SEMUA TENTANG KITA

wq

28 Juni 2004

Terlihat seorang wanita sedang bangku taman pemakaman yang terletak di sebuah kota. Bersama kekasih nya ( mungkin ?)  wanita ini sedang menatap nama yang terukir di batu nisan.

Ada cerita dibalik penulisan nama di  batu nisan ini. Kejadian ini terjadi sekitar enam tahun yang lalu.

Flashback mode : On

28 Juni 1998.

Seorang wanita yang sedang menunggu kabar dari pacarnya tampak menunjukan firasat yang tidak enak. Dia berjalan kesana kemari.

Karena bosan, wanita ini kemudian tidur tiduran di kasur sambil menonton tv di kamar kost nya.

Hape wanita ini berbunyi. Langsung saja ia menjawab panggilan tsb. Tapi, yang menelpon ini adalah nomor yang tidak dikenal oleh wanita ini.

“Halo,” ucap wanita ini.

“Iya, apa ini betul orang yang bernama Natalia ?” ucap orang tsb dari balik telpon.

“Iya bener. Kenapa ya ?”

“Jadi gini mba. Kita nemu orang yang kecelakaan. Orangnya ini cowok. Saat kita bawa ke RS. Kita cek hapenya, ada kontak nomor mbak. Bisa jenguk sekarang mbak?”

“Siapa ya yang kecelakaan ?” batin Natalia berkata demikian.

“Oke deh, Rumah sakit mana ya?”

“Rumah sakit pelita harapan mba.”

“Oke deh saya kesana”

Percakapan berakhir, Natalia segera siap siap menuju ke Rumah Sakit pelita harapan.

*Pada saat kecelakaan berlangsung

 Terlihat kerumunan warga sedang menggotong satu per satu penumpang yang berada di dalam mobil. Mobil tersebut mengalami kecelakaan. Mobil tsb menabrak batang pohon yang sangat besar.

Semua yang didalam mobil di evakuasi warga. Tapi ada yang aneh ketika warga menyelamatkan pengemudi mobil tersebut.

Ketika dikeluarkan dari dalam mobil, badan pengemudi ini terasa berat ketika digotong para warga. Meskipun ada sepuluh orang. Pengemudi ini semakin berat ketika digotong warga.

Setelah berusaha dengan sekuat tenaga, badan pengemudi ini berhasil dibawa ke ambulans.

Ketika akan dibawa ke dalam ambulans. Jiwa dari pengemudi ini terbangun. Hanya jiwanya saja, badannya tidak.

“Ugh” Rintih jiwa pengemudi mobil yang kecelakaan tadi.

“Badan gue ! GUE Sekarang di dalam ambulans.”

Karena kebingungan, pemuda ini menumpang dan menjadi “penumpang bayangan” di dalam ambulans. Jiwanya tak dapat dirasakan kehadirannya. Dan juga tak dapat dilihat.

Perjalanan telah selesai, badan pengemudi yang kecelakaan ini segera dibawa ke ruang otopsi. Apa kah dia masih hidup.

Jiwa pengemudi ini pun melihat badannya akan di bawa ke ruang otopsi. Ia pun mengikuti ke ruang otopsi.

Karena ia tak terlihat dan tembus pandang, dia bisa menembus apa saja. Layaknya angin yang sedang berhembus.

Di dalam ruangan otopsi. Badan dari pemuda ini dinyatakan tak bernyawa alias meninggal. Karena badannya dinyatakan sudah tak bernyawa, badan pengemudi ini dibawa ke ruang jenazah.

Di Lobby Rumah Sakit

Ketika Natalia sampai dirumah sakit, dia segera menuju resepsionis.

“Mba, apa ada pasien yang dibawa pakai ambulans ?” tanya Natalia.

“Ada mba, salah satunya yang tadi pagi.” Ucap resepsionis.

“Coba mba, bawa saya ke ruangannya.” Pinta Natalia kepada resepsionis.

“Ikut saya”

Natalia pun mengikuti kemana resepsionis ini berjalan. Menyusuri lorong rumah sakit dan agak remang remang. Agak menjadi seram situasinya karena Natalia juga memiliki firasat yang tidak enak sebelumnya.

Ketika sedang menyusuri lorong rumah sakit. Resepsionis ini bertemu dokter yang tadi memeriksa jasad badan pengemudi yang kecelakaan.

“Dok, apa tadi ada korban kecelakaan kesini ?” tanya resepsionis.

“Ah iya, sudah saya pindahkan keruangan jasad. Di ruangan jasad hanya tersisa dia seorang.” Ucap dokter yang memeriksa badan pemuda yang kecelakaan.

“Oh iya, apakah anda mengenal korban kecelakaannya ?” tanya dokter pada Natalia.

“Iya dok, sa.. saya anggota keluarganya,” ucap Natalia terbata bata karena firasatnya tidak enak.

“Anda harus bersabar, kuatkan diri anda dan terima kenyataanya. Ya sudah, saya tinggal dulu.” Ucap dokter.

“Iya, makasih dok.” Firasat Natalia semakin tidak enak.

“Apa orang yang aku sayangi sudah meninggal ? Tidak, mungkin saja dia lagi istirahat. Tapi apa dia baik baik saja ?” Batin Natalia yang menduga duga.

Sedari tadi firasat Natalia mulai tidak enak. Dia terus mengikuti resepsionis itu berjalan. Ketika sudah sampai di depan pintu ruangan jenazah, resepsionis pun menanyakan beberapa hal kepada Natalia.

“Yang menjadi korban kecelakaan adalah salah satu anggota keluarga anda ?” Tanya suster kepada Natalia.

“Iya, betul”

“Apakah anda sangat menyayanginya ?”

“Sangat teramat sangat”

“Bagaimana jika anda kehilangan salah satu orang yang anda sayangi ?”

DEG! Hati Natalia benar benar seperti merasa tertusuk jarum. Bagaimana tidak ? Di kondisi seperti ini sang respsionis malah menanyakan yang tidak tidak. Hati Natalia benar benar sangat takut mendengan pertanyaan terakhir dari resepsionis. Akan benar benar drop mental Natalia jika kalimat terakhir yang diucapkan resepsionis benar benar terjadi.

“Saya.. akan berusaha kuat” ucap Natalia terbata bata.

“Bagaimana jika yang meninggal adalah dia yang menyayangi anda ? Sangat perhatian dengan anda ? Seperti pacar anda ?” ucap resepsionis.

“Tidak mungkin mba, pacar saya sedang sibuk”

“Kehendak – Nya bisa saja tak sesuai dengan apa yang anda inginkan”

DEG! Feeling Natalia semakin tidak enak. Entah mengapa ia terpikir dengan apa yang diucapkan sang suster. Ia juga terbayang bayang akan sosok pacarnya yang benar benar perhatian dan menyayangi Natalia.

“Sudah lah, saya yakin anda menyayangi pacar anda. Mari kita masuk ke ruangan jenazah.” Ajak resepsionis.

“Siapa ya yang meninggal ?” batin Natalia bertanya.

Ketika memasuki ruangan jenazah. Benar adanya dengan yang diucapkan dokter tadi “Hanya tersisa dia seorang”. Satu orang yang ditutupi kain putih. Sedang tertidur di atas keranda.

“Yang tertidur dang yang ditutupi kain putih ini adalah orang yang meninggal. Apa anda siap kehilangan salah satu anggota keluarga yang sangat anda sayangi ? Siapkah anda melihatnya ?” Tanya resepsionis.

“Iya, saya siap mba, bisa dibuka kainnya ?”

“Iya, bisa. Saya pakai sarung tangan dulu. Sebaiknya anda juga pakai”

Natalia dan resepsionis pun memakai sarung tangan putih. Firasat Natalia semakin menjadi jadi dan tidak enak. Dengan sekuat mental pun Natalia membuka kain putih yang menutupi seorang mayat.

Dengan bekas darah di kepala, dada, hidung, dan di dagu jenazah. Akhirnya mental Natalia benar down karena Natalia mengenali siapa yang berada di balik kain putih. Seseorang yang selalu ada di dekat dia, membuat dia nyaman, yang memberikan perhatian lebih kepada Natalia. Air mata Natalia mengalir deras di pipi. Karena Natalia telah Kehilangan seseorang yang sangat nenyayangi dia dan Natalianya  sendiri juga menyayangi orang yang berada di balik kain putih. Tak lain dan tak bukan adalah pacarnya sendiri.

“Maaf saya bertanya, siapa pria ini ?” tanya sang resepsionis.

“Dia.. dia.. adalah pacar saya mba…” ucap Natalia sambil menangis.

“Dia.. adalah pria yang baik. Dia.. sang..at perhatian kepada saya.” Ucap Natalia tersedu sedu.

“Apakah anda bisa ikut saya ?” ajak resepsionis.

“Iya, mbak” ucap Natalia.

Resepsionis ini mengajak Natalia untuk duduk di bangku taman.

“Jadi gini saya dulunya seorang suster. Ya.. kira kira sekitar tahun 1992 awal saya jadi suster.”

“Lalu, apa yang terjadi ?” tanya Natalia.

“Saya biasa menangani operasi bedah membedah. Mulai dari korban kecelakaan sampai proses melahirkan saya sudah pernah melakukannya.” Cerita suster pada Natalia.

“Trus ?”

“Sampai pada akhirnya, sekitar tahun 1995 akhir kami semua. Para dokter dan suster mendapatkan satu pasien korban kecelakaan. Anggota tubuhnya sudah tidak lengkap. Banyak darah bercururan.”

“Sampai ketika kami mulai operasi, saya melihat wajah korban jenazah. Saya benar benar down banget.”

“Lho kok down mba? Kan udah biasa lihat operasi bedah”

“Yang saya bedah ini orang spesial. Dia adalah pacar saya. Dia meninggal di TKP kecelakaan. Karena dia memang suka kebut kebutan. Dia meninggal gara gara ngebut, nabrak pembatas dan mukanya terparut aspal.”

“Saya turut berduka ya mba.”

“Iya, makasih. Oh iya, perkenalkan nama saya Thalia Ivanka Elisabeth. Biasa dipanggil Thacil.”

“Iya, nama saya Natalia biasa dipanggil Nat.”

“Iya, ntar mau dibantu kalau ada acara khusus ?

“Iya, boleh. Makasih ya mba. Nanti malam saya ada acara duka cita. Nanti kerabat saya dan kerabat pacar saya mungkin datang.”

“Ah iya, saya tinggal dulu. Panggil aja saya Thacil. Jangan mba. Ketuaan”

“Ah iya, makasih ya cil”

Thacil yang sebagai resepsionis dan yang menuntun Natalia meninggalkan Natalia seorang diri. Natalia melihat ke lagit yang agak gelap dengan tatapan kosong.

“Rangga, mungkin kamu sudah tenang disana. Makasih untuk kenangan, keceriaan yang kita alami bersama sama. Ada cerita tentang kita. Kita bersama saat dulu kala. Ada cerita tentang masa yang indah, saat kita berduka, saat kita tertawa.”

Jiwa roh Rangga yang merupakan pacar Natalia melihat pacarnya duduk seorang diri. Dia pun duduk di sebelah Natalia sambil tersenyum. Karena roh Rangga tak terlihat. Natalia tidak menyadari keberadaan Rangga.

“Natalia, terima kasih karena sudah menjadi teman terbaik sekaligus pacar ku di dunia ini. Sudah saatnya aku beristirahat dengan tenang. Sampai jumpa di waktu yang lain, Natalia.” Setelah memberi ucapan selamat tinggal kepada Natalia. Roh Rangga pun menghilang dan kembali ke “alamnya”

Pada saat Roh Rangga mulai menghilang, ada sinar matahari yang menyorot sebelah Natalia. Natalia hanya bisa tersenyum melihat itu.

Pada malam harinya, di rumah duka

Suasan rumah duka begitu ramai. Kerabat kerabat Natalia dan pacarnya mulai berdatangan. Ada yang melihat peti Rangga. Ada yang mengucapkan turut berduka kepada Natalia.

Karena hari ini adalah malam penutupan peti, semuanya pun berusaha melihat tubuh Rangga untuk terakhir kalinya, menangis sejadi jadinya karena telah kehilangan anggota keluarga yang mereka sayangi.

Pada saat hari pemakaman

Inilah hari terakhir. Hari ini jasad Rangga akan dikubur ke dalam tanah. Semua nya berusaha memberikan penghormatan terakhir sebelum akhirnya Rangga dikubur ke dalam tanah.

Ini adalah saat saat terakhir Natalia melihat pacarnya. Natalia kembali mengingat ingat masa masa yang indah bersama Rangga. Natalia yang mengingat itu semua hanya bisa tersenyum. Roh Rangga yang saat itu hadir di pemakaman juga ikut tersenyum melihat itu semua.

Proses pemakaman telah selesai, Rangga dan Natalia benar benar berpisah. Semua kerabat dan sahabat sahabat dari pihak Natalia dan Rangga akhirnya pulang meninggalkan pemakaman umum kota.

Terukir sebuah nama dari seorang yang bernama “Rangga Tanuwidjaya”  di batu nisan. Natalia akhirnya meninggalkan pemakaman kota. Sambil tersenyum dan masih menangis Natalia melambaikan tangan ke arah makan Rangga sebagai perpisahan yang sudah berbeda alam.

Flashback mode : Off

28 Juni 2004

“Jadi begitulah kesah dibalik penulisan nama Rangga Tanuwidjaya” ucap seorang wanita.

“Oke, aku bisa mengerti rasa kehilangan yang kau miliki. Biarkan dia beristirahat. Dia sudah tenang, sudah tidak kesakitan lagi. Ia akan tersenyum saat engkau tersenyum.”

“Rangga Tanuwidjaya, perkenalkan. Dia adalah penerusmu. Ia berhasil membuatku nyaman. Seperti kamu juga membuatku nyaman dulu. Natalia janji. Natalia gak bakal melupakan kamu.” Janji Natalia kepada Rangga Tanuwidjaya.

“Eka, yuk kita pulang.” Ucap Natalia kepada pengganti Rangga Tanuwidjaya yakni pacarnya, Eka.

“Ya sudah. Kita makan dulu ya ? Mau dimana ?” tanya Eka kepada Natalia.

“Kita ke tempat makan. Tempat dimana yang biasa aku kunjungi bersama Rangga.” Ajak Natalia kepada Eka.

Sesampainya di tempat yang biasa Natalia kunjungi bersama Rangga

“Eka”

“Iya, kenapa Nat ?”

“Di sana. Sisi kiri. Dibelakang mu”

“Ada apa ? Meja kosong ?”

“Iya, kau tau satu hal tentang meja itu ?”

“Ada apa emangnya ?”

“Di meja sana. Adalah meja yang biasa aku kunjungi. Bersama Rangga. Dulu kami biasa bercerita, tertawa disana.”

“6 tahun lalu, aku dan dia berjanji untuk makan disana. Tapi janji itu tidak pernah terwujud.”

“Natalia, karena Rangga sudah meninggal. Aku akan berusaha menyayangi kamu. Tersenyumlah untuk ku” ucap Eka.

“Iya, terima kasih Eka”

Eka adalah pacar baru Natalia. Sudah menjalin hubungan selama dua bulan. Kepribadian Eka yang sangat mirip dengan Rangga membuat Natalia menyukai Eka.

“Rangga Tanuwidjaya.”  Batin Natalia berkata.

Ketika Natalia memandang meja sisi kiri. Ia melihat seseorang yang dia kenal. Sesosok Rangga Tanuwidjaya yang sedang duduk memandang Natalia. Natalia yang terkejut menggelengkan kepalanya. Tapi sayangnya, Rangga pun menghiland dari pandangan Natalia.

“Duh… masi kebayang lagi tentang Rangga”

Natalia suka terbayang bayang sosok Rangga. Dia tidak bisa melupakan orang yang dia cintai.

Sesosok jiwa yang tidak bisa dilihat mata manusia muncul di bangku meja makan sisi kiri. Berpakaian jas dan celana panjang putih.

Natalia sudah bahagia sekarang. Gue udah ga ada lagi di dunia ini. Tersenyumlah untukku Natalia.”

Meja kiri pun akan diduduki oleh pelanggan, jiwa dari Rangga Tanuwidjaya pun kembali ke alamnya.

“Gak pas gue idup, pas meninggal tetep aja gue kena sial. Udah ah, balik ke alam gue dulu. Ada yang mau nempatin bangkunya.” Jiwa Rangga Berkata.

 

THE END

 

Kontak penulis (Twitter) : @ranggatanuwid

Bacotan Author :

Kalo yang punya saran / request cerita bisa dm via twitter. Bisa request tokoh, judul atau alur cerita, watak karakter. Thank you juga buat yang punya blog ini.

Iklan

Satu tanggapan untuk “SEMUA TENTANG KITA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s