Tak Lagi Tersisa 2: Masih dia

Semilir angin lembut hari ini begitu terasa dingin hingga terasa menusuk tulangku dan hampir setiap hari selalu seperti ini. Duduk disebuah taman yg tidak berpenghuni selain diriku. Hanya ditemani segelas coklat hangat yg tadi sempat aku beli. Mentari pagi ini cukup cerah namun tak secerah hatiku. Aissh. Jujur saja aku menyesali keputusanku meninggalkan tempat itu. Tapi ini sudah terjadi. Aku tak tau dengan apa yg ada dipikiranku saat itu. Tanpa pikir panjang dan inilah akibatnya.

Aku tak pernah bisa melupakan dia yg dulu selalu menghiburku dengan tingkah anehnya. Walaupun aku pernah merasakan apa itu sakit hati disaat dia menceritakan orang lain yg mungkin dia sukai. Ah, rasanya itu benar-benar membuatku sedikit memaksa melupakannya. Walau sampai kinipun tak dapat aku pungkiri aku masih menyimpan rasa itu. Tapi apa daya, aku yg lemah ini mungkin bukan tipenya. Tapi setidaknya dia tau sekarang, saat surat yg aku titipkan pada kakakku telah dia baca. Mungkin dia akan mengerti bagaimana perasaanku. Dan bodohnya aku, dengan begitu jelas menuliskan aku mengaguminya. Aku terlihat bodoh saat jatuh cinta. Dan mungkin memang benar.

Tapi mungkin dia akan terlihat biasa saat aku pergi. Toh, dia punya seseorang yg ‘lebih’ dibandingkan diriku ini. Dan itu terasa…ah, lupakan itu. Aku tak bisa menggambarkan perasaanku.

Aku selalu ingat saat dia memberikan sebuah permen padaku. Hmm. Aku ingat ada tulisan ‘I Love you’ di bungkus permen itu. Tapi mungkin aku terlalu mengada-ngada kalau seandainya dia menyatakan perasaan lewat sebuah benda bernama permen. Astaga. Tapi jika itu benar aku tak akan mempermasalahkan hal itu. Dan sayangnya itu tak terjadi.

” Sinka…!!!”

Suara itu menyadarkanku dari lamunan panjang yg tak mau berakhir ini. Dan memaksaku melihat ke arah sumber suara itu. Perlahan sosoknya telah sampai didepanku. Seseorang yg selama ini menemaniku disini. Di Negeri Sakura ini.

” ngelamun mulu?” ucapnya sambil mengambil tempat duduk dibangku sebelahku.

” sok tau kamu. Eh Ayana, aneh juga ya kalau orang Jepang ngomong Bahasa Indonesia?”

Dia mendelik kearahku.

” aku orang Indonesia, cuman mama aku aja yg orang jepang,” jelasnya menjawab pertanyaanku tadi.

Terlihat kini dia membuka bungkus roti yg dia bawa. Kemudian memakannya. Lucu sekali jika dia sudah seperti itu. Tak kusangka aku akan menemukan seseorang yg seperti dia disini. Tapi setidaknya itu lebih baik, bahkan terlampau baik. Dia orang pertama yg aku kenal ditempat ini. Setidaknya dia satu kelas denganku dan duduk dibangku sebelahku. Yah, aku jadi teringat sosok itu lagi.

” mau?” Tawarnya.

” makasih. Tadi udah sarapan kok.” Balasku menolaknya dengan sopan.

Aku hanya mengamati bagaimana perlahan taman ini dipenuhi oleh orang-orang berlalu-lalang. Beruntung jam tanganku masih menunjukkan pukul 08.43. Tunggu sebentar. Itu artinya aku terlambat masuk sekolah. Astaga. Cepat-cepat aku menarik tangan sahabatku itu menuju sekolah. Ah, sial. Aku yg payah dalam olahraga ini sudah tak mampu lagi berlari, kusambung dengan langkah kaki yg kubuat secepat mungkin.

Dengan seragam penuh dengan keringat dan juga nafas yg tak beraturan ini. Aku berdiri diambang pintu masuk kelas, setidaknya beruntung tadi gerbangnya belum ditutup. Dan kini aku mendongak kearah ruang kelas. Kudapati seorang guru melihat kearahku. Kemudian mulai berbicara dengan Bahasa Jepang. Setidaknya aku sedikit mengerti ucapannya.

Dia menyuruhku segera masuk kelas, tentunya bersama temanku yg berdiri dibelakangku itu. Beruntung memang tak harus menerima hukuman. Mungkin karena ini kali pertama aku terlambat. Yah, mungkin ada sedikit penurunan dengan diriku ini. Apa karena tidak ada dia. Astaga. Kenapa denganku ini.

Aku yg pendiam ini ‘mungkin’ tak terlalu akrab dengan teman-teman dikelas ini. Walaupun ada beberapa orang yg bisa bicara Bahasa Indonesia namun jarang sekali aku mengobrol dengan mereka. Hanya dengan Ayana aku menjadi sedikit banyak bicara. Aku memang payah dalam pergaulan.

Ku buka buku pelajaran hari ini sambil memperhatikan setiap penjelasan dari Guru itu. Terkadang memperhatikan seisi ruangan kelas yg memang terasa berbeda dari kelas aku yg dulu. Aku benar-benar merindukan kelas yg dulu, tentunya juga dengan teman-teman sekelasku.

Kunikmati setiap detik penjelasan materi yg sedang dipelajari. Tapi suara aneh yg terdengar ditelingaku sedikit mencuri perhatianku saat ini, memaksaku harus menoleh sejenak. Dia yg duduk disebelahku sedang mendengkur pelan. Sambil menyembunyikan wajahnya dibalik buku. Apa dia tidur lagi. Aku memukul pelan pundaknya agar dia segera sadar.
” bangun…” Bisikku pelan mendekati telinganya.

Teman sebelahku ini memang punya kebiasaan tidur yg tak terkendali. Dia pernah bercerita kalau pernah tertidur selama 22 jam. Aneh memang, tapi itu malah terdengar luar biasa. Beruntungnya meja yg kami tempati ini berada dipojokan paling belakang dan guru pun mungkin tak pernah menyadarinya jika dia tertidur dikelas.

Dengan perlahan matanya mulai terbuka, menatapku sambil mengucek matanya. Astaga dia tertidur beneran.

***

Langkah pelan menyusuri koridor menuju kantin. Ah iya, Udon. Tunggu aku. Makanan kesukaanku dan tentunya kesukaan temanku itu yg kini juga ikut berjalan disampingku ini. Karena dia dulu yg menceritakan tentang makanan itu.

Aku menunggu hingga makanan itu tiba dimejaku. Hmm. Baunya benar-benar menggoda. Mungkin soal makan aku memang paling cepat. Terbukti saat udon milikku telah habis dan milik Ayana masih sisa setengah. Ingin rasanya aku pesan udon sekali lagi. Tapi itu terdengar memalukan dan mungkin panggilanku akan berubah menjadi dudut lagi. Ah, aku jadi teringat dia lagi, aku dulu rela diet satu minggu demi dia. Agar dia tak memanggilku dudut lagi, tapi ternyata sia-sia. Aku malah jatuh sakit dan dia tetap memanggilku dudut. Tapi itu kedengarannya lucu. hihihi.

” habis ini mau kemana?” Tanyaku.

Dia terlihat mengelap area sekitar bibirnya menggunakan tissue.

” ke lapangan basket, gimana?” Balasnya sambil tersenyum penuh semangat.

” mau ngapain?”

” Mau balikin jaketnya temen aku, kemarin pas hujan dipinjemin,” balasnya.

Wajahnya memerah. Yah, dia malu-malu untuk bilang pacarnya. Hihihi.

” temen?, bener cuman temen?” Tanyaku menggodanya.

” iihh, seriusan.”

Dia langsung menarik tanganku menjauhi tempat itu. Tentunya menuju tempat lapangan basket.

Tak butuh waktu lama untuk tiba disana. Dan dia terlihat malu-malu mengembalikan jaket kepada temannya itu. Cukup lama aku berdiri dari pinggir lapangan hanya untuk menunggu sahabatku itu kembali kesini yg sepertinya memang akan lama. Mungkin sebaiknya aku pergi duluan menuju kelas.

” Bukkkk” aku mengelus kepalaku yg terkena lemparan bola basket itu.

” aduh…” Keluhku masih mengusap bagian kepalaku yg terkena lemparan bola basket itu.

Aku bisa mendengar langkah seseorang menghampiriku. Aku mendongak untuk melihat wajahnya, karena tinggi badannya lebih tinggi dari diriku.

” Sorry…Sorry. Are you okay?” Tanyanya.

Aku diam beberapa saat. Matanya juga menatapku. Rambutnya terlihat agak berantakan. Dan tangannya melambai tepat didepan wajahku.

” dari Indonesia?”

Bagaimana dia tau. Dan kenapa dia bisa bahasa Indonesia. Sedangkan wajahnya tak memperlihatkan orang Indonesia.

” ah, iya. Gapapa. Kok tau saya dari Indonesia?”

Aku yakin, dia pasti aneh melihatku ini. Perlahan tanganku serasa ditarik oleh seseorang. Dan ternyata Ayana.

” ayo, udah mau masuk kelasnya.” Serunya masih menarik tanganku.

Dan terlihat orang itu tersenyum kearahku. Tunggu, jangan kege-eran dulu. Sebaiknya jangan sampai kena penyakit cinta lagi disini. Sebaiknya jangan.

***

Malam telah datang. Memberikanku kesempatan untuk merebahkan tubuhku dikasur. Hidup sendirian memang terkadang membosankan. Kuraih ponselku yg tergeletak didekat jendela. Ada satu  pesan chat masuk disalah satu media sosialku. Tertulis jelas itu nama dari kakakku.

” gimana kabarnya?. Udah Sholat Isya’ belum?. Udah makan?. Udah mandi?. PR nya udah dikerjain belum?. Kapan balik kesini?”

Aku tersenyum membaca isi dari chat itu. Rasanya dia terlalu khawatir kepadaku ini yg memang selalu merepotkannya. Aku mengetikkan chat balasan untuknya.

“Mau dijawab yg mana dulu?” Balasku.

Terdengar nada dering dari ponselku. Sepertinya dia sudah menunggu balasan dariku ini sedaritadi. Aku membuka kembali isi chat darinya itu.

“Hehe… Yg mana aja. Kakak kangen. *emotpeluk*”

Aku kembali tersenyum melihat isi chatnya itu. Aku juga kangen. Kangen banget malahan. Aku ingat, aku belum pernah balik lagi semenjak aku disini enam bulan lalu.

” hmm. Udah semua kayaknya. Aku juga kangen.  Mama gimana?, sehat kan?”

” hihihi. Bagus deh. Sehat kok. Masih kayak kemarin.”

Waktu terus berlalu. Menghentikanku dari aktivitas chatku. Tak terasa memang, walaupun hanya lewat chat setidaknya itu sudah cukup. Cukup untuk membuatku semakin rindu keluargaku. Apalagi sama Ayah. Hmm. Apa Ayah masih melihatku disini. Melihat yg lain juga yg pasti Ayah sayangi. Aku yakin Ayah masih bisa melihatku meski aku tak mampu melihat Ayah lagi.

***

Pagi kembali datang memaksaku keluar dari ‘persembunyianku’ menuju kesekolah lagi. Tak terdengar deru mesin yg berlalu-lalang atau suara klakson saling bersautan ditempat ini. Karena mereka lebih suka menggunakan sepeda atau berjalan kaki menuju ketempat kerja atau sekolahnya. Berjalan pelan sambil mendengarkan pemutar musik lewat earphone ditelingaku ini. Benar-benar terasa damai.

Kini seseorang menepuk pundakku. Dia menghentikan sepedanya tepat disampingku. Aku melepaskan earphone yg terpasang dikedua telingaku. Tidak sopan rasanya jika aku membiarkan dia menggerakkan bibirnya tanpa aku mendengar suaranya.

” mau bareng?” tanyanya.

Aku memperhatikannya sebentar, melihat lebih detail lagi siapa dia. Dia itu yg kemarin.

” e-enggak usah, makasih,” balasku.

” beneran?” aku mengangguk.

” yaudah aku duluan.” ucapnya kembali mengayuh sepedanya.

Tak terlihat lagi sosoknya yg telah menghilang dibalik kerumunan orang yg sedang berjalan kaki. Aku mempercepat langkahku, setidaknya agar tak terlambat lagi.

***

Hari libur sekolah. Seandainya ada yg mengajakku untuk pergi kesuatu tempat hari ini. Sudah pasti aku tak akan menolaknya. Rasanya membosankan jika hanya menghabiskan waktu liburku untuk bermalas-malasan. Aku bukan orang yg seperti itu.

Ku buka jendela kamarku dan membiarkan cahaya matahari menerangi sebagian kamarku. Menghangatkan tubuhku sementara. Dan membiarkan udara segar juga masuk kedalam kamarku.

Berjalan pelan menyusuri jalanan. Tentunya demi sebuah udon. Jalanan pagi ini benar-benar ramai. Ku percepat langkahku menuju tempat biasa aku membeli udon. Tiba disana dan selalu penuh.

” arigatou…” ucapku pada orang yg kini menyerahkan bungkusan makanan yg tadi telah aku pesan.

Berjalan lagi menyusuri jalan pulang. Udara pagi ini benar-benar mendamaikan hati. Suara dari orang-orang yg juga berjalan kaki terdengar saling bersautan. Meskipun aku juga belum terlalu lancar berbahasa Jepang. Setidaknya aku sedikit bisa mengerti ucapan mereka.

” darimana?”

Aku menoleh kearah suara itu yg berada disisi kiriku. Dia tersenyum kearahku.

” ini tadi habis beli makanan,”

” mau kemana?” lanjutku,

” mau ngajakin kamu main kerumahku. Gimana?” balasnya sambil mengikat lenganku dengan kedua tangannya.

Aku tak tau ini ajakannya yg keberapa. Dan sama sekali belum pernah aku menerima ajakannya itu, dengan berbagai alasan. Tapi hari ini mungkin tidak bisa lagi mengelak darinya.

” gimana ya. Habisnya aku belum sarapan,” balasku.

Dia menatapku lagi, masih mengikat lenganku dengan kedua tangannya. Dia menatapku dalam dengan kedua matanya yg sayu itu. Seperti mau menangis. Dasar.

” ngeles mulu…” Balasnya tak menatapku lagi.

” kamu kayak anak kecil aja, masa gitu aja ngambek?”

” jadi main ya. Kali ini aja deh,”

” iyadeh. Tapi ini?” Balasku sambil menunjukkan bungkusan makananku itu.

” nanti makan dirumahku. Aku nanti beli makanan yg sama kayak kamu.” Balasnya diiringi langkahnya yg cepat menarik tanganku, dan memaksaku juga mengikuti kecepatan langkahnya.

***

Duduk diruang tamu sendiri. Aku tak tau apa yg sedang dilakukan oleh Ayana didalam sana. Terdengar suara langkah kaki dari lantai atas menuruni tangga. Aku tak tau siapa dia. Rambutnya seperti tak pernah disisir. Tatapan matanya terlihat malas dan beberapa kali dia menguap. Dia sekarang menatapku datar. Dan berjalan kearahku, dan semakin
dekat.

” lari…dia orang gila!!” Itu suara Ayana yg mengagetkanku.

” Awas Sinka!!” Teriaknya lagi.

Aku yg mendengar itu langsung berlari kearah Ayana. Berdiri dibalik tubuh mungilnya. Sambil sesekali mengintip dibalik punggungnya.

Orang itu. Kenapa dia. Apakah yg dikatakan Ayana itu benar. Dan kenapa orang itu bisa berada dirumahnya. Perlahan langkahnya semakin dekat. Semakin dekat dengan Ayana. Di menyentil keningnya Ayana dengan pelan.

” kamu itu yg gila…” Ucapnya.

” jangan dengerin dia. Kamu temennya Ayana?” Lanjutnya.

Dia melihat kearahku. Aku mengangguk mengiyakan ucapannya.

” semoga enggak ketularan jeleknya…” Ucapnya lagi sambil berjalan meninggalkan ruangan itu.

” kak Zaki…!!!” suara Ayana benar-benar terdengar lantang diruangan ini.

Ada yg tak kumengerti, dia bilang kak. Astaga apa orang tadi itu kakaknya. Tidak sopan sekali aku ini tak menyapanya.

” dia kakakmu?” Tanyaku penasaran.

” sebenarnya aku nggak berharap sih…”

” udahlah. Yuk kita makan udon!” Lanjutnya bersemangat mengajakku menuju ruang makan.

***

Duduk dibangku taman belakang sekolah. Seusai tadi menyantap makanan favoritku, aku putuskan untuk menuju tempat ini. Aku kesini sendiri tanpa Ayana. Ayana yg sedang dilanda virus hati itu mungkin kini sedang bersama dengan orang yg dia sukai itu. Hihihi. Lucu juga kalau dia sedang jatuh cinta. Dan aku yg mengenaskan ini. Maksudku yg masih… Hmm. Lupakan tentang itu.

Minuman dari kaleng ini seperti membuatku ingin membantingnnya. Kenapa susah dibuka sih. Astaga.

” butuh bantuan?” Seseorang datang menghampiriku yg sedang ‘bergulat’ dengan minuman kaleng ini.

Aku menatapnya sebentar. Dia lagi. Seseorang yg misterius yg selalu datang tiba-tiba. Dan nama diseragamnya bernama Taka. Dia yg memang misterius atau aku yg terlalu malu untuk menanyainya sedikit tentangnya. Aku tak tau. Perlahan tangannya mengambil kaleng yg aku pegang. Selang beberapa detik kemudian dia kembali memberikan kaleng itu yg sudah dia bukakan.

” nama kamu Taka?” Tanyaku. Dia menatapku sebentar.

” bukan. Taka itu nama samaran…”

” ini bukan seragam yg asli,” lanjutnya.

” Zayn malik…” Dia mengulurkan tangannya.

Untuk beberapa saat aku terdiam. Apa dia itu artis dunia yg sedang menyamar. Tapi kenapa tidak seperti yg ada digaleri foto di ponselku.

” Sinka. Seriusan namanya itu?” Aku menyambut uluran tangannya.

” bercanda kali. Panggil aja Viddy…” Balasnya.

Aku tak tau seberapa banyak ucapan kata yg telah keluar dari mulutku ini. Dia benar-benar bisa menarikku untuk berbicara lebih banyak. Ternyata dia juga pindahan dari Indonesia, dari Jogja. Aku ingat lagi tentangnya yg juga dari Jogja. Sepertinya Ingatanku sensitif jika ada yg menyangkut tentangnya. Yah, sepertinya rasa ini tidak bisa dipaksa
hilang begitu saja.

Sudah cukup lama dia menemaniku menghabiskan waktu istirahatku. Namun harus berakhir sampai disini. Waktu istirahat telah berakhir. Aku beranjak lebih dulu untuk meninggalkannya.

***

Malam kembali datang. Suara dering ponselku mengalihkan perhatianku sementara. Aku mengambil ponsel itu yg tergeletak di meja belajarku. Kakakku lagi. Video call kali ini.

” hai…”

Untuk beberapa saat aku terdiam. Mencoba memastikan siapa dia yg dengan seenaknya meminjam ponsel kakakku.

” kaget ya…” Kakakku muncul saat aku sedang mengamati seseorang yg tadi pertama muncul.

” tadi itu siapa?” Tanyaku.

” perlu digetok tuh kepala. Kebanyakan makan apa ya disana?. Tadi itu orang yg kamu suka kan waktu disini?”

” apaan sih. Kok…” Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku dia kembali muncul.

” gimana kabarnya dut?. Maaf ya, tadi dipaksa sama kakakmu buat ngomong sama kamu,” ucapnya kembali muncul.

” baik banget malahan. Ga ada lagi yg minta contekan. Iya, gapapa kok. Tadi kaget aja, aku pikir tadi itu alien yg ngebajak akun milik kakakku?”

” Yaudah selamat malam.” Ucapnya menghilang dari layar ponselku.

Panggilan telah berakhir. Secepat itukah. Ayolah, aku masih pingin ngobrol. Sebentar saja. Kenapa denganku ini.

Aku menggenggam ponselku. Kemudian langsung memencet nomornya untuk melakukan panggilan suara tanpa melalui kakakku.

” ada masalah?” Ucapnya diseberang sana.

” e-enggak kok. Anu itu…” Arrggg, kenapa jadi gagap gini.

” kenapa?. Kangen?”

” i-iya…hehe”

Astaga. Aku mengatakannya. Kenapa enggak bisa dikondisikan dulu ini mulut.

” makanya cepat balik kesini. Udah ada pacar belum disana?”

” iya deh. enggak mau pacaran dulu. Disini mau fokus sekolah aja,”

” bagus deh…”

” gimana sama Ve?. Langgeng?” Tanyaku mencoba terlihat biasa saat mengatakan itu.

Dia tak menjawab dengan cepat pertanyaanku barusan. Ada jeda beberapa detik sebelum dia memberikan jawabannya.

” apaan. Dia ngilang gitu aja.”

Sudah cukup lama waktu yg telah aku habiskan hanya untuk mengobrol dengannya via suara. Sepertinya harus berakhir sampai disini. Aku belum mengerjakan tugas sekolah. Dengan berat hati harus mengatakan ‘udah dulu ya’. Rasanya memang berat mengakhiri itu. Astaga.

Ku letakkan ponsel itu. Kemudian beralih ke tugas sekolah. Berkutat dengan soal itu lebih dari satu jam. Hmm. Lumayan sulit sih. Jadi butuh waktu agak lama untuk menyelesaikannya. Tapi karena sedang semangat. Jadi ya gitu. Hihihi.

Aku ingat ini pertama kalinya mengobrol dengannya sejak aku pindah kesini. Sebelumnya saat aku menelponnya tak pernah dia jawab. Dan saat dia menelpon balik, aku sedang tidak membawa ponselku itu. Aku tak tau kenapa itu bisa terjadi. Dan tadi sempat melihat wajahnya lewat video call. Lucu rasanya raut wajahnya itu. Dia tidak banyak berubah. Dan itu sukses membuat semakin mengerti apa itu arti kata dari rindu.

Tapi sepertinya dia hanya terlihat biasa. Tak membahas tentang surat itu. Huft. Mungkin aku tak layak berharap padanya. Tapi, ah sudahlah. Yg jelas dia tidak lagi bersama si Ve itu. Mungkin ini terdengar buruk. Kenapa aku malah bahagia. Ayolah jangan membahasnya, dia bukan tandingan. Dia terlihat jauh lebih baik. Seandainya aku laki-laki pun aku pasti lebih memilih dia. Aishh.

***

Waktu istirahat. Duduk dikursi penonton yg berada di samping lapangan basket. sambil sesekali melihat Ayana sedang bermesraan dengan ‘temannya’ itu. Aku mengalihkan pandanganku kearah lapangan basket. Hmm. Dia ada disana. Viddy ya, itu nama yg aku ingat. Dia sedang melakukan lemparan kearah ring basket. Ada lima kali percobaan, dan
masuk semua. Keren. Seandainya aku bisa seperti itu, mungkin aku akan dilihat juga sebagai sidudut yg ahli basket. Aku terlalu banyak berkhayal akhir-akhir ini. Dan itu terdengar aneh.

Dia berjalan kearahku sambil tersenyum. Aku mencoba memastikan lambaian tangannya, apakah itu untukku atau bukan. Aku menoleh kekanan, kekiri dan juga kebelakang. Tidak ada siapapun didekatku. Dia semakin dekat. Beruntung dia tidak menabrakku karena dia berhenti tepat didepanku.

” nunggu siapa?” Tanyanya sambil mengambil tempat duduk di sebelahku.

” itu, teman aku,” balasku sambil mendongak kearah Sahabatku itu.

” nunggu orang pacaran?. Aneh ya?” ucapnya santai.

Darimana anehnya. Jangan mengejekku.

” iya…” Balasku singkat.

” mending kita pacaran juga…”

Untuk sementara aku terdiam. Mencoba mencerna ucapannya. Apa tadi dia bercanda. Astaga. Apa telingaku sudah tak normal lagi. Jujur saja, aku gugup untuk menjawab itu.

” aku duluan…” Balasku.

Aku segera meninggalkan tempat itu. Bodohnya aku malah tak memberi keterangan. Aku sepertinya memang juga menaruh rasa. Tapi sejak kapan. Kalau seandainya aku jawab tidak. Itu artinya aku berbohong tentang perasaanku ini.

Dengan langkah cepat aku telah tiba dikelas. Menyembunyikan wajahku dengan buku pelajaran. Aku yakin wajahku memerah saat ini, diikuti detak jantungku yg tak beraturan.

Memang sejak aku mengenalnya. Aku mulai sedikit banyak bicara disini. Dia memang selalu menjadi magnet yg menarik suaraku untuk segera keluar. Dan itu selalu terjadi saat aku didekatnya. Dan aku nyaman. Ehem. Inikah virus hati ‘lagi’ yg mulai menyerangku. Aku tak tau. Sepertinya memang iya. hihihi. Dan itu artinya aku telah dapat pengganti orang yg semalam mengobrol denganku. Mungkin akan kujawab iya nanti.

***

Angin lembut pagi ini kembali terasa dingin. Jaket serta sarung tangan yg kupakai sepertinya belum mampu menghangatkanku. Berjalan pelan menuju sekolah, aku bertemu dengan dirinya lagi. Dia tersenyum kearahku. Sambil menungguku hingga aku sampai didekatnya.

” enggak pakai sepeda?” Tanyaku,

” enggak, biar bisa berduaan…” Jawabnya polos.

Jantungku berdetak tak beraturan lagi. Ayolah, terlihat biasa sedikit pasti bisa.

” kamu udah ada pacar ya?” Tanyanya lagi diselingi suara langkah kami berdua yg mulai meninggalkan tempat tadi.

” hmm. Enggak ada…”

” ah iya. Soal yg kemarin…” Dia menghentikan ucapannya.

” iya, terus…” Aku berbicara disela jeda ucapannya.

” jangan diambil hati. Aku hanya bercanda…”

Seketika hening. Kok sakit ya. Aku mencoba terlihat biasa, mengikuti setiap ucapannya. Walau aku tau kini saatnya bilang so this is Heartache 💔.

Mendengarkan suara dari ucapannya yg diselingi tawa renyah darinya. Dan aku hanya menjadi pendengar yg baik untuknya. Mendengarkan setiap ceritanya dan sesekali aku dibuat sedikit tertawa olehnya. Ah. Kenapa tadi harus bilang bercanda, padahal aku sedang penuh harap saat dia mengatakan hal yg seperti kemarin. Dan aku pasti bilang iya. Sudahlah. Lupakan itu.

***

Waktu berlalu begitu cepat hingga tak kusadari selama dua bulan terakhir ini. Aku selalu bersamanya menghabiskan waktu senggangku bersamanya. Namun tetap dengan status sama seperti sebelumnya. Huft. Padahal aku berharap lebih dari itu.

Kini langkahku menuju taman belakang sekolah. Menghabiskan sisa istirahatku sambil membaca buku komik yg kemarin sempat aku beli. Membaca sambil sesekali meminum minuman teh hangat yg menemaniku ini. Damai sekali. Namun seketika semua lenyap saat dia datang dan mengajakku mengobrol.

” tumben enggak sama pacar kamu?” Tanyaku padanya. Dia memukul bahuku pelan.

” bukan pacar!. Oh iya. Aku cuman mau nanya, Viddy itu siapanya kamu?”

Aku menutup buku komikku. Kemudian melihat kearahnya.

” kamu kenal Viddy?”

” iya. Udah lama sih. Sebelum kamu kesini…”

” yg tadi belum dijawab?” Lanjutnya.

” ah iya. Cuman temen biasa,” balasku.

Dia tersenyum jahil. Aku tak tau apa yg sedang dia pikirkan.

” beneran. Sedeket itu?. Apa karena foto seseorang yg ada digaleri ponselmu itu?”

Ingin rasanya aku pergi menjauh sekarang. Menghindari pertanyaan darinya ini. Tapi itu terasa tak mungkin.

” apaan sih. Lagian dia juga hanya temen…” Jawabku menekankan nada bicaraku.

Dia masih menatapku. Seolah sedang mengitimidasi diriku ini.

” Temen yg kamu sukai…hihihi.”

Apa dia tau banyak tentangku. Harusnya aku tak meminjamkan ponselku waktu itu. Aku menyesalinya.

Aku berdiri dari tempat itu, mencoba menghindari ucapannya yg semakin menyudutkanku. Setidaknya untuk mengatakan iya.

Tapi mungkin benar apa yg dia katakan barusan. Apa karena aku masih menyimpan rasa ini padanya. Aku tak tau lagi sekarang. Karena apa yg sedang aku pikirkan saat ini bukan lagi tentangnya. Mungkin memang ini saat yg tepat untuk melupakannya. Cinta pertama yg tak sempat aku miliki. Huft.

Tapi apa ini tepat untukku. Atau aku yg terlalu mudah untuk jatuh cinta. Tapi itu bukan kesalahan. Kenyataannya aku dan dia tidak ada status selain teman sebangku. Dan itu dulu. Jadi aku pikir biarkan semua mengalir seperti seharusnya. Tak usah lagi berharap padanya. Aku yakin dia bahagia meski tanpa aku.

***

Dia disini bersamaku. Duduk sambil memainkan buku yg dia bawa lalu memutarkannya diujung jarinya. Aku hanya mengamatinya, sesekali mencuri pandang wajah sampingnya. Tapi akhirnya dia menyadari tatapan mataku yg menuju kearah wajah sampingnya. Dia menoleh.

” kenapa?” Ucapnya masih menatapku dalam.

” e-enggakpapa kok. Itu kok bisa kayak gitu?” Balasku mengalihkan perhatiannya kearah buku yg dia putarkan diujung jarinya.

” mau coba?”

” enggak deh. Aku nggak bisa kayaknya,”

” coba aja dulu…” Pintanya.

Dia meraih tanganku. Kemudian mulai mengajariku. Namun apa daya. Aku mungkin tidak berbakat dalam hal itu. Buku yg aku putarkan malah mengenai hidungku sendiri. Tidak sakit sih. Tapi memalukan. Dia kemudian mengusap hidungku yg tadi kena buku itu.

Aku diam.

Dia juga diam. Menjauhkan tangannya dengan cepat.

” maaf…” Ucapnya pelan.

Aku masih diam beberapa saat.

” iya. Gakpapa kok.” Balasku.

Tadi jantungku berdetak kencang saat tangannya menyentuh hidungku. Mungkin dua kali lipat dari biasanya. Tapi Entahlah.

Cukup lama waktu yg terbuang hanya untuk menunggunya berbicara lagi. Namun sepertinya dia enggan untuk itu. Dan aku juga bingung dengan apa yg akan aku katakan padanya untuk memulai obrolan lagi.

Suara dari lonceng tanda masuk membuyarkan semua. Aku dan dia beranjak dari tempat tadi.

” aku duluan.” Ucapku berjalan lebih cepat darinya menuju kelas.

Perasaan itu lagi. Dan untuk kedua kalinya aku selalu gugup. Apa semua wanita akan merasakan dengan apa yg aku rasakan tadi. Entahlah, aku tidak tau akan hal itu.

Masih seperti kemarin. Ditempat yg sama. Dia kembali menemaniku disini. Aku rasa, aku semakin nyaman dengannya. Apa aku harus jujur tentang perasaanku ini. Tapi aku malu.

” nanti ada acara nggak?. Kalau enggak ikut aku nonton film…” Ucapnya menatapku sambil tersenyum.

Tanpa pikir panjang lagi. Aku langsung mengangguk. Kebetulan juga lagi ga ada jadwal mau pergi. Hihihi. Aku rasa itu akan terlihat menyenangkan. Hmm. Semoga saja.

***

Jaket sudah. Sarung tangan juga sudah. Pakai parfum sudah. Biar wangi dikit kan gapapa. Make up. Itu kan memang tak pernah aku lakukan. Lagipula untuk apa. Aku lebih suka begini. Padahal pingin make up juga tapi apa daya, diriku yg kurang tau tentang fashion ini tak bisa memakai peralatan make up sendirian. Huft.

Dering dari ponselku menyadarkanku. Aku meraih ponsel yg berada didekatku itu. Hmm. Dia sudah menungguku disana rupanya. Dengan cepat kurapihkan lagi rambutku. Memasukkan ponsel itu kedalam tas kecil yg ada dipunggungku. Saatnya berangkat.

Langkah pelan menyusuri jalanan kecil dari tempat tinggalku tadi. Aku sudah melihatnya menggunakan sepeda sambil melambai kearahku. Dengan cepat aku hampiri dia yg sepertinya sudah lama menungguku.

Romantis sekali rasanya. Jika menggunakan sepeda untuk berboncengan. Jika di Indonesia juga seperti ini mungkin juga akan terlihat lebih romantis.

Tiba disebuah studio tempat memutar film. Sepertinya dia telah membelikan tiket untukku. Terbukti dia sudah memegang dua tiket untuk langsung masuk kedalam studio.

Gelap. Itu yg aku pikirkan saat sudah masuk. Namun tangannya yg memegang tanganku menuntunku untuk mengikutinya. Hanya suara dari film itu yg terdengar ditelingaku. Semuanya seperti terhanyut dalam alunan film itu. Dia sepertinya juga.

Sudah selesai menonton film. Dia mengajakku melihat sebuah festival disalah satu pusat kota. Langsung saja aku angguki ajakannya. Cukup lama kayuhan sepedanya itu untuk sampai ditempat yg dituju.

Dan disini sekarang. Memandang orang-orang berlalu lalang untuk meramaikan tempat ini. Dia menarik tanganku untuk mengikutinya. Sebuah boneka beruang berukuran sedang itu kini berada digenggamanku setelah tadi dia berhasil memenangkan sebuah permainan ditempat ini. Aku sebenarnya sudah mencoba beberapa kali permainan itu namun selalu gagal. Dia yg sekali mencoba langsung berhasil dan hadiahnya langsung diberikan padaku. Duh senangnya. Hehe.

” habis ini mau kemana?” Tanyaku.

” nganter kamu pulang. Udah larut malam ini…” Balasnya sambil melihat jam tangannya.

Sayang sekali. Padahal aku ingin tetap berada disini bersamanya. Tapi, ya sudahlah lagian besok kan masih bisa kesini lagi. Semoga saja dia mengajakku lagi.

Berjalan pelan disepanjang perjalanan. Dia memilih mendorong sepedanya. Apa dia punya pikiran yg sama denganku yg tak mau moment ini segera berakhir. Mungkin iya. Udara malam ini sangat menggodaku untuk semakin mendekat kearahnya. Dingin sekali malam ini.

” kenapa?” Tanyanya melihat sikap anehku.

” gapapa kok. Cuman rada dingin udaranya..” Balasku.

Dia mendekatkan tubuhnya, kemudian memegang telapak tanganku. Dan berjalan bersamaan. Aku gugup lagi kali ini.

***

Duduk lagi ditaman belakang sekolah. Sepertinya tempat ini membuatku merasa nyaman. Tentu saja. Mungkin karena akhir-akhir ini selalu ada dia disini. Namun hari ini sepertinya dia tidak datang ketempat ini.

Hanya suara tawa dari seseorang yg ada diseberang sana yg terdengar ditelingaku saat ini. Aku mendongak kearah suara itu, karena aku pikir tawanya itu mengganggu suasana membacaku.

Aku diam saat tau siapa dia. Dia berdua disana sedang bercanda dengan seseorang. Dan terlihat begitu mesra. Aku menutup bukuku cepat. Kemudian meninggalkan tempat itu. Perasaan apa ini. Kenapa rasanya sakit sekali. Dia yg aku rasa dekat denganku dan kini dia bersama orang lain. Aku tak tau kenapa ini bisa terjadi dan rasanya terlalu menyakitkan. Apa aku yg terlalu berlebihan dalam menterjemahkan sikapnya selama ini.

Ku percepat langkah kakiku menuju kelas. Menenggelamkan wajahku di sebuah buku. Mencoba menekan rasa sakit ini. Ah, kenapa aku jadi kayak gini hanya karena perasaan yg tak bisa aku jelaskan.

” Sinka…” Seseorang menepuk pundakku.

Aku tau siapa dia tanpa harus menoleh kearahnya. Dari karakter suaranya itu pasti Ayana.

” aku gak tau kalau Viddy itu udah punya yg lain…” Lanjutnya.

Haruskah itu dibahas sekarang. Itu terlalu menyakitkan. Apa dia tadi juga melihatnya, dan mungkin iya jika dilihat dari cara dia berbicara.

” gapapa lah. Kan aku cuman temennya…” Balasku mencoba tersenyum kearahnya.

Walaupun jujur itu sedikit memaksa. Dia tersenyum juga kearahku. Kemudian memberiku sebuah minuman coklat.

” ini…biar ga kepikiran mulu,” ujarnya.

” apaan sih. Makasih ya.” Balasku menerima minuman itu.

Jujur saja dia memang selalu bisa membuatku tersenyum dengan ekspresi anehnya itu.

Lagi. Sepertinya soal masalah asmara, aku memang selalu gagal. Dan kenapa aku selalu saja yg tersakiti. Ah, lebay. Tapi kenyataanya memang begitu. Dua kali selalu menahan rasa sesak didada. Apa aku memang orang yg selalu salah dalam mengartikan sikap seseorang yg dekat denganku dan pada akhirnya hanya menyakitkan hatiku. Ayolah. Lupakan itu.

***

Dia datang menemuiku lagi hari ini. Duduk ditaman belakang. Aku diam, rasanya memang masih ada rasa sakit hati yg tersimpan untuknya. Dia menatapku aneh, dan aku hanya sesekali melihat kearahnya karena buku ditanganku sudah cukup untuk jadi perhatianku.

” kamu kok jadi aneh gini?” Tanyanya.

Aku diam beberapa saat. Namun terdengar tidak sopan jika aku tak membalas ucapannya.

” masa?. Padahal biasa aja kayak kemarin,”

” semalam kenapa ga dateng?”

Lagi aku terdiam. Aku ingat semalam dia mengajakku lagi ketempat itu. Dan itu pertama kalinya aku tidak membalas pesan singkatnya itu. Dan wajar saja jika dia bertanya seperti itu.

” ada tugas sekolah. Jadi ga bisa pergi…maaf ya?” Balasku sambil menutup buku.

Dia masih menatapku.

” aku kekelas dulu…” Ucapku meninggalkannya.

Mungkin tak harus sedekat itu dulu jika hanya menganggapku sebagai teman biasa. Hah, rasanya memang sakit.

***

Senja telah datang. Membiarkanku duduk disebuah bangku taman kota sendirian. Maksudnya tidak ada temanku disini. Karena mereka yg ada disini sama sekali tidak aku kenal. Suara dari earphone yg terpasang dikedua telingaku sudah cukup untuk menghilangkan suara dari mereka-meraka.

” aku pernah berfikir tentang hidupku tanpa ada dirimu. Dapatkah lebih indah dari yg kujalani sampai kini…” Sepenggal lirik lagu yg kini sedang aku dengarkan.

Tanpa sengaja suara hatiku juga ikut bernyanyi. Aku teringat lagi tentangnya. Ah, sepertinya aku harus menghubunginya nanti malam. Hihi. Semoga saja dia ingat lagu itu. Dia yg benar-benar aku sayangi. Ehem. Namun sekali lagi, dia tidak punya rasa yg sama. Tapi setidaknya aku tidak menaruh rasa sakit hati padanya saat ini. Ah, iya. Akhir-akhir ini aku memang tidak memberi kabar padanya itu karena sebelumnya ada seseorang yg…ah. Lupakan. Aku tak mau membahasnya lagi kali ini.

Seperti yg tadi aku rencanakan. Selesai mengerjakam tugas sekolah, langsung kuraih ponselku. Mencari kontak nomornya. Hmm. Kesannya terburu-buru sekali aku ini. Aku tak peduli.

” ada yg bisa dibantu?”

Suara perempuan. Ah, kenapa jadi gini.

” i-ini siapa ya?” Balasku.

” lah, tadi kan kamu yg nelfon duluan. Harusnya kan aku yg nanya sama kamu?”

Langsung saja kuakhiri panggilan suaraku itu. Ah, kenapa malah tambah sakit. Apa wanita sepertiku diciptakan untuk selalu sakit hati. Beruntung memang sakit hati itu tak butuh operasi untuk kesembuhannya. Jika iya, sudah berapa ratus juta uang yg harus dikeluarkan keluargaku hanya untuk menyembuhkan sakit hatiku ini. Aisssh.

Tak selang beberapa lama ponselku berdering. Kulihat dilayar ponselku yg terpampang jelas namanya. Dia yg tadi aku telfon. Apa pacar barunya itu mau marah-marah padaku. Tak akan kujawab panggilan darinya.

Sudah beberapa kali ponselku itu berdering dengan nama penelfon yg sama. Dan itu mengganggu sekali.

” maaf tadi salah nomor…” Ucapku langsung, setelah aku menjawab panggilannya.

” ini Sinka si dudut itu kan?. Maaf tadi si Vienny yg ngangkat. Maaf ya, kalau dia berbicara seenaknya…” Balasnya diseberang sana.

Suara itu. Aku yakin itu dia. Aku menyesali prasangka burukku itu. Aku ingat siapa Vienny itu, dia yg memang selalu membantu mengerjakan tugas miliknya.

Terdengar suara buku yg seperti mengenai seseorang. Sepertinya ada keributan diseberang sana.

” ah. Iya. Ternyata masih ingat ya?” Balasku.

” iya lah. Maaf ya ini ada sedikit keributan ditempatku ini. Si Vienny lagi marah-marah ga jelas.”

Sudah cukup lama ponselku ini menghubungkan suaranya. Apakah akan berakhir lagi. Sayang sekali. Suara ‘tut..tut…tut’ itu menghacurkan semua. Dia bilang mau mandi dulu. Astaga, jam berapa ini. Dasar pemalas. Tapi kok aku bisa suka ya sama dia dulu dan mungkin sampai saat ini. Entahlah. Sepertinya memang sulit untuk aku pungkiri tentang
semua itu.

Ponselku kembali berdering tapi bukan dari orang itu. Viddy. Apa dia mengajakku pergi lagi. Sepertinya iya. Ku baca pesan singkat darinya dan benar saja, dia mengajakku lagi. Maaf Viddy. Aku nggak bisa malam ini.

***

Sepertinya aku memang sedikit menjauh dari Viddy. Dan kesannya aku terlalu berlebihan untuk mengutarakan perasaan sakitku. Dan itu terdengar buruk. Aku yg terlalu berharap dan akulah juga yg merasakan sakitnya. Tapi perlahan, aku mulai sadar dan memang harus segera sadar. Aku tak perlu jatuh cinta padanya karena dia sudah bahagia dengan yg lain. Dan aku tau, harusnya aku tak usah menggantungkan perasaan setinggi itu karena jatuhnya memang sakit.

Ku hampiri dia yg sedang duduk sendiri di bangku samping lapangan basket. Aku memegang sebuah benda yg aku sembunyikan dibelakangku. Beruntung memang tempat ini sepi tidak ada siapapun selain dia tentunya dan aku yg sedang berjalan kearahnya ini.

” makasih ya. Ini aku balikin. Maaf aku nggak bisa ngejaga itu dengan baik,” ucapku sambil menyerahkan benda itu.

Sebuah boneka beruang yg dia berikan waktu itu. Dia menatap boneka itu kemudian menatap kearahku.

” jangan sakiti dia yg menyayangimu…” Ucapku lagi.

Perlahan dia menerima itu dengan raut wajah bingung. Aku tersenyum.

” temen itu ga harus ngasih sesuatu…” Lanjutku.

” ini kan buat kamu?” Balasnya masih menatapku.

” makasih sebelumnya. Tapi mending kamu kasih sama orang yg lebih pantas, bukan orang sepertiku ini,”

” tapi kan…” Belum sempat dia melanjutkan bicaranya, seseorang datang menghampirinya.

Seseorang waktu itu. Aku mencoba tersenyum kearahnya. Dia yg terlihat asli orang jepang itu kini juga tersenyum kearahku. Kemudian seperti memaksa menarik tangannya Viddy untuk menjauh. Aku tersenyum saat melihatnya menatapku dengan tatapan yg tak bisa aku jelaskan. Semoga bahagia. Viddy.

***

Selimut pagi ini benar-benar mendekapku dengan hangat. Membuatku enggan meninggalkannya. Beruntung memang, karena hari ini libur sekolah. Jadi bisa lebih santai menikmati waktu tidurku. Namun aku teringat sesuatu. Udon. Aku harus mencarimu lagi.

Setelah mandi dan tentunya berganti pakaian langsung saja aku pergi dari tempatku tadi. Menyusuri jalanan yg panjang dengan ditemani suara dari earphone yg masih menggantung dikedua telingaku. Lagu itu lagi. Aku jadi teringat dirinya lagi. Seseorang yg tidak mau dipanggil namanya itu. Aneh juga dia itu. Sok misterius.

Tiba disebuah tempat penjual makanan. Langsung saja aku pesan makanan kesukaanku itu. Dan buru-buru aku kembali lagi ke tempat tinggalku setelah pesanan itu datang dan tentu saja sudah membayarnya.

Liburan hari ini kuhabiskan hanya untuk menonton film lewat laptop kesayanganku. Mungkin terdengar membosankan kehidupanku ini, namun begitulah aku. Aku lebih suka begini.

Hari telah berganti. Aku rasa semakin hari, semakin jauh juga jaraknya antara aku dan dia. Dia yg dulu selalu disini menghabiskan waktu istirahat bersamaku. Ditaman belakang sekolah ini. Sekarang jarang sekali mengobrol dengannya, lagipula pacarnya itu sepertinya tidak suka jika aku dekat-dekat dengannya. Ya jelas lah, siapa juga yg enggak suka kalau cowoknya deket sama cewek lain. Sok tau. Kayak yg pernah pacaran aja. Hiks.

Aku tak mempersalahkan hal itu. Dan mungkin itu lebih baik. Lagipula aku juga tak akan mendekatinya lebih dari teman biasa yg satu sekolah. Walaupun sempat berharap lebih. Tapi tidak lagi untuk saat ini.

Ku nikmati setiap detik ditempat ini untuk membaca buku lagi. Hingga waktu istirahat telah habis. Dengan langkah pelan aku meninggalkan tempat itu. Tak kusangka aku berpapasan dengan dirinya saat aku hendak menuju kelasku. Dan lagi, dia menatapku seperti itu. Tatapan yg tak bisa aku jelaskan. Tapi aku yakin, itu bukan tatapan kehilangan akan sosok diriku ini. Karena walau bagaimanapun aku telah mengenalnya sejauh ini, aku juga akan tetap ada untuknya andai dia butuh sesuatu dariku tapi sebagai panggilan lain dari kata sahabat, seperti yg dia mau. Sahabat.

***

Aku berharap liburan panjang segera tiba. Karena itu artinya aku akan kedatangan tamu keluargaku. Aku rindu sekali dengan mereka. Walau mama juga sering kesini namun tidak dengan kakakku. Hmm. Dia hanya beberapa kali kesini dan itupun tak sampai tiga hari saat dia tinggal disini. Kenapa dia ga sekalian pindah kesini. Tapi ga jadi mandiri dong aku ini. Ah, sebal.

Ku rilis jadwal liburan panjangku. Satu minggu lagi. Ayolah waktu, cepatlah berganti. Aku ingin segera bertemu mereka.

Ku lewati hari-hari seperti biasanya. Tak ada kejadian yg membuatku harus mengingat semua kejadian yg aku alami.

Dan inilah yg aku tunggu. Liburan panjang telah tiba. Menunggu hingga mereka menghubungiku bahwa mereka telah tiba dibandara. Hihihi. Aku kangen berat sepertinya. Ku bangunan tubuhku pagi-pagi sekali. Menunggu hingga ponselku berdering.

Ah, itu dia. Ponselku berdering. Aku menatap layar ponsel milikku itu. Mama. Langsung saja aku jawab panggilan orang tersayangku itu.

” mama udah dibandara ya?” tebakku cepat.

Namun jawaban yg aku nantikan ternyata berbeda dari apa yg aku pikirkan. Mamaku tidak bisa kesini untuk liburan kali ini. Ah, harusnya aku yg kesana. Tidak sopan sekali aku ini. Tapi kata mamaku, Kakakku yg datang kesini dan katanya bakal agak lama tinggal disini. Senang sekali, walaupun mama ga bisa dateng, tapi kakakku sudah cukup
untuk menghapus kerinduan ini.

***

Aku sudah menunggunya disini. Disebuah stasiun kereta. Karena kakakku menyuruhku menjemputnya ditempat ini. Menunggunya yg entah kapan akan tiba. Duduk disini. Menunggu hingga sosok itu memperlihatkan wajahnya. Ah itu dia. Seseorang yg sedang celingukan, sepertinya dia mencari keberadaanku. Langsung saja aku hampiri dia. Memeluknya erat. Aku tak peduli dengan orang-orang yg menatap kearahku. Sepertinya kakakku kaget dengan apa yg aku lakukan. Kaget karena sebelumnya dia belum menyadari keberadaanku ini.

” dut…lepasin. Kakak susah nafas!” pintanya sambil mencoba melepaskan pelukanku ini.

Aku tak peduli. Masih saja aku memeluknya. Namun saat kakakku sudah batuk-batuk aku langsung melepaskannya.

” kangen tau?. Kak Naomi kenapa jarang kesini sih?” balasku.

” lah kan. Kakak juga sekolah. Udah ga inget apa?” balasnya sambil memukul pelan kepalaku.

” eh. Maaf. Bisa bantuin barang kakakmu. Ini lumayan berat…” suara seseorang memecahkan keributan kecil dengan kakakku.

Tapi tunggu. Suara itu. Apa dia ada disini. Untuk seketika aku mencoba menepis bayangan tentangnya.

” loh kok malah diem…”

Aku langsung mencari sumber suara itu. Aku terdiam mematung. Dia, dia benar ada disini. Berdiri dengan sebuah koper besar yg dia bawa sambil menatapku.

” k-kamu…” ucapku mencoba memastikannnya.

Semoga saja mataku ini masih berfungsi normal. Dan bukan hanya sebuah bayangan yg aku lihat.

” itu kakakmu yg maksa…” tangkasnya sambil mendongak kearahku. Aku hanya mendengar pelan suara tawa dari kakakku.

Aku tak tau lagi, apa yg harus aku katakan. Aku tak bisa menjelaskan perasaanku ini. Dia datang untukku.

***

Disini sekarang. Ditempat tinggalku. Membiarkan kedua tamuku itu mengistirahatkan tubuhnya. Ku lihat kakakku sudah tertidur pulas sedangkan dia masih asik melihat sekitar lewat jendela.

” gimana sekolahnya?” tanyaku padanya. Dia mengalihkan pandangannya, kemudian menatapku.

” yg jelas ga bisa nyontek lagi, ” balasnya. Dia tersenyum.

” bagus dong?”

” dapet hukuman mulu jadinya…” balasnya tak lagi menatapku.

Dia menatap kearah luar jendela lagi. Aku ingin tertawa saat ini. Tapi aku coba menahannya. Ini bukan saat yg tepat untuk mentertawainya.

” maaf ya…” ucapnya tanpa menoleh kearahku.

” maaf buat apa?” balasku yg memang tidak tau apa yg dia maksud.

” ga tau. Mau minta maaf aja…”

” errr. Ga jelas banget kamu itu?”

Hanya tawa pelan darinya yg terdengar kini. Entah kenapa aku juga ikut tertawa pelan sepertinya.

” kapan mau balik?” tanyaku.

” besok kayaknya…”

” kok buru-buru?”

” belum sempet pamitan kalau mau kesini. Kenapa emang?” ucapnya menatapku. Tatapan itu. Itu yg selalu membuatku rindu.

” pamitan sama pacar?” tanyaku lagi.

Dia malah tertawa. Aneh. Padahal ga ada yg lucu.

” apaan. Ga ada pacar-pacaran.” balasnya masih diselingi tawa pelan darinya.

Tak kusangka aku bisa melihatnya disini. Melihat senyumannya yg selalu aku rindukan. Ah. Kenapa harus berakhir cepat waktu seperti ini.

***

Dan karena permintaannya. Aku menurutinya, menemaninya jalan-jalan dimalam hari. Meskipun kakakku tidak ikut, mungkin dia kelelahan atau dia mau membiarkanku hanya berdua dengannya. Ah, aku jadi teringat sesuatu. Tempat acara malam itu. Aku langsung mengajaknya kesana. Tiba disana dan aku langsung mengajaknya makan udon. Dan sepertinya dia juga suka. Kemudian beralih ke sebuah permainan yg ada disana.

Ternyata dia jago juga, dia bisa dapat boneka panda agak besar. Tapi dia tidak memberikannya padaku. Dia memasukkan boneka itu kedalam tasnya. Huft. Padahal aku berharap dia memberikannya padaku yg kasihan ini. Karena sedaritadi selalu gagal dalam permainan itu.

” seru juga ya disini…” ujarnya.

” makanya jangan buru-buru balik.”

Tidak ada suara lagi darinya. Dia menggigil. Hihihi. Mungkin dia belum terbiasa dengan udara disini.

” dingin. Cari minuman yg anget atau apalah biar angetan dikit,” ucapnya lagi.

Langsung saja aku angguki ucapannya. Coklat panas mungkin pilihan tepat.

Dua gelas coklat panas kini aku bawa menuju kearahnya yg sedang melihat-lihat sebuah buku komik. Ku hampiri dia dan menyerahkan gelas berisikan coklat panas itu.

” makasih…” ucapnya.

Aku tesenyum membalas ucapannya itu. Dan sekarang duduk bersamanya disebuah bangku taman. Memandanginya yg sedang melihat isi dari komik yg tadi dia beli. Dia penyuka komik seperti diriku. Hihihi.

Kuperhatikan wajah sampingnya. Ada beberapa yg berubah darinya. Potongan rambutnya sudah berbeda dari yg dulu. Terkesan lebih rapi. Dan yg paling terlihat adalah cara bicaranya. Dia sekarang lebih bisa mengatur apa yg akan dia ucapkan. Itu adalah perbedaan yg paling mencolok. Dia lebih dewasa sepertinya sekarang. Ehem.

” ah iya…” ucapnya tiba-tiba yg menyadarkanku.

Dia menutup buku komiknya.Kemudian memasukkannya kedalam tas. Dia mengeluarkan boneka pandanya.

” kamu kan suka panda. Ini buat kamu aja…” lanjutnya menyerahkan boneka itu padaku.

Aku diam. Memandanginya sebentar. Dia tersenyum. Dan beberapa saat kemudian aku menerima pemberiannya itu.

” makasih…” ucapku. Sambil memeluk boneka itu.

” ng. Itu kok dipeluk segala bonekanya?”

” kasian tuh bonekanya. Nanti dia kempes gara-gara dipeluk kamu?” lanjutnya.

Aku memukul pelan kepalanya. Ah, dia masih seperti dulu. Dan aku harap dia tidak pernah berubah. Tetaplah seperti itu.

” Apaan sih…” balasku.

” iya-iya. Enggak jadi deh.” balasnya sambil menghindari pukulan-pukulanku.

Ya begitulah. Jika bersamanya, waktu begitu cepat berlalu dan sudah saatnya untuk meninggalkan tempat ini.

***

Ingin rasanya aku menggenggam tangannya agar dia tidak pergi dariku. Tapi siapalah aku ini. Ditempat ini. Aku mengantarnya untuk kepergiannya. Secepat inikah waktu bersamanya disini. Ayolah.

Dia menatapku. Seperti memikirkan sesuatu. Ayolah katakan saja, aku siap mendengarnya.

” dut…” panggilnya.

” iya, kenapa?” balasku.

Aku berharap dia membatalkan kepergiannya kali ini. Semoga saja itu benar terjadi.

” soal surat itu. Sepertinya aku ga pantes buat dapet itu dari kamu?”

” iya. Kamu pantesnya dapet yg lebih dari aku kan?” balasku.

Dia menatapku lagi.

” bukan gitu. Kamu tau?. Sejak kita ketemu pertama kali saat masuk SMA aku udah punya rasa itu. Tapi kenapa aku ga pernah ngomong jujur sama kamu. Karena aku ngerasa ga pantes buat sedekat itu sama kamu. Kamu anggap aku sebagai teman itu lebih dari cukup buat aku. Kamu bisa dapetin orang yg lebih baik dan aku yakin akan hal itu…” jelasnya masih menatapku.

” iya, dan sayangnya aku ga pernah ketemu sama orangnya…” balasku yg juga menatapnya.

Dia diam. Tak mengucapkan sepatah katapun.

” jadi mau nya gimana?. Kita tetap teman atau…” ucapnya menggantung.

” apa kamu mau menungguku sampai nanti aku dapat pekerjaan?” lanjutnya.

” terus habis itu?” tanyaku.

” Kita nikah…” ucapnya pelan.

Semilir angin lembut sore ini seperti menamparku. Menyadarkanku. Jantungku berdetak kencang. Perasaan apa ini. Ini lebih dari yg biasa aku rasakan.

***

Lambaian tangannya mengiringi langkah kakinya menuju pintu masuk pesawat. Meninggalkanku disini dengan sejuta harapan yg dia berikan. Aku tersenyum saat pesawat itu telah lepas landas.

“aku selalu bermimpi tentang indah hari tua bersamamu…” aku teringat lagi lirik lagu itu.

Aku pasti menunggu saat itu. Pasti. Aaron.

~the end~

@sigitartetaVRA

Ini adalah lanjutan cerita dari judul cerpen Tak Lagi Tersisa namun berbeda sudut pandang. Semoga bisa dimengerti inti dari ceritanya.

Terimakasih buat yg telah menyempatkan waktunya untuk membaca cerita dari imajinasi saya ini.

Silahkan kritik dan sarannya…

Iklan

2 tanggapan untuk “Tak Lagi Tersisa 2: Masih dia

  1. Dari awal baca gue gak tau nama tokoh utama cowoknya. Dan ternyata tokoh utamanya aron adeknya ve. Berharap bisa bersatu mereka berdua. Ditunggu part ke 3 nya yg menceritakan mereka ahirnya menikah.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s