Chronology of Love

Cinta itu diukur bukanlah dari seberapa sayangnya seseorang kepada orang yang Ia cintai, tapi di ukur dari seberapa tangguhnya Ia mempertahankan cinta untuk mereka berdua…

Sekian dan terima kasih..

Assalamualaikum Wr Wb….

Gak..gak belum selesai…

Perkenalkan nama gue Marcell, saat ini gue berumur 19 tahun. Umur yang tidak enak menurut gue saat ini, dimana banyak tanggung jawab-tanggung jawab yang membebani gue, salah satunya tugas2 gue di kampus.

Diumur gue saat ini banyak hal2 percintaan yang gue alami, mulai dari senengnya sampai gak enaknya. Sudah ada 5 cewek yang hinggap di jendela hati gue, tapi mereka lepas karena emang gue gak pekaan orangnya. Tapi diantara 5 cewek tersebut ada 3 cewek yang hinggap di jendela hati gue paling lama diantara lainnya kira2 5 bulan. Mereka adalah Jinan, Christy, dan Okta. Dan inilah kronologis cinta gue..

 

1) Jinan Safa Safira

Yaap, Jinan Safa Safira adalah primadona saat gue masih SMP dulu, dia orangnya cuek banget sama hal yang berhubungan dengan cinta2an. Dialah yang menjadi cinta pandangan pertama gue saat SMP dulu, hmm mungkin rada aneh ya seorang anak SMP berbicara tentang cinta-cintaan. Banyak cowok2 temen2 gue yang mencoba dengan menembak Jinan, tapi semua itu nihil dia Cuma jawab “sorry aku mau fokus UN”, itulah jawaban dia waktu masih kelas 7 SMP, aneh.. hingga awal kelas 9, gue mulai lebih memperhatikan dia dengan seksama. Gue berencana untuk coba menembak dia saat acara kemping sekolah, biar lebih romantis aja gitu.

Acara tersebut dilaksanakan di tengah hutan, kami sampai di tempat itu malam hari antara pukul 7 sampe 8 malam, gue gak tau pasti karena waktu itu gue salah bawa jam tangan, yang gue bawa jam tangan habis baterai. Suasana semakin mencekam ketika kami membangun tenda perkelompok dan memulai baris-berbaris untuk bermain game.

Game tersebut berpasangan, cowok dan cewek dimana cowok harus melindungi ceweknya saat game berlangsung. Daaaaaaan I am happy!! Gue berpasangan dengan Jinan, gue rasa Tuhan mendengar doa gue saat sebelum berangkat, yaitu “Mohon Tuhan untuk kali ini saja, lancarkanlah hariku, hariku bersamanya hariku bersamanya” oke tadi sepenggal lagu dari Sheila On 7. Kami disuruh oleh kakak pebimbing untuk mencari jalan keluar dari hutan yang bertanda bendera warna hijau, karena Jinan regu Mawar yang menandakan warna merah dan gue regu Elang yang menandakan kelincahan….gak nyambung.

Diperjalanan gue dan Jinan hanya terdiam, tidak ada sepatah kata-pun yang keluar dari mulut kami berdua. Gue sih seneng bisa berduaan sama dia, tapi ada satu masalah lainnya yaitu dia lebih peberani dari gue. Bulu kuduk gue mulai berdiri semua, sedangkan dia santai aja jalannya.

“ehmm, Jinan” panggil gue

“kenapa Cell?” tanya Jinan sambil menoleh kearah gue

“g..gak takut?” tanya gue iseng

“hmm gak tuh, lu takut ya?” tanya Jinan

“ahh, enggak kok.. ngapain harus takut” disaat itulah keluar seonggok pocong loncat dari semak-semak

“HUWAAAA!!!” teriak gue doang, yaa gue doang…

“hahahahah ciee takut. Katanya gak takut” ucapnya sambil tertawa kearah gue, jelas gue malu tapi seneng liat dia ketawa gara2 gue

“iya2 deh gue takut” ucapku sambil menunduk

“nih pegang” kata Jinan sambil mengulurkan tangannya

“buat apa?” tanya gue bego

“yaa pegangan kalo lu takut” ucapnya tersenyum, gue mimisan

“i..iya” gue akhirnya memegang tangannya dia selama perjalanan

Di tengah perjalanan, kami sudah mendapat 4 bendera warna hijau berarti tinggal 1 bendera lagi. Sedangkan sekarang tempat yang kami berdua lalui sudah sepi.

“eh cell, kita kesesat ya?” tanya Jinan

“gak tau deh,” ucap gue masih menyumbat hidung agar tidak mimisan

“eh itu apa ya? samperin yuk” kata Jinan menarik tangan gue, sumbatan dihidung gue lepas dan darah mengalir deras membuat jejak, yaa setidaknya buat tanda biar gak kesesat.

Srek…srek…srek… suara semak2 di atas tanah.

BRAAK

“huawaaaaaa!!!”teriak gue do…ahh yess Jinan juga teriak

“larii!!!” teriak Jinan masih menarik tangan gue, dan kini gue membantu hantu tersebut menemukan kami berdua dengan jejak darah dari hidung gue

Disaat berlari hal bego gue pun keluar..

“Jinaan!!” teriak gue dari lari2 tersebut sambil melihat ke belakang, hantu geblek itu masih ngejar

“apa cell?!”balas Jinan

“ada yang mau gue omongin sama lu!!” teriak gue membalas

“apa?!” tanya dia

“gue udah suka sama…hah.hah….hah sama lu….mau gak lu jadi pacar gue?!!” teriak gue, sambil deg2an menunggu jawabannya

Ia tidak menjawab pertanyaan gue, dan gue pikir gue salah untuk menanyakan hal itu saat itu. Hingga kami berdua sampai di kamp kami.

“Cell.. tadi lu nanya apa?” tanya Jinan sambil mengelap keringetnya

“hmm..ahahaha.. ehh.. ehmm itu..” tanya gue gelagapan

“apa?” tanya dia sambil mengerutkan keningnya

“gue suka..hah hah hah…sama lu.. mau gak lu jadi pacar gue? Hah hah hah” ucap gue sambil mengatur nafas

“lu seriusan?” tanya Jinan

“i..iya gue seriusan” ucap gue meyakinkan

“hmm jawabannya….diujung langit dengan seorang anak yang tangkas” fix gue pelongo liat dia malah nyanyi

“hahaha maaf2. Gue mau kok” ucapnya yang membuat gue bangga

“seriusan?” tanya gue gak percaya

“iya seriusan” ucapnya yang membuat gue semakin bangga, bukan hanya bangga gara2 di terima doang tapi gue bangga menjadi org pertama yang berhasil nembak Jinan.

Selama pacaran 5 bulan, kami mulai mengerti satu sama lain. Mulai dari sifat, hobi, kesukaan, hingga kebiasaan jelek pun kami tau satu sama lain. Gue dan Jinan, selalu bertentangan sama hal2 tersebut contohny adalah hobi kita yang berbeda, dia suka main musik gue gak bisa sama sekali, dia suka baca novel gue lebih suka nonton di bioskop, gue suka main basket dia lebih suka main tenis. Ngomong2in tentang olah raga, dia suka martabak manis dan gue suka martabak telor. Yaa pokoknya selalu aja bertentangan deh, gue jadi gak tau kapan hubungan ini bisa bertahan.

Saat ini gue dan Jinan berada di tempat dimana banyak orang yang olah raga, yaa saat ini di bundaran HI dan sedang ada Car Free Day (Hari Mobil Gratis). Banyak beragai macam jenis orang2 yang berada di tempat ini. Ada yang serius untuk olah raga dengan hp-nya di taruh di lengan, ada yang Cuma gaya2an berfoto ria, dan jenis yang terakhir yang paling kampret yaitu sekelompok laki2 yang Cuma duduk di trotoar sambil melihat-lihat cewek2 memakai celana ketat dan teng top/tank top, apa lah gue gaktau tulisannya kayak gimana. Namun yang pasti gue lebih cenderung ke jenis yang terakhir itu. Namun yaa sayangnya aja, gue dah punya Jinan jadi gak bisa gabung sama cowok2 yang di trotoar itu.

“sayang kamu gak capek lari terus?” tanya Jinan ke gue sambil menarik-narik baju gue

“gak sayang, aku belum capek” jawab gue sok cool, iyalah toh juga baru 2 km gak kerasa itu mah sama kaki gue ini

30 menit

1 jam

“sayang, istirahat dulu yuk aku capek banget” ucap Jinan yang gue lihat sudah bersimbah keringat dan membasahi baju nya, sayangnya dia pake baju warna merah

“gak ahh, aku masih mau lanjut” ucap gue keren, padahal kaki udah kram

30 menit

“sayang capeeeeek! Duduk disana dulu yaa.. air minum aku juga udah habis” ucapnya merengek

“oke sayang kita istirahat dulu” ucap gue dengan senyuman keren

“asiiik, yuuk kita beli minum” ucapnya sambil menarik tangan gue

Kami pun duduk di trotoar.

“MATIII GUE CAPEEEK KAMPREEET!!!” ucap gue dalam hati, dan alhasil gue tumbang

“ka..kamu kenapa?” tanya Jinan khawatir, langsung saja gue kembali duduk dan menatapnya dengan tatapan keren

“gak apa2 sayang..” kata gue menyembunyikan muka sengak gue

“ooh gitu yaudah, aku beli minum dulu” ucap Jinan sambil melangkahkan kakinya daan

JEDAAK

“SEEETAAAN ALASKAA!! SAKIT KAKI GUE!! KERAAAM!!”  ucap gue sambil sedikit meringis karena kaki gue gak sengaja ketendang oleh kaki Jinan

“aduuh maaf sayang… kamu gak papa?” tanyanya khawatir

“ooh..eeeh.. gak apa2 kok” ucap gue berusaha untuk tersenyum dibalik penderitaan gue sendiri

Jinan pun melanjutkan perjalanannya untuk membeli minuman. Ternyata jarak tempat gue dan yang jualan minuman cukup jauh. Jadi agak lama gue menahan hausnya, hingga…

“eh lu Marcell kan?” tanya seorang gadis sambil menunjuk-nunjuk gue

“iya gue Marcell” ucap gue heran

“ahh seriusan lu Marcell?” ucapnya makin dekat dengan jari telunjuk tetap mengarah ke gue, udah kayak ngancem pake piso

“iya gue Marcell” ucap gue menahan kesabaran

“yakin lu Marcell?” tanyanya semakin dekat

“CEWEK BUDEK!” ucap gue dalam hati, oke gue mulai kesel. Sekali lagi dia nanya gue Marcell atau bukan, gue nikahin nih cewek. Lumayan cantik dia..

“lu kenal gue gak?” tanyanya lagi

“MANA GUE KENAL SIAL, GUE AJA BARU KETEMU SAMA LU!” gue ingin ngomong seperti itu, namun kecantikannya menutup mulut gue rapat-rapat

“ee..enggak” ucap gue heran

“iiih masa sodara sendiri gak kenal sih?!” ucapnya sambil duduk di sebelah gue

“sodara? Kayaknya gue gak punya sodara kayak mba deh” ucap gue sambil menerka-nerka muka gadis tersebut. Dan niat gue mau nikahin dia gue urungkan.

“gue Angel. Iiih Marcell” ucapnya sambil cubit kecil ke gue

“adaaaw! Sakiit! Angel siapa sih?” ucap gue masih heran

“iih gue pernah nginep di rumah lu tau gak.. jahat banget.. huh!” ucapnya ngambek

“sodara gue yang pernah nginep di rumah gue banyak kali” ucap gue sewot

“yaa satu2nya cewek yang nginep dirumah lu kan gue” ucapnya balik sewot ke gue

“iya sih, tapi dia kan namanya bukan Angel” gue gak mau kalah sewot

“yaudah terus siapa coba namanya?” tanyanya sewot lagi ke gue

“ahh siapa ya? lupa” ucap gue sambil menggaruk perut

“huh dasar!!” ucapnya membalikan badan

“hey hey malah ngambek” kata gue sambil memegang pundaknya

“iiih jangan pegang2 sampe lu inget sama gue” ucapnya sambil menepuk tangan gue

“diih yaudah2.. sodara gue yang cewek… hmmmm.. Syahfira yang gue tau” ucap gue sambil berpikir

“naaah!!!” ucapnya membalik badan lagi ke gue

“naah apa? Kaget gue!” gue hanya mengelus-elus dada sendiri, tadinya mau elus-elus dada cewek yang lewat di depan gue, tapi gue takut rata muka gue

“naah itu,, gue Syahfira.. kan nama panjang gue Syahfira Angela Marceeeelll!!” ucapnya sambil menepuk-nepuk kepala gue, sekarang dia ngira gue kucing

“oooooh yang itu.. yang suka bikin mie di dapur berdua?” tanya gue mulai konek

“iyaaa,,, hahaha.. yang dulu suka main2 di taman” ucapnya kegirangan

“hmmm yang waktu itu ntn film brg tapi filmnya itu2 aja setiap hari, gara2 filmnya bagus?!” ucap gue gak mau kalah heboh

“iyaaaaa benerr..!!” dia balik heboh, mulai banyak sepasang mata yang melihat kearah kami

“yang waktu itu sering mandi berdua?!!” ucap gue heboh, namun kali ini mendadak hening

Hening

Hening

Hening

Gue di gampar Angel

“Jangaaan diceritain yang itu!!!!” ucap Angel sewot

“eh..eh..i..iya sorry hehe..” ucap gue gelagapan, rasanya mau terjun di kolam bunderan HI, tapi sayangnya cetek

“hahahaha,,, gue kangeen sama luu Cell!!” teriaknya sambil memeluk gue, dan gue kaku mendadak. Pertama kali gue dipeluk sama cewek selain nyokap gue, yaa walaupun dia sodara gue juga

“Marceelll!!!”

CPLASHHH

Suara botol minum yang jatuh dan bocor.

Yaap tepat, Jinan melihat adegan ini. Dia menatap tajam kearah gue.

“kamuu?!!” ucapnya dengan nada di tekan

“Jinan…” ucap gue berdiri dan memegang tangannya

“jangan pegang2. Aku kecewa sama kamu!” ucapnya membanting tangan gue dan pergi dari hadapan gue

Orang2 melihat adegan tadi hanya memasang wajah cengo, bukan karena adegannya keren. Tapi karena mungkin mereka heran, seorang bocah sok-sok an ngomong begitu.

“ehmm.. Cell… tadi siapa?” tanya Angel

“Pacar gue ngel” ucap gue lesuh

“gu-gue minta maaf ya” ucapnya

“gak apa kok. Dia salah paham juga..” kata gue masih dengan tampang lesuh

“yaudah yuk pulang” ucapnya

“eh iya iya.. hmm bentar pulang kemana?” ucap gue bukan dengan tampang lesuh lagi, tapi dengan tampang bego

“yaa ke rumah lu laah cell..” ucap Angel

“eh iya iya oke… eh bentar kok lu ngajak ke rumah gue?  Lu kan punya rumah sendiri?” tanya gue dengan tampang bego lagi

“laah si abang ya.. rumah gue kan di Bandung.. gue kesini kan nginep di rumah lu” kata Angel

“lah? Perasaan tadi pagi gue bangun lu gak ada deh” gue makin bego

“baru tadi pagi gue datengnya. Pas lu udah berangkat, yaudah gue susul deh lu kesini. Hebat kan gue bisa nemuin lu hahahahaha” ucapnya menggelegar

“i-iya iya. Yaudah yuk.. gue udah gak mood disini” kata gue kembali lesuh

“jangan gitu doong!! Semangat!” ucap Angel menyemangati

“yeey” kata gue sambil mengangkat tangan

“lebih semangat lagi!!” kata Angel

“bodo ahh yuk” ucap gue sambil menarik tangannya

Yaa hari yang menurut gue fifty-fifty antara bad day sama good day. Good day nya gue bisa ketemu sodara lama gue, dan yeaah bad day nya gue putus sama Jinan. Eh tapi, kan tadi Jinan belum bilang kata putus, berarti masih lanjut dong. Hehehehe..

Ting tung

Hp gue berbunyi dan mengecek hp tersebut. Ada satu chat Line yang tertera Jinan Safa Safira, gue membuka isi chat itu daaan

“KITA PUTUS!!”

Oke….

TELEEEE!!!!

Hari demi hari, gue mulai bisa move on dari Jinan. Hingga Ujian Nasional dilaksanakan di sekolah gue. Gue lulus dengan nilai total 3,4. Gue bersyukur, bersyukur kunci jawaban yang gue beli gak sia-sia hehehehe…

~OQO~

 

2) Christi

Christi, wajah endo (wajah Indonesia agak ke bule-bulean), tinggi, kulitnya putih, manis, dan memiliki suara yang imut menurut gue. Dia adalah temen deket gue saat masuk di SMA. Berteman sejak dahulu kala, bukaaan tapi berteman sejak kelas 10. Gue gak tau kenapa gue dengan tampang adonan kue gini bisa deket banget sama cewek dengan tampang seperti kue tart rasa lemon. Btw kue tart rasa lemon itu enak, gue setiap ulang tahun pasti mintanya gue itu tart itu.

Kini gue sudah merangkak kelas 11, dimana saat2 yang paling menyenangkan di SMA. Karena sudah memiliki adik kelas, dan kakak kelasnya juga udah sibuk sama UN. Gue senang dan orang tua gue senang, apa nyambungnya.

Kedekatan gue dan Christi semakin erat, dia sering main ke rumah gue, gue sering main ke rumah dia, dia suka nyubit dada gue, tapi pas gue nyubit dadanya gue di gampar.

“Cell, PR Matematika lu udah selesai belum?” tanyanya saat gue baru datang ke sekolah

“sorry Ti, gue kemarin mati suri jadi gak sempet kerjain” ucap gue ngeles gak jelas

“alesan bodoh.. nih salin aja PR gue..” ucapnya sambil memberikan buku Matematika ke gue

“udah gak usah. Gue terima resiko kok.. tenang aja” ucap gue sambil memainkan hp

“udah elah. Sebelum masuk nih.. nih tulis” ucap-nya

“yaudah kalo lu maksa” kata gue mengambil buku tersebut dan mulai mencatat. Dia ngejitak gue.

Beda nya gue dan Christi adalah dia sering masuk ranking 3 besar sedangkan gue Cuma bisa masuk rangking 5 besar dari bawah. Tapi yang bikin gue makin tertarik sama dia, dia gak pernah milih-milih temen, buktinya dia mau temenan sama gue bahkan udah deket banget. Dia selalu mensupport gue dalam hal apapun, misalnya dalam hal pelajaran, dalam hal lomba 17-an, sampai dalam hal percintaan gue.

Yaap dia pernah ngebantuin gue untuk deketin cewek yang bernama Celine, murid baru saat pertengahan semester 1 kelas 10. Sebenernya sih awalnya si Celine ini yang suka sama gue, dan gue nya biasa aja. Namun Christi tetep kekeuh deketin gue sama cewek pindahan itu. lama-kelamaan akhirnya gue kepincut sama Celine dan mencoba untuk menyatakan cinta, dan yaaak gue di terima. Cukup seneng sih gue, cuman gue jadi jarang ketemuan sama Christi lagi.

Pernah suatu kejadian saat gue mau jalan-jalan bareng Celine, entah kenapa Chisti selalu aja mau ikut. Padahal kalau dibilang kan itu namanya kencan, masa gue bawa2 anak orang. Gue sama Celine ke mall sini, dia minta ikut. Gue sama Celine ke kebun binatang dia minta ikut juga. Gue sama Celine ke kamar hotel, dia siapin kamera. Sial kerekam.. yang terakhir gak jadi gara2 ketahuan direkam.

Yaa pokoknya sedikit menyebalkan deh.

~QOQ~

Hari ini tepat 3 bulan gue dan Celin pacaran,  gue dan Celine sedang jalan-jalan di mall, dan ya Chisti di samping kami berdua.

“Kamu mau ke took buku dulu ya?” tanya Celine

“iya, yuk ke took buku” ucapku mengajak Celine

“kamu duluan aja sama Chisti, aku mau ke toilet dulu” ucap Celine. Akhir-akhir ini Celine terlihat lebih dingin sifatnya semenjak kami berdua pacaran.

“yaudah Cell, yuk kita duluan. Ada yang mau gue cari soalnya hehe” ucap Christi menarik tangan gue untuk menuju took buku

“apa sih, tarik2 ti.” Kata gue melepaskan tangannya

“yaa kali-kali lah gue bisa narik2 tangan cowok, apalagi lu kan sahabat gue heheh. Yuk.” Ucap Christi

Gue hanya mengikutinya saja

Setelah setengah jam di took buku, gue mulai bingung. Kenapa Celine gak balik2 lagi. Gue panic, gue telepon dia. Yang jawab bapak-bapak, ternyata gue salah tekan kontak, yang gue tekan tukang di bengkel gue namanya Celeng. Akhirnya gue dapat menemukan kontak Celine tepat di bawah si Celeng.

Dan yak, gak diangkat sama dia. Gue makin panic, bukan karena Celinenya hilang. Tapi karena kartu ATM gue nyangkut di dompet Celine. Sial.

“kenapa Cell? Kok bingung gitu mukanya?” tanya Christi tiba-tiba

“ini Ti, Celine gak angkat-angkat teleponnya.” Ucap gue

“gak mungkin di angkat Cell” ucap Christi santai

“maksud lu?” tanya gue penasaran

“iya, gak bakal di angkat. Gue baru aja liat dia keluar dari mall sama cowok lain.” Kata Christi

“hah? Jangan bohong. Gue tau Celine itu orangnya setia. Hahaha”

“nih kalo gak percaya” ucap Christi sambil memperlihatkan sebuah photo

“i..i..ini Celine?” tanya gue tak percaya. Yapp itu adalah photo Celine dengan seorang cowok dan mereka bergandengan tangan. Yaap, dada gue remuk seketika.

“iya ini pacar lu. Udah percaya belum?” tanya Christi sambil menaruh kembali hp di tasnya

Gue hanya diam saat itu. gue gak percaya kenapa Celine malah nekat di belakang gue.

“udahlah mending sekarang lu bayar tuh buku baru kita keluar, soalnya liat satpam udah liatin lu tuh” ucap Christi berbisik kearah gue

Dan setelah gue liat, ya benar gue di tatap dikira mau nyuri nih buku. Gue pun langsung menuju kasir dan membayar buku gue dan merampok kasir tersebut. Niat itu gue urungkan gara-gara tuh satpam masih ngeliatin gue.

Setelah keluar dari took buku itu, gue dan Christi menuju parkiran untuk pulang. Jujur gue masih gak percaya tentang kejadian ini. Tapi gue beruntung saat ini masih ada sahabat gue yang selalu ada di samping gue. Tiba-tiba gue memeluk Christi saat ingin masuk mobil.

“Ti, makasih banget lu udah jadi sahabat gue selama ini” ucap gue masih memeluknya

“eh..i..iya Cell. Tapi kenapa harus pe..peluk-peluk?” ucapnya

“yaa gak apa2 dong, kan tandanya lu sahabat gue heheh. Tapi ti…” ucap gue terpotong

“a..apa Cell?” tanyanya

“lu rata ya?” tanya gue mendadak

Yaap gue di gampar Christi.

~QOQ~

Di perjalan gue masih memegangi pipi gue akibat tanda sayang dari cewek cantik.

“Ti.. sakit nih” ucap gue

“biarin aja!” katanya dengan melipat tangan

“yaelah kan gue Cuma becanda. Jangan marah lah..” ucap gue memohon

“bercanda lu gak jelas tau gak. Masa di katain rata” kata Christi

“yaa kan fakta” kata gue

“bodo amat!” kata Christi

“yaudah deh supaya lu mau maafin gue gimana deh” ucap gue memelas

“hmm yakin mau di turutin?” tanya Christi

“iya semua yang lu mau akan gue turutin.” Ucap gue pasrah. Asal jangan di suruh menjual semua game konsol gue. Itu keberatan sangat.

“yakiiin?” tanya nya

“iyaa yakiin deh.. terserah lu mau nya apa.” Gue semakin pasrah

“yaudah. Tapi lu jangan kaget yaa” ucap Christi

“iyeiyeiye lama dah..” ucap gue

“gue maunya….eh tapi yakin mau turutin permintaan gue?” tanyanya semakin beringas. Pengen gue keluarin dia ke luar, tapi dia cantik. Sayang.

“iyaaa Christi!!” gue mulai kesal

“oke deh. Gue maunya….lu nembak gue sekarang” ucapnya. Otomatis gue mengerem dan ya kaget.

“duuh sakit tau!” ucap Christi kesal

“ma..maksud lu?” tanya gue heran

“iyaa, gue mau lu sekarang nembak gue” ucap Christi

“hahahaha,,  permintaan aneh dasar. Serius dikit laah” ucap gue semakin heran

“gue udah serius tau..” suara Christi semakin pelan

“ta..tapi kenapa permintaannya itu kyk gini?” gue semakin bingung

“iya Cell, gue pengen lu nembak gue. Gue pengen lu jadi pasangan gue, gue…gue udah lama suka sama lu. Tapi gue rasa lu sama sekali gak ada perasaan sama gue. Gue sakit Cell, pas lu jadian sama Celine. Gue sakit Cell pas lu jalan berduaan sama Celine. Gue…gue..huuh” ucap Christi yang mulai menangis

“tapi Ti. Kenapa? Kenapa waktu itu lu malah deket2in gue sama Celine. Sedangkan lu sendiri punya perasaan sama gue?” tanya gue

“alasan gue dulu deket2in Celine dari lu karena dia  pernah cerita sama gue kalo dia suka sama lu. Gue mau menjaga perasaan Celine, karena itu gue gak bisa menyatakan perasaan gue ke lu Cell.” Ucapnya masih dengan tangisan

“lu itu juga bego tau Ti” ucap gue serius

“ma..maksud lu?” tanya Christi

“iya lu bego. Kenapa harus deket2in gue sama Celine. Sedangkan gue dulu ngejer2 untuk dapetin lu. Kenapa gue gak nembak lu aja dulu. Karena gue liat lu termasuk orang berprestasi di kelas kita, gue gak mau nilai lu turun gara2 pacaran sama gue. Dan gue tau gue gak akan bisa dapetin orang yang nilainya tinggi sedangkan gue dapet nilai 50 aja udah bersyukur hahaha. Ya kan?” ucap gue menoleh ke Christi, namun ia masih menangis tapi menatap kea rah gue.

Gue pun tersenyum, “udah jangan nangis lagi. Gue gak suka liat cewe nangis di deket gue.” Kata gue sambil memberinya tissue

Keheningan di antara kami pun terjadi.. \

“jadi..” ucap gue menoleh ke arahnya dan Christi melihat kearah gue

“apa?” tanya nya masih dengan isak tangis

“iya jadi, apa permintaan lu itu masih berlaku?” tanya gue dengan senyuman

“i..iya”

“oke.. Christi, lu mau gak jadi pacar gue?” tanya gue sembari memegang tangannya

Ia hanya mengangguk sembari tersenyum lebar dan memeluk gue.

“ma..makasih ya Cell.” Ucapnya

“untuk apa?” tanya gue

“iya, makasih udah ngelakuin permintaan aku tadi. aku seneng bangeet” katanya masih dengan memeluk gue

“iya2. Tapi Ti…” ucap gue

“iya apa sayang?” tanya Christi yang sudah berani ngomong sayang ke gue

“tapi Ti.. kamu bener2 rata ya?” tanya gue

Yaap gue di gampar lagi. Tapi beda ini gamparan kasih sayang seorang pacar. Dan sama aja sakitnya.

~QOQ~

Sudah 5 bulan lamanya gue dan Christi berpacaran. Banyak hal-hal menyenagkan yang kami lakukan. Hingga gue mendapat kabar kalau Christi akan pergi ke Jerman. Jujur gue sakit banget ditinggal seorang yang sangat gue cintai (selain bokap,nyokap, dan sodara2 gue). Yaa dia kasih tau gue saat menjelang ujian akhir semester. Sebagai laki2 yang tangguhnya masih 70%, gue ikut mengantar Christi ke bandara saat itu.

“hati2 ya di sana” kata gue sambil memeluk Christi

“iya , kamu juga baik2 ya di sini” ucapnya dengan tangisan di bahu gue

“Tapi sayang..” ucap gue terpotong

“apa? Aku rata?” tanyanya

“bukan. Tapi..” ucap gue

“tapi apa?” tanya Christi lagi

“tapi kan kamu masih 1 setengah jam lagi naik pesawatnya. Kenapa harus sedih2an sekarang?” tanya gue

“eh iya ya? heheheh… terlalu menghayati sih hehe” kata Christi melepas pelukannya

“dasar haha.. makan dulu yuk sambil nunggu pesawat kamu” ucap gue manarik tangannya dan Christi menarik kopernya

Kami pun makan di sebuah restoran di sekeliling bandara.

“papa dan mama kamu udah duluan di Jerman ya?” tanya gue membuka pembicaraan

“iya, mereka duluan. Anaknya yang cantik ini di tinggal huhuhu.” Ucapnya dengan muka sedih. Tapi cantik. Tapi lucu.

“udah sih haha. Kan kamu anak kuat dan sehat.” Kata gue menyemangatinya, namun gue lebih kayak bikin iklan vitamin anak.

“hahaha iya2.. selama masih ada kamu di sebelah aku, aku gak akan sedih heheh” ucapnya

“beuuuh terharuu guys!!” ucap gue sedikit teriak

“huss, apa sih. Norak tau gak..” ucapnya

“hehehe. Hmm tapi nanti kalau kamu disana, dan aku disini. Apa hubungan kita akan bertahan?” tanya gue

“masih dong. Selama komunikasi kita gak terputus, hubungan kita akan terus berlanjut.” Katanya tersenyum

“aku harap hubungan kita akan terus berlanjut hingga 1 tahun berikutnya saat kamu ke Indonesia lagi” kata gue

“iya sayang. Itu pasti. Makanya janji dulu dong” katanya mengacungkan jari telunjuknya

“kok jari telunjuk?” tanya gue

“iya jari kelingking mainstream. Gak seru. Nih janji dulu dong” ucapnya menggerak2an telunjuknya

“iya2.. aku janji” gue membalas jari telunjuknya.

Ia hanya tersenyum dan gue ikutan tersenyum. Yaap gue harap semua itu sesuai dengan janji kai berdua.

Setelah 1 jam, akhirnya Christi dan gue benar2 berpisah. Kami berpelukan, hanya Christi yang menangis di pundak gue. Dan akhirnya Ia masuk ke ruang boarding sambil melambaik-lambaikan tangannya. Akhirnya air mata yang selama ini gue tahan tumpah disitulah gue mulai menangis. Hingga akhirnya Christi sudah tak terlihat lagi.

Semenjak kepergian Christi, gue selalu menghubunginya lewat telepon. Ia selalu bercerita keadaannya disana. Dan sering mengirimkan foto lewat chat. Namun yang namanya LDR tak akan berjalan lancer, 3 bulan setelah kepergian Christi kami berdua memustuskan hubungan kami karena suatu alasan. Yaa Christi gak bisa menjalin hubungan LDR, dia yang mutusin gue. Gue pasrah, ya memang gak enak menjalin hubungan LDR itu.

Setelah beberapa bulan, akhirnya gue udah bisa menerima hubungan pertemanan gue dengan Christi lagi. Meskipun mantan, tapi tali pertemanan kami tidak terputus.  Gue sering ngobrol lewat telepon sama dia, tapi suasananya berbeda. Mungkin Christi bukanlah yang cocok buat gue.

Hingga gue menjemput Christi di bandara, dan rasa senang melekat di hati gue.

“Maarceeell!!” teriaknya dan langsung memeluk gue

“hehe. Apa kabar kamu Ti?” tanya gue

“baik2 aja hehehe.. gimana kabar kamu?” tanya Christi

“baik juga hehe. Tapi Ti..” tanya gue

“ke..kenapa Cell?” Ia heran

“tapi kok lu masih aja rata?” tanya gue

Yaap gue di gampar lagi.

~QOQ~

3) Okta

Di cerita cinta gue dengan Okta kali ini sih simple. Dia anak basket, gue anak basket di kampus. Kita gak sengaja main bareng. Dan mulai tertarik satu sama lain, dan jadian deh. Tapi di cerita ini gue gak mau ceritain, karena nothing special menurut gue. Udah kayak ftv2 aja gitu. Ketemuan jalan bareng jadian.

Gue putus sama dia karena dia ngerasa gue terlalu sibuk sama tugas2 skripsi gue.

“Kita putus!!” teriak Okta saat di dalam café. Gue tercengang jelas, gue gak salah apa2 tiba2 di putusin

“kenapa ta? Kenapa kamu putusin aku?” tanya gue heran

“iya! Karena kamu terlalu sibuk sampe gak ada waktu buat aku” ucapnya

“aku bagi waktu kok buat kamu. Buktinya sekarang aku bisa ketemuan sama kamu. Itu artinya aku udah bagi waktu buat kamu kan” ucap gue sedikit membentak

Okta nangis. Salah gue.

“kamu gak pernah ngertiin aku. Pokoknya kita putus!” ucapnya lebih ngebentak dari gue

Gue gak nangis.

“yaudah terserah kamu. Tapi!! Tolong bayarin makanannya, uangku habis buat isi bensin tadi!” kata gue membentak tak mau kalah

“yaudah! Aku bayarin! Nih! Cukup?!” tanya dia membentak sambil melempar uang 150rb

“iya cukup!!” kata gue mengambil uang di meja tersebut

“oke! Bye!” ucapnya sambil pergi menuju pintu luar

Yaap gue sedih bercampur marah juga. Sedih karena di putusin sama dia, dan marah karena gue lupa harga makanannya totalnya 200rb, jadi harus nambahin juga gue.

~QOQ~

Setelah kejadian gue dengan Okta barusan,gue menuju salah satu taman di dekat rumah gue. Sore hari taman terasa sepi, hanya ada beberapa anak2 kecil dan keluarganya yang sedang bermain disana.

Gue duduk di bawah pohon sambil merenungkan kejadian tadi.

“apa yang salah coba dari gue ya? apa gue egois? Apa gue sesibuk itu sampe dia putusin gue?” gue ngomong sendiri di bawah pohon tersebut

“gak kok, kamu gak egois! Dan kalo kamu sibuk pastinya punya alasan kenapa bisa sibuk. Hmm biar aku tebak, pasti karena kamu lagi nyusun skripsi ya? hahahaha.” Ucap seseorang yang membuat gue celingak-celinguk

“siapa yang barusan ngomong?” tanya gue

“aku di atasmu” kata seseorang dari atas kepala gue

ZEEP

“aku yang ngomong hehe” ucap seseorang yang kini gue tau dia seorang cewek

“jirr.. bikin kaget aja dah..” ucap gue memegang dada gue

“hahaha,, hati2 jantungan. Ngapain kamu di bawah pohon ini duduknya?” tanya cewek itu

“yaa gak apa2 duduk2 aja. gak boleh ya?” tanya gue

“gak kok, santai aja. tapi liat2 dong duduknya dimana..” ucap cewek itu sambil melirik ke atas. Bagaikan binatang peliharaan gue ikut2an melirik ke atas dan yaaak ada rumah pohon di atas. Kalo tau gitu, ngapain gue duduk di bawah, toh juga di atas lebih enak.

“eh sorry2.. yaudah gue pindah pohon deh” ucap gue berdiri, namun cewek itu menahan bahu gue sehingga gue duduk kembali. Tapi sakit, karena pantat gue kena ranting.

“udah gak apa2 kok hehe.. nama kamu siapa?” tanya cewek itu

“Marcell. Kamu?” tanya gue

“Shania Gracia. Bisa di panggil Gracia atau Gre atau Ge atau Grecot atau..”

“Stop.. aku panggil kamu Gre.” Kata gue

“hahah oke deeh.. aku setuju.. btw baru putus ya?” tanya Gre

“yaa kamu udh tau kan. Ngapain tanya lagi” jawab gue malas

“iya sih, bego juga aku hahah..” ucapnya sambil duduk di samping gue, “kuliah dimana?” tanya Gre

“di Atma” ucap gue sambil memainkan ranting di sebelah gue

“ouuh, sama dong hehe.. kok gak pernah ngeliat deh” ucap Gre sambil melirik ke arah gue dan menyipitkan matanya

“hah? Serius Atma juga? Jurusan apa?” tanya gue mulai penasaran

“Psikologi, kamu?”

“Teknik” ucap gue

“wiih udah mau skripsi. Berarti aku harus panggil kamu kakak dong hehee. Heey kak Marcell!” ucapnya sambil tersenyum

“gak usah lah. Emang kamu angkatan berapa?” tanya gue

“2016 hehehe. Aku Maba kakak” kata Gre

“ooh yaa Cuma beda 2 tahun kok. Panggil nama aja.” ucap gue

“hmm gak ahh. Mau nya panggil pake kakak. Gak apa2 kan kak Marcell? Hehe” ucap Gre

“iya2 terserah lah.. btw rumah pohon itu punya kamu?” tanya gue

“yaa punya keluarga aku sih lebih tepatnya kak. Kenapa kak? Mau masuk gak?” tawar  Gre. Dengan senang hati gue mengangguk. Karena gue merasa disini sudah mulai panas

Kami berdua pun masuk ke dalam rumah pohon tersebut. Rumahnya sih kecil Cuma sepetak, tapi bagi gue ini nyaman

“maaf kak berantakan hehehe” ucap Gre sambil membereskan barang2 yang berserakan

“gak apa2 kali. Lebih rapi dari kamarku ini hehe.. rumah kamu dimana?” tanya gue

“rumah ku di depan taman ini kak. Tuh ke liatan dari sini” ucap Gre sambil menunjuk rumahnya dari jendela

Gue pun hanya ber’oh’ ria.

“Graciaaa!!” teriak seorang wanita yang memanggil dari arah bawah

“iya maa kenapa?” tanya Gracia dari jendela rumah pohon sambil memperlihatan kepalanya

“sini bantuin mama masak. Bentar lagi ada om Agus mau datang” teriak wanita itu lagi

“iya ma Gre kesana. Kak aku ke rumah dulu ya, kakak disini aja nanti aku balik lagi deh” ucap Gre

“udah gak usah Gre hehe. Aku juga mau balik aja hehe” ucapku sambil beranjak

“jangan kak!” ucap Gre sambil mendorong gue dan kembali terduduk, tapi kali ini empuk ada bantal

“kenapa?” tanya gue heran

“pokoknya jangan. Tunggu aku disini ya. daah” ucap Gre sambil turun ke bawah

“aneh.. gue aja belum kenal sama tuh anak. Main tahan2 aja. eh apaan tuh?” ucap gue sambil mengambil sebuah buku berwarna ungu

“ Diary Gracia. Pffftthh masih aje pake buku beginian, ada teknologi bernama laptop ckckc..” kata gue terkekeh saat membaca judul buku tersebut

Gue pun mulai membaca-baca buku tersebut. Banyak curahan hati dari anak bernama Gracia itu, dari mulai saat senang hingga saat susah. Ada bacaan yang menarik menurut gue, yaitu ketika dia ditolak sama cowok saat dia SMA.

“buseet hebat bener, cewek nembak cowok haha. Jarang2 ini.” Kata gue tertawa, lalu membaca diary tersebut

Gracia menceritakan bahwa dia sudah suka dengan cowok tersebut sejak kelas 10, lebih tepatnya saat MOS. Dia satu kelompok dengan orang tersebut dan lama-kelamaan Ia mulai suka dengan cowok tersebut. Dan beberapa bulan kemudian dia mencoba untuk memberanikan diri menyatakan cintanya ke cowok itu melalui surat. Dan di tolak. The End.

Gue diem.

Gue melanjutkan menuju halaman berikutnya, “wiih ada foto2 dia waktu SMA haha” ucap gue melihat-lihat fotonya hingga di halaman terakhir. Terlihat…

“haaay kak!” teriak Gre yang membuat gue kaget dan langsung menutup buku tersebut kemudian reflek kelempar

“kenapa kak?” tanya Gre heran

“oh..e..enggak kok haha” kata gue gelagapan. Dan gue melihat Gre membawa sebuah mangkuk yang gue gak tau isinya apaan

“kak, udah makan blm?” tanyanya

“belum. Kenapa?” tanya gue sambil memainkan hp gue

“nih aku bawain soto ayam hehe. Di makan ya kak.. aku yang buat looh hehe” ucap Gre sambil menaruh mangkok tersebut di meja

“wah makasih makasih hehe” ucap gue sambil memegangi pundak Gre, tanpa sadar.

“eh..i..iya kak sama2 hehe”

Tanpa ba-bi-bu gue langsung melahap soto tersebut dan ternyata…

“ASIIIN!!!” ucap gue dalam hati dan memasang muka datar

“kenapa kak? Enak kan?” tanya Gre

“i..iya enak kok enak hehe” kata gue bego

“waah ternyata hasil belajar masakku kmrn membuahkan hasil hehe.. kakak loh orang pertama yang makan makanan yang aku masak. Dan ternyata enak! Yeaaay!” ucapnya loncat2 dan membuat rumah pohon ini udah kayak gempa

“BGST KELINCI PERCOBAAN GUE KALO GINI!! ASIIIN KAMPREET!!!!” teriak gue dalam hati

“eh! Kok buku aku ada disini? Kakak baca2 ya?” tanya Gre sambil menyipitkan matanya kearah gue

“eh? Buku apa?” tanya gue pura2 gak tau

“ini buku ungu aku. Yakin kakak gak baca bukunya?” tanya Gre

“enggak suer deh” kata gue sambil membentuk huruf ‘v’ di jari gue

“tapi kok agak lecek gini bukunya?” tanya Gre samkin mendekatkan dirinya kearah gue

“enggak kok serius deh..” ucap gue makin gelagapan

“hmm yaudah deh hehe..” ucap Gracia sambil menaruh kembali buku tersebut di meja

Gracia pun duduk di kasur bersama gue. dia mulai membaca-baca buku ungu tersebut, sedangkan gue menahan derita lidah gue yang mulai merasakan sakit darah tinggi, karena terlalu banyak mengkonsumsi garam.

“kak, bagus gak gambar aku ini?” tanya Gracia, Ia memperlihatkan gambar sketsa seorang pria. Dan mungkin itu adalah orang yang Ia suka saat sekolah

“hmm bagus kok. Itu siapa btw? Pacar kamu?” tanya gue yang masih berusaha menghabiskan soto laknat ini

“bukan. Cowok yang di gambar ini kakak aku” katanya tersenyum

“hooh? Kamu punya kakak.. kakak kamu dirumah?” tanya gue

“gak, kakak aku udah meninggal tahun lalu.” Gue kaget, dan diam.

“ma..maaf gre gue gak tau” ucap gue sambil melihat kearah Gracia

“iya kak gaka apa2 kok hehehe. Aku pengen deh punya kakak lagi. Bisa di ajak jalan2, apalagi kalo kakaknya cowok kayak kakak aku ini hehe. Kangen aku jadinya” ucap Gracia yang mulai menangis

“jangan nangis gue gak suka liat orang nangis” ucap gue sok cool

“eh.. iya kak maaf.” Ucapnya sambil meletakan buku ungu tersebut di meja

“nih udah habis, mangkoknya taruh dimana?” tanya gue

“eh sini aku bawa ke rumah aja” kata Gracia sambil menghapus sebagian air matanya

“yaudah turun bareng2 aja, gue juga udah mau pulang” ucap gue dengan menenteng tas untuk bersiap-siap pulang

“eh? Kok cepet banget kak. Hmm ke rumahku dulu yuk, aku kenalin papa mama aku hehe” ucap Gracia

“udah gak apa-apa. Lain kali aja kakak ke rumah kamu lagi hehe. Mau ngerjain skripsi dulu. Dan kamu… kamu butuh waktu sendiri untuk sekarang, kakak tau kamu kangen banget sama kakak kamu, lebih baik kamu ke kamar kamu dan nangis sepuasnya hahaha.. kakak tau kamu masih mau nangis” ucap gue tersenyum sambil memegang pundaknya

“i-iya kak makasih ya” ucp Gracia sambil tersenyum

“makasih buat apa?” ucap gue heran

“yaa makasih udah pengertian sama aku hehe” ucap Gracia

“hahahaha yaudah yuk turun” ajak gue

Kami pun turun dari rumah pohon itu dan gue berpamitan dengan Gracia, tak lupa Ia memberi kontak ke gue, kalau-kalau gue akan ke rumahnya lagi.

Di tengah perjalanan gue baru menyadari, lidah gue kebas gak bisa merasakan apa-apa.

Sial gue lupa minta minum.

 

~QOQ~

Setelah 1 jam perjalanan, gue akhirnya sampai juga di rumah idaman gue. yak rumah yang besar dan memiliki taman yang indah. Terdapat mobil mewah terparkir di garasi otomatis yang terbuka. Yaap, itu rumah tetangga gue.

Gue membuka pagar rumah untuk memasukan mobil bekas 4 tahun ini. Dan masuk ke rumah yag sepi.

“malam” ucap gue

“ehh kak Marcell. Baru pulang kak?” tanya seorang gadis

“gak masih di jalan” ucap gue cuek

“tapi kok udah di rumah?” tanyanya heran

“yaa udah pulang lah artinya. Pake nanya lagi. Mama sama papa dimana?” tanya gue sambil menggantug jaket

“lagi pergi belanja tuh. Eh eh kak, Kyla tadi menang lomba cerdas cermat loh hehe. Pinter kan aku” uapnya bangga, padahal baru sekali. Cih…gue gak pernah

“waah good good. Itu baru adeknya kakak.. dah yaa kakak mau ke kamar dulu” ucap gue

“dih, di kasih hadiah kek gitu. Huuft..” ucap Kyla sambil memanyunkan bibirnya

“mau hadiah? Sini deket2 sama kakak” ucap gue

“ada hadiah kak? Asiiik” ucap Kyla sambil mendekatkan diri ke gue

“sini lebih deket” kata gue memberi aba-aba

Dia semakin dekat

“muaaah…” gue mencium keningnya

“iiih kok cium2 sih?” tanyanya sambil mengusap-usap keningnya

“itu hadiah dari kakak. Dah yaa mau mandi dulu” ucap gue sambil pergi ke lantai 2

“awaaas yaa kak! Dasar kuping ayam!!” teriak Kyla

“dih, bodo amat. Dasar moncong ayam” gue gak mau kalah. Hingga gue memasuki kamar gue dengan tenang dan selamat.

Setelah mandi gue merebahkan di kasur kesayangan gue. saat sedang mendengarkan lagu tiba2 berbunyi

TUING

Sebuah pesan line masuk ke hp gue. dan gue melihat chat tersebut dari Christi.

Christi: “cell sibuk gak malam ini?”

Marcell: “hmm kaga sih, kenapa ti?”

Christi: “gue mau ketemuan di café biasa bisa gak?”

Marcell: “jam berapa? Jam 8 mau? Gue baru sampe rumah soalnya”

Christi: “yaudah bisa kok.. sorry loh jadi ngerepotin”

Marcell: “saanss, gak apa2. Udh dulu ya gue tidur dulu. Capek”

Christi: “oke deh. See you”

Gue hanya membaca pesan tersebut dan mulai menutup mata. Hari yang berat..

 

~QOQ~

Jam 8 malam, gue sudah berada di café bersama Christi.

“kenapa ti?” tanya gue membuka percakapan

“ini gue mau curhat hehe” ucah Christi

“hooh, yaudah mau curhat apa?” tanya gue sambil menyeruput minuman yang sudah tersedia

“ini, kan temen gue yang dari Jerman mau dateng kesini”

“terus?”

“yaa gue gak suka dia kesini”

“loh? Kenapa gak suka? Bukannya bagus ya ketemu temen dari Jerman?” tanya gue heran

“temen gue ini suka sama gue, dan gue gak suka sama dia” ucap Christi

“pffthh, hahahahhaha.. yaampun Cuma gini? Yaudah biarin aja lah, dia gak tau rumah lu dimana kan?” tanya gue

“yaa iya sih, tapi kan. Ahh tau ahh kesel gue” ucapnya sambil memanyunkan bibirnya

TUING

“awww sakit tau” ucapnya sambil memegangi bibirnya

“lagian manyun2 segala. Eh sekalian nih gue mau cerita2 hehe” ucap gue

“wiih cerita apa?” ucapnya antusias sambil menyeruput minumannya

“gini, tadi pagi gue baru aja di putusin cewek. Terus…”

BRUUFFH

“etdah kok muncrat? Kenapa lu?” gue kaget dia muncratin minuman ke makanan gue

“lu di putusin cewek lagi?” tanya Christi dengan tatapan melotot. Gue takut.

“i-iya tadi pagi.” Ucap gue gemeter

“kok bisa? Sama yang namanya Okta itu kan?” tanya Christi

“iya sama dia. Siapa lagi coba” ucap gue memangku dagu

“pffth, nsib lu cell hahaha. Yaudah2 lanjutin cerita lu tadi” ucap Christi sambil membersihkan mulutnya dengan tissue

“terus sorenya gue ketemu cewek pas lagi duduk2 di pohon.” Ucap gue melanjutkan cerita

“terus?”

“yaa terus gue suka sama dia”

BRUUFFH

“terus aja ti semburin gue..” ucap gue dengan muka sengak

“eh eh sorry. Kaget aja gue” ucapnya santai

Kali ini bukan makanan gue yang di semburin, tapi muka gue

“gitu aja kaget dah..” ucap gue jengkel sambil membersihkan noda membandel di muka gue

“yaa kaget lah, baru juga ketemuan masa udah suka aja” ucap Christi

“yaa namanya juga cinta pada pandangan pertama hahaha” gue bangga bisa mengucapkan itu dgn lantang. Padahal gak berfaedah

“terus? Apa langkah selanjutnya?” tanya Christi

“yaa gue rencana mau deketin dulu hubungan gue sama cewek itu. gimana menurut lu?” tanya gue

“mana gue tau”

“yaa kan lu cewek ti.” Ucap gue

“yee si bapak, lu kira semua cewek sama kayak gue. gak lah.. yaudah lu coba aja dulu chat2an gitu sama dia. Abis chat2an ajak jalan tuh cewek” ucap Christi

“hmm gitu yak. Abis itu tembak?” tanya gue sok polos, tapi emg polos sih gue

“kagalah bapak. Jangan langsung tembak. Ajak beberapa kali dulu jalan, baru lu tembak. Biasanya sih cewek bakal luluh kalo lu ajak jalan 3 atau 4 kali.” Ucap Christi

“itu kan lu. Siapa tau dia beda” ucap gue menyangkal

“yaa kan biasanya. Gimana sih lu..” ucap Christi

“iya sih.. hmm gue coba dulu deh cara itu. btw thx yaa mantan”

BRUUFHH

BGST!! DI SEMBURIN LAGI GUE

~QOQ~

Gue pun mencoba cara2 yang di berikan oleh mantan terindah gue itu. dan yaap manjur. Gue udah jalan sama Gracia 3 kali, dan gue liat dia makin seneng jalan sama gue. mungkin karena gue ke geeran aja.

Dan hari ini adalah hari dimana jalan2 gue ke 4 bersama Gracia. Mungkin kalo bisa di videin juga kali yak. Kayak nge-vlog gitu. Judulnya “Jalan-Jalan bersama Gracia Part 1” dan seterusnya sampe part 4. Di part 4 kali ini, gue akan mencoba menembak Gracia.

Dan inilah gue dan Gracia berada di suatu taman dekat komplek rumahnya Gracia.

“kak, kakak gak bosen ya? jalan2 4 hari berturut-turut sama aku?” tanya Gracia

“hmm gak kok.. gue juga bosen di rumah nganggur haha” ucap gue sambil melihat-lihat bintang jatuh

“kakak penganguran?”

JEGERR!! BUMI MENDADAK MENJADI DATAR. PARA SERANGGA MENJADI SEBESAR KUCING.

“ya.. gak lah.. kan lgi nyusun skripsi hehe” ucap gue tenang

“kok gak selesai-selesai?” ucap Gracia

JEGERR!! BUMI HANCUR DAN PARA MANUSIA PINDAH KE PLANET BEKASI

“yaa bentar lagi kok hehe” gue nyengir2 aje

“hahaha yaudah deh. Hmm kita enaknya ngapain yak kak?” tanya Gracia

“hmm Gre kamu pernah suka sama seseorang gak?” tanya gue membuka topic

“hmm yaa namanya manusia kak, pernah kok. Hehe” ucap Gracia sabil tersenyum melihat kearah langit

“terus cowok itu suka juga gak sama kamu?” tanya gue basa-basi basi banget

“hmm sayangnya sih gak kak” ucapnya terlihat murung

“cowok itu bodoh berarti” ucap gue serius

“maksud kakak?” tanya Gre heran

“iya, cowokitu bodoh. Cewek kayak kamu di sia2in. kamu cantik, periang, dan perhatian. Malah di sia2in” ucap gue sambil melihat kearah Gracia

“ahh mulai deh gombal hehe” ucap Gracia terkekeh

“aku serius” ucap gue sambil berlutut di hadapan Gracia

“eh kak?! Ngapain?”

“hmm, aku mau ungkapin perasaan aku ke kamu” ucap gue yang sudah mulai memanggil dengan emblem aku-kamu

“ma-maksud kakak?” ucap Gracia semakin heran

“iya. Aku suka sama kamu dari pertama kita ketemu. Dan hari ini dan di taman ini aku mau ungkapin perasaan aku ke kamu.. kamu mau gak jadi pacar aku?”

Gracia diem

Gue diem.

5 menit

“jirr lama bener, kaki gue pegel” ucap gue dalam hati

“iya aku mau” ucap Gracia sambil malu-malu

“kamu terima aku?” ucap gue

“iya hehe” ucap Gracia

Gue loncat ke belakang dan tanpa sadar…

“awas kaka da tai kucing!” ucap Gre panic

“ehh dimana? Dimana?!” daan plek… gue nginjek

“i-itu udah kakak injek” ucapnya sengak2 terkekeh

“hah?” dan gue cek

“FAAAK!!”  ucap gue dalam hati

Gracia hanya tertawa.

Setelah setengah jam membersihkan nih sepatu di wc. Akirnya gue mengantarkan Gracia pulang.

“hmm makasih ya kak udah ajak Gracia jalan-jalan 4 hari ini hhe” ucap Gracia

“eh iya sayang sama2 hehe” ucap gue

“dih? Udh mulai panggil2 sayang nih yaa hehe” ucap Gracia

“yaa gak apa2 kan. Toh juga kita kan uda pacaran haha” ucap gue terkekeh

“iih aku gak mau pacaran sama cowok bau tai kucing” ucapnya sambil menutup hidung

“dih gitu banget. Iya deh iya” gue memasang wajah imut

“jgn sok imut deh.. haha aku bercnda kok sayang hehe” ucap Gracia

“sorry tadi kmu bilang apa?” tanya gue sambil mendelik ke arahnya

“gak mau di ulang. Aku udah tau maksudnya. Udah ya aku ngantuk nih mau tidur hehe”

“yaudah sana masuk hehe.. selamat tidur yaa.. jgn lupa mimpiin aku hehehehe”

“ogah”

BLARR

Pintu tertutup dgn indah di depan mat ague

Gue cengok

CKLEK

“hehe maaf tadi kebanting. Angin soalnya hehe. Bye pacar” ucap Gracia

“i-iya bye.. aku pulang ya..” ucap gue canggung

Gue pun mulai menjauh dari pintu rumahnya, dan pulang ke rumah idaman gue. rumah berlantai 3 dan memiliki pagar yang besar. Yaap rumah tetangga gue sebelah kiri.

~QOQ~

Gue kira jalan cinta gue bareng Gracia akan mulus-mulus aja. ternyata semulus-mulusnya suatu jalan, di kemudian hari akan mulai retak. Yaap setelah 6 bulan gue berpacaran dengan Gracia, gue mulai merasakan perbedaan sikap dari Gracia.

Gue mulai ngerasa Gracia semakin lama semakin borju (boros juga). Setiap jalan bareng sama gue, dia selalu banyak belanja sana sini. Entah itu dari barang yang penting sampe yang gak penting. Pernah suatu saat dia udah beli sepatu, dan minggu depan pas jalan sama gue, dia beli sepatu lagi. Padahal sepatu yang dia beli minggu lalu masih bagus.

“hmm aku mau kesana dulu ya. kayaknya ada tas bagus tuh” ucap Gracia menarik tangan gue

“eh? Bukannya kamu udah beli tas ya 2 hari lalu? Kok beli lagi?emang tas yang kemarin udh rusak?” tanya gue sambil menahan lengannya

“gak sih. Cuman itu bagus. Mumpung aku liat sekarang. Takutnya keburu habis stocknya” ucap Gracia

“udahlah. Gak akan habis kok. Toh juga kalo emang habis, kan bisa cari tas yang lain” ucap gue

“dih? Kok kamu jadi gini sih?” ucapnya tampang kesal

“yaa aku kan Cuma kasih tau aja. aku gak mau kamu jadi maniak beli barang” ucap gue

“oh, jadi gitu. Jadi kamu udah mulai gak suka sama sifat aku?” ucap Gracia

“bukan gitu.. tapi…”

“kamu berubah ya? aku gak suka sama cowok yang suka ngatur2 aku” ucapnya pergi dari hadapan gue

“hey, bukan gitu” ucap gue menarik lengannya

“apa?! kamu mau ceramahin aku lagi?!” ucap Gracia

“aku gak akan ceramahin kamu, kalo kamu gak bersifat kayak gini Gre!” ucap gue sedikit membentak

“makasih! Udah ngebentak aku!” ucapnya melepaskan genggaman gue dan pergi

Merasa udah banyak orang yang ngeliatin kita berdua, gue akhirnya menuju mobil sambil menarik tangan gre.

Yaap sekarang di mobil, hening.. itulah suasana saat ini. Gracia Cuma memasang wajah kesal sambil melihat kea rah jendela. Gue hanya diam, dan gak bisa ngomong apa2. Hingga akhirnya sampai di rumah Gracia.

Tanpa mengatakan apa2, Ia membuka pintunya dan turun.

“sayang tunggu!” ucap gue

“jangan panggil2 aku sayang lagi. Kamu udah bukan Marcell yang aku kenal” ucapnya sambil membanting pintu mobil gue

Gue pasrah sambil melihat Gre masuk menuju rumahnya. Gue diem. Dan gue berinisiatif menelepon seseorang

TUUT…TUUT

“halo?” tanya seseorang itu

“halo, bisa ketemuan sekrang gak?” tanya gue

“hmm bisa kok. Kenapa cell?” tanyanya

“gue mau cerita sesuatu” ucap gue

“oke deh. Tapi ketemuannya di komplek rumah gue aja ya. lagi gak boleh jauh2 soalnya”

“yaudah sip. Gue otw sana ya. see you”

“iya see you”

Telepon pun tertutup. Gue masih berharap Gracia keluar rumah dan menghampiri gue. namun gue merasa itu gak akan terjadi. Jalan lah gue ke tempat yang tertuju

Sekitar 30 menit gue sampai di sebuah taman, dan sudah ada seorang wanita menunggu gue.

“hay, sorry lama. Macet soalnya” ucap gue sambil tersenyum

“oh iya gak apa2 kali hehe. Btw mau cerita apa cell? Kok kayaknya serius banget?” ucap wanita itu

“jadi gini Ti. Gue baru putus sama Gracia” ucap gue menunduk, yaa jujur gue malu sebagai pria yang bolak-balik putus.

“hah?! Kok bisa?” tanya Christi kaget

“yaa gitu. Gue rasa sifatnya gracia berubah” ucap gue

“berubah gimana?” tanya nya

Gue pun menjelaskan kronologi kenapa gue bisa putus dengan Gracia. Christi nampak antusias mendengar cerita gue.

“jadi gimana menurut lu ti?” tanya gue

“yaaa menurut gue sih, kalian berdua salah. Gre salahnya adalah seperti yang lu cerita itu, dan lu salahnya adalah terlalu frontal untuk mengucapkan kekesalan lu itu. yaa gre gue liat-liat sih dia orangnya sensitive, jadi dia cepet kesel kalo ada org yang ganggu dia.” Jelas Christi

“yaa gue kan Cuma mau buat dia jadi lebih baik.” Ucap gue masih mrung

“yaa bagus sih langkah lu ini, tapi gak tepat lu bilang gitu ke Gracia.” Ucap Christi

“jadi apa yang harus gue lakuin? Apa minta maaf sama dia?”

“percuma, lu minta maaf pun pasti Gracia juga gak akan maafin lu sepenuhnya” ucap Christi

“yaa terus? Apa?” tanya gue lagi

“kalo pun mau minta maaf lu harus dateng ke rumahnya, dan minta maaf langsung. Biasanya cewek akan luluh kalo pake cara itu. tapi inget… biasanya loh ya” ucap Christi

“hmm yaudah deh, besok gue coba”

“jangan besok, tunggu beberapa hari sampe amarahnya dia reda. Kalo besok yang ada lu di marah2in sama Gre” ucap Christi

“yaudah deh nnti2 aja.. btw thx ya ti lu mantan gue yang paling baik” ucap gue tersenyum

“dih, gue mah bukan mantan lu. Gue itu sahabat lu haha” ucap Christi

“btw main basket yuk, udah lama gak ngalahin lu ehhe” ucap gue

“enak aja, gue udh jago tau sekrang. Bentar y ague ambil basketnya di rumah” ucap Christi sambil pergi ke rumah untuk mengambil bola basketnya

Dan yaa kini gue sadar, Christi lah yang paling pengertian dari antara cewek yang gue kenal sampe saat ini.

~QOQ~

Tiba dimana hari yang gue tunggu2, hari ini gue akan meminta maaf ke Gracia dan di temani oleh Christi.

“udah siapa belum cell?” tanya Christi

“udah kok. Yuk jalan” ajak gue

“ciee semangat banget nih ya ahah”

“iya dong. Masa gak semangat haha”

“oke deh lets go!” teriak Christi

Gue pun memacu motor gue menuju rumah Gracia. Setelah 1 setengah jam, akhirnya kami sampai.

“deg2an gue. takutnya di tolak gue” ucap gue

“yaa jalanin aja dulu haha. Semangat Marcell!!” teriak Christi

“huss diem elah. Nnti kedengeran!” ucap gue sambil menutup mulutnya

“hehe iya2 maaf hehe” ucap Christi

Gue pun menarik nafas panjang dan mulai masuk rumah Gracia menuju teras rumahnya.

Tok..Tok..Tok..

“siapa?” tanya seseorang dari dalam, dan gue tau suara itu adalah suara dari Gracia

CKLEK

Pintu terbuka

“ngapain kamu kesini? Mau cermah lagi?” tanya Gracia dengan muka jutek

“aku kesini mau minta maaf sama kamu” ucap gue

“oh gitu, yaudah aku maafin.” Ucap Gre tapi masih dengan muka juteknya

“dan aku mau minta kamu kasih aku kesematan sekali lagi” ucap gue

“kalo itu sorry aku gak bisa. Dh ya, tuh pacar baru kamu nungguin di depan pager” ucap Gre sambil melihat kearah pager yaitu melihat Christi

“itu bukan pacar aku. Itu..”

“udah deh, aku capek mau tidur” ucap Gracia dan langsung menutup pintunya

“Gre! Gre! Dengerin aku dulu” teriak gue

“gak ada yang perlu di dengerin. Aku udah terlanjur gak suka sama kamu. Mending kamu pulang deh sana” ucap Gracia

“Gracia! Aku serius!” ucap gue

“aku juga serius!! Sana pergi!” usir Gracia

Gue pun sudah pasrah dengan hal ini. Gue keluar rumah Gracia dan di sambut oleh Christi.

“gimana cell? Sukses?” tanya Christi

Gue hanya menggeleng sambil tersenyum.

“sabar ya, mungkin Gracia emang bukan buat kamu. Kita pulang yuk” ucap Christi

gue pun mulai menjalankan motor gue dan pergi dari rumah Gracia. Namun gue meminta Christi untuk menemani gue di taman dekat rumahnya

disana gue Cuma diem

dan dia juga diem

“gue kayaknya emang bego ya” ucap gue membuka percakapan

“gak kok, lu gak bego. gue yang bego” ucap Christi

“maksudnya?” ucap gue dengan tatapan heran kea rah Christi. Gue liat dia mulai meneteskan air matanya

“iya gue yang bego. gue bego kenapa waktu itu mutusin lu cell” ucap Christi dengan isak tangisnya, “padahal lu adalah cowok yang paling setia yang gue kenal selama ini. Tapi gue bego waktu itu gue mutusin lu gara2 gue gak yakin bisa berhubungan LDR sama lu.” Ucapnya masih dengan isak tangisnya.

Gue masih terdiam setelah mendengar perkataan Christi

“gue ngeliat lu memperjuangkan perasaan lu sendiri, yang padahal lu gak yakin cewek itu mau maafin lu. Gue liat lu itu kuat, dan gue ngerasa nyesel sia2in kesetiaan lu itu” ucap Christi

“gue bego cell, bego gue”

Gue pun langsung memeluknya, gue berusaha untuk menenangkan Christi dalam pelukan gue.

“lu gak bego, gue yang bego. bahkan gue idiot, gue merasa idiot udah ngejar cinta yang gak pasti sedangkan di samping gue ada cewek yang selalu support gue. selalu ada disaat gue sedih maupun senang haha. Idiot memang gue” ucap gue sambl mengelus-elus puncak rambutnya

Ia semakin menangis di pundak gue, hingga terasa basah di baju bagian kanan gue ini. Setelah beberapa menit, Ia menghentikan tangisannya dan menatap kearah gue

“udah selesai nangisnya?” tanya gue

“udah kok” ucap Christi

“jadi? Lu masih sayang nih sama gue?” ucap gue menggoda

“hmm pikir aja sendiri” ucap Christi sambil memalingkan wajahnya

“haha, sini liat aku” ucap gue sambil memegang pipinya

“aku juga masih sayang sama kamu. Kalo aku ulangin kata2ku yang dulu, kamu mau dengerin lagi gak?” tanya gue mulai romantic

“kata2 apa?” tanyanya heran

Gue pun berlutut di hadapannya, “Christi, lu masih mau gak jadi pacar gue?”  tanya gue

Ia hanya menutup mulutnya, gue gak tau apa maksudnya. Jangan2 mulut gue bau.

Namun ternyata, “iya aku mau” ucap Christi dengan penuh keyakinan

“kamu serius?” tanya gue

“iya aku serius. Aku mau jadi pacar kamu lagi” ucap Christi tersenyum

Gue pun melompat karena merasa bahagia.

“Cell! Awas tai kucing!!” teriak Christi

“eh? Mana? Mana?” dan PLEK

Gue nginjek lagi. Seperti de javu gue pikir.

Christi hanya tertawa.

Yaa bener2 de javu, tapi gue harap ini adalah cinta terakhir gue. walaupun bukan yang pertama hehe..

~QOQ~

So, Tuhan selalu punya rencana indah yang tak terduga. Seperti kehidupan gue ini, gue mengira pasangan gue Gracia ternyata eh ternyata, pasangan gue malah seseorang yang selalu di deket gue yaitu Christi. Dan gue yakin Christilah yang akan menjadi pasangan gue selamanya.

Dan ini lah kronologi percintaan gue dari SMP hingga gue sekarang yang akan berumur 20 tahun. Banyak suka dan duka. Tapi lebih banya sukanya dong. Hehehe. Yasudah caauu dulu ya, mau ajak Christi jalan2.

“Cell! Udah belum?”

“Iya sayang bentar lagi”

Tuh kan dia udah manggil.. bye bye…

 

THE END

 

-Rama Satya-

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s