najong dan menggelengkan kepalanya.

“Udah dobrak aja,” ucap Melody yang berdiri di sebelah Najong.

Rezza dan Najong hanya mengangguk lalu mendobrak pintu kamar Yupi.

BRUAK!!

Rezza langsung masuk dan melihat seisi kamar Yupi setelah pintunya berhasil dibuka.

Terlihat Yupi tak sadarkan diri di sudut kamarnya dengan tangan berlumuran darah. Rezza yang melihatnya langsung berlari ke arahnya dan menggendongnya keluar kamar.

“Cepetan lu nyetir!” suruh Rezza saat melewati Najong yang ada di ambang pintu bersama Melody.

Najong mengangguk dan mengikuti Rezza keluar rumah, sedangkan Melody mulai menangis dan terduduk di depan kamar Yupi.

Sesampainya di depan rumah, Najong langsung mengangkat motor Rezza yang jatuh dan menyalakannya.

Setelah Rezza naik ke motornya, Najong pun langsung memacu motor Rezza menuju rumah sakit.

~oOo~

Di depan ruang UGD, Rezza yang tangan dan bajunya berlumuran darah sedang duduk di atas lantai.

“Gimana?” tanya Rezza menoleh ke arah Najong yang sedang berjalan ke arahnya.

“Lagi jalan ke sini,” jawab Najong lalu duduk di sebelah Rezza.

Beberapa saat kemudian, seorang pria paruh baya berlari menghampiri Rezza dan Najong.

“Gimana keadaan Yupi?!” tanya orang pria itu dengan wajah khawatir.

“Masih di dalem om,” jawab Najong menoleh ke arah pria itu yang tidak lain adalah ayahnya Yupi.

Tubuh ayah Yupi langsung lemas, ia menyandar di tembok dan perlahan duduk di lantai bersama Rezza dan Najong.

Di ujung lorong, terlihat Melody, Gre, Naomi, Sinka dan Ayana sedang berlari mendekat.

“Gimana Yupi?” tanya Melody setelah sampai di hadapan tiga pria yang sedang duduk di lantai depan ruang UGD.

Tidak ada yang menjawab, ketiga pria itu hanya menoleh sebentar ke arah Melody lalu kembali menunduk.

Hening, sudah satu jam lebih tidak ada percakapan diantara mereka semua.

Naomi yang dari tadi hanya duduk, berdiri menghampiri Rezza lalu berjongkok di depannya. Rezza mengangkat kepalanya sebentar menatap Naomi.

Naomi memegang kedua tangan Rezza. “Cuci dulu tangannya.”

Tidak ada balasan dari Rezza, ia hanya mengikuti Naomi yang membawanya menuju toilet.

Sesampainya di toilet, Naomi membantu membersihkan darah yang sudah mengering di tangan Rezza.

“Kamu jangan sedih, Yupi pasti baik-baik aja kok,” ucap Naomi setelah selesai membersihkan darah dari tangan Rezza.

Rezza masih diam, ia hanya menatap air di wastafel yang masih mengalir. Perlahan air matanya mulai menetes membasahi pipi.

Naomi memutar badan Rezza agar berhadapan dengannya. “Jangan sedih, kita berdo’a aja supaya Yupi nggak kenapa-kenapa.”

Rezza hanya mengangguk lalu terukir senyuman kecil di bibirnya.

“Yaudah yuk kita ke depan aja dulu,” ajak Naomi sambil mengusap air mata Rezza.

“Kamu pasti belom makan kan dari tadi siang?” lanjut Naomi.

Kemudian mereka berdua pergi ke depan rumah sakit.

“Kamu tunggu sini aja, biar aku pesenin nasi gorengnya dulu,” suruh Naomi sebelum pergi meninggalkan Rezza di depan pintu masuk utama rumah sakit.

Setelah Naomi pergi, Rezza berjalan menuju bangku panjang yang tak jauh darinya. Ia berjongkok di atas kursi itu sambil terus menunduk menatap lantai, cukup lama ia menunggu Naomi di situ.

“Kak Naomi mana?” tanya Sinka yang tiba-tiba duduk di sebelah Rezza.

Tidak ada jawaban dari Rezza, ia malah menyandarkan tubuhnya ke sandaran bangku lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Sinka menghela nafas sambil memegang bahu Rezza.

“Nih makan dulu,” suruh Naomi berjalan menuju Rezza dan Sinka sambil membawa dua piring nasi goreng.

Sinka langsung menoleh ke arah Naomi, Rezza pun menyingkirkan kedua tangannya dan menoleh ke arah yang sama.

“Kamu makan juga gih,” ucap Naomi sambil menyodorkan satu piring pada Sinka.

“Terus kak Naomi sendiri gimana?” tanya Sinka.

“Gampang, biar kakak pesen lagi, sekalian ambil minumannya,” jawab Naomi tersenyum.

Kedua piring nasi goreng itu kemudian berpindah dari tangan Naomi menuju pangkuan Sinka dan Rezza.

“Nih,” ucap Naomi sambil memberikan sebungkus rokok beserta koreknya pada Rezza.

Rezza meraih rokok dan korek itu sambil tersenyum, sedangkan Naomi kembali pergi menuju si penjual nasi goreng yang ada di seberang jalan.

“Kok nggak dimakan?” tanya Sinka saat melihat Rezza meletakkan piring nasi gorengnya ke atas bangku.

“Ntar bareng-bareng aja makannya,” jawab Rezza lalu menyalakan satu batang rokok.

“Iya ya, kasian kak Naomi kalo makan sendirian,” ucap Sinka juga ikut meletakkan piring nasi gorengnya.

Kemudian hening, tidak ada percakapan diantara mereka untuk beberapa saat.

“Kamu sama Yupi pasti deket banget ya?” jawab Sinka menoleh ke arah Rezza.

“Bukan cuma deket, Yupi udah gue anggep kakak gue sendiri,” jawab Rezza tanpa menoleh.

“Kalo gitu, berarti kamu tau dong kenapa Yupi sampe berani lakuin hal kaya itu?” Sinka menggeser duduknya menjadi lebih dekat dengan Rezza.

Rezza membuang rokoknya yang masih setengah lalu menoleh ke arah Sinka. “Tau nggak tau sebenernya.”

“Maksutnya?” Sinka menatap Rezza dengan heran.

“Dia itu punya masalah psikologi sejak mamanya nggak ada.”

“Mamanya Yupi udah meninggal?”

“Iya, kelas satu SMP pas Yupi pulang sekolah dia liat mamanya udah gantung diri di pintu kamarnya, dan selama setahun sejak kejadian itu Yupi jadi pendiem, murung, ya lu tau lah gimana orang depresi.”

“Terus kalo yang Yupi sampe berani kaya tadi itu kenapa?”

“Dia mulai kaya gitu sejak pindah rumah, pas naik kelas dua SMP dia pindah, tapi untungnya dia pindah satu komplek sama Najong, percobaan pertamanya itu pas abis pulang sekolah, dia coba gantung diri di pintu kamar, tapi gagal gara-gara Najong pas masuk rumah Yupi denger ada barang jatoh dari lantai dua.”

“Yupi jatoh?”

“Bukan, kalo mau gantung diri kan pake kursi, nah pas Yupi nendang kursinya itu Najong denger, langsung deh Najong lari ke atas trus selametin Yupi.”

“Nggak nyangka Yupi sampe berani kaya gitu.”

“Jangankan elu, gue yang udah dari kecil kenal aja nggak nyangka.”

Mereka berdua terdiam, hanya menatap beberapa orang yang melintas di depan mereka.

“Kok nggak di makan?” tanya Naomi menghampiri mereka berdua.

“Nungguin kakak, kasian kalo makan sendirian,” jawab Sinka menoleh ke arah Naomi.

Rezza masih terdiam, ia hanya mengambil nasi gorengnya lalu mulai makan.

“Ngomongin apa barusan? Serius banget kayaknya,” tanya Naomi setelah meletakkan minuman ke sebelah bangku dan duduk di sebelah Rezza.

Sinka yang hendak mulai memakan nasi gorengnya hanya menoleh ke arah Naomi tanpa menjawab pertanyaannya, Rezza juga diam sambil terus memakan nasi gorengnya.

Beberapa saat kemudian mereka bertiga telah selesai memakan nasi goreng masing-masing.

“Aku takut Yupi nggak selamet yang kali ini,” ucap Naomi tertunduk menatap gelas kosong yang ia genggam.

“Kak Naomi gaboleh ngomong gitu, kita harus percaya Tuhan bisa selametin Yupi,” balas Sinka menoleh ke arah Naomi.

Naomi terdiam, perlahan air matanya mulai keluar membasahi pipinya.

“Kamu gatau Yupi kaya gimana.” Naomi mengangkat wajahnya dan menatap Sinka. “Dia nggak bakalan nyerah gitu aja.”

“Maksut kak Naomi?” tanya Sinka dengan wajah heran.

Naomi tidak menjawab pertanyaan Sinka, ia malah berdiri lalu berjalan menuju penjual nasi goreng sambil membawa piring dan gelas bekas mereka bertiga.

“Kalian ngapain malah di situ?! Cepetan sini!” suruh Melody yang berdiri tak jauh dari mereka.

“Kenapa kak?” tanya Sinka menoleh ke arah Melody.

“Itu Yupi-“ jawab Melody.

Belum selesai Melody berbicara, Rezza langsung berlari menuju UGD, tempat di mana Yupi berada.

Flashback on

Setelah mengunci pintu kamarnya, Yupi kembali ke sudut ruangan sambil terus menangis. ia duduk bersandar di sudut kamarnya dan memperhatikan foto seorang perempuan yang dari tadi ia pegang.

“Ma…,” ucap Yupi mengelus wajah perempuan yang ada di foto.

“Aku kangen,” lanjut Yupi.

Kemudian Yupi mengambil smartphone yang tergeletak di sebelahnya lalu menuliskan sebuah pesan kepada sahabat-sahabatnya.

Save me.”

Itu lah pesan yang Yupi kirimkan pada sahabat-sahabatnya.

 

*to be continue*

 

Note: bagi yang belum 18 tahun ato yang gasuka baca oshinya ditulis secara ‘nakal’, dimohon kebijakannya untuk tidak membaca yang adult version.

Terima kasih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s