Heartache

Berjalan menyusuri koridor sekolah yg masih terasa cukup sepi ini, hanya ditemani suara langkah kakiku sendiri. Hah, aku rasa lorong yg panjang ini enggan untuk berakhir. Masih terus berjalan pelan sambil memasukkan kedua tanganku dikantung jaket hoodie yg kupakai. Aku rasa hari ini cukup dingin.

” kak!” Aku menghentikan langkahku setelah mendengar suara itu.

Aku menoleh kebelakang dan kudapati seorang gadis yg memakai seragam sekolah yg sama denganku sedang berjalan pelan kearahku.

” iya kenapa?” Tanyaku, masih menatapnya dengan sedikit senyum dariku.

Perlahan dia mendongak kearahku dan juga tersenyum padaku.

” Nanti temenin Devi ke toko buku bisa kan kak?” Ucapnya seperti penuh harap.

Ah, aku sebenarnya ingin menolaknya. Tapi raut wajahnya yg penuh harap itu menghantuiku. Bagaimana ini.

” ah, bagaimana kalau… ”

” Kak!” Teriak seseorang yg menghentikan ucapanku yg belum selesai.

Kini terlihat seorang gadis dengan seragam yg juga sama denganku berlari kecil kearahku.

” iya, kenapa Zara?”

” nanti temenin beli hadiah buat ulang tahun adik aku bisa kan kak?” Ucapnya dengan senyum manisnya.

Oke. Sepertinya sekarang semakin rumit. Hari ini aku ada janji dengan seseorang dan tak mungkin aku mengingkarinya.

” Zara!. Kan Devi dulu yg ngajak!?. Kamu kan bisa sama yg lain?” Seru gadis yg memang tadi mengajakku lebih dulu.

” tapi dia juga belum bilang mau kan sama kamu?”

Aku hanya melihat mereka saling melototkan matanya satu sama lain. Dan yah, keduanya tidak ada yg mau mengalah. Dan aku hanya menghela nafas.

” kakak tunggu sebentar disini…” Aku hanya mengangguk pelan sambil melihat tangan Zara ditarik oleh Devi.

Mereka menjauh sebentar dari tempatku berdiri, kemudian keduanya seperti berunding sesuatu. Aku tak terlalu mendengar apa yg mereka katakan, karena jaraknya cukup jauh dariku. Setelah cukup lama mereka berbicara akhirnya mereka kembali berjalan kearahku. Lalu keduanya menatap kearahku dengan tatapan serius.

” kakak pilih Devi atau Zara?”

*** Devi Pov’s ***

” ayolah kak, lihat aku…” Harapku dalam hati dengan senyum yg aku buat semenarik mungkin.

Aku terus tersenyum kearahnya. Dan saat aku menoleh kesamping. Temanku itu juga melakukan hal yg sama.

Oke. Tadi kan udah sepakat untuk bersaing secara sehat. Maaf Zara, untuk urusan ini aku tidak akan mau mengalah.

Aku mengalihkan perhatianku dari Zara, kemudian menatap kearah Dia lagi dan bisa kulihat dia sedang menggaruk kepala bagian belakangnya yg aku rasa tidak gatal itu. Aku terus menatapnya, menatap bola matanya yg indah itu.

~OoO~

Suara dari petir yg menggelegar itu cukup untuk mengagetkanku. Aku yg duduk dekat dengan jendela kelas ini kemudian melihat sebentar kearah luar kelas dan hujan diluar sana sepertinya belum reda. Huh. Bagaimana pulangnya kalau begini. Aku teringat jika aku tak membawa jas hujan untuk hari ini.

Suara dari lonceng pertanda jam pulang sekolah telah berbunyi. Namun kakiku enggan sekali untuk keluar dari kelas. Guru yg tadi mengajar dikelasku pun mulai beranjak dari ruang kelasku. Kemudian disusul oleh murid-murid yg tentunya ingin segera pulang dari tempat ini. Beberapa dari mereka juga masih tinggal dikelasku. Aku rasa mereka bernasib sama denganku, lupa membawa jas hujan atau setidaknya payung.

Ah, iya. Mending nunggu diperpus biar tidak terlalu membosankan saat menunggu hujan reda. Mengumpulkan seluruh buku dan segala alat tulisnya, kemudian memasukkannya kedalam tas.

Meninggalkan kelasku bersama dengan tas yg ada dipunggungku. Ah, aku lupa membawa jaket. Hawa dingin saat aku keluar dari kelas ini benar-benar menusukku. Huh. Aku mempercepat langkahku untuk menuju Perpustakaan.

***

Sudah kudapatkan sebuah buku tentang luar angkasa. Aku memang suka dengan hal-hal tentang itu. Mataku kemudian mencari tempat duduk yg kosong diperpus. Mataku mulai mengamati seluruh bangku yg ada diperpus.

Hanya ada satu bangku yg mungkin masih bisa aku duduki. Karena bangku itu sepertinya muat untuk dua orang. Walaupun disana sudah ada yg duduk, tapi aku rasa tak masalah jika aku duduk disebelahnya. Karena memang tidak ada tempat duduk yg lain yg masih kosong. Berjalan pelan kearah bangku itu dan tak butuh waktu lama untuk aku sampai disana.

” maaf. Aku boleh duduk disini kan?” Tanyaku saat aku sudah sampai disana.

Orang itu menatapku sebentar dan mengangguk.

” makasih…” Ucapku sambil duduk disebelahnya.

Tidak kudengar ada balasan darinya. Kemudian aku mulai membuka buku yg tadi aku ambil.

***

” bangun!. Mau sampai kapan disini?” Aku bisa mendengar samar suara itu dan sentuhan dipundakku.

Hah. Astaga. Aku ketiduran. Aku mulai mengusap-usap mataku dan area sekitar bibirku.

” udah sore kayaknya…” Ucap orang disebelahku. Aku menatap kearahnyasebentar dan sesaat kemudian melihat jam ditanganku.

Hah. Jam 3 sore. Oke, ini buruk. Aku mulai panik dan yah, aku menyenggol lengan orang disebelahku dan membuat buku yg dipegangnyaterjatuh.

” maaf…enggak sengaja.” ucapku buru-buru mengambil bukunya dan mengembalikannya.

Kemudian mulai berdiri dengan tergesa-gesa dan mengembalikan buku ygtadi aku pinjam. Setelah mengembalikan buku itu, aku langsung berlari kecil keluar dari perustakaan.

” Eh tunggu…!!” Aku bisa mendengar suara teriakan itu walau aku sudah berada didekat pintu keluar perpustakaan.

Aku menoleh sebentar kearah sumber suara itu. Kemudian orang yg tadi duduk disebelahku menghampiriku.

” maaf jaketnya…”

Aku sedikit terkejut dengan ucapannya. Kemudian aku menyadari sesuatu. Ada jaket yg membalut sebagian punggungku dan menutupi tasku.

” duh. Maaf ya.” Aku langsung mengambil jaket itu dan memberikannya pada orang itu.

***

Berjalan seperti biasa sambil mendengarkan lagu dengan handset yg menggantung di kedua telingaku. Berjalan menuju kelas dan melewati pinggir lapangan basket, dan terlihat beberapa orang sedang bermain basket dilapangan.

DUUGGG!!!

Sesuatu mengenai kepalaku. Dan saat itu juga aku menoleh dan melihat bola basket menggelinding didekatku. Duh, siapa yg melemparkan bola basket itu sampai mengenai kepalaku. Aku langsung mencari sosok orang yg tadi melempar bola basket itu. Aku melepaskan handset yg sedaritadi menemaniku itu.

” maaf ya. Tadi ga sengaja…” Aku mendongak kearah suara itu. Dan bisa kulihat seseorang sedang mengambil bola basket itu. Kemudian dia melihat kearahku.

Tunggu. Dia yg kemarin diperpustakaan. Yg kemarin duduk disebalahku. Dan membangunkanku saat aku ketiduran.

” kamu gapapa kan?” Tanyanya. Aku hanya menggeleng pelan.

” oh iya. Kalau gapapa, bisa pindah ga?. Soalnya lagi pada mau main basket ini?”

Astaga. Aku langsung sadar sepenuhnya dan mulai beranjak dari tempat itu. Sekilas aku bisa melihatnya tersenyum kearahku. Dan kini terlihat dari kejauhan dia bermain basket lagi dengan temannya. Tapi sepertinya diantara yg lain dia yg paling kurus tubuhnya, hanya saja tingginya memang sepantaran dengan yg lain. Aku terus melihat kearahnya walaupun dia tidak melihat kearahku, itu karena dia sedang fokus dengan
permainannya.

” Devi!. Ayo, mau sampai kapan disitu terus?” Seseorang kini menarik perhatianku dengan teriakannya barusan.

” iya bentar…” Aku melangkahkan kakiku meninggalkan lapangan basket munuju kearah sumber suara itu.

” Kenapa Shan?” Tanyaku setelah sampai didekat orang itu.

” udah mau masuk…ayo!” Lalu dia menarik tanganku menjauhi tempat itu.

***

” Shani, yg tadi main basket itu siapa?” Tanyaku saat aku sudah sampai kelas bersama temanku tadi. Temanku itu hanya mengerutkan dahinya. Seolah sedang berfikir untuk memberikan jawaban.

” yg main kan banyak Dev. Aku mana tau semua?”

Hah. Benar saja, yg main kan cukup banyak.

” yg rambutnya acak-acakan. Terus ga pakai dasi?” ucapku meralat pertanyaanku sebelumnya.

” oh yg itu. Kamu tanya sendiri deh. Aku juga ga tau namanya…”

” eh tunggu, kenapa nanya-nanya orang itu?. Jangan bilang kalau kamu suka pada pandangan pertama?” Lanjutnya dengan tatapan aneh.

” terus kenapa Shan?”

” udah kayak sinetron aja…” balasnya dengan sedikit tawa darinya.

Hah. Dia itu, kenapa menuduhku begitu. Padahal aku hanya bertanya seperti biasa. Tapi ya, cuman mau bilang kalau orang itu baik karena kemarin dia minjemin jaketnya. Hihi.

” Devi?” aku menoleh sejenak.

” wah…wah. Beneran suka kayaknya. Dari tadi senyum-senyum sendiri?” ucap temanku itu sambil menatap kearahku dengan senyuman jahilnya. Aku hanya menghela nafas dan memukul pekan kepalanya.

***

Berjalan meninggalkan kelasku suasai bel istirahat telah dibunyikan. Aku langsung berjalan menuju kantin dan tentunya mencari makanan untuk mengisi perutku. Karena aku rasa perutku malai tak kondusif karena tadi pagi lupa untuk sarapan. Bukan lupa juga sih, cuman karena waktunya mepet jadi belum sempet sarapan, kakakku udah teriak-teriak dari luar rumah.

Tiba dikantin dan langsung menyisir tempat diuduk dan sepertinya tidak ada tempat yg bisa aku singgahi. Semua dipenuhi oleh murid-murid dari kelas lain dan beberapa juga dari kelasku. Aku hanya menghela nafas pelan dan memutarkan tubuhku untuk meninggalkan kantin.

” kok balik lagi?” tanya seseorang yg kini tepat berdiri didepanku.

” udah penuh kantinnya…” balasku lesu.

” bentar lagi. Itu udah ada yg mau pergi?” aku menoleh kearah belakangku mengukuti tunjuknya.

Kini senyumku mengembang setelah melihat orang yg tadi duduk disalah satu bangku kantin mulai pergi meninggalkan mejanya.

” ayo!” orang yg tadi didepanku kini berjalan melewatiku. Dan sekarang aku mengukutinya.

Memesan makanan dan langsung berjalan kearah meja yg sudah tidak berpenghuni itu bersama dia didepanku. Duduk disana dan tunggu. Apa yg dia lakukan. Aku melihat dia mengumpulkan beberapa gelas dan mangkok yg ada didepanku.

” bentar ya,” pintanya seraya membawa beberapa mangkok itu menuju belakang kantin.

Aku berinisiatif membantunya, tapi dia keburu sudah kembali dengan seseorang yg aku rasa akan mengambil sisa mangkok dimejaku ini. Dan benar saja orang itu mengambil mangkok yg masih tersisa dimejaku dan membawanya kebelakang kantin.

Tak lama setelah itu pesanan makananku pun datang. Dan tak berlama-lama lagi aku langsung menyantapnya dengan cepat. Sepertinya orang yg duduk didepanku memandangku sambil menggerak-gerakkan tangannya. Seperti memberi kode sesuatu. Tunggu. Aku langsung mengusap sekitar bibirku dan benar saja ada saus yg menempel disana. Aku melihatnya tersenyum kearahku dan sekarang kulihat dia melanjutkan makannya.

” akhir- akhir ini kita sering ketemu kayaknya ya?” Ucapnya setelah selesai menikmati makanannya. Ah iya. Benar saja yg dia katakan barusan.

” iya kayaknya…hehehe,” balasku.

” kamu gapapa kan?”

” maksudnya?”

” tadi pagi kan kena bola basket?. Maaf ya, aku beneran ga sengaja,”

” kan tadi pagi udah bilang gapapa. Dan udah aku maafin juga kan?”

” oh gitu ya. Yaudah makasih ya. Kalau gitu aku tinggal dulu,”

Dia mulai beranjak dari tempat duduknya yg berada didepanku.

” Nama kamu siapa?” Tanyanya saat dia hendak pergi dari tempat duduknya tadi.

” panggil aja Devi. Kalau kamu?”

” oh iya Devi. Makasih ya?. Aku duluan.”

Lah. Dia belum memberitahukan namanya dan malah langsung pergi. Aku kemudian melanjutkan makanku dan setelah selesai aku langsung menuju kasir untuk membayar makananku tadi.

Sudah dibayar sama orang. Hah. Terimakasih seseorang yg tidak kuketahui namanya. Kini orang yg ditunjuk oleh ibu yg ada dikasir itu telah menghilang dari balik pintu dan aku langsung mengejar orang itu.

Aku rasa orang itu berjalan terlalu cepat hingga aku tak bisa menemukannya lagi.

***

Disini sekarang, melihatnya bermain basket lagi dijam pulang sekolah ini. Aku melihatnya dari tribun penonton bersama beberapa orang disebelahku yg sama sekali tidak aku kenal walaupun masih memakai seragam sekolah yg sama. Aku hanya ingin menemuinya untuk mengatakan terimakasih padanya.

Ah, sudah selesai rupanya. Dia terlihat mengambil tasnya dan mulai berjalan pergi dari lapangan basket. Aku berjalan pelan kearahnya untuk menghampirinya.

” makasih ya?” Ucapku setelah sampai didekatnya dan mengikuti langkahnya.

” oh iya. Sama-sama…” Dia sepertinya paham maksud perkataanku tadi.

” wuih. Pacaran sama adik kelas nih?” Seseorang terlihat menepuk pundak orang disampingku ini dan tersenyum kearahku.

” b-bukan…” Sahutku cepat.

Dan orang itu hanya tertawa pelan sambil berjalan pergi meninggalkanku dengan orang disebelahku yg belum aku ketahui namanya.

Tunggu. Kakak kelas. Astaga, dia kakak kelasku. Hah, sepertinya perkataanku sebelumnya memang tidak sopan.

” duh maaf ya kak?. Aku bener-bener ga tau kalau kakak itu kakak kelasku. Dan maaf, tadi malah dituduh pacaran…”

Dia menatapku sebentar kemudian tersenyum. Dan perlahan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.

” iya gapapa. Dan gausah dimasukkin kehati omongan temenku tadi.” Aku hanya mengangguk kemudian mulai berjalan menuju kearah gerbang bersama dia didepanku.

***

Aku rasa aku dan dia semakin dekat. Dan aku tidak tau apa yg aku rasakan sekarang. Apa aku suka dengannya. Dan mungkin iya. Karena dia orang yg baik, walau kadang dia rada cuek. Walaupun begitu, aku punya harapan untuk lebih dari hanya menjadi adik kelasnya saja. Ehm. Aku rasa kalian sudah tau maksudku, tanpa perlu aku jelaskan lagi.

Rambutnya yg berantakan seperti orang yg baru tidur. Bola matanya yg indah dengan senyum khas darinya, dan tambah lagi dia jago main basket. Hah, andai saja dia tau apa yg aku rasakan.

Senyumnya semakin mengembang dan…ah. Dia melihat kearahku dan kini berjalan menghampiriku yg sedang memperhatikannya dari pinggir lapangan basket.

” habis ini mau kemana kak?” Tanyaku saat dia sudah sampai didekatku.

” pulang. Emang mau kemana lagi?” Balasnya sambil memakai seragam sekolahnya lagi yg tadi dia lepas saat bermain basket.

” emm…anu. Bisa anterin ke toko buku ga kak?”

Huh. Entah kenapa hanya mengatakan itu saja aku sudah salah tingkah. Tenang Devi.

” emm. Yaudah…ayo.” Ucapnya sambil menarik tanganku.

Deg. Jantungku berdetak tak beraturan, padahal dia hanya menggenggam tanganku. Huh, ayolah terlihatlah biasa.

Terus berjalan menuju tempat dia memarkirkan kendaraannya dan masih tetap menuntun tanganku. Hihi. Aku berharap tempat parkir itu masih jauh. Namun sepertinya harapanku tidak terkabul. Kini aku sudah tiba ditempat parkir sekolah.

” eh, maaf ya…” Ucapnya melepaskan genggaman tangannya.

” ah iya. Gapapa kak,”

” yaudah yuk. Aku anterin sekarang.” Dia menyerahkan helmnya padaku. Aku menerimanya dan tanpa berlama-lama lagi aku langsung memakainya.

***

” Udah sampai?” Tanyaku tiba-tiba karena dia menghentikan laju motornya.

” udah. Ayo, aku antar masuk.”

Tak berlama-lama lagi aku langsung saja turun dari motornya dan melepaskan helm yg tadi aku pakai kemudian berdiri disamping motornya. Aku menyerahkan helm itu padanya dan Kemudian berjalan masuk kedalam toko buku bersama dia.

Menyusuri seluruh rak buku untuk mencari sebuah buku yg aku cara. Ah itu dia. Novel Dilan. Sudah kudapatkan apa yg aku cari dan kemudian berjalan menuju kasir. Aku bisa melihat dia sedang berbincang-bincang dengan penjaga kasir.

” berapa kalau yg ini mba?” tanyaku sambil menyerahkan buku yg ingin aku beli itu. Dia meneliti buku itu sebentar dan tersenyum simpul sebentar kearahku.

” udah gausah bayar…” Ucap penjaga kasir itu sambil menyerahkan buku itu padaku.

” loh. Kok gitu mbak?” Tanyaku sedikit heran.

” itu. Temennya adek yg pu…”

” kita pulang sekarang ya Dev?” Potong kakak kelasku yg tadi mengantarku kesini.

Aku menatap heran mba penjaga kasir itu yg sedikit menahan tawanya. Apa yg terjadi, apa kakak kelasku itu yg sudah membayarinya.

Aku hanya mengangguk sambil mengikuti langkah kakak kelasku itu. Dan masih sedikit heran dengan yg penjaga kasir toko buku itu. Dia tersenyum kearahku dan melambaikan tangannya.

” kakak yg bayarin lagi?”

” ah enggak. Hari ini lagi spesial, katanya kalau pas pembeli ke seratus, hari dapet gratis satu buku…” Balasnya sambil menyerahkan helmnya lagi.

” gitu ya?” balasku sambil menerima helm itu darinya. Dia hanya tersenyum kearahku.

” aku anter kamu pulang gapapa kan?” Lanjutnya. Dengan cepat aku langsung mengangguk. Huh, itu yg dari kemarin aku harapkan. Hari yg indah untuk hari ini. Hihi.

***

Semenjak saat itu aku sering mengajaknya ke toko buku bersama dan kadang juga sendirian sih. Yah, masa minta dianterin mulu. Dia juga punya kesibukan. Aku juga tidak mau merepotkan orang lain. Walaupun aku selalu berharap kalau dia mau menemaniku setiap harinya. Namun walau sudah sering bersama,  sepertinya perasaanku memang terlalu berlebihan untuk mengartikan sikapnya padaku selama ini. Karena sampai kinipun aku hanya dikenal sebagai temannya dan adik kelasnya, tidak lebih. Tapi aku tidak akan pernah berhenti berharap untuk itu.

Dan sekarang aku duduk disalah satu bangku ditoko buku itu. Tepatnya duduk disebelahnya yg sedang sibuk dengan buku komik ditangannya. Membiarkan waktu berlalu cepat tanpa mengatakan apapun. Membuat terpaan angin mengenai wajahku yg sedang merangkai kata untuk membuka sebuah obrolan.

” kamu ga dicariin sama orang tua kamu?. Ini udah sore loh?” ucapnya tiba-tiba.

Aku langsung melihat kearah jam tanganku. Dan benar saja, sudah sore rupanya.

” yaudah aku pulang dulu kalau gitu…” Sahutku langsung berdiri dari tempat dudukku.

” eh tunggu!. Aku anter pulang ya?. Udah sore soalnya…”.

” emm, emang ga ngerepotin kak?”

” enggaklah. Sekalian aku juga mau pulang.”

Ah. Hatiku berbunga-bunga saat dia begitu peduli denganku. Makasih kak.

***

Hujan. Entah kenapa hujan tiba-tiba turun begitu saja saat perjalanan pulang menuju rumahku. Terpaksa dia menepikan kendaraannya untuk mencari tempat berteduh. Disalah satu toko yg sedang tutup ini sekarang aku dan dia menepi. Membiarkan awan gelap itu menjatuhkan seluruh airnya ke bumi.

Tapi lama-lama jadi terasa dingin. Dan parahnya aku tidak membawa jaket, karena aku pikir tidak akan turun hujan untuk hari ini. Aku menoleh kesamping. Dia sepertinya juga tidak membawa jaket. Dan sepertinya juga kedinginan.

” kamu kedinginan?” Tanyanya.

” dikit kak…hehe.”

Aku melihatnya melepaskan seragam sekolahnya dan kemudian menaruh seragamnya dipunggungku.

” siapa tau bisa sedikit membantu,” Ucapnya. Aku hanya bisa tersenyum saat dia hanya memakai kaos lengan pendek berwarna putih itu.

” makasih kak.”

***

Jam pulang sekolah telah tiba. Aku bergegas meninggalkan kelasku untuk menuju perpustakaan. Karena tadi guru itu menyuruhku mengembalikan buku keperpustakaan. Hah, nasib ketua kelas apakah seberat ini. Aku sendiri sebenarnya kurang berminat untuk menjadi ketua kelas dikelas ini. Tapi entah kenapa mereka semua sepakat menjadikanku ketua kelas. Kenapa harus aku. Kenapa bukan murid laki-laki saja. Huh. Sudah terlanjur.

Berjalan pelan dengan tumpukkan buku ditanganku yg lumayan berat ini. Melewati kelas-kelas lain yg sudah cukup sepi karena memang sudah jam pulang sekolah. Selesai mengembalikkan buku diperpus dan langsung bergegas menuju gerbang sekolah.

Sudah ada kakakku rupanya disana dan tunggu. Dia berbincang dengannya, dengan kakak kelasku yg sering aku temui. Aku berjalan menghampiri mereka.

” kak?” Kulihat mereka berdua langsung melihat kearahku.

” ayo pulang!” Aku langsung menarik tangan kakakku itu. Dan sedikit menoleh kebelakang, dia tersenyum kearahku dan aku juga membalas senyumannya.

” kakak kalau nyari yg seumuran aja,” Ucapku tanpa menoleh kearah kakakku.

” pffft. Ada yg marah kayaknya…hihihi. ” balasnya sambil tertawa pelan dan kemudian melajukan mobilnya.

Aku hanya diam sambil melihat notif pesan masuk kedalam ponselku. Dari dia.

” Seragamnya jangan lupa ya?”

Astaga. Seragam sekolah miliknya yg kemarin belum aku kembalikan. Itu karena kemarin aku memaksa untuk membawa pulang seragamnya yg basah dan aku malah lupa membawanya hari ini. Padahal aku sudah berjanji untuk mengembalikan baju seragamnya hari ini. Maafkan aku.

” hehehe. Iya…maaf tadi aku lupa.” Balasku pada pesan singkat itu.

Aku teringat jika baru kemarin dia memberikan nomor hpnya. Sepertinya sudah semakin maju langkahku ini. Hmm. Kalian pasti tau apa maksudku. Semoga saja.

” tapi boleh juga dia…” Ucap kakakku tiba-tiba.

” kak?. Jangan-jangan?”

” bercanda kali Dev. Ga mungkin kakak ngerebut dari adik sendiri, tapi kalau kamu ga mau ya kakak ga nolak…hihihi.”

Hah. Jangan. Jangan sampai.

” kakak nyebelin.” Balasku sambil memasang handset dikedua telingaku.

Aku sudah bosan melihat ucapan kakakku itu. Tapi sejak kapan dia begitu. Apa dia tau kalau aku menyukainya. Oke, aku berharap kakakku tidak menceritakan ini pada siapapun.

***

” ayo kamu pasti bisa!”

Aku hanya tersenyum saat aku mendengar ucapannya yg sedang mengajariku memasukkan bola basket itu kedalam ring. Namun untuk kesekian kalinya aku gagal memasukkan bolanya.

Aku mencobanya lagi dan aku malah terpleset. Tidak sakit sih, tapi agak memalukan. Aku mencoba berdiri lagi. Dan tangannya langsung dia gunakan untuk membantuku berdiri. Saat aku mendongak kearahnya hampir saja wajahku dan wajahnya bertemu kalau seandainya dia tidak memundurkan wajahnya.

” maaf. Tapi ga sakit kan?”

” maaf buat apa?. Enggak kok kak…hehe”

” eh, kalau gitu bisa berdiri sekarang kan?. Udah dilihatin orang-orang.”

Aku langsung berdiri seperti biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi kenapa masih deg-degan padahal dia sudah agak jauh dariku. Hampir. Hampir saja. Huh. Aku menghela nafas.

Aku mulai berjalan bersamanya menuju pinggir lapangan. Duduk sambil mengusap keringat yg sedikit membasahi pelipisku. Padahal belum ada sepuluh menit aku belajar memasukkan bola basket kedalam ring, tapi aku rasa tenagaku sudah terkuras saat belajar melempar bola basket itu.

” Ini…” Aku menoleh sejenak.

Dia tersenyum sambil memberikan sapu tangannya. Kemudian aku menerima sapu tangan itu.

” makasih kak.” Sahutku. Dia hanya mengangguk pelan.

Mungkin memang aku harus jujur tentang perasaanku ini. Aku tak bisa lebih lama lagi menahannya.

” kak!” Suara seseorang mengagetkanku yg sedang duduk sambil memikirkan sesuatu.

Aku bisa melihat salah satu teman sekelasku berlari kecil kearahku. Kemudian mengambil tempat duduk disamping kakak kelasku. Aku hanya menatapnya sinis. Sebenarnya apa hubungan mereka berdua.

” ini kak. Tadi udah Zara beliin minuman dingin…” Ucapnya sambil memberikan minuman kaleng itu pada kakak kelasku itu.

Kemudian teman sekelasku yg bernama Zara itu mendelik kearahku. Seperti tatapan tidak suka akan keberadaanku disini. Kakak kelasku itu kemudian menerima minuman kaleng itu darinya dan langsung membukanya.

” makasih ya. Oh iya, kalau gitu aku duluan. Kalian ngobrol dulu aja, siapa tau bisa temenan?” Ucap kakak kelasku itu sambil menenteng tasnya untuk pergi.

Setelah kepergiannya aku dan teman sekelasku itu hanya saling diam. Tidak saling menatap.

” sejak kapan kamu kenal sama dia?” Tanyaku padanya yg seolah terlihat enggan untuk bicara lebih dulu.

” udah cukup lama. Emm. Kamu suka sama dia?”

Aku diam beberapa saat untuk mencerna ucapannya barusan.

” tapi belum pacaran kan?. Kalau gitu kita saingan…” Lanjutnya.

” maksud kamu?”

” aku juga suka sama dia.” Sahutnya.

~OoO~

Entah kenapa Zara menyonggol lenganku hingga membuat menghentikan lamunanku. Aku melihat kearahnya sebentar, dia terlihat menggembungkan pipinya.

*** Zara Pov’s ***

Aku menyenggol Devi yg aku rasa tak henti-hentinya menatapnya. Kemudian Devi menatapku sinis. Aku hanya menyadarkannya, biar dia tidak terlalu sakit hati kalau kakak kelas itu lebih memilihku.

Namun beberapa saat kemudian Devi melakukannya lagi, menatapnya dengan senyumannya yg dia buat itu. Huh, maaf Devi. Aku tidak bisa mengalah untuk urusan yg satu ini.

~OoO~

Pagi hari dengan udara dingin yg cukup menusuk ini. Aku masih terus melanjutkan langkahku menuju kelas. Melewati koridor yg cukup panjang. Entah kenapa terasa mencekam, apalagi langit dipenuhi kabut hujan. Semakin membuatku bergidik.

Aku melihat seseorang berjalan kearahku, memakai jaket yg menutupi sebagian kepalanya. Itu membuatku susah untuk mengenalinya. Dia terus berjalan kearahku dan aku mulai menghentikan langkahku. Aku berharap hal yg aku takutkan ini tidak terjadi. Aku menoleh kesegala penjuru namun tak bisa aku temukan orang lain. Hanya aku dan dia yg sedang menuju kearahku ini.

Dia semakin mendekat.

DUAAAGGG!!!

Aku menghantamnya dengan tas yg tadi dipunggungku dan tepat mengenai kepalanya. Kemudian terdengar rintihan pelan darinya. Dan saat itu juga aku langsung berlari melewatinya menuju kelas.

***

Jam istirahat pertama. Aku langsung bergegas meninggalkan kelasku menuju kantin sekolahan. Memesan makanan dan langsung mencari tempat duduk.

Dan sekarang aku duduk didepan anak laki-laki yg sedang mengompres pelipisnya. Kalau dilihat dari warna jaketnya dia yg tadi pagi aku hantam menggunakan tasku.

Kakiku mulai bergetar. Dan dia menatapku sebentar, dia sepertinya heran dengan sikapku ini.

” lah disini rupanya?. Kenapa tuh muka?” Seseorang datang dan langsung duduk disamping orang yg sedang mengompres pelipisnya itu. Mungkin salah satu temannya.

” jam istirahat ya disini. Ini tadi pagi digampar pakai tas,” balas orang yg kini mulai berhenti mengompres pelipisnya itu.

” kok bisa?”

” ya gak tau, padahal mau masuk kekelas. Tiba-tiba pas lewat dikoridor langsung kena gampar sama orang.”

Oke, berarti tadi pagi itu orang ini. Maafkan aku. Aku ga tau kalau kamu mau kekelas. Aku pikir mau macem-macem. Maaf. Aku mulai beranjak dari tempat itu, karena aku sudah tidak merasa enak hati duduk disana.

” jadi keganggu ya?. Maaf ya, kalau gitu biar aku sama temenku yg pergi. Lagian aku udah daritadi disini…”

Aku menoleh sebentar, tapi dia tidak melihatku. Dia berjalan bersama temannya itu berjalan meninggalkan tempat duduk. Huh. Aku menghela nafas. Aku harus minta maaf. Tapi aku malu, bagaimana kalau dia nanti jadi membenciku atau menjadikanku musuh. Aku tidak mau ada masalah dengan orang lain, apalagi dengan anak laki-laki. Dan aku juga tidak mengenal dia walaupun satu sekolahan.

Aku duduk kembali sambil melihat punggungnya yg mulai menghilang dari kantin. Kemudian pesananku datang bersamaan dia yg sudah tidak nampak lagi dari kantin.

***

Melihatnya sedang bermain basket sehabis pulang sekolah. Aku hanya memperhatikannya dari jauh. Sebenarnya aku hanya mau minta maaf atas kejadian tadi pagi, tapi entah kenapa aku sedikit malu. Huh.

Dia terlihat sudah duduk bangku samping lapangan basket. Sepertinya dia sudah ingin berhenti bermain. Aku hanya diam melihat dia beranjak dari tempat duduknya dan dia menoleh kearahku. Aku langsung berpura-pura tidak melihatnya dengan buku sebagai alihan pandanganku.

Baru saja dia melewatiku dan aku hanya diam dengan langkah pelanku yg berlawanan darinya. Sebenarnya aku ingin menyapanya, hanya saja aku tidak bisa untuk mengatakannya. Otakku seperti tak mampu untuk merangkai sesuatu kata yg bisa aku gunakan untuk menyapanya. Aku hanya menghela nafas saat langkahnya sudah tak terdengar lagi. Aku mulai berbalik, melangkah menuju gerbang.

Tiba disana dan masih menyisakan beberapa orang yg aku rasa sedang menunggu jemputannya. Eh, dia lagi dan menghentikan motornya tepat disebelahku. Aku hanya menunduk.

Ah, mungkin ini saatnya. Aku langsung mengambil handsaplast yg tadi aku beli didalam tasku. Selama dia belum melajukan motornya aku berusaha dengan cepat menemukan benda itu.

Ah, disini rupanya. Aku mengambil benda itu dari dalam tasku dan aku berniat memberikannya padanya.

” Ayo kak. Maaf udah nungguin lama ya?” Seseorang datang menghampirinya, seseorang yg sebenarnya tidak asing lagi bagiku.

” itu kenapa?” Tanya orang yg baru datang itu sambil menunjuk pelipis orang yg ada disebelahku.

” gapapa. Yaudah yuk.”

Mereka berdua sudah berlalu meninggalkanku digerbang sekolah ini. Aku hanya menggenggam plaster itu yg tadi ingin aku berikan padanya sebagai permintaan maafku.

Tadi teman sekelasku, apa dia kekasihnya. Hmm, mungkin iya kalau dari cara mereka berbicara. Sampai tidak menyadari keberadaanku. Loh, apa urusannya denganku.

***

Seminggu setelah kejadian itu, aku masih belum meminta maaf padanya. Meminta maaf pada kakak kelasku itu. Sebenarnya aku sedikit kaget saat tau bahwa dia kakak kelasku. Aku pikir dia seangkatan denganku.

Berjalan pelan menuju taman belakang sekolah. Aku rasa itu tempat yg baik untuk menghindari keramain pas jam istirahat. Berjalan kesana dan melewati beberapa ruangan ekskul. Aku bisa mendengar samar suara gitar yg sedang dimainkan dari dalam ruangan musik yg terbuka itu. Karena penasaran aku langsung berjalan kesana dan mulai mengintip sebentar.

DUGGG!!!

” aduuuhh!” Rintihku. Aku mengelus wajahku yg terbentur pintu ruangan itu.

Entah kenapa ruangan itu tertutup dengan sendirinya saat aku hendak melihat kedalam. Perlahan pintu itu terbuka lagi dan muncul seseorang dari balik pintu itu.

” duh. Maaf-maaf…aku pikir tadi ga ada orang?” Aku menatapnya sebentar dan raut wajah tidak terlalu asing lagi bagiku, itukarena dalam beberapa hari ini aku selalu memperhatikannya.

Perlahan dia mendekat dan sedikit berjongkok untuk melihat kearah wajahku. Itu karena tingga badannya lebih tinggi dariku.

” i-iya gapapa kak…” Aku tak bisa menjelaskan tatapan matanya itu yg terus menatapku.

” beneran gapapa?. aku anter ke UKS ya?” pintanya diiringi langkahnya masuk kedalam ruangan sebentar dan kemudian kembali lagi.

***

Disini sekarang. Duduk disalah satu bangku yg ada didalam ruangan UKS bersama dia yg sedang mengamatiku ini. Aku masih menempelkan sapu tangan yg tadi sudah direndam didalam air es.

” beneran gapapa?” Tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk pelan.

Ehm. Sepertinya sekarang impas, aku kena batunya juga gara-gara belum meminta maaf.

” emm. Kak, aku minta maaf…” Dia menoleh kearahku seperti heran dengan perkataanku barusan.

” itu…dulu aku yg ngegampar kakak pake tas,” lanjutku sambil menunduk dan menghentikan aktivitasku tadi.

Aku diam tak berani menatapnya. Dan aku juga tak mendengar ada balasan darinya. Aku yakin dia marah.

” oh itu ya. Udah lupain aja, aku udah maafin sebelum kamu minta maaf,” Terangnya.

Aku mendongak kearahnya dan dia hanya tersenyum kearahku. Dia tidak marah. Ah, syukurkah.

” makasih kak,” Ucapku pelan. Dia kemudian mengambil sapu tangan yg aku taruh dibaskom air es itu.

Aku sedikit kaget saat dia menempelkan sapu tangan itu dipipiku. Tapi aku tak menolaknya, aku pikir itu bukan masalah.

” maaf…kalau gitu aku balik kekelas dulu,” katanya sambil memberikan sapu tangan itu padaku dan aku menerima sapu tangan itu.

” oh iya. Siapa namanya?” Tanya sebelum dia benar-benar pergi dari ruangan UKS.

” panggil Zara aja kak…”

” oh, Zara. Cepet sembuh ya.” Aku hanya tesenyum simpul sambil melihat kepergiannya.

Dan sekarang dia benar-benar hilang dari pandanganku. Aku hanya tersenyum memandang kain yg tadi digunakan untuk mengompres itu.

***

Duduk disebuah bangku taman dan hanya ditemani buku yg sedaritadi menjadi objek pandanganku. Sebuah buku tentang pelajaran IPA ini jadi perhatianku. Hah, aneh kan. Biasanya kalau ketaman kan membawa buku Novel, tapi tidak untukku yg memang kurang berminat dengan buku Novel. Aku lebih suka tentang buku pelajaran.

Eh. Suara gitar. Aku langsung mencari sumber suara itu yg memang tidak jauh dariku. Dan tak butuh waktu lama untuk aku menemukan keberadaannya.

Dia. Kakak kelasku. Dia terlihat sedang memainkan gitar ditangannya dan sepertinya dia tidak menyadari keberadaanku. Hmm. Sebenarnya aku lebih suka membaca buku saat ditemani dengan sebuah alunan musik. Entah kenapa saat seperti itu, aku lebih merasa nyaman dan tidak merasa bosan. Aku terus mendengarkan petikan melodi indah nan pelan itu darinya.

Kenapa berhenti. Aku kembali melihat kearahnya dan dia juga melihat kearahku. Dia tersenyum. Kemudian mulai berdiri dari bangku itu.

Hah. Dia menuju kearahku. Aku langsung mengalihkan pandanganku kembali ke bukuku. Aku bisa mendengar suara langkah kakinya yg semakin dekat.

” lagi belajar ya?” Aku mendongak sebentar kearahnya.

” itu buku IPA kan?. Hebat ya, bisa belajar ditempat yg ramai kayak gini,” lanjutnya sambil duduk disebelahku.

” emm. Iya…” Aku mulai salah tingkah sekarang saat dia mendekatkan kepalanya untuk melihat buku yg aku baca.

” tadi keganggu ya, pas tadi aku lagi main gitar?. Aku ga tau kalau ada orang yg lagi belajar ditempat ini,” ucapnya sambil menjauhkan kepalanya dariku.

Aku langsung menggeleng cepat.

” enggak, serius. Aku malah lebih nyaman pas ada alunan musik tadi…hehe. ” aku hanya bisa melihatnya tersenyum kearahku.

Tak lama kemudian dia mulai memainkan jemarinya untuk menciptakan nada yg indah dari gitar itu. Aku menatapnya sebentar dan dia masih tersenyum kearahku sambil mengangguk pelan. Oh, terimakasih. Aku kembali melanjutkan aktivitas membacaku sambil sesekali menoleh kearahnya.

Ah, ini lagu favoritku dari band Westlife. Dia sedang memainkan lagu itu dengan gitarnya. Tanpa aku sadari aku juga ikut menyanyi walaupun pelan.

” ng?” Aku menoleh karena dia menghentikan permainan gitarnya.

” kayaknya aku harus pulang duluan deh…” Ucapnya sambil melihat kearah jam tangannya. Kemudian dia beralih kearahku.

” duluan ya…” Dia mulai berdiri dan menenteng gitarnya itu meninggalkanku disini.

” suara kamu bagus.”

Ah. Sepertinya tadi dia mendengarku bernyanyi. Aku hanya tersenyum memandangi punggungnya yg mulai menjauh dari tempatku. Aku menutup buku yg sedari tadi menemaniku. Entah kenapa saat dia pergi aku jadi merasa bosan dengan buku yg aku pegang ini. Padahal sebelum tau kalau tadi dia ada disini, aku biasa-biasa saja. Hmm. Aku mulai beranjak dari tempat dudukku dan menenteng tas kecil dipunggungku.

***

Dari tempat ini aku bisa melihatnya sedang bercanda dengan teman-temannya dikantin sekolahan. Dan aku hanya menatapnya sambil tersenyum tanpa berniat untuk menghampirinya. Perlahan teman-temannya mulai meninggalkannya, menyisakan dia disana dengan jus yg masih dia minum.

BUGGGHH!!

” hukk…hukkk!” aku tersedak minuman yg sedang aku minum tadi.

Aku menoleh dan menyadari seseorang yg tadi menepuk punggungku. Dia tidak ada raut menyesal atau merasa bersalah sama sekali, atau dia memang sengaja membuatku tersedak.

” jangan ngelamun mulu makanya?” Ucapnya sambil duduk disebelahku dengan sebuah minuman yg dia bawa.

” Anin!. Kalau aku mati tersedak gimana!” Dia malah tertawa pelan. Huh. Untung saja dia teman baikku. Kalau bukan udah aku jitak kepalanya.

” maaf deh…” Balasnya sambil meminum minumannya menggunakan sedotan.

” ini…” Aku langsung mendongak kearah samping kananku setelah mendengar suara itu.

Anin seperti menyenggol lenganku. Dan membisikkan sesuatu.

” udah terima aja, ” Bisiknya.

” makasih kak…” Aku menerima sebuah botol plastik yg berisikan air mineral itu.

” lain kali pelan-pelan.” Sahutnya sambil berjalan pergi menjauh. Aku hanya mengangguk.

Anin lagi-lagi menyonggol lenganku. Aku mendelik kearahnya dan dia hanya menatapku sambil memainkan alisnya. Huh. Ingin aku pukul sepertinya orang ini.

***

Udara dingin ini sepertinya menerabas kulitku. Huh. Kenapa harus hujan sekarang. Aku lupa membawa payung. Dan parahnya aku juga lupa membawa jaket. Bagaimana caranya untuk sampai ke halte bis kalau bagini. Aku terus menggerutu tidak jelas. Kemudian aku mulai mengulurkan tanganku untuk mengetes apakah hujan masih deras atau tidak. Dan masih deras rupanya. Aku menoleh kesamping dan terlihat seseorang juga berdiri dengan posisi yg sama denganku. Menatap hujan yg tak kunjung reda.

” kak?” Panggilku, dia menoleh kearahku.

” ah. Hai…kenapa belum pulang?”

” lupa ga bawa payung tadi,”

” emang pulang naik apa?”

” biasanya naik bis.” Balasku sambil bergidik karena tiba-tiba angin lembut menghampiriku.

Aku menoleh cepat saat tangannya menyentuh pundakku. Dia tersenyum kearahku.

” pakai aja, daripada masuk angin?” Pintanya.

” makasih kak.” Dia hanya mengangguk pelan.

Kini sebuah jaket darinya ini yg aku pakai. Walaupun agak kegedean. Tapi cukup untuk menghangatkanku.

” aku duluan…” Serunya sambil berlari menembus hujan yg masih mengguyur.

Loh. Jaketnya. Astaga, aku lupa. Tak mungkin jika aku berteriak untuk memanggilnya, lagipula dia sudah cukup jauh dan suara hujan itu juga sepertinya akan menghalangi suaraku untuk didengar olehnya.

***

Entah kenapa aku sangat nyaman saat bersamanya. Aku yg kekanak-kanakan ini selalu bisa bersikap dewasa saat bersamanya. Hah. Inikah yg biasa dirasakan oleh wanita. Hihi.

Aku memperhatikannya yg sedang bermain basket itu dari pinggir lapangan. Menunggu hingga dia selesai bermain basket.

Hah. Itu teman sekelasku menghampirinya yg baru saja selesai bermain basket. Aku masih melihatnya seperti berbincang-bincang. Kemudian menarik kakak kelasku itu ketengah lapangan. Tunggu, kenapa teman sekelasku itu memakai kaos olahraga padahal kan ga ada pelajaran olahraga. Aku melihatnya sedang mengajari teman sekelasku itu melempar bola basket. Huh. Kok ada yg sakit sih, dan aku tidak tau dibagian mananya yg aku rasakan sakitnya.

Huh. Kenapa aku ga nanya kemarin kalau dia punya pacar atau tidak. Kan jadinya tidak akan seperti ini. Lebih baik aku pastikan dia pacarnya atau bukan. Aku berjalan menjauhi lapangan basket itu untuk membeli minuman dingin untuknya sebagai rasa terimakasihku karena kemarin dia sudah meminjamkan jaketnya.

***

Saat aku kembali mereka berdua sudah ada duduk dibangku sebelah lapangan basket. Aku berjalan menghampirinya sambil memegang minuman kaleng itu ditanganku. Berdiri disebelahnya dan memberikan minuman kaleng itu padanya. Teman sekelasku itu menatapku sinis. Aku juga sebenarnya tidak suka akan keberadaannya ditempat ini. Huh.

Kakak kelasku itu menatapku sebentar, tapi tak lama kemudian dia menerima minuman dalam kemasan kaleng itu. Tak lama setelah itu dia pamit untuk pergi lebih dulu, meninggalkanku dan teman sekelasku itu disini. Duduk dan saling diam. Tidak menatap satu sama lain.

Namun akhirnya dia membuka suara lebih dulu. Aku sedikit sungkan untuk memastikan dia kekasihnya atau bukan. Tapi karena penasaran, aku langsung menanyainya. Dia terlihat diam, seperti enggan untuk menjawab pertanyaanku.

” Saingan sama kamu?” Ungkapnya sedikit terkejut tentang perkataanku tadi. Aku hanya tersenyum tipis.

” tapi maaf, aku nggak mau mengalah untuk urusan yg satu ini…” Lanjutnya.

” aku juga.” Sahutku singkat.

~OoO~

Devi menyenggol lenganku beberapa kali dan itu membuatku tersadar dari lamunanku. Aku menoleh kearah teman sekelasku itu. Dia menatapku sambil menyipitkan matanya. Huh.
*** Xxxx Pov’s ***

Aku hanya menatap mereka secara bergantian, entah kenapa mereka tak henti-hentinya menatapku sambil tersenyum. Dan saling menyonggol menggunakan lengan mereka masing-masing. Aku tidak tau maksud dari kata memilih itu.

” Guntur!”

Aku bisa mendengar suara seseorang  memanggil namaku dan aku bisa melihat orang itu tengah berlari kecil kearahku dari belakang Zara dan Devi. Terlihat Zara dan Devi juga menoleh kearah orang yg tengah berlari kecil itu. Sesorang yg sangat familiar bagiku. Dia teman sekelasku.

” nanti anterin ke cafe kakakku bisa kan?” Ucapnya setelah sampai didekatku.

Seseorang yg biasa aku panggil Okta itu tersenyum kearahku. Aku hanya menghela nafas pelan. Dan terlihat Zara dan Devi menyipitkan matanya memandamg kearah teman sekelasku itu. Suara lonceng itu sepertinya ingin menyelamatkanku dari situasi ini.

Aku melihat Zara dan Devi, adik kelasku itu hanya menatapku dengan tatapan yg tak bisa aku jelaskan. Kemudian aku beralih pada teman sekelasku itu yg juga menatapku dengan tatapan yg sama.

” Sekarang kamu pilih siapa?” tanya Okta padaku.

” ya pasti aku kan kak?”

” ge-er banget sih Dev?. Pasti aku lah,”

” emm. Sama aku aja ya?”

Apalagi sekarang. Aku hanya menatap mereka bertiga yg sedang berjajar itu dan menatapku penuh harap. Sepertinya mereka menunggu jawaban dariku. Hah, padahal udah ada bel tanda masuk tapi kenapa mereka masih disini.

” ada apa ini ya?” Tanya seseorang dari arah belakangku.

Aku menoleh kebelakang. Kemudian orang yg ada dibelakangku itu tersenyum sambil berjalan kearahku dan kini dia berdiri disampingku.

” Kalian temennya Guntur ya?. Salam kenal, Aku Sinka…” Seseorang gadis dengan seragam sekolah yg masih sama denganku itu mengulurkan tangannya. Menyalami orang-orang yg ada didepanku tadi.

” kakak pacarnya?” Tanya Devi sambil mendelik kearah gadis yg berdiri disampingku.

Aku melirik kesamping kearah Sinka. Dia terlihat mengangguk pelan walau terlihat malu-malu. Kemudian tangannya meraih tanganku untuk menarikku pergi dari tempat itu.

” Maaf ya. Tapi aku udah janji sama dia mau nonton sehabis pulang sekolah. Zara, Devi, Okta, Aku minta maaf…” Ucapku sambil melangkah bersama Sinka disampingku. Kakak kelasku yg…emm. Aku sayangi.

*** Author Pov’s ***

” kreekkk” bunyi hati Devi yg terdengar patah.

” apa aku kalah?” Batin Zara.

” kenapa dia tidak pernah bilang kalau sudah punya pacar?” Pikir Okta.

” So this is heartache…” Seru mereka bertiga bersamaan.

*** The End ***

Ditulis oleh bocah belasan tahun yg bercita-cita ingin menjadi seorang Ayah.

@sigitartetaVRA

Ini merupakan ff yg di request oleh …

Dengan penuh keringat dan air hujan selama kurang lebih dua hari, akhirnya terciptalah fanfict yg sangat kurang dari kata sempurna ini.

Oh iya. Maaf kalau saya memakai nama Guntur di ff ini. Saya dengan sangat bersalah memohon maaf karena belum ijin dengan yg punya nama. Sekali lagi saya minta maaf kepada seseorang yg bernama Guntur dimanapun anda berada. Maaf.

Saya punya alasan kenapa saya ga pernah pakai nama saya sendiri disetiap fanfict yg saya buat, itu karena SAYA HANYA TIDAK INGIN DIKENAL OLEH BANYAK ORANG.

Itu bercanda, saya punya alasan pribadi yg tidak bisa saya jelaskan disini.

Iklan

4 tanggapan untuk “Heartache

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s