Pembalut II

we

PERINGATAN: Coba tebak … 17+ tidak nih?

Sebuah perjalan sepasang remaja bernama Arii dan Desy dalam satu waktu, satu hari, dua puluh empat jam. Di mana seorang Desy, gadisnya yang lucu nan menggemasan berubah tingkah menjadi menyebalkan nan menggelikan yang sangat menguji kesabarannya. Semua berawal ketika Arii tau bahwa Desy tengah kedatangan tamu tak diundang yang rutin menghampiri para wanita pada setiap bulannya.  Peristiwa itu biasa disebut “M”. Mainstream :3

“Yang belum baca silahkan dibaca, sebelum Pembalutnya mengkerut dan bocor”

 

***

Terdampar.

Entah kenapa aku merasa itu adalah gambaran yang tepat untuk keadaanku saat ini. Benar, meskipun tidak terlalu menakutkan, terlebih lagi memprihatinkan, tapi ini sudah lebih dari cukup untuk dikatakan seperti itu. Akan aku jelaskan, sebenarnya definisi terdamparku bila dijabarkan secara eksplisit nan efisien yaitu keadaan di mana aku tengah terduduk diam pada sebuah sofa, memandangi Tv menyala dan bertemankan seorang gadis yang sedari tadi tidak mengucap kata. Terlihat tenang, tetapi air mukanya tampak gelisah. Dia bukanlah gadis bisu, bukan pula tuli. Dia sama halnya sepertiku, hanya memandangi Tv tanpa bereaksi.

Tepatnya, aku berada di rumahnya, dia, kekasihku.

Tanpa kejelasan . . . sebentar. Sepertinya gaya bahasa di atas sedikit rumit, aneh dan cukup menjijikan untuk sebuah cerita sampah macam ini. Harus diganti. Gue … ah tepat! Pake ‘gue’.

Kini gue sedang bingung mengamati cewek yang terduduk dengan kepala menyandar pada bahu kiri gue, tampak juga tangan kirinya memegangi perut lengkap dengan wajah meringis sakit seperti menahan sesuatu. Gelisah.

“Kenapa, Ay. Kamu sakit?” gue letakan punggung tangan pada kening doi, terasa tidak hangat.

Doi mendongak pelan, “sedikit …. ” jawabnya lesu.

“Aku anter ke dokter ya,”

“Ngga mau ah.  Aku ngga suka obat, Ay,” tolaknya pelan, kelihatan jelas mukanya masih meringis sakit.

“Kita periksa aja, mau ya?” bujuk gue lagi, pelan, sabar.

“Orang aku ngga kenapa-kenapa kok, tuh kan udah sembuh,” bantahnya tersenyum, menarik tangan kanan gue lalu menempelkannya lagi pada keningnya. “Ay, aku mau tanya deh, boleh?”

“Nanya apa? Jangan tanya kapan kita married,” doi mundurin kepalanya yang tadi bersandar,  menonyor lengan gue sambil ketawa pelan.

“Iss. Itu mah maunya kamu,” ledeknya bercanda. “Emm … kalo seandainya aku ngambek, terus tiba-tiba marah ngga jelas, respon kamu gimana? Sebel gak?” tanyanya lugu.

Rada aneh sih menurut gue pertanyaan-nya. Sambil menatap bingung gue berfikir sejenak sebelum menjawab. “Mungkin aku bawa ke dokter,”

Sekarang gantian doi yang bingung. “Kok ke dokter, mau ngapain?”

“Ya enggak apa-apa, mau langsung aku suntik mati! Ngerepotin orang aja,” kata gue sambil menahan senyum.

“Iss, jahat deh, sumpah, kamu jahat. Tak kandakne Mamak mengko. Tenanan,  duso loh, ora apek kondo ngono kui.” dumelnya mengambek, tangannya memukul lengan gue berkali-kali. (Aku aduin ke Mama nanti. Beneran, dosa loh, gak baik ngomong kayak gitu.)

Gue cuma senyum-senyum doang melihat doi ngambek. Lucu aja kalo mukanya dimanyunin, padahal biasanya doi gampang banget ketawa dan bakal ngeledek balik. Ini malah enggak. Kenapa?

Perlahan gue pegang tangan doi supaya berhenti memukul, lama-lama sakit juga ini lengan. Pegal. “… Kamu ngga lagi ‘a-anu’ kan, Des?” tanya gue hati-hati.

Doi menoleh, lalu mengangguk pasti. “Perut aku nyeri … sakit ….” doi nyenderin kepalanya lagi pada bahu gue. “Kalo seandainya bisa, kamu mau ngga rasa nyerinya dipindahin ke kamu?”

Dahi gue mengkerut, tapi cepat-cepat tersenyum. “Pasti mau lah. Demi kamu.” jawab gue mantap. Doi tersenyum senang.

Iyekkk!!! Gombal gila… Pengen muntah gue sok-sokan ngomong gitu. Bego iya kalo mau, alasan aja-nya supaya gak tambah ngambek. Dasar alay!

Ya, ternyata doi gak lagi sakit ataupun demam. Kita semua tau lah penyebabnya tanpa perlu dijelaskan. Doi sedang ‘anu’.

Hari ini adalah minggu, dan bertepatan juga dengan long weekend. Sempurna. Rencananya gue-doi bakal pergi jalan-jalan, terlebih lagi waktu masih menunjukan jam sembilan pagi. Cuma masalahnya, kami berdua masih aja terdampar di ruang tengah ini, kenapa? Karena Nyokapnya sedang pergi ke toko sembako alias warung seberang rumah. Katanya mau beli sedikit bumbu dapur, jadi, mau gak mau wajib nunggu—Nyokapnya balik dulu—baru di izinin.

By the way, sambil menunggu (halah), gue mau memperkenalkan dulu siapa doi. Dan … namanya itu gak bisa kalo dijelaskan dengan panutan tiga-kata-dasar yang gue percaya, yaitu: Singkat‒Padat‒Jelas. Kenapa? Karena nama lengkap doi Maria Genoveva Natalia Desy Purnamasari Gunawan. Noh! Gue gak yakin kalo kalian bisa hafal dalam sekali dengar. Dulu aja sewaktu gue kenalan dan ketika doi nyebutin namanya sempet kaget, shock, tapi untungnya gue cepat sadar setelah diberi penjelasan, panggil Desy aja, katanya tersenyum, itu rasanya terhipnotis.  Magic! Matanya kelihatan kayak hilang gitu waktu doi senyum, indah banget. Dan kalian tau? Tiga-kata-panutan-dalam-kenalan yang gue percaya langsung hancur, bertambah dengan tiga kata baru khusus untuk doi. Gila‒Panjang‒Banget. Agak maksa ya? Tampar gue kalo gak terima.

Selain cantik dan postur tubuhnya yang tinggi langsing, ada satu hal lagi yang menyebabkan gue bisa jatuh hati pada Desy. Iya, matanya. Matanya minimalis, agak sipit-sipit gimana gitu, lucu aja, terkadang gue sering banget jailin doi kalo lagi serius main game di-HP dengan cara tiupin matanya, “Fuhhhhhh…., doi kedip-kedip kayak kucing, gue ketawa seneng. Dianya jadi sebel. Guenya? Jelas makin seneng.

Nah, itu tadi tiga hal yang membuat gue jatuh hati.

***

Cinta itu sama kayak cewek lagi menstruasi, datang bikin repot, gak datang-datang malah lebih repot. Serba salah. Sama keadaannya kayak gue saat ini, disalahin…mulu sama Desy.

Kejadian-kejadian menyebalkan ini dimulai setelah gue dan Desy sudah berada di salah satu Mall kenamaan Jakarta. Wajah doi yang kelihatan seneng banget berbanding terbalik dengan gue. Iya, gue lagi dijadiin kacung, diomelin dan kena imbas mulu. Padahal posisinya lagi di  toko baju, hanya saja gue cuma ngikutin dari belakang, gue nurut aja maunya kemana. Soalnya kalo nolak, hal ini berpotensi besar membahayakan jasmani dan rohani gue. Tepatnya jasmani, karena sudah pasti gue bakal abis dicubitin atau parahnya dipukulin kalo doi ngambek.

Desy mulai menyibak baju-baju yang tergantung rapi, gue cuma mengekor dan berkomentar seadanya kalo ditanya.

“Ay, ukuran baju kamu apa?” gue colek bahu Desy, dia noleh, tapi tatapanya aneh. Tajam. Dahi gue mengkerut bingung.

“S-S kalo ngga S. Kamu mau bilang aku gendut, kan?! Iya?! Ngaku!” sentak Desy, tanganya terlipat di depan dada.

“Ehh, engga. Orang niatnya mau beliin baju, tapi … itu, kamu marah gitu,” jelas gue pelan, canggung, terlebih ada beberapa pengunjung lain menoleh dan menahan tawa.

Sekejap, Desy memandang gue.

Expresi-nya langsung berubah 180°. Aneh banget, yang tadinya garang, serem, sekarang malah senyum-senyum gak jelas. “Yang bener?” tanyanya, gue ngangguk. “Aaaaa… Aku mau yang itu, mau itu, itu-itu-itu-itu, sama itu juga.” tunjuknya ke banyak baju, nyaris gak ada kelewat. Gue nelen ludah, cuma bisa memandang satu titik, tepat pada matanya. Mata yang cerah bahagia penuh arti. Entah kenapa rasanya pantat sebelah kanan gue jadi geter-geter sendiri, seolah mengisyaratkan kalau dompet yang mengganjal di sana ikut histeris, mungkin itu dompet keadaannya lagi teriak panjang: “TIDAK!!!”. Hahhh, itu gak mungkin.

Tanpa ngomong apa-apa lagi, Desy langsung narik tangan kanan gue supaya mengikut dan lebih jauh menelusuri rak-rak baju. Padahal tadi nunjuknya yang di depan-depan ini, tapi kok malah masuk ke dalam, aneh banget. Sampe di sini banyak sekali jenis-jenis baju, mulai dari yang biasa-biasa sampe yang sangat-sangat tidak biasa bagi gue. Kalian tau apa? Pakaian dalam…!!! Astaga… Ini bener-bener keterlaluan. Untuk ukuran cowok yang kadar ‘alim’-nya gak stabil itu bahaya. Karena semakin dalam gue berjalan; semakin dalam juga benda-benda itu masuk pada pandangan dan fikiran gue. Ada Tanktop, Bra, CD, G-string, Bandeau, Lingiere dan para sahabat-sahabatnya. Gue cuma bisa mejemin mata ngikutin tarikan doi, dalam hati udah banyak banget baca do’a plus ngebatin, “Astagfirullah…! Benda jahanam macam apa itu?  Bagus juga,”

Gue terus membatin dalam jalan.

Tiba-tiba Desy berhenti, gue yang gak lihat situasi pun langsung nabrak punggungnya dari belakang. Gue buka mata, doi udah berbalik badan dan menatap bingung.

“Kenapa?” tanyanya, alis naik sebelah, mata kirinya rada merem.

“Gak kenapa-kenapa,” elak gue sok tenang.

“Apaan, kamu kenapa tadi jalanya mejem mata?” tanyanya lagi, tapi kali ini mukanya kayak menahan tawa, curiga.

Gue jadi canggung. “…eng … i-itu ….” gue menoleh ke belakang, dan terlihatlah kembali penampakan CD-Bra beserta jajarannya yang melekat indah pada patung-patung model.

“Pfffttt. Cowok kayak kamu bisa malu juga ya masuk ke tempat kayak gini?” ledeknya, “Hahaha. Aduuh, aduh. Gak kuat… Sampe sakit perutku. Hahaha,”

Desy ketawa puas. Gue cuma nunduk, kemaluan gue rasanya lepas. Ralat. Rasa malu gue udah lepas secara tidak terhormat. Gue hina!

“Jangan malu ya, Sayang … Nanti kalo kita udah married aku suruh kamu deh yang beliin kesini, hahaha.” godanya senang. Ini cewek gak puas-puas kayaknya ngeledek gue.

Rasanya (ke)malu(an) gue semakin bertambah besar, karena-rupanya ada Mbak-mbak karyawan toko lagi ngeliatin kami berdua, dia sedang menata-nata baju yang gak jadi dibeli pengunjung sebelumnya, jaraknya mungkin cuma tiga meter, dia curi-curi pandang ke arah gue, sampe sewaktu gak sengaja tatapan kami bertemu dan dia buru-buru ngalihin muka, hanya saja sebelah tangannya nutup mulut, kayak nahan ketawa gitu. Keparat emang.

Gak mau ambil pusing, gue menoleh ke arah Desy yang ketawanya mulai reda. “Kamu mau ngga aku beliin Celana Dalam?” tanya gue dengan tampang serius.

Desy memandang gue dan menahan tawa lagi. “Hehe, yang bener…? Yang kayak gimana? Emang kamu berani milih, Ay? Pfftt,”

“Hmm, yang ada gambarnya aja biar lucu,” kata gue sembari mengontrol rasa malu. Kelihatan jelas itu mbak-mbak jadi fokus mandangin kami berdua. Dasar tukang nguping! “Itu mah buat anak kecil, yang ada gambar Masha, Hello Kitty, gitu?” tanyanya bingung.

“Ya engga, mana cocok yang gitu buat kamu,”

“Jadi…?” alisnya naik sebelah seperti curiga.

“Yang ada gambar Aliando-nya di pantat. Plus Stefan William! Mau?” sabar gue lepas. Sebel aja lama-lama.

“Iss, nyebelin deh. Suka balas dendam!”

Desy mendumel dan berbalik badan, lalu ia berjalan cepat meninggal gue yang sekarang bisa gantian menahan tawa. Gue menoleh ke kiri, tepat di mana Mbak-mbak kariawan tadi masih menata baju, dia menoleh dan gak sengaja mata kami bertemu lagi. Apa lu?! sentak gue sebal. Mbak-mbaknya kaget-latah, berbalik badan, lalu berjalan buru-buru sampe menabrak rak yang berisikan banyak Bra hingga terguling. Mampus Lu! Akhirnya ada yang berantakan lagi, gue seneng.

Gara-gara kejadian ini gue sampe kefikiran ‘gimana reaksinya’ kalo Desy beneran gue beliin celana dalam. Cuma masalahnya gue gak tau doi sukanya pake brand apa. Entah itu Victoria’s Secred, Wacoal, Pierre Cardin, atau malah yang gak ada sama sekali di fikiran gue. Bahwa sebenarnya Desy, gadis gue yang tinggi, langsing, bermata minimalis dan lucu, ternyata pake CD bermerek…Andimarried. Oh may day!!! No!!! Itu serem gila!

Gue gak kebayang aja seandainya lagi main-main di pantai. Banyak bule seksi ber-bikini (bule cewek ya, bukan bule cowok berewokan pake bikini), terus banyak juga cewek-cewek Indo cakep pada pake bikini, mata gue pasti seger. Tapi akhirnya momen indah itu rusak setelah gue menoleh dan terlihatlah my honey kesayangan alias Desy yang lagi lari-lari dengan senang bermain percikan air, bagian atas dibalut Bra seksi, tapi berkolaborasi indah dengan CD Andimarried-nya. Astaga… Khayalan macam apa ini?! Gak matching bangzat!!!

Gue nyesel sempet ngebayangin. Maafkan aku, Desy.

Sakarang gue dan Desy sudah berada di bagian baju-baju yang rada manusiawi, lebih enak dipandang mata. Doi mulai pilih-pilih, gue masih setia mengekor. Menurut gue bajunya bagus-bagus. Cakep. Dan kayaknya jelas… Mahal!!!

“Ay, bagusan yang mana?” doi berbalik badan, tanganya menenteng dua pasang Dress selutut, terlihat sama, cuma beda warna.

“Ini bagus, cocok sama kamu. Warna hitam. Pas.” tersenyum, gue tunjuk Dress pada tangan kanannya. Desy mengankatnya dan ikut memperhatikan Dress yang gue tunjuk sambil tersenyum.

“Hehe, bagus dong, aku gitu yang milih …” bangganya, “tapi aku suka yang putih,” ralatnya sendiri. Diangkatnya Dress satunya, tangan kiri. “Bagus kan?”

“Errr. Iya, bagus.” Gue cuma bisa ngangguk, nunduk sambil garuk-garuk kepala. ‒Ngapain coba minta saran?

Desy senyum-senyum lagi. Ngeliatin Dress-nya kanan-kiri secara bergantian. “Hehe, emang yang hitam kenapa, Ay?”

Ha? Barusan Desy tanya apa?

Astaga tuhan… Sabar Rii, sabar…. “Kan aku bilang yang hitam bagus, tapi kamunya suka yang putih, gimana dong?”

Ribet ya, entah apa maunya ini cewek.

“Iya, ya. Bagus yang hitam.” doi nganguk-ngangguk. Gue bener-bener bingung. “Tapi aku mau yang putih, hehehe,” diangkatnya lagi Dress berwarna putih, ia tersenyum. Tapi cuma sesaat karena tiba-tiba mukanya berubah murung sambil menunduk. Hahhh, gue sangat tau isi fikirannya, kenapa? Karena pantat sebelah kanan gue berasa goyang-goyang lagi.

Yah begitulah keadaan memperihatinkan siang ini.

***

Perlahan gue mulai gak yakin kalo Desy lagi ‘anu’. Karena dari sikapnya yang aneh bin unah lebih tepat dibilang ‘super nyebelin’ ketimbang cewek lagi anu’. Ya kali imbas dari ‘anu’ sampe sesensitif itu, sangat gak logis bagi gue.

Sebenarnya saat Desy berkata ‘anu’, gue sangatlah kebingungan. Ingin rasanya gue berbuat ‘itu’ supaya doi gak merasa ‘anu’ lagi. Tapi apalah daya, ternyata ‘itu’ gue gak sesuai dengan harapan ‘anu’-nya.

Tepat sekali, seperti halnya sekarang yang di’anu’kan Desy kepada gue.

“Yank, kita mau kemana lagi?” tanya doi sambil berjalan, tangannya menenteng tiga kantong baju belanjaannya.

Jangan percaya kalo belanjaan doi sedikit. Di tanganya memang yang kelihatan cuma tiga; tapi ditangan gue ini banyaknya bukan main. Gue sampe bingung bedain mana belanja mana merampok. Banyak banget, gila! Oh iya, apa kalian mau tau kondisi dompet gue? Bener, beliau sudah gak mampu goyang-goyang lagi. Ibarat manusia, itu dompet baru aja kena serangan jantung dan mati di tempat. Menyedihkan.

“Ribet ini, sampe susah aku jalanya. Mau kemana lagi coba?” tanya gue balik, berjalan susah payah dan kadang kaki keserimpet kantong belanjaannya. Doi cuma ketawa kecil.

Desy terus berjalan sambil cengengesan, gue masih setia mengekor karena harus ke parkiran terlebih dulu untuk menaruh semua hasil ‘rampokannya’ kedalam mobil, baru setelah itu doi ngajak masuk lagi ke dalam Mall. Gue cuma bisa ngangguk-nurut, karena melihat resikonya bakal lebih buruk lagi kalo membantah.

Setelah meninggalkan semua hasil ‘rampokan’, gue dan Desy kembali masuk lalu menuju foodcourt untuk makan siang sebelum keliling-keliling lagi. Entah bakal ke Timezone atau apa gue gak tau, karena dari tadi doi ditanya jawabnya cuma ‘terserah-terserah-terserah’. Ini cewek apa gak pada tau gitu kalo kita-para-cowok itu pusing denger jawaban kalian yang mainstream. Gue sempet kefikiran apa ini kata udah ada gitu dari zaman Adam-Hawa, zonk answer tau gak! Di mana kita (cowok) kalo ngajak ke tempat yang random dan ternyata mereka gak suka, hasilnya pasti ngambek gak jelas. Beneran ribet dah.

“Des, mau makan apa?” tanya gue setelah mendudukan diri, kami masuk ke sebuah kedai atau resto yang menyediakan makanan Jepang. Sebenernya gue gak suka, cuma lagi-lagi tangan gue ditarik dan terpaksa nurut.

“Aku lagi ngga mau makan sekarang. Main-main dulu yuk, Ay?” Desy beranjak dari duduk, tersenyum semangat.

Gue bingung. labil bener sih ini cewek. “Kok gitu? Ini kita udah duduk, malu kali kalo keluar lagi,”

“Aku lagi ngga mood makan sekarang ih. Ayuk lah kita main,” rengeknya menarik tangan gue hingga berdiri.

Gue cuma bisa menggeleng-geleng. Sabar… sabar, kalo bukan cewek udah gue jorokin nih dari lantai tiga! Sebel bener, dia yang ngajak makan, dianya pula yang gak mood. Kurang ajar! gerutu gue dalam hati. Menurut gue, cewek yang lagi ‘anu’ dan suka ngambek gak jelas adalah sosok Alien-nya Bumi.

Gue terus membatin liat kelakuanya.

“Coba deh kamu liat dulu ke arah meja paling pojok,” suruhnya menadah. Otomatis kepala gue langsung ikut menoleh. Setelah tau, gue langsung mematung, berbalik memandang Desy lagi.

“…Itu Viny?” benar, yang ditunjuk Desy adalah mantan pacar gue. Viny, si wanita manis bagai peri, dan bisa dilihat juga pria yang duduk di sebelahnya, itu pasti pacar barunya yang pait bagai Pare! Gue kenal sama itu Pare.

“Jadi, mau makan dulu apa main dulu?” tanya doi balik sambil menahan senyum kemenangan.

“Ayuk lah kita main. Aku lagi ngga mood makan.” gue beranjak dari duduk, menarik tangan Desy untuk keluar dari resto. Senyum kemenangan doi yang tertunda langsung mengembang jelas.

Sepanjang jalan, Desy terus saja ketawa, haha-hehe-haha-hehe, ngeledek mulu,  gue awkward-nya setengah mati.

“Cieeee yang malu ketemu mantan,” godanya, berjalan lebih dulu dengan gaya memundur, dan tanganya yang menggandeng gue digoyang-goyangkan.

Gue pura-pura bersiul ke arah lain, Desy masih saja ber-cie-cie. Malu kamvret diledekin pacar sendiri. Ini gak bisa dibiarin. Masak iya gue di bully mulu, pokoknya harus ada pembelaan. Harus!

“Itu tuh dulu aku yang mutusin Viny,” gue menyombong tanpa ditanya, biar ini cewek tau siapa gue.

“Pfffttt, yang bener? Perasaan dulu aku pernah denger kalo kamu yang diputusin Viny.” bantah Desy tertawa geli, tanganya menunjuk-nunjuk curiga sekaligus mengejek. Gue cuma bisa nunduk.

Astaga… Bego Rii, bego!!! Muka lu mau ditarok mana?! Tadi udah malu dan sekarang malah lebih-lebih lagi. Enggak! Ini salah paham! Bakal gue jelasin yang sebenar-benarnya terjadi. Jadi … dulu itu sudah jelas-jelas kalo memang gue yang muntusin Viny. Iya, mutusin kalo gue harus terima keputusan Viny yang mutusin gue. Tetep gak nolong ya, miris banget perjalanan cinta gue.

“Jadi kita kemana nih? gue tetep jalan. “Pelan-pelan ngapa jalannya, jangan cepet-pecet, ih.” Doi mendumel terus karena tanganya masih gue gandeng kuat.

“Keluar aja, jalan-jalan ke Mall lain yang banyak game, pasti seru.” alibi gue mulai berperan.

Desy cuma ketawai-ketiwi. Pasti dia mikir alasan gue emang keren dan tepat sekali. Alasan gue memang luar biasa! Bentar-bentar, apa ini cewek malah berfikir sebaliknya, ya?

***

Keputusan untuk meninggalkan Mall dan berpindah ke tempat lain adalah hal yang paling tepat. Setidaknya ini yang gue usahakan sedari tadi, bernego ria kepada Desy layaknya calo-calo berkelas atas. Sampe deal.

Setelah bebas dari momen awkward tadi, sekarang di sinilah gue, berdua di dalam mobil dengan keadaan jalanan macet parah, membosankan. Terutama bagi gue, ya walaupun berduaan bareng pacar yang ceria dan suka ketawa, tapi hal itu gak membantu lebih. Bisa disimpulkan dari kejadian-kejadian sebelumnya, maka jelas keceriaan lebih membela satu pihak. Pihak Desy. Dan jalas, gue yang harus jadi pihak korban untuk keceriaan itu.

“Yank, padahal langitnya yang mendung, tapi kok muka kamu ya yang keliatan gelap,” celetuk doi. Gue menoleh dan melihatnya tersenyum jail. Sebal, gue langsung membuang pandang, pura-pura bersiul sambil melihat kendaraan lain yang ikut terjebak macet. Cuma mau ngatain gue item aja sok bawa-bawa mendung. Sialan! untuk kesekian kalinya gue mendumel dalam hati.

“Hehe, gitu aja ngambek. Ay, liat sini,” ditariknya tangan gue agar berlaih memandang kearahnya, gue menoleh malas dengan alis naik sebelah. “Udah cakep belum?” tanyanya cengengesan setelah berkaca sebentar, lalu menoleh penuh harap.

Gue ikut tersenyum, menggenggam telapak tangan kanannya dengan tangan kiri gue. Sepertinya hal menyebalkan ini akan segera berakhir. Desy tersenyum menunggu.

“Ay, kalo mau cantik gak usah bercermin di kaca. Kaca itu bohong, kamu pandang aja bola mata aku. Pasti, yakin, sumpah. Aku jamin kamu bakalan lihat Bidadari di dalamnya,” gue menatap penuh mata indahnya yang terdiam tanpa kedip. Mulutnya sedikit terbuka. Yes! Kayaknya doi kaget.

“Aaaaa… Gombal… Pengen nabok, deh.” Desy tersadar. Meledek bercanda, ketawa dan senang. Mukanya merona merah, malu.

Gila. Gombal gue ternyata berhasil juga setelah menahan rasa mual pengen muntah. Ya meskipun respon awalnya pengen nabok. Tapi sebanding lah sama keadaan sekarang, lebih kondusif. Doi memeluk erat lengan kiri gue, sedikit bisa melupakan keadaan jalanan yang lagi macet parah.

“Makasih ya, Sayang,” dipeluknya lebih erat lengan gue, kepalanya bersandar pada bahu. Berubah diam dan mulai memejamkan mata.

Desy mulai terlelap berbantalkan bahu kiri gue, biarkan saja. Selagi gak terlalu mengganggu gue nyetir gak jadi masalah.

Tangan kanan gue beralih dari stir, memencet tombol music play pada mp3. Sebuah lagu sepertinya cukup untuk menemani suasana baru ini.

Matahari semakin menunjukan perannya, panas semakin menyengat. Ia memang menjalankan tugas setiap hari tanpa sekalipun absen, berangkat pagi dan pulang menjelang petang. Tidak pernah sedikitpun mengeluh apalagi minta libur. Kalo seandainya Matahari minta libur mungkin alasanya cuma satu, sakit. Itulah sebabnya kenapa Bulan muncul pada malam hari, karena dia harus melembur shift malam. Meskipun Matahari tengah sakit, tapi dia tetep gak mau kalo dijenguk Bulan, iya, karena dia gak mau kedatangan bulan (ngaco). Jadi kalo cuaca siang hari kadang-kadang panas berelebih ya wajarin aja, bisa disimpulkan bahwa Matahari lagi PMS.

Maaf kalo omongan gue makin ngelantur dengan adanya teori-teroi luar biasa ngawur barusan. Bukannya apa-apa, sebenrernya gue juga bisa diajak ngomong serius, cuma, kalo gak terlalu penting ya biasa aja ,  gue takut masuk angin kalo terlalu serius.

Kembali pada gue dan Desy.

“Yank, nanti berhenti di Alfimarried bentar ya,” pinta Desy sembari mengucek mata, kelihatan juga dia menguap tanpa ditutupi. Gue cuma ketawa menggeleng melihatnya.

“Bentaran ya, sekalian Alfimarried di Pom Bensin depan aja,” terang gue sambil menoleh singkat , doi cuma mengangguk.

Sekitar jarak 300 meter lagi dari sini bakal ada Pom Bensin besutan PT. Perta Aminah. Jadi gue mutusin berenti di sana aja sekalian isi bensin. Gue gak tau juga kenapa Desy minta mampir ke Alfimarried, belum sempat gue tanya, Desy sudah mengeluarkan suaranya terlebih dulu.

“Nanti tolong beliin Pembalut bentar ya, Ay.”

Gue kaget. Menyentak rem sampe laju mobil sedikit jadi lebih pelan. “Ha? Kok aku? Kamu ajalah yang turun, aku ngisi bensin.”

“Aku males turun … masih ngantuk, ya Ay. Please ….” pintanya memelas, gue gak bakal tertipu wajah macam itu! Tapi sialnya gue nurut. Lemah emang.

Harus belajar dari pengalaman. Di mana dulu gue pernah ketiban malu karena Pembalut dan sekarang gak bakal terjadi lagi. Tidak akan!

“Pembalut yang apa? Pake sayap ngga? Yang polos apa yang ada gambar-gambarnya?” tanya gue secara jantan, keren dan menawan.

Gila gue cool banget dengan pertanyaan yang meyakinkan itu. Bisa dilihat dari Desy yang mematung, melongo tanpa kedip. Bakal gue biarin aja sampe dianya sadar sendiri.

Gak sampe sepuluh menit akhirnya mobil gue berhenti juga di Pom. Setelah bilang ke Mas-mas petugas agar mengisi full tangki mobil gue, gue beranjak dari duduk dan langsung menuju Alfimarried. Tak lupa setelah memberi uang pada Desy untuk bayar bensin.

Gue masuk ke Alfimarried udah dengan persiapan yang sangat matang. Mental udah gue bangun sejak perjalanan tadi, jadi gak bakalan canggung. Setibanya di dalam, gue langsung menuju pada rak-rak kebutuhan wanita untuk mencari Pembalut, dan setelah dapat gue langsung ke meja kasir.

“Ini aja, Mbak. Satu. Buruan bungkus.” kata gue cool, dengan suara sok di berat-beratkan. Mbak kasirnya cuma melongo mandangin gue. Hah … sudah ketebak, pasti dia terpesona pada gue.

Setelah proses transaksi selesai, gue langsung keluar dengan tenang, lalu berjalan menuju mobil tepat di mana Desy parkir. Setelah sampe dan masuk mobil baru gue berbicara. “Nih, Pembalutnya.” gue sodorin bungkusan pelastiknya. Tapi buru-buru gue tarik lagi. “Bentar-bentar, aku mau liat dulu. Penasaran, hehe”

Gue buka bungkusan pelastik berlogo Alfimarried itu, mengambil satu bungkusan Pembalut yang masih terkemas rapi. Dan . . .

SRAK!!!

Gue sobek kemasannya dan langsung mengambil Pembalutnya, gue tersenyum bangga karena akhirnya rasa penasaran yang terpendam selama ini usai. Di mana gue pengen liat bentuknya, menyentuh teksturnya dan merasakan kelembutannya. Desy cuma bengong ngeliatin gue, sesaat setelah itu baru dia sadar dan langsung merebut Pembalutnya dengan expresi aneh. “Iss kok disobek, bego.  Ck, ntar kalo masuk angin mana bisa dipake lagi. Kembung Pembalutnya, bego bener sih kamu? Emang gak pernah pake Pembalut, ya? Aneh banget jadi orang, kan gak mungkin aku ganti di mobil. Itu tuh buat stok di rumah. Heh, nyebelin!”

Desy terus nyerocos gak jelas yang gue gak ngerti, gue cuma diem kaku gak berkutik. Gue dibego-begoin, dikata ngga pernah pake Pembalut juga. Ya gue gak terima lah! Eh, gue gak terima dikata bego, cuma gue juga gak pernah pake Pembalut.

“Udah dong nogcehnya, masih banyak juga sisanya,” gue mencoba menetralkan situasi dengan segala macam bujuk rayu sedari tadi. Hanya saja sulit.

Mubazir tau.” ocehnya lagi, gue ngusap-ngusap wajah yang gak berkeringat sama sekali, mencoba untuk sabar. “Iya deh iya, aku salah, janji deh mau kemana aku bakal nurut,” coba gue lagi. Sepertinya cuma kata ini jurus terakhir.

“Bener ya?” tanyanya seolah gak percaya. “Emm, aku mau ke Mall, main Bowling.” pintanya tersenyum senang.

Guenya bingung. “Ngapain main Bowling? Emang kamu bisa?” dan hasilnya doi menggeleng. “Hahh, Desy sayang … Aku kasih tau ya, main Bowling itu susah, bolanya berat. Takut-takut pas main bolanya kamu lempar eh cuma jatuh ke bawah gak gerak, tau-tau malah kamunya yang nggelinding.” jelas gue  sambil tertawa kecil.

“Iss kan kamu mau bilang aku gendut. Ngaku deh. Ngga suka ah, jahat. Aku aduin ke Mama kamu ntar kalo udah sampe rumah. Kita pulang ke rumah kamu. Sekarang! Sebel aku.”

Gue tepok jidat. Astaga… Gue salah ngomong. Ngapain coba pake acara ngeledek segala? Sekarang sepanjang jalan doi terus ngoceh-ngoceh tanpa berenti. Kepala gue pusing dengernya, suara radio rusak juga pasti kalah sama ocehanya.

***

Malam sudah tiba, tapi Desy masih aja ngambek, ditanyain diem mulu. Gue bingung apa maunya, ditanya ini jawabnya salah, gue tanya itu dijawab salah juga. Eh pas gue diemin malah tambah salah, dianya marah-marah. Katanya: cowok emang gak peka. Gak pernah mau ngerti. Aku tuh ngga bisa diginiin. Bingung kan? Serba salah kayak Raisa.

Suasana jadi makin rumit setelah Desy bersekutu sama Nyokap gue. Mereka entah diskusi apa aja gue ngga tau, yang gue tau Desy sekarang udah mau senyum, cuma senyumnya aneh, mengarah pada Nyokap gue dan berbalas. Keduanya sama-sama memainkan alis naik turun. Gue cuma bisa diem-bengong kayak lagi nonton parade tarian alis.

“Ngapain ngeliatin sampe kayak gitu?” Nyokap menoleh, seakan baru sadar kalo gue merhatiin mereka.

“Engga kenapa-kenapa,” gue gak tau harus jawab apa.

Mereka diem.

Sekarang gue malah jadi bingung melihat Desy dan Nyokap yang gak ngelanjutin tarian alisnya, mereka malah natap gue kayak nahan sebel gitu. Emang apa salahnya dari jawaban gue? Perasaan biasa aja. Gue mana ngerti, pusing. Mbok ya langsung ngomong gitu kalo ada apa-apa, gak usah main tebak-tebakan mengatas namanakan kadar ke-Peka-an. Liat aja muka mereka sekarang, kaku, datar gitu kayak tiker.

Stres ini otak ngadepin mereka para cewek. Gue lebih milih diem. Terlebih lagi ini Nyokap ngapain coba ikut-ikutan sekongkol, bukanya bantuin anaknya, malah ngebela Desy. Mikirin jawaban atas kemauan kalian itu susah, lebih susah malah daripada jawab TTS yang biasa gue dapet di koran-koran langganan pagi. Tapi pada akhirnya, setelah usut diusut, jual-beli tawaran tanpa ada barang yang diperdagangangkan, Gue-Desy-Nyokap bisa juga menemui titik kesepakatan. Di mana Desy dan Nyokap minta dibeliin Martabak specialt sebanyak empat loyang. Gak nyambung atau agak maksa ya? Bodo amat deh.

Dan yah, di sinilah gue, berdua bareng Desy sedang menunggu Martabak yang barusan di pesan. Di tempat mas-mas Martabak yang setia mangkal bareng gerobaknya sampe tengah malam. Selagi menunggu, pundak gue merasakan sebuah tepukan dan kedengaran juga sapaan dari si empunya. Seorang lelaki. “Lagi ngapain, Rii?” tanyanya klise dan gak berbobot. Gue menoleh.

“Lagi nungguin Janda melahirkan,” jawab gue asal. Itu orang sewot. Gue coba perhatiin bener-bener ini orang di sekitarnya gak ada yang aneh. “Viny mana, Will?” iya, yang menyapa gue adalah Willy, Pare paitnya Viny.

“Gak ikut dia, di rumah. Btw itu cewek lu siapa namanya?” Willy memalingkan pandang ke sebelah gue.

Gue otomatis ikut menoleh dan terlihatlah Desy yang tersenyum. Gue sampe lupa kalo doi ada di sini.

“Tebak … nama depan aku dari R~. ” jawab Desy mewakili gue, bisa dilihat muka Willy langsung berubah datar. Bingung, Willy nyenggol lengan kiri gue, “udah jawab aja kalo lu gak mau kita sekarat balik dari sini.” bisik gue menoleh singkat. Dia mengangguk.

“Rani?” –Salah. “Rina? –Salah. “Raisa” –Salah. “Risky?” –Salah. “Robert?”

“Salah semua, bego! Sampe nama laki-laki lagi lu bawa.” malah gue yang sebel lama-lama, ngaco ini jawabanya.

“Hehe, susah sih. Terus yang bener siapa, Mbak? Katanya dari R~ ,” tanya Willy ke Desy, yang ditanya cuma cengengesan gak jelas.

“Cengengesan pula di tanya, siapa Ay nama kamu?”

“ER-NA….”

“……………..”

Ya kalian taulah mukanya si Willy jadi kayak gimana, Pare + Pare juga kalah paitnya. Baru juga dikerjain sekali sama Desy udah begitu expresi-nya. Belum kena dari Viny sih, lu. Tunggu aja waktunya.

Setelah pesenan selesai, gue dan Desy memutuskan untuk segera pulang. Terlebih lagi Desy yang udah gak sabar untuk menikmati Martabak yang ditentengnya. Tak lupa juga meluruskan kesalah pahaman nama pada Willy, siapa itu ERNA gue gak tau, akal-akalan si Desy aja. Gue juga memberi sedikit wejangan untuknya agar langgeng dengan Viny, apa itu? Gue bilang gini: Viny itu sukanya Pembalut yang gak bersayap dan tipis. Terutama yang lucu-lucu bergambar Hello Kitty. Sekali kali beliin dia Pantyliner. Keren banget wejangan gue. Sekarang ini Pare mukanya jadi lebih bengong lagi. Shock dia.

Gue harap ini adalah kejadian aneh bin unah yang terakhir untuk hari ini, melihat waktu yang sudah jam delapan malam ada kemungkinan Desy dan Nyokap bakalan langsung tepar molor setelah kekenyangan. Semoga aja. Yahh gue beneran pengen cepet-cepet mengistirahatkan badan.

***

Orang tua gue selalu mengajarkan disiplin dan mendidik dengan keras sedari kecil. Gue sangat bersyukur akan hal itu, hanya saja sebenernya yang ngajarin gue disiplin itu cuma Nyokap, sedangkan Bokap specialist ngajarin yang bagian keras-kerasnya doang. Tapi dari dua cara mendidik yang berbeda itu, gue jadi paham gimana caranya untuk sabar, ikhlas, dan sigap dalam segala situasi. Cuma, gue lemahnya pada bagian ngatasin cewek yang lagi ‘anu’ ngambek. Ya wajar aja, mereka ngambeknya random, gak bisa kebaca radar. Ibarat ada BOM tiba-tiba langsung meledak tanpa kita (cowok) sadar, kalo udah gitu ya jelas hasilnya K.O.

Buat para cowok-cowok di luar sana, Gue cuma mau ngasih tau. Kalo lu punya pacar cantik, baik, sopan, rajin nabung dan taat ibadah. Ikutin saran gue. PUTUSIN!!! Jangan ngerusak anak orang! Jagalah mereka dengan sepenuh dan setulus hati, jangan terlalu sering mengucap rindu kalo di otak lu cuma ada nafsu. Jangan terlalu sering mengucap rindu kalo belum berani mengucap janji di depan penghulu. Jangan terlalu sering mengucap rindu kalo mengingat Tuhan aja lu ngga mampu. Harusnya kalian kasian sama mereka yang pacaran via online, atau tepatnya dibilang LDR. Mereka mau berduaan aja gak bisa, kalo sekedar tatap wajah masih oke lah dengan Video Call. Tapi pas mau ciuman gimana? Kasihan, bibirnya sakit mentok LCD.

Jadi, kesampingkanlah nafsu, perbanyaklah tabungan untuk beli susu calon anak-anakmu (Anjerr gue makin ngelantur). Dan buat kalian para cewek, tolong jangan beri kami kejutan-kejutan yang aneh nan lebay. Karena sejatinya kejutan terbesar buat cowok hanyalah sederhana, yaitu di saat kalian memasang wajah khawatir dan berkata dengan suara lirih itu sudah lebih dari cukup. Contohnya: “sayang, aku telat….” No!!! Bukan yang itu, buat kejutan bukan terkejut. Maksudnya kalo kalian bisa merasa khawatir dan memberi perhatian sederhana aja sudah cukup.

Sekarang gue juga mulai paham kalo nangadepin Desy harus pelan-pelan, gak bisa ngandelin ego yang dipaksa masuk logika.

“Kamu kalo lebih kalem gini beneran cantik, Des. Bawaanya pengen batalin Wudu.” iya, gue dan Desy sudah bisa berbalas canda dan berbagi keceriaan. Bukan sepihak lagi. Kami terduduk berdua pada sofa dengan perut kenyang dan senyum mengembang.

“Beneran cuma batalin wudu?” Desy menaik-naikan alis. Menggoda.

“Hehehe, jangankan batalin wudu, mandi wajib juga aku jabanin.” gue cengengesan. Desy ikut cengengesan.

“Hahaha. Ngaco, deh.” Desy terus ketawa-ketiwi dengan puas. Gue seneng banget liatnya. Dia lebih-lebih manis dari kata Peri, dan gue gak bakal jadi pait layaknya Pare. “Makasih untuk hari ini ya, Sayang. Good night,” Desy mengecup singkat pipi kanan gue sebelum beranjak dari duduknya untuk menyusul Nyokap yang sudah terlelap di kamranya.

Benar, Desy malam ini bakalan tidur di rumah gue bareng Nyokap. Kenapa gak bareng gue? Jelas gua gak mau. Gue takut aja. Takut kalo nanti bakal terjadi hal-hal yang di inginkan.

Dan akhirnya, semua hal menyebalkan telah usai.

Selamat malam kamu Maria Genoveva Natalia Desy Purnamasari Gunawan. Mimpi indah, Sayang. 

 

-EDN-

Jangan lupa Voment dan share. Terimakasih kalian yang sudah mau mampir dan membaca. Mohon maaf kalau Pembalut-II gak selucu atau gak lucu sama sekali seperti Pembalut-I. Sebenernya gue rada takut kalo ada yang kontra sama story Pembalut (lebay),  terus mereka pada demo mengatasnamakan Pembalut. Menenteng-nenteng Pembalut, mengibar-ngibarkanya sambil teriakin nama gue, “ANU ARII!!! ANU ARII!!! ANU ARII!!!”. Atau lebih parah lagi kalau ada yang Pro tapi menyimpang, mereka salah paham, malah mengira kalau gue buka gerakan baru bernama Pembalutizme. Di mana gerakan tersebut mengharuskan pengikutnya untuk menyembah ‘benda anti kerut dan anti bocor’ itu untuk masuk surga, bahaya sekali! Enggak. Gue cuma mau berbagi tawa, karya dan kegelisahan.

 Ingat kata pepatah baru: Satu kali tepuk, dua-tiga jerawat terpecahkan. Apa coba artinya yang mau gue jelasin? Gue lupa 😀 Jadi, see you and bye pada story-story gue selanjutnya….

 Jangan lupa mampir di:

Wattpad: @arytrias

Twitter: @arytria_s

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Pembalut II

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s