Hujan dan Pelangi, chapter 2: Tersenyumlah

Seorang gadis berseragam putih biru kini sedang berjalan menuruni anak tangga untuk menuju meja makan. Langkahnya yg cepat membuatnya tak butuh waktu lama untuk sampai disana. Dilihatnya seseorang sedang menyiapkan sarapan dimeja makan. Ia tersenyum sebentar dan kemudian mempercepat langkahnya untuk segera sampai didekat orang itu. Tanpa meminta ijin terlebih dahulu atau setidaknya mengatakan sesuatu pada orang yg terlihat sedang sibuk menata piring itu, ia langsung saja membantu menata piring dimeja makan. Seseorang perempuan yg memakai kaos lengan panjang warna merah dan juga celemek itu langsung menolah kearah gadis yg tiba-tiba memegangi piringnya.

” udah biar kakak aja yg nyiapin makanannya, kamu langsung sarapan aja, ”

” emang kakak aja yg bisa nyiapin makanan dimeja makan?. Devi juga bisa, ”

Seseorang perempuan yg dipanggilnya kak itu hanya tersenyum simpul, kemudian meletakkan piringnya yg sedaritadi ia pegang dan kemudian mengelus pelan rambut dari gadis kecil disebelahnya itu yg memang sedang berdiri disampingnya.

” Ayah mana?”

Perempuan yg menggunakan celemek itu diam sebentar dan menghentikan aktifitasnya sejenak. Ia menatap sebentar kearah gadis kecil disebelahnya yg terlihat menunggu jawaban darinya.

” baru aja berangkat kerja, ”

Terdengar helaan nafas pelan dari Devi setelah mendengar jawaban dari kakaknya itu. Devi kemudian langsung duduk dikursi meja makan itu setelah selesai mengelap piring yg tadi ia pegang. Begitu juga dengan kakak perempuannya tadi yg juga ikut duduk menghadap kearah adiknya. Menatap satu sama lain sebentar dan beberapa saat kemudian sang kakak mengambil salah satu piring, kemudian mulai menyendokkan nasi kedalam piring itu kemudian menambahkan lauknya. Dan beberapa saat kemudian ia menaruh piring itu tepat didepan adik perempuannya itu. Kemudian ia mulai mengambil piring lagi yg akan ia gunakan untuk dirinya sendiri.

” kalau mama masih ada pasti ga bakalan sesunyi ini, ”

Kakak perempuannya itu sedikit kaget mendengar pernyataan adiknya. Ada raut kesedihan diwajahnya. Tapi sesaat itu juga ia mencoba tersenyum kearah adiknya itu.

” Udah sarapan dulu. Nanti kakak yg nganterin kamu kesekolah. ”

Devi hanya mengangguk pelan untuk membalas ucapan kakaknya yg sama sekali tidak menyaut tentang keluhannya tadi. Ia menatap kearah kakaknya sebentar, dan ia bisa melihat kakaknya yg sedang fokus untuk menyantap sarapan didepannya. Perlahan ia juga mengikuti kakaknya untuk menghabiskan sarapannya sendiri.

Piring Devi yg tadi penuh makanan itu kini sudah tidak ada lagi yg tersisa. Ia menyantap dengan lahap masakan kakaknya itu. Kakaknya yg selalu berusaha untuk menjadi pengganti mamanya dan sama sekali tidak pernah ia dengar kakaknya itu mengeluh dengan tugas beratnya itu.

Ia tersenyum memandang punggung kakaknya saat ia berjalan menuju kedapur untuk menaruh piring yg kotor dan sisa makanan yg ada dimeja makan tadi. Entah sudah seberapa lama ia memandangi kakaknya yg terlihat mulai beranjak meninggalkan dapur setelah melepaskan celemek yg tadi dia pakai.

Kakaknya yg menyadari kalau adiknya sedang menatapnya sambil tersenyum, ia pun berjalan kembali menghampiri adiknya itu. Ia merangkul adik kesayangannya itu kemudian mulai beranjak dari dapur bersama adiknya. Tangan kakaknya yg masih merangkulnya itu membuat Devi mendongak keatas untuk menatap wajah samping kakaknya. Kemudian ia memeluk kakaknya dari samping, membuat kakaknya menghentikan langkahnya. Menatap sebentar kearah adiknya yg masih belum melepaskan pelukannya.

” Kenapa dek?”

Devi mendongak sebentar setelah mendengar pertanyaan kakaknya itu. Devi tersenyum sebentar. Dan kemudian memeluk kakaknya lagi.

” maafin aku ya kak, kalau aku masih sering ngerepotin kakak, ”

Ia mengucapkan itu sambil melepaskan pelukannya. Perlahan ia bisa merasakan sentuhan dikepalanya. Kakaknya kembali mengelus-elus pelan rambutnya.

” tapi kakak ga pernah ngerasa direpotin, ”

” makasih kak. Emm, kakak ga kuliah?”

” kuliah. Emang kenapa?”

” kalau gitu biar aku berangkat sendiri, ”

” Devi. Ini tugas seorang kakak buat nganterin kamu ke Sekolah. ”

Devi terlihat senang mendengar jawaban kakaknya itu. Ia sadar kalau kakaknya itu sangat perhatian padanya. Kakaknya itu kembali merangkulnya, lalu mereka pun mulai beranjak pergi dari tempat itu.

***
Devi melangkahkan kakinya melewati koridor sekolah untuk menuju kelasnya. Ia berjalan pelan menyusuri koridor yg panjang itu dengan tersenyum manis saat teman-teman sekelasnya yg lain menyapanya. Tiba dikelas dan langsung duduk dibangkunya kemudian menaruh tasnya itu diatas meja. Ia menoleh kebangku sampingnya dan ia bisa melihat kalau orang yg duduk disebalahnya itu belum ada disana. Kemudian ia membuka kancing tasnya, tangan mungilnya itu mulai mencari sesuatu. Ia mengeluarkan sebuah buku tentang pelajaran sekolahnya. Ia berfikir untuk menunggu sahabatnya itu sambil membaca buku. Baru saja ia membuka buku pelajaranya, seseorang yg ia tunggu sudah menunjukan tubuh mungilnya dipintu kelas. Beberapa saat kemudian pandangan mereka bertemu dan dengan cepat Devi melambaikan tangannya. Orang yg ia tunggu yg tak lain adalah Zara, langsung berlari kecil kearahnya.

” Pagi Devi?”

Zara menaruh tasnya diatas meja sambil tersenyum manis kearah Devi sebelum ia duduk dibangkunya.

” Pagi juga Ra. Tumben nih keduluan sama aku, ”

” tadi mampir kerumah kamu. Eh, taunya rumah kamu udah sepi, ”

” duh maaf ya. Aku ga tau kalau kamu mau kerumah aku dulu, ”

” hihihi. Iya gapapa kali, salah aku juga ga ngomong dulu kalau mau kerumah kamu. ”

Mereka berdua terus mengobrol dikelas, membiarkan seisi kelas mulai dipenuhi oleh murid-murid yg lain karena sudah terdengar bel masuk. Mereka pun mengakhiri obrolan hangat mereka ketika seorang guru mulai memasuki kelas.

***

Suara sunyi sepi yg tadi menghantui kelas itu kini mulai terdengar ramai kembali karena bel istirahat sudah dibunyikan. Memaksa guru itu untuk meninggalkan kelas. Tak lama setelah guru itu pergi, siswa-siswi dikelas itu juga mulai meninggalkan kelas, meninggalkan beberapa murid dikelas yg sepertinya enggan untuk menuju kantin. Zara dan Devi juga salah satu dari mereka yg masih tersisa dikelas.

” kamu ngga ke kantin Ra?”

Zara yg sedaritadi sudah membereskan alat tulisnya itu hanya menggeleng pelan. Ia kemudian membuka tasnya, dan mengeluarkan sesuatu.

Devi hanya mengamati sebuah kotak makanan yg kini depegang oleh Zara. Ia tersenyum tipis.

” Mama kamu baik banget ya?”

Mengerti akan maksud perkataan dari sahabatnya itu, membuat Zara menoleh cepat. Ia bisa melihat sahabatnya itu menatap kearah kotak makanannya dengat raut wajah sendu.

” Devi?. Kita makan bareng ya?”

Devi dengan cepat tersadar dari lamunannya. Ia kemudian beralih kearah Zara yg sekarang menatapnya dalam dengan kedua bola matanya yg bulat itu.

” eh. Itu kan punya kamu?. Aku biar jajan dikantin sekolah aja, ”

Devi mencoba menolak dengan halus. Itu karena ia tau, pasti sahabatnya itu belum sarapan sampai Mamanya membawakan makanan dalam wadah kotak itu.

” kan aku udah sering bilang, kalau apapun yg aku punya itu juga milik kamu, ”

Zara tersenyum sebentar dan kemudian mulai membuka wadah makanannya yg berbentuk kotak itu. Ia menyodorkan wadah kotak yg berisikan Ayam goreng itu pada sahabatnya yg sedang menatapnya.

” Ayo?. Kalau kamu ga makan, aku juga ga mau makan. ”

Devi hanya menghela nafas sebentar kemudian mulai menerima wadah kotak itu, kemudian ia mengambil tutup wadah kotak itu yg ada diatas meja dan kemudian menutup kembali kotak makanan itu. Zara hanya menatap heran dengan kelakuan sahabatnya itu.

” cuci tangan dulu ya. ”

Zara hanya cengengesan karena ia pikir makanannya ditolak, dan ternyata dia hanya menyuruh untuk mencuci tangannya terlebih dahulu. Zara dengan cepat mengangguk, menyimpan kembali kotak makanannya tadi dan mulai berjalan meninggalkan kelas bersama Devi untuk mencuci tangan.

Zara tersenyum tipis melihat punggung sahabatnya yg berjalan didepannya. Perlahan sudut matanya mengeluarkan butiran bening dan dengan sekejap ia mengusapnya. Ia jadi merasa bersalah karena tadi membuat sahabatnya itu terlihat sedih saat menatap kotak makanannya, ia teringat jika Mama dari sahabatnya itu telah tiada bahkan sebelum ia bertemu Mama dari sahabatnya itu. Ia hanya pernah mendengar cerita itu dari Devi sendiri yg mengatakan kalau Mamanya sudah tidak ada semenjak dia berumur tiga tahun. Zara mulai mempercepat langkahnya agar tidak tertinggal jauh oleh Devi. Ia dengan sigap langsung mengambil tangan kiri dari Devi dan langsung menggenggamnya saat sudah berada disamping sahabatnya itu. Devi nampak sedikit heran dengam tingkah dari orang yg ada disebelahnya itu. Namun ia seperti sudah terbiasa dengan sikap aneh dari sahabatnya yg memang memiliki tinggi badan lebih pendek itu.

Tak butuh waktu lama setelah mereka mencuci tangan di wastafel yg ada ditoilet itu, mereka berdua langsung bergegas kembali menuju kelas. Melewati beberapa pasang mata yg terus melihat kearah mereka berdua yg masih terus bergandengan tangan.

” udah kayak orang kembar aja mereka. ”

Mereka berdua bisa mendengar celetukan ringan dari orang-orang yg mereka lewati. Bukannya tersinggung, keduanya malah tersenyum mendengar celetukan itu. Mereka berdua tetap berjalan kembali menuju kelas.

***

” aku udah kenyang, kamu aja yg ngehabisin, ”

Devi mencoba menjauhkan kotak makanan miliknya Zara yg sedari tadi ditodongkan kepadanya. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali. Perutnya sepertinya sudah cukup kenyang. Tapi Zara masih saja menyodorkan kotak makanan itu.

” Zara!. Aku ga mau gendut!”

Zara hanya tertawa pelan saat temannya itu mencoba menghindari suapannya. Teman sekelasnya yg melihat hal itu hanya menggelengkan pelan kepalanya, mereka sudah biasa melihat kelakuan mereka berdua yg memang sering seperti itu.

***

Tak terasa kini waktu pulangkan sudah tiba. Devi mulai merapihkan buku-buku dan juga alat tulisnya diatas meja. Diikuti juga oleh Zara yg juga tak kalah cepat untuk memasukkan segala alat tulis kedalam tasnya. Setelah dirasa tidak ada yg tertinggal keduanya pun mulai beranjak dari kelas mereka, menyusuri koridor sebentar sebelum mereka menyeberangi lapangan basket untuk menuju kearah gerbang sekolah.

Keduanya saling diam memandang berbagai kendaraan berlalu lalang didepan mereka berdiri. Zara menengok sebentar kearah jam tangannya, ia tersenyum seketika saat mendengar suara klakson yg berhenti tepat didepannya. Kaca mobil itu pun terbuka, memperlihatkan seseorang yg tentu saja tidak asing bagi keduanya.

” Mama! ”

Zara nampak senang, kemudian pintu mobil yg depan mulai terbuka. Membiarkan Zara berjalan memasuki mobil.

Senyum tipis tergambar jelas diraut Devi saat ia melihat Zara mulai memasuki mobil Mamanya. Tapi kemudian dia mulai heran saat sahabatnya itu malah keluar lagi. Ia ditarik untuk masuk kedalam mobilnya melalui pintu belakang. Ia tak bisa menolak untuk kali ini, apalagi untuk keluar secara paksa dari mobil Mama sahabatnya itu, karena Zara memegangi tangannya saat ia sudah didalam mobil.

” udah belum. Pakai sabuk pengamannya ya?”

” iya ma. Udah langsung jalan aja. ”

Zara masih memegangi tangan dari Devi bahkan saat mobil itu sudah melaju meninggalkan gerbang sekolahnya.

” Maaf ya tante. Devi jadi ngerepotin, ”

” Devi. Tante seneng malah bisa nganterin kamu, jarang-jarang kan Devi mau?”

Hanya senyum tipis dari Devi untuk membalas itu,  walau ia tau Mamanya Zara tidak akan melihat itu karena matanya sedang fokus kearah jalanan. Dan laju kendaraan itu yg semakin cepat membuat mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.

Tak butuh waktu lama untuk sampai dirumahnya Devi. Mobil itu menghentikan lajunya tepat didepan gerbang rumah berwarna biru langit itu. Devi mulai membuka pintu mobil itu.

” Makasih ya Ma. Eh, tante…makasih udah nganterin Devi, ”

Mamanya Zara membuka kaca mobilnya dan mulai melihat Devi yg sudah turun dari mobilnya dan berdiri didekat pagar rumahnya.

” panggil Mama aja ya Devi. Tante seneng banget pas Devi ngomong itu, Zara juga pasti seneng, ”

” Iya Devi. Kan aku udah pernah bilang kalau apapun yg aku punya, itu juga milik kamu, termasuk Mamaku…”

Timpal Zara yg juga membuka kaca mobilnya. Devi tersenyum simpul dan mengangguk pelan.

” makasih Ma, ”

Mamanya Zara tersenyum memandang Devi, begitu juga dengan Zara.

” Kalau gitu Mama pamit. Devi hati-hati ya dirumah. ”

Devi hanya mengangguk pelan diikuti seyuman manisnya menatap kepergian kendaraan roda empat yg tadi mengantarnya. Ada sedikit butiran air mata diujung matanya. Ia jadi teringat akan sosok Mamanya yg saat ini tak bisa ia peluk lagi. Ia dengan cepat mengusap air matanya yg hendak keluar itu, kemudian ia membuka pagar rumahnya dengan kunci yg tadi sudah dia ambil dari dalam tasnya.

Ia melangkah masuk kedalam dan kemudian menutup pagar rumahnya itu. Ia berhenti sejenak menatap rumahnya yg sepi itu, ia tersenyum tipis. Kemudian mulai melangkah cepat untuk menuju teras rumahnya.

Membuka pintu rumahnya dengan kunci yg ada dibawah karpet kecil didepan pintu itu. Keluarganya memang selalu manaruh kunci itu dibawah karpet kecil itu. Ia membuka sepatunya dan menaruhnya dirak sepatu yg ada sampingnya itu kemudian mulai melangkah memasuki rumahnya, dan menutup lagi pintu depan itu. Hanya suara langkah kakinya yg terdengar menemaninya untuk menuju kamarnya. Ia mulai menaiki anak tangga itu dan butuh waktu lama untuk ia sampai di lantai dua. Melewati kamar kakaknya yg masih sepi itu, dan tak lama setelah melewati kamar kakaknya, ia tiba didepan pintu kamarnya. Membuka kamarnya yg memang sengaja tak pernah ia kunci itu, dan lansung masuk kedalam. Menutup lagi pintu kamarnya dan menaruh tas itu di meja belajarnya.

Setelah mengganti seragam sekolahnya ia mencoba merebahkan tubuhnya di kasur kamarnya itu, kemudian melihat langit-langit kamarnya yg berwarna putih dengan coretan warna merah muda.

***

Tukk…Tuukkk!!! 

Suara ketukan pintu dikamarnya itu membuat Devi membuka kedua matanya, ia mengusap sebentar kearah matanya khas orang baru bangun tidur. Kemudian mulai beranjak untuk membuka pintu kamarnya. Ia membuka pintu kamarnya itu dan melihat sosok kakaknya sedang berdiri didepan pintu kamarnya dengan pakaian rapi.

” ada apa kak?”

Devi mengucapkan itu sambil menguap. Ia mulai memandang kearah wajah kakaknya.

” temin kakak belanja sebentar ya?. Bisa kan? ”

Tanpa berlama-lama lagi ia ia langsung mengangguk, kemudian ia berjalan masuk kedalam kamarnya untuk mengambil jaket dan langsung menghampiri kakaknya.

” ga cuci muka dulu?”

Devi terlihat kaget, karena ia lupa kalau baru bangun tidur.

” ah iya. Tunggu didepan aja kak. ”

Kakaknya hanya mengangguk pelan. Ia kemudian meninggalkan kamar adiknya itu. Devi pun bergegas menuju wastafel yg ada dirumahnya. Dan setelah itu ia pun menyusul kakaknya.

Devi sudah ada diluar pagar rumahnya. Ia terlihat menunggu kakaknya itu yg sedang mengeluarkan kendaraannya yg akan ia gunakan untuk menuju tempat berbelanja.

Sebuah motor matic kita tepat berhenti didepan Zara. Kemudian sebuah helm kini ditodongkan kepadanya.

” kakak ga pakai helm?”

” deket kok tempatnya, kamu aja yg pakai, ”

” emm yaudah. Tapi jangan ngebut-ngebut ya kak?”

Kakaknya hanya mengangguk sambil tersenyum. Kemudian Devi mulai memakai helmnya dan langsung naik ke motor kakaknya. Ia memeluk erat kakaknya itu. Sambil menyandarkan kepalanya dipundak kakaknya. Ia bisa meresakan motor itu mulai melaju meninggalkan gerbang rumahnya itu.

Tiba disalah satu supermarket dan mereka berduapun mulai masuk kedalam setelah kakaknya memarkirkan kendaraannya tadi. Devi dan kakaknya berpisah didalam karena keingan kakaknya agar lebih cepat untuk mencari apa yg dibutuhkan. Tak lama setelah itu mereka bertemu lagi dengan belanjaan masing-masing. Devi pun menghampiri kakaknya dan mulai berjalan kearah kasir.

Dua kantung keresek besar itu kini sedang ditenteng oleh Devi. Ia terlihat kesusahan saat membawa dua kantung keresek itu dikedua tangannya. Kakaknya hanya menggeleng pelan melihat kelakuan adiknya itu, tak lama setelah itu ia pun menghampiri adiknya yg terlihat keberatan membawa belanjaan dari dalam supermarket itu. Saat sudah berada didekat Adiknya itu, ia mulai meraih kedua kantung keresek yg ditaruh adiknya itu.

” aku kuat kak!”

Devi kembali mengangkat dua kantung keresek itu untuk menuju parkiran. Dan kakaknya hanya tersenyum melihat punggung adiknya yg mulai berjalan menjauh itu. Ia pun kembali menyusul adiknya menuju tempat parkir untuk mengambil motornya. Ia bisa melihat adiknya sudah disana dengan keringat dipelipisnya.

” langsung pulang ya, ”

” oke. ”

Kakaknya mulai mengeluarkan motornya dan menghampiri Devi. Lalu ia menaruh dua kantung keresek itu didepan, membiarkan Devi memeluknya dari belakang.

” udah belum?”

” udah. ”

Devi kembali memeluk kakaknya erat setelah ia memakai helm. Ia bisa mencium wangi parfum kakaknya, ia semakin mempererat pelukannya. Laju kendaraan pun mulai ia rasakan. Ia tak memandang kearah jalanan karena ia menyandarkan kepalanya dipunggung kakaknya dan memejam kedua matanya.

” kak?”

” ng?. Kenapa dek?. Kakak kecepetan ya ngelajuin motornya? ”

” bukan. Cuman ngetes aja. ”

Sang kakak pun mulai memperlambat laju motornya. Ia pun menoleh sebentar kebelakang untuk melihat adiknya. Suara klakson mobil tiba-tiba terdengar dari arah depannya membuatnya terperanjat kaget ia pun kehilangan keseimbangan sesaat dan seketika juga ia langsung menoleh kedepan.

Devi juga menoleh kedepan dari samping punggung kakaknya. Ia bisa melihat sebuah mobil sedang melaju kencang tepat kearahnya.

” Aaaa!!!”

Devi menjerit kencang sambil memegang erat jaket kakaknya dan menutup kedua matanya. Perlahan ia mulai merasakan sentuhan aspal di tangannya. Ia bisa merasakan perih diseluruh badannya saat ia bergesrekan dengan aspal jalanan itu. Ia menyadari tangannya tak lagi memegang jaket kakaknya. Ia perlahan membuka kedua matanya dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya, matanya seakan ingin menolak apa yg ia lihat saat ini. Ia pun langsung mencoba berdiri dari tempat ia terbaring. Berlari cepat walau kakinya terasa sangat sakit saat dibawa melangkah, namun ia tetap memaksakanya. Ia langsung terduduk lemas melihat orang-orang kini mulai mengerubuti tubuh kakaknya yg bersimpah darah itu, bahkan jaket kakaknya yg tadi berwarna putih bersih itu kini sudah dipenuhi bercak warna merah. Ia sudah tak bisa lagi menahan tangisnya melihat kondisi kakaknya yg sudah tak lagi membuka kedua matanya itu. Perlahan ia bisa melihat orang-orang mulai membantunya berdiri. Namun ia enggan untuk itu. Ia menangis kencang sambil duduk disamping kakaknya terbaring.

” Kakak!!!!! ”

Devi terperanjat dari tempat tidurnya. Nafasnya terengah-engah dengan keringat membanjiri pelipisnya. Ia menatap kosong kearah pintu kamarnya. Tanpa berlama-lama lagi ia pun berlari menuju pintu kamarnya, membukanya dan mulai berlari kecil menuruni anak tangga. Ia berlari kearah dapur untuk mencari air minum, namun langkah kakinya terhenti saat ia sudah ada dipintu masuk kedapur. Bola matanya tak berhenti melihat sosok itu, ia bisa melihat kakaknya disana sedang berkutat didapur. Ia dengan cepat berlari kearah kakaknya dan memeluk kakaknya dari belakang. Membuat kakaknya menghentikan aktifitasnya sejenak.

” kenapa dek?”

Suara lembut dari kakaknya itu membuat air matanya malah keluar dengan sendirinya. Merasa ada yg tidak beres dengan adiknya itu, Ia pun menaruh pisau yg tadi sedang ia pegang diatas meja. Kemudian mulai melepaskan pelan pelukan adiknya itu dan berjongkok tepat didepan adiknya. Ia menatap adiknya yg mengusap-usap matanya itu.

” kamu nangis kenapa?. Kalau gara-gara kakak, kakak minta maaf ya, ”

Kakaknya mulai mengelus pipi adiknya itu dengan senyuman lembut darinya.

” kak Viny. Aku sayang sama kakak. ”

Viny nama gadis yg tak lain adalah kakak dari Devi itupun tersenyum lebar. Kemudian ia merentangkan kedua tangannya dan memeluk adiknya. Lama sudah Viny menenangkan adiknya dalam pelukan hangatnya. Ia mulai mencium bau sesuatu, seperti bau makanan yg sudah overcook atau lebih tepatnya hangus.

” bau apa nih kak?”

Devi mulai mengendus-endus dengan hidungnya. Viny dengan cepat melepaskan pelukan adiknya itu.

” telurnya gosong! ”

Devi kemudian melihat kearah wajan yg tadi dipakai untuk menggoreng telur oleh kakaknya. Ia bisa melihat telur itu sudah berubah jadi hitam kecoklatan.

™~ HUJAN DAN PELANGI ~™

” Untung cuman mimpi. Aku bener-bener belum siap buat kehilangan kak Viny. Sangat belum siap. ”

Devi bergumam sendiri diteras rumahnya yg ada dilantai dua sambil memandang kearah langit malam yg sedang bertabur bintang. Perlahan ia mulai merasakan sesuatu dipunggungnya. Ia menoleh kebelakang, dan ia bisa melihat kakaknya sedang menyelimutinya dengan selimut yg biasa ia pakai dikamarnya.

” kenapa belum tidur?”

Viny mulai mendekat kearah adiknya dan sekarang berdiri disamping adiknya.

” Nunggu Ayah pulang dulu, ”

” kalau mau nunggu jangan disini. Didalem aja, kalau disini nanti malah sakit?”

” sebentar lagi deh kak. Kakak tidur duluan aja. ”

Viny menatap lagi adiknya sebentar. Ia menghela nafas pelan. Lalu beberapa saat kemudian ia merangkul adiknya dan mencoba mengikuti arah pandangan adiknya yg sedang menatap langit gelap itu. Devi tersenyum simpul saat ia menyadari tangan kakaknya merangkul pundaknya. Hanya saling diam memandang langit malam. Perlahan udara dingin mulai menusuk tubuh Viny. Viny yg hanya memakai kaos lengat pendek itu mulai bergidik. Lalu ia pun menyuruh adiknya untuk segera masuk kedalam rumah dan hanya anggukan ringan dari Devi untuk membalas permintaan kakaknya itu. Mereka berdua  pun mulai beranjak dari teras itu.

” Nonton tv dulu ya kak?”

” udah malem Devi. Kamu istirahat dulu, ”

Devi memanyunkan bibirnya sebentar. Tapi tak lama setelah itu ia mulai berbicara lagi.

” gimana kalau Kakak nemenin aku dikamar dulu?. Nunggu Ayah pulang, ”

Kakaknya hanya menghela nafas pelan. Bukan ia tak mau menyanggupi permintaan adiknya itu, hanya saja jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 22.31. Ia mengelus pelan kepala adiknya yg berjalan disampingnya sebelum memberikan jawaban.

” yaudah. ”

Devi kembali tersenyum lebar. Ia mempercepat langkahnya untuk sampai dikamarnya terlebih dulu, meninggalkan kakaknya dibelakang. Tak butuh waktu lama untuk ia sampai didepan pintu kamarnya kemudian ia menatap kearah kakaknya yg sedang berjalan menyusulnya. Devi dengan cepat membuka pintu kamarnya dan langsung menarik tangan kakaknya ketika kakaknya sudah tiba didekatnya.

Duduk dikasur adiknya dan melihat adiknya mulai berbaring diatas kasur tidur miliknya itu. Viny pun mulai beranjak untuk duduk didekat meja belajar adiknya. Ia sedikit menarik ujung bibirnya berlawan ketika melihat suasana kamar adiknya yg cukup rapi itu. Buku-buku yg dimiliki adiknya itu tertata rapi didepan matanya.

” kenapa kak?”

Devi membangunkan tubuhnya kemudian mulai melihat kearah kakaknya dan beberapa saat kemudian ia turun dari kasurnya dan berjalan dengan pelan kearah kakaknya dengan selimut yg sedari tadi belum ia lepaskan.

” oh ini. Bagus ya kalau rapi gini…”

” iya dong. Adiknya siapa dulu?”

Viny tertawa pelan. Ia menyadari kalau adiknya itu sudah ada disampingnya, ia pun menggeser pelan tubuhnya itu untuk memberi tempat duduk bagi adiknya tepat disebelahnya. Devi langsung saja duduk disamping kakaknya dan terdiam dalam waktu yang lama. Viny masih melihat kumpulan buku milik adiknya itu, ia kemudian ingin mengambil buku dengan sampul berwarna biru muda itu. Karena yg ia lihat buku itu lebih besar dibandingkan buku yg lainnya dan belum pernah ia lihat sebelumnya selama ia kekamar adiknya. Mungkin buku itu baru dilihatnya hari ini. Tangannya mulai bergerak untuk mengambil buku itu.

BUUKKK!! 

Ia bisa merasakan sesuatu menimpa pundaknya. Tangannya yg tadi ingin digunakan untuk mengambil buku itu pun ia tarik kembali. Ia menoleh sejenak kearah sampingnya. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana kepala dari adiknya itu menimpa pundaknya dab terdengar dengkuran pelan dari adiknya itu. Ia tersenyum sebentar dan mulai memegang kepala adiknya itu. Tak lama setelah itu ia memopang adiknya itu untuk membawa adiknya tidur dikasur.

Ia tersenyum lagi saat menatap wajah adiknya yg sedang tertidur itu, kemudian ia membenarkan spray yg menyelimuti adiknya itu dan kembali berjalan menuju bangku yg tadi ia duduki dan setelah sampai sana ia langsung mengambil buku didepannya. Duduk disana sambil mengamati buku yg ia pegang itu.

” Sejak kapan Devi nulis ini?”

Sebuah pertanyaan dalam hati Viny yg terlontar begitu saja saat ia sudah memegang buku dengan sampul berwarna biru muda itu. Ia mulai membuka isi dari buku diary milik adiknya itu. Ada sedikit raut keterkejutan saat ia membuka isi dilembaran pertama. Sebuah gambar yg cukup rapi dengan menggunakan pensil sebagai alat untuk menggambarnya. Ada empat orang digambar itu dan ia yakin kalau itu adalah keluarganya. Ia mulai membuka lembaran kedua. Sebuah tulisan yg sangat pendek yg dengan sekali lihat ia sudah bisa membacanya.

” Tersenyumlah. ” 

Ia sedikit bingung akan arti dari kata itu. Tapi ia yakin kalau itu adalah kata penyemangat untuk adiknya. Ia pun mengikuti isi tulisan dari lembaran kedua buku diary milik adiknya itu. Tersenyum. Kemudian ia mulai membuka lagi lembaran berikutnya.

 ” Kita bukan Tuhan yg bisa menentukan sebuah takdir kehidupan. Tetaplah tersenyum menghadapi takdir dari Tuhan. ” 

Itu isi lembaran yg ketiga. Ia kemudian mulai membuka lembaran berikutnya. Kali ini seperti lembaran yg pertama hanya sebuah gambar hitam putih. Hanya saja dalam gambarnya kali ini ada banyak orang. Ia tersenyum lagi, ia sudah langsung mengerti dengan siapa yg adiknya gambar itu. Keluarganya dan juga keluarga sahabat adiknya yg tak lain adalah keluarga Zara. Ia kemudian mulai membuka lembaran berikutnya lagi.

” Aku ingin jadi seperti Mama yg selalu dirindukan. Ingin jadi seperti Ayah yg selalu bisa memberikan contoh yg baik, seperti kak Viny yg selalu kuat. Menjadi seperti Zara yg selalu ceria dalam keadaan apapun. ” 

Ia tersenyum lagi setelah membaca itu. Ia ingin membuka lembaran selanjutnya hanya saja suara klakson dari luar rumahnya yg terdengar dari ruangan itu membuatnya harus menghentikan aktifitasnya itu. Ia tau itu pasti Ayahnya yg baru pulang kerja. Ia pun menutup buku milik adiknya itu dan menaruhnya ditempat semula. Kemudian mulai beranjak dari kamar adiknya itu, menatap sebentar kearah wajah adiknya yg tengah tertidur pulas itu.

” kakak selalu bangga sama kamu dek. ”

Suara pelan darinya itu berbarengan dengan suara langkahnya yg meninggalkan kamar adiknya. Ia menutup kamar adiknya itu kembali sebelum ia melangkah menuju kearah luar rumah, untuk membukakan pagar rumahnya.

Belum berakhir… 

*****

Bocah yg sedang berjuang untuk menjadi seseorang.

@sigitartetaVRA

Spesial part untuk Made Devi Ranita atau yg biasa dipanggil sayang untuk mereka yg ngarep

Celotehan : <b> Sebenarnya saya sangat merasa kesulitan saat harus
membuat cerita ini apalagi memakai sudut pandang dari tokoh wanita.
Beuh, saya merasa sangat pusing.</b>

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s