Tak Lagi Tersisa

Langkah kaki pelan ini menuntunku, atau lebih

tepatnya mamaksaku kembali melihat tempat dimana aku mencari ilmu. Dan
aku yakin kalian pasti sudah tau nama tempat ini. Sekolah. Serasa
membosankan jika aku ceritakan semua tentang tempat ini. Atau
setidaknya akan menghabiskan lembaran kertasku, jika kalian memaksaku
untuk menuliskan semua. Meskipun begitu aku tak bisa meninggalkan
tempat ini. Mencari ilmu adalah kewajibanku untuk masa depanku kelak.
Ilmu yang akan mengantarkanku kelak ke pekerjaan yang layak, untuk
menghidupi keluargaku suatu hari nanti. Keren kan. Aku ingin menampar
diriku sendiri saat berkata seperti. Lupakan tentang itu.

Sedetik, dua detik. Aku tak berhenti menghitung waktu untuk
kepergianku dari tempat ini. Tapi aku lupa, baru saja aku menaruh tas.
Dan itu artinya aku baru saja tiba ditempat ini. Dan itu membuatku
merasa seperti orang bodoh karena lagi dan lagi, semua itu terulang
setiap harinya ditempat ini.

” woy!!”

Sial, siapa tadi yg memukul kepalaku dari samping. Kupaksakan kepala
ini untuk menengok kesamping.

” apa?” balasku malas setelah melihat sosoknya.

” hadehhh, harus berapa kali aku bilang!?”.

” kenapa lagi?” Tanyaku.

aku tak tertarik lagi berbicara dengannya.

” itu tempat duduk aku!!” Gerutunya.

aku mengeringitkan dahi.

Astaga, aku baru menyadarinya. Dan entah kenapa hal itu juga sering
terulang. Dan dengan santainya ku berikan kursi dari kayu yg kududuki
itu pada orang itu.

” apa lagi sekarang?” tanyaku setelah memberikan tempat duduk yg
diklaim miliknya itu.

Tapi kenapa dia tidak terlihat senang. Dia malah menatapku tajam.

” dasar cowok nyebelin!!” teriaknya seakan menusuk gendang telingaku.

Suaranya begitu nyaring dan menggema didalam kelas ini.
Kenapa dia bilang nyebelin. Aku bahkan tak mengerti, apa yg salah dari
diriku ini. Apa aku terlalu bodoh, hingga tak menyadari hal itu.
Abaikan tentang itu.
Biar ku ceritakan sedikit tentang sekolahku ini. Sekolahku ini sekolah
SMA biasa seperti pada umumnya, ada murid, ada guru, ada penjaga
sekolah, dan ada tukang kebun. Maaf jika itu terlalu banyak.

***

” dut?” panggilku pada teman sebelahku.

” kenapa?, mau nyontek tugas punyaku lagi?” Balasnya.

Sepertinya dia sudah hafal dengan sifat dariku ini.

” hehehe…”

Aku malah cengengesan. Dia menghela nafas pelan. Sebelum dia mulai
berbicara lagi.

” ini kalau enggak kasihan sama kamu, gak bakal aku kasih. Tapi mau
gimanapun aku bosen lihat kamu dihukum terus.” celotehnya.

Aku tak menggubris lagi apa yang dia ucapkan. Karena jika itu
berlanjut mungkin aku tak akan bisa menyalin tugas, karena waktuku
habis hanya untuk mendengarkan ocehannya. Walaupun selalu mengoceh
begitu, namun pada akhirnya dia atau sebut saja dudut atau Sinka atau
Panda, tetap memberikan contekannya. Aku juga tak tau apa yg
membuatnya seperti itu, yg aku ingat dulu aku hanya…hanya lupa. Aku
tak ingat sama sekali tentang hal itu.

Lonceng tanda istirahat berdering, menggema di seluruh penjuru
sekolah. Senyum mengembang dari wajah siswa-siswi di kelas ini. Dan
tak heran mereka berdesakan untuk keluar kelas. Yah, aku berharap aku
bukanlah salah datu fans maniak dari lonceng itu. Namun tak dapat
kupungkiri, bahwa aku juga merindukan lonceng itu.

Namun sial untuk hari ini, aku bukan orang beruntung yg bisa menikmati
indahnya kantin sekolah. Semuanya penuh, tak ada lagi bangku tersisa
yg bisa aku singgahi. Seluruh penjuru kantin tak lepas dari tatapan
mataku. Namun sekali lagi, tak ada tempat tersisa untukku. Langkah
kaki ini memaksaku meninggalkan tempat ternyaman disekolahan ini. Dan
sekarang tidak ada tujuan, kemana kaki ini membawaku. Mungkin kesuatu
tempat. Sudah tak terdengar lagi kumpulan suara dari mereka dikantin,
dan artinya langkah ini sudah cukup jauh.

” mau kemana?”

suara itu setidaknya menghentikan langkahku sejenak. Aku terdiam,
karena saat mencari sumber suara itu, tak ku temukan adanya petunjuk
untuk menemukan mahkluk apapun yg memanggilku tadi. Yah, aku ingat
jika tempat ini, atau sebut saja ruang ekskul sastra, bisa di bilang
‘horor’. Kenapa begitu, akan kuceritakan sedikit tentang tempat ini.
Dulu, konon, dan mitosnya, katanya tempat pernah di temukan mayat. Aku
yakin kalian pasti sudah merasa takut jika aku lanjutkan tentang
cerita ini. Tapi karena kalian maksa, maka akan aku lanjutkan. Mayat
itu terbungkus, dan ternyata pas dibuka, itu mayat cicak yg terbungkus
kertas tissue. Dan aku harap, cicak itu tak menggangguku untuk saat
ini.

” dorr!!!”

aku hampir saja memukul orang yg kini didepanku. Sudah kutaruh kepalan
tanganku diwajahnya. Dan saat itu aku ingat, dia adalah seorang
perempuan berambut sebahu. Mempunyai mata agak besar. Dan tingginya
hanya sebahuku.

” gak asik, mukanya nyebelin. Masa digitiun mau mukul?” keluhnya.

Aku tak peduli dengan celotehnya itu. Aku kembali melanjutkan langkahku.

” tunggu!” teriaknya.

” ngapain teriak!, ini baru satu meter belum ada!, aku ga tuli kali!!”
Gerutuku.

Yg sekarang kulihat dia malah cengengesan.

” Aku boleh ikut?”

” ga bisa, aku mau ke toilet…” balasku.

Dia terlihat mengeringitkan dahi.

” loh, toilet kan sebelah sana…” tunjuknya.

Itu membuatku kembali terlihat bodoh. Karena yg dia tunjuk berbanding
terbalik dengan langkahku.

” halah…pokoknya ga usah ikut,”.

” ga aku kasih contekan lagi…” ucapnya mantap.

Itu membuatku kaku seketika dan aku rasa itu ancaman yang menakutkan.

Kini aku dan dia berada disalah satu ruangan ekskul yg kupilih.
Musik, kedengerannya keren kan. Padahal sama aja.
Dan sekarang pandangan mataku tertuju pada sosoknya, dia yang terlihat
sedang memegang gitar yang biasa aku mainkan. Dia kini mulai
menempelkan tangannya pada senar gitar itu.

” jangan…!!!” dia terlihat kaget mendengar teriakanku,

” hiiishhh. Ngagetin aja, kenapa sih?”

” nanti stem gitarnya berantakan!”

” yaudah deh, nih kamu aja yg main, kasih lagu yang romantis kek…”.

dia pun memberikan gitar itu padaku. Yah, setidaknya itu lebih baik.

” mau lagi dari siapa?, One ok! Rock, Bon Jovi, atau The beatles, atau…”

” kelamaan ngomongnya, yg dari Indonesia aja deh,” potongnya,

” yg baru-baru ini atau yg…”

” surat untuk starla… Tau lagu itu?” potongnya kembali.

Aku rasa, aku tak terlalu asing dengan lagu itu Tapi ingatanku buruk,
aku lupa gimana lagunya.

” lama banget sih?, bisa nggak?” dia terlihat mengambil handphone dari
sakunya dan dia memutar lagu itu.

Tiga menit lebih, handphone darinya memperdengarkan lagu itu. Dan
sejak detik pertama, aku sudah menganalisa cord nya.

” udah tau?” tanyanya sambil menghentikan lagu itu, aku mengangguk paham,

” kamu bisa nyanyi kan?” ucapku dan dia terlihat kaget.

” aku ga hafal liriknya…” lanjutku.

” iyadeh, jangan ngetawain kalau jelek.”

Aku hanya mengangguk, pertanda untuk memulainya.
Intro dari lagu tersebut mulai kumainkan dengan gitar ditanganku.
Dia terlihat mulai membuka mulutnya untuk mulau bernyanyi.

Kutuliskan kenangan tentang
Caraku menemukan dirimu
Tentang apa yang membuatku mudah
Berikan hatiku padamu

Takkan habis sejuta lagu
Untuk menceritakan indahmu
Kan teramat panjang puisi
Tuk menyuratkan cinta ini

Telah habis sudah cinta ini
Tak lagi tersisa untuk dunia
Karena tlah kuhabiskan
Sisa cintaku hanya untukmu

Aku pernah berpikir tentang
Hidupku tanpa ada dirimu
Dapatkah lebih indah dari
Yang kujalani sampai ki…

Dia berhenti, padahal lagunya belum selesai. Perasaan aku ga salah
memasukkan cord gitarnya. Akupun menghentikan jemariku yg sedang
bermesraan dengan senar gitar itu.

” kenapa?” tanyaku.

Dia menatapku sebentar. Sebelum dia menjawab pertanyaanku beberapa
saat kemudian.

” kayaknya udah mau masuk deh kelasnya. Aku duluan ya.” Balasnya,
diikuti dengan langkah kakinya yg menjauh dari tempatku ini.

aku tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Atau mungkin
waktu istirahatnya memang sudah berakhir. Akupun menaruh gitar itu
pada tempat semula, dan berjalan keluar meninggalkan ruangan itu.

***

” nih motor kenapa malah mogok, makin sial aja dah!” gerutuku sambil
mengelus motor itu.

Kalian pasti merasa aneh, biasanya kalau kesel kan ditendang. Nih
motor cuman minjem jadi ga berani nendang. Mari kita lupakan tentang
itu.
Jalan kaki sehat, naik bus bisa tiduran. Itu pilihan terbaik yg
terngiang dalam kepalaku. Sepertinya naik bus adalah pilihan tepat.

Lima belas menit berlalu, dan bus itu baru muncul. Yah, setidaknya itu
lebih baik daripada tidak ada bus sama sekali. Setelah kutitipkan
motor itu pada penjaga sekolah, akupun mulai menghampiri bus itu dan
masuk kedalam. Rasanya semua khayalanku tentang tidur didalam bus
sirna seketika. Gimana bisa tidur, duduk aja enggak bisa. Penuh
penumpang bung. Tidakkk.

Perjalan penuh penderitaan dalam bus berakhir sampai disini. Setelah
membayar, akupun langsung meloncat dari dalam bus. Setidaknya biar
terlihat keren. Tapi apa daya, loncatanku malah mengakibat kecelakaan
kecil dipinggir jalan. Aku menabrak seseorang. Bukan jambret, bukan
pengamen. Dia perempuan, dia yang sekarang terlihat mengambil lembaran
kertasnya yang berserakan ditepi jalan itu.

” m-maaf mbak, e-enggak sengaja…” ucapku agak gugup.

Takutnya dia minta ganti rugi duit, kan bahaya. Bahayanya kan aku ga ada duit.

“Iya…gapapa,” balasnya singkat.

Dia terlihat masih mengambil beberapa kertas yg masih berserakan.
Akupun membantunya mengumpulkan beberapa lembaran kertas itu.

” sekali lagi saya maaf mbak, tadi enggak sengaja…” ucapku, sambil
menyerahkan beberapa lembaran kertas yang ku kumpulkan.
Dia menatapku sejenak. Dan kalau diukur tinggi badannya mungkin
sepantaran. Dia menatapku datar, tak ada balasan darinya. Kenapa dia
ini.

” ah…iya. Lain kali hati-hati…”

dia terlihat merapikan lembaran-lembaran itu ditangannya. Dan sekarang
dia berjalan meninggalkanku, dan itu membuatku juga bersyukur karena
dia tidak merasa ada masalah dengan hal tadi.
Tapi tunggu. Ini bukan dekat rumahku. Kenek bus itu akan kuincar suatu
hari nanti. Ini kelewatan jauh dari rumahku. Sial. Aku ingin
membanting apa yg kupegang. Tapi itu cuman khayalan, karena yg ku
pegang daritadi hanya permen. Dan ga tega kalau mau buang makanan. Aku
memandang kembali kearah perempuan yg tadi sempat menatapku disini.
Dia masih disana duduk dibangku yg tak jauh dari tempatku berdiri. Aku
mencari hp dalam tasku, setidaknya biar ada yg menjemputku nanti. Dan
semoga bukan malaikat maut. Bukan apa, tapi dosa ini masih cukup
tebal.
Ku cari selama hampir lima menit, tidak bisa kutemukan keberadaannya.
Dan aku baru ingat, handphoneku ketinggalan dikelas. Dan akan kucatat
dalam sejarah hidupku, hari ini hari yg buruk.

“Nyari apa?” seseorang menyadarkanku dari lamunanku tentang hari ini.

” ng…anu itu, apa tadi…?” balasku celingukan, setelah mengetahui
siapa yg telah menanyakan itu,

” kamu ini kenapa?, sini duduk dulu?” tawarnya sambil menggeser tempat duduknya.

Aku merasa heran dengan orang itu. Apa dia ada rencana busuk untuk
membalasku tadi, yg ga sengaja menghamburkan kertas lembarannya tadi.
Aku harus waspada.

” jangan takut, aku bukan copet kok…hihihi”

Dia tertawa kecil, melihatku menatapnya serius.

Sebenarnya hati besarku enggan untuk duduk disampingnya, tapi entah
kenapa langkah ini malah menuju kearahnya. Dan aku yakin aku pasti
terlihat seperti orang bodoh. Aku mulai bisa mencium wangi parfumnya.
Dia menengok kearahku, dan lagi dia tertawa kecil.
Apa dia ini sehat. Aku berharap pikiran burukku ini tak jadi
kenyataan. Aku mencoba melirik kesamping, kudapati dia sedang
menggoreskan tintanya pada salah satu kertas putihnya. Aku penasaran
dengan apa yg sedang dia lakukan. Beberapa menit kumudian
coretan-coretan kecil itu menunjukkan sesuatu. Desain rumah. Apa dia
ini desainer atau cuman iseng aja. Tapi harus aku akui gambarnya cukup
rapi. Seperti rambutnya yg tergerai lurus. Apa yg sedang kupikirkan
sekarang. Sadarkan diriku ini.

” kenapa?” Dia sepertinya mendapati diriku yg sedang memperhatikannya.

” ah…anu, itu gambarnya bagus…” Balasku gelagapan, alias bingung
dengan situasi ini.

” mau permen?” Tawarku.

Aku mencoba mengalihkan perhatiannya yg kini sedang menatapku. Aku
menyodorkan permen itu padanya.

” eh…kamu ngeliatin ya daritadi?” Tanyanya lagi, sambil mengambil permen itu.

Aku menggaruk bagian belakang kepalaku yg kurasa tak gatal itu.

” ah..iya. Maaf. Aku pulang dulu ya…” Balasku segera berdiri dari
bangku itu. Dia kembali melihatku.

” hati-hati, nanti nabrak orang lagi.”

Itu kata pengantarnya sebelum aku menjauhi tempat itu.

***

Sudah tiba dirumah dengan nyaman. Dan itu mitos untuk hari ini. Rumah
yg kumaksud adalah rumah yg bukan milik pribadi alias kost. Yah,
kalian pasti tau keadaan kost anak laki-laki berumur belasan tahun.
BERANTAKAN. Itu menjadi hal yg wajar untuk anak kost seumuranku. Tidak
ada hal lain yg kulakukan selain bermain playstation, atau bermain
gitar, atau tidur. Sebenarnya aku tak ingin menceritakan kebiasaan
buruk itu, aku berharap bahwa kalian tidak meniru itu.

Teh panas yg tersaji didalam gelas didepanku ini sekarang yg
menemaniku dalam senja ini. Bersama gitar kesayanganku ini tentunya.
Membiarkan tangan ini menari bersama gitarku, itu sungguh
menyenangkan. Apalagi jika aku membayangkan saat tadi disekolah, dia
bernyanyi dihadapanku. Walaupun dia terlihat malu-malu tapi harus aku
akui dia punya bakat untuk jadi penyanyi. Namun sialnya, dia bukan
anggota ekskul musik sepertiku, dia lebih memilih menjadi anggota
ekskul Kimia yg dimana selalu melakukan penelitian dan mungkin itu
tepat untuknya. Jika kalian bertanya, apa aku menyukainya. Aku tidak
tau.

” ngapain senyum-senyum?”

Seseorang menyadarkanku dari lamunan tentangnya.

” kesambet baru tau rasa…” Lanjutnya sambil meminum teh panas dihapanku.

” Vin…” Ucapku sambil melihat gelas dihadapanku, yg airnya tersisa
kurang dari setengah.

” apa?”

” itu tadi kemasukan cicak, jadi ga aku minum.. ” seruku sambil menatapnya.

” hah…Aaaaaaaaakkkkkk” teriaknya.

Dia terlihat kaget mendengar ucapanku barusan.

” kenapa ga ngomong tadi…!!!” Gerutunya.

” bercanda kali…” Balasku santai.

Dia menoleh tajam.

” hiiiisshhh.”

Dia pun terlihat memasuki ruangan kostnya lagi.

Aku yakin dia pasti ngambek. Biasalah, dia kalau dikerjain pasti
begitu. Baiklah, ku beri tau tentangnya sedikit. Dia perempuan, anak
kuliahan, dan berambut seperti dora. Halah, ngapain malah bahas dia.
Mari kita lupakan.

Setidaknya, masih ada sisa dari teh yg sekarang tak panas lagi. Tapi
bekas dia, tapi haus, tapi dia bukan siapa-siapa, jadi kalau minum
bekasnya itu berarti… Vienny ganti teh panasku. Itu isi pikirinku
saat memandangi teh panas didepanku sekarang.

Sejenak pikiran menjadi kacau, gitar yg sedaritadi menemaniku tak lagi
bersuara. Jemariku seperti terikat sesuatu. Bayangan tentangnya lagi.
Apa ini yg disebut tjinta. Halah, aku tak mengerti sejak kapan rasa
ini ada. Dia tak memperlihatkan hal itu. Teh panas itu benar-benar
mengganggu pikiranku untuk sekarang ini.

Lima menit sudah waktu berlalu, hanya terdiam tanpa suara. Terdengar
langkah kaki dari sampingku. Dia lagi.

” mau kemana Vin?, rapi bener tuh muka…” Tanyaku sambil memandanginya.

Dia menengok sebentar, dan tak ada sepatah katapun yg dia lontarkan
untukku sebagai balasan pertanyaanku. Aku yakin dia ngambek. Dan itu
artinya tugas sekolah harus nunggu besok, nunggu Sinka. Hidupku ini
seperti tergantung pada dua orang itu.

***

Hembusan angin pagi ini cukup membuatku harus memakai jaket. Dan itu
membuatku seperti orang korea. Udah keren kan. Duduk dan bersandar
dibangku kelas ini. Setelah tadi cekcok dengan yg biasa mengaku
sebagai pemilik kursi yg kini aku tinggalkan. Sepertinya hal itu
selalu terulang. Nyontek tugas udah. Mungkin ini saatnya untuk tidur.
Perlahan ku tutup kedua mataku, setidaknya ini keberuntunganku karena
guru yg mengajar di jam pertama tidak hadir. Saat mata ini telah aku
pejamkan, tiba-tiba ada yg memukul pelan kepalaku.

” kenapa?” Tanyaku pada pada orang itu.

” itu…kepala kamu nyender di…” Sahutnya pelan.

” kamu ke ganggu??” Potongku sambil membenarkan posisi bersandarku.

” k-kamu nyender di pundakku… Aku ga bisa konsen membaca…”

Terpaksa ku jauhkan kepalaku dari pundaknya. Padahal kan enak, berasa
tidur pakai bantal. Sinka mengertilah sedikit dengan diriku ini.

” kemarin kenapa langsung pergi?, kan jam istirahatnya belum habis?”
Tanyaku, tak lagi bersandar dipundaknya.

Dia diam.

” Ini orang, enggak denger kayaknya…” Pikirku karena lama tak ada
balasan darinya.

” tadi nanya apa?”

Dia menengok kearahku, sambil mengambil handset yg tersembunyi di
balik tudung jaketnya.

” tadi volume nya aku besarin, jadi ga denger kamu ngomong apa?”

” ah…lupakan aja, ga penting kok.” Balasku sambil pura-pura senyum kearahnya.

Dia kembali memasang handsetnya, dan duduk seperti biasa sambil
membaca buku setelah berkata ‘ oh ‘.
Aku tak mau terus mengganggunya. Kututup mata lagi tanpa harus
bersandar dipundaknya. Setidaknya biar dia tak merasa terganggu.

Dua jam berlalu, semua petualangan alam mimpiku harusku akhiri sampai
disini. Sinka telah menyadarkanku, bahwa guru mata pelajaran
berikutnya telah masuk kekelas. Dan cara dia membangunkanku pun cukup
romantis. Dia menggampar wajahku dengan buku ditangannya. Romantis
gundulmu. Setidaknya dia baik, masih mau membangunku. Meskipun seperti
membangunkan orang mati.

***

“Seperti senja di sore hari, seperti embun dipagi hari. Matamu indah
dan menyejukkan.”

Aku mengeringitkan dahi saat mengintip kertas yg dipegang Sinka.

” wuih, dapet surat dari siapa dut?” Tanyaku penasaran.

Dia diam sebentar, kemudian menatapku tajam.

” kamu ngintip ya?” Ocehnya.

” dikit…” Balasku sambil menggaruk bagian belakang kepalaku yg tidak
terasa gatal.

” halah, sama aja,” tangkasnya.

Tak lama kemudian dia mulai berbicara lagi.

” enggak tau, ini tadi dilaci meja aku,”

” punya penggemar rahasia kali…” ucapku lagi.
Dia menatapku lagi, kemudian dia terlihat meremas-remas kertas itu.
Tega bener nih orang.

” walaupun begitu, aku kurang suka dengan hal yg seperti itu…”

Dia agak menekankan nada bicaranya.

Situasi tak lagi bersahabat, maksudku cacing diperutku telah
mengadakan konser. Lebih baik bunyikan lonceng Istirahat itu sekarang.
Aku mohon.

Doaku sepertinya terkabul. Tak selang berapa lama, lonceng itu
menggema di area sekolah. Aku pura-pura terlihat biasa. Walaupun aku
berharap guru didepan kelas itu segera pergi untuk meninggalkan kelas
ini.

” nih…”

Aku mendongak kearah suara itu.

Ada roti yg masih terbungkus didalam plastik dan masih utuh mengarah kearahku.

” ng…apa ini?”

” ini roti…masa ga tau?. Makan gih, itu perut kamu berisik banget,”

Dia menyodorkan roti itu tanpa menoleh kearahku.

” simpen aja dulu, buat kamu nanti…” Balasku.

Aku mendorong roti yg dia pegang kembali kepada dirinya. Aku hendak
berdiri untuk meninggalkan kelas, karena guru juga telah pergi
meninggalkan kelas ini.
Dia menatapku sebentar, kemudian menaruh roti itu dimeja. Dan dia
dengan cepat, meninggalkan kelas ini. Tak ada sepatah katapun yg dia
tinggalkan disini. Apa dia marah, hanya karena aku menolak
pemberiannya. Aku tak pernah merasakan situasi seperti ini. Yah,
dengan terpaksa aku masukkan roti itu ke dalam tasnya kembali.
Setidaknya agar tak ada yg mengambil roti itu dengan sembarangan
diatas meja.

” kamu dicariin sama orang, tuh orangnya dideket pintu…” ucap salah
satu teman sekelasku yg datang dari luar kelas.

Aku mendongakkan kepalaku kearah pintu masuk kelas. Tak terlihat kalau
ada seseorang disana. Karena penasaran akupun berjalan kesana. Dan
ternyata dia yg ada disana, dia sekarang menatapku kemudian menarik
kedua ujung bibirnya berlawanan. Dia tersenyum.

” ini… Kartu pelajar kamu kan?” ucapnya.

Dia menyodorkan kartu pelajar yg bahkan tak kusadari jika itu bisa ada
padanya. Aku diam beberapa saat.

” ini…” ulangnya.

” ah iya, makasih ya mbak…” balasku sambil mengambil kartu pelajar
itu darinya.

” kok tau saya sekolah disini mbak?”

” kemarin nggak sengaja lihat nama sekolah diseragam kamu itu…”

Dia menunjuk bagian lengan seragamku.

” oh…hahha,”

Aku tertawa seperti orang gila, padahal ga ada yg lucu.

Seseorang menepuk pundakku, menyadarkankanku dari kegilaan ini. Aku
mengeringitkan dahi. Ternyata dia yg ada didepanku.

” yaudah, aku pulang dulu.” ucapnya sambil menjauhkan tangannya dari pundakku.

Aku tidak mengatakan apapun saat langkahnya sudah menjauh dariku.
Dia datang hanya untuk mengembalikan kartu pelajar milikku, padahal
aku berharap ada hal lain yg akan dia sampaikan. Tapi itu hanya ilusi,
dan aku hanya bisa berharap bisa bertemu dengannya lagi. Lagi dan
lagi. Yah, setidaknya sekali lagi aku berharap akan datangnya
keajaiban. Kenapa aku malah seperti itu, tau namanya aja enggak.
Hadeeehhh.

” muke gile, cewek lo cakep bener…” seseorang menyadarkanku dari lamunan itu.

” halah, ngomong apa sih nyet…” gerutuku sambil berjalan
meninggalkan teman sekelasku itu.

***

Gitar ini kembali menemaniku dibawah langit senja disalah satu taman
di kota ini. Bersama dengan orang berlalu-lalang didepanku. Aku
mencoba memainkan lagu dengan gitar ditanganku ini. Namun lagi, untuk
kesekian kalinya, aku tak bisa konsen memetik senar gitar itu. Dan itu
membuat bunyinya tak enak didengar. Mungkin mereka yg memperhatikanku,
akan menganggapku orang yg tak bisa bermain gitar dan hanya kebanyakan
gaya. Itu tak masalah, karena yg kusadari sampai kini tak ada yg
peduli akan keberadaanku ini. Aku menjauhkan tanganku dari senar gitar
itu. Dan menutup mulutku yg menguap.

Tapi untuk kali ini aku merasa sedikit malu, karena saat aku menguap
ada seseorang disampingku. Dan lebih buruknya aku mengenal siapa dia.

” aku ga tau, kalau kamu itu ternyata ngembaliin roti itu?” ucapnya
datar tak melihat kearahku.

Aku terdiam untuk sesaat. Kemudian mencoba menatapnya, walau dia tidak
menatapku. Ku coba untuk memikirkan jawaban yg akan ku berikan
untuknya.

” bukan gitu dut, aku sebenarnya kasihan,” jawabku seadanya.

” kasihan?”

Dia terlihat bingung. Kemudian menoleh kearahku.

” iya, kan kalau aku makan roti kamu, takut kamu nanti kurusan?.
Biasanya kan porsi kamu banyak?”

Dia masih menatapku. Dan memukul pelan pundakku beberapa kali.

” enggak lucu…” ucapnya berpura-pura ketus.

Walaupun aku tau dibalik tangan mungilnya itu dia terlihat mencoba
menutupi senyumanya.

” mau nyanyi lagi?” tanyaku.

Setelah terdiam beberapa saat, dia kembali menoleh kearahku.

” boleh deh, yg kemarin ya?” balasnya masih menatapku.

Ku angguki permintaanya. Sudah aku hafalkan cord dari lagu itu. Dan
tak berselang lama intro dari lagu itu mulai kumainkan.

Selesai sudah suara dari gitarku dan nyanyiannya menemani senja ini.
Setidaknya beberapa orang sekarang memperhatikanku dan dia yg tadi
bernyanyi. Dan aku berharap mereka tak menganggapku orang sok keren yg
bawa gitar dan tak bisa memainkannya. Baru kusadari senja sebentar
lagi akan menutup hari ini. Mungkin sekarang sudah waktunya untuk
berpamitan dengan tempat ini. Dan dia juga terlihat mulai berdiri dari
bangku taman yg tadi dia duduki.

” mau aku anter?” tawarku padanya sambil memasukkan gitar itu ke tas gitar.

Dia menatapku sebentar. Kemudian mulut mungilnya itu mencoba mengatakan sesuatu.

” enggak usah deh, aku bawa motor sendiri kok,”

Dan sekarang aku bingung dengan apa yg akan aku katakan lagi padanya.

” kamu kenapa?” tanyanya seperti mengerti situasi yg aku alami ini.

” ng… Gapapa kok,”

Dia terlihat mengeringitkan dahi.

Apa yg dia lakukan sekarang, kenapa dia menarik tanganku. Dan kenapa
aku menurut. Aku tak tau. Kenapa.

” aku yakin kamu ga bawa motor…” ucapnya masih menarik lenganku.

Lagi, sepertinya dia bisa membaca isi dalam otakku ini. Dan itu
terdengar memalukan, kenapa tadi aku harus bergaya sok keren bilang
mau nganterin segala. Padahal kan ga bawa motor.

” biar aku yg nganterin…” lanjutnya.

Aku terdiam, dan apa aku harus menolaknya. Tadi kesini bareng temen
kost dan temen kost itu sudah pulang duluan. Dan tidak ada lagi bus di
jam segini. Dan jika aku menolaknya sudah bisa dipastikan, ini malam
yg melelahkan. Jalan kaki bung.

” nunggu apa lagi?. Tuh pakai helmnya dan kamu yg bawa motornya…”
perintahnya sambil memaksa menarik tas gitar yg kubawa.

Aku memandanginya sebentar sebelum aku yakin dengan pilihanku ini.

***

” makasih ya buat yg kemarin…” ucapnya sambil duduk disampingku.

Aku yg menyadari itu, mencoba untuk membalas ucapannya itu.

” enggak masalah kok, hehehe…” balasku sambil tertawa pelan.

Aku yakin kalian pasti bingung kenapa dia bilang makasih. Padahal kan
kemarin dia yg mau nganter. Biar ku ceritakan sedikit tentang kejadian
kemarin itu. Motornya Sinka mogok dan terpaksa aku mendorongnya ke
bengkel dan itu lumayan menguras keringat, kan ga mungkin kalau dia yg
ngedorong motor, lagian ga tega juga kan. Ngeliat dia jalan kaki aja
udah kasihan. Kurang lebih seperti itu kejadiannya.

Pelajaran demi pelajaran telah aku lalui hingga kurasa otak ini mau
meledak. Ku nikmati setiap detik waktu yg tersisa pada mata pelajaran
terakhir untuk hari ini. Sekarang aku yakin jika kamar kost-ku sedang
memanggil-manggil namaku. Dan aku yakin kamar itu ingin aku segera
kembali kesana. Tunggu aku sebentar lagi.

Tiga puluh menit lebih waktu telah berlalu. Dan sekarang aku disini.
Di tempat kemarin aku menyerviskan motorku yg tak jauh dari tempat
sekolahku. Dan ternyata motornya belum bisa diambil karena bengkelnya
sedang libur. Aku yakin dengan yg punya motor alias si Vienny akan
memberikanku sedikit tato di area tubuhku ini. Yah, aku masih ingat
kejadian kemarin saat aku menceritakan tentang motornya yg mogok. Dia
bilang minta ganti rugi inilah, ganti rugi itulah. Dan saat aku bilang
enggak mau. Dia langsung memukulku menggunakan buku yg teramat tebal
yg sedang dia pegang. Dan aku rasa itu cukup untuk membuatku harus
mengatakan iya.

Dan parahnya lagi aku harus jalan kaki untuk hari ini, kenapa bisa
begitu. Karena bus yg biasanya lewat sudah melewati tempat ini
beberapa menit yg lalu. Harus aku akui, beberapa hari ini aku bisa
dibilang overdosis olahraga. Kerena terlalu sering menguras fisik.
Gapalah daripada overdosis khayalan.

Tapi tunggu dulu. Ada seseorang didepan bengkel sedang melambaikan
tangan kearahku. Sepertinya dia kembali.

” hai…” sapanya.

Aku tertegun untuk beberapa saat. Apa dia masih mengingatku.

” eh..iya. Mau kemana mbak?” tanyaku setelah menghampirinya.

Dia memandangiku sebentar sebelum dia berbicara lagi.

” enggak tau nih mau kemana, kebetulan aja nih lewat sini dan ngeliat
kamu kayak kebingungan gitu?. Jadi aku berhenti sebentar disini…”

ini orang enggak jelas banget. Ga ada tujuan kemana dia pergi. Untung
aja orangnya baik. Kok tau. Kemarin kan ngembaliin kartu pelajar
milikku.

” kok bengong?”

Sial, lamunanku malah tentangnya.

” eh, enggak. Tadi kepikiran sesuatu, ”

” oh, kamu sendiri mau kemana?”

” ga tau. Eh,..maksudnya mau pulang, tadi kesini mau ngambil motor,
tapi motornya belum selesai diperbaiki…”

Sial, hampir saja aku mengikuti ucapannya tadi yg tidak ada tujuan itu.
Aku mendelik kearahnya. Dia tertawa kecil. Entah kenapa aku suka
melihat tawanya itu. Eh, maksudnya ketawanya itu lucu. Udah gitu aja.

” mau aku anter pulang?” Ucapnya.

Bentar, kita ga saling kenal tapi kenapa dia sok akrab gini.

” mau nggak?”

” gimana?” Jika dilihat dari tatapan matanya tidak terlihat ada niat buruk.

” gimana ya mbak..” ucapku agak ragu.

” kita kan belum saling kenal kan. Jadi.. ”

” iya juga ya. Oh iya, jangan panggil mbak deh, panggil Ve aja. Itu
nama panggilan aku,” potongnya yg seakan tau isi kepalaku ini.

Aku yakin ini orang pasti anak orang kaya. Kok tau. Dari namanya udah
kelihatan. IRIT PANGKAL KAYA. Namanya hanya terdiri dari dua huruf.
Tapi itu cuman panggilan Bego. Mari alihkan pembicaraan.

” sudah kuduga. Kamu itu orang yg sulit percaya sama orang yg baru
kamu kenal…”

” yaudah deh. Aku duluan…” ucapnya diiringi tatapan matanya yg
menuju kearahku.

Sesaat kemudian dia terlihat melajukan motornya dan meninggalkanku disini.
Sedikit ada penyesalan dalam diriku. Apa aku terlalu membatasi orang
lain untuk mengenalku. Yah, setidaknya apa aku terlalu tertutup.
Mungkin iya.

” mau bareng nggak?” Suara itu terdengar tak asing di telingaku.

Akupun melihat kearahnya. Dan ternyata dia.

***

” tumben baik bu?. Biasanya garang?” ucapku turun dari sepeda motor miliknya.

” yeee, udah dikasih tumpangan gratis, masih aja ngatain,” balasnya
sambil melepas helmnya.

” bukan begitu, kemarin kan…”

” oh, soal yg kemarin aku minta maaf deh. Kemarin udah keburu kesel.
Masa motor mogok malah ditinggal disekolahan harusnya kan di bengkel?”
potongnya seakan dia ingat kejadian kemarin.

” tapi ga pakai mukul juga kali Vin…”

” kan udah minta maaf. Emang mau dipukul lagi?”.

Dengan reflek luar biasa aku langsung lari kedalam kost. Gila kali tuh
orang, dia pikir diriku ini apa, dipukul seenak jidatnya aja.

***

Terdengar kembali bunyi lonceng tanda pulang sekolah. Bunyi lonceng yg
hampir dirindukan oleh semua murid disekolah ini. Dan aku yakin akan
hal itu.

Berjalan pelan menyusuri koridor sekolah. Setidaknya sudah tak seramai
tadi pagi. Dan saat sudah tiba digerbang sekolah ada sedikit kejutan
untukku. Aku melihat sosoknya lagi. Dia berdiri tepat didepanku. Dan
tersenyum seperti biasanya.

” nyari siapa mbak?” tanyaku sopan.

Dia menatapku, dan aku mulai risih dengan itu.

” nyari kamu…”

Untuk seperkian detik aku terdiam.

” ada masalah lagi?” tanyaku.

Dan dia hanya menggeleng pelan.

” ikut aku…”

Tanpa aba-aba lagi dia langsung menarik tanganku dan itu cukup
membuatku kaget. Aku tak bisa menolak ajakannya untuk kali ini.

Dia kini berjalan disampingku dan genggaman tangannya sudah dia
lepaskan. Karena itu memang permintaanku. Aku tak mau orang yg
melihatku menjadi salah paham. Takutnya nih orang ada cowoknya. Takut
dikasih tato nanti. Bukan apa, karena aku memang ga suka yg namanya
kekerasan. Setidaknya sudah lebih dari sepuluh menit aku dan dia
berjalan. Dan aku rasa tujuannya adalah taman kota yg memang dekat
dengan sekolahku. Dan itu memang benar, dia mengajakku kesini dan aku
tak tau kenapa dia mengajakku kesini. Duduk dan sama-sama saling diam.
Aku pikir ada yg mau dia sampaikan tapi sepertinya tidak ada karena
sampai sekarang pun tidak ada sepatah katapun yg dia ucapkan.

” ada yg pingin mbak sampaikan?” Ucapku mencoba meredam situasi yg
membosankan ini.

” apa ya tadi?. Lupa lagi kayaknya. Oh, iya… Jangan panggil mbak
deh. Panggil Ve aja,”

Sekarang tatapan mataku bertemu dengan tatapan matanya. Aku tak bisa
menjelaskan lagi tentang apa yg kurasakan sekarang.

” ah iya maaf. Tapi ga enak kalau ga ada embel-embel…”

Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku dia langsung memotongnya.

” karena aku mungkin lebih tua beberapa tahun kan dari kamu. Tapi aku
rasa itu tak masalah…” Tangkasnya.

” aku baru masuk kuliah sekitar dua tahun lalu…” Lanjutnya seakan
mengerti dengan apa yg nantinya akan aku tanyakan.

” aku bisa kan jadi temen kamu?”

Untuk seperkian detik aku tak menjawab perkataannya itu.

” hujan?” Seruku, setelah kusadari rintik hujan mulai membasi seragam sekolahku.

Aku lihat dia sekarang mendongak keatas. Tanpa menunggu
persutujuannya aku menarik tangannya menuju tempat yg setidaknya bisa
dijadikan tempat berteduh. Dia tidak menolaknya karena saat kulihat ke
belakang dia tersenyum.

Di bawah pohon yg rimbun ini. Aku berteduh tantunya bersama dia
disampingku. Jika aku perhatikan dengan benar, tinggi badannya memang
sepantaran denganku. Bau wangi parfumnya bisa kucium dari jarakku
sekarang ini. Ada beberapa orang juga yg ikut berteduh dan itu semakin
banyak. Dan itu artinya tubuhku semakin bergeser mendekatinya.
Mendekati dia yg tak henti-hentinya menggosokkan kedua telapak
tangannya. Mungkin jika aku kekasihnya, sudah pasti aku memeluknya.
Tapi aku bukan siapa-siapanya.

Hujan semakin deras mengguyur tempat ini. Dan itu jelas semakin buruk.
Kerana aku akan terjebak disini, dan yg jelas aku tidak tau sampai
kapan.

***

Lembaran soal ulangan menumpuk tepat didepan mataku. Dan itu membuatku
kehilangan kesadaran. Maksudku, aku tak yakin, apa aku bisa
menyelesaikan soal itu.
Aku menengok kesamping kananku. Dia terlihat tak menunjukkan
ketakutannya terhadap soal ulangan itu. Sekarang dia menengok
kearahku. Aku yakin dia bisa membaca ekspresi yg tergambar diwajahku
ini. Dan aku berharap dia mau berbaik hati lagi.

” itu…” Ucapnya.

Dia menunjuk kearah kepalaku.

Apa dia bisa melihat kepulan asap dikepalaku sekarang. Karena otakku
terasa terbakar melihat soal ulangan itu.
Dia mengarahkan tangannya kearah kepalaku. Dan aku juga mengarahkan
tanganku untuk menangkap tangannya. Dia diam sebentar saat tanganku
berhasil meraih tangannya sebelum tangannya menyentuh kepalaku.

” itu… Ada daun dirambut kamu?”

Aku mengeringitkan dahi.
Dan beberapa saat kemudian aku melepaskan genggaman tanganku. Dia
mengambil daun dirambutku dan menunjukkannya padaku.

” jangan mikir yg aneh-aneh deh.” Lanjutnya.

Empat puluh menit lebih waktu berlalu. Dan belum ada satu soalpun yg
bisa aku jawab. Yah, itu sangat buruk. Pikiranku kacau, bahkan melihat
soal ulangan itu saja mataku perih.

Untuk sesaat aku menengok kesamping. Dia tadi kenapa menyenggol
lenganku. Tapi saat aku lihat dia tidak ada niat memberikan keterangan
kenapa menyenggol lenganku. Namun beberapa saat kemudian dia agak
menggeser lembar jawabannya. Dan itu membuatku ingin memeluknya. Tapi
pasti digampar olehnya. Terimakasih Sinka, kau selalu jadi pahlawanku.

***

” makasih ya dut, buat yg tadi…” Ucapku saat aku dan di berjalan
dikoridor sekolah.

Dia memperhatikanku sebentar.

” udah kebiasaannya kayak gitu,” Balasnya sambil terus berjalan.

Sepertinya dia hafal tentang itu. Dan itu membuatku terlihat buruk.
Aku berfikir, apa yg bisa aku berikan untuknya kali ini. Aku jadi
teringat masih ada permen disaku celanaku. Itu permen kembalian beli
pulsa tadi pagi. Aneh kan, sekarang yg jual pulsa sedia permen,
katanya kalau nggak ada kembalian dikasih permen aja.

” kamu mau sesuatu?” Tanyaku.

Dia berhenti sebentar. Dan aku juga menghentikan langkahku.

” mana tangan kamu?”

Dia terlihat heran mendengar ucapan dariku barusan.
Tapi beberapa saat kemudian dia menyodorkan tangan kanannya kearahku.
Aku menggenggam tangannya dengan tangan kiriku. Sementara tangan
kananku mengambil permen disaku celanaku.

” ini…” Aku menaruh beberapa permen itu ditangannya.

Dia terlihat kaget melihat itu.

” dah ya. Makasih pokoknya.” Ucapku berlalu meninggalkannya yg masih terdiam.

Kata orang jangan dilihat dari barangnya tapi lihat niatnya. Jadi aku
rasa itu tak masalah, karena aku ikhlas memberikan permen itu.

***

Hari-hari seperti biasa begitu cepat berlalu. Dan kini aku semakin
mengenalnya. Jessica Veranda. Itu nama lengkapnya, setidaknya jarakku
dan dia semakin dekat. Dan aku tak bisa menjelaskan perasaan apa yg
tengah aku rasakan kini terhadapnya. Dia yg hampir menemuiku setiap
harinya, entah sengaja atau tidak, semua itu sering terjadi. Aku tak
bisa menggambarkan arti dari tatapan matanya yg selalu menatapku,
memperlihatkan gigi putihnya ketika berada didekatku. Harus aku akui
jika aku benar-benar nyaman dengannya. Sangat nyaman. Namun sekali
lagi, aku benar tak tau apa yg tengah aku inginkan sebenarnya darinya.
Mulai dari perkenalan yg sebenarnya tak kuharapkan itu, kini aku
mengerti bahwa itu adalah hal yg sulit kulupakan untuk sekarang ini.
Seperti kemarin. Dia mengajakku lagi ketempat ini. Dan aku tak pernah
merasa bosan. Aku tak tau dengan apa yg sebenarnya terjadi denganku
ini.

” mau pesen apa?” Tanyanya.

Untuk kesekian kalinya dia tersenyum kearahku. Senyuman yg tak bisa
lepas dari tatapanku. Aku terdiam beberapa saat.

” kok bengong?” Ucapnya lagi.

” ah iya. Kayak yg biasanya aja.” balasku.

Lebih dari tigapuluh menit aku dan dia berada disini. Di salah satu
cafe yg tak jauh dari sekolahku. Mungkin sudah saatnya untuk
meninggalkan tempat ini.

Langkah kaki pelan menyusuri jalanan di bawah langit berwarna orange.
Aku tak tau kenapa dia bisa tiba disekolahku tadi. Padahal dia tidak
membawa kendaraan. Sebenarnya itu bisa ditebak kalau dia naik bus.
Tapi untuk apa harus turun disekolahku. Apa hanya karena ingin
menemuiku. Aku mulai kege-eran jika itu memang benar.
Aku menatapnya sebentar. Dia seperti sedang mencoba menghentikan bus
ditengah perjalanan. Dan sekarang aku juga mengikutinya.

Dan kini aku dan dia berada didalam bus. Berdiri diantara orang-orang
lain yg juga berada dalam bus. Aku tak tau kenapa dia menatapku begitu
dekat. Sekitar satu jengkal jarak wajahku dan wajahnya dan dia
tersenyum kembali seperti biasa. Aku berharap bisa bertahan dari
tatapannya ini. Dan itu terdengar lebay.

Sepuluh menit waktu berlalu didalam bus. Dan sudah saatnya bagiku
untuk turun meninggalkannya didalam bus. Dan saat aku hendak turun
dari bus dia memegang tanganku. Dan terlihat mencoba mengatakan
sesuatu.

” hati-hati.” Ucapnya.

Aku hanya tersenyum membalas ucapannya. Kemudian dia melepaskan
genggaman tangannya.

***

Untuk hari ini aku berada ditaman kota bersama dengan dia. Dia yg
hampir bertemu disetiap harinya. Dia yg duduk disebelahku dalam kelas.
Dan sekarang dia juga duduk disebelahku di bangku taman ini sambil
bercerita tentang hal yg tak aku mengerti. Apa lagi kalau bukan
tentang ekskul yg dia ikuti. Dan aku hanya mengangguk-anggukkan kepala
seakan mengikuti setiap ucapannya.

Aku tak menghitung seberapa lama dia bercerita. Tapi jika dilihat,
sepertinya dia telah selesai dengan hal itu.

” dut, aku mau nanya sesuatu…” Ucapku.

Dia melihat kearahku seakan siap jadi pendengar apa yg akan aku
tanyakan padanya.

” biasanya kalau cewek lagi jatuh cinta itu kayak gimana sih?” Tanyaku.

Dia diam. Apa aku salah bertanya seperti itu. Tapi dimana letak salahnya.

” aku ga tau…” balasnya singkat.

” loh, kok ga tau?. Apa kamu ga pernah jatuh cinta sama seseorang?”.

Lagi. Dia diam, dan itu membuatku merasa heran.

” mending ganti topik aja deh, kayaknya kamu ga pernah jatuh cinta
sama seseorang,” lanjutku.

Sekarang sikapnya menjadi aneh. Dan tak menatapku lagi. Apa dia sakit.

” apa kamu sakit dut?” Tanyaku lagi.

Dia menoleh kearahku lagi. Aku menempelkan telapak tanganku pada
keningnya. Dia terlihat kaget melihat itu, tapi dia tidak mencoba
untuk menyingkirkan tanganku. Tidak panas. Itu yg kurasakan saat
telapak tanganku menyentuh keningnya. Segera ku jauhkan tanganku dari
keningnya, karena aku merasa jika aku terlalu lama menempelkan telapak
tanganku itu.

Entah seberapa lama diantara aku dan dia tidak ada yg mengeluarkan
suara. Setidaknya untuk membunuh rasa canggung ini.

” mau permen?” Tanyaku padanya.

Setidaknya aku teringat masih ada permen didalam tasku. Kemarin habis
beli pulsa dan entah kenapa dikasih kembalian permen lagi. Beberapa
saat kemudian dia mengambil satu permen yg aku sodorkan padanya itu.

***

Aku berjalan bersama Sinka dikoridor sekolah. Menyusuri setiap jalan
menuju gerbang sekolah. Hanya candaan ringan yg aku lontarkan
untuknya. Setidaknya agar tak terasa membosankan.

” hai…” Sapa seseorang tepat saat aku dan Sinka tiba digerbang sekolah.

Aku terdiam. Sinka juga terdiam.

” eh Ve. Ada apa kesini?” Balasku.

” enggak ada apa-apa sih. Kebetulan udah pulang kuliah, dan lagi ga
nugas. Jadi mampir kesini bentar,”.

” oh iya Ve. Kenalin, ini temen aku namanya Sinka…”

” Aku pulang duluan…” Ucap Sinka.

Entah kenapa nih anak. Biasanya enggak kayak gitu. Aku mencoba
memanggilnya namun tak digubris olehnya. Mungkin dia ada kepentingan.
Langkahnya semakin jauh dan tak menoleh kearahku sekalipun.

” itu pacar kamu?” Tanya Ve.

Aku dengan cepat menggeleng. Karena memang aku bukan pacarnya.

” bukan. Temen sekelas yg udah akrab sejak masuk SMA…” jelasku.

Dia mengangguk mengerti. Kemudian mendekat kearahku. Dan mengajakku
pulang bersama.

Turun dari bus dan kembali meninggalkannya. Tapi tak terjadi untuk
hari ini. Dia mengikutiku turun dari bus. Entah apa yg sedang ada
dipikirannya, setauku jarak rumahnya masih jauh karena biasanya dia
tidak turun ditempat.

” kenapa ikut turun?” Tanyaku.

Dia nampak terlihat menunjukkan deretan gigi putihnya.

” aku mau tau rumah kamu,” Ucapnya mantap.

Dan itu cukup membuatku terbelalak kaget. Bagaimana ini.

” rumah aku jauh…”

” maksudnya?”

Dia nampak bingung dengan perkataanku tadi.

” rumahku di Jogja…”

” terus disini tinggal dimana?”

” aku anak kost…”

Dia malah tersenyum lagi. Kemudian menghampiriku.

” Yaudah, aku mau tau kost kamu.”

Aku tak tau lagi harus bagaimana selain membiarkannya berjalan
bersamaku menuju kostku.

Sekitar lima menit, langkah kaki ini akhirnya sampai didepan kost-ku.
Dan tentunya bersama dia disampingku.
Sekarang apa aku harus membiarkannya melihat begitu berantakannya kost-ku itu.

” ini kost kamu?” Tanyanya.

Aku mengangguk mengiyakannya. Membuka pintu kost dan masuk kedalam.
Aku tak pernah membawa perempuan manapun masuk kedalam kost-ku.
Tentunya selain Vienny yg masuk untuk membantu mengerjakan tugas. Dan
dia perempuan pertama yg tanpa persetujuanku langsung masuk.
Aku yakin sekarang dia terkejut melihat kost-ku ini. Itu terlihat dari
raut wajahnya.

” berantakan banget.” Serunya.

Sudah kuduga dia akan mengatakan itu. Seharusnya aku tak membawanya kesini.

” mau minum apa?”

Walau bagaimanapun, dia adalah tamu. Jadi setidaknya menawari minuman
mungkin kewajibanku.

” apa aja yg ada?” Tanyanya balik.

Aku mencoba mengingat apa saja yg ada didalam kulkasku. Dan aku
teringat sesuatu.

” air putih,” Ucapku datar.

Dia menatapku sebentar.

” kenapa pake nawarin mau minum apa segala tadi?”

” mau minum enggak?” Tanyaku sekali lagi.

” iya deh. Lagi haus soalnya…” Balasnya.

Aku berjalan meninggalkannya yg sedang duduk dilantai yg beralaskan
karpet biru itu. Tak lama kemudian aku membawakannya segelas air putih
untuknya. Dan saat aku kembali dia sedang merapikan tumpukan buku
komikku yg berada didekat tv itu. Aku meletakkan gelas itu dimeja yg
biasanya aku gunakan untuk mengerjakan tugas sekolah.

” eh… Ngapain?” Tanyaku saat melihat dia menyalakan playstationku
tanpa seijinku tentunya.

” minjem bentar.” Balasnya.

Aku tak bisa melarangnnya. Aku berharap mesin yg biasa aku andalkan
untuk membunuh waktu senggangku itu tak rusak olehnya.

Sepuluh menit lebih dia memainkan game yg biasa aku mainkan. Jika aku
perhatikan dia tak terlalu ahli dalam bermain game itu. Itu terlihat
dari cara dia bermain.

” ini kok susah amat sih…” Gerutunya tak melihat kearahku.

Matanya masih fokus melihat layar lcd itu. Aku berjalan kearahnya
kemudian mematikan playstation itu. Dia nampak bingung melihatku
mematikan mesin game itu.

” tagihan listrik nanti naik…” Ucapku.

Dia masih menatapku. Kemudian meletakkan stick playstation itu.

” itu minumnya diatas meja,”

Dia mengangguk dan mengambil gelas yg berisikan air putih itu dan
langsung meminumnya.

” enak kayaknya kalau jadi anak kost?” Ucapnya sambil meletakkan
kembali gelas yg sekarang sudah kosong itu diatas meja seperti tadi.

” enak?. Enak darimananya?”

Dia kembali duduk disampingku. Kemudian mulai berbicara lagi.

” enak bisa ngapain aja. Misalkan main game itu seharian, atau membaca
novel tanpa ada yg mengganggu,”

Itu salah besar. Main game seharian, siapa yg mau bayar tagihan
listriknya. Membaca novel seharian, itu mata ga berasap apa ngeliat
buku.

” udah makan siang belum?” Tanyaku.

Dia diam seperti malu untuk bilang belum. Walau aku yakin dia belum makan siang.

” tunggu bentar disini.” Pintaku.

Aku berjalan keluar kost dan meninggalkannya disana. Keluar untuk
membeli makanan yg tentunya biasa aku beli. Kurang dari sepuluh menit,
aku kembali kedalam kost. Membawa kantung kresek berisakan dua nasi
campur.

” ini…”

Aku menyerahkan satu bungkus nasi campur itu padanya. Tapi dia malah
diam. Aku berfikir kalau dia tidak pernah makan-makanan seperti ini
kayaknya.

Tapi sepertinya pikiranku itu salah. Dia mengambil nasi yg masih
terbungkus kertas minyak itu dan langsung memakannya.

***

Semenjak saat itu dia sering datang ke kost-ku. Bahkan pernah saat
malam hari. Dan saat itu aku menolak mengajaknya masuk. Aku tak ingin
ada orang yg salah paham.

Dan sekarang dia sedang berbaring dikarpet biruku sambil membaca buku
setelah tadi meminjam buku komikku.

” Ve…” Panggilku.

Dia mendongak kearahku.

” kenapa?”

” gapapa…” balasku.

Dia menatapku datar. Kemudian kembali ke bukunya lagi. Tapi tak lama
setelah itu, dia mendudukkan tubuhnya dan sekarang duduk sebelahku.

” kamu bisa main gitar?” tanyanya.

Aku menatapnya sebentar kemudian beralih pada layar tv lagi yg sejak
tadi menjadi perhatianku.

” bisa. Kenapa emang?” balasku yg sudah tak menatapnya.

” aku pikir gitar yg itu cuman pajangan…”

Aku memperhatikan ujung jarinya yg menunjuk kearah gitar yg tergeletak
diatas lemari.

” ajarin aku main gitar dong?” ucapnya lagi.

” buat apa?”

” ya biar bisa main gitar,”

” mending gausah deh…”

Dia diam. Kemudian terlihat raut kecewa dari wajahnya. Ah sial. Jika
sudah seperti ini aku jadi merasa bersalah.

Aku berjalan mengambil gitar itu. Kemudian kembali ketampat tadi.
Duduk menghadapnya. Dan pandangan matanya tak memperlihatkan raut
kecewa lagi.
Dengan penuh kesabaran aku mencoba menjelaskan semua cara mudah untuk
bermain gitar. Mulai dari kunci dasar.
Tapi sepertinya diriku harus bersabar menjelaskan semua itu.

” ini gimana?” tanyanya yg terlihat bingung saat memegang gitar itu.

” gini loh. Kunci C dulu deh…”

Aku mencoba menjelaskannya lagi sambil memberi contoh.

” susah kalau nyontohinnya kayak gitu?” protesnya.

” terus?”

” kamu disini…” ucapnya.

Aku benar-benar gemeteran saat ini. Saat aku harus merangkul tubuhnya
dari belakang. Sekarang bisa kucium wangi rambutnya dari jarak ini.
Apakah memberinya contoh kunci dasar gitar harus memeluknya seperti
ini. Setidaknya jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya untuk
saat ini. Entah dia menyadarinya atau tidak, tapi aku rasa aku mulai
merasa gugup. Tapi kulihat dia terlihat biasa, seolah itu hal yg
biasa.

” ah iya. Lanjut kapan-kapan aja ya belajar gitarnya?” ucapku
menjauhkan diri darinya.

Dia menatapku heran.

” aku masih ada tugas sekolah…” lanjutku memecah kebingungan diwajahnya.

” yaudah deh gapapa. Kalau gitu aku bantu ngerjain tugas kamu deh.” balasnya.

Tak kulihat jika dia membantu mengerjakan tugas sekolahku. Tapi dia
malah menyelesaikannya sendiri. Tapi itu lebih baik. Lebih dari
tigapuluh menit dia berkutat dengan tugas sekolahku itu.

” udah selesai…” ucapnya terdengar cukup lantang ditelingaku.

***

Tiba disekolah kurang dari lima menit sebelum bel masuk dibunyikan.
Kusapa dirinya yg sedang duduk sambil membolak-balikkan bukunya.
Walaupun begitu, dia masih sempat untuk menyapaku balik. Duduk
disebelahnya sambil meletakkan tas diatas meja.

” ga biasanya lupa ngerjain tugas?” ucapku melirik kearah dia yg
sedang menuliskan sesuatu di lembaran kertasnya.

” kemarin rada sibuk, jadi malah kelupaan,” balasnya masih fokus
dengan apa yg dia kerjakan.

Aku menyodorkan tugas sekolahku yg kemarin sudah diselesaikan oleh Ve.
Dia menatapku sebentar.

” tetangga kost kamu baik ya…” gumamnya.

Setidaknya aku pernah menceritakan tentang Vienny yg membantu
mengerjakan tugas di kost kepadanya. Tapi untuk kali bukan dia yg
membantuku.

” bukan dia kok,”

” terus siapa lagi?” tanyanya seolah penasaran.

” itu. Yg waktu itu pernah aku kenalin ke kamu. Tapi kamunya malah
pergi.” jelasku.

Dia diam menatapku. Kemudian menjauhkan jawaban tugas sekolah milikku
tanpa mengatakan apapun. Aku tak tau apa yg sebenarnya terjadi.

Tiba-tiba ada yg mengagetkanku. Ponsel dicelanaku bergetar.

” kamu inget tempat pertama kita ketemu?. Saat itu kamu ga sengaja
menabrakku dari dalam bus.”

Itu pesan singkat dari Ve yg tertampil dalam layar ponselku. Sebelum
aku mengetik pesan balasan untuknya. Ada pesan masuk lagi darinya.

” bisa ketemu lagi disana jam empat sore?” itu isi pesannya.

Aku hanya membalas iya. Lagipula aku tak ada alasan untuk menolaknya.

***

Pukul 16.05. Dan aku masih dalam perjalanan kesana. Semoga saja dia
masih menungguku walaupun aku terlambat beberapa menit. Laju motor yg
kunaiki perlahan mendekat ketempat itu. Dari kejauhan aku bisa
melihatnya duduk dibangku itu sambil membaca buku yg dia pegang.

Pukul 16.13. Itu jam yg tertera didalam jam tanganku. Aku
memperhatikan jam tanganku Sebelum aku menyapanya.

” maaf telat dikit…hehe.” ucapku.

Aku berdiri tepat berada dihadapannya sambil menggaruk bagian belakang
kepalaku yg kurasa tak gatal itu.

” iya gapapa. Duduk sini…” jawabnya sambil menutup buku yg tadi dia baca.

Dia tersenyum kearahku. Dan kini aku duduk disampingnya. Lama tak ada
suara darinya dan aku hanya menatap wajah sampingnya.

” kamu ngerasa keganggu nggak kalau sebenarnya aku didekat kamu?”
tanyanya seolah membunuh keheningan sementara ini.

” eh…enggak lah,” jawabku.

” kamu pasti merasa aneh kan?. Kenapa aku begitu ngebet ketemu sama
kamu terus kenalan. Sampai kita bisa dekat kayak gini?”

Dia tetap menatap lurus kedepan. Perlahan dia menoleh kearahku dan
saat itu aku terkejut.

” kenapa nangis?” Tanyaku.

Aku mengabaikan pertanyaannya dan malah bertanya balik. Itu semua
akibat air matanya yg tiba-tiba mengalir dipipinya. Perlahan tangannya
mencoba menghapus air matanya, walau pada akhirnya air matanya tetap
mengalir.
Dia diam untuk waktu yg cukup lama. Menatapku tanpa ada sepatah
katapun yg dia lontarkan untuk membalas pertanyaanku.
Lima menit lebih mungkin waktu yg terbuang hanya untuk melihatnya
tanpa mengatakan sesuatu.

” Ve… ” panggilku pelan.

Dia tersenyum sementara ini. Dan kulihat air matanya juga telah
berhenti mengalir.

” iya…” Jawabnya singkat.

” kalau kamu nyuruh aku buat lihat kamu nangis lagi tanpa kamu
jelaskan alasannya. Aku ga bakalan datang nemuin kamu…” Ucapku masih
menatapnya.

Dia diam lagi dalam waktu beberapa detik.

” Ve. Sebenarnya aku kesini mau ngomong sesuatu sama kamu?”

Dia terlihat memperhatikan setiap kata yg keluar dari mulutku. Itu
terlihat dari bola matanya yg tak berhenti melihat kearahku.

” apa?”

” anu. Itu jaket kamu ketinggalan di kostku. Tapi aku lupa
membawakannya,” jelasku.

Dia malah tertawa pelan. Tadi nangis sekarang malah ketawa. Dari dulu
emang aneh nih orang.

” aku mau menjelaskan sesuatu sama kamu. Dan aku harap kamu bisa
mengerti…” Katanya diiringi oleh semilir angin yg mulai menerpa
rambutnya.

” sejak pertama aku ngeliat kamu…”

Pikiranku mulai kacau untuk saat ini. Apa sekarang dia akan mengatakan
padaku kalau dia menyukaiku. Harusnya aku tak terlalu banyak berharap
padanya. Dia yg terlihat cukup sempurna dan aku yg terlihat biasa ini.
Itu tak mungkin terjadi. Lagipula jika aku merasa sejajar dengannya,
aku sudah pasti yg pertama mengatakannya bukan dia.

” aku jadi teringat tentang adikku sejak saat aku menatapmu pertama
kalinya. Wajah kalian benar-benar mirip. Dan sifat kalian juga hampir
mirip. Tapi saat ini aku sadar, kamu bukan adikku. Dan tak seharusnya
aku mengganggumu…” Sambungnya.

Aku terdiam beberapa saat. Setidaknya untuk mencerna setiap ucapannya.

” emang adikmu sekarang kemana?” Tanyaku.

” yah setidaknya aku tak bisa memeluknya lagi?” Balasnya.

” maksud kamu, adik kamu itu telah…”

Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, dia memotongnya.

” iya. Dua tahun lalu…” Tangkasnya.

” Ve…”

” ah iya. Aku ada sesuatu buat kamu?” Tangkasnya mencoba mengganti topik lain.

Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Dan menunjukkannya padaku.
Sesuatu benda berbentuk persegi. Yg jelas aku tak tau ada apa
didalamnya

” ini apa?” Tanyaku padanya.

” nanti dibukanya kalau kamu udah ada sampai dikost,”

” oh iya. Aku boleh meluk kamu?” Lanjutnya.

Untuk beberapa saat aku ingin menggorek telingaku. Tapi itu baru aku
lakukan kemarin. Dan aku yakin telingaku masih berfungsi normal.

” kan aku udah ga bisa meluk adik aku lagi disini. Dan aku berharap
kamu bisa jadi adik aku yg baru…” Lanjutnya seolah menamparku dari
lamunanku.

Aku belum mengatakan iya. Tapi dia langsung memelukku erat. Bisa
kucium wangi parfumnya untuk saat ini. Dan itu berlangsung cukup lama.

***

Aku sudah penasaran dengan isi dari kotak misteri itu yg tadi
diberikannya. Aku membukanya perlahan dan berharap itu adalah sebuah
uang tunai yg bisa untuk membeli rumah. Maaf, khayalanku telalu jauh.

” kaset game?” Ucapku dalam hati.

Kenapa dia memberinya ini. Dan untuk apa. Harusnya aku tak usah
berpikiran seperti itu. Beberapa saat kemudian pandanganku tertuju
pada kertas putih yg bertuliskan sesuatu yg terselip diantara
kaset-kaset game itu. Aku mengambilnya dan membacanya.

” kaset ini adalah kepunyaan adikku. Dan kenapa aku memberikannya sama
kamu. Aku juga gak tau. Aku rasa kamu bisa memainkannya atau
setidaknya kamu bisa menyimpannya. Oh iya, aku mau pergi kesuatu
tempat. Dan kita tidak bisa bertemu untuk waktu yg tidak bisa aku
tentukan. Aku berharap bisa ketemu kamu lagi suatu hari nanti. *
Jessica Veranda *. ” itu isi dari nota itu.

Aku menghela nafas. Aku tak tau apa yg aku rasakan sekarang, yg jelas
aku pasti merindukannya seandainya dia benar-benar pergi. Karena walau
bagaimanapun aku menyukainya, meskipun dia hanya menganggapku sebagai
seseorang yg mirip dengan adiknya.

***

Dan itu benar terjadi untuk saat ini. Dia benar-benar pergi dan tak
pernah menemuiku lagi atau setidaknya menghubungi ponselku. Dan itu
membuatku merasa berbeda dari biasanya.

Aku menempelkan lembaran kertas yg tadi aku isi dengan apa yg
kurasakan tentangnya. Kemudian berjalan meninggalkan tempat itu.
Bangku itu. Saat pertama kali aku duduk bersamanya dan mungkin saat
terakhir juga. Pertemuan kita terlalu singkat. Ve.

***

Duduk dibangku kelas menunggu hingga detik mengubah menit. Menunggu
bel masuk dibunyikan. Ku lihat kesamping, dan tidak kulihat dirinya yg
setidaknya bisa menghiburku untuk hari ini.

” Sinka kemana?” tanyaku pada seseorang yg duduk dibelakangku.

Mungkin saja dia tau keberadaanya karena yg aku tau dia salah satu
orang yg akrab dengannya.

” loh.. Kamu ga tau?. Dia kan dapet beasiswa keluar negeri…jadi dia
pindah ke Jepang hari ini,” balasnya.

Aku terdiam. Terkejut. Kaget. Aku tak bisa mengutarakan apa yg
kurasakan saat ini.

” oh gitu…” ucapku berpura-pura terlihat biasa.

Meskipun aku tau, aku akan sangat merasa kehilangan dia.

” Ini ada titipan dari Sinka buat kamu…”

Seseorang menghampiriku. Dan itu kakaknya Sinka yg menjadi kakak
kelasku. Aku tak terlalu mengenalnya tapi aku pernah bertemu
dengannya.

Aku mendongak kearahnya tanpa mengatakan apapun.

” dah ya, aku balik kekelas dulu…” ucapnya berlalu dari kelasku.

Meninggalkanku dalam keheningan bersama dengan sebuah nota darinya.
Aku membuka kertas lipatan yg berbentuk cukup unik itu. Seperti
bintang kurang lebih.

” Sebelumnya aku minta maaf, karena enggak sempet ngomong sama kamu
dulu, kalau aku bakal pindah keluar negeri. Tapi aku harap kamu mau
mengerti. Kita tetap jadi teman kan?. Walaupun sebenarnya aku berharap
lebih dari itu. Tapi aku yakin sekarang kamu sudah bahagia dengannya,
dengan orang yg sering kamu ceritain itu. Yg kamu panggil Ve itu.
Terimakasih buat kenangannya. Kapan-kapan nyanyi bareng lagi.

Seseorang yg mengagumimu meskipun kamu tak pernah mengerti. Sinka. ”
itu isi dari nota itu.

Deg. Aku seperti kehilangan cara untuk bernafas beberapa saat. Dia
menyukaiku. Aku terlalu bodoh. Kenapa aku ga pernah tau semua itu. Aku
juga sebenarnya ada rasa, tapi aku ragu akan hal itu. Ragu kalau aku
bukan yg terbaik untuknya.

***

” aku pernah berfikir tentang hidupku tanpa ada dirimu…dapatkah
lebih indah dari yg kujalani sampai kini.”

Sayup-sayup terdengar sebuah lagu yg tentunya tak asing lagi bagiku.
Menemaniku berjalan dibawah langit senja ini. Itu membuatku kembali
mengingat setiap kenangan bersamanya. Sinka.
~ The end~

@sigitartetaVRA

#terimakasihVe

#JKT48Pemilihan2017

Mari memilih Sinka Juliani. Maaf ada iklan bentar.

Semoga ada yg bisa memberikan saran. Karena saya rasa, karya saya jauh
dari kata sempurna.

Ditengah udah hilang konsentrasi, jadi maaf jika ceritanya terlalu
memaksa menuju endingnya. Sekali lagi saya minta sarannya.
Terimakasih.

Iklan

5 tanggapan untuk “Tak Lagi Tersisa

    1. sebenarnya pas awal ada ide buat bikin sudut pandang selain dari tokoh utama. biar bisa sedikit dijelasin lebih detail dari orang lain. tapi karena udah cukup panjang cerpenya jadi mungkin di next fanfict. terimakasih.

      Suka

    1. oke terimakasih sebelumnya. maksud dirapiin paragrafnya itu gimana, cara penulisanya atau isi dalam setiap paragrafnya yg perlu dirapiin?

      sekali lagi terimakasih masukannya.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s