Noor, part 5

“Yaudah lu sms-in aja tempatnya,” ucap Rezza lalu menutup telfon.

“Siapa?” tanya Gre yang masih berbaring di atas sofa.

“Najong,” jawab Rezza menghampiri Gre.

“Lu tidur di kamar aja, gue mau keluar dulu,” lanjut Rezza lalu menggendong Gre ke kamarnya.

Setelah meletakkan Gre ke atas kasurnya Rezza langsung bersiap menuju tempat Najong mengugunakan motor matic-nya.

15 menit kemudian, Rezza sampai disebuah bangunan tua yang di dalamnya terdapat beberapa kolam renang. Di tempat itulah Najong menunggu kedatangan Rezza.

“Lu kalo mau babak belur gausah ngajak-ngajak bisa nggak sih?” tanya Rezza menatap Najong dengan wajah datar.

Najong tidak menghiraukan Rezza, ia masih tetap menatap 5 orang yang berdiri tidak jauh di depannya.

“MAJU SINI NJING!!” teriak Najong pada ke-5 orang itu.

Salah satu dari ke-5 orang itu langsung berlari ke arah Najong dan meyerang dengan tendangannya.

Dengan cepat Najong menggeser tubuhnya dan menangkap tendangan orang itu lalu melemparkan tubuhnya ke tembok.

Melihat kepala orang itu tak jauh dari kakinya, Rezza langsung meludahi wajah orang itu dan menendang kepalanya. Meskipun orang itu berhasil melindungi kepalanya dengan kedua tangan, orang itu masih tetap merasa kesakitan.

Ke-4 orang lain yang dari tadi hanya diam, langsung berlari ke arah Najong dan Rezza lalu menyerag mereka berdua secara bertubi-tubi.

~oOo~

Pukul 7 pagi, Najong dan Rezza kini tengah bersandar di tembok bangunan tua itu dengan wajah babak belur dan juga tubuh yang berlumuran darah.

Rezza meraih bungkus rokoknya yang terjatuh saat perkelahian tadi, ia mengambil satu batang rokok lalu menyalakannya.

“Lu bego ato gimana sih? Udah tau kita gabisa berantem masih aja suka cari masalah,” tanya Rezza sambil mengeluarkan asap putih dari mulutnya.

“Gue mah kaga pernah cari masalah, orang lain aja yang suka cari masalah sama gue,” jawab Najong juga ikut menyalakan sebatang rokok.

“Gara-gara elu nih gue jadi gabisa kasih surprise buat Naomi,” ucap Rezza sambil berusaha berdiri.

Najong menatap Rezza dengan santainya. “Selow, tinggal nyanyiin lagunya Jamrud masalah selesai.”

“Yaudah lah, kuy balik,” ajak Rezza lalu membantu Najong berdiri.

“Lu bawa motor kaga?” lanjut Rezza.

Najong hanya menggelengkan kepalanya.

“Lu yakin kita bakalan selamet sampe rumah?” tanya Najong setelah duduk di belakang Rezza.

“Kaga,” jawab Rezza lalu mulai memacu motornya keluar dari bangunan tua itu.

Selama di perjalanan, banyak sekali orang yang memperhatikan Najong dan Rezza. Bahkan polisi yang sedang mengatur lalu lintas heran melihat dua orang pemuda yang babak belur dan berlumuran darah ini.

Meskipun hanya mengenakan topi, mereka berdua tidak dihentikan oleh beberapa polisi lalu lintas yang mereka temui.

Setelah mengarungi kejamnya lalu lintas ibu kota selama hampir satu jam, kini mereka berdua telah sampai di rumah Rezza.

“Aduh… kalian berdua kenapa bisa babak belur kaya gini?” tanya seorang perempuan tua saat Rezza dan Najong masuk ke dalam rumah.

Perempuan itu adalah ibu dari gadis kecil yang bertemu dengan Rezza di mini market.

“Biasa lah bu, namanya juga cowok,” jawab Najong sambil cengengesan.

“Bego emang,” ucap Rezza yang terus berjalan menuju kamarnya.

“Yaudah mas Navis duduk situ dulu, saya bersihin lukanya,” suruh perempuan tadi lalu berlari kecil menuju dapur.

Setelah mengambil baskom berisi air hangat, perempuan itu mengambil kotak obat lalu mulai membersihkan luka di wajah dan tangan Najong.

“Buka kaosnya, biar saya bersihin darah yang di punggung,” suruh perempuan itu setelah selesai membersihkan luka di wajah dan tangan Najong.

“Cih, dibantuin, dasar lemah,” ucap Rezza saat menuruni tangga.

“Bodo,” ucap Najong lalu melemparkan kaosnya pada Rezza.

“Mas Rezza mau dibantuin nggak kasih alkoholnya?” tanya perempuan tadi, sebut saja Bambang.

“Gausah bu, ntar sendiri aja,” jawab Rezza berjalan menuju ruang makan.

“Yaudah kalo gitu,” ucap Bambang lalu mulai membersihkan darah di punggung Najong.

Setelah tubuh Najong dibersihkan, ia mandi lalu sarapan bersama Rezza. Selesai makan, mereka berdua kembali ke ruang tengah.

Mereka bermain playstation sampai akhirnya tertidur.

“Kalian kenapa?!” tanya Melody berlari menghampiri Rezza dan Najong yang masih tertidur.

“Za!” teriak Melody sambil mengguncang tubuh Rezza.

Rezza terbangun dan menatap Melody dengan kesal. “Apaan sih?!”

“Kamu ngapain semalem bisa sampe kaya gini?” tanya Melody yang air matanya ulai mengalir.

“Harus banget gue jelasin semalem ngapain?” Rezza menatap Melody dengan satu alisnya naik.

“Cari masalah kok dijadiin hobi, bego emang,” ucap Gre setelah duduk di sofa.

Tangisan Melody yang semakin kencang membuat Najong juga ikut terbangun.

“Eh? Udah pulang?” tanya Najong tersenyum pada Melody.

“Belom, ini masih di sekolah,” jawab Gre dengan ekspresi datar.

“Gue nggak nanya sama lu,” ucap Najong dengan wajah sengak.

Melody menatap Rezza dan Najong lalu memegang kedua pipi mereka. “Kalian kenapa sih? Seneng banget bikin khawatir.”

“Jangan salahin gue.” Rezza menyingkirkan tangan Melody. “Salahin tuh pacar situ, dia yang bikin gue kaya gini.”

Melody langsung menoleh ke arah Najong, sedangkan Rezza berdiri dan menghampiri Gre.

“Sumpah kali ini bukan aku yang cari masalah, aku sama Rezza cuma korban,” ucap Najong gugup.

“Boong!” teriak Melody.

“Beneran aku nggak boong.” Najong memegang kedua bahu Melody. “Semalem pas aku lagi gambar ada lima orang nyamperin aku sambil marah-marah, terus ngajak berantem.”

“Kalo gitu, kenapa kamu nggak minta maaf aja? Kenapa malah diladenin?” tanya Melody yang air matanya mengalir semakin deras.

Najong terdiam, ia bingung mencari alasan agar Melody tidak marah lagi.

“Lu juga sih bego, udah tau itu bukan wilayah Artefuck, malah lu gambarin, ya jelas dimarahin lah, makanya kurang-kurangin deh makan micin,” ucap Rezza yang telah duduk di seelah Gre sambil merokok.

“Kamu juga bego keleus, kenapa mau aja diajakin berantem sama Najong, masih belom sadar kalo kamu paling gabisa kalo soal berantem?” tanya Gre dengan wajah sengak.

“Kalo gue tau bakalan diajakin berantem, kaga bakalan lah gue samperin dia,” jawab Rezza menoleh ke arah Gre.

“Cih,” Gre memalingkan wajahnya lalu berdiri dan pulang ke rumahnya.

“Gue mau tidur, jan aneh-aneh,” ucap Rezza lalu berjalan menuju kamarnya.

~oOo~

“Mel,” sapa Naomi saat memasuki rumah Melody.

“Eh?” Naomi sedikit terkejut saat melihat Rezza yang hanya mengenakan celana pendek sedang tengkurap di atas sofa.

“Kebiasaan, masuk rumah nggak ketok pintu dulu,” sindir Rezza menatap Naomi dengan ekspresi datar.

Naomi hanya cengengesan sambil menghampiri Rezza.

Rezza bangkit dari tidurnya. “Ngapain malem-malem ke sini?”

“Itu muka kamu kenapa?” tanya Naomi setelah duduk di sebelah Rezza.

“Berantem lagi?” lanjut Naomi.

“Kaga, abis operasi plastik,” jawab Rezza memalingkan wajahnya.

“Ihh!!” Naomi menolehkan kembali wajah Rezza ke hadapannya. “Udah dikasih tau jangan berantem-berantem juga, masih aja dilakuin, bandel banget sih!”

“Jan salahin gue, salahin tuh orang,” ucap Rezza sambil menunjuk Najong yang sedang berjalan ke arahnya.

Naomi menoleh ke arah Najong dan menatapnya dengan tajam. Najong yang sudah hafal dengan sifat Naomi langsung berjalan kembali menuju ruang tengah.

Naomi kemali menoleh ke arah Rezza. “Najong gamau jelasin, itu berarti kamu yang-“

“Sssssttt…,” Rezza menempelkan telunjuknya di bibir Naomi.

Naomi terdiam sambil menatap Rezza dengan bingung, moment itu Rezza gunakan untuk mengambil gitar yang ia mainkan bersama Gre tadi sore.

Sesaat setelah gitar itu berada di pangkuan Rezza, ia langsung menyanyikan lagu Ipang – Bintang Hidupku.

Naomi langsung tersenyum, bukan karena Rezza menyanyikan lagu untuknya, melainkan karena lagu itu merupakan salah satu lagu favorite-nya.

“Kamu gampang banget sih dibegoin sama Rezza,” ucap Melody lalu duduk di depan Rezza dan Naomi.

Naomi tidak membalas ucapan Melody, ia hanya memberi isyarat pada Melody untuk diam.

“Makasih…,” Naomi mencubit pipi Rezza dengan manja setelah ia selesai bernyanyi.

“Sakit bego,” ucap Rezza sambil melepaskan cubitan Naomi.

“Udah yuk berangkat.” Melody menghampiri Naomi lalu menarik tangannya. “Ntar keburu malem.”

Naomi melepaskan tangan Melody yang menariknya. “Rezza sama Najong nggak ikut?”

“Mau pada kemana emang?” Rezza menatap Naomi dengan heran.

“Kan mau makan-makan, kamu lupa?” tanya Naomi menaikkan satu alisnya.

“Gimana caranya gue bisa lupa? Dikasih tau aja kaga,” jawab Rezza setelah meletakkan gitarnya.

“Ah iya, kamu kan tadi nggak sekolah,” ucap Naomi cengengesan.

Dengan espresi datar, Rezza menghampiri Naomi lalu mencubit pipinya dan berkata, “Dasar micin lovers.”

~oOo~

“Ini mau makan di mana sih? Keburu laper nih gue,” tanya Rezza yang duduk di belakang bersama Ayana.

“Diem bisa nggak?! Aku tendang keluar kalo protes lagi,” ancam Ayana menatap Rezza dengan tajam.

Rezza malah mendekatka wajahnya dengan Ayana. “Bodo!”

“Ishh!” Ayana mendengus lalu mendorong kepala Rezza.

Dorongan Ayana yang cukup keras membuat kepala Rezza menghantam pintu mobil Naomi.

“Kalian bisa tenang nggak sih?!” Naomi menatap tajam Rezza dan Ayana melalui kaca spion.

“Rezza yang mulai duluan,” ucap Ayana memalingkan wajahnya.

“Lah? Kenapa gue yang salah? Pan elu yang jedotin pala gue,” Rezza menatap Ayana sambil memegang kepalanya yang terbentur tadi.

“Ya abisnya kamu protes mulu, gabisa diem,” jawab Ayana menoleh ke arah Rezza dengan wajah kesal.

“Gausah ribut! Kalian berdua salah,” ucap Naomi.

Rezza dan Ayana langsung terdiam dan menunduk untuk beberapa menit sebelum akhirnya mereka kembali bertengkar.

Sinka hanya tertawa kecil melihat pertengkaran mereka berdua, sedangkan Naomi memilih tidak menghiraukan keberadaan mereka.

“Aduh…,” rintih Ayana sambil memegangi lutut kanannya.

“Kenapa lu?” tanya Rezza dengan kaki yang siap menendang.

Sinka yang dari tadi tertawa langsung terdiam.

Rezza menggeser tubuhnya mendekati Ayana. “Sakit ya?”

Ayana tidak menjawab, ia hanya menoleh ke arah Rezza dengan raut wajah kesakitan.

“Mana sini gue liat,” ucap Rezza lalu memegang lutut Ayana.

BUKK!!

Sebuah tonjokan keras yang mendarat mulus di rahang kiri Rezza membuat tubuh dan kepalanya kembali membentur pintu mobil Naomi.

“Rasain tuh,” ucap Ayana.

Sinka masih melotot tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

Naomi menatap Rezza melalui kaca spion. “Makanya jan becanda mulu, udah tau Achan suka lupa diri kalo becanda.”

“Lu cewek apa cowok sih? Kenceng banget mukulnya,” tanya Rezza membetulkan posisi duduknya sambil terus mengelus pipi kirinya.

Ayana langsung menoleh ke arah Rezza dan menatapnya tajam. “Mau lagi?”

“Sin, kamu pindah belakang gih, tukeran sama Achan, ntar mereka berantem lagi,” suruh Naomi sambil menepikan mobilnya.

-di mobil Melody-

“Mereka mau ngapain minggir-minggir gitu?” tanya Najong yang duduk di depan bersama Melody.

“Gatau,” jawab Melody mengangkat kedua bahunya.

Kemudian Melody juga menepikan mobilnya.

“Kenapa?” tanya Melody setelah turun dari mobilnya.

“Gapapa kok kak, cuma mau tukeran tempat duduk doang,” jawab Sinka yang hendak masuk kembali ke mobilnya.

Melody berjalan menghampiri Sinka. “Emang kenapa sampe harus tuker segala?”

“Ini tadi kak Ayana sama Rezza berantem mulu,” jawab Sinka.

“Yaudah kalo gitu, Rezza biar bareng aku aja daripada ntar malah berantem lagi,” ucap Melody lalu kembali ke mobilnya.

Sinka hanya mengangguk lalu memberi tau Rezza.

“Gre, kamu sama Naomi ya,” suruh Melody setelah masuk kembali ke mobilnya.

“Emang kenapa kak?” tanya Gre menatap Melody dengan bingung.

“Biasa, Rezza sama Achan,” jawab Melody menoleh ke arah Gre.

Gre hanya mengangguk lalu keluar dari mobil Melody.

“Kok elu yang disuruh pindah?” tanya Rezza saat melihat Gre berjalan ke arahnya.

“Kenapa nggak Najong aja sih?” lanjut Rezza.

“Yakali kak Melody nyuruh Najong pindah,” jawab Gre melewati Rezza.

Setelah acara pertukaran penumpang itu selesai, kedua mobil kembali berjalan.

Sekitar 30 menit kemudian, mereka telah sampai di tempat tujuan, tempat perayaan acara ulang tahun Naomi.

“Ini mah bukan makan-makan, tapi minum-minum,” ucap Rezza yang telah keluar dari mobil.

“Lah? Kalo cuma minum-minum bukannya di rumah aja bisa ya?” tanya Yupi yang kini sudah berdiri di sebelah Rezza.

“Gatau nih Naomi, mungkin sensasinya beda kalo di sini,” jawab Melody setelah keluar dari mobilnya.

“Kok kita malah ke tempat kaya gini sih kak?” tanya Sinka menatap Naomi dengan heran.

“Siapa yang bilang kita mau ke sini?” Naomi menoleh ke arah Sinka sambil menaikkan satu alisnya.

“Kita mau makan di situ,” lanjut Naomi menunjuk seuah restaurant Jepang yang ada di ujung jalan.

Semua orang langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Naomi.

Sinka kembali menatap Naomi. “Ngapain berhenti di sini kalo mau makan di situ?”

“Kamu liat masih ada tempat parkir di sana?” tanya Naomi.

“Enggak sih,” jawab Sinka terlihat ragu.

Kemudian mereka semua berjalan menuju restaurant itu.

“Liatin apa sin?” tanya Melody.

“Eh? Ng-nggak, nggak liatin apa-apa kok,” jawab Sinka lalu mengalihkan pandangannya ke arah Melody yang duduk di sebelahnya.

“Yaudah, jangan ngelamun mulu, ntar kesambet,” ucap melody tersenyum.

Sinka hanya mengangguk perlahan.

Sejak masuk restaurant hingga duduk, Sinka memang memperhatikan seseorang yang sedang makan sendirian.

Beberapa saat kemudian, Sinka kembali menatap orang itu. Ia pun tersenyum saat orang itu menoleh ke arahnya.

 

*to be continue*

 

Note: Explicit Version here

Iklan

2 tanggapan untuk “Noor, part 5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s