I got sunshine in my pocket, Part 2

Cerita ini memiliki plot yang tidak linear.

Meski perkenalan kami berdua tak meninggalkan kesan yang terlalu baik, tapi aku berniat menjadikan Jinan temanku. Dengan terjebaknya aku ditempat antah berantah ini aku butuh seorang teman untuk menghabiskan waktu bersama. Lagi pula aku tak punya banyak pilihan. Kakek dan paman Didi menghabiskan waktu dengan percobaan mereka, meninggalkanku dengan satu satunya pilihan yang tersisa yaitu Jinan.

Pagi ini aku berniat untuk mengenal Jinan lebih jauh, bagaimana dia menghabiskan harinya ditempat ini, bagaimana dia bertahan, dan juga hal menarik apa yang bisa dilakukan disini. Begitulah rencananya, tapi semenjak pagi aku tak menemukan keberadaannya. Aku mencoba berkeliling untuk mencari tahu, tapi aku tak menemukan jejak keberadaannya.

Aku ingin bertanya pada paman Didi tapi nampaknya dia dan kakek sedang sangat serius melakukan percobaan mereka. Sejak pagi mereka sudah mengunci diri mereka di ruang kerja paman Didi,  nampaknya paman Didi juga tak mengijinkan Jinan masuk ke ruang kerjanya saat dia bekerja.

Setelah capek berkeliling tanpa mendapatkan hasil, aku memutuskan untuk menyerah dan  menonton TV di kamar. Setelah beberapa menit mencoba untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tak tertarik untuk menonton TV. Jangan salahkan aku, TV nya hanya punya satu channel, dan aku bukanlah pengemar animasi naga terbang delapan dimensi.

Dengan dicoretnya TV dari daftar kegiatan yang menyenangkan, bagaimana Jinan bisa menikmati harinya ? menjelajah hutan ? tentu saja bodohnya aku, Jinan bukanlah gadis biasa. Dia gadis dengan kadar testoterone berlebih yang membuatnya lebih macho dari seorang mekanik kapal tempur, jika aku tak bisa menemukannya disini maka hutan adalah satu satunya tempat dia menghabiskan hari.

Baiklah ku akui bahwa masuk sendirian kedalam hutan yang bahkan tak kupahami adalah ide bodoh. Aku sudah berjalan cukup jauh kedalam hutan, dan aku sudah tak tahu aku ada dimana. Hutan ini membingungkanku,semua pohon terlihat sama, batang mereka tinggi dengan daun yang lebat.Aku rasa aku tersesat, didalam hutan dihari keduaku disini. Rekor yang hebat..

Aku berbalik arah dan berusaha mengambil jalan yang sama dengan jalan yang kulalui saat masuk kedalam hutan.Tapi itu tak banyak membantu karena sekarang aku tak tahu apa aku masih ada di hutan yang sama. Deretan batang pohon berubah warna menjadi hitam, dengan daun kering yang berguguran.Ini belum musim gugur, yang membuat tempat ini aneh.

“Jinan !!!” teriakku putus asa, jika dia ada didalam hutan ini dia pasti tahu caranya keluar dari sini.

Tenangkan dirimu Jo, kau pernah berada disituasi yang lebih buruk, ingat petualangan “menyenangkan” bersama kakek di Sanfa Fe ?

“Jinan !!!”

Aku berteriak memanggil namanya, saat ini aku lah yang tak tahu arah dan butuh pertolongan.Aku pasti kelihatan sangat tidak keren, dan jika Jinan melihatku dia pasti akan tertawa.

Aku berhenti dan coba memikirkan pilihan yang aku punya. Pertama, jika aku terus berjalan ada kemungkinan aku akan menemukan jalan keluar, tapi ada kemungkinan aku akan semakin jauh tersesat dihutan ini. Pilihanku yang lain adalah mencari keberadaan Jinan, itu termasuk berteriak memanggil namanya, berharap dia akan mendengarku kemudian dia bisa menunjukan jalan keluar dari sini. Saat kami berjalan keluar dari hutan ini aku bisa mengajaknya berbicara, dan saling mengenal satu sama lain.

Jadi manakah yang harus kupilih berjalan mencoba mencari jalan keluar, atau berteriak memanggil seorang gadis dan kemungkinan terlihat tidak keren didepannya. Saat aku sedang sibuk memikirkan pilihan yang akan menentukan nasibku, sesuatu mengenai kepalaku, aku melihat ke bawah dan itu adalah gumpalan kertas yang diremas bulat. Aku mendongkakan kepalaku dan disanalah Jinan sedang tertawa melihatku, kali ini dalam balutan celana kargo panjang berwarna hitam dan kaos putih tanpa lengan. Dia sedang berdiri disebuah cabang besar dengan senyum memenuhi wajahnya, kemungkinan dia melihatku saat tadi aku kelihatan menyedihkan.

“Jinan !!” ucapku sedikit berteriak karena rasa senang yang memenuhi otakku.

“Kau terlihat menyedihkan, lagi pula apa yang anak kota lakukan didalam hutan seperti ini ?” aku bisa merasakan hinaan dalam ucapannya, tapi rasa senang yang kurasakan jauh lebih besar.

“Bisakah kau turun ? aku ingin bicara,”

“Jika kau ingin bicara naiklah keatas, itu pun kalau kau bisa,”

Lagi lagi aku merasakan hinaan dalam ucapannya, didorong oleh keinginanku untuk bisa bicara dengannya dan juga sedikit perasaan terhina akupun melompat mencoba memanjat pohon itu, pohon besar dan licin dan sulit dipanjat.

“Dasar anak kota, katanya laki kok nggak bisa manjat, cemen nih manjat pohon aja nggak bisa.” Itu adalah sedikit dari hinaan yang dilemparkan oleh Jinan dari dahan pohon.Aku sebagai sasaran tembak tak bisa membalas karena memang aku kesulitan memanjat batang pohon ini.Batang pohon ini begitu lurus dan licin, aku hampir jatuh beberapa kali karena kehilangan pijakan kecil yang ada dibatang pohon.

Jadi setelah beberapa hinaan tambahan, dan wow aku tak pernah menyangka kalau bahasa yang digunakan Jinan bisa begitu berwarna, serta beberapa ons lebih usaha aku berhasil mencapai dahan besar tempat Jinan duduk.Dia menyambutku dengan senyuman kecil yang meruncing diujung bibirnya, dari tatapannya aku mengira dia bahkan tak mengharapkanku untuk bisa sampai keatas sini.

“Lumayan anak kota,”

“Berhentilah memanggilku anak kota,itu terasa seperti sebuah hinaan,”

“Kau harus santai sedikit, aku hanya sedang bercanda denganmu.”

“Aku hanya…”

“sttt, coba kau perhatikan hadiah atas jerih payahmu naik keatas sini,”

Aku mengalihkan pandanganku kearah jari telunjuknya menunjuk, dan aku terkesima oleh pemandangan yang kulihat. Hutan ini adalah salah satu hal terindah yang pernah ku lihat. Berada dibawah seorang gadis cantik bernama Dhike, dan diatas taco selai kacang dan jelly yang merupakan pilihan toping di Pizza Planet.

Dari atas dahan aku hampir bisa melihat seluruh wilayah hutan, dari atas sini juga aku bisa melihat rumah Jinan.Aku sudah tersesat begitu jauh dari rumahnya, pantas saja aku tak mengenali wilayah hutan ini. Pohon yang kami naiki berada dikawasan aneh yang merupakan satu satunya bagian hutan yang menghitam.Wilayah hutan lain terlihat hijau, hanya tempat dimana aku duduk sekarang yang menjadi hitam.

“Kenapa wilayah ini menghitam ?” ucapku menanyakan hal pertama yang terlintas dipikiranku.

“Aku nggak tahu, aku menemukan tempat ini nggak sengaja waktu nyari kumbang tanduk,”

“Apa kau kesini setiap hari ?”

“Maksudnya ?”

“Maksud ku, karena TV yang ada dikamar rusak dan nampaknya tak ada hal lain yang bisa dilakukan, apakah kau menghabiskan waktumu setiap hari disini ? duduk diatas pohon ini sendirian ?”

“A….aku suka berada disini, disini aku bisa melakukan banyak hal…”

“Banyak hal ?”

“Ya..kau bisa melihat banyak hal yang terjadi dihutan dari sini, pertarungan tupai, burung elang yang terbang sambil makan ular, kau juga bisa mendengarkan banyak suara aneh dari sini.”

Aku mengalihkan pandanganku kearah Jinan, dia begitu berbeda dari kemarin saat dia mengancamku dengan pemukul kayu miliknya.Dia tertawa saat menceritakan soal pertarungan tupai, padahal kami tidur dikamar yang sama kemarin dan tak sekalipun dia tersenyum. Bukan aku tak mencoba, aku menceritakan tempat tempat yang pernah ku datangi bersama kakek dulu, tapi dia tak bergeming oleh semua ceritaku, dan hanya menatapku datar. Lalu sekarang dia sedang menceritakan pertarungan antar tupai dan dia tersenyum, dengan kata lain semua ceritaku kalah menarik dari adu cakar dua ekor tupai. Hidup ini memang aneh.

Beberapa tahun kemudian

“Bangun, bangun sayang,” ucap gadis cantik yang sedang tersenyum kepadaku.

“Morning cupcakes,”

Entah sejak kapan aku dan Jinan saling memanggil satu sama lain dengan kata sayang, dan panggilan mesra lainnya. Kami hanya tinggal bersama tanpa pernah memutuskan apakah hubungan yang kami jalani, mungkin karena kami berdua hanya memiliki satu sama lain sekarang.

Aku dan Jinan melakukan rangkaian aktivitas yang selalu kami lakukan dipagi hari semenjak beberapa waktu yang lalu. Setelah mandi aku akan bergabung dengannya diruang tengah untuk sarapan, sambil menonton acara kartun pagi hari.

“Tangkap.” Ucapnya saat melempar sekotak kue coklat padaku.

“Kue coklat ? tanpa susu ?”

“Habis, nanti bawa susu ya pas pulang,”

“Iya, geser dulu,” aku duduk disampingnya, aku membuka sarapanku dan ikut menikmati kartun pagi bersama Jinan.

Meski aneh saat memikirkan bahwa ditengah banyaknya monster yang berkeliaran bebas merubah orang menjadi monster, mereka masih menyiarkan acara kartun dipagi hari. Sebuah keanehan yang menyenangkan, bagiku dan bagi Jinan yang sedang menikmati Bob’s Burger disebelahku.

Rangkaian acara kartun itu selalu berakhir tepat jam 10 pagi. Setelah itu aku akan Jinan mencari sesuatu untuk dimakan, stock makanan begitulah orang biasa menyebutnya. Aku dan Jinan bukanlah orang yang pilih pilih untuk makanan, terlebih setelah aku menghancurkan dunia ini dengan melepaskan tujuh iblis ke dunia. Jadi kami pun berburu hewan dihutan, terkadang kami mendapatkan kelinci, babi, atau monyet. Jika kami sedang tidak beruntung kami akan memancing ikan, karena selalu ada ikan di danau.

Beberapa waktu yang lalu aku menemukan sebuah busur model crossbow dan beberapa anak panah saat berkeliling membunuh para monster jelek dikota. Karena aku tak bisa mengunakan mereka maka senjata itu menjadi milik Jinan. Dia belajar dengan cepat mengunakan mereka, dan sekarang tiap pagi kami berburu dan dia selalu bisa menembak sesuatu dengan itu.

 

Beberapa waktu yang lalu

Beberapa hari yang lalu aku menemukan sebuah kota yang telah ditinggalkan, dan ini kami kehabisan stock makanan sehingga kami terpaksa pergi ke kota itu. Mengambil apa saja yang bisa kami temukan, makanan kering, roti, makanan kaleng, apa saja yang bisa dimakan.

Aku sudah membuang semua moral tentang apa yang boleh dan tak boleh dilakukan, apa gunanya semua itu saat kau punya monster yang berkeliaran merubah orang orang menjadi monster.

Aku harus bertahan hidup cukup lama untuk membunuh semua monster itu, ini adalah kekacauan yang kubuat, dan aku tak peduli apa yang harus kulakukan dan kukorbankan untuk itu.

Ini kota yang cukup besar, aku sudah memastikan tak ada siapapun disini beberapa hari yang lalu. Dari kekacauan yang tertinggal, aku rasa ini kota yang ramai sebelum semua orang meninggalkan nya begitu saja.

“Itu sebuah toserba,”

“Mana ?”

“Itu,”

Sebuah toko serba ada, mungkin terdengar berlebihan tapi itu adalah tempat yang bagus untuk memulai. Jika toko itu sesuai namanya maka kami akan menemukan banyak barang yang bisa kami bawa.

“Tetap dibelakangku, mungkin ada monster yang bersembunyi didalam.”

“Aku tahu Jo, kau selalu mengatakan itu,”

“Ya aku tahu,”

Dengan sebuah kapak aku mulai masuk ke dalam toko, meski tak terlalu berguna melawan para monster, tapi cukup bagus untuk memotong mereka. Beberapa hari yang lalu aku belajar, meski kau tak bisa membunuh mereka tapi mereka butuh waktu untuk memulihkan luka. Jika aku bisa memotong salah satu kaki atau leher mereka, maka aku dan Jinan punya cukup waktu untuk kabur.

Kondisi toko cukup berantakan, rak rak yang sudah dijarah, pecahan kaca dan barang barang berserakan dilantai. Nampaknya bukan hanya kami berdua yang punya ide untuk menjarah toko ini.

“Ini ambil apa saja yang berguna,” aku memberikan sebuah keranjang belanja kepada Jinan, dan kami mulai mengambil barang yang tersisa. Meski toko ini telah dijarah tapi masih banyak barang yang bisa kami ambil, makanan kaleng lah yang paling banyak tersisa, diikuti oleh beberapa makanan cepat saji.

Lalu sebuah etalase menarik perhatianku, sebuah etalase yang terletak tepat dibelakang meja kasir. Dibalik kotak kaca itu ada sebuah panah model crossbow dan sekotak anak panah.

“Toko ini benar benar serba ada,” ucap Jinan yang membawa keranjang penuh dengan makanan.

“Kenapa tak ada yang mengambilnya ? maksudku itu senjata yang bagus,”

“Sudah lah sekarang itu milik kita,”

Jinan meletakan keranjang yang dibawanya keatas meja, dia lalu memukul etalase kaca itu dengan pemukul kayu miliknya.

“Kau bisa memakainya ?” tanya Jinan sambil mengangkat busur yang baru di dapatkannya.

“Tidak ?”

“Berarti mereka milikku.”

Beberapa tahun kemudian

Jinan tiba tiba berlari menembus semak, dia pasti melihat sesuatu dan aku pun mengikutinya untuk memastikan tak terjadi apapun. Aku kesulitan mengikuti laju lari Jinan, dia tak kesulitan menembus semak belukar sambil membawa busur dan anak panah. Sementara aku tampak menyedihkan jika dibandingkan dengannya.

Saat akhirnya aku bisa menembus rangkaian semak belukar dengan memotong sebagian besar dari mereka, Jinan berdiri disana memegang dua ekor monyet dengan anak panah menembus kepala mereka.

“Kau tahu Sup monyet pedas terdengar enak,” ucap Jinan dengan senyum lebar diwajahnya, entah karena dia bangga akan hasil buruannya, atau karena dia benar benar ingin makan sup monyet.

“Kita sudah makan sup monyet dua hari yang lalu,” protesku, meski tak pilih pilih tapi makan daging monyet terus terusan itu membosankan.

“Jo, kau bilang kita nggak boleh milih milih makanan,”

“Iya tapi…”

“Ya udah nanti kamu mampir di supermarket, kita makan mie aja,”

Jinan memasukan kedua monyet itu ke dalam tas dengan ekspresi wajah datar.

Ini masih pagi Jo, jangan buat harinya menjadi buruk.

“Hei, mungkin sebaiknya mengambil saus BBQ saat ke supermarket,”

“Terserah…”

“Monyet panggang saus BBQ terdengar enak.”

Jinan mengangkat wajahnya dan menghampiriku dengan wajah yang berbinar.

“Benarkah ?”

“Tentu, sekarang ayo pulang,”

Aku merangkulnya dan pagi berjalan kembali ke kabin kecil milik kami, Jinan berjalan dengan sedikit melompat dan bersenandung. Bertahun tahun lalu aku tak pernah membayangkan bahwa monyet panggang lah akan membuat seorang gadis senang.

Kami hanya perlu beberapa menit untuk sampai ke kabin, karena itu terletak dipinggir danau ditengah hutan. Beberapa tahun lalu kami menemukan tempat ini, saat itu kami tak punya tempat tinggal setelah rumah Jinan hancur terbakar. Ada seorang gadis yang tinggal di kabin saat kami menemukannya, dia menyambut kami dengan hangat.

Beberapa tahun lalu

Sudah beberapa bulan sejak aku melepaskan tujuh iblis dan para monster ke dunia. Aku telah bersumpah pada diriku sendiri untuk membunuh semua monster yang telah kulepaskan ke dunia, termasuk tujuh iblis yang melepaskan mereka. Tapi para monster itu tak bisa ku bunuh dengan senjata, aku mencoba menusuk, memotong dan menembak mereka tapi mereka terus bangkit sehingga aku hanya bisa lari.

Beberapa hari yang lalu aku membuat perjanjian dengan seorang iblis bernama Belial, dia memberikanku sebuah belati hitam yang menjadi satu satunya senjata yang bisa kugunakan untuk membunuh para monster itu, secara permanen.

Meski Jinan menentang perjanjian yang kulakukan dengan Belial, tapi aku tetap melakukannya. Aku harus membunuh semua monster itu, aku butuh cara untuk membunuh mereka, aku juga butuh senjata untuk melindunginya. Mungkin itu lah alasan utama aku membuat perjanjian dengan seorang iblis untuk menghancurkan iblis yang lain.

Kami terus berpindah tempat mengikuti jejak monster yang terus memperbanyak dirinya, dari kota ke kota, satu persatu aku berencana membersihkan semua tempat dari mereka. Meski begitu aku telah memikirkannya, aku harus menemukan tempat untuk tinggal. Pergi dari satu tempat ke tempat itu melelahkan, paling tidak aku tahu bahwa itu sangat melelahkan untuk Jinan. Tak hanya secara fisik, aku tahu bahwa Jinan kelelahan secara mental.

Dia baru saja kehilangan Ayahnya, dan sekarang harus ikut denganku berusaha memperbaiki kesalahan besar yang aku buat. Beberapa bulan lalu dia masih bersantai diatas pohon menonton pertarungan antar tupai, sekarang dia terjebak denganku dan masalah yang aku buat. Aku telah berjanji melindunginya, dan itu akan percuma jika dia harus menderita. Paling tidak dia tak harus menderita secara mental.

Jinan masih memandang keluar jendela tanpa bicara sepatah kata pun, dia berhenti bicara denganku setelah aku membuat perjanjian dengan Belial.

“Hei, aku telah memikirkannya, bagaimana kalau kita menetap di suatu tempat…”

“Menetap ? Jo, bukankah kau bilang kau ingin membunuh semua monster itu. Karena itu lah kau membuat perjanjian dengan Iblis itu.”

Aku tak bisa menyembunyikan perasaan senangku saat Jinan akhirnya berbicara lagi denganku. Meski aku sadar itu didorong oleh amarahnya, tapi mendengar suaranya lagi itu sesuatu yang terasa manis.

“Jee, aku tahu kau marah tapi…Aku akan tetap membunuh mereka semua, aku hanya ingin paling tidak kau…kau…bahagia,”

“Bahagia !!! JO, Ayah ku kehilangan kepalanya karena semua ini. Lalu…lalu kau menyuruhku bahagia !!!”

“Aku hanya…”

“Hanya apa ? setelah banyak orang yang mati kau baru merasa sedih, karena kau baru sadar jika kau lah yang membunuh mereka….”

“Aku peduli padamu, aku…”

“JO awas !!!”

Ditengah jalan berdiri seekor monster, aku tak sempat menghindarinya. Aku menabraknya, membuat mobil yang kami naiki tergelincir, menabrak pembatas jalan dan terjun bebas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s