Pengagum Rahasia 2, Part 36

*Hesp-Hesp!

“Masih ada sedikit bau dari kamarnya Ve, apa kemarin malem dia datang kesini?” pikirnya

“Eh ada kertas,”

Deva mengambil kertas yang tersangkut pada ikat leher boneka itu.

“Apaan nih? Surat?”

Deva membuka kertas itu. *Temui aku di taman kota jam 9…

“Heh,” Deva mengendus. “Ini pasti cuma akal-akalannya dia aja,”

Lalu Deva membalik kertas tersebut.

“Ada lagi?” Deva kembali membaca

*Kalau sampai gak datang, aku pastikan kamu gak akan pernah melihat wajahku lagi seumur hidup…

Membaca pesan tersebut Deva terdiam sejenak. Awalnya ia berpikir kalau surat tersebut hanyalah sekedar candaan, namun ketika membaca pesan terakhir di balik surat tersebut kini ia merasa khawatir.

Tanpa berkata apapun, Deva kemudian membawa boneka itu masuk ke dalam rumah.

~oOo~

Tepat pada pukul 9 Deva tiba di taman kota. Cukup ramai karena hari ini merupakan hari minggu, dimana semua orang berekreasi bersama keluarganya, dan juga temannya.

Ia menunggu di atas jembatan itu sambil terus melihat arloji di tangannya.

“udah lebih 10 menit, apa mungkin dia cuma main-main…?”

“Aku gak mungkin main-main untuk hal seperti ini, Dev…,”

“Eh!?”

Deva sedikit terkejut ketika mendengar suara yang tidak asing lagi di belakangnya.

Lantas Deva pun berbalik.

“Hai Dev…,”

“Um,” Deva hanya diam

“Jadi…kenapa Ve?” tanya Deva

“Ikut aku…,” Ve memegang tangan Deva dan membawanya pergi

Mereka kini berada di luar area taman.

“Kita mau kemana!?” tanya Deva

“Date…,”

“Hah?”

“Date! Hari ini kita bakalan ngedate!” ucap Ve memperjelas

“Kenapa!?”

Ve memegang erat tangan Deva sambil menyatukan jari-jari tangannya.

“Kalau cuma hal kayak gini, seharusnya aku gak sampai bolos kerja Ve!”

“Siapa peduli! Lagipula Hotel sama Restoran itu kan milik keluargaku,”

“What!? Terus ngapain kamu kerja disana!?”

“Ceritanya nanti aja, sekarang kita harus bersenang-senang Dev,”

-SKIP-

*Pant…

“Capeknya…,” Deva menghela nafas

“Kita main itu ya Dev…,” tunjuk Ve

Game Zone!?”

“Ayo!” lagi-lagi Ve menarik tangan Deva

“Tunggu!” ucap Deva

Deva hanya bisa pasrah dan terus menuruti kata-kata Ve disana. Sampai akhirnya kini mereka berada di dalam Game Zone tersebut.

“Buset! Banyak amat beli koinnya!”

“Biarin! Biar kita puas mainnya!”

“Huft…,” Deva mengusap wajahnya

“Pertama game yang naik motor ya,”

“Oh…ya,” balas Deva singkat

Deva mengikuti kemana Ve pergi.

Kini mereka berada tepat di depan game motor yang dikatakan Ve.

“Mana sini bagi koinnya,” ucap Deva

“Gak…,”

“Eeeehh!? Oh…kalau gitu aku tungguin kamu main,” ucap Deva kembali

“Kenapa kamu harus nunggu?” ucap Ve sambil naik ke motor tersebut

“Naik dibelakangku Dev,” ucap Ve kembali

“Hah? Bukannya gak boleh ya?” ucap Deva

“Siapa bilang?” balas Ve

“Ek…kenapa kita harus ngelakuin hal ini sih…,”

“Jangan banyak tanya, cepet naik!” Ve membentak

“A-Ah…,” Deva menggaruk kepalanya

Setelah lama berpikir, Deva kemudian naik di belakang Ve.

“Kamu siap Dev?”

“Um,” Deva mengangguk

Jari-jari mereka saling disatukan sambil memegang stang motor tersebut. Lalu game pun dimulai.

“Ahk! Um…,” wajah Ve tampak memerah

Pusat kendali stang motor tersebut benar-benar berada di tangan Deva. Dagu Deva sengaja disangkutkan di bahu Ve.

“Hey liat jalannya,” ujar Deva

“Uh…Um…,” Ve kembali fokus ke layar

Permainan berlangsung begitu lama, sekitar 5 menit lebih mereka bermain permainan tersebut.

“Dev…,” panggil Ve

“Hm?” balas Deva sambil menengok ke arah Ve

*CUPS!

            Ciuman itu mendarat dengan sempurna di bibir Deva.

“Umm…,” *Glek…

Deva hanya diam sambil menelan ludahnya.

“Biasanya kamu ngomel-ngomel,” ucap Ve

“Ah…,” Deva memalingkan pandangannya

“Lain kali jangan di tempat yang rame begini,” ujar Deva

Ve hanya diam sambil terus menatap ke arah Deva.

“K-Kita jadi kalah…,” ucap Deva

“Eh?” Ve kemudian melihat ke layar

“Hihi…kita main yang lain deh,” ucap Ve

Lantas mereka pun pergi dari tempat permainan motor tersebut. Selanjutnya mereka pergi ke tempat yang tampaknya banyak sekali orang yang mengantri.

“Dev naik itu…,”

“Eh…itu kan roller coaster buat anak-anak,”

“Bukan yang itu, tapi itu tuh…,” tunjuk Ve

*Jreng-Jreng…

            Deva terkejut ketika melihat wahana yang di tunjuk Ve.

“Kamu…berani?”

“Berani! Lagipula kamu bakal nemenin aku kan?”

“Huft…,” Deva menghela nafas

“Mumpung antriannya udah gak penuh, ayo!” Ve menarik tangan Deva

-SKIP-

“Kita paling belakang ya Dev,” ucap Ve

Mereka kini telah memasuki wahana tersebut.

“Kenapa gak di depan aja sih, biar tegang gitu,” ucap Deva dengan alis yang naik turun

“Gak!” balas Ve membentak

“Eh!? I-iya jangan galak-galak lah,”

“Huh!” Ve menggembungkan pipinya

Mereka pun naik di kursi belakang.

“Siap-siap…,” ucap Deva

*Breg! Bregek!

Roller Coaster itu mulai bergerak. Mulai dari menaiki tanjakan, lalu ketika sampai menuruni turunan yang tajam, semua orang disana pun berteriak histeris.

*Brak-Brak-Brak!

Suara roda Roller Coaster yang begitu keras terdengar.

“Set dah! Cepet amat!” Deva berpegang erat namun wajahnya masih menunjukan ketenangan

“Deva…,” panggil Ve

Suaranya begitu samar karena suara Roller Coaster tersebut.

“Deva!” teriak Ve

Setelah mendengar teriakan itu, Deva akhirnya menengok.

“Yaaaaa?” balas Deva bersuara keras

“Ini tempat yang bagus kan?” ucap Ve

“Hah? Apa?” ucap Deva

*CUPSSSS!

            Ve langsung mencumbu bibir Deva. Perlahan Deva menikmatinya sambil menutup mata.

(……………………………………………………………………)

*

*

Tepat di depan pintu masuk Game Zone tersebut, mereka berdua terdiam sejenak disana.

“Ek! Um…,” Deva sama sekali tidak menengok ke arah Ve

“Ini gak baik,” ucap Deva

Sedari tadi Deva terlihat memegang dadanya yang berdegup keras itu.

*Grab!

            Ve memeluk Deva dari belakang.

“Ini baik untukku Dev…,” balas Ve

Deva menarik nafas panjang. Sementara Ve benar-benar tidak memperdulikan orang-orang disekitarnya.

“Ve…,” ucap Deva pelan

“…Ek…,” Deva seperti tidak sanggup berbicara

“K-Kita cari makan dulu ya, um…,” ujar Deva

“Aku ikut kamu aja Dev,” balas Ve sambil terus memeluk

~oOo~

Di suatu cafe yang tak jauh dari game zone, mereka berdua tengah beristirahat sambil menikmati coklat yang dingin.

“Fyuh…capek banget, gara-gara tadi kita cuma muter-muter gak jelas di Game Zone,”

“Tapi kamu menikmatinya kan? Yang itu,”

“Ha? Uh…Um…,” Deva memalingkan pandangannya

“Eng ada coklat di bibir kamu sayang,” ucap Ve sambil mengelap coklat yang belepotan di bibir Deva dengan jarinya

*Clap!

            Ve kemudian mengemut bekas coklat di tangannya itu.

“Ish jorok!” Deva langsung mengambil tisue disana dan mengelap tangan Ve

Ve yang tangannya tengah di bersihkan oleh Deva masih fokus menatap ke wajah Deva.

“Ekhem! Waktuku tinggal 2 Jam lagi untuk bersenang-senang,” ucap Ve

“Eh? Maksud kamu?”

“Oke…,” Ve beranjak dari kursinya

“Tunggu dulu Ve,” Deva sedikit menarik tangan Ve

Lantas Ve pun perlahan duduk kembali di kursinya.

Tatapannya yang tajam membuat Ve kini sedikit lebih serius dihadapan Deva.

“Seperti yang kamu bilang, aku memang menikmati semua ini, tapi…,”

“Semua hal ini sama sekali belum kina rencanakan bukan? Jadi kenapa? Apa alasan kamu…,” tanya Deva berulang-ulang

Ve tersenyum. “Aku hanya ingin menciptakan memori yang indah bersama kamu Dev,”

“Mungkin kamu benar…aku harus menjalani semuanya setelah ini,” ucap Ve lagi

“Dan mungkin dengan semua hal yang sebelumnya kita lakukan, itu masih belum cukup untuk membuat kenangan yang indah,”

“Tapi aku percaya kamu pasti menikmati semua hal yang kita lakukan, maka dari itu aku juga…,” Ve tidak melanjutkan kata-katanya

*Grek!

            Deva beranjak dari kursinya.

“Koin yang kita beli masih banyak kan? Ayo!” ucap Deva

Mata Ve berkaca-kaca sambil menatap ke arah Deva.

“Em,” Ve mengangguk sambil tersenyum

~oOo~

Singkat cerita mereka pun menikmati semua permainan bersama-sama. Arloji menunjukan pukul 16.00. Kini mereka tengah berada di wahana biang lala.

Biang lala itu mulai berputar perlahan dan membawa mereka berdua naik ke atas.

“Aku pikir ini adalah tempat terakhir kita Dev,”

“Yah,” balas Deva sambil melihat pemandangan itu

Ve tampak menyandarkan kepalanya di bahu Deva.

“Aku gak tau berapa lama lagi aku bisa berada di samping kamu,” ucap Ve

“H-Hey…kita kan masih bisa kontak-kontakan lewat Line,” balas Deva

“Huh! Kamu ini kan gak suka main Line! Buka Chat dari aku aja lama!”

“Ahahaha…,”

*Cups!

            Ve mencium pipi Deva.

“Kalau kamu mau cari pacar lagi, harus yang lebih baik daripada aku ya,” ucap Ve

“Mmm…,” wajah Deva memerah sambil memalingkan pandangannya

“Hihi…kenapa malu-malu gitu sih?” ucap Ve sambil memegang pipi Deva

“Aku…gak tau…,” Jawab Deva

“Sebelumnya aku gak pernah menjalin hubungan dengan siapapun,” lanjut Deva

“Hem, Aku tau itu…,” balas Ve

Biang lala itu perlahan turun.

Dan kini mereka pun kembali turun ke bawah.

“Huh, seru juga,” ucap Deva sambil meregangkan badannya

“Dev…,”

“Ya?” Deva menengok

“Ada satu tempat lagi yang mau aku datengin,”

“Hm?”

-SKIP-

*

*

Tempat yang sepi namun lebih seperti tebing yang curam. Mereka kini berada di pinggir dari tebing tersebut.

“Di bandung ada tempat yang kayak gini juga ternyata,” ucap Deva

“Tempat ini ada dibelakang wahana yang kita mainin tadi,” ucap Ve

“Oh…,” Deva mangut-mangut

“Kamu tau Dev…tempat ini adalah tempat dimana aku sama teman-temanku main waktu dulu,”

“Bisa dibilang ini adalah tempat yang paling bersejarah dalam kehidupanku,” Jelas Ve lagi

“um,” Deva terdiam

“Kamu tau alasanku bawa kamu ke tempat ini Dev? Karena kamu…,”

“aku akan menyimpan semua kenangan tentangmu, sama halnya seperti tempat ini,”

“V-Ve…,” ucap Deva pelan

“Maka dari itu…,” Ve berbalik ke arah Deva

Wajahnya memerah dengan air mata yang bercucur ke pipinya.

“Jangan pernah temui aku lagi Dev!” teriaknya

Teriakannya itu benar-benar bergema.

Mereka saling bertatapan muka.

“Waktuku tinggal setengah jam lagi…aku harus pulang untuk menjalani proses pertunangan,” ucap Ve sambil menundukan kepala

“Dan setelah itu…kita gak akan pernah ketemu lagi,”

Ve kemdian berjalan melewati Deva lalu pergi.

“Ve!” ucap Deva namun Ve terus berjalan meninggalkannya

*Whuuuuss!

            Angin menghembus begitu kencang.

“Apa semua hal ini…salah…,”

“Ini benar-benar tempat yang bagus untuk perpisahan,”

Deva memandang langit yang biru itu.

*Dert-Dert!

“Ah?” Handphone Deva bergetar

Lantas Deva pun langsung mengecek Hpnya.

Five Missed Call, ini dari Gre!”

Pesan Line itu langsung dibuka oleh Deva.

*DEV! CEPET DATANG KESINI!

            Begitulah pesan Line yang masuk ke Hp Deva.

“Gawat!”

Tanpa pikir panjang, Deva langsung pergi dari tempat itu.

~oOo~

Kediaman Gracia pukul 17.00…

Deva terlihat akan mengetuk pintu berwarna coklat itu, Namun…

*Ceklek!

“Ayo masuk!”

Tiba-tiba pintu terbuka dari dalam dan seorang gadis langsung menarik Deva masuk ke dalam.

“Hua! S-Sabar dulu napa! Jangan tarik-tarik!” ucap Deva

“Ya ampun, kenapa rambut kamu acak-acakan gini!”

“Ya sorry lah Gre, orang tadi buru-buru kesininya,” balas Deva

“Buru-buru? Emang kamu dari mana sih?”

“Dari…eng…,” Deva celingak-celinguk sambil bergumam sendiri

“Udahlah aku gak mau denger alasan apapun sekarang, yang terpenting adalah kamu harus siap-siap untuk pesta makan malamnya sekarang,” ucap Gracia

“Ini kan baru jam 5 Greeee…,” balas Deva

“Pestanya tuh di mulainya jam 6 Dev!” ucap Gracia lagi

“He-Eh!? Itu kan masih keitung sore!”

“Mana ada! Udah deh sekarang kamu harus siap-siap! Nih!” Gracia tampak memberikan jas hitam kepada Deva

“Hah? Aku musti pake ini?”

“Iyalah!”

“Tapi ini punya siapa!?”

“Tadi pagi aku sempet ke mall untuk beli itu, udahlah jangan banyak tanya! Pake aja cepet!”

Melihat Gracia yang tampak panik, Deva pun tidak berkomentar apapun lagi. Ia hanya menuruti perintah dari Gracia.

Sekitar setengah jam mereka berdua bersiap-siap di kamar. Tanpa terasa Jam dinding telah menunjukan pukul 17.50, tepat pada 10 menit yang akan datang acara makan malam itu akan dimulai.

*Sret!

            Gracia menarik dasi yang dikenakan oleh Deva.

“Yap, sekarang udah rapih,”

“Oh, Um…,”

“Eng…Dev? Kenapa?” tanya Gracia

“Aha! Pasti kamu seneng karena selama setengah jam aku udah jadi istri kamu, yaya?”

“Bwahahaha! Istri apaan! Aku ini cuma sedikit gugup, tau? Sebelumnya aku gak pernah datang ke acara yang se-formal ini,”

“Terlebih lagi acara ini di khususkan untuk kita berdua, kan?” lanjut Deva

“Kamu santai aja Dev, kalau mami atau papi tanya tentang apapun ke kamu, kamu jawab *iya* aja,” ujar Gracia

“Ngomong begitu sih mudah, tapi kalau udah nyampe disana kan lain lagi ceritanya. Pasti bakalan ngeblank!”

“Ngeblank…dikata kita lagi ujian sekolah apa? Dah-dah, sekarang kita jalan bareng ke meja makan,” Gracia sedikit memeluk tangan Deva

~oOo~

Tepat pada pukul 18.00, mereka semua tampak telah berada ruang makan. Meja makan yang mewah dan besar itu dipenuhi oleh orang-orang, yang bukan lain lagi adalah keluarga dari Gracia. Sedangkan Deva…

*Bruk!

“Duh!”

“Ish…kenapa sih!? Santai aja kali!” ucap Gracia berbisik

“Kaki aku kepentok!” balas Deva bersuara pelan

“Lagian kenapa harus tegang begitu sih!” balas Gracia lagi

“Duuh…situasinya benar-benar rumit!” balas Deva lagi

“Mari makan nak Deva,” ucap pria yang duduk di hadapan Deva

“AH! I-iya Om!” balas Deva

Lantas Deva pun langsung mengambil pisau dan garpu itu. Kemudian ia mulai memotong steak yang disediakan di piringnya.

“Huh?” Gracia tampak heran ketika melihat Deva

Namun ia juga hanya menghiraukannya perilaku Deva tersebut dan kembali fokus ke piring di depannya.

*

*

Singkat cerita pesta makan malam itu berlangsung dengan lancar. Deva yang pada awalnya tampak gugup dan canggung itu, kini ia jadi sedikit lebih berani di hadapan keluarga Gracia.

Di meja makan tersebut kini hanya ada Deva, Gracia dan juga Ayahnya Gracia yang tampak sedang membersihkan mulutnya dengan tisu. Sedangkan orang-orang itu tampak pergi dari ruang makan.

“Um…Ah…K-Aku mau ke toilet dulu ya sayang, um…papi sama Deva ngegosip aja gih,” ucap Gracia

“Hus! Gosip apaan sih, lagipula papi baru kenalan sama nak Deva tadi,” balas Ayahnya

“Ahaha…,” Deva hanya tertawa

Gracia pun tampak pergi meninggalkan ruang makan. Kini hanya tinggal Deva dan Ayahnya Gracia disana.

Selama hampir 5 menit mereka berdua berdiam diri tanpa membuka pembicaraan apapun. Namun ketika Deva sedikit membelakangi Ayahnya Gracia, tiba-tiba…

“Nak Deva, coba duduk di samping Om…,” suruhnya

“HA!?” Mendengar itu, Deva sedikit kaget

Lantas Deva pun beranjak dari kursinya dan duduk di samping ayahnya Gracia.

“Ekhem! Nak Deva sekarang umur berapa?”

“Ah…enambelas tahun om,” balas Deva dengan lembut

“Oh…,”

“A-Anu Om…bicara soal pertunangan, itu…,”

“Saya paham…,” potongnya

“EH!” Deva terkejut

“Saya tau kalau Gre belum mau untuk bertunangan, bahkan dengan anak yang dulu pernah menyelamatkan hidupnya,”

“Loh!?”

“Ceritanya panjang, dimulai saat Gracia yang duduk dibangku kelas 2 SD. Yah, biasalah anak kecil kalau main bisa keluyuran kemana-mana,”

Deva tampak menyimaknya.

“Ketika dia sudah jauh dari pengawasan orangtua, sebuah kecelakaan terjadi menimpanya. Tapi beruntung ada seorang anak laki-laki yang dapat menolongnya waktu itu,”

“Um…kecelakaan apa ya Om?”

“Yah, dia naik ke atas pohon yang tingginya sampai 7 meter,”

“Buset dah!” Deva terkejut

“Haha! Dan setelah itu kami pun berhutang budi pada keluarga mereka dan berjanji akan menikahkan Gre dengan Pria yang menyelamatkannya dulu,”

“Oh….jadi begitu toh, EH!” Deva menutup mulutnya

Ayahnya Gracia tersenyum. “Om tau kalau kalian sebenarnya gak pacaran,”

“HA! Aaaahhh…Yahahaha!” Deva tiba-tiba sok akrab dengan Ayahnya Gracia

“Kita sebenarnya um…baru sebulan jalan sih Om, ya…gitu deh,” ucap Deva

“Gak perlu sampai seperti itu, Om udah tau kok,” balasnya lagi

“Eh…umm…,” Deva tampak murung dan menundukan kepala. “Maaf Om,”

“Gak perlu minta maaf, ini semua salah Om dan juga Ibunya Gracia, yang mana kami ingin melunasi hutang kami yang berupa janji itu. Tapi karena situasinya seperti ini, jadi…,”

“J-jangan, Om…,” ucap Deva memotong

“Lebih baik Gracia sendiri yang memilih, apakah dia ingin segera dijodohkan atau tidak. Itu sih pendapat dari Deva,” ucap Deva

“Wahaha!” pria itu tertawa. “Saya tau itu,” lanjutnya

“Dia itu selalu saja berbohong dihadapan Om,”

“Huh? Berbohong?” ucap Deva

“Tapi dia bukan berbohong untuk suatu hal buruk, melainkan untuk kebaikan dirinya sendiri,”

“Ah…,” Deva menggaruk kepalanya dan tampak masih kebingungan

“Sebagai contohnya kasus yang sekarang sedang kamu alami. Dia sampai bikin kamu jadi pacarnya untuk beberapa hari kan?”

“I-iya Om…,” balas Deva

“Nah, alasan utama kenapa dia ngelakuin hal ini karena…dia gak mau untuk dijodohkan bukan?”

Deva kembali mengangguk.

“Maka dari itu, untuk sekarang Om akan membiarkannya menikmati masa mudanya terlebih dahulu,”

Raut wajah Deva tiba-tiba berubah menjadi senang.

“Wah! Bagus dong kalau gitu Om!”

“Syukurlah karena kamulah yang telah membuka hati dan pikiran Om,”

“Ah, bisa aja nih Om,”

“Hemm…kamu sudah punya pacar?”

“HA!” Deva kembali terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh Ayahnya Gracia

“B-Belum Om…,” Jawab Deva namun tampak ragu

“Suatu hari nanti…kamu pasti akan mendapat gadis yang baik hati yang dapat menerima kamu apa adanya,”

“Amiiin! Terimakasih ya Om,”

“Dan ketika kamu udah dapat apa yang kamu mau itu, jangan sampai kamu mengecewakannya, ya?”

“M-Mengecewakan?” tanya Deva balik

“Kalau gadis yang kamu cintai itu benar-benar sayang sama kamu, kenapa juga kamu harus menghianatinya atau rela pergi meninggalkanya?”

Dari perkataannya itu, Deva langsung berfikir dua kali dan kembali menyerap kata-kata dari Ayahnya Gracia. Ia seperti tersadar akan suatu hal yang baru saja ia lewati.

“Om, keliatannya udah berpengalaman dalam hal Chinta!

“wah, alay juga kamu,”

“WA!? Om tau bahasa alay juga ternyata,”

“Meskipun Om udah 50 tahun, tapi Om juga masih tetep gaul,”

“Heh,” Deva mengendus

“Tapi…,” Deva kembali terdiam sambil mengingat-ingat sesuatu

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_So

Iklan

Satu tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 36

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s