Death Lullaby, Chapter three

 

Aku bangun dengan sebuah tangan memelukku dari samping. Sang pemilik tangan masih tertidur, pelan pelan aku memindahkan tangan itu karena aku tak ingin membangunkannya.

“Pagi, mau kabur lagi pagi ini,”

Saat aku sampai diujung tempat tidur, suara gadis itu memanggilku dari belakang. Tak seperti dugaanku, dia sudah terbangun dari tidurnya.

“Bisakah kau tidur di kamarmu sendiri ? lalu berhentilah menduplikat kunci kamarku,”

Aku memandanginya, gadis menyebalkan yang selalu seenaknya masuk dan tidur dikamarku. Kakak perempuanku, Shafa.

“Tapi, aku suka bau badanmu. Lagi pula bukankah kau suka kupeluk,” ucapnya sambil mengedipkan mata kirinya.

Aku kembali naik ke tempat tidur, dan mencoba menariknya turun. Tapi dia hanya tertawa dan memukuli ku dengan bantal.

“Kak, keluar. Aku mau mandi,”

“Mandi ? kamu mau ngajak kakak mandi bareng, genit ih,”

Sebuah bantal mendarat diwajahku, kak Shafa hanya cekikikan saat melihat tembakannya tepat sasaran.

“Tolong,”

“Ih nggak asik, sekarang kau sombong banget. Dulu aja nggak mau lepas dari kakak,”

Kak Shafa akhirnya turun dari kasur dengan membalut tubuhnya dengan selimut, dia mencubit perutku saat kami berpapasan, sementara aku hanya diam dan mengikutinya dari belakang.

“Tolong jangan masuk masuk ke kamar aku sembarangan,”

“Iya,” ucapnya dengan kesal.

“Satu lagi,”

“Apa ?”

“Pake baju,”

“Paakee bajjuuu,” ucap kakakku itu menirukan kata kataku.

Kakak ku itu berjalan pergi kembali ke kamarnya, aku sendiri langsung mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah.

Aku tak mengikuti kelas pagi dan memilih untuk pergi ke ruang klub. Beberapa informasi yang diberikan Sagha kemarin memberikanku petunjuk baru.meski Frieska berkata bahwa tak ada anggota yang mempunyai masalah dengan Anin, tapi rekaman cctv yang diberikan Sagha menunjukan hal lain.

Ada tiga orang anggota klub renang yang mempunyai masalah dengan Anin. Natalia wakil ketua klub renang, Amanda anggota tim inti klub renang, dan Naomi salah satu anggota senior di klub renang. Aku ingin menyelidiki mereka, dan mencari tahu apakah hipotesa ku sebelumnya salah.

Yang pertama kudatangi adalah Natalia, dia satu angkatan dan hanya berbeda kelas denganku. Dengan sedikit tanya sana, tanya sini, aku tahu bahwa dia senang menghabiskan waktunya diperpustakaan menonton video yang berhubungan dengan renang.

Perpustakaan yang hampir selalu sepi mungkin jadi alasan Natalia senang menghabiskan waktunya disana, kali ini hanya ada dua orang diperpustakaan selain aku, Natalia dan pak Joni penjaga perpustakaan.

“Pak saya mau pinjam buku geografi untuk kelas dua, karya John Stein,”

“Apa kamu sudah cari kebagian buku geografi ?”

“Sudah pak, tapi nggak ada,”

“Kalo gitu, kamu tunggu dulu, bapak akan coba cek apakah bukunya masih dipinjam,”

Pak Joni pun masuk kedalam kantornya, aku tak benar benar perlu buku apapun, tapi aku tak ingin gangguan dari pak Joni saat aku mencoba mendapat informasi dari Natalia. Permintaanku tadi seharusnya menyibukkannya untuk beberapa menit, beberapa menit yang kubutuhkan.

Natalia duduk disudut perpustakaan, mengunakan headphone dia sedang serius menonton pertandingan renang di handphonenya.

“Natalia,” ucapku sambil memukul bahunya.

Dia berbalik dan bingung melihatku.

“Iya,” ucapnya.

Dia melepaskan headphone yang dipakainya dan membenarkan posisi duduknya menghadapku.

“Apa kau kenal dengan Anindhita ?”

“Anin lagi, dibilangin gue nggak tahu apa apa tentang Anin, gue Cuma wakil ketua klubnya,”

Nada suara dan ekspresinya jelas menunjukkan Natalia tak suka membahas tentang Anin, aku belum bisa memberikan hipotesa apapun tentang hal itu, aku perlu sedikit lagi hingga bisa membuatnya.

“Maaf membuatmu tak nyaman, tapi aku melakukan ini untuk seorang teman,”

“Teman ? emang siapa yang penasaran dengan Anin ? Gre dari klub jurnalistik ? atau Della dari detektive ?”

Aku duduk disebelahnya, dia memundurkan kursinya menunjukan gerakan defensif, dengan mata yang memandangiku serius mencoba menganalisa, gadis ini punya alasan tertentu tak ingin dihubungkan dengan Anin.

“Frieska,”

“Kak Frieska ? tapi kenapa ? kak Frieska kan tahu semuanya,”

Semuanya ? pilihan kata yang menarik, menandakan kalau ada sesuatu yang coba ditutupinya.

“Sebenarnya, aku Cuma merasa kalo Frieska akhir akhir ini banyak pikiran, aku coba cari tahu dan sesuatu tentang Anindhita lah yang membuatnya murung,”

Natalia menurunkan bahunya yang sedari tadi tegang, dia mulai menurunkan pertahanan dirinya, pandangan matanya juga mulai normal tak setajam saat pertama kali aku menyebut nama Anin.

“Jadi kamu pacar kak Frieska ?”

“Iya, dan aku Cuma ingin Frieska balik lagi jadi ceria, aku harap kamu mau bantu,”

“Tapi…”

Natalia mundur dan membenarkan resleting jaket klub renang yang dipakainya.

“Aku tahu sulit nerima permintaan dari orang asing, tapi paling nggak bantu aku demi Frieska, aku yakin sebagai wakil ketua, kamu orang yang dekat dengan Frieska.”

Natalia mengatupkan bibirnya, matanya beberapa kali menunduk dan menatapku bergantian, menandakan dia sedang memikirkan kata kataku. Dia mengigit kuku jempol tangan kanannya, kaki kanannya juga bergerak naik turun, dia sedang memikirkan ucapanku dengan serius.

“OK, tapi jangan ada yang tahu, tolong rahasiain semua yang aku ucapin, nggak juga dari kak Frieska.”

“Aku tahu kamu orang baik,”

Dia melihat kelangit langit perpustakaan,dia melihat kondisi sekitar, dia juga mematikan handphone miliknya.

“Matiin handphone,”

Aku menuruti permintaannya, ada yang membuatnya khawatir, dan aku tak tahu apa itu, itu juga membuatku cukup khawatir.

“Jadi, gue yakin kamu tahu soal isu lagu kematian yang beredar disekolah,”

“Iya,”

“Dan Anin yang jadi orang pertama yang nemuin semua korban,”

“Iya, tapi bukankah itu semua hanya kebetulan,”

Natalia mendekatkan wajahnya, aku mendekatkan wajahku hingga hidung kami hampir bersentuhan.

“Gue curiga itu bukan kebetulan, jadi sebelum semua kejadian ini, gue sempat lihat Anin muter lagu itu sebelum audisi untuk kompetisi nasional,”ucap Natalia pelan.

“Lagu kematian itu ?”

“Iya, dan gue pernah liat handuk yang ada diloker Anin kotor sama bercak darah,”

Nat memundurkan lagi wajahnya, sekali lagi dia melihat kondisi sekitar.

“Cuma itu yang bisa gue kasih tahu, mau percaya atau nggak itu terserah kamu, tapi ingat ini rahasia kita,”

“Kalo gitu gue harus mastiin itu benar ato nggak, terima kasih buat bantuannya,”

“Iya,”

Ini semakin menarik, jika semua perkataan Natalia benar maka hipotesaku akan meruncing kepada Anin. Tapi aku masih harus mengumpulkan data lain sebelum hipotesaku bisa kugunakan, dan aku butuh bantuan Edho untuk bisa berbicara dengan Amanda.

“Nak ini bukunya,” pak Joni datang menghampiri ku dengan sebuah buku ditangannya, aku tak menyangka dia akan segigih itu.

“Maaf pak tapi ternyata teman saya udah punya bukunya,”

“Loh kamu ini, bapak udah capek loh nyarinya,”

“Maaf pak,”

“Ya udah, asal kamu rajin ke perpus, bapak bakal maafin,”

“OK deh pak, kalo gitu saya pergi dulu,”

Berbeda dengan Natalia, untuk menemui Amanda perlu sedikit usaha dan bantuan, sebenarnya Amanda lebih mudah ditemui dari pada Natalia. Aku tak perlu bertanya untuk tahu dimana dia, dia selalu ada ditempat yang sama setiap hari, jika dia tak sedang dikelas atau ruang klub maka dia pasti berada dikantin.

Yang jadi masalah adalah Amanda selalu dikelilingi oleh anak buah pacarnya yang merupakan ketua dari klub karate, bisa dibilang Amanda selalu membawa satu klub karate bersamanya, dan untuk itulah aku perlu bantuan Edho.

Aku mengirim pesan kepada Edho untuk menemuiku dikantin, aku sudah menjelaskan maksudku, dan karena itu untuk memecahkan kasus dia harus membantuku.

Saat aku tiba dikantin, Edho sudah tiba duluan dan sesuai dugaanku wajahnya masam.

“Lo pikir gue apaan ? urusan ginian lu selalu minta bantuan gue,”

“Ayolah, lu juga senang punya alasan buat ribut,”

“Iya juga sih,”

“Ya udah,”

“Dasar lu, ya udah tunggu dulu,”

Ada sepuluh orang anggota klub karate yang bersama dengan Amanda termasuk pacarnya Dion, Edho butuh sekitar delapan detik untuk menjatuhkan satu orang biasa, jika mereka punya background beladiri mungkin butuh waktu dua kali lebih lama dari orang biasa, kecuali Dion yang mungkin perlu waktu jauh lebih lama.

Aku baru akan memesan satu porsi mie ayam , saat Edho melempar salah satu anggota klub karate ke etalase kantin, dan membuat semua orang lari, termasuk Ibu ibu yang seharusnya membuatkan ku mie ayam.

Aku terpaksa harus memakan mie ayam yang kubuat sendiri sambil berdiri, karena Edho membanting salah satu anggota lain ke meja yang ingin kududuki. Aku juga tak bisa makan dengan tenang karena Edho terus saja membanting dan melempar kursi kearah anggota klub karate.

Akhirnya aku bisa makan sedikit lebih tenang saat Edho mulai bertarung dengan Dion, Dion membuat Edho terbang menabrak dinding kantin saat Dion berniat memukul Edho menghindar dan membuat Dion memukul dinding.

Edho lalu memukul Dion dengan kursi kantin dibagian punggung, tapi itu tak cukup untuk membuat Dion kalah. Dia menghindari tendangan Edho, kip up dan menendang Edho dari belakang.  Edho yang kesal berturut turut melepaskan pukulan dan tendangannya kearah Dion, memaksanya untuk mundur, Edho mengakhiri pertarungannya dengan Dion dengan mencekiknya dari belakang membuat ketua dari klub karate itu pingsan.

“Tuh udah beres,” ucap Edho santai, seperti tak melihat kekacauan yang dia buat.

Untungnya mie ayamku sudah selesai, aku meletakkan mangkuknya dilantai karena tak ada lagi meja yang tersisa. Amanda tujuan utamaku nampak ketakutan, dia jongkok diujung ruangan dengan menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.

“Hei, sorry buat kamu takut, tapi aku butuh bantuan kamu,” ucapku seramah mungkin.

Dia menurunkan telapak tangannya, dan nampak terkejut saat melihatku.

“Kamu pacar Ikha kan ? kenapa teman kamu mukulin temen teman aku,”

“Amanda..”

“Manda aja boleh,”

Aku membenarkan posisi dudukku dan memutuskan duduk dilantai, karena lebih nyaman.

“Manda, aku mau tanya apa yang kamu tahu tentang Anin ?”

“An…Anin…semua ini karena kamu mau tahu soal Anin ?”

“Iya,”

Sama seperti Natalia, pandangan mata Manda berubah tajam saat aku menyebutkan nama Anin, tetapi tak seperti Natalia, badan Manda gemetaran. Dia gemetaran bukan karena Edho baru saja memukuli teman temannya, badannya gemetaran saat aku menyebutkan nama Anin.

“Anin…dia…jahat,”

“Jahat ? bukankah dia Cuma saksi yang…”

“BUKAN….sebelum semua ini…Anin…dia…ngancam…Sinka…aku lihat dia ngancam…Sinka untuk mundur…dari…audisi…nasional,”

Manda menaikan tudung dari jaket kuning yang dipakainya lalu memeluk lututnya sendiri. Matanya berubah kosong, dan mulutnya mulai menyebutkan kata tidak sambil mengelengkan kepalanya.

“Manda ? kamu nggak apa apa ? Manda….”

Manda tak memberikan reaksi apapun, dia hanya memeluk lututnya sambil mengeleng. Aku tak mengerti bagaimana Manda bisa terkena depresi klinis begitu cepat, jenis depresi yang hanya mungkin terjadi jika seseorang terkena guncangan mental yang hebat, dan melihat teman temannya dipukuli bukanlah yang menyebabkan ini semua.

“Lu apain dia ?” ucap Edho.

“Nggak tahu, “

Edho memandangi Manda mencoba mencari tahu apa yang terjadi, wajahnya juga sama bingungnya denganku.

Masalah ini hanya satu orang yang terpikir olehku, orang yang sama misteriusnya dengan apa yang terjadi dengan Manda, juga orang terakhir yang ingin kuhubungi.

Edho mengambil beberapa gambar Manda, entah apa tujuannya. Beberapa guru datang dan Edho menghampiri mereka, beberapa menit kemudian para korban Edho dibawa pergi, kekacauan yang dibuat Edho diberesekan, semuanya kecuali Manda yang dibiarkan begitu saja.

“Ada apa,”

Sebuah suara membuatku melompat menjauh, dan berdirilah disana orang dengan aura yang gelap, yang kedatangannya tak kusadari, yang entah kenapa kali ini memakai jaket berwarna pink untuk suatu alasan.

“Gadis itu, Manda, dia tiba tiba “begitu”” aku menunjuk kearah Manda, Rizal hanya mengangguk lalu menghampiri Manda.

Edho menghindar, membiarkan Rizal bekerja.

“Kapan dia datang ?” tanya Edho.

“Barusan,”

Edho menangguk dan langsung sibuk memeriksa hasil fotonya, dia tersenyum “menjijikan” saat melihat foto foto itu, aku merasa kasihan kepada Manda yang menjadi sasaran Edho.

“Dia mengalami shock,”

Aku berusaha tak melompat untuk kedua kalinya, Rizal yang tadinya sedang memeriksa Manda sekarang ada disebelahku.

“Shock ?” tanyaku yang ingin memastikan ucapannya barusan.

“Iya, aku tak mengerti apa yang kau lakukan padanya, tapi dia mengalami shock berat yang seharusnya dirasakan oleh para korban percobaan pembunuhan, atau korban selamat kecelakaan hebat,” jawab Rizal.

Manda shock berat setelah mendengar nama Anin, sementara Nat takut untuk menyebutkan namanya. Pasti ada sesuatu yang menyebabkan ini semua, aku belum bisa menemukan keberadaan Anin, dan aku cukup mengenal Nadila untuk tahu dia berada dimana.

“Ya udah, tolong urusin dia. Gue masih harus ngelakuin sesuatu,”

“Baiklah,” jawab Rizal.

“Dan jagain dia dari Edho, gue khawatir sama dia,” ucapku berbisik kepada Rizal.

Dan mahluk mengerikan itu mengangguk, meski dia menyeramkan tapi dia adalah salah satu orang yang bisa kupercaya.

Meninggalkan Rizal dan Edho, aku pergi menuju taman belakang sekolah untuk menemui Naomi. Naomi adalah sedikit dari beberapa gadis yang kukenal sebelum masuk sekolah ini, kami berteman semenjak SMP meski hanya satu semester, dia adalah orang menarik yang sulit untuk dilupakan.

Berjalan melewati jajaran bangku taman, aku menuju satu satunya meja dan kursi yang terbuat dari semen yang tepat berada dibawah pohon jambu air sekolah. Duduk dibawahnya sedang bermain handphone, Naomi.

“Hey,”

“Hey,”

Ternyata dugaanku salah, yang sedang duduk didepanku adalah Shinta.

“Gue pengen ngomong dengan Naomi,”

“Tapi aku kan Naomi,”

Naomi memiliki dua kepribadian dalam dirinya, dua orang yang berbeda Shinta dan Naomi. Meski dari luar kau tak akan bisa tahu, bahkan jika kau mengenal siapa dia kau tak akan tahu jika dia adalah dua orang dalam satu tubuh,banyak yang hanya menganggap jika Naomi orang yang gampang berubah mood, saat sifatnya tiba tiba berubah. Hanya beberapa orang yang tahu tentang hal itu, adiknya Sinka, Ibu, beberapa orang teman dekatnya dan Rizal yang bisa mengetahui hal itu dari pandangan pertama.

Aku tahu hal itu setelah beberapa lama dekatnya, dan saat aku memastikan hal itu kepadanya, Naomi hanya tertawa dan mengatakan bahwa dia bahkan tak berharap aku menyadarinya. Tentu tak mudah memastikan siapa yang sedang bersamaku, tapi akhirnya aku menyadari betapa bodohnya aku, karena hal itu jauh lebih jelas dari pada yang kukira.

Perbedaan terbesar antara mereka adalah Naomi orang yang bertangan kidal, meski mereka memiliki satu tubuh tapi Shinta adalah orang yang bertangan kanan. Shinta juga jauh lebih ceria dari pada Naomi yang cenderung lebih pendiam, dan juga hal lain.

Jadi saat aku melihat sedotan dibotol yang ada dimeja menghadap ke kiri, yang menandakan bahwa itu diambil dengan tangan kanan, aku tahu yang sedang bersamaku adalah Shinta.

“Darimana kamu tahu, aku Shinta bukan Naomi ?” tanyanya penasaran.

“Naomi nggak cerewet,”

“Kan, aku lagi good mood,”

“Oh…kalo gitu tanggal berapa kita ciuman ?”

“Ci..ci..” wajah Shinta memerah dan dia memegang bibir dengan jari kanannya.

“Iya, kalo kamu Naomi pasti tahu tanggal berapa kita ciuman, nggak mungkin kan kamu lupa first kiss kamu,”

Aku tak bisa memastikan, tapi aku rasa meski mereka dalam satu tubuh ingatan mereka tak menyatu. Baik Shinta maupun Naomi tak akan tahu apa yang diketahui oleh diri mereka yang lain, meski mereka melihat, mendengar, dan mengunakan tubuh yang sama.

“Ihh sebel, ya udah tapi jangan lama lama, aku lagi baca FF,”

“Iya,”

Lalu ada satu hal yang tak kumengerti dari mereka berdua, mereka bisa bertukar tempat sesuka hati. Jika Naomi ingin bertukar tempat dengan Shinta, dia hanya perlu menarik jempol mereka dan seketika kepribadian mereka bertukar tempat. Aku tak tahu bagaimana itu mungkin, tapi itulah yang mereka lakukan.

“Hey ada apa ?” ucapnya kali ini dengan suara yang lebih lembut.

“Aku ingin bertanya tentang Anin,”

“An…An…Anin,”

Entah apa yang terjadi tapi Naomi menarik jempolnya dan bertukar tempat kembali dengan Shinta.

“Loh kok cepet banget ?” tanya Shinta bingung.

-chris-

Iklan

Satu tanggapan untuk “Death Lullaby, Chapter three

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s