Fiksi dan Fakta part 50

Jaka masih menatap fokus ke kertas yang Ian berikan. Kertas berisi tulisan yang harus Jaka bacakan. Kata-kata yang sudah Ian rangkai sedemikian rupa dengan maksud mempermudah penyampaian Jaka dan lainnya. Sementara Kelpo masih sibuk membantu memasang kamera dan perlengkapan live streaming.

“Ada yang bisa dibantu?” Andela muncul dibelakang Mike yang baru saja keluar dari kamar. 

“Ndel? Wait..” Mike meletakkan gelas yang ia genggam di meja, seperti sedang mengingat sesuatu.

Andela menunggu pertanyaan Mike.

“Apa menurut kamu aku salah soal Viny?”

Pertanyaan itu muncul begitu saja.

“Viny? aku bukan orang yang tepat untuk itu, Mike.” Jawaban Andela sedikit membuat Mike kecewa.

“Kelvin sahabatnya dari kecil, siapa tau kamu juga tau lebih banyak soal dia. But, thanks yaa..” Mike kembali meraih gelas dan ponsel pintarnya.

“Mike?”

“Ya?” Mike menatap Andela bingung.

Andela sedikit ragu untuk mengungkapkan sesuatu.

“Ada apa, ndel?” Tanya Mike lagi.

“Aku ga paham sama ini semua..”

“Huh? Maksud kamu a-“

“No, Mike. Bisa ga kita keluar dari masalah ini? Jangan terlibat gitu?”

Mike tertunduk, Dia tak tau harus menjawab apa. Mana mungkin mereka bisa pergi begitu saja setelah memulai sesuatu yang kini berangsur rumit.

“Ini semua bukan masalah besar. Kenapa jadi gini?” Andela masih belum puas.

“Ini memang sepele, tapi tetep aja sulit. Semua ini berawal dari bule-bule yang dateng. Mereka yang mulai, dan kami cuma-“

Andela menutup mulut dengan kedua tangannya, terisak pelan seperti sudah memikul beban berat selama ini.

“Ndel..” Mike meletakkan gelas dan ponselnya dan sedikit berjalan mendekati Andela.

“Kelv… Kelvin… Dia gaboleh kenapa-kenapa. Aku ga bisa gini terus..”

Mike memegang kedua bahu Andela, mencoba menguatkannya.

“Listen, Andela. Ini ga akan lama. We’ll take the things that we wanted. As soon as they comin’ by..” Tanpa aba-aba, Mike segera memeluk sahabatnya itu. Mencoba meredam tangis seseorang yang sedang diselimuti keraguan. Ia teringat bagaimana Elaine begitu memperhatikannya. Betapa sabarnya Elaine untuk tetap berada di sisinya. Dan perlahan, Mike ikut terisak. Mereka berdua menangis untuk masing-masing orang yang mereka cintai. Bedanya Andela untuk Kelpo yang sedang putus asa, Mike untuk Elaine yang sudah di surga.

*Skip

Siaran langsung akan segera dimulai. Jaka dan yang lainnya sudah siap dengan setelan jas yang Ian siapkan.

“Ini akan live di seluruh Asia. Entah sampe eropa ato engga..” begitulah kata Ian yang mulai mencoba cairkan suasana.

Jaka, Mike, dan Kelpo duduk di satu sofa yang cukup besar itu. Menghadap ke 5 kamera dan beberapa lampu sorot untuk kebutuhan kecerahan. Sam dan yang lainnya mulai menghitung mundur. Mereka bertiga memahami bahwa beberapa saat lagi, hidup dan perjalanan mereka akan dipertaruhkan.

“Kita ga kelacak?” Tanya Jaka memastikan.

Kelpo menggeleng-geleng yakin.

“Ya kita pasti kelacak, tapi kita punya Marty dan Angel. No problem!” Ian mengacungkan jempolnya, buat Jaka dan semuanya lega.

Live streaming 1 jam penuh itu pun dimulai. 20 menit pertama mereka gunakan untuk menceritakan kronologis dan lainnya. Hingga masuk ke 20 menit kedua, sesi tanya jawab melalui mention Twitter.

‘@rianh***** : kerusuhan kemarin itu karena apa? itu sedikit bikin shock krn lumayan tiba-tiba’

“Kerusuhan kemarin itu karena undangan dari YanboMabo untuk semua yang terlibat di peristiwa sebelumnya.”

“So, kami semua mulai nyusun rencana.”

“Rencana itu sudah nyaris berhasil. Hanya saja kami tak terlalu paham tentang relasi mereka berdua (tersangka), setelah dibebaskan mereka langsung bertolak ke Jepang.”

“Masalahnya, tak ada satupun tanda-tanda kedatangan 2 orang ini di Jepang.”

“Kabar menyebutkan mereka sedang berada di Jogja.”

“Selanjutnya, kami akan urus mereka (tersangka). Untuk saat ini, kami harus menyelamatkan diri kami.”

“Karena wajah kami sudah tak bisa diselamatkan, maka tinggal harga diri kami yang tersisa!” Pungkas Jaka.

20 menit terakhir, mereka gunakan untuk reorientasi. Menekankan apa yang sekarang mereka perjuangkan.

“Kami bukan teroris, bukan kriminal, bukan pula radikal. Kami tidak merusak kedamaian dalam bentuk apapun, hanya saja negara ini membuat sebagian besar orang kebal hukum secara tidak layak.” Salah satu kutipan dari Razaqa.

“Sebuah kehormatan bisa berduka saat menyaksikan teman-teman kami menderita, dikucilkan, hingga dikeluarkan dari sekolah maupun masyarakat. Menganggap anak-anak muda hanyalah pengganggu yang suka tawuran. Kami sudah dimusuhi dan dianggap bisu oleh pemerintah sendiri. Entah pemerintah paling atas atau yang bawah saja, tetapi jelas kami sudah dimusuhi.” Kini, Mike.

“Inilah bentuk akhir kita. Kasus-kasus menyebar dimana-mana tak berkesudahan. Kami ingin perlindungan, apa yang terjadi disini bukan lagi soal kenakalan remaja. 2 orang penjahat kelas atas sudah bebas berkeliaran di Indonesia, negeri kita tercinta. Dan masih ada lebih banyak lagi penjahat yang menari-nari disini.” Kelpo juga tak lupa.

“AKANKAH KAMI, ANAK-ANAK BANGSA, DIMUSUHI NEGARA YANG KAMI CINTAI? APAKAH ORANG-ORANG TERHORMAT MENGANGGAP KAMI BERBOHONG?”

“Seorang penjahat besar yang dikenal dengan Jordy & Jordan Echo, YanboMabo, 2FacesGangsters, The Mob Phantom, ataupun juga Si Kembar benar-benar ada disini! Di Indonesia kita ini!” Jaka menunjukkan 2 kertas berisi potret kedua orang yang mereka maksud.

Tak cukup membahas masalah mereka bertiga, Jaka, Mike dan Kelpo mulai menyinggung masalah internal lainnya.

“Moral yang merosot di kalangan pemuda juga terjadi karena adanya pelabelan kasta diantara mereka! Mereka yang merasa tak ada gunanya jadi sangat tidak berguna, padahal tak perlu ada pintar dan bodoh, kaya dan miskin, ataupun juga orang atas dan rakyat jelata, kita semua sama! Tak ada keinginan kita untuk berkhianat pada negeri ini!”

“Indonesia seolah dijajah bangsa sendiri saat provokasi dimana-mana! Biarkan masalah diselesaikan dengan aksi damai, solidaritas, dan hukum yang adil. Ini juga PR, agar keadilan dalam negara hukum ini terjamin.”

“Ini bukan ancaman! Bangsa ini terlalu kuat untuk dihancurkan siapapun! Asalkan kita bersatu! Saling percaya! Saling menjaga! Tak mudah terpancing emosi! Indonesia jaya! Tak akan goyah oleh adu domba apalagi hanya karena 2 orang kriminal berstatus WNA yang lolos dari serangkaian proses hukum!”

Itulah beberapa kalimat yang dikutip laman-laman web dan majalah-majalah dihari berikutnya.

Amerika Serikat menarik dubesnya kembali ke AS beberapa jam setelah live streaming berakhir (sekitar jam 11 malam).

Rusia, Korea, Arab Saudi, Prancis, Turki, Jepang, Belanda, Jerman, Inggris, Meksiko, Chile, Brazil, Algeria, Filipina, Kamboja, dan Afrika Selatan menyatakan bahwa mereka akan ikut memantau dan mendata warga negara mereka di Indonesia dalam 1-2 hari kedepan.

Beberapa surat dilayangkan ke kedubes RI di berbagai negara. Mesir, India, dan Arab Saudi menjadi pengirim surat paling awal, memastikan dukungan untuk sesuatu yang baik di Indonesia dan mencegah adanya tuduhan-tuduhan yang dilayangkan kepada warga mereka yang sedang di Indonesia.

Perwakilan PBB pun ikut angkat bicara. Dimana ia mendengar ada seseorang menculik 3 orang yang ada di live streaming dari penjara dengan embel-embel PBB.

“Ini adalah kebohongan. Saya sudah berdiskusi kepada pihak terkait, ini murni skenario. Apapun yang terjadi di Indonesia, sebenarnya juga terjadi di berbagai negara. Hanya saja, ada sekelompok pemuda yang berani mengambil resiko “

Seluruh Indonesia bergemuruh malam itu. Orang-orang tak ada yang berhasil merekam live streaming tadi. Sekumpulan orang dengan nama ‘anonymous’ menyatakan dukungan mereka dalam mencari keberadaan penjahat-penjahat itu. Mereka berharap kondisi negara tetap stabil dan 3 orang tadi beserta mereka semua (termasuk keluarga) yang terlibat di perkelahian dan kerusuhan antar sekolah di Bandung kemarin harus diperhatikan hak dan keamanannya.

Jam 10, dan personil kepolisian sudah disiapkan untuk menghalau adanya aksi susulan mengenai live streaming tadi dan beberapa kasus lainnya.

Hingga jam 12, Indonesia seolah jadi negara yang sangat sibuk. Jalanan ibukota sangat ramai, anak-anak muda di kota lainnya menganggap hari ini adalah malam minggu. Besok takkan ada murid yang mau masuk ke sekolah, hashtag #SolidaritasUntukNegeri #IndonesiaJaya
Semua sekolah, tak terkecuali sekolah swasta pun ikut serta.

Tokoh masyarakat dan tokoh agama ikut serta mengutarakan pendapat mereka. Intinya sama, jangan sampai aksi ini menjurus ke yang tidak-tidak. Aksi solidaritas dan protes diperbolehkan dalam hidup berdemokrasi di negara yang demokratis ini.

“Kami semua sudah berdiskusi antar pemuka agama, tokoh masyarakat, dan beberapa penggalak gerakan anti-rasisme dan lainnya. INDONESIA TETAP KUAT!”

“Satu Indonesia! Satu jiwa untuk semua raga!” Ada anak-anak muda yang berkeliling naik mobil sambil mengeluarkan suara dari toa yang mereka bawa, buat semua orang menoleh dan sedikit merasa terganggu.

‘Pertanyaan kami cuma 1 :
DIMANA SAUDARA KAMI? KELUARKAN MEREKA! JANGAN JADIKAN MEREKA DALAM TEKANAN!’

Pemerintah sedang memikirkan solusi cepat dan tepat untuk permasalahan ini.

“Tidak ada anarkisme, atau aparat gabungan akan menindaklanjuti tanpa pandang bulu.”

Pemuda bergandengan tangan didepan istana negara.

‘@hrdn2**** ini omong ksg anak” muda! jakarta jd crowded! be smart tmn”! jangan ikut aksi meresahkan spt ini!’

‘@efxhyul***** miris liat anak jaman sekarang, jgn ikut” yang beginian, merusak moral bangsa!’

‘@srgr.joh*** ini semua harus ditindak tegas! jln macet semua, sweeping harus stop!!’

‘@re_ss1*** berawal dr streaming, semuanya jadi latah! perlu tindakan cepat dan tegas pak!! #SaveRI’

Banyak juga orang yang mengecam aksi anak-anak SMA ini. Namun, beberapa anak SMA serius akan aksi mereka yang kini akan diakhiri sekitar beberapa menit lagi.

(Jakarta, 01.05 WIB)

‘Selamat malam Indonesia! Apapun yang terbaik untuk bangsa ini, kami mendoakan dari sini.. #Netherland #ForINA’

‘Kita perlu berbenah, and we’ll find way to get up and rise in unity.. #USA #ForINA’

‘Beragam dan bergandengan tangan, tetaplah satu saudaraku! Bersama, tuntut keadilan untuk saudara kita sendiri.. #Singapore #ForINA’

‘Untuk yang memperjuangkan hak, kalian pasti dapat. Untuk yang memecah belah, kalian akan kena akibatnya. It’s not gonna break relation between Japan-Indonesia, we’re all brothers and it last forever #Japan #ForINA’

‘I’d heard abt what’s going on in my dearest country, kita warga Indonesia tau bagaimana cara menghormati yang lebih tua dan yang lebih muda. Saling mendengarkan dan kita akan kuat! #SouthKorea #ForINA’

‘Freedom of speak, kita kehilangan itu. Dan masih ada jutaan sesuatu yang hilang dari kita, bangsa Indonesia. Hanya Persatuan inilah fondasi kita, dan jangan sampai kita kehilangannya #NewZealand #ForINA’

‘Their problem, my problem, should be ours and it’s gonna be ‘Indonesia’ which known as The Land Of Unity, selamatkan pemuda, selamatkan bangsa kita! #France #ForINA’

‘Jangan pernah lupa bahwa masalah negara adalah masalah kita, masalah kita adalah masalah negara, dan masalah negara dan kita adalah masalah bersama.. jangan merasa terasing saudaraku! #Qatar #ForINA’

‘Apa yang saya lihat dari sini adalah negri saya yang indah. Apakah keindahan itu akan rusak hanya karena kesalahpahaman antar pemuda dan pemerintah? #Australia #ForINA’

Dafar Pencarian Orang sudah diputuskan jam 3 pagi. Yanbo dan Mabo yang semula dianggap tak memiliki bukti kuat untuk diproses kini berada diposisi teratas. Jepang sudah mengkonfirmasi 2 orang berpaspor negara mereka ini dan siap melakukan penangkapan jika saja Yanbo dan Mabo kembali ke Jepang.

Lalu ada nama Jaka, Kelpo, Mike, Fuuto, Joey, dan Yuri disana.

‘Akan diselidiki lebih dalam, kemungkinan masih banyak yang akan masuk didaftar ini. Terutama beberapa warga negara asing yang kini dicari untuk dijadikan saksi’

←↑↓→

Singkatnya sekarang sudah jam 8 pagi, dan keadaan sudah mereda. Kru-kru, Ian, Kelpo, Mike, dan tak ketinggalan juga gadis-gadis sedang melakukan senam pagi dilapangan basket belakang.

Jaka mengintip dari jendela kamarnya di lantai 2, entah kenapa ia tak terbangun saat semuanya sedang sibuk siap-siap senam. Tiba-tiba Michelle masuk sambil membawakan nampan berisi segelas susu coklat dan 2 potong roti lengkap dengan selai kacang yang terlihat cukup penuh itu. Sambil tersenyum, ia berkata..

“Ready for today?”

Jaka sedikit berpikir, menoleh kekiri dan kekanan lalu tersenyum.

“Ready for the good news, but not for surprises..”

“Good news? Surprise? You deserve it.”

“Deserve?”

“News dan surprise-nya gak akan mengecewakanmu, Raz..”

“Ohh.. thanks yaa..” Jaka meraih hpnya.

“Sudah telepon bang Sony atau yang lain?”

“Hmm, belom. Kamu udah telepon papamu?”

Michelle menggeleng.

“Dia masih diluar negeri, itu sih yang bikin aku lega..” Michelle duduk di sudut ranjang Mike, kebetulan kamar ini kamar Jaka dan Mike.

“Yokattanaa..”

“Tapi..”

Jaka menoleh, menatap Michelle bingung sambil menunggu balasan selanjutnya.

“Andela, Viny, Shania, Bobby, dan Kelvin udah ditelepon sama orangtua mereka masing-masing. Bahkan Andela, Bobby, dan Kelvin sampe nangis di telepon.”

“Aku aja gatau gimana papaku sekarang..”

“Soal livestream kalian, tinggal tunggu waktu buat papaku telepon dan nanya. Gre juga udah nge-WA aku Raz..”

“Gre masih di Australi?”

Michelle mengangguk.

“Ve, dia nitip salam buat kamu..”

“Don’t talk about her, please..”

Michelle mengerti dan kembali diselimuti diam.

“Kapan ini selesai Raz?” Michelle tertunduk.

“Segera, Chel. Kamu ga ikutan senam? Aku mau ikutan nih..” Jaka bangkit, berusaha mencairkan suasana.

“Chel? Ato kita keluar aja deh, setidaknya keluar hehehe… aku bosen di-“

*PLEK*

Michelle menghantamkan tubuh mungilnya ke tubuh Jaka. Postur mereka yang berbeda buat Michelle kesulitan melingkarkan kedua tangannya kepundak Jaka.

“Chel?” Panggil Jaka lagi.

Pelukan itu semakin erat, bersamaan dengan suara tape senam yang terputar diluar.

Tanpa ragu, Jaka membungkukkan tubuhnya sedikit dan membalas pelukan itu. Dalam keheningan dan tangis Michelle yang mulai pecah, Jaka menarik nafas 2 kali dan mengucapkan kalimat penyemangat untuk Michelle.

“Apapun itu aku gak akan kehilangan kamu, dan kamu juga gak akan kehilangan aku. Cukup Elaine, dan masa-masa SMA-ku..”

Jaka melepas pelukannya dan mencium kening Michelle tanpa perlawanan.

“Siapapun yang jadi milik kamu, pasti bakal bahagia banget..”

“Milik aku?” Tanya Jaka lagi.

“Kelvin si kamus ama Oscar si kampret juga bahagia. Well, I’m already yours..”

“Hahaha kamu mah bisa aja..”

“Kamu baru sadar? Hadeh…”

“Peluk lagi dong..”

“Idih, kan tadi suasananya beda..”

“Ih Razaqa!” Gerutunya.

“Pengen banget dipeluk, sini sini..” Jaka kembali memeluk Michelle, kini dengan suasana hati yang berbeda.

“Kamu juga pengen meluk tuh perasaan.. halah..”

Mendengar ucapan barusan, Jaka sedikit mengangkat tubuh Michelle.

“Eh ehh, turunin Raz! Turunin! Nanti jatoh!”

Jaka tertawa jahat namun tetap mengikuti perintah sahabatnya ini sesegera mungkin.

“Ayok!” Jaka menarik tangan Michelle keluar kamar.

Suasana diluar tampak sangat bersahabat, tak ada kecemasan di wajah mereka semua. Aparat bisa datang kapan saja untuk menangkap mereka semua, pemuda-pemuda yang ceritanya sedang menghiasi media.

Jam 11 pagi, semuanya berkumpul di ruang tengah yang cukup luas itu. Ada sesuatu yang hendak disampaikan Ian.

“Pagi menjelang siang semua! Gue cuma mau bilang makasih untuk kerjasamanya kemarin! Sekarang, masalah ini sudah dalam tahap dimana kepolisian berjaga-jaga disekitar jalan-jalan utama dan rumah kalian masing-masing. Untuk temen-temen cewek, sekali lagi kami bawa kalian ikut kesini supaya kalian aman.”

Ian menyeruput gelas tehnya.

“Siang ini, kita keluar dari rumah ini dengan ‘saling tidak kenal’ dan ‘saling tidak tau’ apapun yang terjadi, itulah yang harus kita lakukan…”

“Dan gue, entah berhasil ato engga, gue akan langsung balik ke Moskow hari ini juga. And for you guys, safe flight to San Francisco!”

Semuanya berdiri dan saling bersalaman, bahkan mereka juga berpelukan satu sama lain. Andela dan lainnya hanya diam melongo, seolah masih tak mengerti apa maksud pidato yang sangat tidak jelas barusan.

“Thanks yan!” Kelpo memeluk kenalan yang kini jadi sahabat mereka itu.

“Thanks yan… you’re more than brother to me!” Mike memeluk sepupu Elaine itu.

“Adam! Thank you very very much brother.. hope we can meet again next time!” Jaka memeluk salah satu ‘orang penting’ di rangkaian eksekusi kemarin.

“I never forget all of you, hope your problem done as soon as possible Raz..”

Semua orang tampak terharu. Jaka menoleh kepada Michelle, ada kesedihan terpancar di tatapan gadis yang ia kenal itu.

Kelpo segera menghampiri Andela dan memeluk gadis pujaannya itu dengan penuh kasih sayang.

“Maaf, Ndel.. aku akan selesaiin ini sendiri, aku akan anter kamu pulang.”

Andela hanya diam tak menjawab, perlahan ia mulai terisak. Kelpo tak bisa melakukan apapun selain membiarkan Andela menangis sejadi-jadinya.

Mike menghampiri Viny.

“Thanks Vin.. aku tau kamu bener-bener perhatiin aku. And I understand that your attention was too great dan aku bener-bener buruk buat kamu…” Mike menahan tangis dengan lengan kanannya.

Viny segera menyodorkan sapu tangan kepada Mike.

“Kamu dapet ini darimana?”

“Kamu kasih ini ke aku. Ini punya Elaine, dan dia akan selalu jadi sosok terpenting dalam hidup kamu. Gak bijak untuk hidup dengan masa lalu, tapi gak salah buat percaya sama perasaan kita sendiri. And we absolutely deserve lots of love if we know how to purely love someone..” Viny tersenyum lebar, seolah ada sesuatu yang tak lagi mengganggunya.

Jam besar di ruang tengah yang bergaya 50an itu berbunyi, menandakan sekarang sudah tepat jam 12 siang. Semuanya sudah selesai membereskan rumah dan barang masing-masing.

“And now, pray together i guess will be a great goodbye in Indonesia..” Adam berkata demikian kepada seluruhnya.

“Come on, Indonesia itu luas hahaha..” Ian merangkul temannya itu.

“I guess it’s first and last time for us to greet Indonesia, and we know the risk from start line..” Adam berusaha memberikan beberapa patah kata kepada teman-temannya yang bisa dibilang datang ke Indonesia untuk mengurus masalah Jaka dan lainnya saja.

“Terimakasih atas kerjasamanya!!” Adam menutup diikuti semuanya yang saling memeluk satu sama lain.

“Tracy, danke big boy!” Kelpo memeluk Tracy yang juga berperan penting dalam siaran langsung.

“I beg you well, Kelvin! Thanks for the time and ofcourse for your help too!” Tracy memeluk Kelpo yang memang mereka memiliki kesamaan dalam kecerdasan, ya begitulah.

Jaka menatap kearah sofa yang sekarang sedang diduduki seorang gadis dengan tatapan kosong. Tak ada antusiasme dalam raut wajahnya, ia seperti sedang merenung dalam-dalam.

‘What’s wrong, Ndel?’ Pikir Jaka dalam hati.

==<>==

Perjalanan kembali ke tempat tujuan masing-masing berjalan mulus. Jaka, Bobby, Mike dan Kelpo berpencar dimulai dari Kelpo yang pulang lebih dulu.

“Huhh akhirnya sampe nih.. pegel-pegel semua badanku..” keluh Kelpo sambil tersenyum kepada gadisnya itu.

“Makasih Vin..”

“Kamu kok murung gitu, lagi ga enak badan?”

“Umm.. engga..” Andela masih melihat kebawah, tak menatap mata Kelpo.

“Andela!! Akhirnya pulang kamu sayang!!” Mama Andela keluar dan segera memeluk anaknya itu.

“Maaf ya tante, Kelvin kelamaan baliknya..” Kelpo menyujudi ‘calon ibu mertua’nya itu.

“Umm iya Kelvin, makasih ya..”

“Om ada, tan? Mau salam juga hehehe..”

“Om lagi tidur, Vin! Tante masuk dulu ya..” Jawabnya cepat.

Kelpo sedikit kaget dengan ekspresi ibu dan anak dihadapannya ini.

‘Suruh masuk dia!!’ Terdengar suara bentakan seorang laki-laki dari ruang keluarga.

“Eh itu papa kamu! Aku mau salam du-“

“Gak! Gak usah! Kamu pulang deh..” Andela menghalangi langkahnya lagi.

Kelpo tersentak, ia terdiam sejenak. Dilihatnya arloji dan membuat ekspresi kaget seolah dia sudah lupa waktu.

“Aduh jam 5! Iya nih aku udah ditungguin papa mamaku! Aku duluan ya!”

Kelpo bergegas meninggalkan gadis yang ia sayangi itu. Tepat tak jauh dari rumah Andela, ia meminggirkan motornya. Diam sejenak, memegang dada kirinya. Ada kekecewaan dan rasa sesak dalam dadanya kala Andela dan orangtuanya tak terlalu menerima kehadirannya. Kelpo kembali melanjutkan perjalanannya.

Disisi lain, Mike pun sudah mengantarkan Viny pulang.

“Kamu jangan disini deh, aku was-was nih.. apalagi kan kamu sendiri..”

“Udahla Car, jangan diinget-inget yang aneh-aneh..”

“Ya itu kawat-kawatnya aja masih berantakan gara-gara dirusak kemaren. Rumah kamu ini danger Vin.”

“Ya aku gak punya rumah lain lagi disini, car. Lagian kan rumah aku juga deket sama rumah Kelvin, aku bisa call dia..”

“Ga ada pilihan ya..” Mike tertunduk lesu, ia tak punya ide lain. Bisa saja ia mengundang Viny kerumahnya, tapi situasinya sedang buruk. Orangtua Mike bahkan belum tentu mau melihat wajah anaknya yang bermasalah ini.

“Nanti papa bakal kirim barang-barang dan bakal ada satpam baru sama pembantu, paling tahanin 2 hari ini aja..”

“Oke deh…”

Viny mengangguk-angguk sambil tersenyum.

“Aku langsung ya!” Seru Mike.

“Eh sebentar! Aku ada kue buat orangtua kamu.. aku titip di sebelah.” Viny teringat kembali.

“Waduh jangan repot-repot, Vin..”

“Enggak kok, aku kesebelah dulu yaa.. kamu masuk aja dulu, tunggu didalem.”

Mike pun masuk untuk menunggu Viny kembali. Kolam renang dan taman yang langsung terlihat dari ruang keluarga pun jadi tujuannya. Pemandangannya sangat indah. Ia menatap dinding-dinding batu rumah Viny yang ternyata mudah sekali dipanjat dan diterobos itu. Perhatiannya kini beralih ke memori lainnya. Matahari sudah menggantung, sebentar lagi akan tenggelam. Dada Mike jadi sesak. Nyatanya ada momen-momen yang menyangkut di memori jangka panjang miliknya.

‘TIN TIN!’ Klakson dari luar buat skill berlari Mike kembali, ya dia sepertinya sangat kaget.

“Yooo siapa??” Mike segera membuka pintu dengan kasar.

“Uh! Shania! Legend!”

“Bobby-..-” keluh Bobby.

“Eh iya Bobber!”

“Bobber apa? Hihihi..” tanya Shania, gadis jangkung yang sedikit lebih tinggi dari cowok disebelahnya itu.

“Bobby brader.. hahaha..”

“Brader bobby kali-_-” keluh Bobby lagi.

“Yakali jadi Braboobs XD” Mike tertawa sejadi-jadinya diikuti Shania yang menahan Bobby untuk memberi pelajaran pada sahabatnya itu.

“Eh, mana Viny?” Tanya Shania pada Mike.

“Dia lagi kesebelah bentar.”

“Ngapain dia kesana?” Tanya Shania lagi.

“Ambilin kue buat gue, Shan hehehe..”

“Udah gede, ambil ndiri dong lu!”

“Mang gua kenal ma bocah sebelah ruma inyi?”

‘GUA BUKAN BOCAH WOY!!!’

“Eh, orang sebelah tuh Mike..”

“Anjir masa kedengeran.-.” Mike segera menutup mulutnya.

“GUA AUTHOR BEGO! KENA TIPU LU! YAKALI KEDENGERAN AMPE SEBELAH!”

“Balik lagi ke cerita-.- eh Viny keluar udah lama?”

“Baru sih.. eh itu tuh dia! Mike menunjuk kearah gadis berambut sebahu yang datang kearah mereka itu.

“Hai Shania! Bobby! Udah lama?” Tegur Viny.

“Haii! Baru kok Vin.” Ucap Shania tersenyum.

“Tadi mau nganterin Shania dulu, eh lupa balikin pena Kelvin jadi lewat sini deh. Pager kamu kebuka, mana ada motor butut si Maykelay lagi..” Bobby menahan tawa.

“Alah, piksyen gini aje ngesok lu-.- pake acara ngatain punya orang..” Mike tak mau kalah.

“Fakta wehh.. epyu lu gak ada tenaga gitu, kaya motor curian dari gudang aja..”

“Jaga mulut lu yang belom sarjana njeg, nih motor sering nabrak plus jarang gua pake.. makanya ga kerawat gini si anjeg..”

“Tuhkan ngaku lu kecoa pushup..”

“Kecoa pushup teh gimana– Ett ngaku apaan pfftt, nih motor nyebutnya bukan butut-.- gue beli pas kelas 11 jirr..” bela Mike lagi.

“Udah ah kalian berdua, becanda mulu nih..” lerai Shania diikuti anggukan geli dari Viny.

“INI BERANTEM!!” Teriak mereka berdua bersamaan.

“WOYY RUSUH BANGET SI ANJING!!!”

“Lah, itu author lg Bob?” Tanya Mike.

“Gaenak nih pirasat gue-.-“

“Udeh ah, next time pake mobil kita..”

“Nah sipik butut lu juga-“

“Sipak sipik sipak sipik, butat butut butat butut, udah kejual dia mah!!! Lama-lama bisa goblog ngobrol ama lu jen jen..”

“Hahaha serah dahh, gue ama Shania duluan yaa..”

“Iya, car, vin, kami duluan yaa hehehe..”

“Awas mati kamu sama dia, Shan..” Mike memperingati.

“Awas kopling lepas lu Car! Kaborrr!”

“Koplang kopling, sempaklah!” Bobby sudah meninggalkan rumah Viny dengan meninggalkan pula seorang Mike yang kesal. Ini adalah kali pertama ia dibuat kesal setelah kejadian beberapa waktu lalu. Ya, Bobby sendiri sebenarnya cuma ingin menghibur Mike, seperti itulah.

“Udah jam 6 Vin, aku juga pamit yaa.. makasih banyak loh!” Mike menghidupkan motornya.

“Iya Mike sama-sama..”

“Eh, Vin..” panggil Mike lagi.

“Eh? Kenapa?”

“Kalo ada apa-apa kan kamu bakal call Kelpo ya? Opsi kedua, kamu bisa call aku hehehe..”

“Eh maksudnya?”

“Ah engga ehehehe.. jangan sungkan buat minta bantuan aku ya! Bye!” Mike segera meninggalkan Viny yang kebingungan.

Jam 7 malam,  Jaka dan Michelle baru saja sampai ke rumah.

“Kakakmu udah nungguin tuh hihihi..” Michelle geli melihat Sony yang melambai-lambaikan tangannya kepada mereka berdua, sementara Jaka hanya mendengus kesal.

“Yoo Raz! Kok lama banget? Aman kan perjalanan?”

“Aman bang..”

“Tadi aku minta temenin Razaqa beli buku bang, makanya jadi lama hehehe..”

“Kirain lu yang beli buku, Jak.. wkwkwkw..”

“Paan dah bang, udah lama didepan?”

“Ya, gue nungguin dari jam 5. Eh sok masuk dulu, mobil biar diluar aja kan mau pergi lagi..”

“Lu nanya ke Troy bang?”

“Engga, Troy ngabarin gue kalo lu dateng trus ambil mobil di markas. Gue reflek pulang dong hahaha..”

“Ohh gitu..”

“Jadi om gimana kak?” Tanya Michelle membuka.

“Iya, papa gimana?”

“Papa udah lumayan progressnya, tadi pagi udah sadar banget dan lancar juga ngomongnya. Nafsu makan dan yang lainnya juga aman kok..”

“Bagus deh… lega dengernya..” Michelle meletakkan tasnya.

“Kita kesana lagi kan?” Tanya Jaka lagi.

“Iya, mereka pada kangen ama lu. Gue juga mau bawa selimut tambahan titipan mama..”

“Awas bang, ntar selimut tetangga lagi..”

“Sa ae lu Hulk Hogan mualaf! Liat chel, adekmu dah bisa ngelawak nih..” Sony terbahak.

“Kami seumuran-.-“

“Secara sikap sih tuaan Michelle, hahaha..” jelas Sony lagi diikuti Michelle yang menahan ketawa.

“Nyesel gue becanda-.-“

“Hahaha sapa suruh coba. Eh, ini ada eskrim buat kalian!” Sony mengeluarkan sekotak eskrim dari lemari es.

“Wihh!! Kak Sony tau aja nih!”

“Bawa aja keatas chel, tadi gue beli emang sengaja buat kalian hehehe..”

“Yeay!!” Seru Michelle.

“Yaudah, kami siap-siap dulu bang!”

“Iya raz, gue kebelakang dulu. Kamar mandi di kamar papa udah gue siapin, biar kalian ga rebutan mandinya..”

Jaka mengacungkan jempolnya sambil menaiki satu per satu anak tangga

“Yakali kami rebutan kak hihihi..”

“Siapa tau Jaka nerobos pas kamu lagi mandi-“

“DIEM!!!-.-” teriak Jaka kesal.

“Hahaha.. kak Sony lucu banget ya..” Michelle masih tak habis pikir.

“Gitulah, chel. Dari dulu udah gitu dia mah. Idupnya santai banget kaya gaada masalah. Orang kaya dia mah enak, ga terlalu ambil pusing kalo apa-apa, dilupai  aja gitu..”

Michelle berhenti didepan pintu kamarnya.

“Hmm kamu salah, Raz. Orang kayak dia biasanya hidup untuk orang lain. Dia justru lebih sakit pas orang lain sakit. Someday, usually you have to hug him deeper to free his fear. Karena orang kaya dia rapuh..”

“Usually?”

“Yup, karna akan ada tuh saat-saatnya gitu. Even superhero will need reinforcement, right?”

“Batman no..”

“Ofcourse he too, Robin?” Michelle tersenyum.

“Ya bener sih.. aku juga selalu berpendapat gitu tentang dia, chel. Dibilang dia ngeselin, ya dia emang care sama aku. Dibilang dia bocah gajelas, dia selalu berhasil menang kalo debat.”

“Hahaha, selalu kalah? you’re not the kind of guy who liked to. Yah, kamu baik. Beda dengan dia yang selalu coba-coba hal diluar perkiraannya. Take risk everytime.”

“Hahaha gitulah. If he happy, then I’m happy for him.. masuk dulu chel!”

Malam itupun berakhir bagi mereka bertiga. Hari yang panjang nan melelahkan sudah dilewati. Mike terdiam lesu setelah terlibat pertengkaran hebat dengan sang ayah, Kelpo yang mengunci diri dalam kamar sambil mendengar omelan-omelan dari kedua orangtuanya, serta Jaka yang keluar dari obrolan dikamar sang ayah menuju kebawah untuk menghabiskan beberapa batang rokok. Mereka berada dalam tekanan yang sama, seolah terhubung karena ketiganya merasakan hal yang sama.

Fuuto menelpon, menanyakan kabar Jaka dan kedua temannya. Sekaligus memastikan bahwa mereka bertiga juga belum ditangkap.

“Oke Fuu.. gue gamau bahas itu dulu, terserahlah..” Jaka segera mengakhiri panggilan dan hendak bergegas mematikan ponselnya juga.

‘TV Raz!’ SMS masuk dari Kelpo.

Jaka mematikan ponselnya dan segera berlari menuju ruang tunggu. Tanpa basa-basi, ia mengganti channel di ruang tunggu yang cukup ramai itu. Ia terus mencari channel yang Kelpo maksud.

Akhirnya ketemu. Dari judulnya saja, Jaka sudah lesu dan putus asa.

‘Keputusan Pemerintah!’

‘WNA yang terlibat akan dideportasi dan dicekal untuk masuk RI!’

‘Penangkapan terhadap seluruh WNI berstatus pelajar yang terlibat kerusuhan segera dilakukan!’

‘Hukuman berat akan diberikan kepada tersangka’

“Yoo kaget?” Ucap Sony yang muncul tiba-tiba.

Jaka hanya diam tak menjawab.

“Bapak-bapak, ibu-ibu, mohon maaf karna adik saya ini main ganti channel aja.” Sony segera menarik Jaka keluar.

“Udah gila lu asal ganti channel aja, orang lagi khusyuk nonton India juga-.-”
“Gua buru-buru tadi masalahnya-.-“

“Okelaa.. Raz, gue minta maaf karna gabisa bantu lu! Karna gue juga lu udah masuk ke masalah ginian!” Sony membungkuk.

“Eh apaan dah bang, udah udah.. malu diliatin orang lain..” Jaka berusaha membangkitkan sang kakak kembali.

“Maaf banget Raz!! Gue gagal sebagai kakak!”

“BULLSHIT!!!!!” Jaka berteriak sangat keras.

“Eh?” Sony terdiam, semua orang menatap mereka serius dan bahkan ada yang menjaga jarak karna ketakutan.

“Ini bukan soal lo bang! Ini soal gue! Gue ga butuh bantuan lo! Gue cuma butuh lo! Kakak gue!”

Tiba-tiba Sony langsung memeluk sang adik. 2 satpam bertubuh kekar datang menghampiri mereka.

“Hey mas! Jangan ribut-ribut disini!”

“Maaf pak! Ini lagi latian buat casting drama korea. Kan mayan pak hehehe..” Sony kembali mengajak Jaka masuk.

“Ohh gitu, semangat ya mas!”

Jaka dan Sony berjalan menuju lift.

“Goblog si bapak hahaha..”

“Hadeh lu bang, pake acara meluk-meluk-.- malu gue jirr..” keluh Jaka.

“Gue juga gamau meluk lu dihh, gantengan gue juga..”

“Setau gue dengan mata yang waras dan tanpa katarak, muka gue jauh lebih ganteng dah-.-“

“Ganteng-ganteng kok jomblo, adeh mana coba bukti ente ganteng..”

“Mentang ada, ehh kak Omi apa kabar, bang?”

“Eh, dia? Baekk. Lagi diluar kota dia, udah 2 minggu ga ngabarin. Hpnya rusak.”

“Sekalipun ga ngabarin?”

“Ya kan hpnya rusak pfttt..”

‘2 minggu ga ngabarin karna hp rusak? Perasaan ada Sinka juga..’ pikir Jaka dalam hati.

Mereka kini memasuki lift. Jaka terfokus pada pintu lift yang tertutup secara otomatis, memastikan lantai tujuan mereka benar.

“Eh Raz..” Sony memejamkan matanya.

“Yo?” Jaka menoleh.

“Hmm… gue mau..”

“Apaan?”

“Gue mau kentut..”

“KAMPRET!!!! JANGAN SEKARANG DASAR SEMFAK NARUTO!!!

*cmiiw*

“Dasar yang paling dasar dari suatu dasar adalah dasar itu sendiri. Begitu pula kebahagiaan. Kebahagiaan yang paling membahagiakan dari suatu kebahagiaan adalah kebahagiaan itu sendiri. Hidup yang tidak rumit adalah kebohongan.”
– Abdul Sony Gunawan

Note : cie serius banget bacanya wehehehehe minal aidin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin brother ^^

@ArthaaSV & @KelvinMP_WWE

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s