Cinta Palsu, Part 9

-Ayana POV-

“Ay…,”

“Ay…,”

“Ay…,”

Berulang kali ia memanggilku, namun kuberusaha untuk tidak melihat ke arahnya.

“Sayang!”

“APA!”

“Lah, dipanggil sayang langsung nyaut,”

“Kenapa kamu panggil-panggil aku terus Al!”

“Ehee…,”

“Kenapa, senyum-senyum gitu…?”

“Em-Bagi dong, pop icenya,”

“M-mmm…pop ice?”

Entah kenapa tanganku ini tiba-tiba menyentuh bibirnya. Tapi yang lebih parahnya lagi, aku terus saja menyentuh bibirnya itu sambil menatap ke arahnya seakan-akan tanganku ini tidak mau menuruti perintahku.

“A-Anu, Ay…,”

“…um, bibir kamu kering Al,”

“Yah, eng…,”

Gawat! Aku malah membuatnya menjauh dariku, tapi kenapa? Mungkin dia memiliki perasaan tidak suka padaku, tapi kenapa ia sampai setega itu sampai-sampai menjauhiku.

“Maaf Al…,”

“HE! kenapa, Ay?”

“Aku malah bikin kamu jijik, y-yah?”

Aku sedikit ragu menanyakan itu.

“Hue! E-Enggak, s-sheeshh…kenapa lo malah berfikiran begitu,”

“Um…habisnya kamu…,”

Kyaaa…!!!

Dia malah memaksaku untuk menjelaskan pertanyaan tadi, tapi…

“A-Eh…gw mau ke ilham dulu ya, umm…kalau lo ngerasa pusing, gak perlu ikutan olahraga Ay,”

*Deg-Deg…

Kyaaaaaaaaaaaa!!!

Sekarang aku benar-benar membuatnya jadi benci padaku. Semua harapanku telah hilang, Eeehh tunggu sebentar, memangnya apa yang aku harapkan darinya! Lagipula dia kan cuma mau minta sedikit pop ice yang kubeli.

Huaaaaah! Kenapa juga aku malah gak kasih pop icenya!

“Ayana,”

“HAI!”

“Loh? Kenapa jawabnya pake bahasa jepang?”

“Engh! Nadse, kenapa tiba-tiba muncul!”

“Gue liatin dari jauh lo diem terus disini,”

“I-Itu jelas kan, gue lagi istirahat!”

“Tapi lo udah istirahat selama lebih dari 20 menit!”

“Oh, umm…perasaan baru 5 menit,”

“Hemm…kalau gitu geseran,”

“M-mmm…udah capek yah olahraga terus?”

“Bukan capek, tapi males…,”

“Hee…padahal kan seru, terlebih lagi digabung sama anak kelas X-2.”

“Terus kenapa kalau digabung sama X-2?”

“Loh? Bukannya lo punya banyak temen disana?”

“Pret! Banyak juga mereka pada asik sendiri,”

“A-Ano…tapi mereka keliatannya pada mencar sendiri,”

“Huft…Ayana,” Nadse mengusap rambutku

“Kita ini udah temenan sejak SD, gue tau persis sifat lo. Jadi…gue gak akan membiarkan sahabat gue yang lucu ini menyendiri,”

“K-Kyaa! Jangan ngelakuin itu di tempat yang ramai gini!”

“Ah! Sebentar lagi tesnya dimulai,”

“Oh, umm…,”

“Kenapa?”

“G-Gue…gak bisa basket,”

“Santai aja kali, gue juga gak bisa basket, bahkan gak semua orang disini bisa basket. Yang terpenting kita bisa dribble pun bisa dapet nilai delapan,”

“T-Tapi…,”

“Bye Ay,”

“Loh Nads tunggu!”

Nadse kini benar-benar pergi.

“Ay udah latihan?”

“HE! I-Ilham!?”

“Hm? Lo lagi gak enak badan ya?”

“Eng-Nggak kok,”

“Tunggu sebentar, bukannya lo harusnya barengan sama Aldo?” ucapku lagi

“Aldo? Daritadi juga gue sendirian kok,”

“GAH!”

“Whoaa! Kenapa muka lo jadi suram begitu Ay!”

Ternyata dia berbohong hanya untuk menjauh dariku.

Padahal sebelumnya Nadse berhasil membuat moodku kembali naik, tapi setelah mendengar penjelasan dari ilham tadi, rasanya aku benar-benar ingin…

#Mati…

“K-Kalau gitu, mendingan lo ke UKS Ay,”

“Y-yah…,”

*Prit-Priiiiiit!

“Semuanya berkumpul! Kita akan mengadakan tesnya sekarang!”

~oOo~

*Bzzz-Bzzzz-Bzzzzz!

            Bel sekolah berbunyi.

*Guys gue duluan ya!

*Bye! Sampai ketemu besok!

*Bye-Bye!

“Walah semuanya langsung pada balik,”

“Y-yah…begitulah,”

“Loh Ay? Udah gak pusing lagi?”

“Ek! K-Kenapa kamu nanyin hal itu Al?”

“Bukannya tadi pas pelajaran olahraga pusing berat ya?”

“Se-Siapa bilang aku pusing!”

“A-Anu…kalau gitu, gw balik duluan ya, um…,”

“HA! T-Tunggu Al!”

“Sampai ketemu besok Ay!”

“Aldo!”

Terlambat…

Dia benar-benar telah pergi dari kelas. Dan untuk yang kedua kalinya aku berhasil membuatnya jadi benci padaku. #IMEAN  menjauh dariku…

“Huh? Kenapa tuh anak?”

“N-Nadse…,”

“Kenapa si Aldo tiba-tiba lari begitu,”

“Gue gak tau…um…,”

“Hey…pasti terjadi sesuatu antara lo sama dia kan?”

“Bu-Bukan begitu, sebenarnya gue cuma minta maaf sama dia, tapi dia malah kabur,”

“Hemm…begitu rupanya,”

“Gue gak mau tau kenapa lo pengen minta maaf sama dia, tapi sebaiknya sekarang lo pergi ke tempat-tempat yang jualan minuman dingin deh,”

“HE!? K-Kenapa emang?”

“Hari ini lo sedikit lebih galak dari biasanya, hati-hati kalau bicara sama cowok, bisa-bisa mereka salah sangka lagi,”

“Salah sangka…umm…,”

“Nah kalau gitu gue pulang duluan ya Ay,”

“Yah, em…,”

Jadi…begitu ya…

Apa dia menjauhiku karena sikapku yang kasar ini? Tapi…

-Author POV-

            Ayana berlari keluar dari kelasnya tanpa menutup kembali pintu kelas tersebut. Matanya yang berkaca-kaca itu mulai mengeluarkan air mata ketika ia berkedip.

*Sreet!

“Aldo!”

Ia berhenti ketika sampai di depan gerbang sekolah. Ia berhenti karena seseorang yang ia cari berada tepat di depan gerbang sekolahan. Namun ketika ia mencoba menghampirinya…

“Lama banget! Gue udah nungguin lo disini daritadi!”

“WAH! T-Tapi kan kelas kita bubarnya bareng Chelle, lagian pelajaran terakhir kita kan sam…,”

“Udah sekarang kita langsung pulang! Hmph!”

            Ayana terdiam ketika melihat mereka berdua yang berbincang di depan gerbang. Namun tak lama kemudian mereka tampak menghakhiri percakapan kemudian pergi.

~oOo~

Langit-langit terlihat mulai berubah warna, malam pun tiba. Di tempat lain, gadis itu tampak berjalan-jalan sendiri sambil terus memandang ke bawah.

“Aku yang terburuk!”

*Trank!

            Ia menendang minuman kaleng yang ada didepannya.

*Bltak!

“ARGH!”

“Wah! Gawat!” ucap Ayana

Tanpa sengaja minuman kaleng yang ia tendang itu sampai terpental ke arah seorang pria yang tengah berdiri dekat pohon di depan restoran tersebut.

Lantas gadis itu langsung menghampiri pria disana.

“A-Anu…saya minta maaf,”

“Hue! Ayana!”

“GAH! A-Aldo!?”

“Duuh..,” Aldo tampak mengusap-usap kelapalnya. “Lo ngapain malam-malam begini ada di kota?”

“E-Etoo…Anu,”

Ayana tampak diam dengan wajah yang memerah.

“Ek! A-Aku minta maaf Al!” ucapnya sambil membungkuk

“Heee! J-Jangan terlalu dipikirin, lagipula gak terlalu sakit juga kok,”

“Bukan cuma kaleng itu, tapi juga soal tadi…,”

“Tadi?”

“IYA! Kamu pasti jijik gara-gara aku pegang bibir kamu kan! Dan juga pasti kamu jadi benci sama aku karena…,”

“H-Hoi…santai Ay, kenapa lo keliatan berbeda dari biasanya,”

“Huh? Apa!?”

“Biar gw traktir lo makanan ya, karena lo keliatan kurang makan hari ini,”

“H-Hah?” Ayana tampak kebingungan

Kemudian…

*

*

-Sushibe Japanese Food-

“Anu Al…um, aku malah jadi ngerepotin sekarang,”

“Halah jangan terlalu dipikirin, lagipula ini kan restoran jepang, restoran yang cocok sama lo,”

“He-Ehehe…,”

“Tapi kenapa pesenan kita masih belum datang juga ya,”

Ayana tidak menanggapinya.

“Ay,” panggilnya

“HAI!”

“Hue! Pake bahasa jepang!?”

“Um-Maaf Al, apa ada hal yang mau kamu tanyain?”

“Hemm…gak ada, cuma gw mau minta maaf kalau udah nyakitin lo,”

“He!? B-Bukan! Seharusnya aku yang minta maaf kan!”

“Oh ya, soal tadi yang lo bilang bikin jijik itu…,” Aldo menahan kata-katanya. “Apa maksudnya?”

“Hah?” Ayana menampakan wajah yang kebingungan

“I-Itu…ek! Yang itu…aku pegang-pegang bibir kamu, terus kamu jijik dan langsung pergi ninggalin aku,”

“HA! Ah…itu gak seperti apa yang lo pikirkan, Ay…,”

“Huh?” Ayana tampak kebingungan

“Lo tau kan, umm…gw udah sedikit muak dengan yang namanya gosip, jadi…,”

“Yah begitu, umm…,” lanjut Aldo

“Jadi…kamu menjauh bukan karena jijik, tapi karena gak mau di gosip-in?” ucap Ayana terpotong-potong

“Yap, Errr!” Aldo tampak geram sambil mengepalkan tangannya

“Entah siapa orang yang pertamakali gosipin gw sama si curut Michelle itu, dan udah pasti gw gak mau ada gosip lain kalau kita berdua ngelakuin hal seperti itu di tempat yang ramai kayak tadi,”

“Eng, Ah…aku sedikit lega sekarang,” Ayana tampak tersenyum

“He?”

“Sankyu Al…aku gak tau harus bilang apa, tapi…,”

“Wah, ternyata lagi PMS pun masih bisa senyum toh,”

“PMS?”

“HE! J-jadi gak lagi PMS ya?”

“Eehh…memang bener sih aku lagi Dapet, cuma aku gak mungkin sampai ngamuk-ngamuk kayak cewek yang lainnya kok,”

“Fyuh…aman…,”

“Emangnya kenapa dengan PMS?”

“Y-yah…gw punya sedikit pengalaman buruk sama cewek yang PMS,” jawab Aldo

“Pfft…Wahahaha!”

“Hey-Hey! Jangan ketawain gw!”

“Hahaha! Ya ampun, kamu lucu banget deh!”

“Yah, habisnya tadi itu lo bener-bener galak, makanya gw sedikit menjauh tadi. Oh, bisa dibilang itu alasan kedua gw menjauh dari lo tadi,”

“Eng, um…,” wajah Ayana tampak memerah

“Dan juga sebenarnya tadi gw cuma bercanda untuk minta pop ice lo, tapi setelah liat ekspresi lo tadi itu…,”

*JDUAR!

“Lah, efek petirnya bisa pas dengan suasana kita sekarang,” ucap Aldo

“Emangnya kita lagi ujian matematika apa!”

“Bwah! Ujian matematika pun bisa horor!?”

“Geezz…obrolan kita malah makin ngawur,”

“Ngomong-ngomong, gw masih belum tau tujuan lo ada di pusat kota malam-malam begini Ay,”

“HE! I-Itu…,”

            Ayana seperti tidak ingin memberitahu jawabannya untuk pertanyaan itu.

“Kamu sendiri ngapain disini, Al?” Ayana balik bertanya

“Gw? Yah seperti biasa, gw baru pulang dari rumahnya Michelle,”

“Hm…,” Ayana tampak menyimaknya

“Emangnya kamu ngapain aja disana?”

Cleaning Service…,”

“Ho…seburuk itukah pekerjaannya,”

“Lo itu sebenarnya dukung gw atau malah menjatuhkan harga diri gw,”

“Kyahahaha!” Ayana kembali tertawa

“Hehe,”

“EEEHH! K-Kenapa kamu ketawa!” ucap Ayana dengan wajah yang tiba-tiba memerah

“yah gw cuma seneng aja, sekarang lo jadi ceria lagi,”

“Ek!” Ayana tampak malu

*Ini pesanannya…

“Oh, makasih ya mas…,”

Pesanan mereka telah sampai.

“Ampun dah makan ramen malem-malem begini,” ucap Aldo

“Biarin! Emang gak boleh!”

“Yah-Ahaha…,”

Ayana tampak menyantap ramen itu dengan lahap.

“Jangan buru-buru, nanti malah keselek lagi,”

“Hmph!” Ayana tampak acuh samibl terus memakan ramen itu

“Hemm lahap banget makannya. Ah iya, lain kali…lo harus lebih akrab lagi sama temen-temen dikelas ya,” ujar Aldo

“He…,” Ayana langsung berhenti memakannya

“Bukan bermaksud apa-apa, cuma yang gw liat lo akrabnya cuma sama Nadse doang deh kayaknya,”

“EK! I-Itu…,” Ayana menahan kata-katanya

“Huh?”

“Itu karena…aku…,” *Glek! Ia menelan mie di mulutnya

“Aku gak pandai bergaul, dan Nadse itu adalah temanku sejak kelas 6 SD,”

“Wuih lama juga,”

*Trank!

            Mangkok itu tampak kosong tanpa ada kuah sedikit pun.

“Itulah kenapa aku bener-bener akrab sama Nadse,”

“Tapi kan lo itu merupakan salah satu pengurus jurnalis yang paling terkenal disana, pasti banyak temen juga kan?”

“E-Etoo…aku yakin mereka cuma menganggapku rekan klub biasa,”

“Wuih kejam juga,” ucap Aldo

“Yah, itu memang kejam,” balas Ayana

“Maksud gw…lo yang kejam,”

“HA-Ah!?”

“Jangan pernah bicara seperti itu lagi, karena kalau semua orang-orang klub yang kenal sama lo tau…bisa-bisa mereka bakalan benci sama lo,”

“E-Eh…umm…,” Ayana tampak diam

“Wah udah jam sembilan malem,”

“HAH!” Ayana tampak terkejut

“Hm?” Aldo tampak memperhatikan tingkah laku Ayana yang semakin aneh

“A-Aku pikir sekarang masih jam enam sore,”

“Enam sore matamu! Halaaah…sekarang gw lagi yang harus bertanggung jawab,”

“Bertanggung…jawab?”

“Ya, karena gw yang bakalan anterin lo pulang,”

“Itu gak perlu Al, aku bisa pulang sendiri,”

“Hey…gak baik cewek yang lagi Datang Bulan pulang sendirian di malam yang mencekam kayak gini,”

*JDAK!

“GWAHA! Kenapa kaki gw di injek!”

“Jangan bilang Datang Bulan dengan suara yang keras begitu di tempat yang rame begini, tau!” bisik Ayana

“W-Wah sorry…,” Aldo baru menyadarinya

“Uh…kalau gitu kita pulang sekarang,”

“Oke, lo tunggu disana ya, gw mau bayar dulu,”

Kemudian…

*

*

Ckiit!

            Taksi itu berhenti tepat di depan sebuah rumah yang lumayan besar.

“Ini pak uangnya,”

*BRUMM!

            Mobil itu langsung melaju cepat setelah menerima uang dari Aldo.

“WOI! SOPIR TAKSI KAMPRET! KEMBALIAN GW!”

“Hihi…,”

“Jangan ketawa!” ucap Aldo

“Kyahaha! Ya ampun…,” Ayana tertawa sampai mengeluarkan air mata

“Duh…mana sisa uang tinggal segini lagi,”

“Kalau gitu kamu boleh mampir dulu Al,”

“G-Gak usah lah, malu…,”

“udahlah ayo!” Ayana tampak memaksa Aldo dengan menarik tangannya menuju ke dalam rumah

            Namun ketika mereka sampai di depan pintu…

*Ceklek!

“Ayanaaa!”

Seseorang tiba-tiba keluar dan langsung memeluk Ayana dengan erat.

“Darimana saja kamu! Kenapa jam segini baru pulang! Papa khawatir sama kamu!”

“P-Papa! Jangan sekarang! A-Ack!” Ayana tampak malu

“Loh…kamu bawa pacar kamu kesini?” ucap papanya

“HUE!” Aldo terkejut

“B-Buk…,” Perkataan Ayana terhenti

“Wah-wah, ternyata anaknya mbak Smith…,” potongnya

“Mbak smith?” Ayana tampak kebingungan

“Oh, jadi kamu sudah siap menjalani kehidupan baru dimulai dari sekarang?”

“A-Apa maksud om?” tanya Aldo balik

“Tunggu sebentar, sebelumnya siapa itu mbak Smith!” ucap Ayana

“Y-yah, itu julukannya mama saat dia masih kerja dulu. Mereka bilang mama itu adalah pegawai yang paling galak, bahkan lebih galak dari manajer,” Jelas Aldo

“Jadi papa selingkuh sama mamanya Aldo!” ucap Ayana

“Bukan-bukan!” ucap papa Ayana dan Aldo bersamaan

“Mungkin ini cuma nebak, tapi…om ini keliatannya teman mama pas masih kerja dulu,”

“Ya begitulah,” Jawabnya

“Bwah! Ternyata bener…,”

“Kita ngobrol di dalem ya,” ajak papa Ayana

“Ah gak perlu Om, ini sudah malam, gak baik kalau pelajar…,”

“Jangan terlalu khawatir orangtua kamu bakalan nyari-nyari kamu, lagipula mulai besok kan kalian berdua akan tinggal di satu rumah yang sama,”

“HAH!” ucap Aldo dan Ayana bersamaan

 

To Be Continue…

Author : Shoryu_So

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s