Pengagum Rahasia 2, Part 34

Deva membayar nasi goreng yang ia pesan kemudian ia langsung membawa Ve pergi dari tempat itu.

“Hihi…kamu ternyata punya sisi buas juga Dev,”

“Huh?” ucap Deva sambil sedikit melirik

“Iya, jadi kamu mau langsung Main malam ini juga ya? Kalau gitu kita langsung ke rumah aku aja,” Ve tiba-tiba memimpin perjalanan sambil menarik tangan Deva

“EH-Heh! Kamu ini masih belum paham juga apa!” ucap Deva menahan Ve

“A-Aku gak mungkin ngelakuin hal itu Ve, bukan gak mungkin tapi gak mau!”

“Kenapa? Lagipula kita ini udah saling mencintai kan?”

“Huft…kamu ini bener udah sementer 3 atau anak SMP kelas 9 sih…,”

“Tapi kalau kamu gak mau ngelakuin itu, gimana nasib aku Dev! A-Aku masih sayang sama kamu!”

Deva menghela nafas lalu ia berhenti tepat di depan ruko itu.

“Apa ini berarti kamu udah gak sayang sama aku Dev?”

“B-Bukan begitu Ve…,”

“Terus apa! Kamu punya alasan untuk semua itu kan!”

“Uh…aku gak bisa, tanggung jawab untuk ngelakuin itu terlalu berat buat aku. Mungkin aku juga masih…s-sayang sama kamu…,” Wajah Deva tiba-tiba memerah

“Tapi mungkin tuhan berkata lain, mungkin kita memang gak ditakdirkan untuk bersama,”

Kata-kata Deva itu membuat Ve terkejut. Pipi Ve tampak merah padam, raut wajahnya begitu jelas tampak menunjukan amarah yang amat besar.

“Kamu tau Ve, seperti inilah hubungan antara sepasang remaja. Hal seperti ini bukannya sering terjadi…?”

“Jadi maksud kamu…hubungan kita…,” ucap Ve menggantung

“Ya, sebenarnya…a-aku gak tega ngomong itu langsung ke kamu Ve,” ucap Deva

“Dan sebenarnya kamu adalah orang pertama yang mengisi hatiku…A-Aku belum berpengalaman dalam hubungan kayak gini,”

“Saat pertama kali kita ketemu, a-aku gak tau perasaan apa yang ada di hatiku ini. Mungkinkah Cinta? Atau mungkin hanya sebatas rasa tertarik? A-Aku gak tau itu…,”

“Sejujurnya semenjak kita menjalin hubungan ini, aku sama sekali gak tau apa yang harus aku lakukan. Aku takut kalau semua hal yang aku lakukan itu bikin kamu kecewa, mengingat kamu itu lebih dewasa daripada aku,”

“Aku juga…,”

“Cukup DEV!” Ve membentak

Perlahan ia menampakan wajahnya yang memerah itu. Air mata tampak bercucuran ke pipinya.

“K-Kamu…aku gak pernah merasakan hal ini sebelumnya Dev!”

“A-Ah!?” Deva tampak tidak mengerti dengan perkataan Ve

Ve berusaha menahan tangisnya.

“Aku gak tau kalau efeknya akan seperti ini, kayaknya sekarang aku nyesel udah ngomong langsung kayak gitu ke kamu,” ucap Deva

“Untuk itu…kayaknya ini merupakan pertemuan terakhir kita Ve,”

Ve tampak Shock.

“Oh iya, itu kan sepedanya kak Melody, kamu boleh bawa itu,” ucap Deva

“Bukan untuk kenang-kenangan sih, tapi kalau kamu jalan sampai rumah nanti bisa sakit kan, ahaha…,” Deva tersenyum

*CUPS!

            Ve tiba-tiba mencumbu Deva dengan sangat agresif. Deva sampai terdorong ke tembok ruko itu sambil menahan tubuh Ve. Mereka pun saling bercumbu di tempat yang sepi itu.

“Ung…aku rasa itu merupakan kenang-kenangan dari aku Dev,” ucap Ve sambil mengelus pipi Deva

“Aku gak tau perasaan apa yang ada di hatiku ini, tapi…kamu akan selalu ada di hati aku,” lanjutnya

Deva tampak malu dengan memalingkan pandangannya dari Ve.

“Satu hal lagi Dev…,”

“U-Umm…,” Deva terdiam

“Kamu mau kan peluk aku untuk yang ke terakhir kalinya?” ucap Ve

“V-Ve…,” Deva langsung memeluk Ve dengan erat

Tanpa sadar air mata Ve kembali bercucuran sampai ke tangan Deva.

~oOo~

Ceklek!

“Sepi…,” ucapnya sambil mengendap-endap

“Deva!”

“Gah!” Deva terkejut

“Syukurlah! Kakak kira kamu kenapa-kenapa! Ya ampun rambut kamu basah-basah gini, kamu habis hujan-hujanan?”

“Um…,” Deva menggelengkan kepala

Melody memegang kedua pipi Deva lalu mengangkatnya untuk menghadap wajahnya.

“Kamu udah melakukan yang terbaik Dev…,”

“E-Eh?” Deva tampak kebingungan

*Cups!

            Melody mengecup bibir Deva.

“Kakak bahagia punya adik kayak kamu,” ucap Melody sambil memeluk Deva

“Ek…K-,”

“Kakak tau segalanya Dev,” potong Melody

“A-Ah…,”

“Kakak sayang sama kamu…,” Lagi-lagi Melody memeluk Deva

“Eng…h-handuknya mana kak? Deva…harus mandi,” ucap Deva yang terlihat masih gugup

“Ambil di belakang, untung keburu kering handuknya tadi,”

“Oh-Ah…,” Deva pun langsung pergi ke belakang

Ve…

Ve masih terbayang-bayang di benak Deva. Hal itu membuatnya sangat lama di kamar mandi. Sampai pada akhirnya…

*Tuk-Tuk!

“Dev?”

*Kreeeeeeeeeeekkk…

            Pintu kamar mandi itu tiba-tiba terbuka saat melody mengetuknya.

“Wah! K-kakak mau ngapain!” ucap Deva berteriak sambil menutup anggota inti badannya

“A-Anu…kamu itu udah hampir sejam di kamar mandi, kakak khawatir kamu kenapa-kenapa,” balas Melody yang wajahnya tampak memerah

“P-Pokoknya sekarang kak Melody minggir dulu!” Deva yang langsung mengenakan handuknya itu pun pergi dari kamar mandi

“Um-Maaf…,” ucap Melody

Deva buru-buru masuk ke kamarnya.

Jeglek!

“Fyuh…benar-benar hari yang berat, sampai kak Melody juga ikut-ikutan begitu,”

*Dert!

Handphone itu bergetar.

Lantas Deva langsung mengeceknya.

“Deva jangan lupa besok ya, aku tunggu kamu di taman kota jam 9. Jangan kesiangan! Lagian besok itu kan hari sabtu,”

            Begitulah isi pesan yang ada di Handphone Deva.

“Um…,” Deva tertegun sambil terus memerhatikan pesan Line itu

Lalu ia mulai membalas pesan itu.

“Hmm…gw pikir ini yang terbaik,”

*Tok-Tok!

“Dev?” suara yang terdengar dari luar kamar

Jeglek!

“WAH! K-Kak Melody!” teriak Deva

“EK! Kamu masih belum pake baju!?” ucap Melody

“Hari ini kak Melody kenapa sih!?”

“A-Anu…maaf Dev,” wajah Melody tampak memerah

“Tapi setidaknya kakak udah ketuk pintu kan,”

“Iya tetep aja harus tunggu jawaban dulu kak!”

“Um…maaf deh…,” balas Melody

“Huft…jadi kenapa? Kakak mau ngapain kesini?” tanya Deva

“Ya kamu itu sedang melewati masa-masa yang berat sekarang, jadi kakak pikir kamu kayaknya harus rekreasi deh, jalan-jalan atau apa kek,” ujar Melody

“Rekreasi?”

“Yap, biar otak kamu fresh,”

“Hmm…,” Deva terdiam

~oOo~

Keesokan harinya, tepat pada jam 06.00 Deva terlihat sangat sibuk dan kini ia benar-benar berpakaian rapih.

Dengan menyelinap, Deva berusaha membuka pintu rumahnya dengan sangat-sangat perlahan tanpa ada suara sedikit pun.

“Kayaknya dia masih tidur,” pikir Deva sambil melihat ke kamar kakaknya itu

Ketika pintu itu sedikit terbuka, Deva langsung keluar dari rumah dan kemudian berlari dengan langkah yang sangat tipis agar tidak ada suara yang keluar.

-SKIP-

*

*

“Loh tutup!?”

“Ah Deva,”

“Eh kepala koki,” balas Deva pada wanita itu

“Ada urusan apa?”

“Hari ini restoran tutup ya kak?” tanya Deva

“Hari sabtu emang tutup, tapi kalau hari minggu tetep buka,” jawabnya

“Oh…,”

“Dan hari minggu merupakan hari yang wajib untuk semua pegawai,”

“A-Ah, kalau gitu Deva bakal hadir besok,”

“Bagus dong kalau gitu,”

“Ngomong-ngomong kamu mau kemana udah rapih begitu? Masih pagi loh ini, AH! Mau ngedate ya?”

“Wuah! K-Ka…eng…,”

“Hahaha…dasar anak muda,” ejek wanita itu

“Um…sebenarnya Deva lupa nama kakak siapa,”

“HE!?”

*

*

(Suara keramaian jalanan).

“Huft…gw gak mengira kalau kak Resya bakal semarah itu cuma gara-gara gw lupa namanya,”

*Sreek…

Deva membuka dompetnya.

“untungnya kemarin-kemarin gw nabung, jadi sisa uang masih ada banyak,”

Kini Deva berada di sebuah rumah yang lumayan megah.

“Hem…lagi-lagi gw datang ke rumah ini,”

Teng-Tong!

Deva menekan bel.

Tak ada jawaban, kemudian Deva kembali menekan bel itu.

Teng-Tong!

“Huh?” Deva mendengar sesuatu di pintu itu sambil mendekatkan telinganya

Tiba-tiba…

*BRAK!

“Siapa sih pagi-pagi gini udah ganggu orang!” teriaknya tepat di depan wajah Deva

“A-Ah hai Sin…,”

“HAH! D-Deva!?”

“Kamu…baru bangun yah…,” ucap Deva lagi

“Ka-Ek…kenapa!? Bukannya kamu gak mau ngedate sama aku! Jelas-jelas kamu nolak kan kemarin di Line!” ucap Sinka

“Sorry…sebenarnya itu salah kirim Sin,”

“Um…Jadi, kamu mau ngedate sama aku…?” wajah Sinka tampak memerah

“Tentu…selagi ada waktu luang, ya why not?”

“Kalau gitu ayo masuk!” Sinka menarik tangan Deva

“HUEE!”

~oOo~

*Hesp…

“Harum kamarnya masih sama kayak waktu itu,” ucap Deva dalam hati

“Umm…Dev, karena kamu ngedadak pengen ngedate, waktu kita jadi kepotong…,”

“Gak masalah kok,” balas Deva

“P-Pokoknya kamu tunggu sini! Aku mau mandi dulu,”

“Ya,”

Sinka pergi dari kamarnya dengan membawa handuk di tangannya.

“Rusuh amat, sampai tempat tidurnya gak di beresin,”

“Tapi kenapa dia baru bangun jam segini ya? Bukannya kak Naomi biasa bangunin dia?”

“Sinka?” seseorang tiba-tiba masuk ke kamar itu

“HEEH! Kak Naomi!”

“Loh, ada Deva ya,” ucapnya

“M-Maaf kak…,”

“Kenapa harus minta maaf sih, eh Sinka mana?”

“Dia…,”

*BRAK!

“Minggir kak!”

Naomi tiba-tiba terdorong sampai hampir terjatuh.

“Hey! Jangan lari-lari!” ujar Naomi

“Wa! Udah selesai mandinya!? Itu bukan mandi ular kan!?”

“Oh…jadi kalian mau keluar ya?” tanya Naomi

“I-iya kak,” balas Deva

“Kalau gitu kakak yang bawa kunci ya,”

“Eh? Kakak juga mau keluar ya?” tanya Sinka yang tampak masih mengenakan handuk

“Yap, kakak ada urusan di kampus,”

“Hemm…,” balas Sinka

“Kenapa?” tanya Naomi balik

“Ada urusan di kampus atau mau ngedate sama Rizal sih?” ucap Sinka

“HE-EH! A-Apa!? Maksud kamu apa sin!?” Naomi yang tampak malu-malu itu perlahan keluar dari kamar Sinka

“P-Pokoknya kakak yang bawa kunci, kalau gitu kakak pamit!”

Naomi berlari menuruni tangga.

“Huft…padahal tadi dia bilang jangan lari-lari,” ucap Sinka

“Ah-Haha…,” Deva tertawa kecil

“Hey, kamu masih diem disini juga? Cepet keluar! Aku mau ganti baju!”

“AH! I-iya-iya!” Deva buru-buru keluar kamar

-SKIP-

*

*

“Wah cuacanya cerah! Untung hujannya cuma sampai kemarin malam,” ucap Sinka dengan penuh ceria

“Jadi…sekarang kita mau ngapain?” tanya Deva

“Kamu ingat Game Station yang waktu itu pernah kita datengin?” tanya Sinka balik

“Hah? Yang mana?”

“Yang waktu itu loh!”

“A-Ah…apa kita pernah ke tempat begituan sebelumnya?”

“Huft…ayo kita berangkat!” Sinka langsung menarik tangan Deva

“Tu-Tunggu Sin!”

~oOo~

Singkat cerita mereka pun menghabiskan waktu seharian bersama-sama. Pergi ke Game station, menonton bioskop bersama, makan siang bersama, bahkan berbelanja.

“Huft…kenapa kalau nemenin perempuan main itu selalu begini,”

“Jangan ngeluh terus Dev! Bawain aja belanjaan aku,”

“Hemm iya-iya,”

Mereka berjalan keluar toko.

“Wah, kok tiba-tiba mendung,” ucap Sinka

“Hmm…,” Deva memandang langit itu

“Kalau gitu kita pergi ke cafe terdekat,”

“Hah? M-Mau makan lagi? Bukannya tadi udah!?”

“Hiss! Kan ke cafe itu bukan berarti mau makan!” bantah Sinka

“Hem…iya dah,” Deva mengalah

-SKIP-

*

*

Surp!

“Coklatnya bikin badan aku jadi hangat,”

“Namanya juga coklat panas,” ucap Deva

“Kamu mau coba gak?” tawarnya pada Deva

“Eh-Em…gak deh, aku gak terlalu suka coklat,”

“Oh, gitu ya,”

“Ngomong-ngomong sin, tumben kamu ngajak aku kencan, apa ada alasan tertentu?”

“Eh…,” Sinka tiba-tiba terdiam

“Eng-Gak ada apa-apa, aku…aku cuma mau menghabiskan waktu sama kamu,”

“Hah?”

“HUE! M-Maksudnya aku…eng…,” Sinka terlihat kikuk dengan wajah yang memerah

“Aku biasanya menghabiskan waktu libur sama Shania atau Lidya, tapi mereka itu sering mementingkan diri sendiri,”

“Mementingkan diri sendiri?” ucap Deva yang tampak tidak mengerti

“Ya kamu tau kan…cewek kalau liat toko tas, baju, atau aksesoris cewek yang lainnya, mereka pasti lupa diri,” Jelas Sinka

“Oh begitu ya,”

“Sekarang giliran aku yang tanya,” ucap Sinka

“Eh?”

“Gimana persiapan kita untuk nanti Dev?”

“He? P-persiapan menikah!?”

“BUKAN!” bantah Sinka

“T-Terus apa?”

“Persiapan kita untuk tampil nanti, gimana nasib kelompok kita Dev!”

“Oh seni musik ya,”

“Iya,”

“Bukannya harusnya kamu menanyakan hal ini ke Shania ya?”

“Aku tau itu, tapi dia selalu menyerahkan semuanya ke kamu kan,”

“Huft…iya juga sih,” pikir Deva

“Hem…kayaknya kita harus cepet-cepet pulang sekarang,” Sinka beranjak dari kursinya

“Eh?”

“Langit kayaknya udah amkin mendung,”

“Harusnya dari tadi kita pulang!” ucap Deva sambil mencubit pipi Sinka

“Ahaha, gak apa-apa kali, kita kan lagi berduaan…,”

“Huh?”

“Ya…berduaan…,” Sinka tiba-tiba menundukan kepalanya dengan wajah murung

“K-Kalau gitu…kita pulang Sin,” Deva memegang tangan Sinka dan menuntunnya

*

*

-Di Komplek Perumahan-

“Huh, benar-benar hari yang menyenangkan,” ucap Sinka

“Kamu…,” ucap Deva menggantung

“Aku bener-bener bahagia Dev, hihi…thankyou ya,”

“Um…,” Deva tampak malu sambil memalingkan pandangannya

“Lain kali aku mau kamu temenin aku lagi,”

“Y-yah, eng…,” wajah Deva memerah

“Ternyata awan gelap tadi cuma php, gak jadi hujan tuh keliatannya,”

“Yah, ahaha…,” Deva tertawa kecil

“Kalau gitu aku duluan ya Dev, bye!”

“B-Bye…,” balas Deva sambil melambaikan tangan

Kini Sinka telah pulang ke rumahnya.

“Fyuh…Hari yang melelahkan,” ucap Deva sambil meregangkan badannya

“Dev…,”

“HUAAA!” Deva terkejut sampai tersandung oleh batu

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_So

Iklan

5 tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 34

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s