Hujan dan pelangi, chapter 3: Warna baru

Empat orang tengah berhadapan itu terlihat saling tunjuk menunjuk
satu sama lain didalam kelas mereka yg memang sedang tidak ada guru yg
mengajar. Hanya saja Guru mereka memberikan tugas untuk dikumpulkan
besok. Dan mereka berempat ingin mengerjakan tugas itu nanti setelah
pulang sekolah, dan masalahnya mau dirumahnya siapa.

” udah Zara aja. Dia kan paling kecil, kasian kan kalau disuruh pergi?”

Devi berbicara sambil menepuk pundak sahabatnya yg berada disampingnya
itu. Anggota yg lain dalam kelompok itu juga nampaknya setuju dengan
usulan Devi barusan.

” masalahnya rumah aku lagi ada tamu dari temen kakakku. Di rumah
Yuriva aja ya?”

Seseorang yg dipanggil Yuriva itu menghela nafas pelan. Matanya
kemudian memandang atap kelasnya seakan ia sedang berfikir.

” rumah aku lagi ada acara. Rumahnya Aaron aja gimana?”

Satu-satunya murid cowok dalam kelompok ini terlihat memiringkan
bibirnya sambil menatap ketiga perempuan yg kini juga menatap
kearahnya sambil tersenyum manis.

” hah. Kenapa bukan rumahnya Devi aja!”

” aduh tempat aku mana bisa!. Kakakku lagi ada tugas kelompok dan
nanti mau dirumah aku?”

Zara, Yuriva dan Aaron hanya menunduk mendengar jawaban dari Devi barusan.

” tugas ini kan harus dikumpulin besok. Terus gimana dong?”

Seseorang gadis lain dalam kelompok itu yg tag name seragamnya
bertuliskan ‘Zahra Yuriva’ kembali berbicara sambil menatap yg lain.

” hah. Dirumah aku boleh kalau memang kalian ga keberatan…”

Ketiga gadis yg ada dalam kelompok itu langsung memandang kearah Aaron
yg terlihat sedang menuliskan sesuatu dalam kertas bukunya.

” ini alamat rumah aku. ”

Aaron terlihat menunjukkan apa yg barusan ia tulis dalam lembaran
kertas bukunya itu.

***

” Ini bener ga sih alamatnya?”

Seorang gadis itu terlihat memegang kertas kecil dalam tangannya.
Kertas kecil yg menunjukan sebuah alamat. Ia mencoba memencet tombol
bel rumah itu dan menunggu hingga seseorang datang untuk membukakan
pintu rumah itu. Tak lama setelah itu, gagang pintu rumah itu mulai
bergerak dan langsung memperlihatkan seseorang perempuan yg berumur
sekitar dua puluhan tahun dibalik pintu.

” nyari siapa dek?”

Gadis kecil yg tak lain adalah Zara itu tersenyum sebentar.

” Aaron nya ada kak?”

” oh temennya Aaron ya. Ada kok, yuk masuk? ”

Zara pun mulai mengikuti arah langkah kaki dari perempuan didepannya
itu. Dan sesekali ia mengamati ruangan yg ia lewati.

” udah berapa lama sama Aaron?”

Zara terlihat kaget mendengar pertanyaan tiba-tiba dari perempuan yg
kini sedang melihat kearahnya.

” hah…anu ma-maksudnya apa kak? ”

” hehe. Bercanda aja tadi. Nama kamu siapa?”

Perempuan itu mulai melangkah lagi, dan kali ini berdampingan dengan Zara.

” oh. I-iya kak. Emm biasanya dipanggil Zara. Kalau kakak siapa? ”

” panggil aja kak Ve. Emang adik aku punya salah apa sampai kamu
datang kerumah?”

” kak Ve ini kakaknya Aaron?. Bukan salah kak, tadi ada tugas kelompok
gitu, nah yg lain sepakat buat ngerjainnya dirumah Aaron, ”

” emang ga mirip ya sama Aaron, atau kakak udah kayak tante-tante?”

Zara dengan cepat menggeleng.

” enggak!. Kakak masih keliatan muda banget kok…hehe, ”

“Yaudah tunggu sebentar ya, nanti kakak panggilin Aaron nya,”

” iya kak, makasih. ”

Zara duduk disebuah bangku disalah satu ruang tamu itu. Ia mulai
mengamati benda-benda hiasan dalam ruangan itu. Perlahan terdengar
suara langkah kaki seseorang yg mulai mendekat kearahnya. Ia pun
menoleh kearah suara itu. Terlihat seseorang menghampirinya dengan
membawa sebuah nampan berisikan sebuah minuman.

” udah lama Ra?”

” baru aja kok. Emm, gausah repot-repot Ron, ”

Orang yg tak lain adalah Aaron itu tersenyum sebentar kearah Zara.

” santai aja kali. Yg lain mana?”

Aaron mulai duduk menghadap kearah Zara sambil mendekatkan minuman
dingin yg tadi dia bawa kearah Zara.

” bentar lagi kayaknya nyampai. Makasih ya, jadi ngerepotin gini? ”

” oh gitu ya. Gapapa kok, diminum aja ga ada racunnya itu. ”

Zara hanya mengangguk pelan. Kemudian hening dalam waktu yg lama. Zara
mengamati minuman didepannya itu. Ia seperti malu-malu untuk meminum
minuman itu, walau ia merasa sangat haus. Itu karena suasana yg
teramat sepi sekaligus ini pertama kalinya ia kesini.

Aaron menatap Zara dengan tatapan heran, karena sedaritadi ia melihat
gadis didepannya itu hanya memandangi gelas minuman itu tanpa
bergeming. Dirasa suasananya mulai canggung ia pun meraih ponsel yg
tergeletak dimeja itu dan mengetikkan pesan kepada seseorang.

” kak. Keruang tamu sekarang!”

Itu tulisan pesan yg ia kirimkan kepada kontak bernama ‘kak
Veranda’
. Lama sekali ia menunggu balasan pesannya itu. Ia
menghela nafas pelan.

” kenapa Ron?”

Zara mulai berbicara lagi karena ia juga merasa heran dengan sikap
dari tuan rumah yg tiba-tiba menghela nafas.

” oh ini. Kok Devi sama Yuri lama banget ya?”

Aaron mencoba mengalihkan perhatian. Tak mungkin ia bilang minta
bantuan kakaknya untuk membuat suasana jadi lebih hidup.

” iya juga ya. Tadi Devi bilangnya bentar lagi gitu?, kok ini udah dua
puluh menitan belum nyampai juga, ”

Keduanya hanya menghela nafas pelan. Kemudian Zara mulai mengeluarkan
buku-bukunya.

” kita kerjain berdua gapapa kan?. Sambil nunggu yg lain?”

Aaron hanya mengangguk pelan. Kemudian mengajak Zara untuk keruang
tengah. Ia mulai beranjak lebih dulu, tapi ia teringat sesuatu.

” diminum dulu tapi minumannya. ”

Zara menoleh sejenak sebelum ia beranjak pergi. Ia tersenyum sebentar
dan mulai meraih gelas itu dan meminum minumannya tadi.

***

Entah sudah berapa lama keduanya saling diam karena sedang fokus pada
soal yg tengah mereka kerjakan. Tangan mungil dari Zara terlihat lebih
aktif untuk menuliskan sesuatu dibukunya, dan Aaron hanya melihatnya
tepat didepannya ia duduk. Mereka berdua duduk dikarpet yg ada didepan
tv ruang tengah rumahnya Aaron.

” tinggal dua soal lagi nih, ”

Zara mendongakkan sebentar pandangannya. Ia bisa melihat Aaron malah
menatapnya tanpa berkedip, dan itu sukses membuatnya sedikit salah
tingkah.

” ron? ”

” Aaron? ”

Zara melambaikan tangannya tepat didepan wajahnya Aaron untuk
menyadarkannya yg sepertinya sedang melamun.

” ng?. I-iya kenapa?”

Aaron langsung sadar sepenuhnya dan merespon sebisanya. Zara tertawa
pelan dan menunjukkan sisa soal yg belum dikerjakan itu. Aaron mulai
menggeser posisi duduknya hingga mereka berdua sejajar.

” yang mana?”

Zara mulai menunjukkan soal itu. Aaron hanya mengangguk-anggukan
kepalanya pelan. Kemudian keduanya mulai fokus lagi dengan dua soal
itu. Dan butuh waktu cukup lama untuk mengerjakan soal itu dan
menyisakan satu soal lagi.

” ini Devi sama Yuri enak bener. Ga ngebantu sama sekali! ”

Gerutu Aaron. Zara hanya mengangguk pelan tanda setuju. Kemudian
keduanya mulai fokus disoal yg terakhir. Butuh waktu sekitar sepuluh
menit untuk mencari jawaban dari soal itu.

Aaron menghela nafas pelan dan mulai membaringkan tubuhnya yg terasa
pegal itu. Dan Zara terlihat merapikan buku-buku yg tadi dia bawa.
Memasukkannya kedalam tasnya dan menarik nafas panjang sebentar.

DUUGGGG!!!

” Aduh!!!”

Zara langsung mencari sumber suara barusan, karena suara itu tak asing
lagi ditelinganya. Aaron yg tadi tiduran langsung mendudukkan
tubuhnya, mencari sumber suara itu. Dan tak butuh waktu lama untuk
keduanya menemukan sosok itu. Zara menyipitkan matanya dan Aaron
memiringkan bibirnya.

” Devi!”

Itu suara yg Zara ia keluarkan saat melihat orang itu.

” Kak Ve!”

Sambung Aaron.

” Yuriva!”

Keduanya berbarengan memanggil nama itu. Hanya tawa pelan dari mereka
dan diikuti kakaknya Aaron yg terlihat menaruh sesuatu diatas lemari
yg ada disampingnya. Sepertinya benda itu jatuh dan tepat mengenai
Devi, karena Devi terlihat mengusap-usap kepalanya, diikuti juga
dengan kakaknya Aaron yg juga mengelus-elus kepalanya Devi. Kemudian
mereka bertiga mulai berjalan pelan untuk menghampiri Aaron dan Zara.

” udah selesai kan Ra? ”

Devi langsung membuka suaranya sambil cengengesan. Zara yg merasa
dikerjai oleh teman-temannya hanya diam tanpa membalas pertanyaan itu
dan ia langsung mengalihkan pandangannya. Veranda, kakaknya Aaron itu
kemudian menyenggol lengannya Adiknya sambil memainkan alisnya. Aaron
cengok, karena ia tidak mengerti maksudnya. Devi dan Yuriva hanya
tertawa pelan melihat kejadian itu.

™~ HUJAN DAN PELANGI ~™

Zara dan Devi mulai melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam gerbang
sekolahnya. Langit yg cerah dipagi itu membuat suasana menjadi lebih
hangat. Keduanya masih terus berjalan menyusuri koridor untuk menuju
kelas mereka.

” gimana Ra kemarin?”

Zara menoleh sejenak kearah sahabatnya itu yg terlihat sedang
tersenyum penuh arti.

” tau gitu, aku ga dateng!”

Suara Zara ia buat seketus mungkin, walau itu malah terdengar aneh
ditelinga Devi. Devi tertawa pelan sambil menyenggol lengan sahabatnya
itu.

” Aaron itu kayaknya suka sama kamu?”

” apaan sih Dev. Sekolah yg bener baru mikirin yg kayak gituan, ”

” ga nyambung Ra. Ini tentang P-E-R-A-S-A-A-N, ”

Devi terdengar mengejakan kata perasaan barusan dengan penakan setiap ucapannya.

” ah terserah deh. Aku lagi mau fokus buat ulangan kenaikan kelas nanti. ”

Zara langsung melongos meninggalkan Devi dibelakangkangnya. Ia
berjalan sambil menundukkan kepalanya, karena ia berharap dengan
begitu ia bisa lebih cepat untuk sampai dikelas. Tapi langkah Devi yg
lebih panjang itu dengan begitu cepat menyusulnya, dan kini tepat
berjalan disampingnya. Lalu ia terlihat mulai menggodanya lagi.

***

Masa-masa indah saat memasuki bangku SMP dimana sering kita temui yg
namanya Cinta, yg kata orang itu hanya perasaan sementara yg kadang
hilang begitu saja.

Zara juga merasakan itu saat ia mulai mengikuti satu kegiatan yg sama
dengan orang itu yaitu di ekskul musik, membuatnya sering bertemu
Aaron disana, itu karena Aaron juga mengikuti ekskul yg sama
dengannya.

Seperti air yg terus mengalir, seperti kalender hari yg terus
berganti. Membuat waktu berlalu dengan cepat dengan berbagai kenangan
didalamnya.

Ulangan kenaikan kelas telah mereka lewati hingga mereka menginjakkan
kaki mereka di kelas berikutnya. Kelas IX dan lagi-lagi mereka, Zara,
Devi, Yuriva dan juga Aaron satu kelas. Dan itu membuat Zara selalu
digoda oleh Devi dan Yuriva tentunya tentang Aaron.

Tanpa mereka sadari persahabatan mereka mulai melangkah kebabak
selanjutnya. Zara dan Devi, semua tak lagi tentang mereka berdua,
karena Yuriva dan Aaron yg mereka temui dari pertama masuk kebangku
SMP kini juga dekat dengan mereka. Aaron yg juga merupakan sepupu dari
Yuriva, entah kenapa ia malah lebih sering bersama mereka bertiga,
walau tak jarang juga ia menghindari mereka bertiga. Tapi alasan
belajar kelompok yg selalu ditekankan Gurunya itu kembali memaksanya
untuk selalu bertemu ketiganya.

Sekali lagi. Waktu terus mengikis setiap memori indah itu untuk
menjadi hanya sebuah kenangan lampau, musim baru telah menghantarkan
mereka menuju akhir dari kisah mereka dibangku SMP. Waktu yg terus
melaju tanpa bisa dihentikan itu, menciptakan sebuah arus kehidupan
dimana kita harus mengikutinya. Menyimpan lembaran-lembaran lama dan
mulai menciptakan warna-warna baru dalam lembaran baru yg sebentar
lagi akan mereka buka.

Ujian Nasional tinggal menyisakan beberapa bulan lagi, membuat mereka
menyibukkan diri untuk mempelajari materi pelajaran. Memaksa otak
mereka merekam apa yg tengah mereka pelajari dengan cara senyaman
mungkin. Kini mereka berempat juga tengah belajar kelompok disalah
satu taman. Mereka ingin menciptakan suasana baru untuk tempat belajar
mereka.

” foto-foto dulu dong!”

Yuriva berbicara cukup lantang hingga ia yakin suaranya didengar oleh
ketiga orang yg kini tengah duduk didekatnya. Aaron disebelahnya. Devi
dan Zara tepat didepannya.

” alay banget!”

Itu suara Aaron yg terlihat enggan mengikuti ketiga orang yg tengah
berpose dengan kamera ponsel yg tengah ia pegang. Aaron hanya menghela
nafas saat ia harus mengambil gambar ketiga gadis didepannya dengan
ponsel milik sepupunya itu.

” udah belum?”

Aaron hanya memperlihatkan hasil jepretannya barusan kepada Yuriva yg
tadi menanyainya. Devi dan Zara juga terlihat mengintip hasil foto
mereka barusan.

” kamu ga foto buat kenang-kenangan?. Bentar lagi kita kan udah mau lulus?”

Zara mengucapkan itu sambil melihat kearah Aaron sebentar. Aaron hanya
tersenyum simpul.

” kenangan ga perlu dalam foto kan?. Aku pasti selalu ingat dari
pertama kita ketemu disekolah itu…dan…”

” pertama kali suka sama Zara…hahaha. ”

Potong Yuriva dengan tawa keras yg setidaknya mengundang tatapan dari
orang-orang yg tengah berada diarea taman itu. Devi hanya tertawa
pelan mendengar itu. Zara, dia mulai salah tingkah. Dan Aaron, dia
langsung membungkam mulut dari sepupunya itu agar tidak menarik
perhatian orang lebih banyak karena tawanya itu.

” Udah jujur aja Ron. Kasian Zaranya kan?. Di PHP-in mulu?”

Devi mulai memecahkan suasana lagi. Zara langsung menginjak kakinya.

” aduh!. Kenapa sih Ra?. Emang bener kan?”

” udah-udah. Kasian Zaranya itu, malah dibecandain mulu, ”

Tangkas Aaron sambil melepaskan tangannya dari Yuriva mulut Yuriva.

” tapi aku sebenarnya ga setuju kalau Aaron sama Zara. Lihat aja
tigkahnya Aaron yg nyebelin dan Zara yg anteng, ga kebayang betapa
kasiannya Zara nanti? ”

Aaron hanya memiringkin bibirnya sambil mendelik kearah Yuriva yg tadi
berbicara dengan entengnya. Devi tertawa kecil sambil menutup mulutnya
dengan buku yg dipegangnya. Zara, ia berpura-pura fokus bada buku yg
dia pegang.

” duh maaf ya Zara, kan biar ga bosen kalau sambil bercanda. Zara mau permen?”

Devi menaruh bukunya dan langsung membuka kancing tasnya untuk
mengambil sesuatu untuk diberikan pada Zara.

” enggak! ”

Zara langsung mengalihkan perhatiannya dari Devi.

” mau roti?”

Kini giliran Yuriva yg berbicara dengan sesuatu yg sekarang ia pegang.

” Enggak! ”

” kalau coklat?”

Zara langsung menoleh cepat saat mendengar kata coklat. Ia bisa
melihat coklat batangan panjang yg kini dipegang oleh Aaron. Zara
diam, walau ia memang sulit sekali menolak coklat itu. Itu karena
coklat merupakan salah satu makanan favoritnya. Tapi ia sungkan.

” Terima!. Terima!. Terima!”

Zara langsung menoleh kearah Devi dan kemudian kearah Yuriva. Seketika
juga Devi langsung berpura-pura membuka bungkus permen yg tadi dia
pegang sambil melihat-lihat sekitarnya, seakan mengalihkan tatapan
dari Zara. Yuriva, ia malah berpura-pura memakan rotinya tadi yg jelas
belum ia buka itu, alhasil ia malah mengunyah plastik pembungkus
rotinya. Zara hanya menghela nafas pelan melihat kelakuan dua
sahabatnya itu. Ia lalu kembali beralih kearah Aaron, dilihatnya
coklat itu bertambah menjadi tiga buah. Seingatnya tadi hanya ada
satu.

” Yuriva!. Mau apa kagak nih?”

” ini buat kamu Dev, ”

” ini buat kamu Zara. ”

Yuriva langsung menyambar satu coklat itu diikuti Devi dan kemudian
Zara yg terlihat malu-malu itu mulai meraih coklat terakhir yg
dipegang Aaron. Aaron tersenyum sebentar.

” makasih…”

Suara dari Zara terdengar sangat lirih. Tapi itu masih bisa didengar
Aaron. Aaron hanya mengangguk pelan.

” oh iya Ra. Mau lanjut sekolah dimana?”

” SMA 5, tadi udah sepakat sama aku, ”

Devi yg menyaut dengan cepat karena ia rasa sahabatnya itu akan lama
untuk memberikan jawaban.

” berarti samaan kita. Kok bisa gitu ya?”

” ah, palingan Yuriva cuman ikut-ikutan aja. Bilang aja kagak punya
sekolah tujuan, ”

Yuriva yg memang duduk disebelah Aaron itu langsung memukul pelan
kepala Aaron. Devi dan Zara hanya cekikan.

” emang kamu mau sekolah dimana Ron?”

Aaron menghela nafas pelan setelah Yuriva berhenti memukuli dirinya.
Lalu ia menatap kearah langit yg mulai berwarna orange itu. Ia
tersenyum sebentar.

” sama.”

Seketika Yuriva memiringkan bibirmya. Devi dan Zara hanya tertawa
pelan. Aaron, dia mulai menghindari pukulan-pukulan dari Yuriva.

™~ HUJAN DAN PELANGI ~™

Zara berjalan pelan menyusuri koridor sekolahnya. Melewati pasang mata
yg sekarang telah menjadi adik-adik kelasnya. Dia tersenyum saat ada
yg menyapanya dengan sebutan ‘kak’. Rasanya sekarang ia sudah cukup
tua. Bahkan ia tidak terlalu merasakan pergantian waktu yg dinilainya
terlalu cepat. Ia menghentikan langkahnya tepat didepan kelasnya dulu
saat pertama kali masuk kesekolah ini. Kemudian dilihatnya beberapa
murid tengah berlarian didalamnya, ia kembali tersenyum. Rasanya ia
juga ingin mengulanginya lagi dengan Devi yg dulu juga sering
berlarian didalam kelas.

” ada kak Zara itu!”

Seseorang gadis bersuara cukup lantang dan telunjuknya mengarah pada
Zara. Zara tersenyum manis. Ia lalu melambaikan tangannya kearah adik
kelasnya yg ada didalam kelas itu.

” gue di senyumin sama Zara…”

” itu buat gue!”

” halah. Ya jelas buat gue!”

Senyuman Zara barusan malah mengundang sedikit keributan untuk murid
laki-laki didalam kelas itu. Zara hanya menggeleng pelan dan mulai
melangkah menuju kelasnya. Langkahnya yg lamban itu membuatnya cukup
lama untuk sampai dikelasnya.

Duduk dibangkunya dan melihat kearah sampingnya yg masih belum
berpenghuni itu. Lalu ia meraih tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari
dalam tasnya. Sebuah buku Novel yg baru dia beli kemarin. Entah kenapa
akhir-akhir ini ia mulai menyukai buku Novel. Ia juga tak tau, kalau
bukan karena Devi yg menyarankannnya, ia mungkin tidak mengenal Novel
sedekat ini. Ia mulai membuka sebuah Novel berjudul My Love Story
yg sekarang ia pegang itu. Ia merasa kalau buku itu lebih
mengarah ke remaja seusianya dan mungkin cocok untuknya. Mempunyai
jalan cerita yg sulit untuk ditebak dan meski menggunakan banyak
tokoh, tapi penggambaran masing-masing tokoh dirasanya menarik. Dan
masih banyak lagi yg ia suka. Ia tersenyum sebentar saat melihat buku
Novel itu dihalaman pertama.

” pagi Zara?”

Zara langsung menoleh orang yg ada didepannya. Ia tersenyum ramah.
Lalu menutup buku Novelnya itu dan menaruhnya diatas meja

” pagi. Tumben udah dateng Ron?”

” iya. Tadi pagi dibohongin sama kakak aku, katanya udah jam tujuh
lebih gitu. Taunya baru setengah enam, ”

Zara hanya terawa pelan. Lalu ia langsung diam saat Aaron kini duduk
disebelahnya, tempat duduk yg biasanya ditempati oleh Devi.

” Zara?”

Zara menoleh sebentar kearah Aaron yg kini tengah menatapnya.

” kamu marah kalau seseorang yg ga sejajar sama kamu, terus suka sama kamu?”

Zara diam. Ia lalu menoleh kearah depan kelasnya dan tak lagi menatap
Aaron. Terdengar helaan nafas pelan darinya.

” aku ga tau apa yg kamu maksud dengan sejajar kamu itu. Karena yg aku
tau semua manusia itu sejajar… ”

” aku seneng kalau memang ada yg suka sama aku tanpa membandingkan
status. Tanpa melihat dengan mata telanjang, ”

” aku minta maaf. ”

Zara kemudian menoleh dan mendapati Aaron sudah melangkah menjauhi
tempat duduknya tadi dan menuju bangkunya sendiri. Zara hanya diam,
jujur ia sangat bingung bagaimana harus bereaksi. Aaron sudah duduk
dibangkunya dan kini pandangan keduanya saling bertemu. Aaron
tersenyum tipis dan terkesan dipaksakan. Zara, ekspresi mukanya tidak
bisa digambarkan. Sedih, menyesal, sulit sekali menterjemahkan
ekspresinya. Namun sebisanya ia tetap tersenyum.

Suara langkah kaki dari luar kelasnya kini jadi perhatian untuk Zara.
Dilihatnya Devi sedang berjalan bersama Yuriva dan tengah
berbisik-bisik. Dan kemudian cekikikan bersama.

” langit ga mendung kenapa dikelas kok rasanya dingin banget?. Kenapa
bisa begitu ya Ra?”

Devi langsung bersuara dan mengambil tempat duduk disebelah Zara.
Yuriva menyapa Zara sebentar sebelum ia berjalan kearah bangkunya
sendiri. Zara menatap Devi sebentar dan ia juga bisa melihat
sahabatnya yg dari kecil itu juga menatapnya. Ia jadi teringat
sesuatu.

” Ra?. Kamu ga lagi sakit kan?”

Raut wajah Devi mulai terlihat khawatir saat melihat Zara menatapnya
tanpa ekspresi. Zara hanya menggeleng pelan. Ia kemudian
menenggelamkan wajahnya diatas buku Novel yg tadi ia taruh diatas
meja.

” Zara?. Kamu marah sama aku?”

Lagi-lagi Zara tidak menyaut dan itu membuat Devi semakin khawatir.

” Aku kenal kamu itu udah dari kecil Ra, dan aku yakin kamu pasti
sedang ngenyembunyiin sesuatu dari aku?”

Zara mulai memperlihatkan wajahnya lagi. Ia kemudian menatap kearah
sahabatnya itu dan tersenyum tipis.

” aku selalu merasa beruntung punya orang kayak kamu, Devi. ”

Devi tersenyum simpul, menunggu saat dimana sahabatnya itu akan mulai bercerita.

~OoO~

Zara melangkahkan kakinya melewati pekarangan rumahnya hingga ia tiba
diteras rumahnya dan ia mendapati sambutan hangat dari Mamanya yg
sedang menunggunya itu. Ia tersenyum sebentar memandang Mamanya itu yg
tengah menyiapkan makan siang untuknya dan juga kakaknya. Namun ia
heran karena kakaknya malah asik dengan ponselnya tanpa mempedulikan
Mamanya yg tengah menaruh nasi dipiring kakaknya itu. Zara hanya
menatap samar kakaknya yg malah seakan tidak peduli dan tanpa
menyentuh piring yg sudah ada nasinya itu. Ia menghela nafas pelan
saat mendengar suara langkah kaki kakaknya itu yg malah meninggalkan
meja makan sebelum menyantap makan siangnya.

” kak Kyla kenapa sih Ma?”

” mungkin kakak kamu lagi capek. Udah Zara langsung makan aja ya?”

Zara hanya mengangguk pelan. Ia lalu mengambil piring kakaknya tadi
dan menumpukkan nasinya kearah piringnya sendiri. Mamanya hanya
tersenyum melihat kelakuan dari putrinya yg paling kecil itu.

Setelah ia menyelesaikan makan siangnya, ia lalu bergegas menaiki anak
tangga untuk menuju kamar kakaknya. Ia ingin menanyai sikap kakaknya
yg dirasanya berbeda dari biasanya.

” Kak. Bukain pintunya!”

Zara sedikit meninggikan nada bicaranya karena Kyla sepertinya tidak
menggubris ketukan dipintu kamarnya barusan. Perlahan ia melihat
gagang pintu bergerak dan pintu kamar kakaknya itu terbuka,
memperlihatkan sosok kakaknya yg menatapnya datar.

” kenapa?”

Suara kakaknya terdengar sangat santai, seakan tidak ada yg sedang dipikirkan.

” kalau cuman mau gangguin aku. Mending cari temen kamu itu, aku sibuk!”

BRRAAAKKK!!!

Pintu itu tertutup dengan sangat kencang. Menciptakan angin lembut yg
kini menerpa wajahnya Zara. Zara diam mematung menatap pintu kamar
kakaknya itu. Ada raut kesedihan yg terpampang disana. Zara perlahan
mulai melangkah menjauhi pintu kamar kakaknya itu untuk menuju
kamarnya sendiri.

~OoO~

Devi langsung memeluk Zara yg terlihat mulai mengeluarkan sedikit air
matanya. Beruntung temannya yg lain berada cukup jauh dari mereka,
sehingga Zara tidak sungkan untuk menceritakan itu pada sahabatnya.

” kamu janji ga cerita ini sama yg lain kan?”

Zara mulai melepaskan pelukan dari sahabatnya itu, sambil menyeka
kedua ujung matanya yg mulai berair. Hanya anggukan ringan dan
senyuman hangat dari Devi yg membalas ucapan Zara barusan.

™~ HUJAN DAN PELANGI ~™

Devi telah menginjakkan kakinya tepat didepan gerbang rumahnya,
kemudian menghampi sopir angkutan umum itu dan memberikan lembaran
kertas uangnya. Lalu langkahnya mulai menuju pagar rumahnya, dan
langsung masuk karena pagar rumah itu sudah terbuka. Ia melihat
kegarasi rumahnya, ia tersenyum sebentar saat kendaraan yg biasa
dipakai kakaknya itu telah sampai rumah. Ia bergegas menuju pintu
rumahnya yg jaraknya sudah tidak jauh lagi. Ia membuka perlahan pintu
rumahnya karena rumah itu tidak terkunci. Ia berniat menyusup kedalam
rumah dan mengagetkan kakaknya.

DDOOORRR!!!

Devi dengan sigap langsung menghantamkan bukunya yg tadi dipegangnya
dan tepat mengenai wajah orang yg tadi mengagetkannya. Dia langsung
menghampiri siapa yg tadi dia gampar yg saat ini masih merintih
kesakitan itu.

” duh, Maaf kak. Aku pikir tadi siapa?. Pakai ngagetin segala sih!”

” kualat tau. Kakak sendiri digampar pakai buku?”

” iya-iya maaf kak. Devi kan ga tau?”

Kakaknya Devi yg masih mengusap wajahnya itu kemudian menoleh kearah
Devi. Ia bisa melihat kalau Devi menatapnya khawatir. Ia tersenyum
sebentar dan merangkul adiknya itu.

” udah gapapa. Cuman rada perih doang. ”

Devi hanya tersenyum tipis karena ia masih merasa bersalah. Tapi
dengan lembut tangan kakaknya itu merangkulnya untuk berjalan kearah
meja makan. Tiba disana dan melihat berbagai menu makanan diatas meja
makan sontak membuat Devi lupa kalau tadi ia berbuat salah kepada
kakaknya. Ia dengan cepat berjalan kearah meja makan. Vienny atau
lebih akrab dipanggil Viny itu hanya menggeleng pelan melihat tingkah
dari adiknya. Viny pun menyusul adiknya yg sudah duduk di kursi meja
makan itu. Devi, ia hendak menyendok nasi dipiringnya namun entah
hadir darimana bayangan tentang Ayahnya itu langsung menghantuinya. Ia
lalu kembali menaruh sendok nasi itu, menatap kakaknya yg kini telah
duduk didepannya.

” kak?. Apa gapapa kalau kita makan sekarang, lalu Ayah belum tentu
sudah makan disana?”

Viny sedikit kaget mendengar ucapan dari adiknya. Ia juga sebenarnya
berpikiran sama dengan adiknya. Ayahnya yg bekerja keras, dan ia yg
hanya menikmati hasilnya. Viny menunduk. Namun dengan pelan ia mencoba
melihat kearah adiknya dan tersenyum sebisanya.

” Ayah pasti udah makan. ”

Viny berbicara cukup pelan. Membuat adiknya mengangguk cepat. Devi
tersenyum sebentar sebelum ia meraih sendok lagi untuk mengambil nasi.

” kok sedikit banget dek ngambilnya?”

” emm. Nanti makan lagi kalau Ayah udah pulang kerja. ”

JLEBBB.

Hati Viny bergetar. Ia kembali menunduk. Ia bingung bagaimana
menjelaskan Devi tentang hal yg dia pikirkan.

~OoO~

Suasana pagi hari yg begitu dingin. Viny melangkahkan kakinya menuruni
anak tangga dan tentu saja untuk membuatkan sarapan untuk adiknya. Ia
melangkah dengan pelan sambil sesekali menguap karena ia merasa masih
sangat mengantuk. Terus menuruni anak tangga hingga ia berpapasan
dengan Ayahnya. Viny tersenyum simpul, begitu juga Ayahnya yg sudah
berpakain rapi dan siap berangkat untuk bekerja lagi.

” Ayah ga sarapan dulu?”

Ayahnya mendongak sebentar kearah putrinya itu. Walau tangannya masih
merapihkan beberapa lembaran kertas yg ia masukkan kedalam tas.

” nanti sarapan dikantor aja. Oh iya Viny, kamu jagain adek kamu bisa kan?”

Walaupun Viny masih bingung dengan maksud sang Ayah, ia tetap
mengangguk meski pelan.

” Kantor Ayah kan ada cabangnya di Singapura. Ayah sebenarnya berat
buat nerima keputusan dari perusahaan…”

” Ayah dipindahin kesana?”

Viny dengan cepat merespon, ada sedikit keterkejutan diwajahnya. Ia
menatap Ayahnya dalam. Dan ia bisa melihat Ayahnya hanya mengangguk.
Viny memejamkan kedua matanya, menarik nafas sedalam mungkin dan
mengeluarkannya secara perlahan. Viny kemudian mencoba tersenyum
kearah Ayahnya.

” gapapa Yah. Viny pasti jagain Devi. ”

Viny mulai melangkahkan kakinya untuk menjauhi Ayahnya. Untuk ia
sendiri itu bukan sebuah masalah kalau Ayahnya bakal pergi keluar
negeri. Tapi bagaimana dengan adiknya, dia selalu menanyainya. Selalu
bilang kangen. Hah. Dia pasrah akan keadaan sekarang ini dan berharap
adiknya bisa mengerti.

~OoO~

” kak?. Kakak lagi sakit?”

Viny langsung tersadar dari lamunannya saat adiknya itu menyentuh
keningnya. Viny langsung menoleh kearah adiknya yg kini duduk
disebelahnya.

” kakak istirahat aja ya?. Biar Devi yg beresin. ”

Viny hanya mengangguk pelan, karena ia benar-benar bingung harus
bagaimana menanggapi adiknya itu. Kini ia bisa melihat bagaimana
adiknya itu tengah membereskan meja makan itu. Ia tersenyum sebentar
saat melihat adiknya mulai membawa sisa makanan itu menuju dapur. Ia
pun mulai bergegas untuk membantu adiknya.

ini belum berakhir…

*****

@sigitartetaVRA

Silent reader : kalian luar biasa!.

Pembaca yang meninggalkan jejak : Kalian lebih luar biasa!.

Saya tidak banyak minta sesuatu selain masukan dari kalian.
Semakin banyak kalian memberikan saran yg membangun, saya semakin
yakin kalau cerita ini akan jadi lebih baik kedepannya.

Kenapa saya minta saran?. Saya tidak bisa mengetahui kekurangan dari
karya tulis saya kalau bukan dari masukan kalian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s