“Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 26

Shania berjalan menuju ke sebuah pemakaman. Ia berjalan masuk ke dalam area pemakaman, menelusuri makam-makam yang ada di sana. Langkah Shania terhenti ketika sudah sampai pada tujuannya, sebuah makam yang batu nisannya bertuliskan Veranda. Shania berjongkok, lalu menaruh sebuket bunga di atas makam Ve.

Shania tersenyum getir menatap batu nisan Ve. Air matanya dengan mudahnya lolos dari matanya mengalir di pipinya.

“Kak V-Ve a-apa kabar? Shania kangen kakak..” lirih Shania.

“Kak, kalau udah waktunya jemput Shania ya? Shania mau sama kakak, sama Mamah juga. Janji ya kak?” pinta Shania getir.

“Shania sekarang sendiri, gak tau harus gimana lagi kak. Kalau ada kak Ve, pasti kakak selalu ada buat Shania. Nemenin Shania main, jalan, semuanya deh. Tapi sayangnya Tuhan lebih sayang sama kak Ve..” Shania menggigit bibir bawahnya, air matanya kembali lolos, “Kak, apa Shania pergi sekarang aja biar cepet ketemu kakak sama Mamah?”

Tiba-tiba kepalanya terasa pusing yang teramat sakit. Shania memeluk batu nisan Ve. Menyandarkan kepalanya pada batu nisan tersebut. Ia merasakan ada sebuah cairan kental yang keluar hidungnya. Ia biarkan saja tak  memperdulikan hal tersebut.

Tak berapa lama, rintik hujan mulai turun perlahan. Shania mengedahkan wajahnya menatap langit saat air hujan turun. Kemudian ia berpaling ketika merasa ada sebuah tepukan di bahunya.

“Pulang yuk? Udah hujan Shan.”

Shania menatap orang yang berada dihadapannya ini, dengan telaten ia membersihkan darah yang keluar dari hidung Shania.

“Shani, aku mau berdoa dulu,” ucap Shania.

Shani mengangguk, lalu ia pun menunggu Shania yang tengah berdoa itu.

“Kakak, Shania pulang dulu ya. Nanti Shania ke sini lagi. Dah kak.” Shania bangkit, lalu menatap Shani, “Yuk pulang!”

Shani tersenyum mengangguk, “Ayo!”

Shani. Ia telah menemani Shania selama beberapa minggu terakhir ini. Seolah perasaan bersalahnya itu sangatlah besar pada Shania, Shani dengan senang hati menemaninya sekedar untuk check-up atau bahkan melakukan kemo. Bahkan ia lebih sering bermain dengan Shania dari pada teman-temannya yang lain..

~

“Udahlah gakpapa juga, nanti aku bantuin ya?” Shani membantu mengeringkan dan merapihkan rambut Shania yang basah karena ia baru selesai mandi. “Kamu gak usah khawatir, Robby juga pasti mau ketemu kamu.”

Kini Shani tengah berada di rumah Shania, setelah kemarin mengantarnya ke makam Veranda. Hari ini, di pagi hari ia sudah berada di rumah Shania. Dan ia juga tadi berpapasan dengan Nabilah yang tengah sarapan di meja makan. Awalnya Nabilah kaget, tak menyangka bahwa Shania mengajak Shani ke rumahnya. Bagaimana bisa ia kenal dengan perempuan yang sering bersama Robby itu. Setelah diceritakan, Nabilah akhirnya paham, dan ia tidak mempermasalahkan Shania berteman dengan Shani. Kalau ia tidak bisa, mungkin Shani bisa membantu dirinya pikirnya.

“Tapi.. kalau Robbynya pergi gimana? Aku gak mau ah.” Shania mengerucutkan bibirnya. “Kan sia-sia aku dandannya.”

Shani cekikikan menatap pantulan diri Shania di cermin, “Enggak kok. Nanti sama aku juga. Udah kamu gak usah khawatir ya?”

Shani terdiam, ia menatap rambut yang menempel di handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut Shania.

“Gak usah khawatir gitu Shani, itu efek kemo.” Shania tersenyum tipis melihat Shani yang terdiam menatap handuknya tersebut.

Shani mengangguk tanpa berniat membalas ucapan dari Shania. Ia berjalan menuju kasur, dan merebahkan tubuhnya.

“Kamu gak kuliah?” tanya Shania.

“Hari ini aku gak ada kelas. Jadinya free deh hari ini,” jawab Shani.

“Gak bosen apa di rumah terus?”

Shani bangkit dan mengambil tasnya yang tak berada jauh di kasur, lalu ia mengeluarkan beberapa kaset dvd yang covernya film-film Korea.

“Ya enggaklah. Kan ada ini, lebih baik kita nonton sekarang.” Shani meletakkan beberapa kaset tersebut di hadapan Shania. “Yang mana dulu?”

Shania memegang dagunya, lalu mengambil sebuah kaset di paling pojok kanan, “Yang ini dulu deh.”

Shani mengangguk, lalu langsung memutar kaset tersebut pada dvd yang ada di kamar Shania.

“Eh, tunggu dulu tapi. Mau ngambil cemilan di bawah dulu.” Shania bangkit dari duduknya, “Jangan diplay sebelum aku dateng.” Shania pun beranjak keluar kamarnya mengambil cemilan dan tak lupa juga minuman kaleng yang ada di dapur.

Setelah dirasa cukup, Shania pun kembali berjalan menuju kamarnya. Kamarnya kosong, ia beralih menatap balkon kamarnya yang terbuka. Shania menaruh cemilan dan minuman kaleng yang ia bawa di lantai. Dengan perlahan ia berjalan mendekat pada balkon kamarnya. Shania melihat Shani yang tengah menelpon seseorang, ia pun menajamkan indra pendengarannya untuk mendengar pembicaraan Shani.

“Gak bisa Robby. Aku lagi sibuk sekarang.”

“…”

“Kalau kamu mau, nanti deh. Tapi bertiga ya? Aku sama temen aku juga. Gakpapa kan?”

“…”

“Ya itu sih terserah kamu, kalau gak mau yaudah gakpapa. Aku sih gakpapa.”

“…”

“Nanti deh aku kabarin. Udah ah, aku sibuk. Bhay.”

Shani pun memutuskan telpon tersebut. Dan Shania dengan cepat berjalan menuju ke depan tv yang sedari tadi menampilkan cover film Korea yang ingin mereka tonton. Shania duduk lesehan di sana, dan bertepatan dengan itu Shani masuk ke dalam.

“Udah lama?”

Shania menggeleng, “Baru aja kok.”

“Astaga, ini banyak banget kamu bawanya Shania.” Shani menatap cemilan yang dibawa oleh Shania tersebut, lumayan banyak yang ia bawa.

“Yaudah yuk, nonton dulu.”

Setelah itu, mereka pun menghabiskan waktu bersama menonton film di kamar Shania dengan cemilan yang Shania bawa, bahkan Shania mengambil kembali ke dapur ketika mulai habis..

~

Shania tengah duduk dengan perasaan gelisahnya. Sedari tadi ia tidak bisa menenangkan dirinya, sesekali ia membenarkan posisi duduknya, make-upnya, dan rambutnya. Shani yang berada di sampingnya pun merasakan ketidak tenangan Shania. Ia tahu, Shania tidak mau membuat pertemuannya dengan Robby hari ini biasa-biasa saja.

Shani menggapai tangan Shania, lalu mengusapnya pelan.

“Udah tenang aja, gak usah gugup gitu.”

Shania menghela nafasnya, “Gimana gak gugup coba? Kan aku udah lama gak ketemu sama dia.”

Shani mengangguk, “Iya, aku tau kok. Tapi udah dong gugupnya, kan ada aku juga di sini ya.”

Shania mengatur nafasnya perlahan, tinggal sepuluh menit lagi dengan waktu yang dijanjikan. Dan Robby masih di perjalanan, mereka memang sengaja datang lebih awal dan tidak bersama Robby. Karena kalau bersama Robby, maka Shania tidak mau ikut makan malam bersama mereka.

Shani dan Shania melirik pada handphone milik Shani yang bordering di atas meja. Mereka saling pandang berdua, lalu kembali menatap handphone tersebut.

“Dari Robby nih.”

“Angkat deh, siapa tau dia udah di depan.” Shani mengangguk, lalu ia mengangkat panggilan tersebut.

“Halo.”

“…”

“Udah di dalam.”

“…”

“Di samping kiri, meja nomor sembilan belas.”

“…”

“Okedeh, ini aku tunggu ya.”

Shani pun memutuskan panggilan telpon tersebut. Lalu menatap Shania yang berada di samping kirinya. Wajahnya memucat.

“Shan, kamu gakpapa?” tanya Shani cemas.

“A-aku gakpapa, cuma gugup doang kok,” jawab Shania.

“Udah gakpapa kok. Oh iya, nanti kalau ada apa-apa bilang sama aku ya?”

Shania mengangguk, “Iya, nanti aku bilang sama kamu.”

Shani tersenyum mengangguk.

“Shani..”

Shani pun menoleh ke belakang, ia pun bangkit dari duduknya mendekat pada Robby, “Lama banget Rob. Kebiasaan banget.” Shani mencubit lengan Robby.

“Kok dicubit sih? Lagian kan kamunya aja yang kecepetan datengnya, masih lima menitan juga janjiannya.” Robby mengusap-ngusap pelan lengannya.

Shani mendengus sebal, “Yaudah, ayo deh makannya sekarang aja. Keburu nanti makin malam.”

Shani duduk kembali di samping Shania. Sedangkan Robby, kini ia seperti tengah memikirkan sesuatu. Ia melihat dari belakang orang yang berada di samping Shani, ia seperti mengenalnya tapi siapa?

“Buruan Robby.” Robby pun duduk di hadapan mereka berdua.

Robby terdiam. Ia terdiam ketika tahu siapa yang ada di samping Shani. Lidahnya kelu untuk mengatakan sesuatu. Di hati kecilnya terdapat rasa rindu pada orang ini.

“Shania. Kamu pesen apa?” tanya Shani pada Shania yang tengah menundukkan kepalanya sambil melihat-lihat buku menu. “Ngg, aku samain aja sama kamu.”

Shani mengangguk, “Kamu apa Rob?”

“Ngg, samain aja deh. Tapi minumnya ganti milkshake.”

“Okedeh.”

Shani pun menuliskan pada sebuah buku kecil yang tersedia di sana. Setelah selesai, ia memanggil pelayan yang ada di sana. Lalu menyerahkan buku kecil tersebut, kemudian pelayan tersebut pun masuk ke dalam untuk menyiapkan pesanan mereka.

“Kok pada diem gini sih?” desah Shani lelah.

Shania mendongakkan kepalanya. Matanya menatap Robby, pandangan mata mereka bertemu. Detak jantung Shania seketika berdegup kencang, sudah lama rasanya ia tidak melihat Robby.

“Shani.. maksud kamu apa?” tanya Robby datar yang kemudian mengalihkan pandangannya pada Shani.

“Enggak ada maksud apa-apa. Aku cuma mau ngajak jalan temen aku, gak salah kan?”

Robby menghela nafasnya. Memang ia telah memaafkan Shania tanpa perlu meminta maaf. Tapi kejadian itu masih belum bisa ia lupakan.

“Ngg.. Shani, lebih baik aku pulang deh ya?” Shania menatap Shani dengan memohon.

“Gak boleh ya Shania! Kamu tetap di sini, temenin aku!” tegas Shani.

Shania meneguk ludahnya, ia pun menundukkan kepalanya takut menatap Shani dan Robby. Sedangkan Robby, ia lebih memilih diam tanpa berniat membuka suaranya.

Setelah menunggu dengan keadaan diam, akhirnya pesanan mereka pun datang. Mereka makan pun dengan keadaan hening, hanya terdengar suara alat makan yang beradu. Hingga makanan yang mereka pesan tinggal sedikit lagi, Shania terdiam ketika hendak menyuapkan makanannya. Sesuatu menetes pada piring dan di atas meja tersebut.

Mata Shania membulat. Dengan cepat ia menutup hidungnya. Shani yang merasa heran dengan sikap Shania pun menoleh.

“Kenapa Shan?” tanya Shani heran.

“Aku mau ke toilet dulu Shani.” Shani mengangguk, lalu memberi jalan untuk Shania lewat. Setelah Shania berjalan menuju toilet, Shani langsung terkejut ketika melihat darah yang ada di piring dan di atas meja.

“Darah..” tanpa pikir panjang lagi, Shani pun menyusul Shania dengan cepat menuju toilet.

Sedangkan Robby, ia terdiam melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Darah yang ada di tempat Shania. Kini, pikirannya kembali melayang ketika bersama Ve dulu. Dan permintaan Ve padanya. Apakah permintaan Ve itu ada hubungannya tentang keadaan Shania sekarang? Batinnya.

“Shania.. sebenarnya ada apa?” lirih Robby.

Shania mengusap darah yang keluar dari hidungnya, ia memejamkan matanya dan memegang ujung wastafel dengan erat ketika pusing menyerang kepalanya. Beruntung sekali, di dalam toilet tidak ada orang-orang sama sekali.

“Shania..” Shania membuka matanya, ia membasuh darah tersebut dengan perlahan. Ia menatap pantulan diri Shani yang ada di cermin mendekat pada dirinya.

“Aku gakpapa,” ucap Shania seolah-olah membaca raut wajah Shani yang khawatir padanya.

“Jangan buat aku khawatir Shania. Kita pulang sekarang ya?” lirih Shani.

Shania mengangguk, “Tapi naik taksi aja ya. Jangan sama Robby. Aku takut Robby gak suka, aku mimisan gini.”

Shani mengangguk, “Yaudah, ayo.”

Shani membantu Shania dengan perlahan keluar dari toilet menuju tempat duduk mereka tadi. Di sana, Robby tengah menunggu mereka. Makanannya pun belum habis.

“Rob, aku sama Shania duluan ya. Shania gak enak badan.” Shani mengambil tas miliknya dan tas milik Shania.

“Mau aku anter?” tawar Robby.

Shani menggelengkan kepalanya, “Gak usah. Bisa naik taksi kok. Duluan ya.” Shani pun berjalan keluar bersama Shania.

Robby yang merasa ada tidak beres pun segera bangkit dari duduknya, lalu keluar menuju parkiran mobil. Ia berjalan menuju mobilnya, dan menunggu Shani bersama Shania yang baru saja masuk ke dalam sebuah taksi.

Robby mengikuti Shani dan Shania di belakang. Sesampainya di depan rumah Shania, Shani membantu Shania masuk ke dalam rumah. Tak berapa lama, Shani pun kembali keluar dan masuk ke dalam taksi tersebut. Dan taksi yang dinaiki Shani itu pun meninggalkan rumah tersebut.

Robby terdiam menatap rumah yang sekarang ada di depannya. Ia mengatur nafasnya perlahan, lalu berjalan keluar dari mobil menuju rumah tersebut. Robby memencet bel yang ada di sana. Lama menunggu, akhirnya pintu pun terbuka. Dan di sana ia melihat Shania dengan wajah sangat pucat sekali..

“Ngg, ada apa?” tanya Shania memecah keheningan.

Seolah tersadar, Robby pun menghela nafasnya, “Aku mau bicara sebentar bisa? Tapi jangan di sini.”

Shania menimang-nimang ajakkan dari Robby, “Di belakang aja ya? Aku capek soalnya.”

Robby mengangguk, “Okedeh.”

Shania pun mempersilahkan Robby masuk ke dalam rumah. Lalu ia berjalan di depan menuju belakang rumahnya, dan di belakang Robby mengekori dirinya. Shania berjalan mendekat pada ayunan yang ada di sana, ia pun duduk di sana.

Robby yang melihat itu pun, mau tak mau duduk di hadapan Shania. Shania menyandarkan tubuhnya dan menatap langit di atasnya, sedangkan Robby menatap Shania. Ia terlihat kurus dari kemarin terakhir mereka bertemu.

“Shania..” Shania menatap Robby, dahinya mengerut heran, “Sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi sama kamu?”

Shania tersenyum tipis, Robby masih perduli padanya, batinnya.

“Gakpapa kok, aku cuma kecapean aja akhir-akhir ini.”

“Tapi, aku ngerasa kamu akan pergi jauh. Dan Ve juga sering muncul dimimpi aku, ada apa sebenarnya? Kamu kenapa?” Robby menatap cemas Shania.

Sedangkan Shania terdiam. Kakaknya selalu muncul dimimpi Robby, kenapa?

“Kamu sering mimpiin kak Ve?” tanya Shania memastikan.

Robby mengangguk, “Iya, dia selalu minta aku jagain kamu terus. Ada apa sebenarnya Shania?”

Air mata Shania lolos seketika, ia tahu kakaknya itu selalu punya cara untuk membahagiakannya. Robby yang melihat Shania menangis pun menjadi semakin bingung dengan keadaannya.

“Dia bilang, gitu sama kamu Rob?” tanya Shania lirih.

Robby mengangguk, “Iya. Kok nangis sih?”

Shania tersenyum menggelengkan kepalanya sambil mengusap pelan air matanya, “Enggakpapa kok.”

“Ngg.. oke.”

Mereka pun terdiam sibuk dengan pikirannya masing-masing. Shania yang sibuk dengan pikirannya tentang Ve, Robby yang sibuk dengan pikirannya merangkai kata-kata untuk tidak salah bicara pada Shania.

“Ngg, Shan?”

“Ya?”

“Kamu..” Robby menatap dalam mata Shania, “..mau gak kita kayak dulu lagi?”

Shania terdiam. Otaknya tidak bekerja sama sekali, degup jantungnya semakin cepat berpacu. Bahkan hanya seperti itu, Robby bisa membuat jantungnya berdegup kencang.

“Ngg, apa Rob?”

Robby menghela nafasnya, “Kamu ngelamun ya?”

Shania menggelengkan kepalanya, “Enggak.”

“Oke, aku ulang. Dengerin baik-baik.”

Shania menajamkan indra pendengarannya. Matanya pun tak lepas dari mata Robby.

“Shania.. kamu mau balik lagi sama aku kayak dulu? Kita mulai lagi semuanya dari awal, yang cuma ada kita berdua..”

 

*To be continued*

 

Created by: @RabiurR

Iklan

3 tanggapan untuk ““Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 26

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s