Cinta Palsu, Part 4

Komplek perumahan yang tampak sepi, bahkan tidak ada satupun warga yang keluar dari rumah mereka meskipun langit tampak cerah dengan matahari yang masih bersinar di langit.

“Delapan puluh ribu…,”

“Thanks ya, nanti gue bayar deh, besok boleh kan?”

“Um…,”

“Gak usah malu-malu gitu, lagipula gue…,”

Perkataan gadis itu terhenti ketika melihat lelaki di depannya tampak murung sambil berjongkok dan menyembunyikan wajahnya dibalik lututnya.

“Ongkos pulang gw….habis…,”

“Hmm?”

“Sekarang gw gak bisa pulang, huuuuu…,”

“Hey, jangan bikin gue jadi makin bersalah atas semua ini,” ucap gadis itu

“Habis siapa lagi yang mau disalahin, ada aja cewek kayak gini di dunia ini,”

“Ya ampun, oke…,” Gadis itu menghampiri lelaki di depannya

Kemudian ia mulai mengulurkan tangannya ke arah lelaki itu.

“Gue gak punya pilihan, untuk sementara lo boleh istirahat di tempat gue dulu,”

“Um…,” lelaki itu masih melihat wajahnya, namun tak lama kemudian ia pun memegang tangan gadis itu yang berarti ia menyetujuinya

“Sebelumnya gue belum tau nama lo, sebaliknya lo juga belum tau nama…,”

“Michelle,” potong lelaki itu

“Huft…lo tau gara-gara liat bet nama gue kan? Kenapa kita gak kenalan aja sekarang,”

“Hemm…,” lelaki itu hanya membalasnya dengan tatapan datar

“Nama gue Michelle, Michelle Christo Kusnadi, cukup di panggil Michelle,”

“…Aldo,” balas lelaki itu dengan singkat

“Oke sekarang lo ikutin gue ya,”

“Hemm…,” balas Aldo lagi

~oOo~

-Aldo POV-

Apa gw bakalan nginep lagi di rumah cewek kayak waktu itu? Bahkan gw baru kenal dia sekitar 15 menit yang lalu. Terlebih lagi tuh cewek benar-benar menyebalkan!

Michelle? Gw sedikit gak asing denger nama itu, tapi…

“Akhem! Kita beli makanan dulu ya, soalnya di rumah gue gak ada cemilan apa-apa,”

“E-Eh gak perlu, gw gak mau ngerepotin mami lo,” ucapku sedikit basa-basi (padahal pengen makan gratis)

“Mami? Hey-hey, di rumah gw itu gak ada siapa-siapa, gw tinggal sendirian,”

“Ha?”

Yap, sepertinya kalian semua udah pada tau ekspresi muka gw ketika denger bahwa dia tinggal sendirian di rumah. Ekpresi gw keliatannya sih Sedikit senang, Ups….

“Um…udah lama ngekos ya?” ucapku langsung bertanya

“Hah? Kos?”

“Eng…gw salah ngomong ya?”

Michelle gak jawab pertanyaan dari gw, melainkan dia malah diem tepat di depan gerbang rumah yang keliatannya cukup luas dan mewah. Dilihat dari pagar rumahnya aja udah keliatan jelas kalau rumah itu merupakan rumah dari keluarga konglomerat.

“Eh-Eh jangan asal masuk rumah orang,” ucapku

“Gak, ini rumah gue…,”

“What?”

“Beli makanannya nanti aja ya, soalnya gue udah capek banget,”

“Ayo masuk,” ajaknya

“Gak salah nih?”

“Ya nggak lah,” ucapnya lagi

Gw mulai membuka sepatu gw pas sampai di teras rumahnya. Tapi Michelle, dia langsung nyelonong masuk ke dalem tanpa melepas sepatunya terlebih dahulu. Bukannya kotor ya tuh sepatu? Gak kasian apa sama lantai mewahnya?

“Chelle tunggu!”

*Bluuuurrrbbb!”

Gw bener-bener kaget bukan kepalang ketika masuk ke dalem rumahnya. Bukan karena isi rumahnya yang serba mewah, melainkan semua barang-barangnya yang acak-acakan dan tidak beraturan membuat keindahan rumah yang tadinya pantas untuk di nobatkan menjadi rumah terindah masa kini, menjadi rumah terburuk masa kini.

Tangan gw serasa gatal ingin membereskan semua permasalahan yang ada di dalam rumah ini. Tong sampah pun begitu penuh dan keliatannya sampah-sampah itu gak dibuang ke tempat pembuangan sampah selama 1 minggu lebih.

Di sisi lain, Michelle cuma duduk di sofa sambil memakan snack yang baru saja ia ambil di kulkas itu. Pakaian sekolahnya pun belum diganti, bahkan ia masih memakai sepatu ketika duduk di sofa tersebut. Dia…cewek kan?

“Um…Michelle, bisa bicara sebentar?”

“Ah? Sini duduk,” ucapnya sambil menepuk-nepuk sofa itu selayaknya orang yang mempersilahkan duduk tamunya

“Oh oke…,” Gw duduk di samping dia

“Ada apa? Soal ganti rugi ongkos pulang ya?”

“B-Bukan-bukan,”

“Terus?”

“Eng…sebelum itu lo buka dulu deh sepatunya, ya?”

“…males,”

“Lah!?”

-Author POV-

Dengan menampakan wajah memelas itu, Aldo berjongkok dihadapan Michelle lalu mulai membuka tali sepatu itu perlahan-lahan.

“Biasakan kayak gini,” ucap Aldo

*Krekezzzz!

            Suara snack yang hancur di dalam mulutnya begitu terdengar jelas.

Tampaknya Aldo telah selesai melepas kedua sepatu Michelle, kemudian tangannya mulai membuka kaos kaki itu dengan perlahan.

*Plak!

Michelle menepak tangan Aldo dengan keras.

“Jangan kurang ajar ya!” ucap Michelle

“S-sorry, kalau gitu lo lepasin sendiri gih,”

“Hem, ngerepotin banget sih,” ucap Michelle lagi namun ia mulai membuka kaos kakinya

“Bukannya anda yang ngerepotin!?”

“Dih…pake kata Anda segala,”

“Nih, siapa tau lo mau kaos kaki gue,” ucap Michelle lagi

“Ye…dikata gw ini punya fetish kayak gitu apa,”

“Fetish, ya ampun…gue kira lo itu cowok polos,”

“Ya ngapain juga lo ngasih gw kaos kaki, gak demen juga gw sama kaos kaki cewek, mau itu harum atau bau sekalipun,”

“Hmph! Serah,” Michelle lanjut memakan snacknya

“Um gw boleh…bersihin rumah lo?”

“Hmm?” ucap Michelle tanpa memandang Aldo sedikit pun

“Gimana? Gak perlu dibayar deh,” tawarnya lagi

“Terserah…sekarang gue cuma pengen istirahat,” Michelle tampak berbaring di sofa itu

“E-Eh…,” Aldo pun beranjak dari sofa tesebut

~oOo~

Ding! Ding! Ding!

            Dentuman jam yang begitu keras, lelaki yang tengah membersihkan rumah itu kini berada di lantai 2, dentuman jam tersebut bahkan sampai terdengar ke ruangan atas. Lantas Aldo yang kini berada di lantai 2 pun turun ke bawah.

“Huh?”

“Harum banget, ini di rumah kan?” ucap Michelle dengan wajah yang terlihat masih mengantuk

Rambutnya begitu acak-acakan, seragam sekolah yang belum ia ganti juga tampak kusut.

“Hey cepet mandi sana,” ujar seseorang

*Syung!

Sesuatu terlempat ke arah Michelle.

“Aduh! A-Apaan ini!?”

“Cewek itu harus bersih, mandi sehari 2x. Paham?”

“Duh, lo masih disini ternyata,” ucap Michelle

Orang yang melempar Michelle handuk itu bukan lain dan bukan tidak yaitu Aldo.

“Jangan khawatir, sebentar lagi gw pulang kok,”

Ia tampak mengelap keringat di dahinya. Seragamnya tampak di buka dan hanya kaos oblong yang kini ia kenakan. Celana biru mudanya tampak basah, jari-jarinya terlihat sedikit keriput akibat terlalu lama direndamkan di dalam air.

*Hesp-Hesp!

“Harum…,” ucap Michelle bersuara pelan

“Hah? Apa?”

“Eh, ng-nggak…tadi gue baru inget,”

“Apa?” tanya Aldo lagi

“Lo kan mau pulang, tapi gimana? Kan ongkos pulangnya juga udah habis,”

“Wah! Gw baru inget lagi!” ucap Aldo sambil menepok jidatnya

“Bloon banget sih, bisa-bisanya lo masuk ke SMA 35,” ucap Michelle

“Itu kan gak ada hubungannya,”

“Huh…lupakan,” Michelle beranjak dari sofanya dan mengambil kembali handuk itu

“Kalau mau pulang, jangan lupa tutup lagi pagarnya,” ujar Michelle

“Iya-iya,” balas Aldo lagi

Pembicaraan mereka pun berakhir setelah Michelle pergi dari ruang itu. Lantas Aldo pun kembali membawa barang-barangnya yang sedari tadi ditinggal dekat tangga.

“Huft, gw gak punya pilihan…pak Joko…,” ucap Aldo bergumam sambil mencari-cari sesuatu di Handphonenya

“Ketemu!”

Jari-jarinya dengan cepat mengotak-atik Handphonenya tersebut.

“Hallo pak Joko?”

“Ah ini pak, maaf saya minta jemput di….,”

“Oh baik pak, jam 7 oke,”

*Tet!

            Panggilan itu berakhir.

“Jam 7? Emang sekarang jam berapa?” pikir Aldo

Ia kemudian melirik ke arah jam dinding disana.

“Jam 6? Lama banget gw beresin ni rumah,”

“Tapi setidaknya bau aneh tadi udah gak kecium lagi sekarang,”

Dert-Dert…

“Hmm?” Handphonenya bergetar

“Line dari Okta,” ucapnya sambil membuka Line tersebut

**

“Kak Aldo pulang jam berapa!? Okta sendirian di rumah kak! Mama lagi ke acara arisan sama tetangganya!”

“Hah? Bukannya si om-om tua jam segini udah pulang ya?” pikir Deva

Ia kembali mengotak-atik Handphonenya itu.

*Tuuuuuuuuuuuuut!

“Hallo?”

“Oh Aldo, ada apa?”

“Belum pulang om?”

“Om-Om, aku ini bapak mu!”

“Jawab dulu pertanyaan Aldo tadi,”

“Memangnya kenapa nak?”

“Okta, dia bilang gak ada siapa-siapa di rumah. Mami lagi airsan sama tetangganya,”

“Loh, kamu jam segini belum pulang?”

“I-iya ini Aldo lagi dijalan,”

“Nah kalau gitu cepet-cepet sampai rumah deh, kasian adik kamu gak ada temen,”

“Yee…itu pertanyaan Aldo kagak dijawab nih?”

“Papa sekarang lagi ada lembur, jadi pulangnya agak maleman,”

“…yaudah, kalau gitu Aldo tutup dulu ye,”

“Yasudah, hati-hati ya,”

*Tet!

Panggilan pun berakhir.

“Hey, lo gak…,”

“HUA!” Aldo tiba-tiba terkejut ketika melihat wanita dibelakangnya itu

“K-kenapa lu telanjang!?” ucap Aldo sambil menutup kedua matanya itu dengan tangan

“Siapa juga yang telanjang, gue kan pake handuk,”

“Ya tetep aja kenapa lu cuma pake handuk doang!”

“Kan habis mandi,” jawabnya singkat

“Ya tapi…,”

“Hey, sebelum lo ngasih gw 1000 pertanyaan, kenapa lo gak denger pertanyaan kecil dari gw terlebih dahulu?” potong wanita yang bukan lain lagi yaitu Michelle

“O-Oke…,” balas Aldo yang tampak gugup itu

Kedua tangannya itu masih menutup matanya.

“Lo habis bersihin rumah gw, Tapi lo gak masuk ke kamar gue kan!?”

“Eng-Nggak! G-Gw gak masuk ke kamar siapapun kok, sumpah!” Jelas Aldo

“Oh, bagus…,” setelah itu Michelle pergi dari hadapan Aldo

Matanya itu masih mengintip dibalik sela-sela antara jarinya. Ketika ia merasa suasana telah aman, ia pun mulai membuka wajahnya kembali.

“Fyuh…lama bener lagi pak Joko!” gerutunya

“Bisa-bisa gw mati mendadak kalau terus-terusan diem disini,”

“Akhem!”

“Huaaaah!” Aldo lagi-lagi terkejut

“Jangan suka ngagetin napa!?” ucap Aldo

“Nih…,” ucap Michelle mencoba memberikan sesuatu

Di tangannya kini terdapat selembar uang berwarna merah.

“Tadi gue udah pinjem uang lo kan, sekarang gue balikin lagi,”

“A-Ah…gak perlu, lagian gw udah ada yang jemput kok,” balasnya lembut

“Jangan bikin gue sampai gak bisa tidur gara-gara lo gak nerima uang ini,”

“Um…,” Aldo pun menerimanya

“Eits…kembali gocap!” ucap Michelle lagi

*Gubrak!

            ~oOo~

Srek-Srek…

            Pemuda itu menggesek-gesekan sepatunya ke tanah guna membuat kakinya lebih nyaman lagi di sepatu tersebut.

“Yups!”

“Hei,” ucap gadis dibelakangnya bersuara seperti preman

“Jangan lupa Hp lo,” ucapnya lagi sambil memperlihatkan Handphone ditangannya

“Oh, thankyou…,”

“Satu hal lagi,”

“Ah?”

“Anggap aja semua kejadian ini gak pernah terjadi di kehidupan lo,”

“Hemmm…mending sekarang lo naik ke kasur gih,” ujarnya

“Aldo…,”

“Ek!” wajah Aldo tiba-tiba memerah ketika ia dipanggil

“Jasa-jasa lo akan selalu gue kenang,”

“Dikata gw udah meninggal apa!”

“Ahahahahaha!”

“Gw pamit!” ucap Aldo sambil menggerutu tidak jelas

“Bye-bye!” balas Michelle

Mobil silver itu telah menunggunya dibalik pagar besar tersebut. Dengan santai Aldo berjalan keluar dari kediaman Michelle sambil memasukan tangannya itu ke saku celannya.

“Den Aldo murid baru di SMA 35, udah dapet pacar yang cantik, hebat deh….,”

“Udah cepetan pulang pak, nape malah bahas pacar, lagian dia itu cuma berandal ababil,”

“Wuih, tega banget den Aldo sampai bilang begitu,” ucap pak Joko dengan logat jawanya

Mereka kini telah pergi dari kediaman Michelle. Ketika di dalam mobil…

“Tapi beneran deh, den Aldo hebat bisa kenal sama cewek itu,”

“Hah? Masih dibahas juga pak?” ucap Aldo

“Lagian kan tadi udah dibilang, tuh cewek cuma berandalan ababil,” Jelas Aldo lagi

“Yah, keliatannya begitu…,” ucap pak Joko

“Tapi hati-hati sama bapaknya ya den,” ujar pak Joko

“Eh?” Aldo tampak kebingungan

~oOo~

Sinar matahari baru muncul dibalik awan-awan itu. Persiapannya untuk pergi kesekolah tampaknya sudah matang.

“Okta di depan ya kak,”

“Serah…,”

Aldo yang memulai paginya dengan ceria tampaknya masih mengantuk. Sangat jelas terlihat dari kantung matanya yang hitam itu, terlebih lagi matanya itu tampak berair dan sedari tadi ia terus mengelap air mata itu dengan sapu tangan yang ia bawa.

“Kakak begadang lagi ya?” tanya adiknya itu ketika mereka semua telah masuk ke dalam mobil

“Yah…kakak lupa ngerangkum catatan kemarin,” balas Aldo sambil menguap

“Jangan keseringan begadang kak, nanti kakak bisa sakit,” ujar Okta

“Iya-iya,”

Aldo membuka handphonenya dan sesuatu di layar handphonenya itu langsung menarik perhatiannya.

“Apa ini?” pikir Aldo berbicara dalam hati

(Hari ini gue tunggu lo di depan gerbang, jangan pulang duluan ya, awas!)

“Ini nama kontaknya sih Nadhifa, tapi sejak kapan dia punya kontak gw?”

“Kakak jangan lupa dimakan sarapannya!” ujar Okta namun membentak

“Iyaaaa….bawel dasar,” balas Aldo, kemudian langsung membuka sarapannya di kotak makan itu

Roti isi daging telah tersedia disana, ia pun menyantapnya sambil kembali memainkan handphone.

“Gak usah gw bales kali ya, palingan juga dia mau ngerjain gw lagi kaya kemarin,”

*Drugduk! DUK!

“Aduh! Jalannya rusak banget sih!” gerutu Okta

“Kakak! Okta duduk dibelakang deh!” ucap Okta sambil melihat kursi belakang

Ketika ia melihat kebelakang, pandangannya langsung tertuju ke arah handphone yang tergeletak di bawah kursi mobil itu.

“Ya ampun kak, itu Handphone baru masa udah di jatoh-jatohin sih!?”

“Mana ada di jatoh-jatohin, ini tadi jatoh gara-gara mobilnya tiba-tiba goyang,”

“Hmph! Hp baru…,” ucap Okta lalu kembali melihat ke depan

“Eh, bukannya tadi kamu bilang mau duduk dibelakang?” tanya Aldo

“Gak jadi…,” balasnya singkat

~Aldo POV~

Pagi hari yang biasanya gw awali dengan membereskan kamar, kini gw awali dengan mandi yang sangat cepat. Bahkan itu udah gak layak lagi disebut mandi manusia, tapi bisa dibilang tadi gw mandi ular.

Dimulai dari mandi pagi kemudian menyantap sarapan yang dibuat oleh mama tercinta. Untuk pertamakalinya gw sedikit terlambat untuk berangkat ke sekolah. Yah seperti yang kalian tau, kemarin gw hampir seharian jadi Cleaning Service di rumah orang, plus malemnya gw buat catetan baru untuk mempermudah saat dibaca. Alhasil, gw bangun jam 6.30 pagi…

“Okta duluan ya kak,”

“Ya,”

Jam 6.57 mobil baru sampai di depan gerbang sekolah adik gw. Seperti yang telah gw perkirakan, gw sampai disekolah TEPAT jam 7.30. Udah gw bangunnya telat, terus macet segala lagi di jalan, dan yang terakhir udah jelas ketebak…

“Aldo Gillindra Abiyoga, masuk ke ruangan saya,”

“Baik buk…,”

 

To Be Continue…

Author : Shoryu_So

Iklan

2 tanggapan untuk “Cinta Palsu, Part 4

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s