This is My Life, Part20

asdx

*****

Di pagi hari yang cerah, rumah Ikhsan sudah ramai orang. Hari ini adalah hari dimana abangnya akan melakukan akad nikah dengan Yona. Ketika orang-orang sedang ramai mempersiapkan keperluan untuk pernikahan yang akan berlangsung sebentar lagi, si tokoh utama kita malah masih asik berkeliling di alam mimpinya. Ia sama sekali tidak ada tanda-tanda ingin segera bangun. Ia sama sekali kelihatan sangat menikmati tidurnya, dengan gaya tidur yang amburadul atau bisa dikatakan tidur yang mutar-mutar. Posisi kaki yang berada di atas bantal sedangkan kepalanya terjuntai di bawah kasur.

Tok!!! Tok!!! Tok!!!

“Chan, sudah bangun belum?” tanya ibunya dari luar kamar Ikhsan, terlihat seperti orang yang sedang berbicara dengan pintu.

Ceklek!

Karna lama tak ada balasan dari sang empu kamar, akhirnya ibunya membuka kamarnya. Ketika membuka pintu kamar, pemandangan yang pertama kali dilihat dari ibunya adalah keadaan kamar yg begitu berantakan bak kapal pecah.

“Ya allah, berantakannya kamar. Sudah jam 9, tapi belum bangun juga, gimana kalo nikah begini nanti?” ucap ibunya dalam hati.

“Bang, bangun.” Ibunya mencoba untuk membangunkan anaknya yang masih terlelap dalam tidurnya dengan keadaan kepala yang terjuntai ke bawah.

“Emm, masih pagi banget ini mah. Bentar lagi deh,” ujar Ikhsan sambil masih memejamkan matanya dan memutar badannya membelakangi ibunya.

“Pagi mata lo peyang, ini sudah jam 9 masih dibilangnya pagi banget. Ampun dah punya anak kaya gini macamnya,” omel ibunya dalam hati.

“Sudah jam 9 ini abang, bentar lagi acara akad nikah Ikal mau dimulai. Yang lain udah pada rapi, tinggal Ichan aja yang belum bangun ini,” ujar ibunya sambil terus mencoba menggoyangkan badan anaknya agar ia bisa bangun.

“5 menit deh ya,” ujarnya dengan mata masih tertutup rapat.

“Gak ada 5 menitan, atau mau mama suruh Tatang yang bangunin?” ancam ibunya. Kayanya ancaman sang ibu cukup ampuh, bisa dilihat ketika Ikhsan mendengar ibunya akan menyuruh adiknya yang bersuara bak lonceng itu akan membangunkannnya, ia langsung duduk tegap dengan mata yang terbuka lebar walau kadang masih akan tertutup kembali.

“Gitu dong. Cepetan mandi. Bajunya udah mama siapin dilemari Ichan, cepetan mandi dan dandannya. 15 menit selesai,” ujar ibunya sambil berjalan keluar dari kamar Ikhsan.

“Ya keles, mandi sama pake baju dalam waktu 15 menit. Superman aje kaga bisa secepat itu, dikira ayam kali yang mandi cuman klepek-klepek doang,” keluh Ikhsan dalam hati

Dengan rasa terpaksa, akhirnya ia bangkit dari kasurnya dan berjalan ke lemarinya terlebih dahulu yang berada di pojok kamar dekat pintu untuk mengambil bajunya yang telah disiapin dan pastinya celana dalamnya.

Hal pertama yang ia lihat ketika keluar dari kamarnya adalah lagi-lagi rumahnya ramai dengan sanak saudara yang datang dari luar pulau Kalimantan.

“Huy, cepetan mandi sono. 15 menit kurang harus sudah selesai, abang bentar lagi mau akad nikah ini di mesjid, gak enak ntar kalo keburu datang keluarganya Yona,” ucap Haikal yang baru saja datang dari arah luar dengan memakai baju pengantin khas orang nikahan.

“Iye, kalo lama duluan aje. Ntar Ichan nyusul ke sana,” ujar Ikhsan dengan gayanya yang cuek seolah tanpa beban masalah.

“Justru kita nungguin lo keles, Ichan disuruh mama buat nyetirin mobil pengantin sampe mesjid.”

“Heh, mending gue gak usah bangun aje tadi. Ujung-ujungnya gue lagi yang disuruh,” gumam Ikhsan pelan namun masih bisa didengar.

“Hahahahaha.. cepetan dah. Mobil sudah abang siapkan, jadi Ichan tinggal nyetirin aja,” ujar Haikal sebelum akhirnya kembali berjalan kedalam untuk bersiap-siap.

Ikhsan kembali melanjutkan jalannya ke kamar mandi. Walaupun dia adalah pemilik rumahnya, tapi cuman kamar dia yang tidak ada fasilitas kamar mandi didalam kamar, jadi ia harus keluar kamar apabila ingin ke kamar mandi.

 

—This is My Life—

Rombongan keluarga dari pengantin laki-laki sudah sampai di mesjid yang dituju. Mobil yang disupiri oleh Ikhsan sudah terparkir rapi dihalaman parkir mesjid dengana antengnya, sedangkan sang supir alias Ikhsan masih enggan untuk keluar dari mobilnya.

“Bang, ayo keluar.” Lintang menarik tangan Ikhsan dari luar pintu supir.

“Duluan aje. Abang masih ngantuk ini, mau tidur dulu bentar disini,” ujar Ikhsan sambil merebahkan posisi kursi supir.

“Ihh, ayo cepetan keluar. Abang harus liat momennya Bang Ikal sama Kak Yona,” ujar Lintang dengan masih mencoba menarik tangan Ikhsan.

“Videoin aje. Ntar abang liat lewat video aje deh, abang ngantuk bener ini, seriusan deh,” ujar Ikhsan yang masih enggan untuk keluar dari mobil.

“No! Abang keluar sendiri atau mau Lintang yang paksa abang buat keluar dari mobil,” ancam Lintang. Sepertinya si tokoh utama kita takut dengan ancaman adik kandungnya.

“Iye dah, awas dulu sono. Abang buka dulu ini pintunya,” ujar Ikhsan yang kembali menegapkan posisi kursi supirnya.

“Gak! Nanti abang bote-bote sama Tatang.”

“Takut bener lu. Udeh, awas dulu bentar. Kalo kepentok pintu, gue gak tau ye.” Ikhsam menaikkan jendela mobil yang terbuka lalu membuka pintu mobil.

“ADUHH,” teriak Lintang ketika kepalanya kepentok dengan pintu mobil yang dibuka oleh Ikhsan barusan.

“Sudah dibilang awas, ngeyel sih,” ujar Ikhsan yang mengunci pintu mobil dan berjalan menjauh dari Lintang yang masih mengaduh kesakitan.

“ABANG! Tungguin.” Lintang berlari mengejar Ikhsan yang sudah mulai masuk ke dalam mesjid.

“Ssstt! Jangan teriak-teriak woy, ini mesjid tempat ibadah,” ujar Ikhsan ke Lintang saat Lintang sudah berada disampingnya.

“Abang sih.”

“Gue lagi yang kena. Dasar penganut aliran sesat,” gumam Ikhsan.

 

Suasana mesjid memang gak terlalu ramai oleh pengunjung, hanya ramai oleh kedua keluarga yang sedang menanti kebahagiaan mereka. Karna memang pada dasarnya, Ikhsan seorang yang cuek dan santai, ia hanya duduk sambil bersender di tiang penyangga mesjid sambil memainkan handphonenya.

“Ini si ahay kenapa jadi susah dihubungin sih? Ditelpon gak diangkat-angkat, di Sms gak dibalas, kaya lagu kali ah,” ujar Ikhsan dalam hati.

Mulai dari kepulangan Dhike dari rumah Ikhsan tadi malam, ia memang mulai susah untuk dihubungin. Sesekali ia menjawab chat dari Ikhsan, namun hanya balasan sederhana yang Ikhsan dapatkan. Bukan Ikhsan namanya kalo ia hanya cuek saja karna Dhike susah untuk dihubungin, ia hanya merasa bingung dengan perilaku Dhike yang akhir-akhir ini yang terlalu fokus dengan handphonenya. Rasa kesal dan bingung campur aduk. Pikiran-pikiran negative sudah mulai bersarang di otak Ikhsan.

“Hey, bengong aja. Dari tadi kakak liatin kamu sibuk sama hp mulu.” Sonya tiba-tiba datang dan ikut duduk disebelah Ikhsan.

“Kaga, cuman lagi main onet aje,” jawab Ikhsan dengan pandangan yang masih mengarah ke handphonenya.

“Kabar Dhike gimana? Gak ada masalah kan?” tanya Sonya.

“Gak gimana-gimana. B aja. Gak bisa dihubungin,” jawab Ikhsan santai.

“Maksudnya B aja? Gak bisa dihubungin?”

“Ya gitu lah, bisa dimengerti sendiri lah.”

“Trus kenapa kamu gak datangin rumahnya? Kok keliatan santai banget?”

“Ya emang harus gimana? Apa aku harus teriak-teriak depan rumahnya sambil nangis terus hujan-hujanan dan nungguin dia didepan rumahnya sampai dia keluar gitu? Alay bet.”

“Setidaknya kan kamu datangin rumahnya, bicarakan sama dia kek atau apa kek. Jangan dibawa santai terus.”

“Masih ada yang harus aku kerjakan lebih dari itu. Bentar lagi aku juga mau ada balapan lagi, jadi ya gitu deh.”

“Kamu mah susah dibilangin, sekali-kali kek perjuangin cinta. Pantesan kemaren-kemaren gak ada yang mau sama kamu, kamunya terlalu cuek sama santai sih.”

“Emang gue pikirin.”

“Kalo misalnya Dhike diambil orang lain, apa yang bakal kamu lakukan?”

“Datangin orangnya, pukulin sampe aku puas, Dhikenya aku bawa nikah.”

“Serius keles, becanda terus.”

“Suka-suka elo mau percaya atau kaga.”

Ikhsan dan Sonya sama-sama terdiam, Ikhsan fokus ke game di handphone dan Sonya terlihat sedang berpikir.

 

***

“Bang, selamat ye. Doain gue cepet nyusul uga,” ujar Ikhsan ke Haikal sambil menghisap rokoknya.

“Sip. Ntar malam jangan kemana-mana lo, resepsi abang ntar,” ujar Haikal.

Mereka berdua sedang berada diluar mesjid, akad nikah baru saja selesai beberapa menit yang lalu.

“Kaga, Ichan stand by dirumah ntar malem. Bawa sans aje lah.”

“Ingat jam 7 malam sudah harus siap, jangan kaya tadi pagi, susah banget dibangunin.” Haikal berdiri dari tempat ia duduk.

“Bawel lo. Bang mau kemana?” tanya Ikhsan yang heran melihat abangnya berdiri.

“Mau masuk lagi kedalem, gak enak sama yang lain. Lo juga cepetan ikutan masuk,” ujar Haikal yang setelah itu pergi masuk kedalam masjid.

Karna malas sendirian diluar dan rokoknya pun habis, Ikhsan pun ikut masuk kedalam. Tapi, saat ia ingin masuk kedalam mesjid, ada sebuah tangan yang memegang pergelangan tangannya. Mau tidak mau ia harus melihat siapa orang yang sudah menahan pergelangan tangannya.

“Ehm, akhirnya kita ketemu lagi brother,” ujar seorang pria berbadan tegap.

“Ngg, lepasin tangan gue dong. Gue geli dipegang sama cowo,” ujar Ikhsan dengan memperagakan seolah-olah ia kegelian.

“Ok. Gue mau ngomong sama lo. Bisa ikut gue sebentar,” ujar pria tadi sambil melepaskan pegangannya dari tangan Ikhsan barusan.

“Gue masih ada urusan, gak ada waktu untuk ngobrol sama lo,” balas Ikhsan cuek.

“Kalo ini menyangkut Dhike? Apa lo masih gak ada waktu?”

“Kenapa bawa-bawa Dhike? Ada urusan apa lo sama dia? Mantan mah mantan aje, gak usah banyak ngarep keles,” ujar Ikhsan dengan santainya.

“Kalo gitu ikut gue sebentar. Gue mau ngasih tau lo sesuatu.”

“Bentar-bentar, kalo gak salah lo Candra kan? Mantannya Dhike yang waktu itu?” Ya, pria tadi adalah Candra yang Ikhsan ketahui adalah salah satu mantan pacar Dhike yang waktu itu pernah dihajarnya.

“Iye, gue Candra. Cepetan ikut gue bentar, lama amat lo jadi orang.”

Mau gak mau Ikhsan mengikuti Candra yang berjalan didepannya. Sebenarnya ia terlalu malas untuk meladeni Candra, namun karna Candra bilang ini ada sangkutannya dengan Dhike, maka Ikhsan dengan rasa terpaksa campur penasaran juga akhirnya mau untuk ikut dengan Candra.

Mereka berdua sampai di tempat yang lumayan jauh dari mesjid dan tempat ini juga sepi karna jarang ada orang yang lewat sini, paling hanya orang-orang komplek sini saja yang melewati jalanan ini.

“Gue cuman mau bilang kalo gue sebenernya bukan mantan pacar Dhike melainkan gue adalah mantan suami Dhike,” ujar Candra tiba-tiba sambil bersender di pohon.

“Ikut stand up comedy lo sana. Lucu candaan lo,” balas Ikhsan yang ikutan bersender di pohon sebelahnya.

“Yee, yang bilang gue becanda siapa kampret. Liat kedua bola mata gue, ada menunjukkan kalo gue becanda gak?”

“Ini orang kenapa jadi sinetron banget?” gumam Ikhsan dalam hati.

“Males gue liat mata lo, ntar dikira pasangan homo yang lagi pengen berbuat mesum lagi,” ujar Ikhsan cuek.

“Nah, makanya. Lo perlu bukti kalo gue mantan suami Dhike?”

“Wah, berarti Kak Dhike janda dong?”

“Yaiyalah bego, sejak kapan cewek cerai dari suaminya bisa jadi perawan lagi,” ujar Candra sewot.

“Waw, yang begini nih yang gue suka. Makin kepincut gue sama dia. Terima kasih gue sama lo,” ujar Ikhsan yang mulai membayangkan dirinya bisa nikah dengan Dhike apalagi menurut kamus dalam hidup bahwa perempuan yang sudah berumur 25 tahun maka ia sudah termasuk tante-tante.

“Eitss, tapi gue ngasih tau ini bukan tanpa alasan. Gue juga mau ngasih tau sama lo, kalau gue bakal ngerebut Dhike lagi dan gue mau dia jadi istri dan ibu dari anak gue lagi.”

“Emang lo sudah punya anak sama Dhike?”

“Sudahlah, sekarang anaknya Dhike lagi diurus sama keluarganya Dhike, karna Dhike lagi sibuk kuliah.”

“Wah, mimpi ape gue semalem bisa sampe dapet rejeki gini? Eh, tapi apa lo bilang tadi? Lo bakal jadiin Dhike istri lo lagi?”

“Yoi brother.”

“Gak usah sok akrab kampret. Tapi, lo serius?”

“Yalah, dikira gue bohongan kali.”

“Ok. Gue pergi dulu, gue masih ada urusan. Emm, sebelum gue pergi gue punya hadiah buat lo karna kita sudah lama tak bertemu.”

“Baik banget lo jadi orang.”

“Gue gitu loh. Lo mau tau hadiahnya apa?”

Mendapat pertanyaan begitu, Candra cuman mengangguk sambil tersenyum lebar karna membayangkan ia bakal dikasih hadiah yang bagus.

“Kalo gitu sini mendekat dulu, gue gak enak kalo ntar ada yang liat.”

Dengan perasaan yang menggebu-gebu, dengan polosnya Candra berjalan mendekat kearah Ikhsan yang tangannya sudah masuk ke kantong seperti orang yang ingin mengambil sesuatu.

Saat Candra sudah mendekat ke Ikhsan.

Bug!!!

Dak!!!

Ya, mungkin itu yang dibilang hadiah dari tokoh utama kita.

“Gue kasih tau sama lo ye. Sekalipun lo bilang kalo Dhike sudah janda atau sudah punya anak atau apalah itu, gue tetep bakalan nunggu dia selesai skripsi dan gue lamar dia. Dan satu yang harus lo ketahui, jangan main-main sama omongan gue. Silahkan lo ambil Dhike, tapi gue bakal ngincar lo terus sampe lo masuk liang kubur dan gue bakal ngerebut dia lagi dari cowok brengsek macam lo,” bisik Ikhsan di telinga Candra yang meringkuk kesakitan karna perutnya tiba-tiba dipukul dan punggungnya dipukul dengan sikut dengan sekuat tenaga oleh Ikhsan.

Setelah berkata seperti itu, Ikhsan langsung meninggalkan Candra yang masih meringkuk di tanah sambil menahan rasa sakit dibagian perut dan punggungnya. Dengan rasa tanpa bersalahnya ia meninggalkan Candra sendirian tanpa menolongnya terlebih dahulu. Mungkin itu sebagian sifat Ikhsan, orangnya mudah terpancing emosi.

 

***

Ketika Ikhsan sampai di halaman mesjid tempat abangnya melangsungkan pernikahan, ia langsung mendapatkan tatapan tidak menyenangkan dari Lintang, Sendy, Sonya, Haikal, dan beberapa sepupu-sepupunya yang lain.

“Kenapa natapnya begitu? Hati-hati ntar jadi suka sama sepupu sendiri,” ujar Ikhsan santai sambil tetap berjalan ke arah mobilnya.

“Eitss, kamu dari mana hah? Lagi-lagi kita harus nungguin kamu disini,” ujar Sendy dengan menarik kerah kemeja Ikhsan dari belakang.

“Habis makan bentar diwarung depan. Lapar, belum sarapan kak,” bohong Ikhsan.

“Makan kok bisa sampe 20 menit lebih?” tanya Sendy lagi.

“Kan menikmati makannya. Makan itu harus dinikmati, jangan buru-buru makannya ntar mati konyol, gimana?” jawab Ikhsan.

“Halah, alesan aja kamu.” Sendy meninggalkan Ikhsan dan masuk ke mobilnya.

Karna merasa tidak ada yang penting lagi, Ikhsan masuk kedalam mobil di bangku supir dan menekan tombol start stop engine untuk menyalakan mesin mobilnya.

Tak lama rombongan pengantin laki-laki maupun perempuan, mulai meninggalkan halaman mesjid tempat saksi bisu pernikahan sakral yang baru saja berlangsung. Mobil yang dikendarai Ikhsan memimpin di barisan paling depan.

“Kok mobilnya perasaan tambah penuh ya?” ujar Ikhsan membuka obrolan.

“Istri abang ikut disini,” jawab Haikal dari bangku belakang.

“Etsehh, udah main istri-istri aje nih. Ichan request keponakan laki ye bang, ntar kalo sudah besar bakal gue ajarin balapan deh,” ujar Ikhsan sambil terkekeh.

 

Pltakk!

“Nikah belum sampe 24 jam sudah request aje,” ujar Haikal sambil tangannya menjitak kepala Ikhsan.

“Yee, Ichan request duluan lah. Kan siapa cepat dia dapat hehehehe.”

Abah, mama, Lintang dan Yona hanya tertawa melihat perdebatan antar abang adek tersebut. Bukan hal yang lumrah lagi kalo mereka berdebat cuman masalah sepele.

 

Bersambung…

@IskaIkhsan48

Kritik dan saran dibutuhkan gaes…

Iklan

7 tanggapan untuk “This is My Life, Part20

  1. Bayangin mak-nya Ikhsan ngomong: “Pagi mata lu peyang”

    Tatap aja, San bola bola mata cowok :v Kok gak sekalian cipokan, San. Humu lu :

    Suka

      1. Gua aja sampe gak nyangka si Dhike udah janda + punya anak :v Suka lagi si Ikhsan :v Turun kasta dari humu ke anu

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s