pembalut 2

 

Terdampar.

Entah kenapa aku merasa itu adalah gambaran yang tepat untuk keadaanku saat ini. Benar, meskipun tidak terlalu menakutkan terlebih lagi memprihatinkan, tapi ini sudah lebih dari cukup untuk dikatakan seperti itu. Akan aku jelaskan, sebenarnya definisi terdamparku bila dijabarkan secara eksplisit nan efesien yaitu keadaan di mana aku tengah terduduk diam pada sebuah sofa, memandangi Tv menyala dan bertemankan seorang gadis yang sedari tadi tidak mengucap kata. Terlihat tenang, tetapi air mukanya tampak gelisah. Dia bukanlah gadis bisu, bukan pula tuli. Dia sama halnya sepertiku, hanya memandangi Tv tanpa bereaksi.

Tepatnya, aku berada di rumahnya, dia, kekasihku.

Tanpa kejelasan … Sebentar. Sepertinya gaya bahasa di atas sedikit rumit, aneh dan cukup menjijikan untuk sebuah cerita sampah macam ini. Harus di ganti. Gue … Ah tepat!

Kini gue sedang bingung mengamati cewek yang terduduk dengan kepala menyandar pada bahu kiri gue, tampak juga tangan kirinya memegangi perut lengkap dengan wajah meringis sakit seperti menahan sesuatu.

“Kenapa, Ay. Kamu sakit?” gue letakan punggung tangan pada kening doi, terasa tidak hangat.

Doi mendongak. “Sedikit …. ” jawabnya lesu.

“Aku anter ke dokter ya,”

“Ngga mau ah.  Aku ngga suka obat, Ay,” tolaknya pelan, kelihatan jelas mukanya masih meringis sakit.

“Kita periksa aja, mau ya?” bujuk gua lagi.

“Orang aku ngga kenapa-kenapa kok, tuh kan udah sembuh,” bantahnya tersenyum, menarik tangan kanan gue lalu menempelkan-nya lagi pada keningnya. “Ay, aku mau tanya deh, boleh?”

“Nanya apa? Jangan tanya kapan kita married,” doi mundurin kepalanya yang tadi bersandar,  menonyor lengan gue sambil ketawa pelan.

“Iss. Itu mah maunya kamu,” ledeknya bercanda. “Emm … Kalo seandainya aku ngambek, terus tiba-tiba marah gak jelas, respon kamu gimana? Sebel gak?” tanyanya lugu.

Rada aneh sih menurut gue pertanyaan-nya. Sambil menatap bingung gue berfikir sejenak sebelum menjawab. “Mungkin aku bawa ke dokter,”

Sekarang gantian doi yang bingung. “Kok ke dokter, mau ngapain?”

“Ya enggak, mau langsung aku suntik mati! Ngerepotin orang aja,” kata gue sambil menahan senyum.

“Iss, jahat deh sumpah, kamu jahat. Tak kandakne Mamak mengko. Tenanan,  duso loh, ora apek kondo ngono kui.” dumelnya mengambek dengan tangan memukul lengan gue berkali-kali. (Aku aduin ke Mama nanti. Beneran, dosa loh, gak baik ngomong kayak gitu.)

Gue cuma senyum-senyum doang melihat doi ngambek. Lucu aja kalo mukanya dimanyunin, padahal biasanya doi gampang banget ketawa dan bakal ngeledek balik. Ini malah enggak.

Gue pegang tangan doi supaya berhenti memukul, lama-lama sakit juga ini lengan. “…Kamu ngga lagi ‘a-anu’ kan, Des?” tanya gue hati-hati.

Doi menoleh, lalu mengangguk pasti. “Perut aku nyeri … sakit ….” doi nyenderin kepalanya lagi pada bahu gue. “Kalo seandainya bisa, kamu mau gak rasa nyerinya dipindahin ke kamu?”

Dahi gue mengkerut, tapi cepat-cepat tersenyum. “Pasti mau lah. Demi kamu.” jawab gue mantap. Doi tersenyum senang.

Iyekkk!!! Gombal gila… Pengen muntah gue sok-sokan ngomong gitu. Bego iya kalo mau, alasan aja-nya supaya gak tambah ngambek. Dasar alay!

Ya … Ternyata doi gak lagi sakit ataupun demam. Kita semua tau lah penyebabnya tanpa perlu dijelaskan. Doi sedang ‘anu’.

Hari ini adalah minggu dan bertepatan juga dengan long weekend. Rencananya gue-doi bakal pergi jalan-jalan, terlebih lagi waktu masih menunjukan jam sembilan pagi, cuma masalahnya, kami berdua masih saja terdampar di ruang tengah ini, kenapa? Karena Nyokapnya sedang pergi ke toko sembako alias warung seberang rumah. Katanya mau beli sedikit bumbu dapur, jadi mau gak mau wajib nunggu—Nyokapnya balik—dulu baru di izinin jalan-jalan.

By the way, sambil menunggu (halah), gue mau memperkenalkan dulu siapa doi. Dan … namanya itu gak bisa kalo di jelaskan dengan panutan tiga-kata-dasar yang gue percaya, yaitu: Singkat‒Padat‒Jelas. Kenapa? Karena nama lengkap doi Maria Genoveva Natalia Desy Purnamasari Gunawan. Noh! Gue gak yakin kalo kalian bisa hafal dalam sekali dengar. Gue aja sewaktu kenalan dan ketika doi nyebutin namanya sempet kaget, shock. Tapi untungnya gue cepat sadar setelah diberi penjelasan, panggil Desy aja, katanya tersenyum, itu rasanya terhipnotis.  Magic! Matanya kelihatan kayak hilang gitu waktu doi senyum, indah banget. Dan kalian tau? Tiga-kata-panutan-dalam-kenalan yang gue percaya langsung hancur, bertambah dengan tiga kata baru khusus untuk doi. Gila‒Panjang‒Banget. Agak maksa ya? Tampar gue kalo gak terima.

Selain cantik dan postur tubuhnya yang tinggi langsing, ada satu hal lagi yang menyebabkan gue bisa jatuh hati pada Desy. Iya, matanya. Matanya minimalis, agak sipit-sipit gimana gitu, lucu aja. Terkadang gue sering banget jailin doi kalo lagi serius main game di HP dengan cara tiupin matanya, “Fuhhhhhh…., doi kedip-kedip kayak kucing, gue ketawa seneng. Dianya jadi sebel. Guenya? Jelas makin seneng.

Nah, itu tadi tiga hal yang membuat gue jatuh hati.

***

Cinta itu sama kayak cewek lagi menstruasi, datang bikin repot, gak datang-datang malah lebih repot. Serba salah. Sama keadaannya kayak gue saat ini, di salahin … mulu sama Desy.

Kejadian-kejadian menyebalkan ini di mulai setelah gue dan Desy sudah berada di salah satu Mall kenamaan Jakarta. Wajah doi yang keliatan seneng banget berbanding terbalik dengan gue. Iya, gue lagi di jadiin kacung, diomelin dan kena imbas mulu. Padahal posisinya lagi di  toko baju, hanya saja gue cuma ngikutin dari belakang, gue nurut aja maunya kemana, soalnya kalo nolak, hal ini berpotensi besar membahayakan jasmani dan rohani gue. Tepatnya jasmani, karena sudah pasti gue bakal abis dicubitin atau parahnya dipukulin kalo doi ngambek.

Desy mulai menyibak baju-baju yang tergantung rapi, gue cuma mengekor dan berkomentar seadanya kalo ditanya.

“Ay, ukuran baju kamu apa?” gue colek bahu Desy, dia noleh, tapi tatapanya aneh. Tajam. Dahi gue mengkerut bingung.

“S-S kalo nggak S. Kamu mau bilang aku gendut, kan?! Iya?! Ngaku!” sentak Desy, tanganya terlipat di depan dada.

“Ehh, engga. Orang niatnya mau beliin baju, tapi … itu, kamu marah gitu,” jelas gue pelan, canggung, terlebih ada beberapa pengunjung lain menoleh dan menahan tawa.

Sekejap, Desy memandang gue.

Expresi-nya langsung berubah 180°. Aneh banget, yang tadinya garang, serem, sekarang malah senyum-senyum gak jelas. “Yang bener?” tanyanya, gue ngangguk. “Aaaaa … Aku mau yang itu, mau itu, itu-itu-itu-itu, sama itu juga.” tunjuknya ke banyak baju, nyaris gak ada kelewat. Gue nelen ludah, cuma bisa memandang satu titik, tepat pada matanya. Mata yang dipenuhi kebahagian penuh arti. Entah kenapa rasanya pantat sebelah kanan gue jadi geter-geter sendiri, seperti mengisyaratkan kalau dompet yang mengganjal di sana ikut histeris, mungkin itu dompet keadaan-nya lagi teriak: “TIDAK!!!”. Itu gak mungkin.

Tanpa ngomong apa-apa lagi Desy langsung narik tangan kanan gue supaya lebih jauh menelusuri rak-rak baju. Padahal tadi nunjuknya yang di depan-depan ini, tapi kok malah masuk ke dalam, aneh banget. Sampe disini banyak sekali jenis-jenis baju, mulai dari yang biasa-biasa sampe yang sangat-sangat tidak biasa bagi gue. Kalian tau apa? Pakaian dalam…!!! Astaga… Ini bener-bener keterlaluan. Untuk ukuran cowok yang kadar ‘alim’-nya gak stabil itu bahaya. Karena semakin dalam gue berjalan; semakin dalam juga benda-benda itu masuk pada pandangan dan fikiran gue. Ada Tank top, Bra, CD, G-string, Lingere, Bandeau dan para sahabat-sahabatnya. Gue cuma bisa mejemin mata ngikutin tarikan doi, dalam hati udah banyak banget baca do’a plus ngebatin. “Astagfirullah…! Benda jahanam macam apa itu?  Bagus juga,”

Gue terus membatin dalam jalan.

Tiba-tiba Desy berhenti, gue yang gak lihat situasi pun langsung nabrak punggungnya dari belakang. Gue buka mata, doi udah berbalik badan dan menatap bingung.

“Kenapa?” tanyanya dengan alis naik sebelah.

 

-EDN-

 

Hehehe, kok end? Sisanya di acound wa**pad gue (gue pelit), jadi bagi yang mau baca silahkan mampir ya di (@arytrias).

* https://karyaotakgue.com/2017/03/18/pembalut/ (yang versi revisi di link bawah)

* PEMBALUT – I  http://my.w.tt/UiNb/NZACn1TTyB feat Ratu Vienny Fitriliya and mbak Alfimarried.

* PEMBALUT – II https://t.co/Hyhmd3D8FV feat Maria Genoveva Natalia Desy Purnamasari Gunawan and sakarepe. #KepoGakSih? #SSK21

“Yang belum baca silahkan di baca, sebelum pembalutnya mengkerut dan bocor” Terimakasih admin yang bertugas. Sukses selalu!

Iklan

4 tanggapan untuk “pembalut 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s