Noor, part 3

“Aku pulang!” seru Melody saat memasuki rumahnya.

“Kok sepi?” batin Melody lalu berjalan ke ruang tengah.

“Loh? Kok kamu nggak ikutan tidur sin?” tanya Melody saat melihat Sinka yang duduk sendirian menonton TV.

“Siapa yang tidur? Mereka tepar, kecuali Yupi yang emang ketiduran,” jawab Sinka melirik Yupi yang tidur di sebelahnya.

Melody hanya menggeleng pelan melihat Rezza, Gre dan Najong yang tergeletak tak berdaya di atas lantai. Ia menghela nafas lalu berjalan ke kamarnya yang berada di lantai dua.

“Mereka kenapa?” tanya Naomi yang muncul dari pintu penghubung antara dapur dan garasi.

“Tepar,” jawab Sinka menoleh ke arah Naomi.

“Tepar? Emang mereka abis ngapain?” Naomi berhenti di sebelah Sinka dan menatap Rezza, Gre dan Najong yang tergelat di atas lantai.

“Catur, tapi pake minum-minum gitu, aku gatau,” Sinka memiringkan bibir dan mengangkat kedua bahunya.

“Ohh…,” Naomi mengangguk paham lalu menoleh ke arah Sinka. “Itu namanya Shot Glass Chess, kamu nggak ikutan kan?”

“Enggak kok, aku cuma liatin mereka main tadi,” Sinka menggeleng dengan polosnya.

“Yaudah, aku ganti baju bentar, abis itu kita makan sama-sama,” ucap Naomi lalu berjalan ke kamar Melody.

~oOo~

“Kamu nggak makan dari tadi?” tanya Melody menatap Sinka dengan heran.

“Enggak, cuma ngemil di rumah Gre sama bakar sosis pas yang lain renang,” jawab Sinka lalu kembali makan dengan lahapnya.

“Maafin aku ya mi, semuaya malah jadi kebalik gini, bukannya Sinka yang dijagain tapi malah dia yang jagain mereka semua,” ucap Melody menoleh ke arah Naomi yang duduk di sebelahnya.

“Kamu nggak perlu minta maaf mel, tadi di rumah aku juga kasih tau Sinka gitu, tapi dia tetep pengen ikut ke sini,” Naomi tersenyum ke arah Melody.

“Mafain aku ya sin,” Melody menatap Sinka dengan wajah bersalah.

“Gapapa kok kak, aku malah seneng bisa langsung punya banyak temen kaya gini,” ucap Sinka tersenyum riang.

Kemudian mereka bertiga kembali memakan nasi goreng yang tadi Naomi beli saat perjalanan pulang.

“Oiya kak, tadi aku liat di punggung Rezza kaya ada gambar-gambar gitu, itu apaan? Tanda lahir?” tanya Sinka yang baru selesai makan.

Melody dan Naomi terkekeh mendengar pertanyaan Sinka yang begitu polos.

“Yakali tanda lahir bentuknya bisa pas sepunggung gitu, itu tattoo kepala singa,” jawab Melody tersenyum.

“Hah? Kok dia bisa diterima pas daftar? Bukannya anak sekolah itu gaboleh kalo kaya gitu?” Sinka menatap Melody dengan heran.

“Ya bisa lah, dia kan bikin tattoo-nya pas naik kelas 2 kemaren, kalo boleh sama enggaknya sih aku gatau, mungkin sekolah belom tau kalo Rezza punya tattoo,” jawab Melody sambil mengangkat kedua bahunya.

Sinka hanya mengangguk paham mendengar jawaban Melody.

“Gre di sini ya?” tanya seorang perempuan paruh baya yang baru masuk ke rumah Melody dari pintu samping.

“Iya tante, itu lagi tidur di ruang tengah,” jawab Melody menunjuk ke runag tengah.

Kemudian perempuan itu berjalan ke ruang tengah.

“Siapa mel?” tanya Naomi yang baru keluar dari toilet.

“Mamanya Gre,” jawab Melody.

“Mereka abis minum-minum lagi?” mamanya Gre kembali lagi ke ruang makan.

“Iya tante, gatau kenapa akhir-akhir ini mereka sering banget minum-minum, padahal udah sering aku kasih tau buat jangan terlalu sering, tapi tetep aja dilakuin,” jawab Melody menggeleng pelan.

“Yaudah kalo gitu, tante pulang dulu, Gre biar tidur di sini aja,” ucap mamanya Gre tersenyum.

“Eh? itu adek kamu?” lanjut mamanya Gre menatap Naomi.

“Iya tante,” Naomi mengangguk sambil tersenyum.

“Siapa namanya?” tanya mamanya Gre menjulurkan tangannya pada Sinka.

“Sinka Juliani, tante,” jawab Sinka menyalami tangan mamanya Gre.

“Cantik ya kaya kakaknya,” goda mamanya Gre.

“Ah, tante bisa aja,” ucap Naomi tersenyum malu.

“Tante pulang dulu ya, kapan-kapan main ke rumah,” kemudian mamanya Gre berjalan menuju pintu di mana ia masuk.

“Salam buat om,” ucap Melody menatap mamanya Gre.

Mamanya Gre berhenti dan tersenyum sebentar ke arah Melody lalu kembali berjalan.

“Aku tidur duluan ya mel,” Naomi berdiri lalu menguap sambil merenggangkan badannya.

Melody hanya mengangguk pada Naomi.

Kemudian Naomi berjalan menuju lantai dua.

“Aku tidur di kamar Rezza ya!” teriak Naomi sebelum masuk ke kamar Rezza.

“Kamu udah ngantuk belum sin?” tanya Melody menoleh ke arah Sinka yang sedang memakan apel.

Sinka menggeleng dengan polosnya.

“Yaudah, yuk bantu angkat Yupi ke kamar aku, sekalian ambil selimut sama bantal buat yang lain,” Melody berdiri lalu berjalan menuju ruang tengah.

Sinka yang masih terus memakan apel hanya mengangguk dan mengikuti Melody.

“Yup,” ucap Melody sambil mengguncang tubuh Yupi yang tiduran di sofa.

“Hmmm,” Yupi hanya bergumam dan mengubah posisi tidurnya.

“Langsung angkat aja sin, kamu taroh dulu apelnya,” suruh Melody.

Sinka langsung membantu Melody mengangkat Yupi setelah meletakkan apelnya ke atas meja.

“Yupi kecil-kecil gini berat juga ya,” keluh Sinka setelah merebahkan tubuh Yupi ke kasur Melody.

“Emang, makanya aku minta bantuan kamu soalnya kalo sendiri aku nggak kuat,” ucap Melody sambil menyelimuti tubuh Yupi.

“Yaudah kamu bawa bantalnya, bair aku yang bawa selimut,” lanjut Melody berjalan ke arah lemari.

Melody membuka lemari itu dan mengambil tiga selimut, sedangkan Sinka mengambil tiga bantal dan menyusul Melody yang sudah berjalan ke bawah.

Setelah selesai memberikan bantal dan menyelimuti Rezza, Gre dan Najong, Sinka dan Melody duduk di sofa tempat Yupi tidur tadi. Melody meraih remote dan menyalakan TV, sedangkan Sinka kembali memakan apelnya.

“Oiya kak, tadi kok mamanya Gre nggak marah tau anaknya kaya gini?” tanya Sinka yang telah menghabiskan apelnya.

“Gatau, mungkin udah capek marahin Gre, sama kaya aku, capek marahin Rezza sama Najong,” jawab Melody dengan wajah putus asa.

“Mereka itu gabisa dimarahin, kalo dimarahin mereka malah bakalan tambah nekat,” lanjut Melody.

“Nekat? Nekat gimana kak?” Sinka menatap Melody dengan heran.

Kemudian Melody menceritakan bahwa Rezza, Gre, Najong dan Yupi pernah menghilang selama satu bulan lebih, mereka menghilang setelah ‘disidang’ oleh Melody dan semua orang tua mereka. Mereka tertangkap basah sedang minum-minum di kamar Rezza sepulang sekolah.

Dua hari setelah kejadian itu, mereka berempat pergi ke Jogjakarta dan menyewa dua kamar kos sebagai tempat tinggal. Mereka menjual beberapa barang berharga mereka seperti smartphone, jam tangan, sepatu dan juga kamera DSLR untuk biaya perjalanan dan menetap di sana.

Melody dan juga orang tua mereka langsung melaporkan kejadian itu pada polisi, namun mereka baru ditemukan sebulan kemudian setelah ibu kos mereka memberitahu polisi. Semenjak kejadian itu, Melody dan orang tua mereka jarang memarahi mereka meski mengetahui mereka masih sering minum-minum.

“Kok mereka bisa sampe senekat itu sih? Emang mereka mau ngapain kalo duit mereka udah abis?” tanya Sinka setelah Melody selesai bercerita.

“Ya namanya juga anak muda, tertekan dikit pasti langsung nekat lah,” jawab Melody menoleh ke arah Rezza, Gre dan Najong yang sedang tidur di depannya.

“Kalo soal duit mah nggak bakalan jadi masalah buat mereka, mereka salalu bisa dapet duit gatau gimana caranya,” lanjut Melody.

“Menurut kak Melody gimana cara mereka dapet duit?”

“Kalo buat sehari-hari sih biasanya dapet dari endorse, Gre sama Yupi kan model, trus yang foto Rezza sama Najong, kalo buat jangka panjang kaya mau liburan gitu, biasanya Rezza bakalan bikin akun game online trus entah diapain pokoknya akun baru itu bisa jadi kaya akun yang udah lama, duit sama level-nya jadi banyak, trus dijual deh ke orang akunnya.”

“Pinter juga, tapi bukannya kalo kaya gitu nipu ya?”

“Menurut aku sih itu bukan nipu, tapi cerdik.”

“Kalo yang pas di Jogja itu gimana? Kan nggak mungkin duit hasil jual barang-barang itu cukup buat sebulan lebih.”

“Kata Gre, mereka manggung di café-café deket kosan mereka.”

“Masa kaya gitu doang cukup, kayaknya nggak mungkin deh.”

“Ada satu lagi, mereka manfaatin orang, anaknya yang punya café tempat biasa mereka manggung.”

“Hah? Kok bisa?”

“Aku gatau gimana, Gre cuma bilang kalo Rezza berhasil deketin anaknya yang punya café terus anak itu dimanfaatin deh.”

“Dimanfaatin gimana kak?”

“Gatau, palingan nggak jauh dari kebutuhan hidup kaya beliin makanan ato apa gitu.”

“Emang anaknya nggak sadar kalo dimanfaatin?”

“Ya enggak lah, buktinya mereka bisa kaya gitu sampe kita jemput.”

“Gila, mereka mikir nggak sih kalo anak itu sadar? Kan mereka bakalan tambah susah.”

“Awalnya aku juga mikir gitu, tapi pas ditanya, mereka bilang kalo mereka bakalan cari korban lain kalo anak itu sadar udah dimanfaatin.”

“Heh?! Mereka ngomong gitu nggak sambil mabuk kan?”

Melody hanya menggelengkan kepalanya.

“Kenapa mereka kaya gitu sih? Kenapa nggak hidup normal kaya yang lainnya?” tanya Sinka perlahan sambil menatap Rezza, Gre dan Najong..

“Kasih sayang sama perhatian, mereka jarang dapetin itu dari orang tua mereka, mungkin itu kenapa mereka kaya gini, jadi bener kalo kenakalan mereka gabisa disalahin karna kita sebagai yang lebih tua juga salah,” jawab Melody juga menatap Rezza, Gre dan Najong sambil tersenyum.

“Jangankan kasih sayang sama perhatian, mereka ketemu keluarga mereka aja jarang,” lanjut Melody dengan mata yang berkaca-kaca.

“Tapi kalo kak Melody sama Rezza kan sering ketemu,” Sinka menoleh ke arah Melody.

“Iya, tapi aku jarang komunikasi sama dia, dia lebih sering sama mereka, mungkin dia bisa dapetin apa yang gabisa aku kasih ke dia dari mereka, yaitu kasih sayang sama perhatian,” ucap Melody yang mulai meneteskan air mata.

“Maaf kak, aku nggak bermaksut bikin kak Melody sedih,” Sinka bergeser ke arah Melody lalu memegang kedua bahunya.

“Gapapa kok, ini bukan salah kamu, ini salah aku sendiri,” Melody menoleh pada Sinka dan mencoba tersenyum.

~oOo~

“Bangun,” ucap Rezza sambil menggoyangkan tubuh Gre.

“Hmmm,” Gre bergumam lalu membuka matanya.

“Jam berapa?” tanya Gre mengucek matanya lalu duduk.

“Lima, pulang sono, mandi,” jawab Rezza lalu membangunkan Najong.

Setelah membangunkan Najong, Rezza berdiri lalu berjalan ke ruang makan, Gre yang merasa lapar langsung menyusul Rezza, sedangkan Najong pergi ke toilet.

“Cuci muka dulu,” suruh Rezza memukul tangan Gre yang hendak mengambil pisang.

“Gue bikinin susu bentar baru makan, ntar lu muntah lagi kalo belom minum susu,” lanjut Rezza.

“Iya bawel,” ucap Gre lalu berjalan menuju toilet.

“Masih kerasa?” tanya Najong yang bertemu Gre di depan toilet.

“Lumayan, tapi nggak parah-parah banget,” jawab Gre melewati Najong.

Beberapa saat kemudian, Rezza, Gre dan Najong sudah berada di ruang makan. Nmaun mereka bertiga tidak sedang makan karena memang tidak ada makanan di atas meja, hanya ada beberapa jenis buah dan tiga gelas susu putih yang Rezza buat.

“Perasaan semalem gue nggak minum banyak, tapi kenapa masih kerasa ya sampe sekarang,” ucap Rezza lalu kembali meminum susunya.

“Kamu minum minyak dulu nggak semalem?” tanya Gre sambil meraih satu buah pisang.

“Lah? Emang ada?” Rezza menatap Gre dengan dahi mengkerut.

“Bego, kan gue udah ambilin semalem, lu kaga minum?” Najong menoleh ke arah Rezza yang duduk di sebelahnya dengan wajah datar.

Rezza hanya menggeleng dengan begonya.

Gre yang duduk di depan Rezza hanya bisa menggeleng pelan.

“Yaudah lah, palingan ntar abis mandi juga ilang efeknya,” ucap Rezza lalu menghabiskan susunya.

~oOo~

“Kamu mending di UKS aja deh, daripada kaya gini, ntar malah ketauan guru,” ucap Yupi sambil membantu Rezza berjalan kembali ke kelasnya.

“Bener kata Yupi, mending kamu di UKS aja,” Gre menatap Rezza dengan khawatir.

“Gausah, gue gapapa, lagian guru nggak bakalan tau kkalo nggak ada yang kasih tau,” Rezza menyandarkan kepalanya di atas kepala Gre.

“Lebay njing,” ucap Najong melewati Rezza, Yupi dan Gre.

Melody yang berjalan di belakang bersama Naomi dan Sinka hanya bisa menggeleng melihat kelakuan adiknya itu.

“Semalem Rezza minum berapa gelas sin?” tanya Melody menoleh ke arah Sinka yang berjalan di sebelahnya.

“Gatau, yang pasti dia minum paling banyak,” jawab Sinka memiringkan bibirnya.

“Makanya lain kali minum minyak dulu biar nggak kaya gini,” ucap Naomi dengan sinis.

Sesampainya di depan kelas Rezza, bel tanda berakhirnya istirahat kedua berbunyi.

“Kenapa matanya keliatan ngantuk gitu sih?” tanya Naomi yang berdiri di depan Rezza.

“Halah, palingan itu kode biar disemangatin,” ucap Gre dengan muka malas.

“Bener?” Naomi menatap Rezza dengan dahi mengkerut.

Rezza tidak menjawab, ia malah memalingkan wajahnya.

“Hihihi…,” Naomi tertawa kecil lalu mendekatkan wajahnya pada Rezza.

CUPS!!

Rezza menoleh ke arah Naomi dengan tiba-tiba, sehingga kecupan Naomi mendarat di bibir Rezza.

“Ihhh!!” Naomi menatap Rezza dengan kesal lalu mencubit perutnya.

Melody, Yupi dan Gre terkekeh melihat kejadian itu, sedangkan Sinka malah heran melihat kelakuan Naomi yang menurutnya cukup berani.

“Udah tau sering digituin masih aja ketipu, dasar,” ucap Melody menggeleng pelan.

“Udah ah, yuk ke kelas,” lanjut Melody.

“Semangat ya, jangan tidur mulu,” Naomi tersenyum pada Rezza lalu menyusul Melody yang sudah berjalan.

Terlihat perubahan yang mencolok di wajah Rezza, kini ia terlihat lebih ceria daripada tadi.

“Kak Naomi apa-apaan sih?” batin Sinka menatap Naomi dengan heran.

“Kamu gamau masuk kelas sin?” tanya Yupi setelah mengantar Rezza ke bangkunya.

“Eh? Kok kamu udah di luar lagi? Cepet banget,” Sinka menatap Yupi sambil menaikkan satu alisnya.

“Bukan aku yang cepet, kamu yang kelamaan ngelamun,” jawab Yupi dengan wajah datar.

“Udah ah, aku ke kelas dulu, bye!” lanjut Yupi lalu berlari menuju kelasnya.

Kemudian Sinka masuk kelas sambil terus memikirkan lingkungan barunya yang aneh ini.

Beberapa saat kemudian, masuk seorang guru ke kelas Rezza dan memulai pelajaran.

“Dari tadi gue liatin, lu nggak banyak gerak, diem mulu,” ucap Rezza menatap Sinka dengan heran.

“K-kamu dari tadi liatin aku?” tanya Sinka sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Nggak sih, gue cuma bayangin doang,” jawab Rezza lalu meletakkan kepalanya ke atas meja.

“Ishh!” Sinka memalingkan wajahnya dari pandangan Rezza.

“Kenapa lu? Mules?” tanya Rezza yang masih menatap Sinka.

“Bukan, aku kan lagi belajar, jadi ya diem,” jawab Sinka kembali memperhatikan guru yang sedang mengajar.

“Yaudah kalo gitu,” ucap Rezza mengangkat kepalanya dari atas meja.

Rezza mendorong kursi Sinka hingga menempel dengan tembok lalu menggeser kursinya sendiri hingga menempel dengan kursi Sinka.

“Eh-eh? Kamu mau ngapain?” tanya Sinka dengan wajah panik.

“Tidur,” jawab Rezza sambil menaruh jaketnya ke pundak Sinka lalu menyandarkan kepalanya.

Sinka masih terdiam melihat kelakuan Rezza.

“Eh ngapain?!” Sinka terkejut saat Rezza tiba-tiba meraih tangan kirinya.

Rezza tidak menghiraukan Sinka, ia malah lebih menempelkan tubuhnya lalu memeluk tangan kiri Sinka.

Terlihat pipi Sinka sedikit memerah saat Rezza memeluk tangan kirinya.

“Sinka, kamu gapapa?” tanya guru yang dari tadi mengajar.

Seisi kelas langsung melihat ke arah Sinka.

“Ng-nggak, gapapa kok pak,” jawab Sinka sedikit panik.

“Kamu masih bisa belajar kalo kaya gitu?” guru itu berjalan menghampiri Sinka.

“B-bisa kok pak,” Sinka mengangguk sambil mencoba tersenyum meski ia masih panik.

“Yaudah kalo gitu, tapi jangan sampe konsentrasi kamu terganggu,” ucap guru itu yang sudah berdiri di sebelah meja Sinka.

Sinka hanya mengangguk pada guru itu.

“Sekarang kamu tulis itu,” suruh guru itu sambil menunjuk papan tulis.

Sekitar satu setengah jam kemudian, bel tanda pulang sekolah berbunyi.

“Bangun,” ucap Sinka memegang pipi Rezza yang masih tertidur di bahunya.

“Eh sin, ja-“ Gre menoleh ke arah Sinka dan berniat menahan tangan Sinka.

Gre terlambat menahan tangan Sinka yang membangunkan Rezza.

“Ahh!!” teriak Sinka.

 

*to be continue*

Iklan

Satu tanggapan untuk “Noor, part 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s