Killer Clown (1)

hl

PART 1 (Prolog)

17+

Bagi yang belum cukup umur dilarang keras membacanya. Karna cerita ini mengandung kekarasan, pembunuhan, kata-kata kasar, dan perbuatan-perbuatan dewasa.

Cerita ini hanya cerita karangan dan bukan berdasarkan cerita asli. Buat para pembaca tidak diperbolehkan meniru semua perilaku dalam cerita ini.

HAPPY READING…

*~~~~~~*

“Tolong jangan” Pintanya padaku.

“Sebenarnya gue gamau ngebunuh lo pak tua, tapi ada yang mau lo mati ? lagi pula dalam suatu perkerjaan kita harus profesional, bukan”

“Lepaskan aku, maka aku akan berikan apa yang kau mau, tolong lepaskan”

“Hahah, apa lo ga denger ucapan gue barusan” Langsung saja ku tampar dia, sepertinya dia punya masalah dengan pendengarannya atau dia sedang mabuk, entahlah.

“Aww…” Rintihnya kesakitan.

Sehabis menamparnya ku bisikan sesuatu, ya mungkin ini jadi adegan terakhirku bersama pak tua ini.

“Sudah waktunya pak tua” Bisikku disamping telinganya.

Setelah membisikannya ku keluarkan samurai yang sedari tadi ku gendong dipunggungku.

“Apa yang akan kau lakukan ?” Tanyanya ketakutan.

Kini pedang samurai tersebut sudah berada ditanganku, baiklah satu tebasan dileher maka perkerjaanku malam ini selesai, kutarik nafas panjang lalu kuarahkan pedang samurai keleher pak tua didepanku.

“Jangan tolong, jangan tolong, please !!” Teriaknya sambil meronta-ronta.

Mau mati saja orang tua ini banyak bicara ? huvft…., lebih baik langsung saja deh. Dengan cepat ku ayunkan pedang samurai ini tepat kearah lehernya.

Dan….

Creet

Darah segar keluar dari lehernya lalu membuatnya berhenti berteriak dan meronta juga tentunya. Dengan kata lain dia sudah mati.

Kumasukan kembali pedang ini. Kemudian kuambil sebungkus rokok dari saku celana jeans ku, ku bakar sebatang rokok tersebut sambil memandang orang, ahh bukan ? lebih tepatnya mayat orang tua yang kondisi kepala sudah hampir putus.

Kulirik jam tanganku, Euumm…, sudah jam 11 malam. Sepertinya sudah waktunya pulang untuk beristirahat ? perkerjaanku juga sudah kelar.

*~~~~~~*

Sekarang aku sudah berada didepan rumahku, aku tinggal disalah satu rumah mewah dikomplek elite ternama di ibukota, aku membeli rumah ini dari uang hasil perkerjaan malamku ? kalian taukan perkerjaan malamku, rata-rata yang tinggal disini adalah para pejabat, pengusaha, dan para orang-orang penting di negara ini. Sebelum masuk rumah ku taruh motorku di dalam garasi. Kulihat kekiri dan kekanan melihat rumah pera tetanggaku ? ya sama seperti susana komplek pada umumnya ? sepi, ya sangat sunyi, mereka mungkin sudah terlelap tidur. Saat berjalan menuju pintu rumahku entah kenapa aku merasa ada orang yang sedang memperhatikanku, kalau pun ada kuharap bukan wanita itu. Ya, wanita yang sering menggangguku.

Kubuka pintu rumahku, setelah masuk dengan santai kututup kembali pintunya, tidak lupa juga kukunci pintu rumahku ini. Gelap sekali ya hahaha, ku nyalakan lampu disemua ruangan, sekarang terlihat pemandangan rumahku yang…., ya bisa dibilang bersih dan rapih. Kakiku sekarang menuntunku menuju dapur untuk memakan makanan yang masih tersedia.

Kubuka kulkas kemudian yang kulihat hanya ada kue. Ya, kue pemberian wanita yang sering menggangguku itu. Cih ! sial.., kenapa makanan yang baru kubeli cepat sekali habis sih, perasaanku aku tidak terlalu banyak memakannya. Ahh sudahlah, kekesalan tidak akan ada ujungnya.

Teng nong teng nong

Itu bunyi bel rumahku, siapa malam-malam seperti ini bertamu ke rumahku. Menyusahkan saja, tidak tau aku ingin istirahat, lebih baik kubiarkan saja.

Teng nong teng nong

Sial, suara bell itu benar-benar menganggu telingaku. Baiklah kalau kubiarkan mungkin suara bell itu tidak akan berhenti. Aku berjalan kembali ke pintu masuk rumahku dan berharap orang yang menggangguku ini adalah orang penting, bukan orang menyebalkan ? eeuumm…, tiba-tiba feeling ku tidak enak tentang orang yang bertamu ini. Saat sampai depan pintu kuputar kunci kekanan supaya pintunya bisa kubuka, kemudian kutarik pintu, sekarang yang kulihat….

“Hay”

Ternyata benar feeling ku tentang orang yang bertamu ke rumahku ini.

“Ngapain malem-malem gini kesini vin ? ga diomelin ama bokap lo, lagian ngapain juga bawa stick basseball segala” Ya, dialah wanita penggangguku itu, namanya Ratu Vienny Fitrilya bisa dipanggil Vinny. Dia anak orang kaya, dia salah satu tetanggaku, tapi rumahnya tidak bersampingan dengan rumahku, posisi rumahnya ada didepan rumahku. Dia orangnya juga agak puitis gitu. Dia kuliah di Universitas….., ahh ! aku lupa nama Universitas tempatnya kuliah, pokoknya dia masih kuliah deh. Itu aja sih yang kuketahui tentang Vinny.

“Tadi aku denger suara pager kebuka gitu, kebetulan aku juga belom tidur, pas aku intip dari jendela aku liat orang pake topeng badut sambil bawa pedang di rumah kamu, aku sempet mikir apa itu maling ? makanya aku langsung dateng kesini sambil bawa ini” Ucap Vinny menunjukan pentungan basseball miliknya “Apa itu kamu” Tambah Vinny menanyakanku.

Sial, kenapa aku lupa melepaskan topeng badut ku ini saat dirumah pak tua itu dan kenapa aku tidak sekalian menaruh pedang samurai ku ini di garasi terlebih dahulu sebelum masuk rumah !! aarrgghh menyebalkan. Lain kali aku harus lebih hati-hati sekarang.

“Hahahah, kayanya lo salah liat deh Vin” Jawabku setenang mungkin tidak mau terlihat panik.

“Salah liat gimana” Bingung Vinny

“Lo bener soal nebak yang buka pager itu gue, tapi gue ga make topeng badut sama ga bawa pedang Vin ? mungkin lo udah ngantuk Vin makanya jadi salah liat, kalo udah ngantuk tidur jangan dipaksain buat melek hahaha” Ya tetap tenang.

“Iya sih aku emang udah ngantuk, tapi masa aku salah liat”

“Udahlah Vin, lagian kalo itu gue, ngapain gue malingin rumah sendiri”

“Bener juga, tapi…..”

“Tapi kenapa ?”

“Kalo misalkan itu kamu pulang abis ngebunuh orang gimana ?”

Dalam hatiku kaget mendengarkan perkataan Vinny barusan. Sial, bisa-bisanya dia berpikiran seperti itu. Namun aku berusaha terlihat tenang setenang-tenangnya.

“Imajinasi lo terlalu tinggi Vin”

“Hehe, aku bercanda kok ? lagian cowo ganteng kaya kamu masa kerjaannya ngebunuh orang” Ucap Vinny sambil mencubit pipiku.

“Aduh !! sakit Vin” Ucapku memegangi pipiku.

“Biarin wlee” Kali ini dia menjulurkan lidahnya.

“Yaudah mending lo pulang Vin cuci kaki, baca doa, terus tidur” Aku tidak mau obrolan tidak penting ini semakin panjang.

“Kok malah ngusir” Ucap Vinny memasang wajah cemberut.

Aku bingung, padahalkan aku menyuruhnya untuk tidur bukan mengusirnya. Wanita memang sulit dimengerti.

“Bukan ngusir Vin, gue kan nyuruh lo tidur” Ucapku “Lagian besok lo kuliahkan” Tambahku.

“Kok tau besok aku kuliah ? jangan-jangan kamu diem-diem stalker aku ya” Tanyanya curiga.

Aneh, bukannya tadi pagi dia bilang sendiri besok kuliah saat aku bertemu dengannya di toko buku dekat komplek. Siapa juga yang mau stalker wanita seperti Vinny, bukannya Vinny jelek ? malahan Vinny ini katagori wanita idaman para cowo jaman sekarang, tapi tidak untukku atau mungkin belum idaman. Ya…, aku memang sama sekali tidak tertarik dengan Vinny.

“Hadeuh…., serah lo dah Vin ? gue cape mau istirahat”

“Iya-iya aku pulang” Ucap Vinny.

Namun saat sebelum pergi ada kejadian memalukan untukku dan paling parahnya kejadian ini sudah terulang sebanyak 3 kali. Kalian ingin tahu, bukan ? baiklah akan aku beritahu, jadi seperti ini kejadiannya….

“Yan itu barang siapa banyak banget” Tunjuk Vinny kedalam rumahku.

Aku menengok kebelakang untuk melihat barang-barang yang Vinny tunjuk. Eeeuumm…, tidak ada apa-apa ? Cih aku tertipu oleh Vinny.

“Apaan sih Vin ga ad…..” Ucapku sambil kembali memandang Vinny.

CUPS

Benar, Vinny mencium bibirku walau cuma sebentar. Aku sama sekali tidak mengharapkan ciuman darinya, aku berharap dia segera pulang, udah itu saja. Ingin kumarahi tapi dengan cepat dia berlari menuju rumahnya, saat dia sampai didepan gerbang rumahnya dia berhenti sejenak kemudian berbalik badan memandang ke arahku sambil tersenyum malu-malu. Setelah itu dia melanjutkan berlari menuju pintu masuk rumahnya.

“Dasar cewe aneh” Pikirku.

Ahh sudahlah ngapain mikirin Vinny, mending tidur. Biar staminaku bisa fit jikalau ada klien yang menyewa jasaku.

to be continued

Facebok : Pian’s

Iklan

5 tanggapan untuk “Killer Clown (1)

  1. Penempatan tanda baca dibenarkan lagi, biar enak dibaca. Penggunaan kata “di” dibenarkan juga. Kata “di” yang menunjukkan kata tempat, dipisah. Sedangkan kata “di” yang menunjukkan kata kerja, disatukan. Dari segi cerita udah oke. Lanjutkan! 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s