Akar Minus Satu

 Dengan terburu-buru aku mengambil semua buku dan soal-soal Olimpiade Biologi ku yang terletak berantakan di atas meja belajar. Ray pasti sudah menunggu, menggerutu sambil memelajari materi di-laptopnya. Aku berlari menuruni tangga dan menuju halaman belakang. Aku ingin belajar sambil berdiskusi. Bukan diomeli.

     Baru saja aku menggeser pintu menuju halaman, tapi suara itu terlanjur mengudara,

     “Cindy Yuvia, bahkan miosis sel bisa lebih cepat daripada waktu yang kamu butuhkan untuk jalan kesini.”

     “Aku sudah berlari!” Seruku tidak terima. Kuempaskan buku dan tumpukan soal itu ke bangku taman, kemudian duduk.

     “Semalam aku bermimpi belajar seraya tiduran di padang ilalang seperti di film National Geographic.” Ucap ku.

     “Dan aku bermimpi sama seperti mu, aku melihat mu dipatuk ular penghuni padang ilalang,” tanggap Ray asal.

     Aku menepuk buku ke pundak Ray. “Kau sama sekali tidak romantis!”

     “Kamu sama sekali tidak realistis Yupi,” tangan Ray kemudian mengarah pada layar datar 14 inci nya. “Coba lihat ini Yup.”

     Aku mengikuti arah tangan Ray menunjuk. Aku pikir, aku akan me dapati kamus kode genetik, tapi ternyata mata ku disuguhi gambar lapisan Ozon yang kian menipis. Rusak parah. Lubang terlihat di sana-sini pada lapisan ozon. Mengerikan.

     “Ini di mana? Kutub Utara? Kutub Selatan? Seingatku, kamu bilang kita akan memelajari biologi sel dan molekuler lebih dalam. Sampai-sampai tadi di sekolah kamu mengatakan bahwa aku tidak boleh membahas materi lain di depan mu. Aku tidak menyangka, orang yang paling menghargai waktu, membuang 8 detiknya yang sama sekali tidak ada hubungan nya dengan biologi sel dan molekul,” aku protes.

     “Aku tidak sengaja melihat gambar ini saat mencari file tentang DNA, dan gambar ini adalah tugas PLH milik ku,” sahut Ray.

     Aku mencibir. “Jadi apa maksudmu? Mau menceramahi aku? Tidak perlu Ray. Aku warga bumi yang baik. “

     “Aku tidak mau mendengar itu dari gadis kecil berponi yang masih menggunakan parfum semprot setiap paginya.”

     “Dan aku tidak mau mendengar ceramah dari laki-laki remaja yang masih memakai AC.”

     Ray mendengus. “Tidak memakai AC di Jakarta adalah perbuatan tidak masuk akal.” Dia kembali menunjukkan gambar kerusak kan bumi yang lain.

    “Gambar-gambar inu terlalu mendramatisir,” kata ku dengan kening berkerut.

     “Keadaan bumi masih lebih penuh drama. Kau harus dengar teori ku.” Katanya posesif.

     Aku mendengus kesal.

     Ray mengambil pulpen dan kertas. Dia membuat sebuah lambang. Ujung pulpen nya bergerak mendatar, lalu menurun, naik, terakhir mendatar lagi, diikuti garis dan angka di dalamnya (√-1).

     “Akar minus satu?” Tanyaku bingung.

     “Apa yang kay pikir tentang akar minus satu?” Tanya Ray.

     “Impossible.”

     “Tepat! Akar dan bilangan minus tidak mungkin bersatu”

      “Seharusnya kau berbicara dengan Sinka. Anak Olimpiade Matematika.”

       Ray tertawa. “Ngambek lagi?”

       Aku berkacak pinggang. “Tidak sama sekali.”

       “Jadi teori apa yang kau miliki? Lebih baik kau jangan mengaku sebagai penemu akar,” lanjutku.

       Ray menaruh laptop dari pangkuannya, menaruhnya di bangku taman. “Menurutku, Bumi dan Manusia sama seperti akar dan bilangan minus. Lihat ke atas” tangan Ray menunjuk langit, membuat kepalaku ikut mengadah.

       “Bumi itu akar dan Manusia itu bilangan minus. Tidak akan bisa hidup berdampingan. Yang satu bertahan hidup. Yang satu menghancurkan.”

      “Siapa yang bertahan hidup? Siapa yang menghancurkan?” Tanya ku.

       “Satu sama lain.”

        Aku mengangguk. “Teori mu tidak logis Ray.”

        Ray menatap ku heran. “Alasan nya?”

        “Tuhan memberi kita akal dan memercayakan Bumi kepada kita. Tuhan tidak akan melakukan itu kalau kita tudak bisa hidup berdampingan dengan Bumi.”

        “Kerusakan ini adalah bukti nyata bahwa kita tidak bisa hidup berdampingan.”

        “Tidak semua orang menghancurkan Bumi, Ray.”

        “Lebih banyak orang memilih menghancurkan planet mereka sendiri Yup,”

        “Tapi Ray, kita sudah mulai memperbaiki nya sekarang. Penghijauan dan daur ulang sudah mulai digalak kan.”

        “Percaya pada ku Yupi, pertumbuhan kerusakan lebih cepat dari pertumbuhan perbaikan.”

        “Sikap pesimistis itu tidak akan merubah keadaan Ray.”

        “Sok Optimistis juga tidak akan memperbaiki apa-apa, Yup.”

         Aku menghela nafas. “Aku juga punya satu teori. Dan kamu harus dengar teori aku ini.”

         “Apa?”

         “Pembangunan tidak akan berjalan dengan lancar bila pejabatnya korupsi.”

         Alis Ray hampir bertemu karena keningnya mendadak mengerut. “Dan? Hubungan nya dengan Bumi?”

        “Look,” aku menunjuk tumpukan buku. “Look,” Aku menunjuk pohon mangga di sudut taman. Sebagai saksi bisu luka di pelipis Ray. Ray kecil berusaha memanjat pohon itu dan alhasil pelipis nya bergambar sekarang. Mirip Harry Potter.

        “Dan yang terakhir, lihat diri mu sendiri.” Aku tersenyum pada Ray.

       “Mana yang lebih penting. Niat atau fasilitas?” Tanyaku.

       Ray menjawab nya singkat, “niat.”

        “Niat yang sangat rendah otomatis akan mengorupsi satu hal. Misal, mengorupsi waktu. Waktu berharga bagi keefektifan. Lalu mengorupsi pemikiran. Mengorupsi kepekaan akan kesempatan. Kesempatan mungkin datang 2, 3, bahkan 1000 kali. Tapi makin besar angka kesempatan. Makin besar pula kerusakan.”

        Ray masih diam.

        “Lihat tumpukan buku itu. Tadi kita berniat untuk belajar. Lihat pohon itu. Entah sudah berapa tahun umurnya. Mungkin kebih tua dari kita. Apa menurutmu pohon itu berharga.”

        “Yeah, aku pikir begitu”

“Kalau menurutku semua tumbuhan di Bumu ini berharga. Pohon lah yang menciptakan Oksigen. Kita bisa meninggal jika tidak menghirup Oksigen, barang hanya 30 menit saja. Bumi bukan hanya biosfer, tapi organisme. Analogikan, setiap kita menebang satu pohon itu sama dengan merusak satu alveolus Bumi. Dan setisp detiknya, wilayah seluas lapangan bola rusak di Amazon akibat ulah homo sapiens yang tidak bertanggung jawab.”

       “Lalu?”

       “Lalu kita adalah para ‘pejabat’ itu Ray. Kita yang bertanggung jawab untuk pembangunan. Pembangunan demi memperbaiki Bumi. Modal utama kita adalah pengetahuan. Dan saat ini kita sedang meraup pengetahuan sebanyak-banyak demi masa depan. Dan hal terpenting lain nya adalah kasih sayang,  Ray.” Jelasku panjang lebar.

      Ray semakin terlihat bingung.

      Aku tersenyum melihat Ray yang kebingungan. “Kita tak akan bisa memperbaiki Bumi tanpa menyayangi nya terlebih dahulu. Kamu sebenarnya peduli Ray. Hanya, kamu selalu melihat dari sisi negatif nya saja. Dengan memperlihatkan gambar itu, aku tahu bahwa kamu ingin memperbaiki Bumi. Seorang Ray, tidak akan membuang waktu barang hanya 5 detik pun jika itu tidak berharga baginya.”

     “Kau berbelit Yupi, jadi maksudmu semua berawal dari niat begitu?” Tanya Ray.

     “Iya.” Senyumku melebar. “Semua berawal dari niat yang mendorong kita untuk berbuat sesuatu. Walau hanya sekedar membuang sampah pada tempatnya. Seiring berjalan nya waktu, niat akan semakin kuat untuk memperbaiki Bumi. Bumi ini indah. Aku tidak rela jika masterpiece Tuhan yang ini harus hancur. “

     Kutunjuk gambar akar minus satu yang tadi ia gambar. “Bagiku, manusia dan Bumi bukan lah akar minus satu. Karena manusia yang sebenarnya, adalah manusia yang sudah matang dalam pemantasan diri. Kita akan menyayangi dan memperbaiki Bumi kalau kita mau. Iya kan Ray?” Aku menatap Ray.

     “Time’s up Yupi. Sekarang kita belajar,” komentar Ray.

      Aku berkacak pinggang.

     Ray menatap ku dingin.

Aku tergelak. “Usaha yang bagus,Tuan” Kamulah yang lebih mengerti tentang apa yang dimaksud pematangan diri Ray. Aku tahu. Dan sekarang kamu sedang melakukan nya. Demi dirimu sendiri.  Demi impian mu. Dan yang terpenting, demi Bumi. Aku tahu.

    Rasanya langit sore belum pernah seindah ini. Aku menyadari nya beberapa detik setelah mengadahkan kepala ke langit. Bumi seindah ini. Sudah menjadi kewajiban kita untuk melakukan segala hal agar keindahan nya tidak pernah pudar.

     Ray adalah seorang pendebat sejati. Dia tidak akan pernah berhenti ‘menembak kan meriam’ kata-kata, sebelum argumen nya diterima oleh lawan dengan telak. Dengan diam saja, itu sudah menjadi pertanda bahwa dia menerima argumen ku. Tanpa harus ada kalimat “Ya kamu benar” .
Ray sudah setuju. Aku tahu. Ray sudah setuju bahwa manusia dan Bumi bukan lah akar minus satu.

Menurutmu apakah Bumi dan Manusia itu akar minus satu?

{~~~~~}

Hai, gimana cerpen nya? Aneh juga sih biasanya di blog KOG ini cerita nya romance gitu kan. Nah aku malah bikin tema nya cinta lingkungan gitu. Dan ya, sebenarnya ini cerpen yang dipersiapkan untuk lomba. Tapi tema nya berubah, jadi ya daripada terbuang sia-sia di kirim deh ke sini.

Aneh gak sih cerita nya kayak gini? Seperti biasa ya, kritik & saran bisa di mention ke twitter @Amanda_Zanuba.

Terima kasih banyak!

-@Amanda_Zanuba-

Iklan

Satu tanggapan untuk “Akar Minus Satu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s