Cinta Palsu, Part 10

“Apa maksud Om!?”

“Mulai besok, kalian berdua akan menjadi kelinci percobaan. Dimana kalian berdua akan tinggal di satu atap yang sama layaknya seorang suami-istri yang baru saja menikah,” Jelasnya

“Tapi Pah!”

“Jangan membantah! Seharusnya kamu juga sudah tau tentang ini kan?” balas Papanya pada Ayana

“Huh? Jadi maksudnya semua ini sudah direncanakan…Sejak-lama!?” ucap Aldo

“Iya,” Jawab Ayana singkat

“I-Itu berarti kalian berdua…menjebak Aldo disini!?” Aldo terlihat sangat marah

“Bukan begitu Al!” bantah Ayana. “Aku tau kalau papa akan melakukan penelitian dengan menggunakan manusia-Yang berpasangan. Tapi aku sama sekali gak tau kalau subjeknya itu akan kita berdua!”

“Cih!” Aldo membuang muka

“Pokoknya, dari kedua belah pihak sudah menyetujui tentang hal ini. Jadi kamu-dan kamu…,” tunjuknya ke arah Ayana dan Aldo

“Tidak bisa menolaknya dan juga mengabaikannya,” lanjutnya

Aldo perlahan mundur menjauhi mereka.

“B-Biar Aldo pastikan dulu ke rumah!” Aldo pergi

“Al!”

“Sheessh! Biar dia pergi dan cari tau sendiri apa yang sedang terjadi sekarang,” ujar Papanya sambil menahan Ayana

~oOo~

*Jdak!

“Hey! Pulang-pulang langsung banting pintu! Kemana aja sih kak!”

“Mana ibu!” bentaknya

“EH! A-Anu…,” Gadis itu langsung ketakutan

“Ada apa ini!” seseorang yang keluar dari ruangan itu langsung menghampiri mereka berdua

“Aldo, baru pulang jam segini? Padahal ada yang mau ibu bicarakan sama kam…,”

“Ibu! Kenapa ibu ngelakuin ini semua!”

“A-Apa!?”

“Kenapa Aldo harus jadi kelinci percobaannya mereka!” Jelas Aldo lagi

“Oh, kamu sudah tau ya…,” timbal Ibunya

“Ibu gak seharusnya melakukan ini! Aldo ini anak Ibu! Setidaknya tanya Aldo dulu kalau mau melakukan hal seperti ini!”

“S-Sabar nak…ibu…,” Ibunya tampak kebingungan harus menjawab apa

“Okta…um…Okta mau ke kamar dulu!” Okta tampak pergi meninggalkan mereka dengan wajah yang ketakutan

“Jawab bu! Kenapa Aldo harus jadi bahan percobaan mereka!”

“Ja-Jangan marah-marah dulu, ibu bingung harus jelasinnya dari mana,” balas Ibunya

Lantas Aldo pun sedikit lebih tenang, kemudian duduk di sofa itu.

“Ceritanya panjang nak, ini dimulai saat ibu masih bekerja dulu,”

“Aldo tau kalau ibu dulunya seorang ilmuwan, tapi…kenapa Aldo yang kena sekarang!”

Ibunya tampak menghela nafas.

“Maafin ibu Al, ini semua salah Ibu…,” ucapnya sambil memeluk Aldo

Aldo yang tadinya meluapkan amarahnya, kini ia terlihat sangat kasihan pada ibunya dan langsung membalas pelukan itu.

Setelah selesai, Ibunya mulai menceritakan lagi permasalahan tersebut.

“Dulu sewaktu masih bekerja, ibu punya saingan. Saingan ibu itu orangnya sangat ketat dan tegas. Pastinya dia orang yang gak mau kalah,”

“Jadi saat itu, tepatnya seminggu sebelum ibu berhenti bekerja, kami membuat perjanjian,”

“P-Perjanjian!?” ucap Aldo

“Ya, perjanjian yang ada hubungan dengan kamu sebagai anak dari Ibu, dan juga Ayana sebagai anak dari mereka,”

“Jadi sebelumnya, ibu udah tau soal Ayana, yah?”

Ibunya hanya mengangguk. “Perjanjian itu bermaksud untuk siapapun orang yang kalah dalam penelitian tahap akhir, maka anak dari mereka yang kalah akan dijadikan kelinci percobaannya,”

“Ibu-Kalah…,” ucap Aldo pelan

“Ya, ibu kalah. Dan itu merupakan kekalahan pertama Ibu dalam bersaing dengan mereka,”

“Kalau kenyataanya memang begitu, jadi…Aldo harus ngapain sekarang bu. Sejujurnya Aldo bingung harus ngapain besok,” ucap Aldo yang tampak mulai stress dengan memegang kepalanya

“Kamu gak perlu panik begitu, karena tes ini hanya akan berlasung selama 1 tahun. Dimana kamu akan hidup di satu atap yang sama dengan Ayana sebagai pendamping hidup kamu,”

“Dan juga semua biaya hidupnya akan ditanggung oleh Mereka, jadi pada intinya yang harus kamu lakukan hanyalah menjalani semua itu TANPA adanya paksaan dari pihak manapun,”

Aldo menyandarkan punggungnya ke sofa sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.

“Padahal ibu tau sendiri kalau Aldo udah punya di Bandung,” ucap Aldo tanpa memandang ibunya sedikit pun

“Ibu tau itu, tapi…ini semua demi kebaikan kita sekeluarga. Ibu sangat mengharapkan kamu Al,”

“Lagipula keluarga dari mereka pun sudah kenal lama dengan keluarga kita. Ibu memang bersaing dengan mereka tapi bersaing secara sehat, bahkan mereka udah sering bantuin kita dalam menyelsaikan permasalahan,”

“Oh,” balas Aldo singkat

“Denger-denger juga, kamu satu kelas kan sama Ayana? Pasti udah akrab kan sama dia?” tanya Ibunya berulang-ulang

“Jadi…mulai besok, Aldo…,”

“Ya, besok kamu akan tinggal bersama dengan Ayana di rumah baru,”

“Jadi sekarang Ibu pengen peluk kamu sepuasnya sampai rasa kangen ibu hilang,” ucap Ibunya sambil memeluk Aldo

“udah buk jangan peluk-peluk, kepala Aldo masih pening,” Aldo sedikit risih

“Oh ya, besok kamu harus bawa mobil ke sekolah,”

“Mobil!?”

“Iya, biar pulang sekolah bisa langsung pulang ke rumah baru kamu,” Jelas Ibunya

“Serah…,” balas Aldo

“Satu hal lagi…,”

Aldo sedikit menoleh ke arah Ibunya.

Lalu Ibunya berbisik. “Jangan hamilin Ayana, ya?”

~oOo~

*Tidit! Tidit-Tidit!

            Mobil silver itu sedari tadi mengklakson dengan begitu keras.

Lalu seseorang keluar dari rumah tersebut dan menghampiri mobil silver itu.

“Hm…ternyata udah dikasih tau ya bakalan ada yang jemput?”

“Maaf, Al…,” balas gadis yang baru datang itu

“Cepet naik, kita hampir terlambat,”

Gadis itu pun masuk ke dalam mobil dan duduk disamping Aldo.

*Brum!

Mobil itu langsung melaju.

-Ayana POV-

*Tidit-Tidit!

Mendengar klakson mobil itu, ku berlari keluar dari rumah tanpa berpamitan terlebih dahulu. Disana kulihat mobil silver yang tengah menungguku sambil terus mengklakson.

“Cepet naik, kita hampir terlambat,”

Aku hanya mengangguk.

*Brum!

Kulihat tatapannya yang begitu fokus ke jalanan tanpa memandangku sedikit pun. Aku pun sama sekali tidak berani menatap wajahnya, mengingat kejadian kemarin yang masih membekas…

*Puk!

Ia melempar sesuatu ke arahku…

“Sarapan dulu…,”

“E-Eh…ini kan punya kamu,”

“Gw tau lo belum sarapan,”

“Tapi…,”

“Makan aja Ay!”

Tanpa pikir panjang, kubuka sandwich itu dan langsung memakannya. Ia terlihat masih fokus ke jalanan sambil menampakan wajah yang sama seperti saat kemarin malam.

Ku takut berbicara padanya, padahal ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan dengannya.

“Al…,”

Ia tidak menjawabnya.

“Aku tau kamu marah sama aku, tapi…,”

*Bem-Bem….

Apa? Kenapa dia memperlambat laju mobilnya?

“Mau ngomong apa?”

Ia menanggapinya…

Aku pun mulai menarik nafas panjang dan kemudian berbicara.

“Al…berhubung sekarang kita berdua akan menjalani tes selama 1 tahun, jadi…aku harap kamu bisa merahasiakan hubungan ini dari siapapun disekolahan. Terutama temen-temen kita di kelas,”

“Gw tau…,”

“A-Ah…bagus deh kalau gitu,”

“Yaahhh! Berhubung hari ini kita cuma 1 pelajaran, pulangnya anterin ke supermarket ya?” ucapku lagi

“Hm? Ngapain?”

“Karena sekarang aku ini istri kamu, jadi…aku harus melakukannya semuanya!”

“Apa?”

“Ya kayak masak, beres-beres, cuci baju, dan yang lainnya,”

“Heh, serah…,”

“EK!”

Aku sedikit terkejut melihat ekspresinya. Ia masih saja tidak memandang ke arahku.

            ~oOo~

*Bzzzz…Bzzzz…Bzzz…

Bel sekolah berbunyi tepat saat kami sampai disekolah.

Kami parkir di parkiran khusus mobil dan itu membuat kami harus berjalan ke atas melewati basement.

“Tunggu sebentar…,”

“Ah? Kenapa Al?”

*Brak!

“GAH!”

Ia tiba-tiba mendorongku ke tembok itu.

“Emh…Al kita harus…,”

*CUPPSS!

“UMH!???”

“Biarkan aku memanjakanmu sebentar, istriku…,” bisiknya padaku

Kenapa…Kenapa ia tiba-tiba menjadi seperti ini!? Ia tiba-tiba mencium leherku, lalu semakin lama ciumannya itu semakin menjadi dan kini ia malah mencumbu bibirku.

“A-ACHK! UMH…,”

*Clap-Clap!

            Lidah kami saling bersentuhan, tanpa sadar akupun mulai terbawa arus.

“Ahk…,”

(……………………………………………………………………..)

“Ay, Ayana!”

“GAH!”

“udah sadar? Kemana aja tadi?”

“K-Kemana aja?”

“Iya, badannya ada disini tapi rohnya entah kemana. Oh, atau masih ngelindur?”

“Um…,” Aku terdiam

“Hey, gw daritadi nanya gak di jawab,”

“N-Nanya apa, Al…?”

“Hari ini kumpul jurnalis gak? Di jadwalnya hari ini kumpul,”

“Iya…hari ini kumpul,”

Aku sedikit membuang muka padanya.

“Kenapa? Lagi sakit?” ucapnya sambil memegang keningku

Aku hanya menggeleng di hadapannya.

“Kita-Umm…kita gak ngelakuin apa-apa kan disini?”

“Hm? Maksudnya ngelakuin apa-apa?”

“Ah lupakan…,”

Ku berpaling dari hadapannya dan langsung membelakanginya. Nafasku begitu berat seperti habis melakukan lari sprint. Aku sama sekali tidak berani memandang wajahnya.

Aku merasa pikiranku mulai kacau sejak hari kemarin. Aku selalu terbayang-bayang melakukan Sesuatu dengannyA. Tapi kini aku sadar kalau semua itu hanyalah halusinasiku saja.

“Tumben hari ini pake kacamata,”

“Eng…Gak kenapa-kenapa, cuma pengen pake aja,” Jawabku

“Oh…,”

Ia terlihat berjalan lebih dulu. Lantas aku pun mengikutinya di belakang.

“Lewat belakang ya, kayaknya ada si Michelle di atas,”

“Um,” Aku hanya mengangguk

-SKIP-

*

*

“Sekarang kalian semua mulailah duduk berkelompok, karena kita akan mengerjakan beberapa soal sekarang,”

“Baik paaaaakk!”

(Suara keributan kelas)

“Ay, mau duduk dimana? Disini atau di bangkunya Aldo?”

“Eng…di belakang aja deh,” ucapku

“Oke,”

“Eh Nads, lo yang bawa soalnya ya, g-gue mau ke bangkunya Aldo duluan,”

“Okeee…?” Nadse terlihat menatapku dengan heran

Sebenarnya tujuanku menyuruhnya membawa soal di depan agar aku bisa duduk di sampingnyA. Entah kenapa sekarang aku tidak mau ada seorangpun wanita yang mendekatinya. Apa ini yang dinamakan possesive?

“HEH! Kenapa tidur!” ucapku

“Males…,”

“Bangun Al! Kita harus ngerjain soal kelompok!”

“Iya-iya! Bawel!”

Fyuh…syukurlah dia menjalani aktivitas disekolah seperti biasanya. Kelihatannya sekarang dia tidak terlalu memikirkan hubungan kami saat sedang disekolah.

“Mana Nadse?”

“Lagi ngambil soal…,”

“Oh…,”

“Awas minggir-minggir! Ada air panas!”

Nadse datang membawa soal.

“Oke ketua, jadi sekarang kita harus ngapain?” ucap Nadse

“Ketua apaan! Sejak kapan gw jadi ketua!”

“Dari waktu itu juga lo yang jadi ketua kelompok kita! Iya kan Ay?’

“IYA!” ucapku

Mereka berdua tiba-tiba melihat ke arahku.

“Galak amat Ay, kayak ibu kos,” ucap Nadse

“wahaha! Maaf-maaf, gue kebawa suasana jadinya kan, Huft…,”

“Oke-oke kita kerjain sekarang. Yang tulisannya paling bagus, salinin di kertas folio itu oke?” ucap Aldo

Aku hanya mengangguk.

            ~oOo~

-Author POV-

*Bzzzz….Bzzzz…Bzzzz…

“Akhirnya bel juga!” ucap Nadse

“Bagus, tugas kita juga beres…,” ucap Ayana

“Nads, kumpulin ya,” ucap Aldo

“Kok Gue sih!” balas Nadese

“Gw harus kumpul jurnalis,” ucap Aldo kembali

“Gue juga,” ucap Ayana yang langsung berdiri

“Huft…yaudah mana sini,” ucap Nadse

Aldo langsung memberikan kertas folio itu pada Nadse.

“Bye, duluan ya Nads!” ucap Ayana

“Ya,” balasnya singkat

*Tok! Tok!

Seseorang tampak berdiri di depan pintu kelas mereka.

“Oh, udah janjian sama orang ya?” ucap gadis itu

“Chelle…kita musti kumpul jurnalis sekarang,” ucap Aldo

“Wah! Kumpul? O-Oke!” balas Michelle

“Kenapa tiba-tiba semangat begitu,” ucap Aldo kembali

“Eng…lo tau, g-gue sebelumnya gak pernah kumpul-kumpul klub,” ucap Michelle tampak malu-malu

“Itu karena lo gak pernah ikutan klub kali, Huh…,” Aldo kemudian berjalan lebih dulu

“Tunggu Al!” ucap Ayana dibelakang

Ayana tampak langsung berjalan disamping kiri Aldo.

“Hm?” Michelle seperti menatap Ayana dengan sinis

Lantas Michelle pun langsung berjalan di samping kanan Aldo.

“Jadi apa yang bakal kita bahas nanti?” tanya Aldo

“Yah, paling juga kegiatan untuk minggu depan,” Jawab Ayana

“Minggu depan?” ucap Aldo

“Gak tau yah? Minggu depan, tepatnya hari selasa kita bakalan dispensasi untuk bikin dokumentasi tentang uji coba melawan SMA 70,”

“Uji coba apaan!?” ucap Aldo yang semakin kebingungan

“Oh maaf, maksudnya uji coba tanding basket gitu,” Jelas Ayana lagi

“Hm, jadi kita bakalan di liburin ya?” ucap Michelle

“Bisa dibilang begitu, tapi yang di liburin cuma anak jurnalis kok,” Jawab Ayana lagi

“Jadi…ruangan klubnya dimana?” tanya Aldo

“Disini…,”

Ayana membuka pintu itu.

“Pintu geser?” pikir Aldo

*BRAK!

“Woah Ayana! Bawa anak baru lagi!” ucap seorang wanita disana

“Hehe, iya kak Rona,” balas Ayana

“Ayo-ayo masuk!” ucap anak-anak yang lain disana

“Hah?” Aldo terlihat kebingungan

“Kenapa Al? Kok keliatan bingung gitu? Ayo masuk!” ajak Ayana pada Aldo

“Ini ruang klub jurnalis!?” ucap Aldo

“Yap, ada masalah?” ucap gadis yang tadi dipanggil Rona

“Kenapa banyak makanan disini!? Udah kayak warteg aja!” ucap Aldo lagi

“Dan kenapa ada kak YONA!” lanjut Aldo

“Apa? Gue juga anak jurnalis, tau?” balas Yona sambil memakan makanannya

“Huft…,” Aldo mengusap wajahnya

“Woah! Gue ikutan makan dong!” Michelle langsung masuk ke dalam

“Bwah! Tanpa permisi dulu langsung nyomot aja!” ucap Aldo

“Dah-dah, lagian kalian berdua sekarang udah jadi anggota jurnalis bukan?” ucap Rona

“Y-yah…,” Aldo sedikit ragu

Lantas mereka pun masuk ke dalam.

“Permisi…,”

“Jangan formal begitu, anggap aja sekarang kita keluarga,” ucap Rona

“Ya, Kazoku…,” ucap Yona

“Gak usah sok-sokan bahasa jepang lah, jijik gw dengernya,”

“Hiss…sinis amat sih,” balas Yona pada Aldo

“MMMMHHH! Makanannya enak-enak!”

“Woi! Sopan dikit napa!” ucap Aldo pada Michelle

“Berisik!” balas Michelle

“Oh iya, karena kalian merupakan anggota baru, jadi kalian harus perkenalan dulu,” ucap Rona

“Oke! Dimulai dari gue ya!” Michelle berhenti makan dan langsung berdiri

“Pengen perkenalan duluan juga pasti karena pengen habisin makanannya cepet-cepet kan?” ucap Aldo

“Ekhem! Perkenalkan…nama gue Michelle Kristo Kusnadi, dari kelas X-2,”

“Buset dah! Perkenalan lo udah kayak kenalan ke orang yang seumuran aja. Ini perkenalan resmi Chelle!” ucap Aldo

“udah gak apa-apa kali, sekarang tujuan lo…Kenapa pengen ikut klub ini?” ucap Rona

“Tujuan gue yang pasti pengen rekreasi, dan juga untuk membantu teman gue yang kesusahan saat mencari anggota klub ini,”

*BLUUURRBBBB!

Aldo menyemburkan minuman yang baru ia minum.

“Bwaha! Apa-apaan!” ucap Aldo

“Bener kan?” ucap Michelle

“Jujur banget, oke…selanjutnya,” ucap Rona

“Dih, gak ada yang marah karena itu?” ucap Aldo

“Ngapain juga marah? Udah cepetan perkenalan! Kita mau rapat nih!” ucap Yona

“Beh…,” Aldo pun berdiri

“Nama…Aldo-Gilindra-Abiyoga…,”

“Hah? AbiYona?” ucap Yona

“Geeezz…lain kali gw bawa kak Yona ke THT secara paksa ya?” ucap Aldo

“Pffft…bercanda, lanjutkan!” ucap Yona

“Tujuan gw karena…untuk membantu teman kelas yang kesusahan mencari anggota untuk klubnya,”

“HEY! Itu kan sama aja kayak dia tadi!” ucap Ayana

“Emang bener kan?” ucap Aldo lagi

“Hmph!” Ayana tampak acuh

“Oke-oke…kalau gitu cepet selesain makannya, kita mau rapat,” ujar Rona

 

To Be Continue…

Author : Shoryu_So

 

 

 

#Bonus PIC

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s