Pengagum Rahasia 2, Part 38

“Tunggu Nal, biar aku yang urus,”

“Hm?”

Kinal terheran sambil menatap ke arah Ve.

Lantas Ve kembali masuk ke dalam rumah, disana terlihat Melody yang tengah berdiri tepat di depan kamar Deva.

“Biar aku!” ucap Ve

“Beh…Apaan…,” balas Melody berwajah datar

Cekrek!

            Ve membuka pintu itu.

~oOo~

“Huh? Kenapa gelap gini?”

*Ctak!

            Ve menyalakan saklar disana.

“Hmm?” Pandangannya langsung tertuju ke arah orang yang sedang menyembunyikan wajahnya di bawah bantal

“Kenapa Dev? Ada masalah?”

“Hoh Ve…,” ucapnya dengan suara yang tertahan karena tertutup bantal

Deva kemudian membuka bantal yang menutupi wajahnya.

“Sejak kapan kamu tau password Hp aku,”

“HE! A-Anu…hahaha!”

“Malah ketawa lagi…,” ucap Deva kembali

“Ditambah lagi…kamu pake liat yang aneh-aneh lagi di dalem sini,” ucap Deva sambil menunjukan Hpnya

“Hihi, wajar bukan? Cowok mana ada yang gak suka begituan, apalagi kamu,” ucap Ve

“Geezz…jangan bicara begitu seolah-olah aku ini seorang maniak. Hampir tadi kena serangan jantung,”

“Yang begitu aja dipermasalahkan, huft…,” Ve duduk di pinggiran kasur

“Jelas lah, tadi aku pikir yang ngotak-atik Hp ini tuh kak Melody. Tapi setelah dipikir-pikir, gak mungkin dia tau password Hp ini. Dan yang tau udah jelas pasti cuma kamu,”

“Hmph! Mana mungkin aku gak tau! Passwordnya pake kata *Pipi* Segala!”

“Ufffft…,” Deva menahan tawanya

“Tapi Dev, kenapa hampir semuanya jepang sih, gak ada yang Europe?”

“Buset dah! Doyan yang begituan!? Dah-dah mendingan kamu tidur sana!” Deva sedikit mendorong

“HE!? K-Kemana? Aku kan tidur sama kamu,”

“Bwah! Masa iya!? Bertiga aja di kamar kak Melody!”

“Duuh…mereka juga pasti nyuruh aku tidur disini kali! Lagian mereka juga mau ngurusin dokumen penting kan!”

“Huh…serah,” Deva langsung membelakangi Ve dan kembali menyembunyikan wajahnya dibalik bantal

“Hmph!” Ve tampak acuh

~oOo~

*Kreeeng-Kreeeng!

Bel sekolah berbunyi…

“Um-Dev, aku boleh minta waktu sebentar?”

“Hm?”

“Sin-Ka…,”

(………………………………………………………………)

“Jadi, ada apa? Kenapa kita harus sembunyi dibelakang perpustakaan…?”

“Bukan sembunyi, tapi ini merupakan tempat yang bagus untuk kita bicara empat mata,”

“Jangan sampai waktu istirahatku jadi kebuang sia-sia, terlebih lagi tempat ini banyak nyamuknya lagi!”

“Dev…bukankah seharusnya kamu menjelaskan sesuatu sekarang?”

“Hm? Menjelaskan…Apa?”

“Cih! Ternyata kamu memang menganggap sepele semua ini,”

“H-Hey…sekarang aku jadi takut, keliatannya masalah ini benar-benar serius,” ucap Deva

“Kamu tau Dev, merebut seorang wanita yang telah memiliki tunangan itu benar-benar buruk. Aku gak tau kalau kamu ternyata adalah cowok seperti itu,”

“Oh…,” Deva terdiam. “Soal itu…ya,” ucap Deva kembali

“Kamu tau tentang hal itu…?” tanya Deva balik

“Semua orang disekolah pun tau, karena kak Ve sendiri merupakan orang yang populer dan berpengaruh bagi sekolah kita,”

“He-Eehh…populer ya. Kenapa dia berpengaruh untuk sekolah kita, huh?”

“Karena guru BK kita bakalan diganti sama kak Ve, belum tau ya?”

“Ha!? Um…,” Deva terdiam

“Sungguh mengejutkan, pacarnya sendiripun gak tau tentang hal ini. Apa kamu ini benar-benar cinta sama kak Ve?”

Deva tidak menjawabnya dan langsung berjalan melewati Sinka.

“Bukan urusan kamu…,” ucap Deva

“Geeezz! Aku peringatkan sekali lagi Dev! Jangan berbuat hal yang dapat merusak nama baik seseorang!”

*Kreeeng! Kreeeeeeeng!

Bel berbunyi.

Sementara itu di tempat lain…

“H-Hai Dev…,”

“Em…,” Deva menatap gadis yang menyapanya

“A-Aku…Aku gak bermaksud nguping pembicaraan kamu tadi, ah-um…,”

“Gw balikin kuncinya Gre,” Deva memberikan kunci pada Gracia

“HE-EH!? Tapi kan kamu udah janji bakalan pulang bareng nanti!”

“Sorry-Gw ada urusan…,”

“Ek..aku minta maaf Dev,”

“Gak perlu minta maaf, karena tidak ada orang yang seharusnya disalahkan…,”

Deva pergi tanpa memandang wajah Gracia sedikit pun.

*Tap!

Seseorang keluar dari lorong itu.

“A-Anu! Tadi itu…,” Gracia terlihat grogi

“Hm…jadi gitu ya. Kamu…Gracia kan? Pulang sekolah nanti, temui aku di kelas,”

“Haaah!? S-Sebenarnya aku ada urusan, jadi…,”

“Aku tunggu nanti,”

“E-Uh…,” Gracia terdiam sambil melihat gadis yang melewatinya itu

~oOo~

Jam dinding menunjukan pukul 5 sore, keadaan sekolah nampak sepi. Memang benar semua murid kelihatannya telah pulang ke rumah mereka masing-masing, namun kedua gadis itu tampak masih memperdebatkan sesuatu.

“Maaf! Aku benar-benar harus pulang sekarang!”

“Kenapa buru-buru? Pembicaraan kita belum selesai kan?”

“A-Aku benar-benar minta maaf, S-Sinka…,”

“Hanya itu yang aku tau!” ucap Gracia kembali

“Hmm…Kenapa kamu gemetaran begitu? Kita bahkan belum membahas inti dari permasalahannya,”

“Aku gak gemetaran! A-Aku cuma sedikit takut…um…,”

“Takut? Apa yang kamu takuti?”

“HE! A-Anu…,”

Gracia seperti kehabisan kata-kata, ia langsung pergi dari ruang kelas itu.

“Ternyata memang benar, dia pasti tau sesuatu…,”

“Selain itu…mau sampai kapan kamu diem disana, Shania!”

*Klek!

Pintu kelas yang tadinya tertutup, kini terbuka kembali dari luar.

“Shesh! Ternyata udah ketauan ya,”

“Aku udah sadar sejak pagi tadi. Tingkah laku kamu sejak tadi benar-benar mencurigakan, gak biasanya kamu mata-matain kelas sebelah, heh? Bahkan kamu duduk di bangku paling belakang hanya untuk mengawasiku,”

“Oh-Ho…ternyata kita berdua mengincar kasus yang sama ya,” Shania menutup pintu itu

“Tapi karena sekarang aku tau segalanya, kamu gak perlu melanjutkan semua ini Sin,”

“Maaf…secara gak langsung, aku udah ikut campur dalam masalah-Dia. Aku juga harus ikut menyelsaikan masalah ini,” Sinka beranjak dari kursinya

“Mau kemana kamu? Aku juga harus ikut campur dalam masalah ini! Karena Deva juga merupakan murid kelas X-1 juga! Aku sebagai Ketua Murid wajib untuk…,”

“Kalau begitu kamu harus menyelesaikannya dengan cara kamu sendiri. Karena…kamu itu KM, kan?” Sinka menatap tajam ke arah Shania

Sinka pergi dari ruang kelas.

“Cih! Sinka!” Shania terlihat geram

~oOo~

*Ctang!

Pemuda itu melempar botol kaleng tersebut ke tong sampah disana.

“Jam 6…,”

*Dert-Dert Dert-Dert!

Handphonenya bergetar…

*Dev, kamu gak jadi main ke rumah aku? –Shani

“Cih! Sialan…,”

*Syung! JDAK!

“ARGH!”

Sesuatu terlempar ke arah pemuda itu dan mengenai wajahnya.

“Yo!”

“Ihza…,” ucap Deva sambil mengusap dahinya

“Gw udah menduga kalau lo ada di tempat ini,”

“Huh?”

“Gw boleh duduk di pinggir lo? Dev?”

Deva sedikit bergeser.

“Jadi…gimana rasanya jadi terkenal dalam satu hari?” ucap Ihza

“Shesh! Lo datang kesini bukan untuk membicarakan hal itu kan?”

“Ahaha! Yah, gw cuma mau menghibur lo,”

Deva kembali terdiam sambil menundukan kepala.

“Hebatnya, satu tindakan dapat membuat banyak orang terluka,”

“Geezz…gw gak peduli,” ucap Deva

“Terlebih lagi…apa pedulinya mereka sama urusan pribadi gw,” lanjutnya

“ya-ya…itu benar,” ucap Ihza dengan santai

“Semua orang hanya melihatnya dari luar, tapi mereka sama sekali gak tau apa-apa bukan?” ucap Ihza kembali

“Heh,” Deva mengendus. “Sekarang gw di cap sebagai cowok murahan,”

“Gw tau…,” balas Ihza

“Yang harus lo ketahui adalah…gw melakukan itu semua hanya untuk menolongnya,”

“Gw tau…,” ucap Ihza kembali

“Kita udah sekelas selama hampir 5 tahun, gw tau betul sifat lo Dev. Gw juga masih inget ketika lo nembak Shania hanya untuk membuat cowok yang ngejar-ngejar dia itu berhenti ngeceng dia lagi,”

“H-Hoi! Lo masih bahas soal itu! Lagipula itu kan waktu SMP!”

“Terlebih lagi…Shania juga pasti udah lupa soal itu,” tambah Deva

“Dia gak akan lupa, karena aksi lo itu benar-benar di luar akal sehat bukan?” ucap Ihza

“Ah-Um…,” Deva terdiam

“Sekarang kita kembali lagi ke pokok pembahasan kita tadi,” ucap Ihza

“bukannya tindakan lo sekarang gak jauh beda dari dulu?”

“EK!” Deva tiba-tiba memegang dadanya sendiri

“Memang sakit bukan?” ucap Ihza

“Lo selalu mengorbankan diri lo hanya untuk urusan pribadi orang lain. Apa itu gak masalah buat lo?”

“Mungkin memang benar tindakan lo itu sangat-sangat-sangat-sangat-sangat membantu, tapi disisi lain lo benar-benar sangat menderita karena itu,”

“Metode yang lo pakai dapat membuat seseorang bahagia setelahnya, tapi di samping itu adapula orang yang menderita. Bahkan mereka lebih menderita daripada lo, Dev…,”

*GRAB!

Deva menarik baju Ihza dan ia mengepalkan tangan kanannya.

“Cukup…Za…,”

“Gw gak mau denger apapun lagi sekarang..,”

“…Kalau memang kata-kata gw ini salah, pukul gw sekarang juga!” ucap Ihza

“Ayo! Dasar Pengecut!”

*JDAK!

            Mesin minuman otomatis itu hancur terkena hantaman keras oleh tangan Deva.

“Heh,” Ihza mengendus. “Takut ya?”

“Maaf…gw harus pergi,” Deva langsung pergi dari

Deva berlari sangat cepat meninggalkan Ihza.

“Pikirkan itu baik-baik Dev!” teriak Ihza

~oOo~

*Tok-Tok!

Pria itu mengetuk pintu.

“Tunggu sebentar!” ucap seseorang di dalam

*Klek!

“D-Deva!?” ucap seseorang yang membuka pintu itu

“Shani…aku boleh ikut istriahat disini,”

“Boleh banget kok! Masuk sini!” Shani mempersilahkannya masuk

Kini mereka ada di dalam rumah.

“Duuuuuh…ada bel malah ketuk-ketuk pintu, gimana sih kamu!” ucap Shani

“Um,” Deva terdiam

“Kenapa Dev? Apa ada masalah?”

“Om sama Tante…,”

“Mereka lagi pada pergi, aku sendirian di rumah,” ucap Shani

“Eng…gak apa-apa kan aku istirahat disini?”

“Enggak kok! Mau sampai jam berapa pun juga boleh,”

“Sampai besok…,”

“HE!?” Shani terlihat terkejut

“M-Maksud kamu…nginep!?”

Deva kemudian mengangguk.

“Ek-Um…,” Wajah Shani terlihat memerah

“Aku siapin dulu kamarnya…,”

“Gak perlu Shan, aku bisa tidur di sofa. Lagipula aku belum mau tidur sekarang,” ucap Deva

“Oh-Eng…,” Shani memainkan jari-jarinya dihadapan Deva

“A-Aku buatin makan malam ya!” Shani langsung pergi dari hadapan Deva

~oOo~

*Trank!

Sendok itu berdentingan.

“G-Gimana, Dev?”

“Hm? Kamu nanyain apa?”

“Soal masakanku, gimana rasanya…,” ucap Shani kembali

“Heh,” Deva tertawa. “Aku ini bukan Chef, gak perlu di nilai juga masakannya kan?”

“Setidaknya aku harus tau rasa atau pendapat orang lain tentang masakanku Dev! Apalagi pendapat dari kamu…,”

“Sheesh! Ada-ada aja kamu…,” Deva mencubit hidung Shani

Deva beranjak dari kursi itu.

“M-Mau kemana Dev?”

“Mau minum…,”

“Biar aku yang ambil!”

“Huh? Yaha…biasanya juga aku ngambil sendiri kan,”

“Itu kan waktu dulu! Sekarang biar aku yang ambilin!”

“H-Hei…kenapa malah maksa gitu sih…,” Deva terheran

“Bukan karena aku gak percaya sama kamu, tapi…ini juga-um…ini merupakan kewajiban seorang istri untuk melayani suaminya kan!”

“Wah! S-Suami!?”

“Aku ini kan calon istri kamu!”

*TOK!

“ADUH!”

Deva menyentil dahi Shani.

“Ada-ada aja kamu, masuk SMA aja belum,” ucap Deva

“Huuuuh!” Shani terlihat geram

10 Menit kemudian…

*

*

*Tlek! Tlek!

            Deva memainkan remote Tv itu.

“Di pindah-pindah terus, gak ada yang rame yah?”

“Gak juga…lagian aku mana ada Tv di rumah,”

“Hihi, makannya sering-sering main kesini!” Shani mencubit pipi Deva

“Geeezz…gak ada bola apa!”

“Bola-bola! Pindahin ah! Acara komedi kek!”

“Uh…,” Deva bersandar di sofa itu

“Um, kamu yakin gak mau pulang dulu Dev? Nanti kak Melody malah…,”

“Biarkan…,” potong Deva

“Dev…,” Shani bersandar di bahu Deva

“Ada masalah ya?” ucap Shain kembali

“Gak,” Jawabnya singkat

“Jangan jadikan rumahku ini jaid tempat pelarian,”

“Hiss…aku kesini kan karena janji!” bantah Deva

“O-Eh…maaf,” ucap Shani

“Gak perlu minta maaf,” Deva memegang dagu Shani dan sedikit menariknya

“Aku boleh minta hadiah, Shan?”

“He-EH!?” Wajah Shani terlihat memerah

“A-Apa!?” ucap Shani kembali

*Brak!

“AHK!

Dengan kasarnya Deva mendorong tubuh Shani sehingga kini ia berbaring.

“S-Shaaanii…,”

“D-Deva!? Kamu! EK-AHK!”

Dengan liarnya, Deva meraba-raba ke dalam baju yang dikenakan oleh Shani.

“Shani! Ehk!”

“Dev…Ek,”

*CUUUUPPPSSS!

            Deva mencumbunya secara paksa hingga Shani tidak dapat melawannya lagi. Namun setelah beberapa menit…

*GEPLAK!

“CUKUP DEV!”

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_So

 

Iklan

6 tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 38

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s