Hate love, part 8

Izin dari Mama sudah didapat. Tiket sudah di tangan. Aku sudah berada di bandar udara saat ini. Sebentar lagi aku akan sampai di Lombok dan akan mengetahui apa yang disembunyikan oleh Darrel selama ini.

Aku mencari nomor di kursi pesawat yang akan menerbangkan ku ke Lombok.

“Ah ini dia,” Aku menghempaskan tubuh ku ke kursi empuk pesawat itu.

Melihat pemandangan dari jendela pesawat selalu aku senangi. Kantuk perlahan mulai menyerangku, ini sudah pukul 11 malam. Pantas saja aku mengantuk, aku mencari posisi senyaman mungkin dan tidur.

~o~

Pagi ini saat aku terbangun aku melihat langit lain, selain langit Jakarta. Aku sudah sampai dengan selamat di Lombok. Tanpa kehilangan kotak make up bergambar strawberry ku seperti saat aku tiba di Lombok untuk pertama kali nya ketika bersama Darrel. Aku tertawa kecil mengingat moment itu. Aku yang menangis histeris dan Darrel berusaha menenangkan aku. Aku merindukan tatapan menenangkan dari mata sebiru samudera nya.

Aku memberhentikan taksi dan masuk ke dalam nya.

“Pak ke hotel **** ya,”

Pengemudi taksi itu mengangguk, dan dibawa nya mobik untuk segera melaju. Menembus ketenangan pagi di Lombok.

~o~

Aku turun dari taksi dengan bersemangat. Aku melihat Miko di lobby hotel dan menghampirinya.

“Hai Miko! Kaget gak? Kangen gak?” Aku menepuk pundak nya.

“Eh Yupi, hai! Kok mau ke sini gak bilang sih? Aku gak kaget dan sama sekali gak kangen.” Dia mengacak-acak poni ku.

Aku cemberut. “Darrel mana Mik?”

“Duduk dulu yuk.” Dia mengajak ku duduk di sofa yang ada di lobby hotel itu.

Aku mengikuti nya. “Darrel mana Mik?” Tanya ku lagi.

“Oke aku ceritain semuanya. Tapi, kamu diem ya pas aku cerita. Dan aku minta maaf sebelumnya, karena aku baru kasih tahu kamu sekarang.”

“Ada apan sih?”

“Se..sebenarnya Darrel lagi di rumah Shani. Suami nya Shani meninggal sekitar sebulan yang lalu. Jadi, akhir-akhir ini Darrel selalu nemenin Shani. Dan tragedi hilang nya ponsel Darrel itu gak pernah terjadi. Darrel cuman sembunyiin semua ini biar kamu gak marah.”

Tubuh ku melemas. “Jadi selama ini Darrel bohongin aku?” Lirihku pelan.

Aku merasakan Miko mengusap perlahan punggung ku.

“Maafin aku Yup, baru kasih tahu sekarang..” Ucap Miko.

“Gak papa.” Aku tersenyum tipis.

Aku mendengar hembusan nafas kasar Miko. Aku pun menatap nya. Aku melihat sorotan mata Miko yang mengarah ke pintu, aku mengikuti arah pandang Miko. Darah ku berdesir, jantung ku berdegup kencang, aku merasakan keringat dingin di punggung ku. Sorot mata sebiru samudera yang aku rindukan selama ini kini aku dapat melihat nya kembali. Aku tak percaya jika sorot mata nya, masih menjadi milik ku saat seseorang dengan anak kecil perempuan digendongannya berjalan di sebelah Darrel dengan tawa riang menyertai mereka.

Aku bisa mendengar Miko mengaduh pelan. Seiring dengan lolos nya cairan bening dari pelupuk mata ku. Aku berdiri dan berlari keluar dari hotel itu. Tak peduli dengan tatapan heran Shani juga teriakan yang meminta ku agar jangan pergi dari Darrel, aku berlari dan memberhentikan sebuah taksi. Aku pikir Darrel akan mengejarku dengan mobil mewah dengan logo bergambar kuda berwarna putih nya. Ternyata tidak. Darrel membiarkan ku pergi.

~o~

Mata ku terasa perih. Entah sudah berapa lama aku menangis. Wajah ku yang semula terlapis make up kini entah bagaimana rupanya. Rambut ku yang sebelum nya sudah ku tata serapih yang aku bisa, mungkin sekarang berantakan tak karuan.

Aku terduduk lemas di kursi taman. Aku berusaha untuk berhenti menangis. Tapi, air mata ku terus mengalir.

“Darrel kok kamu tega sama aku..”

Aku menyeka air mata ku dengan lengan kanan ku. Hari sudah sore, langit biru sudah berubah menjadi jingga. Aku meraih ponsel ku dan menekan beberapa nomor untuk aku telfon.

“Halo.”

“….”

“Bener boleh? Nggak ngerepotin kan?”

“….”

“Aku di taman ****, aku yang ke sana aja.”

“….”

“Hmm, yaudah deh aku tunggu di sini.”

“….”

“Bye. Makasih ya.”

“….”

Aku menaruh kembali ponsel ku ke dalam tas. Tak berapa lama, orang yang aku tunggu datang dengan mobil nya.

“Hai.” Ucap orang itu saat turun dari mobil.

“Hai makasih ya.”

“Yuk masuk, mama udah nunggu di rumah.”

“Iya.”

~o~

Darrel POV

Saat aku memasuki hotel bersama Shani juga Zara ada seseorang yang membuat ku kaget. Gadis kecil berponi si pemilik mata hazelnut itu duduk di sofa lobby hotel bersama sahabat ku, Miko. Tatapan mata yang selama ini aku rindukan menatap ku dengan mata yang berkaca-kaca. Ingin sekali aku mengacak-acak poninya dan mencubit pipinya. Tapi, Gadis kecil itu berlari begitu saja keluar dari hotel. Entah kenapa, kaki ku seperti ada yang menarik, membuat ku tak bisa mengejarnya.

Sekarang sudah malam. Apa gadis kecil itu baik-baik saja? Apa dia sudah makan? Dia akan menginap di mana malam-malam begini? Yang aku tahu, dia tidak mengenali siapa pun di Lombok kecuali Aku.

Tok tok tok

“Ya masuk.” Ucap ku.

Pintu terbuka. Ada Miko di sana. Lalu, Miko duduk di kursi yang ada di depan ku.

“Ada apa Mik?”

“Bos ini kenapa? Pasti kaget ya tadi pas Yupi datang?”

Aku mengangguk pelan. “Kenapa Yupi bisa ada di sini? Kamu yang jemput?”

“Santai bos. Yupi yang datang sendiri ke sini. Kasian loh Bos, anak orang dibikin nangis.”

“Tau ah bingung.”

“Bos masih sayang ya sama Shani?” Miko menaikkan alis kirinya.

Aku hanya diam.

“Jujur deh Bos.”

“Hmm.”

“Nah! Berarti bos masih sayang sama Shani.”

“Lagi berusaha biar nggak.”

“Yakin bos?”

“Nggak sih.”

Miko menatap ku dengan heran.

“Yupi di mana ya sekarang? Udah malam gini. Anter cari yuk Mik.”

“Ini udah jam 11 malem Bos. Besok pagi aja carinya, suruh siapa tadi gak dikejar. Khawatir kan.” Ucap Miko sambil berlalu pergi meninggalkan kamar sekaligus ruang kerja ku itu.

Aku merebahkan tubuh ku di atas tempat tidur. Meraih ponsel, dan mencoba menelfon Yupi.

“Halo.” Ucap seseorang di dalam telfon. Tunggu. Mengapa suara laki-laki? Aku takut terjadi sesuatu dengan Yupi.

“Halo, bisa bicara dengan Yupi?” tanya ku.

“Oh Yupi nya baru saja tidur.”

“Maaf. Saya berbicara dengan siapa ya?”

“Rizal.” Rizal? Siapa dia?

“Rizal?”

“Iya. Mm, teman nya Yupi. Ponsel Yupi tertinggal di ruang tengah. Yupi ada di rumah saya saat ini. Tenang saja tidak akan ada hal buruk yang akan menimpa Yupi.”

“Mm, baiklah terima kasih. Selamat malam.”

“Selamat malam.”

Aku menaruh ponsel ku di meja samping tempat tidur ku. Aku memijat-mijat kecil dahi dengan jari tangan ku. Mengingat siapa Rizal itu. Ah iya aku mengingat nya.

Flashback on.

Saat ini Yupi tengah mengobrol dengan teman nya yang tinggal di Lombok. Darrel terus memperhatikan Yupi dari kejauhan. Ia sangat cemburu karena Yupi makan siang bersama teman nya itu. Terlebih temannya itu seorang laki-laki dan sepertinya sangat akrab dengan Yupi.

Saat teman Yupi itu beranjak dari meja cafe, Darrel langsung menghampiri Yupi.

“Ciee habis ngobrol sama siapa tuh,” Sindir Darrel.

“Kamu liatin aku ya? Dasar paparazzi wuu!!” Ucap Yupi.

“Nggak ngeliatin kok”

“Bohong! Tadi aku liat tau pas kamu ngumpet. Gak pinter sih ngumpetnya masa di balik pintu kan keliatan”

Darrel tidak menanggapi Yupi. Ia hanya menatap Yupi.

“Kok diem? Cemburu ya?” Tebak Yupi.

“Nggak”

“Tadi itu temen pas aku SMP namanya Rizal,” Ucap Yupi.

Flashback off.

Rizal. Teman SMP Yupi yang juga tinggal di Lombok. Rizal pernah membuat ku cemburu saat Yupi bertemu dengan nya di suatu cafe. Saat itu dengan akrab, Yupi dan Rizal bercanda layaknya orang yang sedang pacaran. Pikiran ku menjadi kalut. Takut jika Yupi juga memiliki perasaan yang berbeda pada Rizal.

“Yupi gak boleh sampai pacaran sama Rizal. Nggak, besok aku harus cari Yupi. Tapi apa Yupi masih ada di Lombok besok?”

Created by : @Amanda_Zanuba

Iklan

Satu tanggapan untuk “Hate love, part 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s