18+

Sebelumnya, ini adalah cerbung yg bergendre actions. Kenapa judulnya 18+ jadi gini karena pembuatnya gak kreatif dan gak jago dalam hal hal bersajak. Jadi gini aja lah yah biar simpel.

Oke balik ke topil, jadi intinya  bakal ada adegan kekerasan yg sedikit brutal. Jadi yg suka dengan gendre actoins cocok deh.

Oke tanpa berlama-lama lagi kita langsung cekicrot oke.

Selamat membaca.

 

 

~PART 1~

 

Waktu saat itu: 14-01-1998

 

—-0o0—-

RABU: 23.15 WIB

 

“uwaa….! uwaa….!

 

Terdengar suara tangisan seorang bayi, dari sebuah desa yg konon dirahasiakan nama dan tempatnya.

Desa tersebut terletak di sebuah hutan yg amat luas dan terpencil. cukup jauh dari penjuru kota.

 

tepat disalah satu tempat yg cukup sederhana, dimana geribik sebagai dinding, alang-alang sebagai atap, juga lampu sentir sebagai alat penerangan tempat tersebut.

terlihat seorang wanita tua yg kala itu tengah membantu proses pelahiran seorang bayi.

tepatnya.. wanita tua tersebut adalah seorang dukun di desa itu.

 

tiba-tiba….

 

“a… apa ini? apa yg terjadi dengan tubuh ku, mengapa tubuhku bergetar begitu hebat” batin wanita tua itu.

wanita tua tersebut merasakan sesuatu yg tidak biasa baginya, Namun wanita tua itu hanya memilih untuk diam.

tepatnya merahasiakan apa yg telah ia rasakan.

 

“aa… anak kita mas……” ucap wanita muda itu terharu.

“i… iya sayang…… aku masih tidak menyangka, kalau aku akan menjadi soerang ayah dari anak kita” ucap lelaki muda tersebut.

“sungguh anugrah Tuhan telah mengijinkan ia untuk lahir kedunia ini, terima kasih Tuhan atas kebahagiaan yg telah Engkau berikan ini kepadaku dan istriku” ucap lelaki muda tersebut dalam hati sambil terus melihat kearah sang bayi.

“mas………” lirih wanita muda itu perlahan sambil melihat arah sang bayi yg kini berada di sampingnya.

“i… iya… sayang?” balas pria itu yg masih terlihat kegirangan atas apa yg telah ia lihat.

“menurut mas… kita namai apa anak kita mas?” tanya wanita muda yg sedang mengusap-usap lembut kening bayinya itu.

“ehh..? emmm… sebaiknya kita tidak perlu menamainya dengan nama dari keturunan kita, karena aku tidak ingin sampai ada orang-orang yg tahu kalau anak kita keturunan dari buyutnya yg seperti itu” jelas lelaki muda itu.

“ahh..? iya mas… aku juga tidak menginginkannya, bagaimana kalau kita namai anak kita seperti orang-orang yg ada dikota saja mas” ucap wanita muda itu.

“ummm…. maksut kamu?” tanya lelaki muda itu yg terlihat agak bingung.

“ya… kita namai saja dia seperti dea” jelas wanita muda itu.

Ya. Bayi yg ia lahirkan adalah seorang bayi perempuan.

“lalu apa kepanjangaan namanya” tanya lelaki muda itu.

“yupia kaenya bagus. ummm… dea yupia kaenya bagus mas” ucap wanita muda itu tersenyum sambil melirik kearah suaminya.

“umm.. menurutku bagus tapi kurang keren, karena kesan kotanya masih kurang” jelas lelaki muda itu lagi.

“lalu?” ucap wanita muda itu bingung.

“bagaimana kalau yupia menjadi Yuvia, jadi Dea Yuvia” ucap lelaki muda itu sambil senyum-senyum tidak jelas kepada istrinya tersebut.

“aku mau menyelipkan satu nama dibagian depannya mas… jadi Cindy Dea Yuvia” ucap wanita muda itu tiba-tiba.

“Nah itu!!! Cindy Dea Yuvia” ucap lelaki itu bersemangat.

“iya mas…” ucap wanita muda itu sambil tersenyum.

 

-ditempat lain-

 

“sudah kuduga, ternyata memang benar ada apa-apanya dengan bayi itu, dan mereka seperti menyembunyikan sesuatu” ucap wanita tua dalam hati.

tanpa mereka sadari, diam-diam wanita tua tersebut menguping pembicaraan pasangan muda tersebut dari arah dapur.

 

—-0o0—-

 

(14-01-2000)

Jum’at 16:00 WIB

 

tepat pada saat Cindy Dea Yuvia berumur 2th, kini ia mendapat julukan baru yaitu Yupi. yah dia mendapat julukan itu dari teman-teman bermainnya.

sore itu langit begitu terlihat sangat cerah dari biasanya, sinar matahari pun masih memancar dengan sangat terangnya.

di area seperti taman ini, dengan banyaknya pepohonan besar. sungai kecil, dan halaman rumput yg begitu luas.

terlihat beberapa anak-anak sedang bermain, dan tertawa menghabiskan sore di tempat yg terlihat seperti taman itu. di area tumpukan pasir disisi sungai itu, terlihat juga beberapa anak yg sedang sibuk dengan pasirnya. ada yg membentuknya seperti rumah, ada juga yg hanya mumbuat lubang saja. dan ada juga yg membuat tumpukan pasir dengan berbentuk seperti kue. Ya sebuah kue pasir, karena mereka sedang berlaga seakan-akan sedang main masak-masakan layaknya seorang Chef.

tidak jauh dari mereka terdapat sebuah sungai yg mengalir tenang, dengan hanya kedalaman airnya sekitar 50cm dengan banyaknya batuan bulat dengan berbagai ukuran disana.

Tiba-tiba temannya itu mempunyai niat jahil terhadap yupi, dan langsung saja anak tersebut mengambil ranting tersebut yg sedang mengalun pelan di atas air sungai tersebut.

“uh… uh… akilnya keangkep kayunya” ucap anak itu.

anak itupun mencoba melancarkan niat jahilnya kepada yupi, lalu dengan perlahan-lahan ia mendekatkan ranting itu kearah bagian rambut yupi.

“umm… udah jadi nih rumah pasirnya. tinggal ambil air buat kolam renangnya” gumam yupi.

 

Tiba-tiba….

 

“Awww….!!!!”

 

suara teriakan itu berhasil mengejutkan teman-temannya yg ada ditempat itu.

“ma… maapin aku yupi. aa… aku gak cengaja” ucap anak itu terbata.

“Aa… aaapa yg ka.. kamu la… kukan ri.. rian” ucap yupi terbata-bata sambil berusa menarik ranting tersebut yg saat ini menancap tepat di bagian mata kirinya.

sambil terus berusaha mencabut ranting tersebut, dan sedari tadi darah dari mata itu terus mengucur begitu derasnya.

“Yupi? aku pangilin orang tua kamu ulu ya” ucap anak itu yg bernama rian.

rian pun berlari dari tempat itu dengan perasaannya bersalah.

sedangkan yupi hanya berusaha mencoba untuk terus mencabut ranting yg telah menerobos masuk ke mata kirinya.

berbagai cara telah ia lakukan, namun tetap saja usahanya selalu gagal. dan makin membuat darah yg ada dimatanya semakin deras mengalir.

Yupi pun kini tersungkur di tempat tumpukan pasir tersebut sambil terus memegangi ranting yg masih menancap di matanya itu.

 

—0o0—

 

“Om….! om…! teriak anak yg bernama rian tersebut.

“ada apa nak, udahan yah mainnya” jawab ayah yupi.

“aa… aanu.. om” bicara rian sangat gugup dan takut jika orang tuanya yupi marah padanya kalau sampai tau kalau rian sudah membuat yupi celaka.

“anu apaan rian?” ucap ayah yupi penasaran sambil memegangi kedua bahu rian.

“yu… yupi om” ucap rian makin takut.

“iya yuvi kenapa? dia nakal yah sama kamu” ucap ayah yupi sambil mengelus kening rian.

“tolongin yupi om” ucap rian tiba-tiba.

“yuvi kenapa emangnya! dimana dia?” ucap ayah yupi yg tiba-tiba terkejut.

tanpa membalas pertannyaan dari ayah yupi, rian langsung saja menarik tangan ayahnya yupi ke tempat bermainnya bersama yupi tadi di sebuah tumpukan pasir dekat sungai kecil tersebut.

 

————-

 

saat sampai di tempat itu ayahnya yupi dan rian pun tidak melihat seorang anak pun di tempat itu.

“yuvi nya mana rian? kan tadi mainnya sama kamu” tanya ayah yupi yg mulai cemas.

“ta… tadi dicini kok om, be.. beneran dia dicini tadi” ucap rian terbata sambil terus melihat sekeliling.

“oke, sekarang kamu pulang aja. biar om yg cari yuvi, kamu ngerti?” ucap ayah yupi dan menyuruh rian untuk tidak ikut membantunya mencari yupi.

rian pun hanya mengangguk. sambil menangis ia pun berlari pulang ke rumah dengan rasa bersalah yg menyelimutinya.

 

YUVI…..!

YUVI….!

NAKK….

KAMU ADA DIMANA NAK…!!!

 

teriak ayah yupi dikala itu yg sedang mencari-cari keberadaan yupi disekitar tempat tumpukan pasir itu.

perasaan khawatir kini menyelimuti ayahnya yupi yg sekarang terlihat begitu benar-benar sangat cemas dengan anaknya itu.

tanpa sengaja di dekat tumpukan pasir yg berbentuk seperti rumah itu, ayahnya yupi melihat seperti bekas tumpahan darah yg menetes di dekat tumpukan pasir itu. karena ia penasaran, ia lalu mencubit pasir yg merah itu dan mencium baunya. dan benar saja itu bekas darah.

“ini bekas darah siapa?” gumam ayah yupi.

“ah…! tidak penting ini darah siapa, sepertinya aku harus meminta bantuan warga untuk mencari anaku” gumam ayah yupi yg kala itu rasa kekhawatiran terhadap anaknya itu makin kuat, sampai-sampai tanpa sadar ayahnya yupi menitihkan air matanya perlahan sambil berlari ke pusat desa untuk meminta bantuan.

 

———–

 

kini hari pun mulai gelap, namun yupi belum juga di temukan oleh warga yg membantu pencarian.

isak dan tangis pun tidak terelakan, rasa khawatir dan cemas semakin kuat menyelimuti ibunya yupi yg dikala itu yg memang ikut dalam rombongan warga.

tujuannya hanya satu, yaitu untuk mencari keberadaan anaknya yg sampai saat ini belum juga ditemukan.

“mas… yuvi mas…. anak kita mana mas….” ucap ibunya yupi yg masih meneteskan air matanya.

“iya sayang… sabar yah, yuvi pasti ketemu kok” ucap suaminya tersebut berusaha menenangkan istrinya.

“kamu dimana nak..” ucap ayahnya yupi dalam hati sambil memeluk istrinya yg kala itu tengah menangis dan diliputi rasa cemas.

 

———

 

-ditempat lain-

 

“dok…! tolong dok…! tolong dia dok” pinta wanita paruh baya itu kepada dokter.

“iya bu, ibu bisa tunggu anaknya di luar saja yah” ucap dokter tersebut.

wanita paruh baya tersebut hanya bisa mengangguk, mungkin karena perasaan yg sangat khawatir dengan gadis kecil itu.

 

To Be Continue…

Iklan

2 tanggapan untuk “18+

    1. haha iya bang 😀

      BTW makasih yah bang, udah mau mampir dan komen di cerita ane…

      jangan lupa tungguin part – part berikutnya yah…

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s