“Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 24

Seminggu sudah berlalu, sejak kejadian dimana putusnya Robby dan Shania, dan juga pertengkaran antara Robby dengan teman-temannya. Selama seminggu itu Robby selalu menjauh apabila teman-temannya mendekati dirinya, terkecuali Shani dan Gre. Karena memang mereka berdua tidak mengetahui apa-apa..

Shani berjalan memasuki kantin kampus setelah mata kuliahnya selesai, ia melihat teman-temannya sudah berada di sana. Tetapi yang menyita perhatiannya sekarang adalah orang yang sedang duduk jauh dari mereka.

Shani pun berjalan mendekat pada orang tersebut, lalu ia pun duduk di sampingnya.

“Udah selesai?”

Shani mengangguk, “Iya, baru aja selesai. Kamu masuk kelas bentar lagi kan?”

“Iya, habis ini juga mau ke kelas.”

“Yaudah, kuliah yang bener tuh. Jangan tidur kamunya.” Shani berjalan mengambil minuman yang ada di lemari pendingin, dan duduk kembali di samping Robby.

Shani meneguk minumannya setelah membuka minumannya tersebut, kemudian ia menatap teman-temannya yang jauh dari mereka berdua. Matanya memicing ketika Viny yang terlihat menatap mereka. Shani tersenyum ketika Viny melihatnya, begitu pula Viny tetapi hanya sebentar saja karena mengingat orang yang sekarang berada di samping Shani ini keadaannya sedang tidak bersahabat dengan mereka.

“Rob?”

“Hm?”

“Kenapa sih gak gabung aja sama yang lainnya?” tanya Shani.

“Males,” jawab Robby datar.

“Kalau ini tentang masalah yang kem-,”

“Aku duluan ya Indira.” Robby bangkit dari duduknya meninggalkan Shani sendiri yang masih belum menyelesaikan ucapannya.

Shani menghela nafasnya, selalu saja begini. Ketika ia membahas tentang masalah itu dan teman-temannya, Robby selalu menghindar tidak mau mendengarkan ucapannya. Belum menyelesaikan ucapannya, ia sudah pergi begitu saja.

Dengan mood yang tidak enak Shani beranjak dari duduknya, kemudian membayar minuman yang ia ambil tadi. Dan berjalan menuju tempat teman-temannya berada.

Sadar akan perubahan raut wajah Shani, Viny menyuruhnya untuk duduk di sampingnya. Dirangkulnya Shani dan mengelus pundaknya lembut untuk menenangkan dirinya.

“Sabar ya. Dia lagi gak mood buat bahas masalahnya, nanti dia pasti nyelesein kok.” Viny tersenyum sambil tetap mengelus pundak Shani.

Shani tersenyum mengangguk.

Mungkin benar, Robby sekarang memang mengalami masalah yang cukup melukai hatinya. Shani tau, walaupun ia terlihat kuat dari luar. Tetapi di dalam dirinya, pasti ia masih mempunyai hati, dan ia pasti merasakan bagaimana kecewanya dirinya ketika tau semuanya..

~

Entah berapa lama sudah Robby berjalan menyusuri jalanan pada sore hari ini, dengan rasa yang penuh bosan di apartement. Maka ia pun berniat berkeliling di sekitar apartementnya, tetapi nyatanya ia sekarang tidak tau kemana kakinya membawanya. Sudah lumayan lama ia berjalan, bahkan mungkin sudah cukup jauh ia dari apartementnya.

Sore hari kini langit mulai mendung, dan Robby terus saja berjalan entah kemana. Tak berapa lama kini rintik-rintik hujan pun mulai turun, Robby yang merasakan itupun hanya cuek-cuek saja dan terus berjalan.

Sampai akhirnya hujan mulai melebat, orang-orang yang lalu-lalang pun gelagapan entah itu mencari tempat untuk berteduh ataupun orang yang berhenti sebentar untuk memakai jas hujan. Dan Robby tetap saja seperti tadi, ia hanya cuek saja. Terus melangkahkan kakinya entah kemana..

~

Di sebuah rumah, kini terdapat seorang perempuan tengah melamun menatap kearah luar jendela kamarnya. Menatap hujan yang entah kenapa ia menjadi mengingat tentang seseorang yang membuatnya seperti ini.

Perempuan tersebut menghela nafas pelan, sudah beberapa hari ia hanya berdiam diri di dalam kamar. Entah kenapa rasanya ia tidak ingin sekali keluar kamar. Ia menatap handphone miliknya yang ia pegang, ia mengusap pelan foto wajah seseorang yang akhir-akhir ini selalu menjadi alasan dirinya seperti ini.

Baru kali ini ku merasa kehilangan kamu
Saat kau tak ada di sini, di sampingku
Bertahun-tahun aku jalani hidup denganmu
Kini harus berakhir selamanya, selamanya

Sebuah lagu terdengar dari dvd player yang sedari tadi menyala menemani perempuan tersebut di kamarnya. Tanpa ia kehendaki, air matanya dengan perlahan lolos dari matanya melewati pipinya. Entah kenapa ia menyesali perbuatannya, dan kini ia harus menerima akibatnya. Dadanya sesak mengingat kejadian terakhirnya bersama laki-laki yang dicintainya, dan sekarang ia sangat rindu pada sosok tersebut.

“A-aku rindu Rob..”

Aku sedih tanpa dirimu..
Sedih tanpa pelukmu, sedih kehilanganmu

Haruskah ku sudahi.. perasaanku padamu
Tapi.. aku belum yakin aku bisa melupakanmu

Aku.. sedih tanpa dirimu..
Sedih tanpa pelukmu.. sedih kehilanganmu..

Air mata Shania semakin deras keluar ketika mendengarkan lagu tersebut yang sangat menggambarkan perasaannya sekarang ini.

Apa kau dengar aku, mendengar tangisanku
Aku di sini mengharapkan dirimu

Cklek.

Pintu kamarnya terbuka, namun Shania tidak menoleh ke belakang. Ia terus menatap hujan yang turun di luar. Nabilah masuk ke dalam kamar Shania dengan membawa makanan untuk Shania, ia tahu sangat tahu malah kenapa Shania menjadi seperti ini. Shania membersihkan air matanya ketika Nabilah yang mulai berjalan mendekat pada dirinya.

“Nju.” Nabilah mendekat pada Shania. “Makan dulu yuk? Kamu belum makan loh Nju. Kita makan dulu ya?”

Aku sedih tanpa dirimu..
Sedih tanpa pelukmu.. sedih kehilanganmu..
Aku mati tanpa dirimu
Mati setiap hari, mati rasa ini..
Mati rasa ini,
aku kehilanganmu..

Nabilah menggigit bibirnya ketika mendengar lagu yang sedari tadi ia dengar. Sebegitu besarnya kah cinta Shania yang mengakibatkan ia menjadi seperti ini? Tetapi mengapa ia melakukan hal tersebut? Nabilah tidak habis pikir dengan pola pikir Shania, sudah ia katakan untuk tidak melakukan hal yang akan membahayakan hubungannya. Dan akhirnya, beginilah sekarang. Shania merasakan akibat ulahnya sendiri..

Nabilah merengkuh tubuh Shania dan membawanya ke ujung kasur. Ia mendudukkan Shania dan ia pun duduk tepat di samping Shania sambil memegang makanan yang ia bawa tadi.

“Mau aku suapin atau makan sendiri aja?” tanya Nabilah.

Shania menggelengkan kepalanya pelan, “Aku gak laper.”

Nabilah menghela nafasnya pelan, “Tapi Shan, kamu belum makan dari pagi loh. Nanti kamu tambah sakit.”

Shania menundukkan kepalanya, bahunya bergetar hebat. Air matanya kini dengan tidak dikehendakinya keluar dengan derasnya. Nabilah menaruh makanan yang ia bawa ke meja belajar milik Shania. Setelah itu ia pun duduk kembali di samping Shania, dan menarik tubuh Shania untuk dipeluknya. Dengan lembut Nabilah mengelus-ngelus punggung Shania, untuk menenangkan dirinya.

“A-aku terlalu bodoh ya B-Bil,” ucap Shania sesenggukkan.

Nabilah menggeleng, “Engga Shania, kamu gak gitu kok.”

“Tapi kenyataannya, aku ud-,”

“Sssttt… udah ya, gak usah dipikirin lagi. Nanti kamu bisa balik lagi kok. Yang penting sekarang kamu harus sehat dulu, jangan kayak gini. Biar bisa ketemu sama Robby lagi, dan kamu harus bicara sama dia berdua.”

Shania menggeleng, “Aku gak mungkin bisa balik lagi. D-dia pasti udah punya pengganti aku.”

Nabilah mengelus puncak kepala Shania, “Udah Nju. Aku yakin kok. Kamu pasti bisa balik lagi sama Robby. Tapi nanti diemin dulu, tenangin suasana dulu.”

Shania hanya sesenggukkan mendengarkan ucapan dari Nabilah. Sore itu, Shania menyesali apa yang telah ia perbuat. Dan ia berjanji tak akan mengulanginya lagi apabila Robby mau menerimanya kembali..

~

Hari telah berganti menjadi malam, dan kini waktu menunjukkan pukul 19.07. Robby baru saja sampai apartementnya dengan keadaan basah kuyup. Hujan tidak berhenti sedari tadi sore ketika ia berjalan. Dan Robby pun tidak menghentikan langkahnya hanya sekedar untuk berteduh. Akhirnya beginilah ia sekarang, dengan keadaan basah kuyup ia masuk ke dalam apartement lalu langsung menuju kamarnya untuk berganti baju.

Entah kenapa ia merasa badannya terasa lemah sekarang dan kepalanya juga terasa pusing, pandangan matanya terlihat agak buram. Ia berjalan menuju kasurnya dengan pelan. Dan kemudian ia pun merebahkan tubuhnya.

Mungkin kalau ia tidur akan hilang sendiri nanti pikirnya. Robby pun memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya..

Robby terbangun dari tidurnya karena merasakan kepalanya yang mehangat dan sebuah benda yang agak basah berada di kepalanya, lebih tepatnya di dahinya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, sambil meraba dahinya mengambil benda yang ada di dahinya.

‘Handuk?’ batin Robby.

Robby pun bangkit dari tidurnya, menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Ia juga heran kenapa dirinya memakai selimut, padahal seingatnya tadi tidak. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, muncullah sosok perempuan manis yang sedang membawa minum dan.. obat?

“Eh, udah bangun ya?”

“Shani..” lirih Robby.

“Kenapa?” Shani berjalan mendekat pada Robby. “Minum obat dulu gih, badan kamu anget. Kayaknya mau demam.” Shani pun memberikan obat pada Robby, kemudian ia pun memberikan minum yang ia bawa.

Dengan patuh Robby meminum obat yang diberikan oleh Shani, setelah itu ia memberikan kembali gelas pada Shani. Dan Shani meletakkan gelas tersebut di meja kecil samping kasur.

“Yaudah, kalau gitu istirahat lagi ya.”

“Kamu.. ngapain di sini?” tanya Robby yang menghiraukan ucapan Shani.

“Tadi sih niatnya mau ketemu sama kamu, soalnya telpon aku gak diangkat. Jadinya ke sini deh, tapi baru-baru tadi sih datangnya. Soalnya kan hujan, terus pas sampai sini kamunya malah tidur,” jelas Shani.

“Udah tidur gih, kamu istirahat aja ya,” titah Shani.

Robby mengangguk, ia pun merebahkan kembali tubuhnya dan memejamkan matanya. Shani menaikkan selimut sampai dada Robby, kemudian ia mengambil handuk yang ia gunakan tadi untuk mengompres. Shani mencelupkan handuk tersebut pada baskom yang ada di bawah di depan meja, setelah ia peras handuknya ia pun meletakkan di dahi Robby.

Dan tidak berapa lama, terdengar dengkuran halus dari mulut Robby. Shani dengan telaten mengganti kompresan Robby, perlahan matanya kini mulai merasakan ngantuk. Beberapa kali matanya terpejam karena mengantuk. Ia sangat mengantuk karena memang sekarang menunjukkan pukul 01.12 malam. Itu artinya sudah dua jam ia terjaga, dan memang tadi ia datang ke sini sudah larut malam karena hujan yang lebat tak kunjung reda.

Shani beranjak bangkit dari ujung kasur menuju ke samping Robby. Ia merebahkan tubuhnya masuk ke dalam selimut. Dan ia pun memeluk Robby dari samping..

‘Good night Rob,’ batin Shani.

~

Angin sedang berhembus menyapu wajah Robby. Robby mengerjapkan matanya, menatap tempat yang membuat otaknya berjalan memutar kembali waktu-waktu dahulu. Robby berjalan perlahan menuju kursi yang memang ada di sana, ia berada di sebuah rooftop gedung yang ia datangi dulu. Entah kenapa ia bisa berada di sini.

“Robby…” Robby terdiam mendengar suara yang ia kenali. Masih sama, tidak berubah. Bahkan ini terdengar lebih lembut dari yang dulu pernah ia dengar. Robby pun membalikkan badannya.

“V-Ve?” Robby menatap Ve dengan tatapan yang sulit diartikan. Sedangkan Ve, ia sedang tersenyum sangat manis menatap Robby. Kemudian ia menyuruh Robby mendekatinya, Robby berjalan perlahan mendekati Ve.

Mereka kini saling berhadapan. Dengan perlahan Ve merengkuh tubuh Robby untuk dipeluknya..

“Aku kangen..” bisik Ve.

Robby mengangguk dan membalas pelukan Ve, “Aku juga Ve.”

Setelah dirasa cukup, Ve terlebih dahulu melepaskan pelukannya. Ve membawa Robby ke kursi yang ada di sana untuk duduk. Mereka kini menatap lurus bintang di atas, terdiam satu sama lain entah apa yang harus mereka bicarakan. Perlahan Ve menaruh kepalanya pada bahu Robby.

“Rob.”

“Ya?”

“Gimana hubungan kamu sama Shania, adik aku?” Ve terus menatap lurus bintang yang terlihat terang malam ini.

“M-maksud kamu?” Robby menatap wajah Ve yang telah bangkit duduk dengan tegap dan tengah menatapnya juga.

Ve tersenyum, kemudian tangannya mengusap pipi Robby lembut, “Aku tau Robby. Aku tau kamu sama Shania udah punya hubungan lebih dari teman. Shania sering bercerita padaku.”

“Jadi bagaimana hubungan kalian?” tanya Ve.

Robby menghela nafasnya, apa yang akan ia katakan pada Ve tentang hubungannya dengan Shania? Apa ia harus jujur?

“Kalian lagi berantem?”

Robby menundukkan kepalanya dan menghela nafas kasar, “A-aku sama Shania udah putus Ve..”

“Maafin aku Ve, aku gak bisa jaga Shania, aku gak bisa ngasih kebahagiaan buat dia, dan aku selalu gak bisa jadi apa yang ia mau.” Terdengar isakkan pelan dari Robby.

Ve tersenyum lirih, ia mengusap punggung Robby. Mendengar isakkan dari Robby itu berarti bahwa ia sangat mencintai adiknya. Dan ia jarang menemukan sosok laki-laki yang seperti ini, yang sangat menyayangi perempuan bahkan rela menunggunya kembali…

Ve merengkuh tubuh Robby, “Udah gak usah nangis gitu. Laki-laki gak perlu nangis gitu Robby. Dan kamu juga gak perlu minta maaf, kamu itu udah baik banget sama Shania.”

“Shanianya aja yang kadang memang selalu bikin ulah sama kamu,” tambah Ve.

Ve melepaskan pelukannya lalu menatap dalam mata Robby yang terlihat menyimpan kesedihan, kekecewaan, maupun luka yang mendalam. Ve menangkupkan wajah Robby dengan kedua tangannya, lalu ia menghapus air mata yang mengalir di pipi Robby.

“Robby… aku ada permintaan buat kamu, boleh?” Ve tersenyum lembut menatap Robby.

“A-apa Ve?”

“Aku mau kamu selalu sama Shania, sampai aku dan Mamah aku jemput dia di sana. Bagaimanapun keadaannya, kamu harus sama Shania. Jagain dia buat aku. Janji ya?”

“Tapi Ve aku..”

“Kamu udah putus sama Shania, jadi gak mau nerima permintaan aku, gitu?” Ve melepaskan kedua tangannya dari pipi Robby. Wajahnya mendadak murung.

“B-bukan gitu Ve..”

“Terus?”

Robby menghela nafasnya, “Iya-iya, aku mau Ve.”

“Janji?” Ve menyodorkan kelingking jari tangan kanannya. Pingky swear.

“Janji.” Robby mengaitkan jarinya kelingkingnya dengan jari kelingking Ve.

“Aku harap kamu beneran menepati janji kamu ya Rob..”

“T-tapi semisal aku gak bisa, gimana?” tanya Robby.

Ve tersenyum menggelengkan kepalanya, “Kamu pasti bisa. Selama kamu masih mempunyai rasa sama Shania, dan kalau kamu kecewa dengan dia gara-gara sikapnya. Aku mohon hilangin rasa kecewa kamu itu. Aku tau, Shania pasti senang kalau sama kamu. Karena adikku itu, masih mempunyai rasa sama kamu.”

“Ve.. aku gak yakin..”

“Kamu harus yakin. Kamu pasti bisa Robby. Kalaupun kamu mikirin tentang hubungan kamu sama Shania, kamu selesaikan itu dulu. Dia pasti senang apabila kamu balik lagi sama dia. Jangan pernah berpikiran bahwa Shania itu enggak sayang sama kamu, atau apapun itu. Karena aku tau sifat adikku itu, bagaimanapun dia. Dia hanya mencintaimu.”

Ve tersenyum kemudian ia pun mencium pipi Robby singkat, “Aku harus kembali sekarang. Aku harap kamu mau melakukannya demi aku Rob..”

~

Shani membuka matanya ketika merasakan di sebelahnya tidur dengan keadaan tidak tenang. Ia mengucek-ngucek matanya lalu bangkit menatap Robby. Entah kenapa ia merasa tubuh Robby seperti tidak karuan bergerak kesana-kemari, dan juga ia mengigau tidak jelas..

“Ve.. aku gak bisa..”

Shani terdiam. Ia menjadi teringat obrolannya ketika bersama Viny waktu itu. Ve. Satu nama yang membuat Shani terdiam. Yang Shani ketahui dari Viny, Ve adalah kakak Shania yang mempunyai rasa pada Robby. Dan juga ia telah tiada. Tapi kenapa sekarang Robby memanggil namanya? Seketika Shani tersadar, kemudian ia pun berniat membangunkan Robby terlebih dahulu.

“Robby bangun.” Shani menggoyangkan tubuh Robby pelan.

“Ve.. aku..”

“Robby.” Shani menggoyangkan tubuh Robby lebih kuat dari sebelumnya.

“Ve!!!” teriak Robby.

Robby langsung bangkit dari tidurnya menjadi duduk, peluh bercucuran dari dahinya. Robby mengatur nafasnya dengan pelan. Apa tadi cuma mimpi? Tetapi mengapa itu terasa sangat nyata? Pikirnya.

“Kamu gakpapa?”

Robby menatap suara dari sampingnya, “Loh? Shani?”

“Kenapa? Kamu mimpi buruk?” Shani mengusap keringat yang bercucuran dari dahi Robby.

Robby menghela nafasnya lalu mengangguk.

“Udah gak usah dipikirin mimpi buruknya ya. Mending sekarang kamu tidur lagi, sini.” Shani membantu Robby membaringkan tubuhnya begitu pula dirinya, lalu ia menarik selimut sampai menutupi dadanya.

Shani mencium dahi Robby dengan lembut, “Biar gak mimpi buruk lagi.”

Robby tersenyum, “Makasih Indira..”

Shani mengangguk, “Iya. Udah bobo lagi.”

Robby mengangguk, kemudian ia pun kembali melanjutkan tidurnya yang terganggu akibat mimpi yang aneh. Tidak terlalu larut memikirkan hal itu, Robby pun akhirnya tidur kembali. Dan Shani juga terdengar dengkuran halusnya, yang berarti ia juga mengikuti Robby memasuki alam mimpi..

~

Pagi harinya, kini Naomi tengah berjalan menuju apartement Robby. Entah kenapa sedari tadi malam perasaannya tidak enak tentang Robby. Apalagi hujan yang lebat tengah mengguyur kotanya, membuat Naomi tidak bisa ke sini. Padahal ia ingin membawa Yupi, tetapi mengingat sang adiknya itu yang sedang belajar untuk ulangan hari ini, jadinya ia tidak bisa ke sini.

Naomi memencet tombol kode apartement Robby, setelah terbuka ia pun masuk ke dalam. Ia berjalan masuk ke dalam setelah meletakkan flat shoes miliknya di rak sepatu. Naomi terdiam sebentar menatap ruang tengah yang dalam keadaan sangat berantakan.

‘Kenapa berantakan kayak gini?’ batin Naomi.

Setelah itu, Naomi pun berjalan dengan tergesa menuju kamar Robby. Dengan perlahan ia membuka pintu kamar Robby. Naomi menghela nafasnya ketika mendapati adiknya itu tengah tertidur dengan damainya. Naomi pun berjalan mendekat pada Robby yang masih tertidur, tetapi dahinya berkerut ketika melihat handuk yang berada di dahi Robby.

Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, sontak membuat Naomi membalikkan badannya. Dahi Naomi berkerut ketika Shani yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk. Shani yang melihat Naomi pun terdiam juga.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Naomi.

“Ngg, aku tadi malam ke sini kak. Terus gak pulang, soalnya ngejagain Robby lagi sakit,” jawab Shani.

“Sakit? Sakit apa?” Naomi menatap cemas pada Robby.

“Kayaknya sih dia mau demam gitu. Tapi udah aku kasih obat kok tadi malam.”

Naomi menghela nafasnya lega lalu menatap Shani, “Makasih ya Shani udah baik sama Robby.”

Shani tersenyum mengangguk, “Sama-sama kak.”

“Oh iya, teman-temannya udah tau kalau dia sakit?”

Shani menggelengkan kepalanya, “Gimana mau tau kak. Ngomong aja enggak sama yang lain.” Desis Shani pelan yang masih terdengar oleh Naomi.

Naomi menatap heran Shani, “Maksud kamu?”

Shani menghela nafasnya, “Robby sama yang lainnya lagi berantem kak.”

“Oh gitu ya. Kakak paham kok. Terus soal ini, Shania tau? Eh, kamu kenal Shania kan?”

Shani mengangguk, “Kenal kok kak.”

“Jadi gimana? Dia udah tau?” tanya Naomi.

Shani menghela nafasnya pelan, lalu menggelengkan kepalanya.

“Kenapa lagi?”

“Mereka udah putus kak..”

 

*To be continued*

 

Created by: @RabiurR

Iklan

Satu tanggapan untuk ““Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 24

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s