Absurd Squad : Ready!

Pulang sekolah. Di area lapangan basket yang berada dibelakang salah
satu sekolah SMA di jakarta. Kini terlihat ada sepuluh orang saling
berhadapan. Lima merupakan murid perempuan dan lima sisanya adalah
murid laki-laki dengan seragam sekolah yang masih mereka kenakan.
Mereka saling menatap tajam satu sama lain.

” pada berani ga?”

Suara perempuan yang sedang meremas-remas tangannya dan menimbulkan
bunyi tulang jemarinya itu menatap remeh kearah sekumpulan pria yang
kini menatapnya tajam.

Salah satu pria yang menggunakan kaca mata itu hanya tersenyum angkuh
dan melajukan satu langkah kakinya kedepan. Ia juga meremas jemarinya
namun tidak menimbulkan suara apapun. Ia pun segera menoleh kebelakang
melihat keempat temannya yang lain.

” napa lo Zal?” Tanya salah satu dari keempat temannya itu.

” itu biar bunyi kayak gitu gimana Yon?”

Orang yang bernama Dion itu hanya memiringkan bibirnya, begitu juga
dengan tiga orang lainnya.

” ah kelamaan lo. Biar gue aja yang maju!”

Kini salah satu dari empat orang yang tadi dibelakang langsung
menerobos melewati orang yang memakai kaca mata.

” gue aja! ” seseorang yang terlihat paling kecil diantara yang lain
langsung melongos kedepan. Tag name seragamnya bertuliskan ‘Givra’.

” biar gue aja! ” seru orang yang juga memakai kacamata yang bernama Guntur.

” minggir lo semua. Biar gue yang…”

BUUUGGG!!!

” ANYIIT!!! ”

Terlihat kini Dion malah tersungkur didepan keempat temannya. Lima
gadis didepannya itu hanya cengok melihat kejadian itu.

” tuh kan mereka itu aneh,” Bisik salah satu dari kelima gadis itu
kepada teman disebelahnya. Dan teman sebelahnya itu hanya
manggut-manggut seakan setuju dengan perkataan temannya itu.

” bangun woy!. Lu malu-maluin aja!”

Rizal, salah satu dari kelima pria itu langsung membantu Dion untuk
berdiri. Dan Dion langsung menoleh belakangnya. Ia menatap sengak
kearah temannya yang bernama Sagha yang malah terlihat santai itu.

” kampret lo Gha. Ngapain lo ngangkang kayak gitu!”

” Sorry Yon. gue kagak tau kalau lo mau ngelewatin gue tadi, ”

Orang yang bernama Dion pun langsung menoleh kedepan lagi dan
menunjuk-nunjuk kearah lima murid perempuan itu yang tengah tertawa
pelan itu.

” lupakan kejadian barusan, atau kalian mau gue buat nangis!” Seru
Dion menggebu-gebu dengan sorot matanya yang tajam.

Lima gadis itu kemudian diam dan hanya manggut-manggut.

” jadi udah siap belum?” Tanya salah satu dari kelima gadis itu dengan
tag name seragamnya betuliskan ‘ Melody ‘.

Kelima murid laki-laki itu langsung menghempaskan tas mereka
masing-masing. Seperti sudah tak sabar untuk memulai permainan ini.

” mau berapa ronde?. Sampai kalian keringetan?. Atau sampai pingsan?.
Gue layanin lo semua!” Seru guntur sambil membenarkan kerah
seragamnya.

Empat temannya itu hanya menatap Guntur datar. Lima gadis yang berada
didepannya itu kemudian berbisik-bisik. Seperti berunding sesuatu.
Kemudian tak lama setelah itu mereka juga meletakkan tas punggung
mereka masing-masing didepan mereka berdiri.

” Anin, Sinka, Ve, Shania!. Apa kalian siap!” Seru melody.

” Siap!!!” empat gadis yang ada disebelahnya itu menjawab serempak
dengan semangat.

Kelima gadis itu mulai membuka kancing baju seragamnya. Dion, Rizal,
Guntur menatap mereka dengan mulut mereka yang terbuka. Sagha dan
Givra, hidung mereka sudah mengeluarkan darah segar.

” lemah lo semua! ” gerutu Dion yang terlihat sudah sadar dari delusi liarnya.

Kini terlihat kelima gadis itu tengah berjongkok untuk menaruh
seragamnya didalam tas mereka.

” kampret!” Givra langsung mengusap hidungnya. Sagha pun juga demikian.

” njir. Gue pikir mereka ga pakai kaos daleman! ” gerutu Sagha dengan
raut wajah kecewa.

” muke lo mesum amat gha!” ucap Guntur yang kini juga sudah terlihat biasa.

” muke lo juga!” balas Sagha sambil menoyor kepalanya Givra.

” ngapain lo noyor gue!” Gerutu Givra sambil menggeplak mukanya Rizal.

” lo kalau bego gausah lo tularin!” Cerca Rizal dan langsung menendang
kaki dari Dion.

Dion diam dan seperti sedang berfikir.

” kok gue jadi kayak orang bego beneran gini ya?” Ia sadar kalau ia
sudah berada paling ujung dan artinya ia tak bisa melanjutkan game
barusan.

Kelima gadis itu masih berjongkok dan melihat mereka tanpa berkedip
dengan ekspresi wajah datar, kemudian mereka mulai mengeluarkan
sesuatu dari dalam tas mereka masing-masing.

” anjir…woy!. Ga pake senjata!” Seru Rizal tiba-tiba.

Keempat temannya Rizal itupun langsung bersiaga ketika melihat sebuah
clurit yang dikeluarkan oleh salah satu dari kelima gadis itu.
Sedangkan empat gadis lainnya hanya mengeluarkan botol minumannya.
Anin. Salah satu dari kelima gadis itu kemudian mengayunkan clurit
yang dia pegang itu dan membuat kelima pria itu was-was.

” Nin?. Ngapain bawa clurit?” tanya salah satu temannya yang bernama Shania.

Anin menghentikan ayunan senjatanya itu. Dia tersenyum sebentar.

” ini tadi pagi nemu dijalanan…hehe. ” jawab Anin polos.

Kemudian Anin memasukkan clurit itu kedalam tasnya dan mengeluarkan
botol minumannya seperti yang lain. Kelima pria itu menghela nafas
lega. Kelima gadis itupun mulai berjalan kepinggir lapangan untuk
menaruh tas mereka. Dan setelah itu mereka kembali lagi dengan langkah
santai.

” aku ga bakalan bilang kalian banci walau kalian ngelawan cewek! ”
Seru gadis yang bernama Sinka. Dan diangguki oleh keempat temannya.

Rizal, Dion, Guntur, Sagha dan Givra. Mereka menatap satu sama lain,
kemudian menatap kelima gadis itu.

” kalian kan yang nantang!!!!” Seru mereka kompak.

Kelima gadis itu terkekeh sebentar dan kembali menatap kearah lima
pria yang sebenarnya satu sekolah dengan mereka itu.

” udah siap?” Tanya Shania lembut dengan senyum manisnya.

” iya sayang, ” jawab Sagha cepat yang sepertinya lupa kalau dia
berada dipihak musuh.

” jijik gue!” Gerutu Guntur sambil menggampar muka dari Sagha.

” geli gue!” Seru Givra sambil menggeplak mukanya Sagha.

Kelima gadis itu hanya tertawa pelan melihat kejadian itu. Dion dan
Rizal, mereka sedang mencari alasan agar bisa menggeplak mukanya Sagha
yang sudah kemerahan akibat hantaman dari Givra dan Guntur. Sagha, ia
menatap sengak kearah Givra dan Guntur.

” oke, jadi siapa yang mau maju duluan dari kalian?” Ucap Rizal dengan
senyum remeh kearah lima gadis itu.

” inget janji kalian baik-baik. Kalau kalian kalah, kalian bakal
nyetujuin pembentukan ekskul musik, ” Sambung Dion.

” dan jangan nangis kalau kalah!” Timpal Guntur sambil merapihkan
kerah seragamnya.

Kelima gadis itu hanya manggut-manggut tanda setuju.

” tapi jika kalian kalah, jangan pernah pajang delusi Fanfict kalian
itu di mading sekolah!” Balas Melody tegas.

Kelima pria itu menatap satu sama lain dan kemudian manggut-manggut
seperti setuju akan permintaan itu. Kelima gadis itu mulai mengikat
rambut panjang mereka dan tersenyum tipis kearah pria yang didepan
mereka.

” gue ga suka basa-basi!. Bisa kita mulai sekarang?” Tanya Dion sambil
berjongkok dan mulai melakukan push-up.

” lo ngapain Yon?” Tanya Rizal sedikit berbisik.

” gue pemanasan sebentar, takut mereka ga puas pas berhadapan nanti, ”
balas Dion yang kini kembali berdiri tegak sambil mengatur ritme
pernapasannya.

” berapa kali tadi gue push-up nya?” Tanya Dion kepada keempat temannya.

Guntur, Sagha, Givra dan Rizal menatapnya datar. Dion mendengus bangga.

” sudah gue duga, kalian ga bisa ngitung jumlah push-up gue tadi
karena jumlahnya terlalu banyak…hahaha, ” Ucap Dion sambil menyisir
rambutnya dengan telapak tangan kanannya.

” lo baru satu tadi nyet!. Lo kagak nyadar apa?!” Bisik Rizal.

Dion terdiam. Ia bisa melihat kelima gadis didepannya itu hanya
cekikikan dan menutup mulut mereka dengan telapak tangannya
masing-masing.

Tak lama setelah itu, salah satu gadis dari kelima gadis yang memiliki
tahi lalat di dagu itu melajukan satu langkah kakinya kedepan.

” ehm. Siapa dari kalian yang mau ngelawan aku?” Shania, nama gadis
itu. Ia memandang lima pria itu yang kini tengah membentuk sebuah
lingkaran, seperti sedang berunding.

” OI…OI…OI!!” seru kelima pria itu serempak sambil membubarkan
diri dan mulai membentuk barisan lagi.

Kelima gadis itu kembali melongo mendengar yel-yel barusan. Sagha. Ia
melajukan langkahnya hingga ia tiba didepan Shania. Ia menatap kearah
bola mata Shania.

” njir. Manis banget, ” bisiknya dalam hati ketika melihat Shania dari
jarak dekat.

Tapi secepat mungkin ia langsung sadar dan kembali melihat kearah
Shania seperti biasa.

” mau berapa ronde?” Tanya Sagha santai.

” cukup dua aja, aku yakin kamu udah kalah… ” balas Shania.

Ia kemudian menaruh tangan kanannya dipundak Sagha. Dan mendekatkan
wajahnya kearah telinga dari Sagha.

” bisa kita mulai?” Bisik Shania.

Sagha hanya mengangguk pelan. Kemudian Shania menjauhkan wajahnya dari
Sagha. Ia menatap tajam.

Sepuluh menit kemudian…

” udah nyerah?” Tanya Shania dengan keringat yang kini telah
membanjiri pelipisnya.

” gue ga akan nyerah…” Sagha juga mengusap bagian pelipisnya.

” banyak gaya lo gha!. Langsung sikat aja!” Seru Dion menyemangati
dari kejauhan.

” gaya lo daritadi kayak gitu mulu!. Bosen gue!” Timpal Guntur.

” anjiir. Gue bingung mesti gimana sama lu berdua.” gerutu Sagha dalam
hati setelah mendengar teriakan dua temannya tadi.

Tiga puluh menit kemudian…

“Hah…hah…hah, gue u-udah ga ku-kuat, ” Sagha terlihat sudah sangat
kelelahan, ia melihat kearah Shania sebentar. Shania nampaknya juga
tidak lebih baik darinya.

” a-aku h-haus.” ucap Shania, ia kembali mengusap keringat dipelipisnya.

” hah…” Sagha menoleh kearah Shania dan melihat Shania sudah pingsan
disana. Ia tersenyum tipis karena itu artinya dia menang.

” Gue menang!” seru Sagha sambil berlari kepinggir lapangan dengan
cepat dan meninggalkan Shania yang tengah terbaring lemas itu.

Tak lama setelah itu, Melody dan yang lainnya langsung menghampiri
Shania. Memapah Shania untuk dibawa kepinggir lapangan.

” ma-maafin Shania…” ucap Shania pelan saat dipapah oleh Ve dan
Sinka menuju pinggir lapangan.

” gapapa Shan, kamu udah berusaha. ” balas Melody sambil membantu
mendudukkan Shania.

Dan tak jauh dari tempat itu. Dion, Guntur, Givra dan Rizal sedang
bergembira menyambut kemenangan Sagha barusan.

” hebat lo?. Kok lo bisa kayak gitu gimana caranya Gha?” tanya Givra.

Sagha yang tengah minum itupun menoleh dan mendengus bangga.

” lo anak kecil, gausah mau niru gaya gue!” Cerca Sagha kemudian
kembali menyeruput minuman dingin itu.

” kampret lo!.” ucap Givra sambil menoyor kepalanya Sagha. Namun Sagha
dengan cepat menghindarinya.

” habis ini siapa yang mau maju?. Gue pokoknya maunya sama Ve, ” kata
Guntur dengan senyum jahanamnya.

” lo mau nyari yang lemah Tur?. Kagak malu apa?” sahut Rizal.

” gapapa, gue ga akan main kasar, ” balas Guntur santai sambil
bersandar dibangku pinggir lapangan.

” gaya lo nyet!. Ngapain kasar-kasar main kayak begituan! ” Timpal
Dion yang kini sedang membuang kulit kacangnya kesembarang tempat.

” gue kalau bukan sama cewek malah ogah main kayak ginian!” Sambung
Givra sambil mengambil minuman yang ada disampingnya.

” gue juga ogah kalau bukan sama cewek!” Timpal Sagha.

Rizal hanya manggut-manggut dan mulai melihat kearah tengah lapangan
lagi. Ia bisa melihat salah satu dari kelima gadis itu sudah ada
disana. Ia tersenyum tipis saat mengetahui kalau gadis itu adalah
Sinka. Tanpa lama-lama lagi ia pun langsung berdiri.

” biar gue yang maju. Gue ga akan ngebuat dia sampai pingsan kayak
Sagha barusan, cukup sampai dia bilang nyerah, ” Ucap Rizal santai
sambil berjalan kearah tengah lapangan meninggalkan keempat temannya
yang menatapnya sengak.

” kebanyakan gaya lo!” Teriak Guntur.

Rizal tidak peduli dengan teriakan Guntur barusan, ia tetap berjalan
ketengah lapangan dengan kedua tangannya ia masukkan kedalam saku
celananya.

Tak butuh waktu lama untuk ia sampai didepan Sinka yang kini
menatapnya tanpa bergeming.

” bisa kita mulai sekarang?” Tanya Sinka sedikit menarik kedua ujung
bibirnya berlawanan.

” udah ga sabar?”

Rizal menatap Sinka sambil membetulkan kacamatanya. Sinka hanya
mengangguk kecil dengan ekspresi datarnya.

Lima belas menit berlalu…

” geser sana!” Seru Sinka.

” Badan lo itu yang suruh geser!” Balas Rizal.

” sana!” Seru Sinka kembali dengan sedikit dorongan ke wajah Rizal.

” Njir…kaca mata gue!”

Rizal mulai mencari kaca matanya yang jatuh akibat senggolan Sinka
barusan. Ia mulai mereba-raba sekitarnya dan…

” Aku menang!!!. Yeay!!” Seru Sinka berlari sambil berteriak kegirangan.

Rizal sudah menemukan kacamatanya dan langsung memakainya kembali.
Tapi ia merasa heran kenapa tadi Sinka bersorak kalau dia menang. Ia
menatap sebentar kearah Sinka. Sinka terlihat menunjuk bawah kakinya.

” njir…kok gue malah diluar garis!” Gerutu Rizal kesal.

Ia kemudian menatap sinis kearah Sinka dan ia bisa melihat Sinka hanya
tersenyum penuh arti.

***

” malu-maluan aja lo Zal. Masa main gituan sama cewek aja kalah!. Ga
laki banget lu!” Cerca Guntur sambil menahan tawanya ketika melihat
Rizal mulai duduk lagi dibangku yang tadi dia tempati.

” awas aje lo. Kaca mata lo itu bisa jadi ancaman serius Tur!. Lo ga
liat tadi gue dicurangin!” Balas Rizal yang kini meraih minuman dingin
itu.

Dion, Givra dan Sagha kini melihat kearah wajah Guntur.

” ga meyakinkan…” Ucap Sagha santai dan masih mengamati wajah
Guntur. Givra dan Dion hanya bersunggut-sunggut menyetujui ucapan dari
Sagha barusan.

” Jijik gue nyet!. Ngapain lo semua natap gue kayak gitu!” Teriak
Guntur tiba-tiba.

Dion, Sagha dan Givra. Mereka hanya menggelengkan kepalanya pelan,
menatap satu sama lain.

” ngapain lo teriak-teriak!. Kita ini lagi disebelah lo!!” Balas Dion
yang juga ikut berteriak.

Rizal, ia malah menyiramkan minumannya kearah wajahnya sendiri. Ia
lupa kalau itu adalah minuman rasa buah, bukannya air putih biasa.

” Anyittt!. Mata gue!!!” keluh Rizal sambil berlari kearah toilet yang
tidak jauh dari tempat itu.

Keempat temannya itu hanya melongo melihat salah satu temannya itu
terbirit-birit berlari kearah toilet.

Tak lama setelah itu seseorang gadis berteriak dari tengah lapangan.
Gadis yang memiliki pipi gempal itu melambai-lambaikan tangannya
kearah Guntur yang kini telah tegak berdiri. Ia meniup kedua telapak
tangannya dan kemudian mengusapkannya kekepalanya.

” Tenang aja sama gue. Udah gue persiapan gaya yang pas buet merebut
kemenangan dari dia, ” Ucap Guntur santai sambil berjalan ketengah
lapangan.

Dion, Sagha dan Givra menatapnya seperti tatapan jijik karena gaya
usapan rambutnya barusan.

” jangan malu-maluin lo!” Teriak Dion.

Guntur hanya mengangkat tangan kanannya tanpa menoleh sebagai tanda
mengerti. Ia pun melangkah dengan pelan untuk menghampiri gadis
bernama Ve yang kini tengah memangku dagunya dengan sebelah tangan
kanannya dan menghadap kearah Guntur itu. Guntur tersenyum tipis
kearahnya.

” ngapain kamu berhenti disitu?. Kamu takut?” Tanya Ve sambil tersenyum manis.

” njir. Gue ga tega jadinya kalau kayak gini, ” batin Guntur saat
melihat senyum dari Ve yang nampak tulus itu.

” woy!. Mau kapan disitu terus!!” Teriak Sagha dari kejauhan membuat
Guntur tersadar dari lamunannya.

” demi ekskul musik!” Seru Guntur dalam hati.

Ia pun melangkah cepat untuk menuju tempat Ve berdiri. Kini ia
menghadap kearah Ve, menatapnya dalam. Namun tiba-tiba Ve menggerakkan
tangannya kearah rambutnya dan mengambil sesuatu dari rambutnya
Guntur.

” kamu belum keramas ya?” tanya Ve sambil menunjukkan daun yang ia
ambil dari kepalanya Guntur.

Guntur menggelengkan kepalanya berkali-kali. Entah apa yang
dilakukannya saat ini. Ve langsung menyentuh pundaknya Guntur dan
tersenyum sebentar.

” kamu gapapa kan?” irama dari suara Ve yang lembut itu membuat senyum
dari Guntur merekah.

” kenapa?” tanya Ve sekali lagi karena ada yang aneh dengan tatapan Guntur.

” karena I LOVE YOU…” balas Guntur seperti tanpa kesadarannya.

Ve hanya tertawa pelan dan mulai menjauhkan telapak tangannya.

” kalau mau ngobrol nanti aja ya?. Aku lagi mau serius
soalnya…hehehe.” ucap Ve dengan sedikit tawa renyahnya. Ia kemudian
berjalan kearah tempat yang digunakan untuk bermain itu.

Dua puluh menit berlalu…

” hah…kepala gue pusing!” gerutu Guntur sambil mengusap keringatnya
yang mulai bercucuran.

” a-aku ma-mau me-me…”

BRUUKKK!!!

Suara Ve yang terbata itu teralihkan dengan suara dari Guntur yang
terduduk tiba-tiba.

” Gue nyerah!!!” seru Guntur dengan keras.

Ve menatapnya heran. Namun dengan cepat ia tersenyum puas dan berlari
kecil menghampiri temannya yang ada dipinggir lapangan.

Sagha, Givra, Dion dan juga Rizal hanya melongo mendengar itu. Kini
mereka bisa melihat Guntur berjalan cepat kearah mereka sambil
menunduk.

” nape lo tur?” tanya Dion cepat ketika Guntur telah berada didekatnya.

Guntur diam sejenak dan melihat keempat temannya secara bergantian.

” Gue…gue kebelet boker!!!” seru Guntur dan kemudian melongos menuju
toilet sambil memegangi perutnya.

Sagha, Rizal dan Givra bengong melihat kelakuan dari Guntur barusan.

KREEKKK!!!

Dion meremas botol kaleng yang dia pegang itu. Tatapan matanya
menunjukkan kemarahan.

” sabar Yon. Jangan emosi, ” Ucap Rizal mencoba meredam amarah dari Dion.

” kalau lo ngadepin cewek pakai emosi, akhirnya lo yang nyesel
nantinya, ” sambung Givra sambil menepuk-nepuk pundak dari Dion.

” bukan itu maksud gue!” hardik Dion sambil melempar kaleng itu.

” terus?!” tanya Sagha. Dion mengamati ketiga temannya itu secara
bergantian. Ia menghela nafas sejenak.

” gue juga kebelet boker!!!” seru Dion yang kini langsung berdiri dan
berlari menuju toilet menyusul Guntur.

Sagha, Givra dan Rizal. Mereka hening tanpa ekspresi.

” asli, gue pengen mukul orang hari ini! ” gerutu Sagha, diikuti
anggukan ringan dari Rizal dan Givra.

” eh itu Melody udah maju. Siapa yang mau maju?. Lo atau Dion?” tanya
Rizal sambil mendongak kearah tengah lapangan.

Givra melihat kearah toilet sebentar dan belum ada tanda-tanda kalu
Dion sudah menyelasaikan tugasnya. Ia pun mulai berdiri dan mulai
melangkah pelan. Namun suara langkah kaki cepat dari Guntur dan Dion
yang terdengar, menghentikan langkahnya. Ia mendongak kebelakang
sebentar. Ia bisa melihat Dion masih membawa tissue toilet itu
ditangannya.

” kampret lo Yon!!” gerutu Rizal sambil beranjak dari tempat duduknya
karena Dion menaruh gulungan tissue toilet itu tepat disamping tempat
duduknya.

Dion hanya cengengesan seakan hidupnya selalu bahagia. Ia kemudian
menghampiri Givra yang masih menatapnya datar.

” biar gue beresin yang ini. Lo ingat kalau kita kalah sama dia,
berarti kita kalah total…” ucap Dion sambil menatap kearah Melody
yang tengah menyilangkan kedua tangannya ditengah lapangan.

” Sok dramatis lu!” seru Guntur sambil membuang gulungan tissue toilet
itu kebelakang dan malah tersangkut diranting pohon yang ada
dibelakangnya itu.

” kalah aja bangga lo!” Balas Dion sambil menoleh kearah Guntur.

Givra, Rizal dan Sagha. Mereka menatap sengak kearah Guntur.

” lo ga tau hukum alam itu kayak gimana!. Gue udah ga kuat buat
nahannya tadi!” Balas Guntur yang kini meraih kacang kulit itu dan
mengupasnya.

” Asli, lo bener-bener malau-maluin. ” Ucap Rizal sambil
menggeleng-nggeleng pelan.

Dan yang lainnya hanya manggut-manggut mendengar perkataan Rizal
baruasan. Guntur, ia hanya memiringkan bibirnya dan kembali mengupas
kacang kulitan itu.

Ditengah lapangan, Melody nampak geram melihat lawannya malah asik
berbicara dipinggir lapangan.

” woy!. Buruan sini!” teriak Melody lantang dari tengah lapangan.

Kelima pria itu pun menoleh. Dion membenarkan kerah seragamnya dan
mulai melakukan pemanasan.

” lihat cara gue baik-baik. Gue udah profesional dalam urusan
permainan kayak gini! ” Dion mendengus bangga sambil melangkah.

” masukin yang bener Yon!. Jangan kebanyakan gaya!” Seru Rizal.
Diikuti anggukan pelan dari temannya yang lain.

” lu lihat baik-baik cara gue!. Sekali masuk, dia pasti terpukau, ”
balas Dion dengan santai sambil tetap berjalan ketengah lapangan.

” pokoknya kalian lihat cara gue masukin itu nanti!” seru Dion lagi
yang kini sudah agak menjauh dari keempat temannya.

Rizal, Givra, Guntur dan Sagha. Mereka menatap satu sama lain.

” lo mau kemana kupret!” Seru Guntur ketika melihat Dion malah
menjauhi lapangan.

” itu Melody nya udah ada dilapangan!” timpal Givra nampak kesal
melihat kelakuan Dion yang malah menghampiri gadis-gadis temannya
Melody yang ada dipinggir lapangan.

” Gue mau ijin dulu sama temen-temennya. Takutnya Melody nanti pingsan
pas ngelihatin ketampanan Gue!!” seru Dion dari kejauhan.

Seketika muka dari keempat temannya itu menatapnya dengan tatapan
jijik. Begitu juga gadis-gadis yang dihampirinya itu. Melody, dia
meremas-remas tangannya dan menimbulkan bunyi dari tulang-tulangnya
itu.

Dion masih tetap berjalan kearah empat gadis yang tengah duduk
dipinggir lapangan. Dion semakin dekat dan semakin dekat.

“Aaaaa!!!!” teriak Anin ketika melihat kearah Dion, Ve yang berada
disebelahnya langsung menutup kedua mata dari gadis yang paling kecil
diantara mereka itu.

Sinka dan Shania juga nenutup kedua matanya sendiri dengan kedua
telapak tangannya masing-masing. Ve, ia memejamkan matanya sambil
menggeleng-nggeleng tidak jelas.

Dion, dia cengok. Tapi beberapa saat kemudian ia mulai terlihat biasa.

” lo semua takut jatuh cinta pas ngelihat ketampanan gue?” Tanya Dion
sambil mendengus bangga.

” tenang. Gue bisa adil pas membagi cinta gue nanti, ” lanjut Dion.

” i-itu…a-anu…mmm…” Belum selesai Anin berbicara, Shania
langsung membekap mulut Anin dengan salah satu telapak tangannya.

” maafin aku Nin, ” ucap Shania masih membekap mulutnya Anin.

” Njir. Anin naksir berat kayaknya sama gue. ” ucap Dion dalam hati.

Ia kemudian meninggalkan keempat gadis itu dan berjalan kearah Melody.

***

” Aaaaaa!!!!” Teriak Melody langsung menutup matanya dan
menunjuk-nunjuk tidak jelas.

” Aku ga mau!. Aku nyerah!!” Sambung Melody sambil menggeleng-nggeleng
pelan dan terus menunjuk-nunjuk kearah Dion.

Dion. Dia tersenyum angkuh karena Melody tanpa perlawanan sama sekali
dan langsung menyerah begitu saja. Ia kemudian meninggalkan Melody
yang masih memejamkan kedua matanya dan tetap menunjuk-nunjuk kearah
ia tadi berdiri. Dion terus berjalan pelan sambil mendengus sombong
kearah empat temannya itu.

” Gimana penampilan gue?” Tanya Dion setelah sampai didekat
teman-temannya. Ia melihat keempat temannya sambil memainkan kedua
alisnya.

” Yon. Asli, lo malu-maluin!” Seru Rizal tiba-tiba.

Givra, Guntur dan Sagha menatap datar kearah Dion yang masih berlagak
keren itu. Dion yang merasa heran langsung menaikkan sebelah alisnya.

” kenapa lo pada?” Tanya Dion sekali lagi.

” lo kagak nyadar kalau resleting celana lo itu kebuka!” Seru Guntur
sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya.

Dion yang mendengar itu langsung melihat kearah yang dimaksud
teman-temannya itu. Dion terkekeh dan langsung membenarkan resleting
celananya itu.

” tapi setidaknya kita dapat poin dan sekarang seri kan?” Ucap Dion
yang kemudian menyambar minuman dingin dan langsung duduk disebelah
Givra.

” lo kagak punya malu apa Yon!” Gerutu Givra sambil menyaut minumannya
yang hampir diembat Dion itu.

” tapi bener kata Dion barusan. Dengan ini kita seri dengan mereka,
dan sekarang tinggal lo Vra. Pokoknya lo harus sikat Anin secepatnya!”
Sahut Guntur sambil mendekatkan wajahnya kearah Givra.

” Harus menang!!!” Teriak Dion, Sagha dan Rizal bersamaan didekat
telinga dari Givra.

” kampret!. Telinga gue!!” cerca Givra sambil menjauhkan diri dari
teman-temannya.

Kemudian ia mulai memainkan kepalanya dan mendengus sombong.

” percayakan sama orang keren ini. Gue ga akan lama-lama disana, ”
ucap Givra sambil melihat kearah tengah lapangan.

Guntur, Dion, Sagha dan Rizal menatap sengak kearah punggung teman
mereka itu. Givra terdiam ditempat itu dan memandangi area sekitar
lapangan basket. Sorot matanya menyisir seluruh area lapangan basket
seperti mencari sesuatu. Dion, Rizal, Sagha dan Guntur cengok melihat
temannya itu yang malah berdiam diri ditempat itu sedaritadi.

” lo ngapain disitu nyet!. Itu Anin udah mau ketengah lapangan!” Seru Dion.

” lu nyari apa sih Vra!. Buruan sono!” Timpal Guntur yang mulai emosi
melihat kelakuan salah satu temannya itu.

” gue lagi ngeliatin sekitar, takutnya ada orang lain yang ngelihat
gue main begituan. Bisa malu seumur hidup gue!” Balas Givra masih
sambil mengamati sekitar area lapangan itu.

” iya juga ya?. Gue kok ga kepikiran tadi?” Ucap Rizal.

” tapi aman kayaknya. Ini kan jam pulang sekolah dan ga lagi ada
kegiatan ekskul apapun.” sahut Sagha.

Dion dan Guntur hanya manggut-manggut seakan ikut aliran percakapan itu.

Sepuluh menit kemudian…

” lo ngapain masih disitu nyet!. Kan daritadi ga ada orang lain yang
mencurigakan yang ngelihat kita!” Seru Sagha yang terlihat mulai kesal
melihat salah satu temannya itu.

Givra yang masih berdiri mematung itu kemudian menoleh kebelakang. Ia
cengengesan dan berlari cepat kearah teman-temannya.

” lo ngapain balik lagi?” Tanya Rizal dengan ekspresi datar.

Dion, Guntur dan Sagha juga berekspresi datar melihat kearah Givra.
Givra menggaruk kepala bagian belakang sambil cengengesan lagi.

” lo ga berani? ” Tanya Guntur. Givra menggeleng.

” lo takut!? ” timpal Sagha. Dan lagi, Givra menggeleng.

” terus kenapa nyet!?. Jangan bikin gue ngelempar lo ketengah
lapangan!” Seru Dion dengan amarah yang meletup-letup seperti popcorn.

Givra. Ia memejamkan kedua matanya dan menghela nafas pelan. Kemudian
membuka kedua matanya lagi dan menatap keempat temannya itu serius
secara bergantian.

” gue ga tau cara mainnya…” Ucap Givra.

GUBRAKKK!!!

Rizal terjatuh kebelakang, ia lupa kalau tempat duduknya itu tidak
bisa digunakan untuk bersandar.

” gue ga tau apa isi dikepala lo itu. Kenapa lo tadi dikelas
manggut-manggut pas gue jelasin cara mainnya, tapi akhirnya lo kagak
tau!?” Gerutu Dion.

” gue tadi lagi dengerin musik, jadi gue manggut-manggut itu karena
mengikuti irama lagu yang gue dengerin, bukan ngerti yang lo omongin,
” balas Givra enteng.

Dion menghela nafas pelan. Guntur dan Sagha sedang membantu Rizal dari
kecelakaan kecilnya.

” oke karena demi ekskul musik!. Maka akan gue jelasin lagi cara
mainnya. Pertama lo harus tetap berada dilingkaran merah itu, dan
ingat, jangan keluar dari lingkaran itu selama permainan berlangsung.
Terus, lo masukin kumpulan remasan kertas itu ke tong sampah yang ada
didepan sono itu ke yang warna biru, karena yang warna merah itu milik
mereka. Kan ada tiga ronde, atau artinya ada tiga babak untuk
penentuan pemenang, maka dari itu, lo harus memasukkan remasan kertas
itu sebanyak-banyaknya didua babak pertama. Dan apapun yang terjadi
jangan pingsan, karena itu artinya kalah. Lo ngerti kan yang gue
jelasin barusan? ”

Givra hanya manggut-manggut seakan mengerti dengan apa yang dijelaskan
Dion barusan.

” ga sulit. Tapi kenapa kalian ga ada yang bisa masukin?”

” lo coba dulu, baru lo boleh ceramah nanti, ” sahut Dion.

” kalau gitu lo sikat sekarang! ” timpal Guntur yang kini telah duduk
seperti tadi.

” oke. Gue pergi!” seru Givra dengan semangat membara dan seperti siap
untuk pertempuran yang akan dia hadapi.

***

” Kutu kupret!. Gimana gue masukinnya, orang jarak tongnya dua puluhan
meter gini! ” gerutu Givra saat ia telah berdiri dilingkaran merah
bersama Anin disebelahnya.

Givra meremas kertas yang dia pegang itu dan saat Anin mengangguk dan
berteriak ‘mulai’ ia langsung melempar kertas itu menuju tong sampah
yang telah tersedia disana.

Begitu juga Anin yang dengan beringas melemparkan remasan kertas itu
menuju tong sampah yang tersedia untuknya sendiri.

Dua puluh menit kemudian…

” njir…pantesan tadi pada keringetan. Orang panasnya kayak gini!”

Givra hanya bergumam sendiri tanpa mempedulikan Anin disebelahnya. Ia
mengusap keringat yang telah membanjiri pelipisnya.

” hah..hah..aku haus!” teriak Anin tiba-tiba dan terduduk lemah.

Givra tersenyum angkuh menatap Anin yang sudah terduduk disebelahnya.

” udah nyerah aja?. Lagian siapa sih yang punya ide untuk tanding
kayak ginian?. Gimana masukinnya coba, orang tongnya aja jauhnya minta
ampun!” Ucap Givra sambil melihat sekilas kearah Anin.

Anin mendongak sebentar kearah Givra dan tersenyum tipis. Ia kemudian
mulai berdiri lagi tanpa menanggapi celotehan dari Givra barusan.

” a-aku ga a-akan nyerah…” Anin kembali melemparkan remasan kertas
ditangannya. Namun untuk kesekian kalinya remasan kertas itu tak
sampai ke tong sampah yang masih berdiri angkuh.

Givra juga melemparkan kertas remasan itu dan lagi, ia juga hanya
tersenyum kecut ketika kertas itu bahkan tak sampai setengah jaraknya.

Lima puluh menit kemudian…

Keduanya terduduk lemah dengan keringat bercucuran deras dipelipis
mereka masih-masing.

” kampret!. Tau gitu gue yang maju duluan tadi, pasti panasnya ga
kayak sekarang! ” seru Givra dalam hati. Ia kemudian melihat remasan
kertas yang masih tersisa didekatnya itu, ia pun mencoba meraihnya.

” eh…” Anin kaget seketika, saat tangannya bertemu dengan tangannya Givra.

Givra melihat kearah wajahnya Anin. Begitu juga dengan Anin yang
menatap kearah Givra. Keduanga saling diam. Kemudian menarik tangan
mereka masing-masing.

” harus gue akui kalau lo itu kuat juga. ” ucap Givra tak lagi melihat
kearah Anin dan mulai berdiri lagi setelah mengambil beberapa remasan
kertas itu.

Anin juga mulai berdiri lagi dibawah terik matahari setelah meraih
beberapa remasan kertas disebelahnya tanpa mengatakan apapun. Ia
dengan cepat melempar remasan kertas itu kearah tong sampah itu.

BUGGG!!!

Givra mendengar sesuatu dari samping dia berdiri. Ia menoleh.

” Nin?” Panggil Givra setelah melihat Anin tengkurep tepat disampingnya.

” Nin?!” Givra mulai menaikkan nada bicaranya. Namun tak ada respon sama sekali.

” sikat!!! ” seru Dion dari kejauhan dengan semangat setelah melihat
Anin terjatuh disamping Givra.

” Kita menang!!!” Timpal Guntur yang kini langsung berdiri dan berlari
menghampiri Givra. Diikuti oleh Dion, Rizal dan Sagha. Mereka berlari
dengan senyum merekah.

Melody dan temannya yang lainnya juga berlari ketengah lapangan
menyusul Anin yang sudah tengkurep ditengah lapangan.

Guntur langsung melompat menabrak Givra hingga terjatuh.

” Aaakk!!” teriak Givra yang tertindih Guntur.

” woy!. Minggir!” lanjut Givra sambil mencoba menyingkirkan Guntur
yang tengah menindihnya.

” Aaak!!!”

” Aaakkkk!!!”

” Eeekkk!!!!”

Givra pingsan seketika ketika kepalanya membentur lantai lapangan
basket itu karena Dion, Rizal dan Sagha juga ikut menindihnya.

***

PLAKKK!!! PLAAAKK!!! PLAAKKK!!!

Sebuah tamparan bertubi-tubi akhirnya bisa membuat Givra tersadar,
meski rasa sakitnya malah bertambah.

” njirr…perih muka gue!” Seru Givra sambil mengelus wajahnya.

” sorry-sorry, abisnya ngapain lo pingsan?” Balas Dion sambil bertanya balik.

” asli, gue jadi bego kayaknya. Kan kalian yang nindih gue!, ampe
kepala gue ngebentur tuh lantai dari semen itu!” Givra terlihat
memandangi keempat temannya yang asik mengurut dagu mereka seperti
sedang berpikir.

” Hah. Ga jadi menang kita!” Seru Dion dan temannya yang lain hanya
manggut-manggut.

Tak lama setelah itu terdengar langkah kaki dari dekat mereka.
Terlihat kini, Sinka dan Ve masih membantu langkah dari Anin. Shania
dan Melody hanya menatap kelima pria itu tanpa mengatakan apapun.
Perlahan Shania mendekat kearah mereka berdua dan memberikan kantung
keresek yang dia bawa.

” nih…” Shania terlihat menyodorkan kantung keresek yang dia bawa
itu dan langsung disambar Sagha.

” makasih sayang, ” ucap Sagha dengan senyum sumringah.

Plakk…Plakkk!!!

” geli gue nyet!” Seru Dion sambil menggeplak muka dari Sagha.

” jijik gue!” Timpal Rizal yang juga ikut menggeplak muka dari Sagha.

Shania hanya menatap mereka datar dan kemudian berjalan menjauh
menyusul Melody dan temannya yang lain.

Tanpa mempedulikan Sagha yang tengah mengusap-usap wajahnya. Dion,
Rizal, Guntur dan Givra langsung membuka isi dari kantung keresek itu.

” njir, minuman apaan ini?. Kok warnanya kayak minuman beralkohol ya?”
Ucap Dion sambil mengamati botol plastik minuman yang tengah dia
pegang.

” iya juga ya?. Apa mereka suka mabuk-mabukan?” Timpal Guntur yang
juga ikut mengamati botol plastik yang tengah dipegang Dion itu.

” biar gue coba dulu, ” sahut Givra langsung merebut botol plastik itu
dari Dion.

” woy!. Lo anak kecil, kagak boleh minum begituan!” Guntur langsung
merebut dari Givra. Givra hanya memiringkan bibirnya.

” biar gue aja, siapa tau ini bekasnya Ve tadi, ” ucap Guntur sambil
memainkan alisnya.

” jijik gue!” Seru Dion langsung menoyor kepala Guntur dari samping.

Guntur dengan reflek cepat langsung menghindari serangan dari Dion
barusan dan kembali cengengesan. Ia kemudian membuka tutup botol itu
dan langsung menenggak airnya. Seketika itu juga mukanya langsung
pucat.

” napa lo tur?” Tanya Givra ketika melihat ekspresi wajah dari Guntur.

Guntur hanya menggeleng pelan sambil berpura-pura terlihat biasa.

” lo mau coba?. Nih habisin semua…” ucap Guntur sambil menyodorkan
botol itu dengan cepat kearah Givra.

” ga jadi gue. Rizal aja noh, yang diem daritadi, ” balas Givra sambil
mendongak kearah Rizal yang memang terdiam dengan selembar kertas yang
tengah dia pegang.

” oke, lo pasti nyesel nanti ga nyobain ini. Zal, nih lo mau coba kagak?”

Rizal menoleh sejenak kearah Guntur yang kini tengah menyodorkan botol
plastik itu.

” gue ga suka jamu…” balas Rizal santai dan melemparkan kertas yang
tadi di pegang itu.

” JAMU KUAT UNTUK PRIA ”

Itu isi tulisan dalam kertas yang tadi dilempar Rizal yang langsung
dibaca oleh Guntur, Dion, Sagha, dan Givra.

” Bhahahhahhhaaa…” suara ketawa dari Dion, Givra dan Sagha pecah
ketika melihat ekspresi dari Guntur.

” kampret lo Zal!. Kenapa kagak ngomong daritadi!” Gerutu Guntur.

” tapi lumayan Tur kan gratis,” balas Rizal santai dan memainkan kedua alisnya.

” muke lo gratisan!”

Bhahahahaha…

Tawa itu kembali pecah ditengah suasana hari yang mulai menjelang
sore, dipinggir lapangan basket itu. Ya begitulah, sangat absurd
bukan.

*** THE END ***

@sigitartetaVRA

Cerita ini hanya bersifat fiktif , bila ada kesamaan nama tokoh,
tempat kejadian, atau cerita yang mirip kenyataan, saya mohon maaf.
Saya tiada bermaksud menyinggung, menjelekkan, atau merendahkan tokoh
dalam cerita tersebut. Saya hanya ingin membuat anda terhibur meski
kenyataannya tidak, yang terpenting saya sudah berusaha.

Terimakasih kepada : Om Dion, Om Guntur, Bang Ical, dan Pak lek Sagha.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s