Noor, part 1

Tok… tok…  tok…

“Masuk!” teriak seseorang dari dalam ruangan.

Siswa tadi membuka pintu itu dan masuk ke dalam.

“Semester 2 baru dimulai aja udah telat, cih” ucap seorang guru menatap remeh siswa itu.

“Yaelah, baru juga sekali,” siswa yang baru saja masuk itu menutup kembali pintu dan berjalan ke arah gurunya.

Setelah bersalaman dan mencium tangan gurunya, siswa tadi tidak langsung ke bangkunya, ia masih berdiri di depan gurunya.

“Kenapa telat?” tanya sang guru yang bernama Pak Totok itu.

“Tergantung, bapak nanya kenapa saya telat ke sekolah apa telat masuk kelas?” siswa tadi malah balik bertanya pada Pak Totok.

“Dua-duanya,” Pak Totok menatap siswa yang berdiri di depannya itu dengan wajah datar.

Siswa itu adalah Rezza Okta, dia memang paling jago dalam hal terlambat datang ke sekolah. Semua guru bahkan sudah hafal dengan keahliannya yang satu ini, apalagi satpam sekolah dan guru BK, sudah menjadi kegiatan rutinnya untuk bercocok sosial dengan mereka setiap datang ke sekolah.

Rezza juga terkenal siswa yang paling sering melanggar peraturan sekolah, namun ia tidak dikeluarkan karena beberapa prestasinya lebih dari cukup untuk mendapat perlakuan istimewa dari pihak sekolah.

“Saya telat ke sekolah gara-gara saya bangunnya kesiangan, kalo yang telat ke kelas, ya biasa lah, abis dikasih wejangan sama Bu Tuti,” ucap Rezza dengan santainya.

“Yaudah, duduk sana lu,” suruh Pak Totok sambil memutar badar Rezza lalu mendorongnya pelan.

Kemudian Rezza berjalan ke bangkunya yang ada di barisan paling bekalang.

“Lu kesiangan apa emang nggak niat sekolah sih?” tanya seorang cowok yang duduk di depan Rezza.

“Hmmm….” Rezza memegang dagunya seolah-oleh sedang memikirkan sesuatu. “Dua-duanya keknya, hahaha….”

“Bego emang,” ucap cowok itu sambil terkekeh.

Cowok itu adalah Navis Najib, atau lebih akrab dipanggil Najong. Ia adalah sahabat Rezza sejak SMP.

Saat hendak meletakkan tasnya di bangku sebelah, Rezza melihat ada sebuah tas dan jaket di sana.

“Nih tas ama jaket siapa jong?” tanya Rezza sambil melepaskan jaketnya.

“Anak baru,” jawab Najong tanpa memalingkan pandangannya dari papan tulis.

“Sokap?”

“Gatau, gue masuk kelas dia udah ada.”

“Tumben kaga lu ajak kenalan, biasanya lu paling semangat kalo soal kenalan ama cewek.”

“Dari mana lu tau tuh anak baru cewek?”

“Nebak aja sih, lagian mana ada cowok pake jaket panda kek gini,” jawab Rezza sambil menunjukkan jaket panda yang ada di bangku sebelahnya pada Najong.

Najong hanya menoleh sebentar sebelum kembali mendengarkan Pak Totok yang sedang bercerita tentang hari libur semester kemarin.

“Gre mana?” tanya Rezza yang kini sudah berdiri di sebelah Najong.

“Ngapain nanya ke gue? Elu yang tetangganya harusnya lebih tau daripada gue,” jawab Najong sambil berpindah ke kursi di sebelahnya.

“Ah iya gue lupa,” ucap luki setelah duduk di kursi Najong.

“Lupa kok dijadiin hobi, bego emang,” potong Najong dengan nada mengejek.

Tok… tok… tok…

Password?!” teriak Pak Totok yang membuat beberapa siswa tertawa.

“Hah? Password?” meskipun pelan, suara orang yang mengetuk pintu tadi terdengar dari dalam kelas.

“Yup betul! Silahkan masuk!” suruh Pak Totok yang lagi-lagi membuat hampir seisi kelas sedikit tertawa.

Kemudian masuklah seorang siswi dengan wajah yang sedikit bingung.

“Makasih pak,” ucap siswi tadi setelah menutup kembali pintu kelas.

Pak Totok hanya mengangguk dan siswi tadi berjalan ke bangkunya yang berada di sebelah Rezza.

“Ini tas siapa vis?” tanya siswi tadi setelah melihat tas dan jaket Rezza di bangku sebelahnya.

Tidak ada jawaban dari Najong.

“Navis!” ucap siswi tadi sedikit menaikkan nadanya.

“Hah?” Najong menoleh ke arah siswi tadi. “Apaan?”

“Ini tas sama jaket siapa?” siswi tadi menunjuk tas dan jaket Rezza.

“Nih si kampret,” jawab Najong menunjuk Rezza yang tengah tiduran di sebelahnya.

Siswi tadi hanya mengangguk paham dan Najong kembali memperhatian Pak Totok yang masih bercerita.

“Ah iya, jangan panggil gue vis, panggil aja Najong, kalo vis gue malah suka aneh sendiri dengernya,” ucap Najong kembali menoleh ke arah siswi tadi.

“Ngomong-ngomong, nama lu siapa? Trus tau nama gue dari mana?” lanjut Najong.

“Lah?! Udah lupa? Kan kita tadi pagi udah kenalan,” siswi tadi menatap Najong sambil mengernyitkan dahinya.

“Aku Sinka juliani,” lanjut siswi yang bernama sinka itu.

“Ohh…, lu yang tadi hampir telat itu kan?”

“Nah tuh tau, ngapain tadi pake nanya lagi coba.”

“Gue pengen ngetes ingatan lu aja tadi.”

“Alesan, bilang aja lupa.” Sinka menatap Najong dengan wajah datar. “Kalo yang di sebelah kamu itu siapa?”

“Gue kasih tau, mending lu gausah kenal ama nih anak kalo mau hidup lu tetep tenang,” jawab Najong sedikit berbisik.

“Emang dia kenapa?” sinka menatap Najong dengan heran.

“Nih anak bandelnya udah kelewatan, kalo becanda juga suka lupa diri.” Najong melirik Rezza yang masih memejamkan matanya di bangku sebelah. “Dia juga sombongnya udah expert, songong tingkat dewa, pokoknya yang jelek-jelek dia deh master-nya.”

“Pak! Tolong suruh saya keluar dari kelas ini!” teriak Rezza sambil bangkit dari tidurnya.

“Apaan sih lu?!” tanya Pak Totok yang terlihat masih terkejut dengan teriakan Rezza.

Semua murid di kelas itu juga langsung menatap Rezza dengan heran, tak terkecuali Najong dan sinka.

“Saya digosipin mulu sama mereka,” ucap Rezza menunjuk Najong dan sinka.

“Fitnah pak! Saya sama sekali nggak gosipin dia, cuma ngomongin doang dikit,” Najong menatap Rezza sambil nyengir.

“Itu sama aja bego!” ucap Pak Totok dengan wajah datar.

“Lebay lu za!” teriak salah seorang murid yang disambut dengan tawa oleh beberapa murid lain.

“Pen banget ya digosipin? Hahaha…,” Pak Totok menatap Rezza sambil tertawa.

Seisi kelas juga ikut mentertawakan Rezza.

“Taek!” ucap Rezza lalu kembali duduk dan meletakkan kepalanya ke atas meja.

“Makanya kalo tidur ya tidur aja, gausah sambil nguping, haha…,” ucap Najong terkekeh.

“Hihihi….” sinka hanya tertawa kecil melihat tingkah Rezza.

Kemudian Pak Totok kembali bercerita sampai bel istirahat berbunyi.

“Rezza!!” teriak seseorang sambil memasuki kelas Rezza.

Beberapa murid yang masih di kelas itu pun lagsung menoleh ke sumber suara, termasuk Rezza, Najong dan sinka.

“Apaan sih,” Rezza menatap orang tadi dengan wajah datar.

Orang tadi langsung berlari ke arah Rezza lalu duduk di pangkuannya.

“Bisa nggak sih yup kalo masuk kelas gausah pake teriak-teriak?” tanya Najong menatap orang yang duduk dipangkuan Rezza dengan heran.

“Terserah aku dong, wleek…,” jawab orang tadi lalu menjulurkan lidahnya.

“Gimana liburan kamu kemaren?” lanjut orang tadi sambil memainkan dasi Rezza.

“B aja, nggak ada yang spesial,” Rezza memalingkan wajahnya.

“Aku kangen,” ucap orang tadi sambil memeluk Rezza.

Orang itu adalah Cindy Yuvia atau lebih kerap dipanggil Yupi, ia adalah sahabat Rezza sejak kecil. Kedekatan mereka yang mungkin sudah melewati batas status persahabatan membuat beberapa orang menganggap mereka itu pacaran, namun kenyataannya, mereka hanyalah dua remaja yang terikat status saudara beda keluarga.

“Sekarang lu tau kan kenapa gue susah dapet cewek,” Rezza menatap Najong dengan wajah malas.

“Susah apaan? Tinggal pacarin aja tuh Yupi, kelar deh satu masalah receh lu,” ucap Najong lalu berdiri dari bangkunya.

“Udah lah, kuy kantin, gue udah laper,” lanjut Najong.

Rezza yang tiba-tiba berdiri membuat Yupi hampir saja terjatuh.

“Kamu kebiasaan banget deh kalo bangun nggak bilang-bilang,” gerutu Yupi dengan wajah kesalnya.

“Yakali gue cuma mau bangun doang pake laporan segala,” ucap Rezza lalu menyentil dahi Yupi.

“Hihihi…,” sinka hanya tertawa kecil mendengar ucapan Rezza.

“Eh?” Yupi berjalan menghampiri sinka. “Anak baru ya?”

“Iya, kenalin, Sinka juliani,” jawab sinka tersenyum dan menjulurkan tangannya.

“Cindi yuvia, panggil aja Yupi,” Yupi menjabat tangan sinka sambil tersenyum.

“Mau ikut ke kantin nggak sin?” tanya Najong.

“Nggak deh, aku udah bawa nasi dari rumah,” jawab sinka dengan sidikit senyuman.

“Minggir,” ucap Rezza sambil mengangkat tubuh Yupi dan memindahkannya.

“Ihhh!! Kamu ngapain sih?!” tanya Yupi yang terlihat kesal.

Najong dan sinka hanya terkekeh melihat Yupi yang sedang kesal, sedangkan Rezza malah tidak menghiraukannya, ia merogoh saku jaketnya lalu mengambil sebuah korek dan sebungkus rokok.

“Ah iya, kamu makannya di kantin aja bareng kita, siapa tau nasi kamu kurang ato kamu pengen beli minum kan jadi gampang kalo udah di kantin,” ajak Yupi sambil menarik tangan sinka.

“Dasar cewek, suka maksa-maksa, cih,” ucap Najong sebelum mulai berjalan keluar kelas.

Kemudian mereka berempat pergi ke kantin bersama, Yupi berjalan di antara Rezza dan sinka sambil memeluk tangan mereka, sedangkan Najong berjalan di belakang dengan satu tangan memegang pundak Rezza karena ia sedang mamainkan smartphone-nya.

“Kayaknya gausah digandeng juga gue masih bisa jalan yup,” ucap Rezza menunduk ke arah Yupi dengan wajah datar.

“Dia kayaknya juga udah bisa jalan sendiri,” sambug Rezza menatap wajah sinka.

“Kenapa kamu bisa yakin sinka udah bisa jalan? Gimana kalo ternyata di bawah sepatunya ada roda kecil biar orang-orang gatau kalo ternyata dia gabisa jalan?” tanya Yupi menatap Rezza dengan wajah polosnya.

“Cih, bego emang,” Rezza terkekeh lalu memalingkan wajahnya.

Sinka juga ikut terkekeh mendengar pernyataan dari Yupi.

“Kamu mikirnya terlalu jauh yup, hati-hati nyasar,” ucap sinka tersenyum ke arah Yupi.

“Dengerin tuh!” seru Rezza dengan sedikit tertawa.

Yupi hanya memandang Rezza dengan wajah kesalnya, sedangkan Rezza malah sedikit menjulurkan lidahnya yang membuat Yupi semakin kesal. Sinka yang menyaksikan itu hanya bisa tertawa kecil.

“Sumpah jong, lu kek orang buta dari tadi,” ucap Rezza setelah mereka sampai di kantin.

“Hah?” Najong melepaskan tangannya dari pundak Rezza lalu menatapnya. “Lu ngomong apa barusan?”

“Kaga, udah sono lu ambilin kita makanan,” suruh Rezza mendorong Najong masuk ke kantin.

“Kita tunggu Najong di situ aja,” ajak Yupi yang masih memeluk tangan sinka dan Rezza.

“Lu mau pegangin tangan gue sampe kapan?” tanya Rezza setelah sampai di tempat yang Yupi tunjuk tadi.

“Ah iya, lupa, hehe…,” jawab Yupi cengengesan.

Kemudian mereka bertiga duduk bersama, Yupi bersebelahan dengan sinka, sedangkan Rezza duduk berhadapan dengan mereka.

“Kamu pindahan dari mana sin?” tanya Yupi pada sinka yang tengah membuka kotak nasinya.

“Bandung, “ jawab sinka tanpa menoleh.

“Kenapa pindah ke sini? Nggak betah sekolah di Bandung?” Yupi menatap sinka dengan heran.

“Enggak kok, aku pindah ke sini karna disuruh sama mama aku,” sinka menoleh ke arah Yupi dengan sedikit tersenyum.

“Kenapa mama kamu nyuruh kamu pindah ke sini?” Yupi menggeser duduk agar lebih dekat dengan sinka.

“Kenapa elu kepo sama hidup orang lain?” tanya Rezza menatap Yupi dengan wajah datar.

“Terserah aku dong,” Yupi menoleh ke arah Rezza lalu mencibirkan birinya.

“Emang di sini boleh ya ngerokok?” sinka menatap Rezza yang sedang merokok dengan heran.

“Gaboleh sih sebenernya, tapi karna Rezza anak kesayangan sekolah, makanya dia berani ngerokok di sini.” Yupi melirik sinis ke arah Rezza.”Padahal sih udah ditegur berkali-kali, tapi tetep aja masih dilakuin, bego emang.”

““Kenapa emang lu nanyain itu? Pen ngerokok juga?” tanya luki sambil menyodorkan bungkus rokok beserta koreknya.

“Enggak kok, pengen tau aja,” jawab sinka menggelengkan kepalanya.

“Pengen tuh makan ato duit gitu, pengen kok tau,” ucap Rezza lalu berdiri dari kursi.

“Mau ke mana?” tanya Yupi.

“Makan lah,” jawab Rezza setelah membuang rokoknya.

“Kita kan emang lagi mau makan za,” Yupi menatap Rezza dengan wajah datar.

“Makan apaan? Gue nggak liat ada makanan di sini.”

“Makanannya kan lagi diambil sama Najong, kamu sendiri tadi yang nyuruh dia.”

“Lu mau nungguin orang makan? Kurang kerjaan bener,” ucap Rezza menggeleng pelan.

“Orang makan?” tanya sinka dan Yupi secara bersamaan.

Kemudian sinka dan Yupi menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Rezza, terlihat Najong sedang makan dengan lahapnya di meja depan jendela kantin.

“Ihhh!! Ngeselin banget sih! Ditungguin malah makan sendiri!” gerutu Yupi yang kini terlihat sangat kesal.

“Udah, lu di sini aja temenin dia, gue bawain makanan buat lu,” Rezza menahan kepala Yupi yang hendak berdiri.

“Lu mau minum apa?” lanjut Rezza menatap sinka.

“Gausah, aku udah bawa kok,” Sinka menggeleng lalu menunjukkan benda di tangan kirinya.

“Yaudah, serah lu,” ucap Rezza lalu pergi ke kantin.

Setelah Rezza pergi, sinka mulai memakan nasi yang ia bawa, sedangkan Yupi mengeluarkan smartphone dari saku lalu memainkannya.

“Aku baru tau sin kalo tempat pensil bisa buat bawa minum,” ucap Yupi menatap sinka dengan polosnya.

“Hah?” sinka berhenti makan lalu melihat benda yang tadi ia tunjukkan pada Rezza. “Eh?!! Kok jadi tempat pensil sih?! Perasaan tadi aku ambil botol minum deh.”

“Gimana minumannya?” tanya Rezza dengan membawa nampan berisi tiga gelas es teh dan dua mangkuk soto.

Sinka hanya tertunduk malu mendengar pertanyaan dari Rezza.

“Nih gue bawain es teh, doyan kan?” tanya Rezza sambil meletakkan segelas es teh di depan sinka.

“Ng…, makasih,” ucap sinka tersenyum malu.

Beberapa saat kemudian Najong sudah berada satu meja dengan Rezza, sinka dan Yupi. Setelah selesai makan, mereka berempat tidak langsung kembali ke kelas, mereka masih mengobrol di situ.

“Hai…,” sapa seseorang yang tiba-tiba duduk bersama mereka.

“Eh? kak Naomi, tumben baru keliatan, dari mana kak?” tanya Yupi setelah menoleh ke arah orang yang ternyata adalah Naomi.

“Iya nih, abis ulangan Matematika jadi baru sempet ke kantin sekarang,” jawab Naomi tersenyum.

“Kak Melody nggak diajak?” tanya Najong setelah menyeruput es teh yang tadi ia bawa.

“Diajak kok, tapi gatau di mana,” jawab Naomi sambil mengangkat kedua bahunya.

“Cih, hobi kok ngilang, emang dia pikir dia ninja hah?” ucap Rezza dengan nada mengejek lalu menyulut sebatang rokok.

“Kamu kenapa sih za?” Yupi menatap Rezza dengan heran.

“Gapapa.” Rezza bangkit dari kursi setelah meletakkan uang 10 ribuan di atas meja. “Gue ke kelas duluan.”

Kemudian Rezza memasukkan korek dan rokoknya ke dalam saku lalu pergi. Sedangkan Yupi, Najong, sinka dan Naomi hanya menatap Rezza dengan heran.

Baru beberapa langkah Rezza berjalan, ia sudah di hadang oleh seorang siswi dengan tinggi seadanya. Siswi itu mengambil rokok yang ada di mulut Rezza lalu membuangnya.

PLAK!

Sebuah tamparan keras yang mendarat dengan mulus di pipi kiri Rezza membuat semua murid yang berada di area kantin langsung menoleh ke arahnya.

“Kamu apain Gre semalem?!” bentak siswi yang menampar Rezza barusan.

Rezza hanya diam menatap siswi itu sebentar lalu memalingkan wajahnya.

“Itu siapa yup?” bisik sinka tanpa memalingkan pandangannya dari Rezza.

“Itu kak Melody, kakaknya Rezza,” jawab Yupi tanpa menoleh ke arah sinka.

“Mau ke mana kamu?!” Melody menahan tangan Rezza saat ia hendak melewatinya. “Jawab pertanyaan kakak!”

Rezza masih tetap diam dan tidak menatap wajah Melody.

“Kamu punya mulut nggak sih?!” bentak Melody sebelum ia menampar pipi Rezza lagi.

Saat Yupi melihat darah mulai keluar dari mulut Rezza, ia langsung berlari menghalangi Melody yang sudah bersiap akan menampar Rezza lagi.

“Udah kak!” Yupi menahan tanngan Melody dan menghalangi Rezza dengan tubuhnya. “Kasian Rezza, kita bicarain nanti di rumah, nggak enak diliatin banyak orang kalo di sini.”

“Tapi kali ini dia udah kelewatan yup!” seru Melody yang mulai menangis.

“Kakak udah nggak kuat nahan malu gara-gara kelakuannya!” lanjut Melody.

“Tenang kak, kita omongin baik-baik nanti di rumah,” ucap Najong sambil memegang kedua pundak Melody dari belakang.

“Bener kata Najong mel.” Naomi berdiri dari kursi dan menghampiri Melody. “Kita semua tau Rezza itu emang nakal, tapi semua kelakuan nakal dia selalu ada alasan tertentu, nggak mungkin dia lakuin hal bodoh.”

Yupi melepaskan tangan Melody yang sudah mulai melemas lalu berbalik badan dan menatap Rezza yang masih berdiri di belakangnya.

“Kamu ngapain lagi sih?” tanya Yupi menatap Rezza dengan wajah khawatir.

Rezza tidak menjawab pertanyaan Yupi, ia malah memalingkan wajahnya dari pandangan Yupi.

“Mendingan sekarang lu pergi dulu deh,” pinta Najong sambil menghampiri Rezza.

Kemudian Rezza pergi dari area kantin tanpa berkata apa-apa.

“Kamu ikutin Rezza gih, takutnya dia malah lakuin hal yang aneh-aneh lagi,” suruh Naomi pada sinka yang masih duduk memegang kotak nasinya.

“K-kok aku?” tanya sinka mengernyitkan dahinya.

“Karna di sini kamu yang paling gatau apa-apa,” jawab Naomi.

“Huufftt…, yaudah deh,” ucap sinka berdiri lalu pergi menyusul Rezza.

 

*to be continue*

Iklan

5 tanggapan untuk “Noor, part 1

    1. yakali gue sehebat itu bisa nulis sehari satu part -,-
      tunggu aja, kalo ngedit udah selesai, minggu depan langsung gue post

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s