VEnomeNAL : Ruangan misterius

Belakangan kampusku ini jadi serasa aneh. Beberapa teman sekelasku
hilang dalam satu bulan terakhir. Sepertinya memang ada misteri
dibalik itu semua. Tapi bagaimana bisa mereka yg hilang tidak
meninggalkan bekas sedikit pun. Bahkan satu petunjuk pun tidak ada.
Sebenarnya aku sedikit penasaran dengan apa yg sebenarnya terjadi.
Karena mereka yg hilang sehari sebelumnya masih dalam keadaan seperti
biasa. Masih bercanda dengan teman dekatnya.

Aku yg memang suka dengan hal-hal ganjil seperti ini. Dalam seminggu
terakhir ini selalu menjadi seseorang yg mirip detective. Itu hanya
sebagai gambaran saja. Aku cuman penasaran dengan apa yg sebenarnya
terjadi.

Hanya ada satu orang yg menurutku mencurigakan. Dia juga teman
sekelasku. Tapi aku tak terlalu mengenalnya. Dia selalu duduk
sendirian dikampus. Mungkin bisa dibilang dia tidak punya teman.
Bahkan sosoknya sangat misterius. Selalu menutupi kepalanya dengan
tudung jaketnya. Kenapa aku curiga dengannya. Karena sebelum hilangnya
Jeje,  teman sekelasku itu sedikit ribut dengannya. Aku tidak tau
alasannya apa, tapi yg ku dengar Jeje sempat berkata kasar padanya.
Mungkin itu hanya asumsiku belaka. Tapi walau bagaimanapun aku harus
sedikit waspada dengannya. Dia yg tidak banyak bicara itu, bisa saja
tersinggung karena ulah teman sekelasku itu.

Astaga dia melihat kearahku. Cepat-cepat aku membuka buku, mengalihkan
pandanganku darinya. Tatapannya yg tajam dan dingin itu seperti
menusukku. Harus tenang. Jangan sampai dia curiga kalau dalam beberapa
hari terakhir ini aku selalu memperhatikannya atau lebih tepatnya
mengawasinya.

***

Keributan yg berada didekat toilet itu cukup menarik perhatianku.
Sembunyi di balik tembok yg dekat dengan tempat itu. Mendengarkan apa
yg sedang mereka bicarakan, atau lebih tepatnya ada masalah apa antara
mereka. Aku mengintip sebentar untuk memastikan siapa saja yg sedang
ribut itu. Mataku telah menemukan mereka. Ada empat orang disana dan
salah satunya adalah dia. Dia yg beberapa hari terakhir ini selalu aku
awasi. Dia sedang dikepung atau setidaknya sedang di marahi oleh salah
satu dari ketiga orang yg aku tau mereka pasti satu klompotan.

Dia melihat kearahku. Astaga. Dia menyadari keberadaanku. Apa yg harus
aku lakukan. Apa aku harus menjauh dari tempat ini. Tidak. Dia pasti
semakin curiga jika aku malah pergi dari tempat ini. Karena mungkin
dia mengira kalau aku mengawasi dirinya. Meskipun memang seperti itu.
Hah. Kupaksakan langkahku menuju kearahnya atau lebih tepatnya
berpura-pura menuju toilet.

Mereka yg tadi sedang mengerubuti dia, kini perlahan pergi dari tempat
itu. Mungkin mereka sudah menyadari keberadaanku.

Berjalan melewati dia dan berpura-pura tidak tau apa-apa tentang
kejadian barusan. Sudah kuduga dia akan menatapku seperti itu. Tatapan
yg membuatku bergidik.

” sudah berapa lama kamu disana?” Ucapnya dingin.

Aku menatapnya sebentar dan tersenyum sebisaku.

” ehhh. Baru kok, tadi mau ke toilet aja. Tapi karena lihat…”

” jangan ceritakan kepada siapapun tentang kejadian barusan.” Potongnya.

Wajahnya masih datar. Kemudian membenarkan tudung jaketnya dan
berjalan menjauh dari tempat itu. Aku hanya menelan ludah. Berharap
bahwa dia bukan orang yg suka membunuh. Tapi tatapannya itu
benar-benar menakutkan. Sepertinya aku harus membatasi ucapanku
padanya, aku takut jika nanti malah menyinggungnya.

***

Shania junianatha. Mahasiswi yg kemarin sempat ribut dengannya hari
ini dinyatakan hilang. Pihak kepolisian sempat mendatangi kampusku
ini, mereka berharap bisa mendapat sedikit petunjuk tentang mahasiswi
yg hilang itu. Namun untuk kesekian kalinya, salah satu teman
sekelasku itu hilang tanpa Jejak. Dengan ini, berarti sudah lima orang
yg hilang secara misterius.

” Ve?”

Aku mendongak kearah suara itu. Itu salah satu teman dekatku yg satu
kelas denganku ini.

” kenapa mi?” Tanyaku. Dia menarik nafasnya sebentar. Kemudian mulai
berbicara lagi.

” nanti aku kasih tau lewat chat, ada sesuatu tentang kelas kita
ini…” Jelasnya sambil memandang keseluruh penjuru kelas. Seperti ada
raut ketakutan diwajahnya.

” kenapa ga sekarang aja?”

” ini rahasia kita berdua.” Balasnya sambil menepuk pundakku.

Yasudahlah. Mungkin apa yg ingin dia sampaikan tidak ingin diketahui
oleh orang lain selain diriku. Duh, jadi terharu. Halah. Tapi ini
sepertinya ada kaitannya dengan hilangnya anak-anak dikelas ini.
Semoga saja dia punya petunjuk. Tapi sejak kapan dia jadi seperti aku.
Setauku dia tidak suka dengan hal-hal seperti ini. Atau jangan-jangan
dia tidak sengaja melihat kejadian yg bisa menjadi petunjuk. Semoga
saja misteri ini segera terpecahkan. Dan menemukan siapa dalang semua
ini.

***

” aku kemarin melihat Kinal bersama Shania pas jam kuliah sudah habis.
Tapi aku nggak tau kalau Shania bakal hilang kayak gini, jadi aku ga
sempet ngawasi dia kemarin. Ve, Jauhi orang bernama Kinal itu. ” itu
isi pesan chat dari Naomi, teman yg menghampiriku tadi.

Sudah kuduga. Ini ada hubungannya dengan orang itu. Orang yg aku tau
bernama Kinal itu. Apa aku harus melapor kepada POLISI sekarang.
Tidak. Sepertinya itu malah mempersulit diriku untuk mengungkap
sosoknya. Lagian aku belum punya bukti kuat untuk mengatakan dia
bersalah atau dia yg ada dibelakang ini semua. Walaupun seluruh
petunjuk yg  aku punya memang selalu mengarah padanya.

Devi Kinal Putri. Mahasiswi yg sebenarnya tidak seangkatan denganku.
Hanya saja aku terjebak di kelas yg sama dengannya saat ini. Wajahnya
sebenarnya cukup menarik. Maksudku tidak menunjukkan kalau dia seorang
pembunuh atau seorang penculik. Hanya saja sikapnya selama ini selalu
dingin. Bahkan satu senyumannya pun tak pernah aku lihat dari
sosoknya. Aku juga tidak tau dimana dia tinggal, apa dia punya saudara
kandung atau hal-hal lainnya tentang dirinya, sama sekali tidak aku
ketahui. Profilnya yg musterius itu sepertinya perlu aku ungkap secara
diam-diam.

Pertama. Aku harus berbicara padanya. Berbicara seolah ingin
mengenalnya lebih dekat. Tapi bagaimana aku memulainya. Aku yg
sebenarnya pemalu ini harus merangkai kata terlebih dahulu sebelum
berbicara padanya.

” hai, sedang apa?” Kedengarannya itu terlalu biasa.

” kamu udah makan?” Ah, itu terdengar konyol.

Hah. Aku memang payah untuk memulai sebuah percakapan. Yasudahlah.
Mungkin sabaiknya menunggu saat yg tepat untuk berbicara padanya.

***

Kurapihkan seluruh buku yg tergeletak dimejaku dan segala alat
tulisnya. Pelajaran kuliah hari ini sudah habis. Cepat-cepat aku
meninggalkan kelasku itu. Aku rasa otakku sudah mulai konslet karena
memikirkan hal-hal di luar pelajaran kuliah. Hah. Sebaiknya hari ini
aku istirahat dulu untuk berpura-pura menjadi seorang detective. Akan
aku lanjutkan esok tentang hal ini.

Berjalan pelan menuju tempat aku memarkirkan kendaraanku. Tak
kuasangka langkahku yg lambat ini ternyata cukup memakan waktu untuk
sampai kesana.

Tunggu. Aku melihatnya. Dia disana, didepan tempat parkir. Dan tepat
didepan kendaraan roda empatku. Apa yg sedang dia lakukan disana.
Akupun juga tidak tau. Terus berjalan hingga aku sampai tepat
didekatnya.

” permisi…aku mau lewat sebentar,” ucapku pelan sambil menunduk.

Lama tak kudengar balasan darinya. Aku mulai risih, dan terpaksa
menyenggol tubuhnya karena dia menghalangi jalanku.

” Kamu Jessica Veranda. Hati-hati…”

Jantungku berdetak tak beraturan saat dia mengatakan hati-hati dengan
penekanan di nada bicaranya. Aku menoleh sebentar. Mengangguk dan
tersenyum sebisaku.

Buru-buru aku masuk kedalam mobil. Meninggalkan dia disana dan
melajukan mobilku lebih cepat dari biasanya.

Huh. Untung saja dia tidak mengikutiku. Aku tidak bisa mengartikan
kata hati-hati darinya itu. Apa itu sebuah petunjuk bahwa aku adalah
target berikutnya. Tidak. Aku harus tenang. Tenang dalam menghadapi
situasi ini. Aku harus menyiapkan segala sesuatu saat bahaya itu
datang. Tapi bagaimana, aku tak bisa berkelahi, tak bisa memakai
senjata. Sial, aku yg lemah ini memang payah.

Aku rasa perjalan pulangku habis hanya untuk menterjemahkan kata
hati-hati darinya. Hah. Tetap tenang Ve. Kamu harus makan dan tidur.
Mungkin otakmu memang harus diistirahatkan.

***

Mencoba menyisir seluruh area kantin kampus untuk mencari tempat yg
kosong yg bisa aku singgahi. Itu dia Naomi, tapi aku tak mungkin
menghampirinya dia sedang berduaan, sepertinya dengan kekasihnya. Aku
tak mau mengganggunya. Ku lihat lagi sekeliling kantin dan aku
menemukannya. Mejanya ada dipaling ujung dan hanya diisi satu orang.
Sepertinya tak masalah jika aku duduk disana. Ku bawa pesanan
makananku dan berjalan kesana.

Duduk dan diam. Kenapa tubuhku serasa tidak bisa digerakkan.
Sepertinya rasa takutku padanya memang terlalu berlebihan.

” emm. Hai… Aku boleh duduk disini kan?” Ucapku. Dia hanya diam menatapku.

Aku mulai risih dengan tatapannya itu. Jika sudah seperti ini makan
pun terasa tidak enak.
Ku habiskan makananku dengan cepat walaupun rasanya memang tidak
seenak biasanya. Itu mungkin karena dia. Dan buru-buru aku
meninggalkannya. Dia yg sama sekali tidak membalas ucapanku tadi.

***

Berjalan pelan menuju toilet. Dan tak perlu aku jelaskan tentang apa
yg aku lakukan ditoilet. Aku tak ingin otak mesum kalian malah tak
terkendali. Maksudku, aku hanya ingin membasuh wajahku dengan air.
Karena rasa kantukku ini benar-benar serasa menerkamku.

Kelopak mataku ini sepertinya memang sulit untuk dikendalikan. Bahkan
air yg tadi kupakai untuk membasuh wajahku, sepertinya tidak
berpengaruh banyak.

Tidak seperti biasanya diriku seperti ini. Apa karena tadi aku makan
terlalu banyak. Tidak juga sepertinya. Yasudahlah.

***

“Cklek…” Aku bisa mendengar samar suara itu.

Tunggu. Aku ketiduran ditoilet. Astaga, bagaimana ini bisa terjadi.
Cepat-cepat ku basuh wajahku dengan air. Berharap tidak ada yg tau
akan hal ini.

Seseorang terlihat masuk kedalam toilet. Aku tidak tau siapa dia. Tapi
yg jelas dia melihat kearahku saat ini.

” maaf. Permisi…” Ucapnya diiringi langkahnya melewatiku. Aku hanya
mengangguk menjawab ucapannya.

Aku bergegas menuju kelas. Tapi tunggu. Aku melihat jam tanganku.
Astaga, sudah jam lima sore. Pantas saja kampusku ini sudah cukup
sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa yg masih ada di kampus. Aku tidak
tau apa yg mereka lakukan di jam pulang ini.

Tiba dikelas dan aku sedikit terkejut karena keberadaannya. Dia masih
disana dan sekarang melihat kearahku dengan tatapan dinginnya. Aku
mencoba menghindari tatapannya itu. Dan segera menuju mejaku untuk
mengambil tasku.

Saat aku hendak keluar kelas. Aku teringat sesuatu. Mungkin ini saat
yg tepat untuk tau lebih banyak tentangnya. Walaupun aku sedikit ragu
dengan ideku ini. Namun karena rasa penasaranku yg lebih kuat akhirnya
aku kembali masuk kedalam kelas. Lebih tepatnya menuju kearahnya.
Mencoba tersenyum dan tetap tenang saat sudah ada didepannya.
Kududukkan tubuhku didepannya dan membalikkan bangku yg kududuki agar
bisa berhadapan dengannya.

Tatapannya masih sama. Apa dia itu manusia es. Ah, khayalanku sudah
mulai tak waras.

” hai… Kenapa belum pulang?” Sapaku sambil memasang wajah ramah padanya.

Terserah kalau dia menganggapku SKSD. atau sok kenal sok deket.
Sepertinya itu rada alay. Oke, kita tidak sedang membahas hal itu.

Lama sekali aku menunggu balasan darinya. Astaga, apa dia tidak dengar
dengan apa yg tadi aku katakan.

” Oh iya. Rumah kamu dimana?. Biar aku antar pulang?”

Hah. Sepertinya aku tak sengaja mengatakan hal itu. Bagaimana ini.
Bodoh memang aku ini.

” lebih baik kamu pulang dan hati-hati.” Balasnya masih dingin seperti biasa.

Sial. Kata itu lagi. Aku yakin kata itu akan menghantuiku hari ini.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Kemudian berdiri dan
membenarkan kursi yg tadi aku duduki itu. Dan berjalan cepat
meninggalkannya.

***

Hembusan angin pagi ini cukup dingin. Cukup untuk membuatku bergidik.
Sepertinya aku berangkat terlalu pagi untuk hari ini. Karena kampusku
masih sangat sepi. Hanya ada beberapa orang yg sudah tiba dikampus
selain diriku tentunya.

Berjalan seperti biasa menuju ruang kelasku. Menaruh tas disana dan
kejutan pertama hari ini. Dia sudah ada disana, apa mungkin dia tidak
pulang. Tapi itu tak mungkin. Kemarin aku sempat mengikutinya secara
diam-diam. Walaupun pada akhirnya aku kehilangan jejaknya.

Aku berjalan mendekatinya. Dia tiba-tiba membungkam mulutku saat aku
sudah tiba disana. Sambil mendorongku hingga menyentuh tembok. Sial.
Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Dia mengunci kedua kakiku dan
juga kedua tanganku.

Matanya tajam melihat kearahku. Ayolah, siapapun tolong aku. Dia
mendekatkan wajahnya hingga jaraknya kurang dari sejengkal. Detak
jantungku mulai tak beraturan.

” aku bilang hati-hati…” Ucapnya melepaskanku yg sudah kuwalahan ini.

Dia perlahan menjauhkan wajahnya. Aku tidak tau apa yg dia lakukan
barusan. Apa dia mengancamku. Apapun itu yg jelas aku merasa takut.
Sangat takut.

” apa kamu tidak ada kerjaan. Sampai harus mengikutiku?” Lanjutnya
masih menatapku tajam.

Aku menunduk. Aku rasa kakiku ini gemeteran. Ah, sepertinya rasa
takutku ini semakin menjadi.

” m-maaf…” Balasku masih menunduk.

Bisa kudengar langkah kakinya yg sudah menjauh dariku. Dan mulai ku
naikkan wajahku untuk melihat seperti biasa. Dia sudah disana, di
bangku yg biasa dia duduki. Dengan cepat aku berjalan meninggalkan
tempat itu. Melewatinya tanpa menoleh.

Sepertinya ini adalah kesalahan terbesar dalam penyelidikanku. Dia
sudah mengetahuinya. Bagaimana ini. Aku yakin malaikat maut
mengintaiku kali ini, jika memang dia yg selama ini ada dibalik
hilangnya teman-teman dikelasku. Aku berharap dia mau memaafkanku.

Mungkin memang lebih baik jadi orang-orang yg tidak tau apa-apa.
Daripada tau tapi serba salah. Tapi jika misteri tidak segera
terpecahkan, akan ada berapa banyak lagi korbannya. Aku tak boleh
takut sepertinya. Kalau dia mau menghabisiku, aku yakin dia bisa
melakukannya kemarin saat dia sudah tau aku yg mengikutinya.
Sepertinya ada hal ganjil lagi yg belum terpecahkan. Tapi yg jelas,
siapa orang yg ikut ambil bagian dari hilangnya mahasiswa di kampusku
ini. Apa orang itu adalah dia. Hanya saja, apa dia tidak bekerja
sendirian. Apa ada pemimpinnya.

Hah. Otakku seperti kesulitan untuk berfikir jernih karena ancamannya
tadi. Sial, sepertinya itu berpengaruh sekali padaku. Ayolah ini belum
berakhir.

***

Aku sepertinya sudah mulai tak waras. Sudah jelas tadi dia
mengancamku, dan kenapa aku masih saja mengikutinya. Sepertinya rasa
penasaranku ini yg merasuki otakku. Sudahlah, sudah terlanjur berjalan
mengikutinya sejauh ini. Jangan sampai kehilangan jejaknya seperti
kemarin.

Berjalan mengendap-endap. Sambil sesekali bersembunyi saat dia menoleh
kebelakang. Sepertinya dia sudah mulai curiga. Sudah kulewati tempat
dimana kemarin aku kehilangan jejaknya. Dan aku yakin, aku semakin
dekat dengan rumahnya.

Ada tikungan. Sial, sepertinya dia belok kekiri dan aku tak bisa
melihatnya lagi. Berjalan pelan menyusulnya dan…

Dia tidak ada. Tidak ada siapapun. Sepertinya dia bersembunyi atau
jangan-jangan. Aku menoleh ke belakang.

Dia disana. Menatapku tajam. Dan mengeluarkan benda tajam dari dalam
sakunya. Sebuah pisau lipat. Dia berjalan kearahku. Aku berjalan
mundur. Berharap bisa menemukan sesuatu untuk melindungiku. Tapi
sepertinya sia-sia. Aku terus berjalan mundur dan langsung lari
sebisaku.

Aku tak tau seberapa jauh langkahku ini sekarang. Nafasku mulai
memburu. Sepertinya Jessica Veranda akan berakhir sampai disini. Aku
menoleh kebelakang. Dia sudah dekat denganku, kurang dari lima meter
sepertinya. Dan aku sudah sangat kelelahan. Selamat tinggal calon
suamiku yg entah sekarang ada dimana. Maafkan aku, belum sempat aku
menemuimu.

” buggg” suara pukulan itu tepat mengenai perutku. Dan itu cukup untuk
membuatku kehilangan keseimbangan. Seketika semua menjadi gelap.

***

” uhhuukkk…uhhuukkk” sepertinya aku sudah mati. Karena tempat ini
sangat gelap.

Perlahan ruangan ini menjadi terang. Dan baru kusadari jika aku berada
dikamar. Walaupun aku tidak tau ini kamar siapa. Yg jelas ini bukan
kamarku. Seseorang muncul dari balik pintu. Dan itu adalah dia.
Sepertinya aku masih hidup, karena saat aku bergerak badanku terasa
sangat sakit.

” aku bilang hati-hati. Apa kamu ga punya telinga?” Ucapnya duduk
didekat jendela.

” m-maaf…”

” sepertinya ada kaitannya sama mereka-mereka yg hilang dikampus. Kamu
pasti menuduhku. Itu wajar saja…” Dia masih menatap luar jendela.

” jadi kamu itu yg selama ini ada balik itu semua?” Aku sedikit
meninggikan nada bicaraku. Walaupun dalam hati ada rasa takut yg luar
biasa.

Tidak ada respon darinya. Kemudian dia melemparkan benda yg ku tau itu
adalah ponselku.

” ponselmu sedari tadi berdering dan mengganggu telingaku. Maaf jika
aku membantingnya…” Ucapnya santai dan mengalihkan topik
pembicaraan.

Aku hanya menatap ponselku itu tanpa bergeming. Ponsel yg layarnya
sudah retak itu. Ingin sekali aku menangisinya, karena itu ponsel
pemberian mamahku. Dia itu keterlaluan.

” tunggu sampai mereka membekukmu. Membuatmu tinggal dibalik jeruji
besi…” Ucapku sambil berusaha mendudukkan tubuhku.

” tapi sebelum itu. Dimana kamu taruh mereka yg hilang?” Lanjutku.

Dia masih diam. Kemudian menatapku dengan wajah seperti biasa. Seolah
dia tidak takut dengan ancaman yg barusan aku lontarkan padanya. Dia
mulai mendekat kearahku. Dan sialnya tubuhku masih terasa sakit untuk
digerakkan. Sebuah pukulan tepat mengenai perutku untuk kedua kalinya.
Sepertinya itu menjadi titik terlemahku. Mataku sulit sekali untuk aku
buka karena rasa sakit yg luar biasa ini. Sial.

***

” kak…kak?”

Aku bisa mendengar suara itu. Perlahan aku buka kedua mataku. Memaksa
mendudukkan tubuhku yg benar-benar terasa sakit.

” loh. Dimana tadi…”

” hmm. Kakak pingsan. Tadi ada yg nganterin kerumah. Mobilnya udah
diambil sama Aaron kok…” Potong orang yg tak lain adalah adikku.

” Anin… Orang yg tadi nganterin kakak kemana?”

” udah pulang kak.”

Hah. Untung saja dia tidak membunuhku. Tapi bagaimana bisa. Dia mau
membiarkanku melapor pada pihak kepolisian. Tapi, sebaiknya harus
hati-hati. Bisa saja ini perangkap, atau dia mengincar orang lain
dalam keluargaku jika aku melapor.

Ini lebih sulit dari yg aku bayangkan. Kinal, Sepertinya kamu
menyembunyikan sesuatu yg benar-benar membuatku harus membongkar
paksa. Silahkan kamu pukul aku, tapi berhentilah jadi seperti itu. Aku
benar-benar tidak suka. Hentikan semua ini.

***

Tiga hari sudah aku terbaring dikamarku. Sepertinya pukulan itu memang
tidak ditujukan untuk membunuhku hanya saja dia ingin menyiksaku. Tapi
tunggu, kata hati-hati. Apa jangan-jangan itu sebuah peringatan.
Mungkin iya. Sudahlah. Aku harus membongkar semua drama ini.

Kuraih sebuah kertas itu yg katanya adikku titipan dari orang itu
untukku. Sebuah kertas dengan tulisan “19-14 Dalam satu kotak, lihat
dibawah.” Aku sendiri tidak tau apa arti dari itu semua. Hah,
sepertinya dia mencoba memberi kode padaku. Kode yg tidak jelas itu.
Bagaimana aku akan mengerti maksudnya.

Mungkin jika sakit biasanya digunakan untuk bersantai tapi itu tidak
dengan diriku. Aku mencoba untuk menghubungi Naomi menggunakan ponsel
adikku. Menanyakan sudah sampai mana pelajarannya. Ya begitulah aku,
aku selalu mencoba sebisaku agar tak tertinggal materi pelajaran
kuliahku.

” masih sakit Ve?” Tanya temanku itu lewat chat.

” ya begitulah. Nanti kesini ya?. Bawa makanan jangan sampai lupa…” Balasku.

” hadeh. Pipimu itu lho. Udah gembul gitu.”

Aku tidak tau dia sedang mengejekku atau memang dia berubah jadi
pelit. Yasudahlah, tidak apa kalau diantara keduanya itu memang benar.
Lagipula aku sudah terlalu merepotkannya.

Menunggu hingga dia tiba, rasanya memang sangat lama. Berhubung memang
aku sedang dikuasai oleh rasa kantuk. Jadi selamat tidur siang.

***

” kak…kak. Ada kak Naomi!” Itu suara Anin yg terdengar nyaring
ditelingaku. Terpaksa aku buka kedua mataku. Dan bisa kulihat ada
adikku dan juga Naomi disana.

” lah. Malah ketiduran. Katanya mau nunggu?” Ucap Naomi sambil
mengupas apel yg dia pegang.

” iya. Maaf. Habisnya kamu lama nyampainya,” balasku sambil mendudukkan tubuhku.

” kamu sebenarnya sakit apa sih Ve?. Biasanya kalau cuman sakit hati
gak gini-gini amat?”

” bukan apa-apa sih. Aku ga pernah sakit hati!” Balasku. Dia malah cengengesan.

” kalau gitu Anin permisi dulu ya kak…” Ucap adikku itu berjalan
kearah pintu keluar kamarku.

Sudah lama sekali aku dan dia menghabiskan waktu hanya untuk mengobrol
ngalor-ngidul nggak jelas. Ya begitulah, dia memang lebih banyak
bicara ketimbang aku. Jadi dia selalu bisa menghidupkan suasana.

” ini kertas apa?. 19-14 Dalam satu kotak, lihat dibawah. Kode apaan
ini?” Dia terlihat bingung saat melihat isi dari kertas itu.

” ini dari siapa?”

” dari seseorang. Kamu ga perlu tau.” Jelasku sambil merebut kertas itu.

Aku tak mau memberitahu dia bukan tanpa alasan. Aku hanya tak ingin,
dia malah masuk kedalam suasana sepertiku. Cukup diriku saja yg tau
akan hal ini.

Dia menatapku aneh. Seperti mencurigai kalau aku menyembunyikan
sesuatu. Oke, ini buruk. Jangan sampai dia tau kalau ini dari Kinal.

” kenapa?” Tanyaku melihat sikapnya yg aneh sambil terus menatapku.

” gapapa kok. Aneh aja, biasanya kamu selalu terbuka kalau sama aku.
Tapi yasudahlah, semua orang pasti punya rahasia,”

Oke. Sepertinya dugaanku memang benar. Dia mencurigaiku.

” hmm. Maaf soal itu. Aku ga biasa cerita sekarang…” Balasku.

” lah kok jadi sedih gini?” Sahutnya.

Dan tawa dariku ini sepertinya bisa jadi andalan mengganti topik
pembicaraan. Maaf Naomi.

***

Berjalan menuju kelas sambil sesekali melihat kearah belakang.
Berharap lorong yg gelap ini segera aku lalui. Entah kenapa bisa.
Pagi-pagi begini lampu kampus belum dinyalakan. Terlihat dari kejauhan
ada seseorang diujung lorong menuju kelasku ini. Dia berdiri disana.
Seperti menungguku.

Sebaiknya aku putar arah langkahku. Kubalikkan tubuhku dan melangkah
menjauh dari tempat itu. Sepertinya suara dari langkahku didengar oleh
orang itu. Aku percepat langkahku karena aku rasa dia mengikutiku.
Mencari ruangan dilantai yg paling bawah atau ruangan apapun yg bisa
menyembunyikanku darinya. Aku sempat menengok kebelakang, dan aku
mengetahui siapa dia. Dia yg selama ini aku curigai. Dia yg memukulku
hingga aku tak bisa masuk kuliah dalam beberapa hari. Sepertinya dia
tidak suka kalau aku masuk kuliah.

Sial memang. Hanya karena ingin menghindari kemacetan, sekarang malah
terjebak dalam situasi yg tak kuharapkan ini.

Berlari dan terus berlari. Berharap bahwa aku menemukan seseorang.
Namun sedari tadi tidak kujumpai siapapun. Ayolah jangan takut. Cari
tempat ruangan kosong. Dan aku yakin dia tidak akan menemukanku.

Sebuah ruangan dengan cat kumuh dan juga sinar matahari yg minim
sekali masuk kedalam ruangan ini. Disini sekarang aku berada,
bersembunyi dabalik lemari yg sudah tak layak pakai itu.

Sudah lebih dari sepuluh menit aku bersembunyi. Sepertinya dia tidak
bisa menemukan keberadaanku. Tapi tunggu. Kenapa dia bisa kehilangan
jejakku yg padahal aku sendiri yakin kalau dia melihatku masuk kedalam
ruangan ini. Baiklah, sepertinya dia menungguku diluar. Aku
mengendap-endap mencoba mencari pintu lain untuk keluar dari ruangan
ini.

Ruangan yg aku sendiri tidak tau kalau ruangan ini ada diarea gedung
kampusku. Rasanya ini terlalu aneh. Dan terlihat cukup seram ketika
aku awasi seluruh ruangan ini. Banyak sarang laba-laba dan ada banyak
kecoa berlarian. Ingin rasanya aku berteriak, tapi itu tak mungkin.
Bisa saja dia mendengarku dan menghampiriku lalu membunuhku disini.
Sial, kedengarannya itu menakutkan.

Ada tulisan kecil berwarna merah. Aku bisa melihatnya meskipun tidak
terlalu jelas. Aku berjalan kesana dan cukup dibuat kaget. Ini bukan
tulisan, tapi darah yg mengalir tidak teratur dan sudah mengering.
Sepertinya darah ini berasal dari balik rak buku yg sudah rusak ini.
Tapi bagaimana bisa.

Aku menyentuh rak itu. Berharap bahwa dibalik rak buku yg rusak ini
ada sebuah pintu. Pintu untuk mengetahui ada apa dibalik rak ini.

” hei!. Siapa didalam!” Suara dari orang yg ada diluar mengagetkanku.
Dia menyalakan led flash hp nya dan mengarahkannya padaku. Dan aku
yakin dia sudah menemukanku.

” Ve?. Ngapain kamu disini?” Suara itu sangat familiar ditelingaku.
Dan yg jelas itu bukan suara orang yg tadi mengejarku.

” Naomi?”

” lah baru nyadar. Ayo kekelas. Udah hampir masuk ini?” Balasnya.

Aku berjalan kearahnya. Meninggalkan tempat misterius itu. Dan
meninggalkan sarang kecoa yg sangat menjijikkan itu. Berjalan
berdampingan dengan temanku tadi dan sesekali aku melihat kearahnya.

Shinta Naomi. Anak yg sempurna aku pikir. Wajahnya yg rupawan dan
sikapnya yg baik hati, serta mudah berteman dengan siapapun. Aku pikir
dia sangat menarik untuk semua orang. Berbanding terbalik denganku yg
pemalu ini. Aku yg jarang sekali mengobrol ini tidak mempunyai teman
waktu SMA. Dan dia teman pertamaku di bangku kuliah

” aku tadi ketemu Kinal. Terus dia bilang suruh jauhin kamu?” Ucapnya
disela suara langkah kakinya.

” terus kamu bilang apa?”

” aku bilang. Kalau aku ga bisa. Lagian ga alasan juga kan, kenapa aku
harus jauhin kamu?”

” orang aneh mah dia itu.” Lanjutnya.

Tak terasa langkah kaki ini telah membawaku tiba dikelasku. Masuk ke
kelas dan dia menatapku lagi. Naomi menepuk pundakku.

” jangan takut.” Bisiknya. Aku hanya mengangguk.

***

Ruangan misterius itu sepertinya menghantui pikiranku. Seperti
memanggil-manggil namaku agar aku kesana. Dan sekarang aku sudah tiba
didekat ruangan itu. Aku berjalan kesana untuk menghilangkan rasa
penasaranku. Sebuah pisau tiba-tiba meluncur dari belakang. Memotong
sebagian rambutku. Membuatku berhenti bergerak tepat didepan pintu
masuk ruangan itu. Aku menoleh, dan tidak ada siapapun disana. Walapun
begitu, aku yakin jika ada seseorang sedang mengincarku. Aku berjalan
meninggalkan tempat itu. Karena aku merasa sedang diawasi oleh
seseorang.
Harusnya aku langsung pulang kerumah bukan malah ketempat ini. Tempat
yg sepertinya akan membahayakanku.

Ruangan itu sebenarnya kalau digaris lurus tepat berada di bawah
kelasku. Hanya saja jika mengikuti jalan maka ruangan itu terasa
sangat jauh. Itu karena jalan yg dilalui harus berbelok-belok.

***

Sepertinya pagi ini akan turun hujan itu bisa terlihat dari pergerakan
awan hitam pekat diatas sana yg kini sudah mengepung seluruh kota.
Berjalan menuju ruangan itu sambil membawa sebuah benda perekam suara
yg aku taruh didalam bajuku. Ini semua demi menyelesaikan misteri yg
selalu mengganggu otakku. Aku berharap bahwa alat rekam ini bisa
membantu mereka menemukan kebenaran seandainya aku tidak kembali
dengan selamat dari ruangan itu. Aku tidak takut sekarang. Siapapun
dia, aku siap.

Cahaya kilat diiringi dengan suara menggelegar membuat jantungku
berdetak kencang. Sepertinya langit sedang marah. Kupaksakan tetap
melangkah kesana sebelum para orang-orang dikampusku mulai
berdatangan. Sengaja memang aku datang yg pertama tentunya setelah
penjaga kampus yg membukakan gerbang.

” hah. Sepertinya dikunci?” Ucapku dalam hati.

Pintu ruangan itu terlihat tertutup rapat. Sepertinya harus aku tahan
dulu tentang rasa penasaranku pada ruangan itu. Perlahan langkah
kakiku menjauhi tempat itu. Tapi langkahku berhenti sejenak ketika
terdengar suara teriakan kesakitan dari dalam sana. Suara seorang
perempuan yg menjerit. Suara itu cukup terdengar nyaring ditelingaku.
Bagaimana bisa ada orang didalam sana sedangkan ruangan itu tertutup
dan terkunci. Tunggu, sepertinya terkunci dari dalam. Sial, aku
mencoba mendobrak pintu itu. Namun tenagaku yg minim ini sepertinya
tidak cukup kuat untuk memembuka paksa pintu itu.

Sudah cukup lama otakku mencari sebuah ide agar bisa membuka pintu
itu. Ya, penjaga kampus. Aku harus mencari orang itu. Kini gagang
pintu itu bergerak seperti mau terbuka mengagetkanku saat ini. Aku
langsung berlari mencari tempat sembunyi.

Disini dibalik tong sampah ini aku bersembunyi. Tak lama setelah aku
bersembunyi, pintu ruangan itu terbuka sesosok manusia keluar dari
ruangan itu. Aku memastikan dia manusia karena kakinya napak. Tapi yg
tidak aku tau, siapa dia itu. Dia memakai jaket hitam dan tudung
jaketnya itu menutupi kepalanya. Cahaya kilat dari petir diluar sana
sempat memperlihatkan sosoknya. Walaupun wajahnya tidak bisa aku
kenali. Tapi kalau dilihat dari cara dia berjalan mungkin dia adalah
seorang perempuan.

Kini dia berjalan kearahku. Aku berharap dia tidak menyadari
keberadaanku saat ini. Dia membuang sesuatu kedalam tong sampah dan
berjalan meninggalkan tempatku ini. Syukurlah dia tidak menyadari
keberadaanku. Aku berdiri dan menghidupkan senter yg tadi aku bawa
untuk melihat benda apa yg tadi dia buang. Sebuah sapu tangan berwarna
biru dan ada sedikit noda merah disana. Aku mengambil sapu tangan itu.
Dan aku terkejut. Bercak warna merah itu ternyata darah.

Baiklah ini sebuah petunjuk yg tak bisa aku biarkan hilang begitu
saja. Aku masukkan sedikit cairan berwarna merah pekat itu yg belum
sempat mengering kesebuah botol berukuran sangat kecil. Aku akan minta
tolong kepada anak kedokteran untuk meneliti golongan darah apa yg
sekarang ada didalam botol kecil ini.

Mungkin ini bisa menjadi sebuah petunjuk untuk mengungkap misteri ini.
Semoga saja.

***

Berjalan keluar dari ruangan fakultas kedokteran. Dan sudah kukatahui
bahwa darah tadi bergolongan darah O. Itu yg tadi mereka katakan
padaku. Sekarang tinggal melihat golongan darahnya Kinal untuk
memastikan bahwa tadi pagi itu adalah Kinal. Tapi bagaimana caranya
aku mendapatkan darahnya. Hah. Sepertinya ini tidak akan berjalan
dengan mudah.

Itu dia orangnya. Sepertinya lengan kanannya ada sedikit luka. Itu
bisa dilihat dari perban yg membungkus lengannya itu. Kenapa aku tadi
tidak memperhatikan tangannya saat diruangan itu. Kalau saja aku lebih
teliti, mungkin semuanya akan berjalan lebih mudah.

Dia melihat kearahku sekarang. Dia mulai berjalan menuju kearahku.
Sial, sepertinya dia tidak suka kalau aku disini. Bagaimana ini. Ah,
alat perakamku sudah aku matikan lagi. Ini bahaya. Oke, aku ingat ada
pisau dibalik punggungku yg memang aku gunakan untuk jaga-jaga.
Sepertinya akan ada adegan kejar-kejaran lagi. Kenapa akhir-akhir ini
dia suka sekali mengejarku. Sepertinya dia mulai jatuh cinta padaku.
Lebih tepatnys jatuh cinta untuk membunuhku.

Satu…dua…tiga. Langsung kubalikkan langkahku berlari menuju suatu
tempat. Lama sudah aku berlari, nafasku mulai terengah, detak
jantungku mulai tak beraturan. Seseorang menepuk punggungku. Aku
menoleh. Dia yg tadi menepuk punggungku langsung mendorongku sampai
terjatuh. Oke, sepertinya dia mendorongku masuk keruang musik yg
memang sepi dijam pulang kuliah. Aku mulai berdiri, mengambil jarak
aman darinya. Pisau dipunggungku mulai kuraih. Dia berjalan mendekat
kearahku.

” srrttt” pisau yang ku lempar itu menyerempet lengan kirinya.

Menggoreskan sebuah luka dilengan kirinya itu. Jaketnya menjadi robek,
diiringi darah segar yg menetes. Pisau itu kulihat tertancap tepat
dipintu dan juga ada sedikit cairan berwarna merah yg tertempel
dipisau itu. Ku lihat dia memegangi lengannya, kalau dari ekspresinya
kelihatannya dia menahan rasa sakit. Maafkan aku. Aku yg memang takut
sekali kalau melihat darah menjadi diam tak bergerak. Kakiku bergetar
hebat. Mulutku seperti orang yg kedinginan.

Sekali lagi maafkan aku. Aku berlari meninggalkannya, tak lupa juga
mengambil pisau yg tertancap dipintu itu. Sebelum aku keluar dari
ruangan itu. Kulihat sekali lagi dirinya, dia masih ditempat tadi.
Tidak ada tanda-tanda dia mau mengejarku lagi. Maaf.

***

Aku mencoba menahan rasa terkejutku. Darah yg aku ambil dari pisau itu
ternyata sama dengan golongan darah yg ada pada sapu tangan yg tadi
pagi aku temukan. Oke, sepertinya tadi pagi itu Kinal. Tapi kenapa dia
disana. Suara jeritan dari dalam, siapa lagi yg ada didalam.
Sepertinya aku harus kembali masuk kedalam ruangan misterius itu.
Masuk dan mengetahui ada apa didalamnya.

Duduk dan menatap luar jendela. Hujan sepertinya akan turun. Hawa
dingin dari luar menerobos masuk melalui jendela kamarku. Ku tutup
rapat jendela itu. Menatap butiran air yg mulai turun. Hmm. Sepertinya
aku punya firasat kalau ruangan itu menyimpan rahasia yg selama ini
aku cari. Sebuah rahasia besar yg belum terbongkar sedikitpun. Tapi
aku ragu, kalau masuk kesana, apa aku bisa keluar hidup-hidup.
Bagaimana kalau yg ada didalam ruangan itu adalah temannya Kinal. Aku
pasti tidak akan selamat. Tapi aku harus mencobanya, mungkin mengajak
seseorang. Tapi siapa, aku tidak punya teman. Hanya Naomi teman yg
kumiliki dan aku tidak akan mengajaknya dalam masalah ini.

Lama-lama aku bisa gila kalau memikirkan hal ini. Sepertinya memang
aku harus segera masuk kedalam ruangan itu. Apapun yg ada didalamnya,
aku harus siap. Rasa penasaranku memang selalu bisa mengalahkan rasa
takutku.

Hmm. Bau apa ini. Aku menoleh disana ada seseorang memakai topeng
sambil membawa mangkok. Aku tak tau apa isi dari mangkok itu. Aku
berdiri dan berjalan mundur hingga aku tiba dipojokan. Sial, siapa dia
itu. Dia menaruh mangkok itu dan berlari kearahku. Aku tidak mungkin
bisa menghindar, kupasrahkan diriku jika dia ingin membunuhku. Aku
memejamkan mataku

Dia memelukku. Perlahan dia melepaskan topengnya dan bisa kulihat itu
adalah Anin. Adik kesayanganku.

” hihihi. Kakak tadi takut ya?” ucapnya masih memelukku.

Matanya yg bulat itu tak berhenti mendongak menatapku. Dia nangis.

” Nin?. Kenapa nangis?” bola matanya yg berair itu mengalihkan
perhatianku saat ini.

” aku kangen banget. Kakak sekarang jadi sibuk banget, ga ada waktu
lagi buat main sama Anin…”

” Nin?. Maafin kakak yah. Besok deh kita main bareng.” sahutku sambil
memegang pundaknya kemudian berjongkok didepannya.

Dia memelukku lagi. Kemudian melepaskan pelukannya.

” kita makan pempek bareng ya. Tadi udah Anin bawain kesini…” Aku
hanya mengangguk. Kemudian tangan mungilnya itu meraih tanganku.
Menuntunku ke meja tadi dia meletakkan mangkok itu.

Mungkin dia benar. Aku terlalu sibuk dengan apa yg sedang aku jalani
saat ini. Oke, akan kuselesaikan besok tentang misteri ruangan itu dan
semoga itu ada hubungannya dengan hilangnya mahasiswa dikampusku.

***

Sepertinya aku beruntung karena pintu ruangan terbuka. Atau
jangan-jangan mereka yg didalam sedang menjebakku. Baiklah, harus
hati-hati. Berjalan mengendap-endap dan sepertinya tidak ada siapapun.

Ada sesuatu dibalik rak buku yg rusak itu. Tunggu. Aku mendengar ada
suara langkah kaki dari balik sana. Langkahnya terdengar semakin
dekat. Langsung saja aku bersembunyi dibalik tumpukan kardus yg sudah
tak terpakai itu. Hah. Rak buku itu berputar. Seseorang muncul dari
rak buku itu. Aku tidak bisa memastikan siapa dia karena minimnya
cahaya diruangan ini.

Sepertinya dia tidak menyadari keberadaanku. Dia berjalan keluar
dan… Sial dia menutup pintu itu. Bagaimana ini. Oke, pikirkan itu
nanti yg jelas aku harus mengetahui ada apa dibalik rak buku yg rusak
itu.

Hmm. Bagaimana caranya masuk. Mungkin dengan sedikit dorongan. Huh,
akhirnya rak rusak ini mau berputar.

“Deg”

Jantungku berdetak hebat. Mataku terbelalak kaget. Antara terkejut dan
juga ketakutan yg luar biasa. Ku ambil senter dari dalam tasku.
Mencoba memastikan apa yg kulihat ini, karena cahaya dari lampu
ditempat ini sangat minim.

” huekk…huekkk” aku tidak tau apa saja yg ingin keluar dari dalam
perutku melalui mulutku. Aku mencoba menahannya.

Ini sangat menjijikkan. Kumpulan kepala manusia berjajar rapi
diruangan ini. Bau dari pengawet kulit manusia menusuk kedalam
hidungku.

Aku berjalan melewati kumpulan kepala-kepala itu. Melawan rasa takutku sendiri.

” sial…” gerutuku dalam hati.

Bisa kulihat kepala dari Shania, Jeje dan juga mahasiswa yg satu kelas
denganku. Terpampang jelas didepan mataku saat ini. Hanya saja dimana
anggota tubuhnya yg lain. Siapapun yg melakukan ini dia pasti sudah
gila. Bukan sudah gila lagi, dia mungkin bukan manusia.

Harusnya aku bisa mengambil gambar kumpulan kepala manusia melalui
ponselku. Namun aku ingat sesuatu. Ponselku rusak oleh ulahnya.
Sepertinya dia sudah merancang ini semua. Baiklah, aku akan kembali
kesini dan meminjam ponsel Naomi. Tunggu sampai semua ini terkuak.
Manusia Gila.

***

Pintunya terbuka. Tunggu, bagaimana bisa. Padahal aku yakin kalau
pintunya tadi dikunci dari luar. Apa tadi dia tau kalau aku ada
didalam. Ck. Dia ingin menjebakku rupanya. Aku yakin didekat pintu
keluar itu pasti ada sesuatu. Berjalan pelan kesana dan…

Tidak terjadi apapun dan tidak ada siapapun. Sepertinya tadi dia lupa
mengunci pintunya dan pintu terbuka oleh seseorang yg bukan dirinya.
Huh. Sepertinya aku masih diberi kesempatan untuk membongkar semua
itu.

Dengan langkah cepat aku berjalan kearah toilet. Dan mengeluarkan
sesuatu yg sedaritadi aku tahan. Sangat menjijikkan. Membasuh muka dan
merapihkan sedikit rambutku. Mencoba mengatur ritme pernafasan yg
sedari tadi tidak beraturan. Kulirik sebentar jam tanganku. Huh,
beruntung sekali aku belum terlambat untuk masuk ke kelas.

Tanpa berlama-lama lagi aku segera keluar dari tempat itu. Berjalan
cepat menuju kelas. Hmm. Sudah ramai rupanya. Oke, mari kita masuk.

Naomi melambaikan tangannya seolah ingin aku mendekatinya. Akupun
berjalan kesana.

” tumben nih baru dateng?” tanyanya saat aku sudah tiba didekatnya.

” ah…tadi kejebak macet. Oh iya mi?, aku boleh minjem ponselmu pas
nanti pulang kuliah?. Aku balikin besok deh?”

Maafkan aku kalau aku berbohong tentang hal ini. Biarkan aku
menyelesaikan ini sendiri dulu.

” buat apa?” dia seperti manaruh rasa curiga padaku.

” ehhh. Pokoknya penting!” balasku mencari-cari alasan.

” hah. Yaudah deh. Lagian aneh-aneh aja kamu itu?. Hpnya udah rusak
kok nggak beli lagi?”

” itu…belum ada dana. Hehehe.” Dia cuman tersenyum membalas alasanku itu.

***

Huh. Ini menyebalkan. Pintu itu tertutup lagi dan tunggu. Kuncinya
ketinggalan. Aku pikir dia cukup pintar untuk menyembunyikan semuanya.
Tapi kecerobohannya ini bisa menuntuntunnya menuju jeruji besi. Dasar.

Tanpa berfikir lebih lama lagi aku langsung masuk kedalam. Melakukan
tugasku. Foto ini akan membantuku untuk mengungkap siapa orang yg
melakukan ini semua. Kinal, bersiaplah.

Sesudah mengambil gambar didalam ruangan misterius yg ada dibalik rak
buku yg rusak itu, aku langsung keluar dari sana. Namun pintu itu
tertutup. Bagaimana bisa. Minimnya pencahayaan diruangan ini
mempersulit langkahku untuk sampai didekat pintu. Tunggu ada seseorang
berdiri tepat didepan pintu yg tertutup itu. Kemudian lampu yg terang
tiba-tiba menghiasi ruangan ini. Aku bisa melihat jelas sosok orang yg
berdiri didepan pintu itu. Wajahnya tertutup oleh masker dan tudung
jaketnya itu menghalangi kepalanya.

” Siapa kamu!” ucapku. Dia tidak merespon cepat pertanyaanku barusan.
Butuh waktu beberapa detik untuk dia mengeluarkan suaranya.

” sepertinya kepalamu menarik untuk di pajang didalam sana…”
ungkapnya diiringi suara pedang yg bergesrekan dengan lantai. Suara
itu. Sepertinya tidak asing ditelingaku. Tapi tidak mungkin jika itu
dia.

” apa-apaan ini!. Jangan bercanda!” aku mulai menjaga jarak dengannya.
Mundur beberapa langkah.

” aku sebenarnya ingin berhenti melakukan ini. Tapi karena terpaksa.
Maka aku akan melakukannya…” aku diam dan semakin mundur kebelakang.

” sebenarnya aku tau kamu selalu kesini. Aku bisa mencium bau parfummu
tadi pagi ditempat ini. Bodoh memang, menggunakan parfum yg identik
denganmu saat kamu datang kesini…” sambungnya.

” hah. Koleksi yg bagus untuk jadi yg terakhir. Mungkin.” ucapnya pelan.

Sial. Apa aku hanya bisa pasrah dalam keadaan seperti ini.  Dia
semakin dekat dan aku semakin terpojok. Suara pedangnya yg bergesekan
dengan lantai seperti melodi kematian untukku. Hah. Sudah berakhir
sepertinya.

” Bukkk!” suara pukulan itu tepat mengenai kepalaku dari belakang.
Tapi siapa yg melakukannya. Yg jelas bukan dia yg tadi membawa pedang
didepanku. Sial. Pandanganku mulai buram. Aku rasa tubuhku sudah
menyentuh lantai. Dan sekarang pandanganku menjadi gelap.

***

Huh. Kepalaku masih terasa sakit. Aku mencoba untuk mendudukkan
tubuhku. Berharap bahwa ini bukan alam lain. Darah berceran
dimana-mana. Aku berusaha menyadarkan diriku sepenuhnya. Dan memang
benar, cairan berwarna merah pekat itu bercecer dimana-mana. Dan aku
melihat dua orang yg sama-sama bermandikan darah itu tergeletak dan
sama-sama bersandar didinding ruangan itu. Aku bisa melihat bahwa
salah satu dari keduanya adalah Kinal. Dia terlihat dalam keadaan
lebih baik. Jadi kalau tadi itu bukan Kinal lalu yg memakai topeng itu
siapa. Pikiranku mulai kacau.

Tubuhku mulai bergetar hebat saat aku berjongkok didepan orang yg
memakai topeng itu. Desahan nafasnya sudah sangat lemah.

” Anin…” mulutku bergetar hebat. Bagaimana tidak. Dia adalah adikku
sendiri yg sudah berlumuran darah.

Ini tidak mungkin. Tidak mungkin. Aku mencoba menampar pipiku. Tidak.
Ini bukan mimpi.

Aku tidak bisa menjelaskan apa yg aku rasakan saat ini. Bagaimana
mungkin Adikku sendiri yg melakukan itu. Maafkan kakakmu ini yg tidak
bisa mengajarkanmu tentang hal baik. Maafkan kakakmu ini.

Sekarang aku hanya bisa melihat bagaimana adikku itu dibungkus oleh
kantung mayat karena para petugas kesehatan datang terlambat. Hanya
Kinal yg masih bisa diselamatkan. Jadi, dia tadi yg menolongku dari
kejahatan adikku sendiri. Sulit sekali untuk aku percayai tentang
kenyataan ini. Namun begitulah yg kulihat sekarang.

Semua telah berakhir. Dan aku berharap ini jadi yg terakhir. Aku tidak
tau alasan bodoh apa yg telah merasuki adikku. Tapi itu sangat bodoh.

***
Satu minggu setelah kejadian itu. Aku menemui Kinal dirumah sakit. Dan
begitulah dia, dia hanya memasang wajah datar. Aku jadi merasa
bersalah karena telah berperasangka buruk padanya.

Tentang kode 19-14. Dalam satu kotak, Lihat dibawah. Aku sendiri juga
tidak tau. Saat aku bertanya pada Kinal, dia sendiri juga tidak pernah
memberikan apapun atau menitipkan apapun pada adikku.

Misteri ini belum sepenuhnya berakhir rupanya. Siapa yg mau menemaniku
mengungkap tuntas semua misteri ini?.

*** THE END ***

@sigitartetaVRA

Yeah. Akhirnya ngegantung juga nih fanfict. Beliin mi goreng dulu baru lanjut.

Sekian dan Terimakasih.

Silahkan masukannya.

Iklan

2 tanggapan untuk “VEnomeNAL : Ruangan misterius

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s