This is My Life, part 24

asdx

2 minggu sudah umat muslim menjalankan ibadah puasa. 2 minggu juga sudah terlewati, dimana aku telah menjelaskan sebuah rahasia keluarga ke mantan pacar yang sampai sekarang masih ku sayang, siapa lagi kalo bukan Ikhsan. Kenapa aku bilang mantan pacar? Karena hubunganku dengan Ikhsan telah berakhir sejak 2 minggu lalu, aku lah yang memutuskan hubungan itu karna menurutku hubungan itu gak pantas lagi untuk dijalankan.

Sekarang aku berada di rumah Ikhsan dengan keluarga ku, termasuk kakak dan adik ku juga ikut kesini. Di rumahnya sedang ada acara buka bersama, yang diselenggarakan sendiri oleh Ikhsan. Ia hanya mengundang orang-orang terdekatnya, seperti keluarga, teman-teman Clubnya, dan beberapa teman kampusnya.

Ia hanya bilang, malas mengeluarkan uang banyak-banyak hanya untuk menyediakan makanan buka puasa. Katanya, buka puasa tidak usah terlalu mewah seperti langsung makanan berat. Cukup teh, kurma dan beberapa makanan ringan, yang penting mensegerakan berbuka.

“Kak.” Setelah berbuka puasa dan solat bersama, aku di ajak Ikhsan buat ke taman belakang. Entah apa alasannya mengajak ku ke taman belakang?.

Kami pun tidak lagi memakai panggilan ketika pacaran. Dia pun gak pernah manggil aku dengan panggilan “Ikey” lagi, sekarang ia cukup memanggil ku dengan sebutan “Kakak”.

“Hmm?” Aku menengok ke arahnya. Aku sudah tau sifatnya yang pemalu dan canggung ketika baru bertemu dengan orang baru dan ketika ia baru putus dengan kekasihnya.

“Err, kenapa jadi canggung gini sih?” gerutunya pelan.

“Kamu aja yang canggung sama kakak. Aku sih gak canggung sama kamu,” ujarku yang masih mendengar gerutuannya.

“Dengar aje lo kak. Btw, aku mau nanya sama kakak,” ujarnya sambil menatap langit malam yang penuh bintang.

“Nanya aja kali.”

“Masih ingat sama si Candra?”

“Masih.”

“Apa bener kalo dia mantan suami kakak? Bukan mantan pacar kakak?” tanyanya dengan nada serius namun matanya masih menatap langit.

“Hah? Siapa bilang? Aku belum pernah nikah sama siapapun. Gimana kakak mau cerai kalo nikah aja belum pernah. Dia itu cuman sebatas mantan pacar aja, gak lebih,” jawabku dengan sedikit terkejut karna pertanyaannya barusan. Jujur saja, aku sedikit sedih ada yang bilang bahwa aku adalah seorang janda.

“Terus itu anak siapa yang dititipin sama keluarga kakak? Katanya, kakak sama dia sudah punya anak,” ujarnya lagi.

“Astaga, itu anak angkat kakak. Waktu itu kakak lagi ada acara di panti asuhan gitu sama kelompok kuliah kakak. Gak sengaja waktu lagi keliling-keliling disana, kakak ngeliat anak bayi yang bikin kakak gemes dan gregetan. Akhirnya, kakak memutuskan buat ngangkat anak itu buat jadi anak kakak sendiri.”

“Kampret, gue diboongin dong berarti. Trus kok bisa diurus sama keluarga kakak?”

“Karna waktu itu kakak lagi sibuk-sibuknya kuliah, sekarang juga sudah kembali ke kakak lagi kok. Itu tadi kakak bawa kesini sekalian.” Aku menunjuk ke arah dalam rumah.

“Oww, jadi yang dia bilang kalian sudah nikah itu salah?”

“Hu’um.”

“Astraga, gak terima gue dikibulin. Ah, sorry deh kak kalo aku sudah berpikiran yang gak-gak tentang kakak.” Dia meminta maaf dengan memegang kedua tanganku.

“Makanya jangan langsung main percaya aja sama orang, tanya dulu sama kakak langsung. Kebiasaan kamu mah, mudah banget percaya sama orang,” ujarku dengan menoyor kepalanya. Dia hanya cengengesan aja.

“Sekarang gantian kakak yang nanya sama kamu.”

“Monggo tuan putri. Mau nanya apa aja boleh kok.”

“Masih aja ngegombal. Emang bener kamu cur-“

“WOY!! DIPANGGIL KEDALAM TUH. DISURUH MAKAN SAMA MAMA.” Suara toa milik Lintang mengisi seantero rumah ini. Suaranya yang cempreng selalu sukses membuat telinga kita semua berdenging.

“Tang, bisa gak usah teriak-teriak gak? Manggil biasa kan bisa.” Nah, loh. Malah sewot dianya.

“Hehehehehe.. maaf-maaf bang. Lintang tinggal ke dalam ya. Cepetan masuk, mau makan rame-rame habis itu tarawihan berjamaah sekalian.” Setelah memperingatkan kami untuk segera masuk ke dalam, Lintang langsung masuk kedalam dengan sedikit berlari.

Aku dan Ikhsan memutuskan untuk segera masuk ke dalam, karna memang perutku sudah sangat lapar sedari tadi.

Obrolan tadi terhenti, padahal ada pertanyaan yang pengen aku tanyakan dari dulu sewaktu kita masih pacaran.

 

—This is My Life—

Pagi hari yang cerah. Matahari yang telah terbit menyinari dunia alam semesta. Tokoh utama kita masih terlelap dalam mimpinya, keluarganya memang sengaja tidak membangunkannya karna sedari kecil ia selalu bangun siang ketika sedang puasa.

Di kamar samping kamar Ikhsan, orang tua, Haikal dan Lintang sedang membicarakan sesuatu, hanya Ikhsan yang tidak ada dalam pembicaraan itu.

“Mama sama abah yakin mau pindah kesini lagi? Rumah, usaha, sama sekolah Lintang gimana?” tanya Haikal serius.

“Insyaallah mama sama abah sudah bulat keputusannya. Masalah sekolah Lintang sudah diurus semuanya sama Dika dan Vienny. Rumah disana rencananya bakal dikontrakin aja beserta barang-barangnya, usaha café kue mama disana tetap jalan dan nanti disini rencananya mau buka cabangnya, yang disana kan sudah lumayan dikenal orang banyak tuh,” jawab mamanya panjang lebar.

“Lintang setuju gak sama keputusan mama sama abah ini?” tanya Haikal ke Lintang yang sedari tadi asik bermain dengan anak angkat Dhike yang masih berumur 1 tahun lebih.

“Emm, awalnya sih gak setuju bang tapi dibujuk terus sama mama akhirnya mau gak mau harus ikut daripada Tatang sendirian disana,” jawab Lintang dengan sedikit cemberut.

“Kan disana ada Kyla sama Zara.”

“Mereka sekeluarga juga pindah kesini minggu lalu,” balas Lintang.

“Kok kita gak dikasih tau mah? Terus rumahnya dimana sekarang?,” tanya Yona bingung.

“Katanya sih di dekat rumahnya Dhike, ada rumah yang baru dijual langsung mereka beli.”

“Oke, semuanya terserah mama sama abah. Ikal gak bisa nolak juga. Itu anak mama yang kedua sudah tau belum?”

“Gimana mama mau ngasih tau, orangnya aja sampe sekarang masih molor gitu,” ujar mamanya sebal dengan kelakukan Ikhsan yang sampe sekarang belum bangun juga padahal sebentar lagi azan Zuhur.

“Tatang bangunin ya mah? Ajak Rafa juga sekalian,” tanya Lintang dengan tersenyum usil.

“Terserah lah. Asal jangan buat ribut aja sama abangmu yang itu.”

“Oke deh. Rafa ikut kakak yuk? Kita bangunin abang Ichan.” Rafa yang dari tadi asik bermain dengan mobil-mobilannya, tidak menggubris omongan Lintang.

Lintang langsung menggendong Rafa dan membawanya keluar kamar. Lintang menggendong Rafa yang asik dengan mobil-mobilannya. Mereka berdua masuk ke kamar Ikhsan dengan perlahan. Terlihat Ikhsan masih terlelap dengan posisi tidurnya yang tidak karu-karuan. Bajunya yang sudah terlepas dan memperlihatkan perutnya yang sedikit buncit, dan posisi tidurnya yang seperti huruf X.

Lintang mendudukkan Rafa di atas perut Ikhsan yang terbuka bebas. Rafa dengan senangnya memukuli wajah Ikhsan dan dadanya sambil tertawa lebar, robot-robotannya juga di pukul-pukulkannya ke dada Ikhsan.

“Rafa sayang, mobilnya gak boleh di pukul-pukul dong. Nanti abangnya kesakitan loh,” ujar Lintang sambil mengambil kembali mainan mobil dari tangan Rafa.

“Aaakk.. obil Fa.” Rafa mengulurkan tangannya berusaha mengambil robotnya dari tangan Lintang dengan wajah melasnya.

“Bangunin abangnya dulu baru kakak kasih robotnya, oke?” Rafa hanya mengangguk-angguk senang. Ia kembali memukuli wajah Ikhsan dengan girangnya.

“Hadoohh, siapa sih ganggu tidur aje? Masih pagi juga.” Ikhsan membalikkan badannya dan hampir membuat Rafa terjatuh jika tidak segera ditangkap oleh Lintang.

“Woy, bang cepetan bangun,” ujar Lintang sedikit berteriak di dekat kuping Ikhsan.

“Oy, ban epet anun,” ucap Rafa girang mengikuti omongan Lintang.

“Wah, Rafa pintar.” Lintang menciumi wajah Rafa dengan buasnya dan membuat sang empu pipi merasa risih.

Tak lama tubuh Ikhsan mulai menggeliat gelisah dengan keributan di kamarnya.

“Eh, kok ada Rafa disini?” tanya Ikhsan bingung dengan matanya yang masih sangat mengantuk.

“Cepetan bangun bang, bentar lagi azan nih,” ujar Lintang sambil memberikan mobil-mobilannya Rafa tadi. Rafa menerimannya dengan senang hati.

“Ngengg… Ngengg.. Titt Titt.” Rafa kembali bermain dengan mobil-mobilannya.

“Eh, ponakan abang. What’s up, Rafa kecil.” Ikhsan langsung mengangkat badan Rafa dan dengan buasnya ia menciumi wajah keponakannya itu.

“Aakkk.. auu ban.” Rafa mulai risih karna Ikhsan terus menciumi wajahnya.

Tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah Dhike dengan wajah yang lebih segar.

“Ihh, mandi dulu sana. Main cium-cium anak kakak aja,” ujar Dhike yang langsung mengambil Rafa dari pangkuan Ikhsan.

“Eh, kak. Masih pengen ciumin dia tuh. Siniin deh.” Ikhsan kembali merebut Rafa dari gendongan Dhike namun dicegah oleh Dhike.

“Gak! Mandi, gosok gigi sampe wangi. Jangan sentuh anak kakak kalo kamu belum mandi juga,” ujar Dhike tegas.

“Ahh, gak asik kamu Key,” balas Ikhsan dengan wajah cemberut.

“Wey, masih aje manggil Kak Ikey pake nama panggilan sayang,” ucap Lintang dengan memukul pelan pundak Ikhsan.

“Yee, keceplosan juga. Kebiasaan manggil begitu kek apa,” bela Ikhsan.

“Ya, harus dibiasakan dong Ichan. Kakak kan sekarang bukan pacar kamu lagi tapi posisinya sekarang kakak sepupu kamu,” ujar Dhike dengan menimang-nimang Rafa yang mulai mengantuk.

“Iye-iye.”

“Dah, kakak ke kamar dulu mau nidurin Rafa. Btw, kakak lagi deket loh sama anggota Club kamu hehehe.he” Setelah itu Dhike langsung keluar dari kamar Ikhsan dan menuju ke kamarnya yang berada di lantai 2, begitupun dengan Lintang.

“Cepet amat move onnya, gue aje masih setengah move on dari dia,” batin Ikhsan.

Setelah mengumpulkan niat buat mandi, akhirnya Ikhsan berjalan keluar kamar menuju kamar mandinya. Keluarganya sudah mulai berpulangan kerumah masing-masing, menyisakan keluarga intinya dan keluarga Dhike.

10 menit kemudian, ia selesai mandi dan memakai baju santai seperti biasanya dirumah.

“Kak.” Ikhsan memanggil Dhike yang duduk sambil menonton tv.

“Apa sayang?” goda Dhike.

“Gak usah mancing deh. Rafa mana? Aku mau main sama dia nih, mumpung gak ada kerjaan sama tugas kuliah juga,” ujar Ikhsan.

“Diatas lagi tidur, jangan kamu ganggu. Nanti kalo bangun awas gak tanggung jawab.” Dhike sedikit berteriak karena Ikhsan sudah mulai berjalan menuju tangga yang terletak di samping kamarnya sendiri.

Tak lama setelah ia naik ke atas, suara tangisan mulai terdengar dari atas.

“KAK! RAFA NANGIS NIH,” teriak Ikhsan dari atas sambil melihat ke bawah yang langsung menuju ke ruang keluarga. Rafa yang berada di gendongannya terus menangis meraung-raung.

“MAMA! Hiks.. nakal tuh,” ucap Rafa kencang dengan tangisnya yang belum mereda juga dan dengan menunjuk Ikhsan.

Sedangkan, Dhike menggerutu kesal karna kegiatannya menonton terganggu gara-gara ulah mantan sekaligus adik sepupunya itu.

“Haduh, adikmu gak bisa tenang dikit apa Kal? Bikin kesel aja deh,” gerutu Dhike kesal ke Haikal yang juga sedang menonton tv ditemani oleh Yona.

Dengan langkah yang malas akhirnya Dhike menuju ke lantai 2, Rafa masih sedikit terisak dengan meminum susu yang dipengangi oleh Ikhsan.

“Kamu mah ihh. Kakak tuh cape nidurin dia, dia dari tadi gak mau tidur. Sekalinya tidur malah diganggu sama kamu,” ucap Dhike kesal sambil mengambil Rafa dan menimang-nimangnya.

“Cuman cium sama ngajak ngobrol doang kok, gak lebih dari itu. Suer deh,” balasnya dengan memberikan tanda peace.

“Iyaa, tapi kamu nyiumnya kaya gak ingat-ingat. Kalo sudah bangun aja, nyusahin kakak kamu mah.” Dhike berjalan ke kamarnya dan Rafa pun sudah mulai terlelap kembali dalam gendongan Dhike.

Ia menaruh Rafa di ranjang dengan perlahan takut membuatnya terbangun lagi, tubuhnya pun diganjal oleh guling dan bantal di kanan kirinya agar tubuh kecilnya tidak terjatuh.

“Kamu ngapain masih disini? Udah turun sana, jangan gangguin Rafa lagi.” Dhike mendorong tubuh Ikhsan sampai ia keluar dari kamarnya.

“Kan mau ngobrol sama Rafa. Kakak mah gitu, aku ngambek aja lah,” ujar Ikhsan yang memutar badannya dan berjalan menuju tangga.

“Dih, ada gitu ngambek bilang-bilang,” gumam Dhike.

 

Ikhsan kembali ke kamarnya dengan perasaan tidak enak. Hari ini ia merasa sangat bosan karna tidak ada yang bisaia kerjakan, ingin bantu mama dan tantenya masak di dapur tapi takut kena marah karna cuman mengacaukan aja bisanya. Mau main dengan Rafa tapi takut kena marah Dhike lagi. Semua kerjaan kantornya telah selesai semua. Mau mengerjakan tugas kampusnya tapi rasanya terlalu malas untuk membuka bukunya.

Lama ia berbaring di kasurnya, akhirnya ia memutuskan untuk pergi jalan saja. Sebelum itu ia mencoba untuk mengajak teman-temannya, namun mereka menolak dengan alasan ada urusan penting. Mau gak mau dia mengajak seseorang untuk diajaknya jalan, semoga aja dia mau gue ajak jalan, pikirnya.

 

“Hallo.”

“…”

“Emm, gimana ya ngomongnya.”

“…”

“Emm, jalan yuk kak. Bosen nih dirumah, terserah kakak deh mau jalan kemana yang penting keluar aja dulu dari rumah. Cape dimarahin mulu aku dirumah.”

“…”

“Serius kak?”

“…”

“Oke deh. Aku otw sekarang kak, chat alamat kakak ya?”

“…”

“Gak usah pake dandan segala, kakak udah cantik. Aku suka sama perempuan yang natural.”

“…”

“Serius. Astraga, malah dibilang gombal lagi.”

“…”

“Ya udah, aku otw kak. Janlup chat alamat kakak. Aku tutup ya, ntar pulsaku habis lagi.”

“…”

“Bye.”

Sambungan telpon pun terputus. Ikhsan seketika berubah menjadi senang, yang tadinya ia badmood sekarang menjadi happy sekali.

Sekitar 5 menit, ia sudah siap dengan memakai kaos warna hitam dengan jaket kesayangannya yang berwarna putih, ia pun hanya memakai celana jeans pendek selutut warna hitam dengan sepatu sneakers yang juga berwarna hitam.

Ia keluar dari kamarnya dan menuju dapur untuk berpamitan dengan mama dan tantenya.

“Ma, jalan ya. Assalamualaikum,” pamit Ikhsan.

“Mau kemana? Jangan bilang mau berantem lagi, awas ya kalo sampe berantem lagi,” ujar mamanya tegas.

“Yee, suudzon mulu sama anaknya. Kaga, ini mau jalan aje sama seseorang,” balasnya dengan senyuman.

“Hati-hati dijalan. Pamit sama tante Mona dulu,” ujar mamanya lagi.

“Tan, aku pamit ya. Btw, itu anak tante beneran lagi deket sama temen satu Club aku?” Sifat keponya mulai kumat.

“Emang iya? Dia belum ada cerita tuh sama tante, siapa emang?” jawab tante Mona.

“Gini ya tante Mona si mantan mama mertua, kalo aku tau siapa yang lagi deket sama anak tante itu gak mungkin dong aku nanya ke tante. Yaudah, Ichan jalan dulu. Assalamualaikum.” Ikhsan berjalan ke garasinya lewat pintu samping.

“Haduh, emang rada-rada tuh anak kamu Dit,” ujar tante Mona sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Ikhsan.

“Disyukurin aja lah Kak. Emang udah takdirnya dia begitu, semoga aja nanti gak nurun ke anak-anaknya,” balas mamanya yang bernama Ditha.

Mobil kesayangan Ikhsan yang diberinya nama Si Utih, tidak bisa keluar karna jalannya ditutup oleh mobil milik orang tuanya. Mau gak mau ia memakai mobil yang satunya. Sebuah Honda Civic berwarna hitam dove keluaran tahun 2008 dengan sedikit modifikasi, berhasil ia dapatkan dengan sedikit perjuangan karna mobilnya yang tidak diproduksi lagi dan harga jual bekasnya yang lumayan meninggi.

Ketika mesin mobilnya masih dipanaskannya, ia menunggu di teras rumah sambil memainkan smartphonenya.

“Mau kemana bang? Rapi banget.” Lintang duduk di bangku sebelah Ikhsan.

“Mau jalan,” jawab Ikhsan singkat.

“Ya, itu Tatang tau. Tapi, jalan kemana?” tanyanya lagi.

“Kemana aje boleh keles. Kepo banget sih,” jawab Ikhsan lagi dengan mencubit pipi Lintang gemas.

“Aww, sakit ishh.” Lintang menepis kasar tangan Ikhsan.

“Makanya jangan ban-“

Omongannya terpotong ketika ia melihat sebuah motor sport yang sangat ia kenali masuk ke dalam halaman rumahnya

“Siapa tu bang?” tanya Lintang bingung.

“Bentar-bentar, kayanya abang kenal sama nih mot-“

“What’s up pak ketu. Assalamualaikum.”

“Tuh, kan bener. Ngapain coba dia kesini? Gak ada janjian juga deh perasaan,” ujar Ikhsan.

“Siapa sih bang? Dari tadi teputus mulu ngomongnya,” ucap Lintang kesal.

“Lo ngapain kesini coba? Emang gue ada buat acara atau janji gitu?” Ikhsan mengabaikan omongan Lintang.

“Ishh.. punya abang kok ngeselin banget sih,” gerutu Lintang yang merasa kesal karna omongannya diabaikan saja oleh abangnya bahkan menoleh saja tidak.

“Emang gak ada.”

“Terus ngapain lo kesini gue tanya.”

“Gue mau ketemuan sama mantan sekaligus kakak sepupu lo. Emang gak boleh?” jawab Nico santai.

“WHAT? Siapa yang lo maksud Co?” tanya Ikhsan memastikan.

“Ya, menurut lo aja siapa. Emang lo pernah pacaran sama kakak sepupu lo yang lain?”

“Lo nikung gue? Gak nyangka gue sama lo.”

“Nikung apaan? Kita udah putus juga.” Dhike tiba-tiba datang dari luar dan langsung menjewer telinga Ikhsan sampai sedikit memerah.

“Aww.. sakit anjir.” Ikhsan melepas jeweran Dhike di telinganya.

“Mulutnya bang, kasih tau mama nih,” ancam Lintang dan langsung mendapat cengiran dari Ikhsan.

“Parah lo kak, baru 2 minggu juga kita putus udah dapet yang baru aje, temen gue sendiri lagi. Gak rela aku kak. Mana dirumah gue sendiri lagi, ini mah namanya penistaan mantan” ujar Ikhsan dramatis.

“Gak usah lebay deh. Lupakan aja, sekarang terima aja takdir kalo memang kita faktanya sepupuan Ikhsan. Emang kenapa kalo di rumah kamu? Mau marah? Terus tadi yang ngajakin temen kakak jalan siapa ya?”

Wajah Ikhsan kaget karena tebakan Dhike tepat sasaran tanpa meleset sedikitpun.

“K-kok kakak tau?” tanya Ikhsan gugup.

“Ohh, jadi kamu toh yang ngajakin temen kakak jalan. Udah ah, Nico ayo masuk.” Dhike mengajak Nico segera masuk kedalam.

“Awas lo,” ancam Ikhsan.

“Apa? Udah ya, kakak gak mau kalian ribut cuman gara-gara masalah sepele begini,” lerai Dhike dan menarik lengan Nico kedalam agar tidak terjadi yang tidak diinginkan. Sedangkan, Nico hanya diam cuek mendapat ancaman langsung dari teman satu clubnya itu.

“Tang, abang jalan dulu. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Titip makanan buat buka puasa bang. Jangan sore-sore pulangnya.”

“Plis deh, jangan bawel bisa gak? Gregetan lama-lama juga abang sama kamu dek. Bawel kamu itu ngalahin bawelnya mama kalo lagi ngomel tau gak.”

 

Bersambung…

@IskaIkhsan48

Iklan

Satu tanggapan untuk “This is My Life, part 24

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s