I got sunshine in my pocket. Part 1

 

Rasa ingin tahu itu berbahaya, rasa ingin tahu milikku sudah membunuh banyak orang yang tak bersalah. Jika saja waktu itu aku mendengarkan kata kata kakek, dia tak akan terbunuh dan kami mungkin bisa melakukan banyak hal yang menyenangkan bersama. Tapi tidak, aku harus menebus dosa besar yang telah ku perbuat agar saat aku mati dan bertemu kembali dengan kakek, aku punya muka untuk bertemu dengannya.

Aku tak ingat sudah berapa lama aku melakukan ini, mencoba menembus diriku dengan membunuh para monster yang dulu kulepaskan. Para monster jelek dengan gigi tajam, kuku panjang setajam silet, dan yang paling menyebalkan mereka bisa menularkan kejelekan mereka pada manusia dan membuat lebih banyak monster jelek yang harus kubunuh.

Aku sudah seharian memburu dan membunuh beberapa monster jelek yang berhasil kutemui, dan semenjak sore tadi aku mengikuti seekor monster jelek yeng cukup gesit menghindariku. Aku berhasil melukainya tapi dia masih punya tenaga untuk kabur dariku.

Sekarang monster jelek itu telah berhasil menularkan keburukannya pada seorang gadis kecil yang tak sengaja terjebak diantara semua ini. Gadis kecil berbaju kuning itu sedang mengelepar ditanah setelah mendapat gigitan dari monster jelek yang coba kubunuh. Kulitnya sudah mulai berubah menjadi sisik, dan aku bisa melihat kuku kukunya memanjang dan mengeras.

“Kau tak akan bisa melenyapakan kami,” ucap monster jelek yang menjadi targetku, dan iya para mahluk menjijikan itu juga bisa berbicara. Suara mereka terdengar seperti kau sedang mengunyah paku dan bicara secara bersamaan.

Aku mengeluarkan senjataku, sebuah palu hitam yang telah menemaniku selama ini. Palu itu kudapat sebagai bagian dari perjanjianku dengan belial atau siapalah itu, aku mengikat kontrak dengannya dan dia memberiku kekuatan untuk menghancurkan  para monster jelek yang kulepaskan, bukan perjanjian yang buruk.

Gadis kecil tadi sudah sepenuhnya berubah, sayang sekali wajah manisnya harus berubah menjadi bersisik dan bertaring. Aku tak peduli meski dulunya dia adalah seorang gadis kecil yang manis, sekarang dia hanya monster kecil jelek yang harus kubunuh.

Aku berlari kearah mereka dan mengayunkan paluku kearah monster jelek yang lebih besar, aku hampir menghancurkan wajahnya jika bukan karena monster kecil yang baru diubahnya melompat kearahku. Aku menahan giginya dengan pegangan paluku sebelum mendorongnya menjauh.

Monster yang lebih besar melihat kesempatan untuk menyerangku, dia mencoba mencakarku dengan kuku panjangnya. Yang untungnya bisa ku hindari dengan menendang kepalanya sebelum kuku miliknya berhasil mengenaiku. Threesome bukanlah gayaku, tapi aku bukanlah orang yang pilih pilih.

Aku kembali mengayunkan paluku mencoba menghancurkan kepala monster yang besar, karena target yang lebih besar punya kemungkinan untuk berhasil kuhancurkan yang lebih besar. Tapi lagi lagi monster kecil yang tadi mengangguku kembali melompat mencoba menyerangku, membuatku terpaksa mengambil langkah mundur.

“Kerja bagus,” ucap monster yang besar kepada monster kecil penganggu yang dua kali menyelamatkan kepalannya. Dan monster yang lebih kecil hanya mendengus dan mengangguk mendengar perkataan monster yang merubahnya.

Palu nampaknya bukanlah senjata yang cocok untuk menghabisi mereka berdua, monster kecil itu terlalu gesit untuk ayunan paluku. Aku pun memukul ujung paluku, merubahnya menjadi sebuah tombak dengan dua kepala, sebuah mata tombak dimasing masing ujungnya. Senjataku memang bukanlah palu, aku hanya sering memakainya karena aku menikmati suara remuk dari tulang tulang kepala para monster yang kuhajar.

Kedua monster itu nampak terkejut melihat senjataku berubah, mereka kelihatan lebih waspada dari pada sebelumnya. Mereka berdua nampak mengamati tombakku, mungkin berpikir bagaimana mengalahkanku sekarang.

Aku tak mau menunggu untuk mereka selesai merampungkan rencana. Aku maju menyerang dan menghunuskan tombakku kali ini pada monster yang kecil terlebih dahulu, dia melompat mundur dan yang besar mencoba menyergapku dari belakang. Mungkin lupa atau memang bodoh, aku menusuknya dengan tombakku, dia masih mencoba melawan jadi aku mendorongnya mundur hingga dia beserta tombakku menancap di dinding.

Mendengar suara teriakan nyaring dari belakang aku melepas tombakku dan melompat mundur, dan ternyata itu adalah si monster kecil yang melompat tepat menuju tombakku, membuat mereka berdua menancap dimata tombak milikku. Mereka masih berteriak, mencoba melepaskan diri, satu hal lagi yang harus kalian tahu adalah para monster itu tak akan mati kecuali aku menghancurkan atau memotong kepalanya.

Aku mengeluarkan belati milikku dan menusuk si monster kecil tepat dikepalanya, si besar berteriak histeris dan aku memberikan senyuman terbaikku kepadanya. Saat si kecil tak lagi bergerak aku mencabut belatiku dari kepalanya dan berjalan mendekat ke yang besar.

“Kau adalah salah satu monster terburuk yang pernah kutemui, aku tak hanya bicara soal wajahmu tapi juga sifatmu. Maksudku kau merubah anak kecil menjadi monster ?”

“KAUUUUUU…..AKAN KUBUNUH…..AKAN KUBUNUH…..KAU,” teriak si besar bersemangat.

“Sekarang katakan, dimana ketujuh Iblis bersembunyi ?”

Monster besar itu tertawa terbahak bahak, aku tak suka ditertawakan terutama oleh monster jelek yang sedang sekarat. Jadi aku menusukkan belatiku ke dadanya dan dia berhenti tertawa, baguslah.

“Dengar monster jelek, aku bisa mengakhiri ini dengan cepat bagimu, tapi jika kau tak memberitahuku apa yang ingin aku ketahui, maka aku akan membuatnya lama dan menyakitkan bagimu,” aku menusukkan belatiku lebih dalam dan memutarnya untuk sedikit kesenangan lebih.

“Monster ? kau baru saja membunuh seorang gadis kecil,”

“Bukan itu hal yang harusnya keluar dari mulutmu, jawab pertanyaanku sebelum aku marah,”

Dia berteriak kesakitan saat aku mengiris telinga lancipnya dengan belatiku yang lain, aku bisa melihat cairan hijau mengalir keluar dari luka yang ada di dadanya. Aku menarik dan menusukkan belatiku berulang kali di dadanya, menyiksa seekor monster terkadang sangat menyenangkan.

“Sekarang, apa kau ingin memberitahu ku sesuatu ?”

Dia tak menjawab, dia hanya mengelengkan kepalanya.

“Kami lyster akan selalu….selalu setia,”

Aku mencabut belatiku dan menusuk matanya, aku rasa dia tak akan bicara, aku harus mencari cara lain untuk mencari keberadaan ketujuh Iblis yang menyebabkan ini semua. Aku rasa sudah cukup untuk hari ini, aku mencabut tombakku, melepaskan bangkai dari dua monster yang menancap disana, membersihkannya dan berjalan pulang.

Jinan menyambutku dengan senyumannya, dia berdiri didepan pintu rumah menungguku pulang. Jinan terjebak dengan semua ini bersamaku, dengan semua monster itu berkeliaran aku harus menjaganya.

“Kau terlambat,” ucapnya.

Aku hanya mencium keningnya, mengusap kepalanya dan berjalan masuk kedalam rumah. Aku mengantung semua senjataku, meletakkan tas punggungku dilantai dan merebahkan diriku disofa.

Jinan datang dan membantu melepaskan sepatuku dan meletakkannya dirak yang berada disamping pintu.

“Hari ini aku buat ikan bakar, makan dulu baru tidur,”

“Kedengarannya bagus,”

Aku membenarkan posisi dudukku, Jinan datang dengan membawa sepiring makanan. Dia meletakkan semuanya diatas meja dan duduk disebelahku, dia menyibukkan dirinya dengan membaca sebuah majalah.

Sampai sekarang pun masakannya masih tidak enak,tapi tak mungkin aku mengatakan itu padanya.

 “Apa ada yang menganggu pikiran mu ?”

Jinan meletakan majalah yang tadi dibacanya diatas meja dan sekarang memandangi ku. Mungkin setelah cukup lama bersama dia tahu banyak tentang ku.

“Aku tahu jika aku harus berhenti menjadi manusia agar aku bisa mengakhiri semua ini,” aku meletakan makananku diatas meja, lalu memutar tubuhku kearahnya.”Tapi tadi, monster jelek itu merubah seorang gadis kecil menjadi salah satu dari mereka.”

Aku bisa melihat ekspresi Jinan berubah, meski dia mencoba menutupinya tapi jelas dia terkejut saat mendengar aku mengatakan soal gadis kecil yang diubah menjadi seekor monster jelek.

“Lalu kau ?”

“Iya, aku harus …”

“Sudah, kau tak perlu menyesalinya. Itu juga lebih baik untuknya, jika aku harus memilih aku lebih baik mati dari pada berubah menjadi mahluk itu,”

“Entahlah, itu tak membuatku merasa lebih baik,”

“Aww,” aku mengelus kepalaku yang dipukul Jinan dengan majalah yang tadi dibacanya, dan sekarang dia marah.

“Kau sendiri kan yang bilang kalau kita harus kuat, apa setelah sejauh ini kau mau mundur dan menyerah ?”

“Tentu saja tidak,”

Aku merebut majalah itu dari tangannya dan membalas pukulannya.

“Aduh, sakit tau…”

“Nggak usah sok imut,”

Aku tak akan tertipu dengan ekspresi imutnya itu lagi, tidak setelah dulu aku pernah tertipu saat kami pertama kali bertemu.

Beberapa tahun yang lalu aku dan kakek pindah ke rumah milik keluarga Jinan, Ayahnya adalah mantan murid kakekku sehingga dia mau menerima kami untuk sementara. Saat itu juga saat pertama aku bertemu dengan dia, mungkin seharusnya kami tak bertemu.

Setelah beberapa jam melewati jalanan desa yang tak kukenali akhirnya kakek menghentikan laju mobil. Aku mendongkakan leherku mencoba melihat dimana kami berhenti. Kami berhenti didepan sebuah rumah sederhana berdinding kayu. Tepat disebelahnya adalah sebuah bangunan yang lebih kecil, nampak usang dan dinding kayunya telah lepas sebagian.

Sepertinya kali ini kakek benar benar mengacau sehingga kami harus lari jauh, hingga kesini, rumah kecil ditengah antah berantah. Kakek adalah seorang mekanik, begitulah kakek menjelaskan pekerjaaannya padaku. Tapi aku tahu pekerjaan kakek lebih dari seorang mekanik, dia sering meminjam uang untuk membiayai pencobaan percobaan yang dilakukannya. Aku tak tahu pasti apa yang dilakukan kakek, karena aku tak diperbolehkan masuk ke bengkelnya saat dia melakukan percobaannya. Dan karena kakek tak bisa mengembalikan utangnya, kami harus kabur meski kakek hanya berkata jika sudah saatnya kami harus pindah.

Aku mengikuti kakek turun dari mobil, dan merasakan udara yang segar. Rumah baru kami adalah rumah kayu berlantai dua, dengan sebuah tangga melingkar yang mengarah ke lantai dua. Tentu saja lantai dua akan menjadi kamarku, lagi pula kakek tak akan mau naik turun tangga tiap hari. Meski rumah ini nampak tua, tapi dia nampak terawat tak seperti sebuah rumah yang tak terurus.

Bangunan yang tepat berada disamping bangunan utamalah yang nampak tak terurus, bagian luarnya nampak kotor, dengan sedikit bekas terbakar di dekat jendela. Mungkin bangunan itu pernah terbakar, dan semenjak itu tak lagi dipakai.

“Jadi gimana ?” tanya kakek, dia terlihat khawatir. Mungkin dia takut aku tak akan suka tinggal disini.

“Lumayan kok, Cuma agak sepi aja,”

“Namanya juga kampung, nggak apa apa nanti juga biasa,”

“Nggak apa apa kok kek, cuman aku mau nanya. Itu yang kecil bangunan apa kek ?”

“Oh itu dulu bengkel, tapi sempat kebakaran jadi udah nggak bisa dipake lagi,”

Dari dalam keluarlah seorang paman yang kurus, tinggi, karena paman itu botak membuat dia terlihat seperti batang korek api. Dia dengan cepat berjalan menghampiri kami, dan dengan senyuman yang lebar memeluk kakek.

“Didi, kamu sehat,” ucap kakek memeluk paman kurus tadi yang ternyata bernama paman Didi.

“Ayo Jo, salam sama paman Didi,”

Aku mengikuti perintah kakek dan mencium tangan paman Didi. Paman Didi dan Kakek nampak sangat senang bertemu satu sama lain. Aku tak mengenal siapa paman Didi, mungkin saudara yang tak kukenal atau kenalan kakek.

“Ini Joseph, udah gede ya kamu sekarang,” ucap paman Didi sambil memukul bahuku.

“Wajarlah udah lama, lagian terakhir kamu liat dia pas masih bayi,” ucap Kakek.

Aku hanya mengangguk karena aku tak mengenal siapa paman Didi dan apa hubungannya dengan kakek, tapi dengan adanya paman Didi mungkin kali ini Kakek tak harus kabur lagi. Mungkin akhirnya kami bisa tinggal disuatu tempat dengan tenang.

“Jo kamu tolong bawain tasnya kedalamnya,”

“Siap,”

Kakek dan paman Didi masuk terlebih dahulu kedalam rumah, sementara aku harus membawa barang barang kami masuk kedalam. Meski barang barang kami Cuma dua buah tas berisi pakaian.

Aku dan kakek pergi dengan terburu buru seperti biasanya, aku tak sempat berkemas, hanya baju. Aku bahkan tak sempat membawa handphoneku, tapi mungkin itu tak masalah karena kami berada jauh dari peradaban. Sehingga ada dan tidaknya handphone tak akan ada bedanya.

“Ini taruh dimana paman ?” tanyaku saat membawa barang barang kami masuk.

“Oh, iya kamar kamu dilantai dua, naik tangganya dari luar,” jawab paman Didi.

“Kalo barang kakek taro disitu aja, nanti kakek yang beresin sendiri,” ucap kakek, aku pun mengikuti perintahnya dan menaruh tas milik kakek didekat pintu sebelum aku berjalan keluar. Kakek dan paman Didi nampaknya sedang dalam pembicaraan serius.

Kamar dilantai dua tidaklah terlalu buruk. Ada sebuah TV tua yang saat kucoba ternyata masih berfungsi, meski gambarnya kurang bagus tapi sebuah TV ditengah hutan seperti ini sudah cukup bagus. Yang membuatku bingung adalah kamar ini punya dua tempat tidur yang dipisahkan oleh sebuah meja kecil, dengan lampu tidur diatasnya. Kenapa kamar ini punya dua tempat tidur, saat hanya aku yang menempatinya.

“Siapa kamu ?”

Aku berbalik karena ada sebuah suara yang memanggilku, aku berbalik dan di depan pintu berdiri seorang gadis. Dia memakai kemeja merah terang dengan sebuah celana kargo selutut berwarna hitam dibagian bawah. Rambut hitam panjangnya diikat dengan gaya kuncir kuda, hanya saja wajah cantiknya tertutupi oleh ekspresi bingung bercampur takut.

“Siapa kamu !!” dia mengambil pemukul kayu yang disembuyikan dibalik pintu, ok sekarang dia takut.

“Aku Jo, aku..”

“Aku nggak nanya nama kamu,”

“Tapi tadi kamu…”

“Diam, jawab aja kamu ngapain dikamar aku ?”

“Kamu nyuruh aku diam, tapi nyuruh aku jawab….tunggu kamar kamu ?”

“Iya dan kamu ngapain disini ?”

Sekarang aku tahu kenapa ada dua tempat tidur disini, tapi kenapa paman Didi menyuruhku tinggal sekamar dengan seorang gadis, terlebih siapa gadis ini ? putrinya ? lalu tak takutkah dia menyuruhku tinggal sekarang dengan putrinya aku akan…

“Ngelamun jorok ya ? kamu mikir macam macamkan ?”

Gadis itu mendekat dengan pemukul kayu yang masih diacungkan kepadaku, aku mengambil langkah rasional dengan mengangkat tangan dan melangkah mundur.

“JINAN….JINAN…TUNGGU,” sebuah teriakan terdengar dari lantai bawah.

Lalu paman Didi muncul dari luar, dengan napas yang terengah engah.

“Ayah, ada cowok asing dikamar aku,” ucap gadis yang ternyata bernama Jinan kepada paman Didi.

“Dia bukan cowok asing, dia cucu dari guru Ayah yang akan tinggal disini untuk sementara,”

“Trus kenapa dia ada dikamar aku ?”

“Karena dirumah ini Cuma ada dua kamar, jadi terpaksa dia tidur dikamar ini sama kamu,”

“Nggak ah, nanti dia macam macam lagi,” ucap Jinan yang tak melepaskan pandangannya dariku, aku hanya bisa berdiri karena aku tak tahu harus berkata apa.

“Dia anak baik, lagi pula kamu sudah buat dia ketakutan dengan pemukul kamu, Ayah yakin dia nggak akan berani macam macam.

Jinan pun menurunkan pemukul miliknya, dan berjalan mendekat. Aku hanya bisa diam karena aku sudah terdesak di dinding.

“Kita belum kenalankan ? aku Jinan,” ucapnya sambil mengulurkan tangan dan tersenyum lebar.

Aku sedikit bingung dengan perubahan sikapnya, tapi karena kami akan tinggal bersama untuk sementara waktu aku rasa aku harus berteman dengannya. Aku menjabat tangannya, dan dia langsung meremas tanganku.

“Dengar ya, sebelum kamu berpikir macam macam. Aku Cuma ingini ngasih tahu bahwa aku tahu caranya mengubur mayat,” saat dia mengucapkan itu semua dengan sebuah senyum, aku rasa ancamannya bukanlah hal main main.

“Aku mengerti, nama ku Joseph by the way,”

Itulah awal pertemuanku dengannya, mungkin waktu itu dia mengancamku lebih kejam atau lebih mengerikan hingga aku dan kakek pergi dari rumahnya. Karena mungkin dia tak harus bersamaku sekarang, dan dia bisa bersama dengannya Ayahnya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s