Cinta Palsu, Part 5

Semua permasalahan dipagi hari pun telah usai. Dengan menghirup nafas panjang sambil meregangkan badan, gw memulai aktivitas di sekolah seperti biasa. Namun baru beberapa langkah setelah keluar dari ruangan BK, gadis itu lagi-lagi menghalangi jalan gw.

“Yo, telat ya?” ucap gadis itu

“Cih…,”

“Dudududu yang ngambek gara-gara kemarin dibully,”

“Nad, please…sehari aja lo gak ganggu gw bisa kan?”

“Gue kesini bukan untuk gangguin lo al, tapi gue mau minta bantuan lo,”

“Gw? Kenapa selalu gw?”

“Jangan banyak tanya, sekarang kita harus bawa buku paket Bahasa Indonesia di perpustakaan. Pak Ringgo udah duduk di kelas sambil ngabsen semua murid. Lain waktu gue mau lo berterimakasih sama gue,”

“eh? Kenapa begitu!?”

“Karena kalau tadi gue gak bilang lo ada urusan, lo gak bakalan diabsen sama pak Ringgo,”

Nadse langsung narik kerah baju gw.

“Masih diem aja?”

“E-Eh…oke…,” balasku

Singkat cerita gw pun hanya bisa pasrah dihadapan Nadse tadi. Gw bawa buku-buku dari perpustakaan dengan hati-hati karena kali ini gw yang bawa SEMUA bukunya. Entah kenapa gw ngerasa kalau dia bisa berubah 180 derajat berbeda dari sifat aslinya.

~Author POV~

Usai kelas, Aldo langsung membawa buku-buku paket itu kembali ke perpustakaan. Tanpa bantuan siapapun, ia membawa buku-buku itu dengan tertatih-tatih karena tampaknya ia kerepotan ketika membawanya menaiki tangga. Murid-murid disana hanya memandangnya saja tanpa membantunya sedikit pun.

*Ceklek!

            Ia membuka pintu perpustakaan itu dengan sikutnya. Setelah itu ia pun menyimpan semua buku itu di meja dan langsung menandatangani kertas biru di dekat meja itu.

“Akhem!”

“HA!”

Sungguh betapa terkejutnya Aldo saat mendengar suara di belakangnya. Lantas ia pun langsung berbalik ke belakang.

“Michelle!”

“Hai, capek ya?”

“Sebenernya lo kesini mau bantu gw atau mau bully gw juga?”

“Ah…gue cuma lagi liatin lo aja tadi,” Jawab Michelle

“Jadi daritadi lo itu ada dibelakang gw!?”

“Yup,” Jawab Michelle lagi

“Huft…,” Aldo menghela nafas

“Kenapa?” tanya Michelle

“Entah kenapa sekarang gw ngerasa gak betah sekolah disini,”

“Dih…kenapa? Padahal kan ini sekolah bagus,”

“Emang bagus, tapi…,”

*Tok-Tok!

Ketukan pintu itu mengalihkan perhatian mereka berdua. Disana tampak dua orang gadis dengan rambut yang di ikat kebelakang.

“Sorry…apa gue ganggu kalian berdua?”

“E-Eh Nadse, gak ganggu kok,” ucap Aldo

“Maaf ya, kayaknya kalian berdua gak diundang disini,” ucap Michelle

“He!?” Aldo langsung menatap Michelle

“Wah-wah…ada tuan putri disini, tuan putri Michelle lagi ngapain di perpustakaan?” ucap gadis di sebelah Nadse dengan nada yang sedikit kasar

“A-Anu…,” Aldo terlihat ketakutan sambil menjauh dari mereka

“Heh…,” Michelle mengendus tertawa. “Kalau gak salah lo itu cewek yang nama panjangannya lebih dari rel kereta api ya?”

*Glek!

            Aldo menelan ludahnya.

“Oh…jadi sekarang lo udah berani ya,” Gadis itu merasa dihina dan langsung mendekati Michelle

“Des…jangan cari gara-gara disini,” ujar Nadse

“Stop-stop!” ucap Aldo sambil memisahkan mereka

“Kalian ini sebenarnya kenapa!? Gw gak peduli apa masalah kalian, tapi…sesama cewek kalau berantem itu kayaknya…jangan deh…,” ucap Aldo kembali

Desy meredam amarahnya dan mundur.

“Yah kalau gitu…selamat bersenang-senang ya, Al…,” ucap Nadse sambil tersenyum manis

“Ha-Ah?” Aldo tampak kebingungan

“Yuk Des, kita ke kantin,” ajak Nadse

“Hm…,” balas Desy

Kini hanya tinggal mereka berdua yang ada di perpustakaan tersebut.

“Hmph!” ucap Michelle sambil membuang muka dihadapan Aldo

Kemudian Michelle pun ikut pergi dari perpustakaan.

“Kenapa!? Salah gw apa!?” gerutu Aldo

*Dert-Dert!

“E-Eeeeehhh…,” Aldo langsung membuka Handphonenya yang bergetar itu

“Duh gak di silent lagi, pantes bunyi terus,”

Aldo membuka pesan di handphonenya itu.

“SMS dari siapa nih?”

*Pulang sekolah nanti gue tunggu lo di bawah ring basket…

“Sekarang tiba-tiba ada pesan aneh di handphone gw! G-Gw kan baru kenal beberapa orang disekolah ini!”

Bzzz! Bzzz! Bzzz!

“Duh udah bel lagi, gw bahkan gak sempet ke kantin,”

Aldo pun kembali ke kelasnya.

~oOo~

Jam pulang sekolah pun tiba. Seperti biasa, ia kembali melakukan rutinitasnya ketika jam pulang. Namun kali ini ia melakukannya dengan begitu cepat, dan beberapa step yang biasa ia lakukan pun terlewat karena pesan singkat yang masuk ke Handphonenya siang tadi.

“Bawah lapang basket…,” ucapnya pelan

Selepas ia pergi dari ruang kelasnya, ia pun langsung menuju lapangan basket. Letaknya lumayan jauh karena berada di belakang aula sekolahnya tersebut. Bahkan kini ia terlihat kebingungan mencari lapangan basket yang dimaksud, ia berputar-putar ke sekililing sekolahnya sampai akhirnya ia menemukan lapangan basket itu.

*Pant!

“Ah-Hah…capeknya…,” ucapnya sambil bersandar di tiang basket itu

“Yo…,”

“HUA!” Aldo terkejut

“Kenapa sampai keringetan gitu? Habis sprint ya?”

“K-Kakak ini kan yang kemarin!?” ucap Aldo yang tampak masih terkejut

“Jawab dulu pertanyaan tadi, gak sopan banget lo langsung tanya balik gitu,”

“Uh-Huh…ya, tadi gw muter-muter dulu kak, orang gak tau lapangan basket tuh dimana,”

“Haha, udah seminggu disini masih gak tau aja,” ejeknya

“Sebelum itu gw belum tau nama lo kak,”

“Loh, bukannya kemarin udah kenalan?”

“Lupa,” Jawab Aldo singkat

“Pfffttt…,” Wanita itu terlihat menahan tawanya

Lalu kemudian ia langsung membusungkan dadanya di depan Aldo sambil memperlihatkan wajah nakalnya.

“Eh-EH! Mau ngapain!?” ucap Aldo sambil mundur perlahan

“Katanya lo mau tau nama gue?”

“Lah ngapain pake nunjukin itu segala!?” ucap Aldo lagi

“Liat baik-baik,” ucap wanita itu lagi

“Ah-Eh…,” Aldo sedikit demi sedikit melihatnya

Pandangannya kemudian terfokus ke arah bet nama itu.

“Viviyona…,” ucapnya pelan

“Oh iya…kak Yona ya,” ucap Aldo kembali

“Heh,” Yona mengendus seperti menertawai Aldo

“Lo gampang banget digoda, sering dimainin cewek ya?” ucap Yona

“Di mainin? Apaan!?”

“Ya ampun…gue gak tau lo sepolos ini,”

“S-Sebelum itu, sebenarnya tujuan kak Yona bawa Aldo kesini untuk apa?” tanya Aldo

“Menurut lo?” Yona kembali beraksi dengan mendekati Aldo

Kancing baju Aldo perlahan di lepas olehnya.

“Hey-hey! Mau ngapain sih!?” Aldo sedikit mendorong Yona

Kemudian ia kembali mengkancingkan seragamnya tersebut.

“Khu…ahaha…gue cuma mau minta maaf soal kemarin, santai aja kali…,”

“I-iya? Maksudnya minta maaf?” tanya Aldo kembali

“Oh jadi gue udah di maafin ya,” ucap Yona

“Kak Yona ini lagi ngomongin apa sih!?” ucap Aldo yang semakin kebingungan

“Oke, anggap semua kejadian kemarin itu gak ada. Sekarang lo boleh pulang,”

“Lah udah?”

“Iya udah, mau ngapain lagi emang? Oh, atau lo masih penasaran sama ini,” tunjuk Yona ke arah Dadanya

“HUE! Kagak lah! Kalau gitu gw pulang duluan ya,” Aldo dengan cueknya meninggalkan Yona disana

“Cih…jadi begitu toh,” ucap Yona bergumam

~oOo~

“Silahkan kak…,”

“Ini brosurnya kak,”

Perhatiannya langsung teralihkan oleh siswi yang tengah membagikan brosur di depan gerbang sekolahan.

“Ekhem! Ini brosurnya kak!” ucap gadis itu sambil memberikan brosur pada Aldo

“Duh!” Aldo menggosok-gosok telinganya

“Gak usah keras-keras juga ngomongnya kali,” ucap Aldo

“Hmph!” ucap gadis di depan Aldo seperti acuh

“Hmm…jurnalis?” pikir Aldo ketika membaca brosur tersebut

“Yap, kayaknya lo harus masuk ke klub jurnalis,” ujar gadis itu

“Gak tertarik, sorry…,” balas Aldo sambil pergi

“Eh-Hey tunggu!” gadis itu menahan Aldo

“Apalagi sih? Lo itu bukannya temennya Nadse ya?”

“Sedangkan lo itu bukannya pacarnya Nadse ya?” balas gadis itu

*Bluuurbbb!

“Mana ada!” bantah Aldo

“Hey denger, lo itu sekelas sama gue, jadi alangkah baiknya lo bantuin semua permasalahn gue,”

“A-Apa?” ucap Aldo yang tampak tidak mengerti

“Jadi, klub jurnalis ini lagi kekurangan anggota, dan kami membutuhkan setidaknya 3 anggota lagi untuk mencapai jumlah tetap setiap klub,”

“Jumlah tetap? Apaan sih!?”

“Yah masih gak paham juga?”

“Ya iyalah orang gw murid baru, mana tau yang begituan,” balas Aldo lagi

“Ayolah please…bantuin kita untuk mencapai jumlah tetap, kalau nggak nanti klub jurnalis bakal dibubarin,”

“Eh…Eng, sebelum itu gw belum tau nama lo,”

Gadis itu menghela nafasnya.

“Ayana…,”

“Oh…oke gw inget,” ucap Aldo

“Jadi gimana?” tanya Ayana lagi

“Kalau gw seorang kan masih kurang 2 lagi,”

“Itu artinya lo mau ikut jurnalis?”

“Yah karena kondisinya lagi begini sih…oke,” ucap Aldo

*Tlek!

            Ayana menjentrikan jarinya.

“Oke, sekarang gue minta kontak Line lo dong,” ucap Ayana

“Hem…,” Aldo mengeluarkan Handphonenya

“Noh, tulis sendiri…,” Aldo memberikan handphonenya

Ayana mulai mengotak-atik Handphone itu.

“Oke, kalau begitu tolong carikan lagi 2 orang ya, Hihi…,”

“He? Gw?”

“Ya, karena lo merupakan calon anggota baru disini,” ucap Ayana

“Hmm…,” Aldo menghiraukannya lalu pergi

“Kalau ada yang mau mencalonkan, kabarin aku yah!” teriak Ayana

“Cih! Pake aku segala…,”

Aldo masih menghiraukannya dengan berjalan sambil melihat ke bawah.

*Duk!

“Eh M-maaf,” ucap Aldo karena menabrak seseorang

“Yah, lo terlambat pelayan…,”

“Pelayan?” Aldo langsung melihat wajah orang yang menyebutnya pelayan itu

“Haaah…lo lagi, sekarang apa?”

“Khu-khu…temenin gue belanja,”

“What!?”

~oOo~

Kleneng!

            Lonceng itu berbunyi.

“Selamat datang di Fourty Eight Mart, selamat berbelanja,”

“Huft…kenapa gw harus nemenin lo belanja sih, chelle…,”

“Karena gue kehabisan bahan makanan untuk seminggu ke depan,”

“Hemm…se-simpel itukah jawaban lo, maksud gw kenapa gw harus ikut nemenin lo!”

“Karena gue mau lo ikut makan bersama malam ini,”

“He-Eeeehhhh!” Aldo terkejut dengan perkataan Michelle

“Anggap aja ini sebagai rasa terimakasih gue karena lo udah beresin rumah kemarin,”

“…G-Gak perlu sampai begitu juga kali, E-Eh…,” Aldo tampak gugup

“Nah kita lihat, umm…tomat, buncis, wortel…,”

“HEEH!”

“Hmm? Kenapa?” tanya Michelle

“Eh! G-Gak kenapa-kenapa,”

Singkat cerita mereka pun selesai berbelanja di supermarket tersebut. Kini waktunya untuk pulang ke rumah…Michelle.

-Aldo POV-

“Huft…melelahkan…,”

*Brak-Brak-Brak

            Michlle lari ke dalem rumah.

“Hey! Buka sepatu kalau masuk rumah!”

“Berisik!”

“Yah, gw malah di tegor balik…,”

Dimulai dari membuka sepatu sambil menghirup nafas panjang, gw kembali masuk ke rumah mewah itu. Ketika gw masuk, keadaannya kini gak seburuk kemarin yang banyak sekali barang-barang berserakan di lantai. Gw merebahkan tubuh di sofa itu dengan memainkan Handphone sambil menunggu…bisa dibilang menunggu panggilan kali ya.

“Fyuh panasnya!” Michelle datang dengan segelas air ditangannya

“Hoi…itu sepatu masih belum di lepas, nanti sofanya kotor,”

“Bodo amat lah! Lagian ini sofa punya gue!”

“Hemm…,” Gw hanya  mengiyakannya saja

“Jadi…kenapa lo ajak gw makan malam bersama? Padahal sekarang masih siang kan?” ucapku sambil meminum air yang disediakan

“Sebenarnya tadi gue mau nyuruh lo untuk beres-beres rumah lagi sih…,”

*Bluuurrbbb!

            Gw langsung menyemburkan air yang baru gw minum.

“Lo anggap gw ini Cleaning Service apa!”

“Iya,”

“Ek! Dasar lo ya!”

(…………………………………………………………………………)

“Aduh sakit! Aduuuuuh!”

“Rasain tuh!”

“Kenapa pipi gue di cubit-cubit segala sih! Gak sekalian aja lo pukul gue!”

“Mana mungkin gw berani nyakitin lo secara fisik, huft…,”

“Huh! Kalau gitu lo tunggu sini ya, gue mau masak dulu dan juga nyiapin meja makannya,”

“A-Ah?”

Ketika dia mengatakan 2 kata kerja sekaligus yaitu masak dan juga menyiapkan, gw sebagai laki-laki gak bisa tinggal diam. Gw diam-diam bantuin dia untuk melakukan semua tugas, kalau soal masak sih gw gak bantu dia, tapi gw bantu membereskan meja makannya.

Kebetulan meja makan itu tepat berada di belakang dapur dan otomatis Michelle gak akan mungkin liat gw disana.

“gw jadi inget seseorang kalau liat rumah segede gini, yang tinggalnya juga cuma seorang. Eh, kalau yang itu sih berdua…,”

Singkat cerita gw beresin semua hal yang kotor yang ada di dekat meja makan tersebut. Tanpa terasa jam dinding menunjukan pukul 17.00, Cukup lama gw membereskan tempat tersebut. Bukan karena tempatnya yang luas, tapi karena mejanya yang kegedean (Property orang kaya).

“Fyuh…apa gw bakalan sampai malem lagi pas nyampe rumah,”

*Hesp!

“Eehh!? Harum apaan nih!?”

Sesuatu yang harum benar-benar tercium sampai melilit hidung gw (Alay). Gw langsung cek ke dapur dimana Michelle lagi masak disana.

Blubuk! Blubuk!

Dia keliatannya masih ngerebus semua sayuran yang tadi dibeli. Sejujurnya gw sangat anti dengan yang namanya sayuran, tapi makanan apapun yang dibuat oleh seorang gadis, haruslah kita santap seburuk apapun itu. Tapi dari baunya sih, kayaknya rasanya bakalan enak…Kayaknya.

“Loh Al? Ngapain lo ngintip? Gue ini lagi gak berperan jadi istri muda, tau?”

“Bwaaaahhh! I-istri muda avaan! Dan kenapa lo masih pake seragam pas lagi masak?”

“Setidaknya gue pake celemek kan?”

“Huft…,”

“Woh, keliatannya enak,” gw mendekat ke dapur

“Mau nyicip?”

“Eh? Boleh nih?”

Michelle mengaduk-ngaduk sayur itu kemudian sedikit mengambil kuahnya dengan sendok.

“Nih cicip sendiri, gue gak mau nyuapin lo,”

“Iya-iya gw tau kok,”

*Surp!

“WHOA! E-Enak!”

“Enak? Sukur deh kalau gitu,”

“Wah! Tadinya gw sedikit ragu sama masakan lo, tapi setelah nyoba ini…UMMMM! Masakan lo benar-benar se-level sama Dia,”

“Dia?”

“A-Ah, bukan siapa-siapa kok,”

*PAPA PULAAAAANG!

“Buset!”

Gw kaget sampai ngejatuhin sendoknya.

“Oh, papi udah pulang,” ucap Michelle

“Papi!? I-Itu papi lo!?”

“Kenapa sih lo? Lo jangan coba-coba ngelamar gue di depan papi ya,”

“Gak! Gak akan!”

“Hmph! Kalau gitu jagain sayurnya,” Michelle melepas celemeknya

“Eh tunggu dulu! Kayaknya gw juga harus ketemu sama papi lo chelle, tar malah dikira lagi ngapa-ngapain lagi,”

“Jagain aja sayurnya!” ucapnya lagi terus pergi

“Cih! Kampret tuh anak!”

Kalian tau apa yang membuat gw kaget tadi? Bukan karena papi Michelle yang baru datang, tapi karena suaranya itu, sampai bergema ke seluruh ruangan! A-Apa mungkin papinya itu tentara kali ya?

“Hey, gimana sayurnya?” Michelle datang lagi

“Masih aman,”

“Bagus, kalau gitu bantuin gue nyajiin semua makanan ini ke ke mangkok sama piring ya. Plus bawain juga ke meja makan,”

“I-iyaudah deh,”

Gw hanya bisa mengalah. Perlahan-lahan gw hanya bantu Michelle untuk nyajiin makanannya. Sementara pekerjaan utama gw sekarang yaitu menyimpan semua makanannya ke meja makan, Tapi ketika gw sampai meja makan…

“Ek!”

Buset dah! Papinya Michelle yang ini!?

“HEH!?”

Dia melototin gw dengan alis yang tebal dan ternyata memang benar kalau beliau adalah tentara. Badannya kekar dan rambutnya tipis, dari wajahnya kelihatan seperti pria yang sudah berkepala empat.

“Se-So…Sore om…,” ucapku sambil menyimpan makanan di meja

“Hmm…,”

Buset! Gw di cuekin lagi…

Singkat cerita semua makanan pun telah sampai di meja makan dengan selamat, aman dan sejahtara. #Abaikan…

Kini waktunya menyantap makanan.

*Greek…

“Loh!? Mau kemana al!?”

“M-Mau…um…mau ke belakang,”

“Kamu bilang kebelakang kenapa sambil bawa piringnya sih!”

“K-Karena mau makan di belakang,”

“Disini aja ih! Nyebelin deh!”

Huh? Gak seleh denger nih gw? Kok jadi lembut begitu si lele curut.

“Tapi…nanti malah merusak momen kekeluargaan lagi,”

“Aku yang ajak kamu untuk makan bersama, malah mau makan dibelakang lagi…huft…,”

“I-iyaudah deh…,”

“Chelle? Siapa dia?”

“Dia ini…,”

“AH! N-Nama saya Aldo Gilindra Abiyoga, saya temen sekolahnya Michelle om,”

Halaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh…

Kenapa tiba-tiba mulut gw ngomong sendiri! Pake sambil membungkuk segala lagi di depan si Om.

“Hmm teman sekolah ya,”

“Nah, mari kita makan terlebih dahulu,” ujar si Om

“Oh, b-baik Om…,”

 

To Be Continue…

Author : Shoryu_So

Iklan

2 tanggapan untuk “Cinta Palsu, Part 5

  1. Ane baru mulai baca cerita ini hari ini, dan saat scroll ke bagian bawah untuk lihat nama authornya, rupanya sama dengan PR2. Lalu setelah ane baca dari part 1 hingga disini, ane akhirnya tahu kalau cerita ini side story dari PR2. Petunjuk yang paling kuat adalah adanya nama Deva di part 4 lalu 😂. Keep up the good work, thor!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s