Pengagum Rahasia 2, Part 39

“CUKUP DEV!”

Tamparannya begitu keras sampai suaranya bergema ke seluruh ruangan. Gadis dihadapannya itu terlihat menangis sambil menutupi tubuhnya dengan seadanya menggunakan tangan kirinya.

“Kenapa DEV! Aku ini bukan bahan pelampiasan!”

Air mata tiba-tiba menetes ke hidung Shani. Dengan wajah yang menunduk, di dagunya tampak air mata yang mengalir.

“Maaf Shan…aku minta maaf,”

Deva kini berdiri membalakangi Shani, sementara Shani masih shock dengan duduk di sofa itu.

“Bukan ini yang aku mau Dev, a-aku…,”

“Aku gak mau kalau rumahku ini jadi tempat pelarian! Kamu bukanlah Deva yang aku kenal!”

Teriakannya itu sampai bergema di hati Deva, begitu nampak dari raut wajah Deva yang sangat menyesal.

“Lebih baik aku pergi dari sini,” ucap Deva

“Tunggu Dev!” Shani berusaha menahannya namun Deva tetap memaksa pergi

*GRAB!

            Shani langsung memeluknya dari belakang.

“Ku mohon, jangan pergi!”

Langkahnya terhenti dan kini Deva terdiam.

“Kejadian ini benar-benar persis seperti dulu, kenapa kamu terus mengulangi hal ini Deva!”

“Dan juga…kamu membutuhkan seseorang yang bisa menutupi luka dihati kamu! Kamu bukanlah orang yang bisa melakukan segalanya sendirian!”

“CUKUP!”

Shani langsung berhenti memeluk Deva.

“Jangan Dev…jangan lakukan hal itu lagi…,”

“Kenapa…semua hal yang kulakukan malah membuat orang sakit hati, kamu juga sama seperti mereka kan, Shani?”

“E-EH!?”

“Kamu salah Dev! Akulah orang yang paling mengerti semua rasa sakit yang kamu derita selama ini! K-Karena aku…,”

“Apa?” potong Deva dengan tatapan yang begitu serius

“Aku…,” Shani terlihat tidak sanggup melanjutkannya

Deva kemudian berbalik lalu menatap wajah Shani.

“EK!” Shani terlihat ketakutan

“Tetaplah disini! Jangan kemana-mana Dev!”

“Sampai jumpa lagi, Shani…,”

“DEVA!”

Deva berlari keluar rumah meninggalkan Shani sendiri.

~oOo~

*Tuk-Tuk!

*Tuk-Tuk!

*TUK-TUK-TUK!

Ketukannya semakin lama semakin keras. Sampai beberapa kali ia mengetuk, seseorang keluar dari pintu itu.

“M-Maaf…,”

“Gracia…,” ucap gadis yang sedari tadi mengetuk pintu

“Kenapa kamu minta maaf?” lanjutnya

“S-Sinka, Ek-eng…apa kamu kesini masih pengen membahas soal itu,”

“Baguslah kalau kamu mengerti situasinya, jadi aku gak perlu repot-repot menjelaskannya lagi,”

“Ah, eh…,” Gracia hanya menundukan kepalanya

“Boleh aku masuk?” ucap Sinka

“Um,” Gracia mengangguk pelan

*Ceklek!

(……………………………………………………………………..)

“Kamar kamu, luas ya…,”

“S-Silahkan duduk, duduk dimanapun juga boleh,” ucap Gracia

Lantas Sinka pun duduk di pinggiran kasur itu.

“Jadi, kita langsung ke inti permasalahannya,”

Raut wajah Gracia langsung berubah

“Apa kamu tau sesuatu, tentang Dev…,”

“IYA! AKU TAU!”

Gracia tiba-tiba berteriak keras. Air mata tampak keluar dan mulai membasahi pipinya. Keringat juga mulai bercucuran dari lehernya.

Gracia menarik nafas panjang untuk meyakinkan dirinya

“Karena semuanya sudah terlanjut begini, aku gak punya pilihan lain…,” ucap Gracia

*Glek!

            Ia menelan ludahnya lalu mulai menghadap Sinka.

“Beberapa hari yang lalu…dia…,” ucapnya menggantung

“Dia datang ke rumahku untuk menepati janjinya,”

“Hm?” Sinka mulai menyimak

“Janji…dimana dia akan menjadi tunanganku dan berhadapan langsung dengan seluruh keluargaku,”

Tangannya mulai bergemetar dan perlahan ia kembali menarik nafas panjang.

“Lanjutkan…,” ucap Sinka

“Ya, dia menepati janjinya, sesuai dengan apa yang aku inginkan. Alhasil, pertunanganku yang sebenarnya pun gagal karenanya,”

“Itu berarti kamu dijodohkan, bukan? Dan *Deva*, dia pura-pura menjadi pacar kamu agar pertungannya dibatalkan,” ucap Sinka

Gracia hanya mengangguk.

“Ini sama sekali gak ada hubungannya dengan masalah disekolah,” ucap Sinka kembali

“ADA! Pasti ada!” Gracia berteriak

“S-Seperti kabar yang beredar disekolahan, dia juga membatalkan pertunangannya kak Veranda, itu benar kan?”

Sinka mengangguk.

“Yang harus kamu tau…lelaki yang bertunangan dengan kak Veranda itu, adalah lelaki yang sama dengan orang yang seharusnya bertunangan denganku!”

Mendengar itu, jantung Sinka seperti berhenti berdetak. Dia terkejut sekaligus tidak percaya dengan semua penjelasan dari Gracia.

“S-Si…EK!” Sinka tidak sanggup berkata apapun

“Dengan kata lain, dia mencari masalah dengan keluarga dari laki-laki itu,”

“Ek…Kenapa dia senekat ini!” Sinka terlihat geram

“Dia memang orang yang nekat!” teriak Gracia

“Asal kamu tau…sifatnya itu gak berubah dari SMP!”

“!?!?!?!?” Sinka langsung menatap tajam

“Kamu…satu SMP sama Deva…?”

“Iya! Kejadian ini hampir sama dengan kejadian waktu itu, dimana Shania…,”

“Shania!?”

“AH! M-maksudku…,” Gracia langsung menutup mulutnya

“Tadi kamu bilang Shania!? Apa hubungannya semua ini dengan Shania!” Sinka terlihat memaksa Gracia untuk menjawabnya

“Jawab! Kenapa kamu malah diem! AYO JAWAB!” ucap Sinka sambil menggoyang-goyangkan tubuh Gracia

“A-Aku minta maaf! Jangan paksa aku lagi Sinka! Aku mohon!” Gracia yang ketakutan itu tunduk dihadapan Sinka

Ia menangis histeris sambil memegang kedua tangan Sinka.

“Aku mohon, jangan seperti ini…aku benar-benar bingung!” ucap Gracia

“Aku gak tau siapa yang seharusnya disalahkan disini! Jadi…,”

“CIH!”

Sinka langsung melepas tangan Gracia.

“Ke-Mau kemana kamu!” ucap Gracia

“Jangan tanya…,”

*BRAK!

            Pintu itu dibanting.

~oOo~

*TOK-TOK-TOK!

*TOK!

*Ceklek!

            Sesesorang membuka pintu dari dalam.

“S-Shania…???”

“Dimana Deva! Cepet jawab Shani!”

“D-Deva!? A-Aku…,”

*GRAB!

            Shania langsung memegang erat kedua pundak Shani.

“Cepet jawab! Nyawanya sekarang dipertaruhkan!” ucap Shania

“K-Kenapa!?” Shani terlihat menangis dihadapan Shania

“Pasti sebelumnya terjadi sesuatu antara kamu sama dia kan!” Shania terus saja meneriaki Shani

“Bohong…itu pasti bohong kan! Deva gak akan ngelakuin hal itu lagi!”

“Cih! Seharusnya kamu lebih tau tentang dia!” ucap Shania

Sementara itu di tempat lain…

*

*

“Tok-Tok! Tok-Tok-Tok!

“Permisi! Permisi!”

*Ceklek!

Seorang wanita membuka pintu itu.

“Ah tante, Shanianya ada?”

“Oh, Shania daritadi juga belum pulang ke rumah. Ibu pikir dia lagi sama kamu, Sinka,”

“Eh, kalau gitu…,”

“Tunggu dulu, kenapa kamu keliatan panik gitu?” tanya wanita itu

“Eng..gak kok tante, ahaha…,” Sinka hanya tertawa

“Hemm…,” Wanita itu tertegun

“Kalau ada masalah, cepat kabari tante ya. Karena…,” ucap wanita itu menggantung

“Dia sudah cukup dapat masalah waktu dulu, jadi jangan biarkan dia dapat masalah lagi sekarang,”

“A-Aaahhh…kalau gitu Sinka pamit ya tante,” Sinka berpamitan sambil membungkuk

Ia terlihat buru-buru dan berusaha untuk terus berlari.

“Apa-apaan tadi!? Kata-katanya benar-benar sulit dipahami, jadi masalah apa yang dia dapat waktu dulu!?” ucap Sinka bertanya-tanya

Di tempat lain…

*

*

*Ceklek!

“Mau kemana kamu!”

“Aku harus pergi, Mel…,”

“VE!”

“Kalau kamu gak mau cari dia, biar aku…,”

*Brah!

            Jaket hitam itu ia kenakan dan rambutnya kini di ikat kebelakang.

“Selama ini…akulah yang membuatnya menderita, kamu harus tau itu, Mel,”

“A-Apa!? Maksud kamu apa!” balasnya

“Aku yang memulainya, aku juga yang harus mengakhirinya…,” Ve langsung pergi dari rumah

“Ve!” Melody beranjak dari sofa

“Tunggu Mel, biar dia pergi,”

“T-Tapi Nal!”

“Sheeessshhh!” Kinal menutup mulut Melody dengan jari telunjuknya

“Kalau lo gak sanggup, biar dia yang melakukan semuanya sekarang,” ucap Kinal

Di tempat lain…

*

*

*Dert-Dert…Dert!

*Tet!

“Shania! Kenapa jam segini kamu belum pulang, ibu..,”

*Ctak!

Shania langsung membuka baterai handphonenya lalu ia simpan di dalam tasnya.

“Maaf, Ibu…,”

Kini ia berada disebuah sekolah, dimana keadaan sekolah itu sangatlah sepi. Arlojinya menunjukan pukul 23.00, namun ia seperti tidak memperdulikan lagi semua hal terkecuali…

“Deva!”

*Trank!

            Ia melompati pagar sekolah itu dan langsung masuk ke dalam.

“Hanya aku yang tau kamu ada di tempat ini, itu pasti!”

~oOo~

(Whoooshh!)

            Suasana yang begitu sepi dengan langit malam yang dipenuhi oleh bintang.

“Deva…,”

Lelaki yang di panggil itu pun hanya melirik.

“Shania, kenapa lo sampai repot-repot untuk datang kesini,”

*Grab!

            Shania tiba-tiba memeluk Deva dari belakang.

“Syukurlah! Syukurlah! Aku takut kalau kamu sampai nekat lagi kayak dulu!” Shania menangis di punggung Deva

“Usaha lo untuk menghibur gw itu sia-sia,” ucap Deva

“Hehe,” Shania tertawa kemudian berhenti memeluk Deva

Ia juga mengelap air mata di pipinya itu.

“Di tempat ini, sekitar 2 tahun yang lalu…,” ucap Deva menggantung

“Jangan bahas tentang itu lagi Dev, lagipula aku udah melupakannya semuanya di masa lalu,” ucap Shania

“Tapi sebenarnya, aksi kamu waktu itu…masih membekas di hatiku, Dev,” tambah Shania

Wajah Shania tiba-tiba memerah.

“Mungkin sekarang memang sangat-sangatlah terlambat untuk mengatakannya, tapi…,”

“Aku cinta sama kamu, Dev,”

“Selama bertahun-tahun aku pendam rasa ini, dan aku benar-benar gak berani untuk mengungkapkannya langsung. Tapi sekarang…,”

Mereka tiba-tiba terdiam.

“A-Aku gak terlalu memikirkan jawaban dari kamu, karena tujuanku tadi hanyalah untuk mengungkapkan semua perasaanku. Hehe, benar-benar sakit rasanya…,” Shania memegang dadanya

“Sakit-Dev…,” Shania kembali menangis

“Selama ini yang bisa aku lakukan hanyalah melihatmu dari kejauhan. Lalu saat kejadian di masa lalu itu…aku sadar kalau kamu jadi sedikit menjauh dariku,”

“Heh,” Deva mengendus. “Mami lo juga udah gak terlalu mikirin hal itu. Lagipula gw memang gak hamilin lo kan?”

“Ek! A-Aku gak bermaksud untuk mengingatkan lagi tentang kejadian di masa lalu,”

“Saat itu aku sadar kalau aku terlalu bergantung pada orang lain, khususnya kamu,” Jelas Shania

“Tapi aku yang sekarang berbeda dari yang dulu. Aku udah berubah Dev!”

Deva kemudian berbalik menghadap Shania.

“Mami lo…benar-benar udah melupakan semuanya kan? Ahaha…,” Deva tersenyum

“Hihi…jangan menunjukan wajah palsu itu Dev,” ucap Shania yang ikut tersenyum

“Itulah kenapa mami lo itu merupakan guru favorit gw di SMP,”

“Hiss! Jangan bawa-bawa profesi ibu!” ucap Shania

“Dia memang guru yang baik kan?” ucap Deva kembali

Shania kembali tersenyum.

“Tapi sekarang…,” ucap Deva menggantung

“Sekarang gak akan mungkin ada orang yang membantu gw lagi, seperti apa yang mami lo lakukan waktu itu,” lanjutnya

“D-Dev…!!!” Shania memegang kedua tangan Deva

“Belum terlambat…masih belum terlambat untuk memperbaiki semuanya!” ucap Shania

“Ya masih belum terlambat…,”

Suara seseorang selain mereka berdua membuat Shania sedikit ketakutan. Kemudian seseorang muncul dari balik pintu kelas yang terbuka itu.

“S-Sinka!?” ucap Shania sambil menampakan wajah yang terkejut

Shania juga langsung melepaskan tangan Deva.

“S..Sejak kapan kamu ada disana!?” ucap Shania kembali

“Itu gak penting…,” Sinka tampak menghampiri mereka berdua

“Kenapa kamu tau kita ada di tempat ini Sin!” ucap Shania

“Deva!” Sinka menghiraukan Shania

“Apapun yang terjadi…,” ucap Sinka menggantung

*GRAB!

            Sinka menarik baju Deva sambil menatap tajam ke arahnya.

“Lo harus menyelsaikan semua permasalahan ini sekarang juga!” lanjutnya

“S-Sinka!?” Shania terlihat kaget saat mendengar nada bicara Sinka yang sangat keras

“Heh, gw udah berusaha untuk tetap sabar, tapi sekarang semuanya sudah jelas bukan?” ucap Sinka kembali

“Sinka kenapa kamu…!”

“Diem!” bentak Sinka pada Shania

“Jawab Dev…apa lo gak mau mengatakan apapun setelah gw menghina lo di depan gadis, yang ternyata telah memendam perasaan selama hampir 4 tahun ini?”

“SINKA!” ucap Shania terlihat akan menampar Sinka

“Berhenti!” Teriak seseorang

Mereka bertiga yang tengah berdebat itu langsung teralihkan perhatiannya.

“Kenapa…semua orang ada disini…,” ucap Deva dengan pelan

“Devaaa! Syukurlah kamu…,” ucap gadis itu menggantung

“Kak Veranda!? Shani!? Kenapa kalian berdua…!?” ucap Shania menggantung

“Hentikan semua omong kosong ini!” ucap Ve

Ve langsung maju ke hadapan Deva seperti melindunginya dari hadapan Sinka. Shani juga tampak menghampiri Deva.

“Jadi…kalian ada di pihak Deva ya?” ucap Sinka

“Jangan salah paham, aku disini untuk menyelsaikan semua permasalah yang sedang terjadi sekarang!” Jelas Ve

“Dan juga…,” ucap Ve lagi sambil melirik ke arah Deva

“Aku disini mau minta maaf sama kamu…,” ucap Ve sambil menghadap Deva

“Di depan semua orang, khususnya mereka,” lanjutnya lagi

Ve mulai menarik nafas panjang.

“Aku…Aku yang egois ini, tolong maafkanlah aku Dev…,”

“Mungkin selama ini kamu gak sadar, tapi sebenarnya aku sedikit memanfaatkan kamu. Dalam segala situasi, dan semua event yang terjadi…,”

“Aku hanya mementingkan diriku sendiri dengan terus menekan kamu Dev. Disamping itu orang-orang disekitar kamu…,” ucap Ve menggantung

“Aku, yah…,” lanjut Ve lagi

“Akulah yang seharusnya disalahkan dalam hal ini! K-Kalian tau itu kan!”

Ve mulai meneteskan air mata.

“Kenapa semua ini harus terjadi! Kenapa bukan aku yang menerima semua penderitaan ini!” ucap Ve terus menyalahkan dirinya

“Sejak awal kita bertemu…aku memang tertarik sekaligus cinta sama kamu Dev. Tapi semenjak itu, yang aku lakukan hanyalah berusaha untuk menjauhi kamu dari mereka bertiga!” ucapnya sambil menatap ke arah tiga orang wanita di hadapannya

“Kenapa gw…?” ucap Sinka

“Heh, kak Ve udah salah paham,” lanjut Sinka

“Lagipula gw gak punya perasaan sama dia,” ucap Sinka kembali

“Ek!” Ve terlihat geram sambil menatap ke arah Sinka

“Untuk sekarang…biar aku yang menyelsaikan semuanya. Dan Deva…,” ucap Ve

Ve mulai menarik nafas panjang.

“Tolong lupakan semua hal ini…kamu juga boleh melupakan semua kenangan yang kita buat…,”

“Aku pikir itu cukup untuk menghukum diriku yang kotor ini,” tambah Ve

Shania menghela nafas.

“Kalau gitu…sekarang semuanya sudah beres kan?” ucap Shania

“Belum…,” ucap Sinka

“H-Huh?” Shania terlihat kebingungan

“Pada akhirnya, lo masih tetap mencemarkan nama baik sekolah bukan? Mau bagaimanapun, lo harus bisa membersihkan nama baik sekolah kita dari semua hal yang udah lo lakukan itu,” ucap Sinka

“S-SIN!”

“Tahan dulu Ve, Sinka benar…,” ucap Deva angkat bicara

Ve yang tadinya akan menampar Sinka, kini amarahnya mulai redam karena dihalangi oleh Deva.

“Yah, gw berharap lo keluar sih,” ucap Sinka dengan santai

“SINKA!” ucap Shania tampak membentaknya

“Kalau memang itu yang lo mau Sin…mulai sekarang…,”

“Gw…Vizkian Deva, tidak akan pernah datang ke sekolah lagi…Selamanya,”

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_So

Iklan

3 tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 39

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s