Love Taste Chocolate Part 2

Terlihat Sinka sedang berlari menggendong ransel besar dipunggungnya. Hari ini sekolah Sinka mengadakan kegiatan camping dikaki gunung. Ini adalah kegiatan pertama Sinka dikelas sebelas. Sudah lama semenjak kejadian itu tepatnya menjelang akhir semester kenaikan kelas kelas sepuluh. Setibanya di sekolah.

“Pagi!” sapa Sinka pada ketiga sahabatnya.

“Pagi,” Jawab Viny, Nadilla dan Yupi kompak.

“Ya ampun Sinka, kenapa ranselmu besar banget?” tanya Nadila heran.

“Kamu bawa apa saja sampai penuh seperti itu?” tanya Yupi.

“The-he ini gak berat kok, isinya cemilan snack semua,” jawab Sinka polos.

“Sinka sinka, kamu ini, kita gak akan kelaparan saat camping nanti,” ucap Viny gelelng-geleng kepala.

Terdengar beberapa siswi yang menggosipi Sinka.

“Eh eh itu kan cewek yang udah buat Rizal patah hati,” ucap seorang siswi.

“Iya dia udah buat cowok idola kita sakit hati,” balas temannya.

“Dasar cewek aneh,” tambah temannya yang lain.

“Ya ampun, mereka ngegosip di depan orang yang sedang mereka gosipi, keterlaluan! Biar aku labrak mereka,” ketus Nadila geram.

“Duh Nadila udah deh jangan cari masalah. Aku gak papa kok,” ucap Sinka mencoba menenangkan Nadila.

“Tapi mereka itu keterlaluan Sinka,” sambung Viny.

“Benar kata Viny mereka itu keterlaluan, masalah itu kan udah lewat,” ucap Yupi.

“Udahlah disini kitakan untuk bersenang – senang, bukan mau cari ribut,” ucap Sinka.

“Oh iya BTW kalian liburan semester kemarin kemana aja?” tanya Sinka mengalihkan pembicaraan.

“Wah kalo aku kerumah nenek di kampung,” ucap Nadila.

“Aku sekeluarga ke luar negri,” ungkap Viny.

“Aku hanya dirumah aja gak kemana – mana,” ucap Yupi.

“Aku juga dirumah aja. Aku gak bisa kemana – mana karena gosip itu,” curhat Sinka.

“Karena kejadian itu sekarang jadi sekelas sama Rizal,” tambah Sinka.

“Untung kalian bertiga juga sekelas sama aku,” sambung Sinka.

“Tenang aja Sinka, kita akan selalu bersama,” ucap Nadila.

“Kami akan menjagamu. Kalo ada yang bandel nanti aku mam mereka!” ucap Yupi galak.

“Iya Sinka kamu tenang aja yah, ada kami kok,” Viny tak mau kalah.

Tidak jauh dari Sinka CS terdengar beberapa cewek menggodai Rizal.

“Hai Rizal nanti kita lihat kembang api bersama yah?” ucap seorang cewek genit.

“Jangan sama dia, mendingan sama aku aja,” ucap cewek yang lain lagi.

“Gak usah sama mereka, tapi sama aku aja kamu gak akan nyesel deh,”

“Brisik! Kalian ini menggangu saja!” bentak Rizal.

Tak sengaja mata Sinka dan mata Rizal bertatapan. Sekilas Sinka terkenang saat-saat bersama Rizal dulu sewaktu didalam bilik rahasia. Tapi Sinka dengan cepat memalingkan wajahnya. Begitupun Rizal dengan cueknya meninggalkan Sinka yang terdiam.

~oOo~

Di dalam bis

Sinka duduk bersebelahan dengan Yupi.

“Sinka. Apa kamu masih belum bisa memaafkan Rizal?” tanya Yupi membuka pembicaraan.

“Dia sudah membohongiku berpura – pura menjadi Rully. Aku benci pembohong,” jawab Sinka marah.

“Kalau aja dia ngaku dari awal bahwa dia itu Rizal, aku pasti tau bahwa dia itu orang yang Yupi suka,” sambung Sinka.

“Kenapa dia membohongimun seperti itu ya?” tanya Yupi penasaran.

“Iya aku juga penasaran kenapa dia membohongiku?” Sinka pun tak kalah penasaran.

Hening…

“Hmm Sinka aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” ungkap Yupi memecah ke heningan.

“Eh!?” Sinka terkaget.

“Sebenarnya…” ucapan Yupi dipotong Sinka.

“Eh tenang saja, aku senang kalo Yupi jadian sama Rizal. Kalian cocok kok,” ucap Sinka memotong ucapan Yupi.

“Bu-bukan itu,” Ucap Yupi.

“Tenang aja pasti camping ini menyenangkan!” teriak Sinka bersemangat.

Akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan bumi perkenahan dikaki gunung.

“Perhatian! mohon perhatiannya semua!” ucap pak Sagha pakai toa selaku pembina acara camping.

“Disini saya sebagai pembina acara camping kali ini. Dengarkan baik-baik, saya akan membagikan kelompok,” sambung pak Sagha.

“Kelompok pertama Sinka, Yupi, Viny, Nadila, Rizal dan Rully,” teriak pak Sagha mulai membagi kelompok.

Degh!

“Sinka kau tidak apa – apa kan?” tanya Yupi melihat ekspresi terkejut Sinka setelah mendengar pembagian kelompok pertama.

“Ini semua kebetulan,” batin Sinka.

“Hey kok melamun?” tanya Viny.

“Eh, iya aku gak papa kok,” jawab Sinka dengan senyum yang dipaksakan.

“Tenang aja kami yang akan membantumu,” ucap Nadila.

“Eh, iya mohon bantuannya,” ucap Sinka.

Pembagian kelompok lain dst…

Kemudian Rizal dan Rully pun ikut bergabung dengan Sinka CS.

“Hai perkenalkan aku Rully, salam kenal,” ucap Rully yang asli ramah memperkenalkan diri.

“Oh ini toh Rully yang sebenarnya,” batin Sinka.

“Hai salam kenal, aku Sinka,” ucap Sinka.

“Aku Nadila.”

“Aku Yupi yang paling lolly,”

“Dan aku Viny salam kenal.” ucap Viny menutup perkenalan mereka.

“Ri-rizal juga mohon bantuannya,” ucap Sinka terbata.

Rizal hanya diam dingin menanggapinya.

“Oke sudah dapat kelompoknya masing – masing,” tanya pak Sagha.

“Sudah pak,” ucap peserta camping.

“Setiap kelompok mendapatkan bendera kelompok masing – masing dan juga sebuah peta,” tambah pak Sagha.

“Ayo kita mulai!”

~oOo~

Perjalanan pun dimulai

Akan tetapi kelompok Sinka

Hening…

Camping ini pokoknya harus senang – senang,” batin Sinka.

“Wah ada bunga cantik, tapi ini bunga apa ya?” Sinka mulai memecah kecanggungan yang ada.

“Ih kupu-kupu cantik,” tambahnya lagi.

“Wah mana – mana? Iya cantik,” seru Yupi.

“Kalian berdua,” ucap Nadila.

“Biarkan mereka menikmati perjalanan ini,” Ucap Viny.

“Eh, sepertinya ada sesuatu. Wah lihat ada sungai jernih!” ucap Sinka tapi karen dia tidak hati -hati jadi terpeleset dan hampir saja terjatuh tapi dengan sigap Rizal menangkap tangan Sinka sehingga Sinka tidak jadi terjatuh.

“Ta-tanganya.” batin Sinka

“Te-terimakasih.” Ucap Sinka.

Yupi melihat kejadian itu dan membuang muka.

“Sinka…” ucap Rizal terputus karena Sinka dengan cepat menarik tangannya yang masih dipegang Rizal takut dilihat Yupi.

Degh! Rizal terkejut dengan perlakuan Sinka barusan.

Perjalanan pun dilanjutkan.

“Tinggal dikit lagi kita nyampe nih guys!” ucap Rully.

“Sebaiknya kita rehat sekelak disini,” tambah Rully.

“Gak papa nih kita rehat disini? Nanti…” tanya Rizal.

“Gak papalah. Yang lain juga kelihatan capek.” ucap Rully.

“Iya capek nih,” keluh Nadila.

“Bener, capek banget nih,” tambah Yupi.

“Baik lah kita istirahat dulu disin,” ucap Viny.

Mereka pun membentang alas diatas rumput dan mulai memakan bekal bawaan mereka.

“Oh iya aku jelly beku nih kalian mau?” tawar Sinka.

“Wah mau dong!” seru Nadila.

“Aku bagi dong!” Yupi tak mau kalah

“Bagi juga ya?” apa lagi Viny.

“Gimana enakkan? dingin – dingin gimana gitu?” Seru Sinka.

“Iya dingin banget ><” seru Yupi.

“Rully mau juga?” tawar Sinka.

“Wah makasih lho,” ucap Rully.

“Ri-rizal juga sihlakan.” Sinka menawarkan pada Rizal.

“Gue gak mau!” ketus Rizal.

“Ini enak lho ambil aja. Masih banyak kok,” tawar Sinka lagi.

“UDAH GUE BILANG, GUE GAK MAU!” kecam Rizal emosi dan mengibas tangan Sinka yang masih memegang sekotak jelly beku sehingga semua jellynya jatuh semua diatas rumput.

“SEJAK TADI ELO TERUSKAN YANG NGINDARI GUE?”

“LO SENDIRIKAN YANG BILANG, KALO LO BENCI SAMA GUE DAN KITA GAK USAH SALING KENAL LAGI?”

“GUE GAK SUKA ORANG KAYA LO!”

Degh! Sinka terkejut.

“Zal! Lo udah kelewatan,” ucap Rully.

“Iya lo udah kelewatan!” ketus Nadila.

“Cowok gak punya perasaan!” Viny juga emosi.

“DIA BENCI SAMA GUE! PEDULI APA! HAH!” bentak Rizal emosi kemudian pergi menjauh.

“Tunggu woy!” Rully menyusul Rizal.

“Gue juga gak ngerti harus gimana?” batin Rizal.

Sementara itu Sinka memunguti jelly yang berjatuhan di atas rumput.

“Apa – apaan dia itu, kalo gak suka gak perlu buang makanan seperti ini, dasar cowok aneh!” geram Nadila membantu Sinka memunguti.

“Dia itu kenapa sih sensi banget jadi cowok. Sinka, kamu yang sabar yah,” tambah Viny.

“Yupi, maaf ya?” ucap Sinka tiba – tiba.

“Maaf untuk apa?” tanya Yupi heran.

“Padahal tadi aku bilang camping ini kita akan menyenangkan, malah jadi kaya gini,” jelas Sinka.

“Sinka Sinka, kamu itu terlalu mencemaskan keadaan disekitarmu.” ucap Yupi.

“Sinka, sebenarnya aku sudah punya pacar waktu liburan semester kemarin,” tambah Yupi.

“Eh!” Sinka terkaget.

“Maaf ya gak ngabari kamu,” sambung Yupi.

“Makanya Sinka gak usah cemasi aku lagi dengan Rizal,” ungkap Yupi.

“Aku tau kok kalo sebenarnya Sinka itu suka kan Rizal,” tambah Yupi.

“Hiks. Tapi aku sudah mengatakan hal yang kejam padanya,” batin Sinka.

“Sinka kamu gak papa kan?” tanya Nadila khawatir.

“Sinka jangan sedih gitu dong,” sambung Viny.

“Hai cewek – cewek ayo kita lanjut lagi!” panggil Rully.

“Oke!” Teriak Yupi.

“Ayo teman-teman kita harus bergerak lagi,” ajak Nadila.

Tiba – tiba

Tring! ada sesuatu yang berkilauan di rerumputan.

“Sepertinya aku melihat sesuatu yang berkilauan,” batin Sinka.

“SINKA AWAS! DISANA ADA TEBING CURAM! BAHAYA!” seru Yupi.

Hampir saja Sinka jatuh dari tebing jika tak diperingatkan Yupi.

“Eh!” Sinka mengurungkan niatnya mencari benda yang berkilau itu.

“Cepatan nanti kalian kami tinggal!” seru Nadila yang sudah mulai bergerak duluan.

“Eh tungguin dong!” seru Sinka.

~oOo~

Semua kelompok pun sudah sampai ditempat perkemahan. Ada yang membangun tenda, ada yang mencari kayu bakar dan ada juga yang memasak.

Yupi sedang memasak untuk kelompoknya dibantu Sinka. Sedangkan Nadila dan Viny mencari kayu bakar. Rizal dengan Rully mendirikan tenda.

“Sinka kamu bisa bantu menyiapkan piring makan,” pinta Yupi.

“Oke,” ucap Sinka kemudia menyusun piring di atas meja picnic yang terbuat dari kayu. Kemudian menyusul Yupi yang sedang memasak makan malam.

“KE-KENAPA ADA REAL CACAO DISINI!” teriak Sinka kaget melihat coklat pahit.

“Oh itu sudah kucampurkan kan kedalam bubur ini,” ucap Yupi santai.

“Kalau coklat pahit dimasukan kedalam bubur rasanya bakal gak enak!” ucap Sinka panik.

“Tenang aja, coba deh kamu cicipi biar tau rasanya enak atau enggak?” ucap Yupi.

“GAK MAU! PASTI GAK ENAK PAHIT! AKU GAK SUKA!” teriak Sinka >.<

“Bisa budek aku dengerin kamu teriak!” ketus Yupi -_-‘

“Pokoknya kamu harus coba!” paksa Yupi memaksa Sinka yang berontak tapi akhirnya Sinka pun kalah dan …

Nyam…

“Eh kenapa jadi enak gini?” ucap Sinka heran.

“Makanya coba dulu biar kamu tau rasanya seperti apa,” nasihat Yupi.

“Jika kamu menhidar terus kamu takkan mengerti?” petuah Yupi bijak.

“Maksudnya?” Tanya Sinka heran.

“Cari tahu sendiri artinya apa!” ucap Yupi sok misterius.

Tidak jauh dari tempat Sinka dan Yupi memasak terlihat Rizal mencari sesuatu.

“Oi Zal nyari apaan sih? gelisah banget lo?” tanya Rully heran.

“Lo liat cincin gue gak Rul?” tanya Rizal.

“Cincin yang silver itu? Sori gue gak liat,” jawab Rully.

Sinka tak sengaja mendengar percakapan mereka.

“Cincin?” batin Sinka bertanya – tanya.

“Apa mungkin jatuh? Dimana ya?” keluh Rizal.

“Jatuh?” batin Sinka lagi.

“Cincin terjatuh? Benda yang bersinar direrumputan tadi! Mungkin itu cicin Rizal!” batin Sinka teringat sesuatu.

“Yupi aku pergi sebenatra ya!” pamit Sinka tiba – tiba.

“Eh mau pergi kemana? Mau ditemani Nadila atau Viny gak?” tanya Yupi heran.

“Gak usah! Aku gak lama kok!” ucap Sinka.

“Oke jangan lama – lama dan jangan jauh – jauh! Hari sudah mau gelap!” Seru Yupi.

Sinka pun pergi tanpa menghiraukan peringatan Yupi.

Sinka berlari menuju tempat dimana kelompoknya tadi istirahat.

“Mungkin yang berkilauan tadi cincinnya Rizal,” batin Sinka

“Munglin sewaktu tadi dia menolak tawaran ku cincinnya terlepas,” duga Sinka.

Di tenda kelompoknya Sinka.

“Sinka gak ada? kemana dia?” batin Rizal tidak melihat Sinka dalam kelompoknya.

“Lo kenapa Zal?” tanya Rully melihat tingkah Rizal yang sedang mencari orang.

Tak lama kemudian Yupi yang baru selesai masak bergabung didekat tenda.

“Loh Sinkanya mana? belom balik?” tanya Yupi.

“Bukannya Sinka sama kamu tadi? Dia kan bantu kamu memasak?” tanya Nadila Heran.

“Ya ampun dia tadi pamit pergi!” ucap Yupi panik.

“APA!” teriak Rizal kemudian dia langsung pergi begitu saja mencari Sinka.

Sementara itu, hari sudah malam. Sinka dengan bermodal kan senter dan cahaya bulan mencari cincin Rizal yang terjatuh didekat tempat mereka istirahat siang.

“Hmm sepertinya tadi ada disekitar sini deh,” batin Sinka mulai mencari cicin Rizal yang Jatuh.

Beberapa menit mencari.

Tring!

“Eh apaan tuh? Sepertinya ada yang berkilauan?” Sinka pun merangkak sambil terus mencari.

Tring!

“Nah kete… AAAAAA!” Sinka menemukan cincinnya tapi dia malah terprosok ke dalam tebing curam. Beruntung tebingnya tidak terlalu tinggi sehingga Sinka selamat.

Dugh!

“Aww! Aduh sakit,” keluh Sinka kesakitan setalah terjatuh dari tebing dan mendarat didekat aliran sungai.

“Cincinya sih ketemu, tapi malah aku terjatuh gini,” batin Sinka.

“Aku akan coba memanjatnya!” Sinka coba memanjat tebing tapi usahanya sia – sia dia kembali terjatuh.

“Aduh!”

“Gak bisa, tebingnya gak bisa dipanjat terlalu curam,”

“Kalau aku paksa berenang di sungai malam – malam gini bahaya yang ada aku hanyut, mana airnya deras, dingin lagi.”

“Mungkinkah seseorang akan menolongku?” batin Sinka, tapi dalam pikirannya adalah Rizal.

“Mana mungkin dia datang menolongku. Dia kan membenciku,”

“Aku ini memang bodoh!”

“Tapi kenapa aku selalu memikirkannya,”

Tiba – tiba

“SINKA!” teriak Rizal.

“Bahkan disaat seperti ini aku seperti mendengar suaranya.”

“SINKA LO DI MANA?” teriak Rizal lagi.

“Jangan – jangan?” batin Sinka.

“RIZAL!” Teriak Sinka >.<

“SINKA!?” Teriak Rizal dari atas tebing.

“RIZAL!” Balas Sinka.

Tanpa ba bi bu Rizal langsung melompot merosot dari tebing.

“Sinka lo gak papa kan?” tanya Rizal cemas.

“Tadinya aku mencari cincin Rizal yang terjatuh, eh taunya malah jatuh dari tebing,” ucap Sinka polos.

“Syukurlah lo gak papa,” ucap Rizal khawatir.

Sinka pun melihat lengan Rizal penuh luka karena melompat dari tebing.

“Kenapa dulu aku mengatakan benci kepada Rizal,” batin Sinka mulai menangis.

“Aku, aku menyukai Rizal,” ucap Sinka pelan tapi itu cukup untuk didengar Rizal disuasana yang hening seperti saat ini.

“Bohong,” ucap Rizal.

“Aku gak bohong, aku benar menyukai Rizal,” Rizal pun langsung memeluk Sinka.

“Ri-rizal,” Rizal pun melepaskan pelukkanya.

“Sinka coba lo katakan sekali lagi,” pinta Rizal.

“Ah, itu, anu, aku mmm,” Rizal mendekatkan wajanya ke wajah Sinka.

Tiba – tiba kriing! kriing! Smartphone Rizal berdering!

Degh! Yah batal deh -_-

Mereka berdua pun terkejut wajah Sinka merah karena malu.

Rizal pun menjawab panggilan telponnya.

“Halo Rully. Ya gue udah menemukannya. Kami di bawah tebing, dekat tadi siang kita istirahat,” ucap Rizal menjawab panggilan telpon.

“Bantuan akan segera datang,” ucap Rizal.

“Syukurlah kalau begitu, kita selamat,” ucap Sinka lega.

Hening…

Kemudian Sinka membuka bicara.

“Anu, ada yang ingin aku tanyakan yang buat aku penasaran,” ucap Sinka.

“Mau tanya apa?”

“Kenapa Rizal duku pura – pura jadi Rully?” tanya Sinka penasaran.

“Itu karena dari pertama kita bertemu lo bilang, lo benci orang yang bernama Rizal,” jelas Rizal.

“Oooh gitu ya? Hihihi!” Sinka tertawa 😀

“Kenapa lo ketawa?” tanya Rizal

“Gak, gak papa,” jawab Sinka menggeleng pelan.

  • to be continued

-Harris Marwin-

 

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Love Taste Chocolate Part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s