Glassy Sky

Banner Glassy Sky

Di minggu siang yang cerah ini, gua duduk di teras rumah sambil membersihkan lensa kacamata yang sudah burem. Tak lama kemudian sesosok perempuan muncul dihadapan gua dengan pakaian yang rapih dan tas tenteng yang mencolok.

“Yuk.”

Gua langsung memasang kacamata gua kemudian mengangguk dan beranjak dari tempat duduk rumah gua.

“Naik apaan?” Tanyanya sambil melihat jam tangan hello kittynya itu.

“Motor. Gua gak bisa naik mobil kan. Lagian juga dipake sepupu.”

“Ih! Kalo naik motor kulit aku bakal kusam, trus sinar matahari bisa buat kulit aku hitam juga. Terus…”

Gua hanya menghela nafas. Perempuan secantik gini bawelnya minta ampun dah. Untung aja perempuan, masih bisa disayang.

Oke lupakan.

“Yaudah. Jadi gak nih? Kalo kagak mending gua tidur lagi.”

Dia mengembangkan pipinya dan memanyunkan bibirnya. Muka dia terlihat sangat kesal. Walaupun marah dia masih terlihat sangat cantik.

“Yaudah. Mana motornya?”

Gua pun langsung mengeluarkan motor yang dimaksud. Sehabis itu gua menyalakan motor dan memanaskannya sebentar.

Gua melihat dia sibuk memainkan handphonenya. Handphone bermerek itu, dengan casing yang imut. Gua gangerti selera perempuan jaman sekarang.

“Cepetan naik.”

Perempuan itu menoleh ke arah gua. Dia buru-buru melangkah ke arah gua.

“Oiya, Helmnya ambil sono. Sebelah rak sepatu.”

“Kok aku?”

“Yeh ini ribet ngeluarin motornya,” Gua menghela sedikit nafas. “Apa lu mau keluarin ini?” Gua menunjuk motor tersebut.

Dia hanya bisa pasrah dan mendengus kesal. Lucu juga mukanya kalau marah. Dia berjalan menuju tempat menaruh helm. Sambil menunggu, gua mengeluarkan motor ini dari halaman rumah.

Gua menaiki motor yang berada di depan rumah gua dan tiba-tiba saja ada benda besar yang menyentuh pundak kanan gua.

“Nih helmnya. Cepet ah, nanti telat pulangnya lagi.”

Gua hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya yang begitu lucu. Gua langsung memakai helm pemberianya tersebut. Tidak lama kemudian, dia duduk di belakang gua. Tanpa basa-basi gua mulai menjalankan motor tersebut.

10 menit perjalanan, akhirnya kita sampai di sebuah mall yang cukup besar. Gua memarkirkan motor di lantai 2 parkiran khusus motor. Setelah itu, dia langsung menarik lengan gua masuk ke dalam mall.

“Ke toko buku dulu. Ada novel kesukaanku baru keluar seri barunya!” Ucapnya sambil menarik lengan gua tanpa dosa.

“Vin, udah tengah hari ini. Makan dulu lah. Laper gua.”

Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya, melepaskan genggaman lengan gua. Kemudian berbalik arah dan menatap tajam gua.

“Rivan.”

“Ya?”

“Kalau misalnya buku itu udah habis gimana?”

“Tinggal cari di toko buku lain kan bisa.”

“Masalahnya..”

“Hmm?”

Dia mendekat. Gua mulai salah tingkah dan mundur sedikit.

“Ini launching pertama buku itu! Jadi kalau beli buku itu dapet tanda tangan penulisnya van! Tanda tangan penulisnya loh!” Dia memegang 2 pundak gua dan menggoyangkan tubuh gua.

“Oke-oke. Kita beli buku dulu terus cari makan. Oke?”

Dia tak menjawab pertanyaan gua. Hanya tersenyum kemudian berbalik arah dan mulai berjalan ke toko buku yang dimaksud. Gua menghela nafas dan pasrah mengikutinya.

Dia memang menyukai novel-novel. Novel apa namanya? Yang banyak drama dan cintanya itu. Pernah waktu itu gua pinjem 1 novelnya. Besoknya gua pusing dan mual karena bahasa di novel itu terlalu tinggi.

Sesampainya di toko buku tersebut, terlihat banyak sekali orang-orang yang sudah memenuhi toko itu. Dia… ya perempuan yang dari tadi bersama gua, ekspresinya seperti melihat surga. Matanya berbinar-binar, mulutnya menganga mengeluarkan busa.

Yang terakhir bercanda.

“Vienny.”

“Hm?” Dia terlihat tidak sabar.

“Gua nyari komik di tempat biasa. Lu ke tempat launching aja sono. Kalau udah nanti ketemuan di depan.”

“Iya-iya. Yaudah duluan,” Dia memasuki toko buku itu duluan dengan semangat.

Kayaknya tadi dia gak dengerin apa yang gua omongin. Terserah lah. Gua langsung menuju tempat favorit gua di toko buku. Seperti yang gua bilang tadi, tempat komik.

Gua melihat banyak sekali komik-komik yang baru diterbitkan. Sampul plastiknya masih menjaga komik-komik tersebut. Gua memerhatikan satu-satu komik tersebut, dan Bingo! Gua mendapat komik yang gua cari.

Gua kembali memerhatikan komik-komik yang menjadi incaran gua. Gua mencari komik yang sampulnya telah terbuka. Gua gapernah buka sampul plastik buku baru sebelum dibeli. Gaboleh coy.

Setelah menemukan apa yang gua cari, gua langsung membuka komik tersebut dan membaca dengan riang gembira.

Kurang lebih 40 menit gua baca komik tersebut, tiba tiba gua dikagetkan dengan tepukan dan suara dari belakang gua.

“Maaf mas.”

Gua menoleh kebelakang dan melihat perempuan berkacamata bulat, dengan rambut yang panjangnya sebahu tersenyum ke gua.

“Iya kenapa?”

“Komik yang ini ada volume terbarunya gak?”

Gua kebingungan.

Kenapa gua yang ditanya? Kan gua pembeli juga.

“Maaf mbak. Saya bukan yang jaga tempat ini.”

Dia kaget sambil menutup mulutnya. Kenapa dia kaget kalau gua bukan yang jaga? Emang muka gua mirip sama mas-mas yang jaga toko buku?

“Tapi saya tahu komik yang mbak maksud. Mungkin ini yang mbak cari.” Gua menawarkan komik yang masih disampul plastik.

“Wah bener. Duh, maaf ya mas. Saya kira tadi yang jaga toko ini. Makasih juga ya.”

“Gapapa kok,” Gua tersenyum biar kelihatan cool.

Padahal kagak.

Tiba-tiba saja, handphone gua yang terletak di saku celana gua bergetar. Gua langsung mengambilnya.

Vienny Calling

            Itulah tulisan yang tertera di layar handphone gua. Gua langsung mematikan handphone gua dan menaruhnya kembali ke saku celana.

“Kok dimatiin?”

“Biarin aja. Kalau dijawab nanti ngomel lagi. Oh iya mbak, saya duluan ya. Temen saya udah nunggu.”

“Iya. Sekali lagi maaf dan makasih ya mas.”

Gua pun tersenyum lalu meninggalkan perempuan itu dan menuju ke depan toko buku.

Disana, terlihat perempuan sedang melipat kedua tangannya dan cemberut.

“Udah kan?”

Perempuan itu menoleh ke arah gua dan memukul dada gua dengan tangan kanannya.

“Ish! Kenapa ga diangkat?”

“Ngapain? Lagian udah tau juga sih. Udahlah ayo makan. Laper nih,” Gua mulai berjalan.

“Dasar rakus. Padahal tadi pagi udah makan banyak,” Gerutunya dengan pelan.

Gua yang mendengarnya langsung menoleh ke arahnya.

“Ngomong apa tadi?”

“Gaada! Huft!”

Dia langsung berjalan cepat dan menghiraukan keberadaan gua. Duh, ini bocah. Gua menyusulnya lalu berjalan disampingnya.

“Vienny.”

Dia tidak menjawab ataupun menoleh kearah gua.

“Makan di restoran jepang aja ya vin.”

Dia menghentikan langkahnya. Gua juga ikutan berhenti.

Kalau kayak gini, pasti dia protes.

“Aku kan gak suka masakan jepang!”

“Terus mau makan apa?”

“Udah ikut aku aja!” Ucapnya sambil kembali berjalan.

Dengan terpaksa, gua harus menuruti kemauanya. Dari pada dia ngamuk terus 1 mall isinya di obrak-abrik ama dia.

Sampailah kita di depan restoran steak. Buset, mewah banget tempatnya. Gua yakin harganya berbanding lurus dengan tampak restoranya.

“Meja untuk 2 orang?’ Tanya seorang pelayan yang berada di depan restoran.

Perempuan bernama Vienny yang gua bilang tadi tersenyum dan mengangguk.

“Silahkan ikuti saya.”

Kami berdua pun mengikuti pelayan tersebut. Di perjalanan menuju meja makan, gua melihat orang-orang yang makan disana penampilanya sangat mewah. Dari yang pakai jam tangan emas, kalung emas, gigi emas. Lho?

“Ini tempatnya. Silahkan duduk.”

Kami berdua langsung duduk berhadapan. Pelayan tersbut memberikan daftar menu kepada kami berdua. Gua yang membaca daftar menu tersebut malah kebingungan mau milih apa.

“Kalau saya yang ini aja mas. Kamu apa van?”

Gua menggaruk kepala yang gak gatal. Gua gak ngerti apa yang harus gua pesan.

“Samain aja lah.”

Pelayan tersebut menulis pesanannya. “Tingkat kematanganya?”

Apaan itu? Gangerti gua. Ibu gua juga kalau masak daging ya mateng lah. Masa harus ditanya?

“Medium.”

“Saya samain aja kayak dia.”

Pelayan tersebut mengangguk kemudian menuliskan kembali pesanannya. “Sausnya?”

Apalagi ini!? Ada saus juga!? Ribet juga ya.

“Yang ini deh mas.” Vienny menunjuk salah satu gambar di menu tersebut.

Bodo lah. Untung dia ngerti. Daripada pusing mending gua main hadphone aja.

“Minumnya jus mangga sama,” Vienny menatap gua. “Jus melon kan van?”

Gua mengangguk tanpa membalas tatapannya. Sepertinya dia kesal dengan kelakuan gua. Biarin lah.

Setelah itu masih ada perbincangan antara Vienny dan pelayan tersebut, sampai akhirnya pelayan tersebut pergi.

Sekitar 15 menit kemudian, seorang pelayan yang sama membawa 2 steak dan 2 jus yang tadi kami pesan.

“Silahkan dinikmati.” Ucapnya sambil tersenyum lalu meninggalkan kita berdua.

Dan… gua gangerti cara makan steak. Seumur-umur kalo Vienny ngajak gua makan, mentok mentok ya Chicken Cordon Bleu. Untung gua pas itu masih ngerti. Sekarang gak ngerti sama sekali.

[Glassy Sky]

“Hahahahahaha!”

Vienny masih tertawa dengan tingkah gua di restoran steak tadi. Disana gua udah kayak orang bego. Gua hampir makan steak tadi pake tangan karena gabisa memakai pisau dan garpunya.

“Udahlah vin.”

“Tapi.. Masa makan steak pake tangan.” Dia masih ngejek gua dilanjuti dengan tawa khas miliknya.

Gua hanya bisa menghela nafas dan melanjutkan perjalanan menuju tempat selanjutnya yaitu, bioskop.

Sebenernya gua lagi males nonton film. Tapi ya, karena dia yang ngajak, terpaksa gua ikut. Lagi mau males-males dirumah padahal. Dan sampailah kita di bioskop tersebut.

Vienny memasuki lobby bioskop tersebut dengan senang dan gembira. Dia melihat satu satu poster film yang dipajang di dinding. Gua yang berdiri disampingnya juga ikutan melihat poster poster tersebut.

“Ah! Aku mau nonton yang ini.”

“Kalo gua ini.”

Hening.

Tiba tiba Vienny menatap gua. Gua membalasnya dengan muka datar ekspresi tidak bersalah.

“Tapi aku maunya ini!”

“Yaudah kalau gitu gua nonton ini. Lu nonton itu. Nanti kalau udh ketemu disini.” Balas gua dengan ekspresi datar.

Bener kan gua? Daripada berantem, mending kita nonton yang kita pengen trus ketemu di tempat awal.

Ekspresi mukanya berubah menjadi sedih, mulutnya cemberut, matanya memelas. Kemudian dia mendekat ke gua.

“Kamu tega ya ninggalin aku sendiri? Nanti kalau aku diculik gimana? Kamu makan pake apa?”

“Tapi kan Vin-”

“Oh! Jadi kamu emang jahat ya! Aku gak nyangka van! Aku udah berikan semuanya ke kamu, tapi kamu!?” Teriak Vienny sambil mendorong tubuh gua.

Teriakannya mengundang perhatian di lobby bioskop tersebut. Semua orang dari kalangan muda, tua, miskin, kaya, cakep, jelek memandang gua.

“Vienny, kamu-”

“Aku gak ngerti lagi Rivan! Kamu jahat! Aku mau minta putus!” Dia menunduk dan dengan cepat menutup mukanya dengan kedua tanganya.

Percaya ama gua. Itu Cuma akting dia biar gua ikut nonton sama dia. Soalnya yang dia pilih tadi itu film horror terus dia takut nonton sendiri.

Desas-desus para pengunjung di lobby tersebut mulai muncul.

“Ih kok cowoknya jahat gitu ya?”

“Gak ngerti perasaan perempuan kali dia!”

“Duh cowoknya ganteng juga sih.”

Bentar, kayaknya yang terakhir ngomong itu cowok.

Daripada harga diri gua turun, gua sebagai laki-laki cool harus menyetujui ajakanya.

“Iye-iye. Gausah nangis kali mbak. Yaudah gua pesen dulu tiketnya.”

Dia melepaskan kedua tanganya dari mukanya lalu mengangguk. Gua langsung saja ke loket tiket untuk membeli tiket. Untung saja antrianya gak begitu panjang.

“Mau nonton film apa mas?”

Rings, 2 orang. Jam 13.45.”

“Oh jadi ceritanya hatinya luluh sama pacarnya mas?” Ucapnya menggoda gua. Mungkin dia tadi melihat Vienny yang ngambek.

“Dia bukan pacar saya mbak.”

“Siapa dong?” Tanyanya kebingungan.

“Selingkuhan,” Balas gua dengan nada bercanda.

“Hahaha. Kursinya yang mana mas? Saya saranin sih agak pojok gitu.”

“Yaudah deh. Saya ikutin kata mbak aja.”

“Oke. Totalnya 70 ribu. Filmnya mulai 13.45 berarti 10 menit lagi ya.”

Gua menganggukan kepala dan mengeluarkan uang pecahan 100 ribu dari dompet gua lalu gua berikan ke mbak kasir. Dia menerima uang tersebut kemudian memberikan kembaliannya. Tak lupa dia tersenyum dan berterimakasih.

Kalau dilihat-lihat mbaknya cantik juga.

Setelah selesai membeli tiket gua langsung mencari Vienny. Dan… dia hilang. Itu anak hobinya kalo gak ngambek ya ngilang. Yah, nasib dah harus muter nyari dia. Baru saja gua mau mencari tiba-tiba punggung gua disundul.

Bug!

            “Aw! Apaan sih?” Gua menoleh kebelakang.

Pelaku penyundulan punggung gua ternyata seorang perempuan berambut pendek sambil membawa popcorn berukuran large dan minuman bersoda.

Ya, dia Vienny.

“Lama banget kamu! Filmnya kan mau mulai!”

Duh mbak. Yang bikin lama kan elu daritadi.

“Malah diem lagi. Ayok jalan!”

“Gua gak dibeliin popcorn ama minum?”

“Gak! Beli aja sendiri!” Vienny memeletkan lidahnya.

“Udah gua beliin tiket juga.”

“Udahlah! Ayo jalan!”

Gua hanya bisa pasrah. Ya beginilah kelakuan Vienny. Manjanya gak pernah berubah dari zaman doraemon warnanya masih kuning.

Kemudian kita berjalan menuju teater 2. Setelah sampai, 2 tiket yang harganya 70 ribu itu dirobek oleh mas-mas yang jaga.

Saat memasuki teater, ternyata keadaan sudah mulai gelap. Kami pun bergegas menuju tempat duduk yang telah direkomendasikan mba-mba loket tiket dan mendudukinya.

“Rivan. Kok tempatnya di pojok gini?”

“Kenapa emangnya?”

“Kamu.. mau apa-apain aku ya?” Badan Vienny menjauh dari gua.

“Engga. Kan mitosnya kalau dipojok banyak setanya. Biar kamu takut gitu, hihihihi,” Ucap gua dengan nada bercanda.

Tiba-tiba Vienny terdiam. Lalu dia mendekatkan tubuhnya ke gua dan memeluk lengan kanan gua. Gua pun jadi salah tingkah dan membuang muka ke layar.

“Jangan dilepas ya. Inyi takut.” Ucapnya dengan muka memelas.

PERTAMA KALI GUA LIAT MUKANYA LUCU GINI! GAK PERCAYA GUA!

Oke. Gua lebay.

Ratu Vienny Fitrilya. Gua gak bakal terjerumus ke jebakan lu lagi.

“Gausah lebay.”

Dia tidak menjawab maupun menoleh. Dia masih memeluk lengan gua dengan kedua tanganya. Yah, gua hanya bisa pasrah lagi.

Beberapa menit kemudian, film dimulai. Film horror ini sukses membuat seisi bioskop teriak ketakutan, termasuk Vienny.

Gua? Gua malah gak fokus ama filmnya karena semakin lama pelukan Vienny semakin erat di lengan gua.

Satu setengah jam kemudian, para penonton mulai berhamburan keluar. Banyak komentar setelah film selesai.

“Serem juga ya?”

“Ih aku kaget banget!”

“Itu hantunya ngeri tau! Amit-amit aku ketemu ama dia!”

“Hantunya cantik juga ya?”

Sedangkan gua, gak bisa menangkap alur cerita filmnya. Ya, pelukan Viennya berhasil membuat gua gak fokus menonton film.

Vienny sendiri masih ketakutan. Dia teriak hampir 100 kali, padahal adegan seremnya gak nyampe 100.

Setelah keluar dari tempat tersebut, Vienny masih memegang erat tangan gua. Bedanya sekarang cuma 1 tangan.

Melihat dia yang ketakutan gak berdaya akhirnya gua menawarkan untuk langsung pulang. Tanpa melihat ke gua dia menganggukan kepalanya.

Kemudian kita ke tempat parkiran untuk mengambil motor dan pulang dari mall tersebut.

Matahari terlihat mulai terbenam. Untung nyampe ke rumah gak malem, kalau malem bisa dimarahin ama orang tua Vienny.

Vienny yang dari tadi terdiam selama perjalanan sambil memeluk pinggang gua akhirnya gua sadarkan karena sudah sampai di rumahnya.

“Turun Vin. Udah nyampe.”

Vienny tersadar dari lamunannya kemudian turun dari motor gua dan memberikan helm gua. Tanpa mengucapkan apapun dia memasuki pagar rumahnya dan memasuki rumahnya.

Gua memaklumi tingkahnya. Yaiyalah, penakut kok malah nonton film horror. Lagian filmnya juga gak begitu serem. Padahal gua pas nonton gak fokus.

Gua membuka pagar rumah gua dan memasuki motor ke halaman rumah. Ya, rumah kita sampingan. Setelah menaruh helm, gua langsung masuk ke rumah.

“Eh Rivan udah pulang.” Ibu gua datang sambil memegang pisau di tangan kanannya.

“Weits ma. Itu pisau dikondisikan dulu.”

“Eh iya lupa. Abis motong ikan tadi. Kamu mau makan?” Dia menurunkan pisau tersebut.

“Enggak deh ma. Lagi capek, mau istirahat dulu,” Balas gua sambil berjalan ke lantai 2.

“Yaudah. Tapi jangan tidur loh. Bentar lagi Maghrib.”

“Ya,” Balas gua datar.

Sampai di kamar, gua langsung menjatuhkan badan gua di kasur. Baru saja menutup mata, tiba-tiba ada handphone gua bergetar menandakan ada pesan masuk.

Vienny : Makasih.

Gua tersenyum melihat pesanya, lalu gua taruh handphone gua diatas meja yang gak jauh dari kasur gua.

Gua memandang langit-langit kamar. Gua terdiam sebentar dan berpikir. Entah kenapa, kayaknya ada yang janggal. Gua melihat ke arah kalender yang berada di meja gua, lalu gua pandang lagi langit-langit kamar gua.

“Besok senin.”

[Glassy Sky]

Kantin, surga para siswa dan siswi. Disana terdapat banyak kegiatan bermanfaat yang dapat dilakukan. Contohnya, bolos saat jam pelajaran, nongkrong, malakin anak cupu. Di jam istirahat, pasti banyak siswa dan siswi yang datang ke kantin.

Untuk menghapus rasa penasaran, salah satu siswa dari sekolah kami mengadakan interview kepada beberapa siswa dan siswi.

Pertanyaanya : “Kenapa suka ke kantin?”

Berikut beberapa jawaban yang berhasil didapat dari beberapa siswa dan siswi.

“Gimana ya. Buat refreshing gitu.”

“Disini banyak makanan. Walaupun bayar sih.”

“Hehehe… Lumayan coy! Cewek disini yang ke kantin sexy-sexy!”

“Hihihi… Cowok ganteng disini banyak yang ke kantin.”

“Kantin? Maksud lu rumah ketiga gue?”

Begitulah jawaban-jawaban yang berhasil dirangkum. Intinya sih, untuk menghilangkan rasa suntuk di kelas.

By The Way, Itu adalah hasil laporan salah satu temen gua. Entah untuk apa dia buat kayak gitu. Dia malah mempresentasikannya ke gua dan temen gua.

“Dino, hidup lu kurang kerjaan banget sih,” Ucap seseorang yang duduk disamping gua.

“Gapapa kali Za. Namanya kepo,” Balasnya

Gua hanya terkekeh melihat kedua temen gua ini debat. Yang satu ngotot, yang satu ngeyel.

Kalo gua sendiri sih, gak suka ke kantin. Buktinya sekarang lagi istirahat gua masih di kelas. Gua itu sukanya nitip jajanan ke temen yang mau ke kantin. Yaiyalah, temen kalo gak dimanfaatin buat apa?

Oke gua bercanda. Tapi gua sering nitip.

Mereka berdua masih adu bacot, sampe berdiri jambak-jambakan rambut. Gua sebenernya gak peduli, tapi mereka udah gak di batas wajar lagi.

“Set dah lu berdua ribut mulu! Berisik tau,” Teriak gua sambil menggrebak meja.

Mereka berdua akhirnya diam dan menatap gua. Gua membalas dengan tatapan tajam. Kemudian mereka berdua duduk di kursi yang ada di dekat mereka.

Gua pun melanjutkan membaca novel yang tadi diganggu oleh mereka berdua. Sedangkan mereka mengeluarkan handphonenya.

“Rivan.” Panggil salah satu temen gua.

“Hmm?” Gua berdehem tanpa menoleh ke arahnya.

“Lu kemaren jalan ama Vienny lagi ya?”

“Tau darimana?” Gua pun menoleh ke arahnya.

“Nih,” Dia memperlihatkan layar handphonenya ke gua.

Disana terlihat foto gua dan Vienny abis keluar dari bioskop yang Vienny-nya megang tangan gua itu.

“Dapet darimana?” Tanya gua.

“Dari akun twitter fanbasenya Vienny.”

“Oh.”

“Gila emang Vienny. Sampe punya fanbase gitu. Anggotanya bukan cuma sekolah ini, bahkan sampe luar kota,” Ucap Dino yang antusias.

Oh iya. Belum pada kenalan ya? Oke, kenalan dulu. Darimana ya? Oke, dari gua dulu.

Nama gua Radhitya Rivan. Biasa dipanggil Rivan. Gua duduk di kelas XI-A. Gaada yang spesial kayaknya dari gua. Cuma orang yang suka tidur, makan dan main game.

Kalo yang tadi nanya gua itu namanya Heza. Wajahnya lumayan, jago olahraga, jago main alat musik. Dia ketua klub basket.

Sayangnya, dia otaku hardcore. Tau lah kalian hidupnya bagaimana. Sampai sekarang dia masih menyembunyikanya dan cuma gua dan temen gua yang tau.

Kalo satu lagi namanya Dino. Anak culun berkacamata dengan style ramput rapih. Dia sangat pintar di semua mata pelajaran. Dia gak disukai banyak orang di sekolah ini karena penampilanya.

Walaupun culun, dia lumayan jago main basket. Pernah dia 1 lawan 1 sama gua, dan hasilnya gua kalah. Yaiyalah, gua gabisa main basket.

Nah yang tadi dibicarain itu namanya, Ratu Vienny Fitrilya. Primadona sekolah. Wajahnya yang cantik, senyumnya yang tulus, kelakuanya yang baik menjadi sorotan banyak orang.

Banyak dari kaum lelaki maupun wanita menyukainya. Sampai yang tadi, ada fanbasenya.

Dari sekian banyak surat cinta yang telah diberikan, tak ada satu pun yang dia terima. Entah apa alasanya.

Tapi dibalik semua kelebihanya, Vienny adalah perempuan yang suka ngomel, cengeng, manja dan penakut. Dia mengeluarkan sifat itu ketika hanya bersama gua.

Beginilah perbedaannya:

Di sekolah :

Vienny menghampiri gua.

“Rivan… Udah makan belum? Mau makan sama Inyi?”

Di area rumah :

Vienny tiba-tiba masuk ke rumah gua.

“Van. Beliin pizza dong 3 loyang. Pake duit kamu dulu. Gak usah nolak! Cepet!”

Di sekolah :

Gua lagi ngerjain pr, Vienny dateng.

“Kamu masih ngerjain pr? Mau Inyi bantu?”

Di area rumah :

Tiba-tiba Vienny masuk kamar gua dan memberikan setumpuk buku.

“Kerjain pr aku dong! Capek nih mau tidur!”

Di sekolah :

Gua terlihat lemas dan lesu, Vienny dateng.

“Kamu sakit Van? Mau Inyi temenin ke UKS?”

Di area rumah :

“Rivan! Ayok ke mall!” Gua diseret sama Vienny padahal gua lagi typhus.

Hubungan gua dengan Vienny hanyalah sebatas teman. Gua teman sejak dia kecil, malah dari bayi. Gua dan Vienny lahir di rumah sakit, jam, dan menit yang sama. Tapi gua lebih tua 20 detik. Dan juga kami juga tinggal bersebelahan.

Kita berempat berada di kelas yang sama. Dari kelas 10. Tapi yang paling akrab dengan Vienny ya gua. Gua gitu loh.

Udah segitu dulu ya perkenalanya. Nanti dilanjut.

“Rivan,” Panggil seorang perempuan yang berada di depan kelas.

Gua menoleh ke arah sumber suara. Ternyata yang memanggil gua adalah Vienny.

“Bisa temenin ke ruang guru gak? Katanya pak Restu gak masuk. Mau minta tugas.”

Gua hanya menganggukan kepala yang artinya setuju. Yaiyalah masa nolak.

“Oke! Aku tunggu di depan kelas ya,” Perempuan itu berjalan keluar kelas.

Gua pun beranjak dari tempat duduk gua. Saat berdiri gua ditatap oleh duo macan ini.

“Kenape?’

“Sialan lu. Diajak berdua lagi,” Heza menyilangkan kedua lenganya.

“Lu pake pelet apaan sih?” Dino membenarkan kacamatanya yang turun.

“Terserah!”

Gua gak meladeni ejekan temen gua. Gua langsung saja keluar dan menghampiri Vienny yang menunggu di depan kelas.

“Ayo,” Ajak gua.

Dia tersenyum manis lalu mulai berjalan. Cih, di sekolah sifat aslinya bakal dia buang jauh-jauh. Liat aja nanti.

“Rajin amat sih lu Vin. Guru gak masuk malah minta tugas.”

“Biarin dong. Biar jadi contoh yang lain. Kan aku ketua kelas!”

Gua tidak membalas ucapanya. Gua masih berjalan disamping Vienny yang tersenyum manis selama perjalanan.

“Wah itu Vienny!”

“Ratu-ku!”

“Cowok disebelahnya ganteng juga. Jadi suka deh! Ih!”

Gua tersenyum mendengar ucapan yang terakhir. Sampai gua sadar, yang ngomong itu cowok.

Sampai di ruang guru, kami meminta tugas dan kami disuruh ngerjain latihan soal di buku paket. Berhubung buku paketnya dikumpulin yang berarti ada disini, gua dan Vienny membawa 35 buku paket itu ke kelas.

Di perjalanan menuju kelas, gua membawa 20 buku paket dan Vienny membawa 15 buku paket. Buku paketnya tebel coy. Jadi berat.

“Vienny!” Panggil seorang perempuan yang ada dibelakangnya.

“Ikha!”

Perempuan bernama Ikha itu pun menghampiri gua dan Vienny.

“Ih! Kamu minggu kemarin kok gamasuk?” Tanya Vienny.

“Liburan. Hehehehe.” Balasnya cengengesan.

“Ih kamu!”

Mereka berdua akhirnya bercanda-canda seakan lupa dengan keberadaan gua yang masih menenteng 20 buku paket yang tebel.

“Ehm. Bawa 20 buku paket ginian berat loh.”

Mereka berdua menoleh ke arah gua. Tatapanya sinis seakan perbincangan mereka gak mau diganggu. Aura gak enak mulai muncul. Gua memutuskan untuk menyelamatkan hidup gua.

“Maaf mengganggu. Silahkan dilanjutkan.”

Mereka bertatapan kembali.

“Eh iya, kamu ngapain bawa buku paket ginian?” Tanya Ikha.

“Mau nimpuk muka lo,” Batin gua.

“Iya ini, pak Restu gak masuk. Jadinya kita dikasih tugas ngerjain soal deh,” Viny tersenyum.

“Oh. Sini aku bawa setengahnya.”

“Wah. Makasih,” Viny memberikan setengah tumpukan bukunya ke Ikha.

“Gua gak dibantu nih?”

Mereka menatap sinis gua lagi.

“Kayaknya tadi ada yang ngomong?” Tanya Ikha.

“Tau. Cus ah!” Balas Vienny yang mengajak Ikha berjalan.

Gua ditinggal dibelakang. Gua merasa disakiti. Gua pun mengikuti mereka berdua sambil menahan beratnya tumpukan buku paket ini.

Kalau yang tadi namanya Riskha Fairunissa. Biasa dipanggil Ikha. Dia temen deket Vienny sejak SD. Secara otomatis dia juga temen deket gua. Karena gua kan dari SD sampe sekarang 1 sekolah mulu. Bahkan 1 kelas.

Sikapnya ketika bersama Vienny ya kayak tadi. Bersekongkol dengan Vienny dengan tujuan memperbudak gua.

Dia beda kelas sama kita. Dia berada di kelas XI-C.

Sesampainya di kelas, Vienny langsung memberitahukan tugasnya disusul dengan dibagikanya buku paket.

Setelah dibagikan, gua langsung duduk di kursi gua dan merebahkan kepala gua di meja. Gua menatap Vienny dan Ikha keluar kelas. Tak lama kemudian Vienny masuk kelas lagi.

“Seneng lo dianter 2 cewek?” Tanya Heza yang duduk disamping gua.

“Menurut lo?”

“Gua sih biasa. Lagian masih cantikan waifu gua. Ya kan sayang?” Ucapnya sambil memandang tokoh anime di layar handphonenya.

“Gila lo.” Gua berkata pelan.

“Apa lu bilang!?”

Gua gak menjawab pertanyaannya. Gua mengalihkan pandangan ke arah depan sambil berpura-pura fokus memandang sesuatu.

Tiba-tiba saja, pak Gilang masuk ke kelas bersama dengan perempuan. Terlihat perempuan itu menggenakan seragam SMA sini yang berarti dia siswi sini. Yaiyalah.

“Ternyata pak Gilang doyannya sama yang lebih muda.” Batin gua.

“Minta perhatianya sebentar.” Ucap pak Gilang.

Seisi kelas pun terdiam.

“Ini ada murid baru ya. Kebetulan baru datang tadi. Saya kira besok datangnya makanya tadi pagi saya tidur lebih lama. Hahahahaha.”

Hening.

“Ehem. Jadi, perkenalkan dirimu.” Ucap pak Gilang ke siswi tersebut.

Siswi tersebut mengangguk dan maju 1 langkah.

“Perkenalkan, nama saya Nadila Cindi Wantari. Kalian bisa panggil saya Nadila. Semoga kita bisa akrab.” Perempuan itu tersenyum manis sambil mengedipkan 1 matanya.

“WOOOOOOOOOOO!”

“NADILUV!”

“CANTIK BETS!”

Semua cowok di kelas ribut. Mereka teriak teriak, naik keatas meja, memutar ikat pinggang, berantem ama siswa lain.

“Sssst! Tolong semuanya diam!” Teriak Vienny dengan tegas.

Akhirnya semuanya diam lagi.

“Terimakasih Vienny. Yak Nadila, kamu duduk di…. Nah sana!” Ucap pak Gilang sambil menunjuk kursi sebelah gua.

“Lah pak? Trus saya duduk dimana?” Tanya Heza yang duduk disebelah gua.

“Kamu ya dimana kek. Noh disamping Dino aja. Kasian sendiri mulu.”

“Cih! Menang banyak lu Van!” Heza bangkit dari tempat duduknya kemudian menuju tempat duduk sebelah Dino.

Gua hanya terkekeh melihat tingkah Heza. Kemudian perempuan tadi langsung menuju tempat duduk di sebelah gua.

“Yasudah, bapak keluar dulu ya. Jangan ribut.” Pak Gilang pun meninggalkan kelas.

Pasca pak Gilang meninggalkan kelas, para cowok yang dari tadi tergila dengan kecantikan Nadila pun menghampirinya.

Gua yang ingin mengerjakan pr akhirnya terganggu dan memutuskan untuk pindah ke meja Heza dan Doni.

“Ngapain lu kesini?” Tanya mereka berdua.

“Noh. Penuh amat meja gua. Mau kerjain pr gabisa.”

“Yeh. Udah enak duduk sebelah cewek.”

“Udeh-udeh. Mending kerjain pr-nya dari pada dimarahin bos.”

Akhirnya gua dan 2 teman yang aneh ini mengerjakan pr disaat cowok-cowok lain masih sibuk berkenalan dengan Nadila.

3 sekawan mengerjakan pr.

[Glassy Sky]

Jam pulang sekolah pun tiba. Senang rasanya hati ini. Lebay banget ya gua.

Setelah melewati rintangan demi rintangan akhirnya gua bisa pulang dari tempat mengerikan ini.

Oh iya, soal anak baru tadi, gua gak sempet kenalan karena dia terlalu sibuk memperhatikan pelajaran yang diberikan guru.

Gua masih berada di kelas, memasukan barang-barang ke dalam tas. Tiba-tiba saja ada bunyi pesan masuk dari handphone gua. Gua pun langsung mengecek pesan tersebut.

Vienny : Pulang duluan aja. Aku mau jalan Ikha dulu.

Gua ama Vienny emang biasa berangkat dan pulang bareng. Lagian rumah sebelahan gini.

Gua gak membalas pesan tersebut. Tanpa berpikir panjang gua langsung menuju tempat parkiran dimana motor gua diparkir.

Sesampai di tempat parkiran gua langsung menuju motor gua dan menaikinya. Di dekat gerbang sekolah gua liat ada murid baru.

Siapa namanya tadi? Nabillah?

Gua pun menghampirinya dengan motor gua soalnya dia keliatan kebingungan. Biasa, naluri cowok ganteng.

“Emm. Sorry tadi belum kenalan.”

Dia menoleh ke arah gua. Tatapannya begitu aneh. Tapi entah mengapa gua baru sadar mukanya begitu familiar.

“Bentar, kamu yang kemarin di toko buku kan?” Tanya perempuan itu.

“Eh. Iya sih. Lu berarti yang di toko buku juga kan? Yang ngira gua mas-mas jaga toko?”

“Bener sih tapi, yang itu gak usah dibahas deh.”

Pantes aja mukanya pernah gua liat. Dia yang kemaren ngira gua mas-mas yang jaga toko buku toh.

“Oh iya nama kamu siapa?” Lanjutnya.

“Rivan. Lu Nabillah ya?”

“Nadila. Masa aku disamain ama member JKT48 sih.”

Kita berdua pun tertawa. Kalau dilihat-lihat dia cantik juga.

“Lu pulang naik apa?”

“Tadinya sih sama supir. Cuma dia belum dateng juga. Aku telpon juga gak diangkat. Kayaknya ketiduran,” Balasnya sambil cemberut.

“Hahahaha. Ada-ada aja. Mau bareng ama gua?”

“Eh!? Gak usah. Ngerepotin jadinya.” Dia kaget.

“Gapapa kali. Gua juga gak ada acara abis ini.”

“Emm.. Yaudah deh.” Ucapnya sambil menaiki motor gua.

“Pegangan ya.”

“E-Eh?”

Gua menjalankan motor gua dengan kecepatan yang tinggi.

“Rivaaan!” Teriaknya sambil memegang pinggang gua.

Dan ya begitulah.

Dan sampailah kita di rumah yang cukup besar. Gua dimarahi habis-habisan gara-gara ngebut. Padahal itu belum ngebut loh.

“Haah! Yaudahlah. Makasih udah nganterin. Mau mampir dulu?” Ajaknya.

“Gak usah deh. Buru-buru ini.”

“Loh? Katanya tadi gak ada acara?”

“Mau pulang aja. Kangen kasur.”

“Dasar. Yaudah sekali lagi makasih. Dan pulangnya jangan ngebut,” Ucapnya sambil mengancam gua.

“Iye-iye. Yaudah gua pulang dulu.” Gua langsung menjalankan motor gua.

“Hati-hati! Jangan ngebut!”

Gua tersenyum mendengar ucapanya yang sudah tidak kedengeran jelas karena jaraknya yang sudah jauh.

Sesampainya di rumah, gua langsung memarkirkan motor di halaman dan masuk ke rumah.

“Wah! Adekku pulang.” Ucap seorang perempuan yang sedang duduk di sofa ruang tengah sambil nonton TV.

“Hm? Kak Naomi tumben kesini?”

“Kangen adekku yang ganteng ini,” Balasnya sambil beranjak dari sofa dan berjalan ke arah gua.

“K-Kenapa kak?” Ucap gua karena kak Naomi menatap gua dengan serius.

“Peyuuuuk!” Tiba-tiba kak Naomi memeluk gua.

“A-Ah.. K-Kak.. S-Sesak.”

Kak Naomi pun melepaskan pelukanya.

“Kakak kan kangen kamu.” Ucapnya dengan nada memelas.

Gua memiringkan bibir mendengar ucapanya.

Sekedar info, kak Shinta Naomi ini sepupu gua, bukan kakak kandung. Dia kuliah dan kampusnya lumayan jauh dari sini dan dia nge-kos di tempat yang gak jauh dari kampusnya. Biasanya dia kesini 2 sampai 3 kali seminggu. Untuk berkunjung.

Gua menghiraukan ucapan kak Naomi. Langsung saja gua menuju lantai 2 dimana kamar kesayangan gua berada.

“Mau ngapain?” Tanyanya keherenan.

“Tidur,” Balas gua singkat.

Sepertinya kak Naomi merelekan kepergian gua. Gua sendiri langsung masuk kamar dan merebahkan tubuh gua di kasur.

Dan gua ketiduran.

[Glassy Sky]

Kegelapan pun mulai menyerang. Atau kata gampangnya, malam telah tiba.

Gua sedang duduk di sofa ruang tengah sambil nonton TV dan melahap martabak manis yang tadi dibelikan sama kak Naomi.

Kedamaian yang gua nikmati akhirnya pergi meninggalkan gua. Tiba-tiba saja Vienny datang ke rumah gua dan ikut duduk di sofa ruang tengah.

“Bagi dong!” Ucapnya tanpa dosa mengambil sepotong martabak.

Gua hanya memiringkan bibir melihat tindakanya itu. Gua menyilangakan kedua tangan di dada kemudian fokus menonton acara yang sedang tayang.

“Rivan,” Panggilnya

“Hmm?”

“Mau curhat dong.”

Lah. Tumben-tumbenan dia mau curhat.

“Apaan?”

“Aku…” Ucapnya malu malu.

“Kamu?”

“Aku lagi suka sama seseorang.”

Wow.

Akhirnya setelah berjuta-juta tahun dia suka sama seseorang. Walaupun dia suka novel cinta-cintaan, tapi dia benci cowok yang sok romantis deketin dia.

Kecuali gua. Gua aja gak pernah romantis.

“Siapa?”

“K-Kamu,” Balasnya dengan nada lucu.

Gua kaget.

Gua tersedak.

“A-Apaan?” Tanya gua tidak percaya.

Vienny hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya.

“P-pfft.”

“Vin?”

“Hahahaha!”

“Hah?”

Dia tertawa terbahak-bahak. Gua dibuat bingung olehnya.

“Panik banget muka kamu Van! Hahahaha!”

Sial. Gua ternyata dikerjain.

“Jadi.. Siapa?” Tanya gua serius.

“Hmm.. Kasih tau gak ya?”

“Kalo gak mau ngasih tau, gak usah diomongin,” Ucap gua kesal.

“Jangan baper dong. Iya-iya aku kasih tau.”

“Siapa?”

“Fernando. Anak kelas XI-B. Kapten tim basket sekolah.”

“Fernando? Gak kenal gua.”

“Kamu mah mainnya ama Heza dan Dino mulu.”

“Terus? Lu mau minta bantuan gua?”

“Enggak. Cuma mau ngomong doang. Udah ya aku mau pulang. Daah~” Vienny berlari keluar rumah gua sambil nyengir.

Gua menggelengkan kepala melihat tingkah dia. Cuma minta martabak plus curhat. Gua kembali fokus menonton acara di TV dan tiba-tiba kak Naomi datang ke ruang tengah.

“Siapa tadi?” Tanyanya sambil duduk disebelah gua.

“Vienny.”

“Oh. Udah lama juga kakak gak ketemu dia.”

“Sibuk pacaran mulu sih.” Ejek gua.

Tiba-tiba kak Naomi menunduk sambil menutup mukanya dengan kedua tangan.

“Aku diputusin.”

Gua panik. Gua mencoba meminta maaf dan menenangkan kak Naomi yang mulai menangis menjadi-jadi. Ibu gua yang datang malah memperburuk suasana dengan menceramahi kak Naomi.

Ya… Begitulah malam itu.

 [Glassy Sky]

Kukkururyuuuuk!

Gua terbangun dari mimpi kosong semalam. Entah mengapa perasaan gak ada yang melihara ayam, tapi kenapa ada suaranya.

Semalam gua menenangkan kak Naomi dengan berbagai cara, mengelus punggungnya, pundaknya dan tiba-tiba gua digampar. Katanya mesum.

Perhatian gua langsung tertuju ke arah handphone yang menunjukan adanya pesan baru yang masuk.

Vienny : Berangkat duluan aja.

Dari kemarin kalau dia ngirim pesan singkat-singkat mulu. Gua gak ambil pusing dan langsung melakukan ritual gua di pagi hari.

Setelah menyelesaikan ritual, gua memakai seragam dan turun ke lantai 1 untuk sarapan bersama.

Gua masih melihat muka kak Naomi yang sedih karen ucapan gua semalem. Dia memainkan sendoknya dengan cara menggoyangkannya ke kiri dan kanan.

“Kak.” Panggil gua.

Dia gak membalas panggilan gua.

“Aku minta maaf kak.”

Tiba-tiba permainan sendoknya berhenti dan dia mulai menatap gua.

“Jalan.”

“Hah?”

“Setiap malam minggu kamu harus jalan sama kakak.”

“K-kenapa?”

“Oh jadi kamu nolak,” Ekspresi mukanya tambah lesu dan mulai menutup mukanya dengan kedua tangan.

“E-Enggak kak. Aku gak nolak kok.”

Dia pun melepas kedua tangan dari mukanya. “Berarti malem minggu nanti kita jalan ya,” Ucapnya sambil tersenyum.

Gua hanya mengangguk setuju agar masalah ini gak jadi lebih parah lagi.

“Yaudah, makan dulu sono. Kamu kan sekolah.”

Gua memulai sarapan gua dengan khidmat. Selama sarapan gua dipandang kak Naomi terus dan gua jadi salah tingkah.

“Y-Yaudah kak. A-Aku berangkat sekolah dulu.”

“Peluk dulu dong,” Ucapnya sambil mendekat ke arah gua.

Daripada masalah nambah, gua memeluk kak Naomi dan kak Naomi juga memeluk gua. Setelah itu dia melepaskan gua dan mengelus puncak kepala gua.

“Hati-hati di jalan.”

“Iya kak.”

Gua keluar rumah dan mulai memanaskan motor. Setelah cukup lama, gua keluarkan motor dari halaman rumah dan bersiap untuk berangkat.

“Jangan ngebut!”

Gua menoleh ke arah sumber suara. Ternyata itu kak Naomi lagi. Gua tersenyum lalu mulai menjalankan motor gua.

“ITU AWAS!”

CKIIIIIT!

Gua ngerem mendadak. Hampir aja gua nabrak kucing gak bersalah ini. Gua menoleh ke arah kak Naomi. Sepertinya dia kesal. Gua pun melanjutkan perjalanan menuju sekolah.

Sesampainya di sekolah, gua memarkirkan motor sepeerti biasa. Gua langsung menuju ke kelas.

Di perjalanan gua gak ngeliat Vienny.

Apa dia sudah berangkat?

Kenapa dia bilang gua berangkat duluan?

Kenapa kak Naomi diputusin?

Sedari gua memikirkan itu, tiba-tiba Vienny terlihat didepan kelas gua. Mukanya gelisah seperti menunggu seseorang. Gua mencoba mendekatinya.

“Vin.”

Dia menoleh ke arah gua. Mukanya kebingungan lalu dia lari menjauh dari gua. Gua gak kalah bingungnya sama dia.

Gua tadi mandi kok.

Tak ambil pusing, gua masuk ke kelas dan menemukan 2 orang sedang berdebat. Mereka Heza dan Dino. Apalagi yang mereka debatkan, pasti gak penting.

Untung tempat duduk sebelah gua cewek. Kalo masih Heza, pasti bakal ribut deket meja gua. Gua langsung duduk di tempat duduk gua dan langsung gua taruh kepala gua dimeja dan tanpa sadar gua ketiduran.

Lagi mimpi enak-enak, tiba-tiba gua dibangunin sama seseorang disebelah gua.

“Rivan. Bangun dong! Gurunya udah masuk.”

Dengan kekuatan yang ada, gua mencoba bangun dan membuka kedua mata gua. Gua mengucek mata kanan gua dan melihat sekeliling kelas.

“Hobi banget tidur,” Sindir seseorang disebelah gua.

“Weits, jangan salah. Gua lagi meraih mimpi.”

“Hah?”

“Gak usah diambil pusing Nad. Noh gurunya ngeliatin kita.”

“Eh? Kamu sih!”

Gua terkekeh mendengar balasanya. Kemudian, gua melihat kedepan sambil menopang dagu gua dengan tangan kanan. Sesekali gua melirik ke arah Nadila. Dari deket ternyata manis juga ya.

“Hayo, ngelirik-lirik. Naksir ya sama aku?”

“E-Enggak kok,” Gua langsung membuang muka.

Sedangkan Nadila tertawa melihat tingkah gua. Tiba-tiba saja, aura di kelas ini menjadi gelap.

“Rivan, Nadila, kalian gak perhatiin saya?”

Kami berdua kaget, ternyata bu Wini sudah didepan meja.

“Kalian tahu apa konsekuensinya kan?” Ucapnya sambil tersenyum manis.

Kami berdua menelan ludah melihat muka bu Wini yang sangat “Cantik” itu.

Pada akhirnya kami dihukum.

Saat jam pulang sekolah, gua diminta Vienny untuk dateng ke taman belakang. Katanya ada yang mau diomongin.

Nih anak yang dari tadi pagi kelakuanya kayak menghindar dari gua.

Contohnya yang tadi, gua sapa, dia kabur.

Pas istirahat, gua ngajak dia ke kantin, dia kabur.

Pas gua kebelet, gua ajak dia ke toilet, gua digampar.

Sampailah gua di taman belakang. Suasananya yang nyaman, damai, adem memang nikmat. Gua melihat Vienny duduk di kursi dekat pohon. Langsung saja gua menghampirinya.

“Vin.”

Dia menoleh ke arah gua. Kemudian dia berdiri dan menatap gua dengan tajam.

“Kenap-“

“Rivan,” Panggilnya tegas.

“Y-Ya?”

“Kamu itu…”

“Gua kenapa?”

“Udah jelek, gak tau diri, caper, mesum lagi!”

Hah?

Nih anak kenapa? Tiba-tiba ngejek gua. Padahal yang dia bilang gak bener. Yang terakhir lumayan sih.

“Lu kenapa Vin?” Tanya gua kebingungan.

“Aku males deket kamu mulu! Mulai sekarang jangan pernah deket sama aku lagi! Titik!”

Dia berjalan melewati gua sambil menghentakan kakinya dengan keras. Gua masih menatap kosong akibat perkataanya.

Gua coba duduk dan menenangkan diri. Gua coba berpikir. Dia kalo ngambek itu biasanya diemin. Tapi, sekarang dia malah ngejek dengan hal-hal yang hampir bener dengan sifat dan kelakuan gua.

“Rivan.”

Gua mengangkat kepala gua yang sedari di tundukkan. Gua melihat seorang perempuan dengan tahi lalat di dekat matanya berdiri didepan gua.

“Lu mau ngejek gua juga Kha?”

“E-Enggak,” Ikha langsung duduk disebelah gua. “Gua mau minta maaf sama kelakuannya Vienny.”

“Kenapa sih emangnya dia? Tiba-tiba ngomong kayak gitu?”

“Jadi gini, dia semalem nyatain perasaannya ke Fernando.”

Oh Fernando. Cowok yang disukai sama Vienny.

“Terus?”

“Ya, dia bilang mau jadi pacarnya. Dengan syarat harus jauh sama lu.”

“Jauh dari gua?” Tanya gua gak percaya.

Ikha menganggukan kepalanya. Mukanya terlihat gak tega melihat penderitaan gua.

“Kenapa harus ngejek gua gitu?”

“Katanya sih, kalo lu diejek bakal kesel terus jauhin Vienny,” Ikha memainkan kedua telunjuknya.

“Gitu toh. Yaudah Kha. Makasih atas infonya,” Gua beranjak dari tempat duduk.

“Rivan,” Dia ikut berdiri.

Gua menoleh ke arahnya. Terlihat eksperesi mukanya yang ketakutan saat melihat gua.

Emangnya gua setan?

“Lu gak marah sama Vienny kan?”

Gua tersenyum dan berkata, “Gua gak bakal marah sama Vienny walaupun dia kayak gitu. Yaudah Kha, gua duluan!”

Gua pergi meninggalkan Ikha yang berada di taman belakang sendirian. Dari terakhir yang gua lihat, Ikha masih terlihat khawatir.

Jujur sih, gua gak seneng mengetahui apa yang terjadi sekarang. Tapi, gua juga gak bakal marah ama Vienny. Dari dulu kelakuanya kayak gitu, jadi maklum aja.

Di parkiran, gua melihat Nadila yang berjalan bolak-balik di parkiran. Dengan naluri cowok ganteng gua, gua menghampirinya.

“Nad.”

“Rivan,” Dia menoleh ke arah gua.

“Kenapa? Supir kamu ketiduran lagi?”

“Hehe. Iya kayaknya.”

“Yaudah yuk pulang bareng,” Ajak gua dengan halus.

“Duh, jadi ngerepotin.”

“Santai aja kali Nad.”

“Makasih ya.”

Kemudian gua mengantar Nadila ke rumahnya. Tanpa arahan lagi darinya, gua sudah bisa mengetahui jalan menuju rumahnya, dan sampailah kita di rumahnya.

“Makasih ya Van.”

“Iye,” Ucap gua sambil menyalakan kembali mesin motor.

“Rivan, minta line kamu dong,” Pintanya.

“Lah? Bukanya ada grup kelas?”

“Kan aku belum masuk. Hehehe.”

“Oh pantes,” gua mengambil handphone yang berada di saku celana. “ID kamu apa?”

“ID aku….” Nadila menyebutkan ID linenya.

“Nah sip. Udah gua invite ke grup kelas juga.”

“Makasih ya. Terus Van.”

“Kenapa?”

“Kalau kamu anter jemput aku, kamu keberatan gak?” Tanyanya malu-malu.

Sebenernya sih gua gak keberatan. Toh Vienny kayaknya gabakal minta dianter jemput lagi.

“Boleh kok.”

“Wah! Kalau gitu besok anter aku ya? Gak ngerepotin kan?”

“Enggak kok. Yaudah besok aku anter sama jemput. Kalau gitu, gua balik dulu ya. Takut dicariin mama.”

“Hati-hati ya. Jangan ngebut!”

Gua menjalankan motor gua dan langsung menuju ke rumah. Badan ini sudah capek, karena seharian berperang.

Sesampainya di rumah, gua langsung memasukkan motor ke halaman. Kemudian gua membuka pintu rumah.

Gua melihat sekeliling rumah, merasa ada yang janggal. Gua ke dapur untuk menemui ibu gua.

“Mah, kak Naomi dimana?”

“HAH!?” Ucapnya kaget.

“HAH!?” Gua ikutan kaget.

“Rivan! Kamu kalo pulang bilang-bilang!”

“Lah mama gak denger suara motor apa? Kak Naomi mana?”

“Balik ke kosnya lah, kan kuliah. Katanya sabtu dia kesini lagi.”

Gua hanya ber-oh ria mendengar penjelasan ibu gua. Sepertinya kak Naomi gak lupa dengan rencana malam minggu itu.

Gua pamit untuk ke atas karena udah capek. Sesampainya di lantai 2, gua memasuki kamar dan menjatuhkan tubuh gua di kasur kesayangan.

Gua ketiduran lagi.

[Glassy Sky]

Beberapa hari kemudian, gua mencoba ngetes apakah Vienny emang menjauh dari gua atau tidak. Kalau gua gak bertindak sih dia emang ngejauh. Ide jahil gua muncul, gua mencoba untuk mendekatinya dengan cara-cara yang tak terduga.

Contohnya, Vienny lagi ngerjain pr, gua nyelonong duduk disebelahnya dan mengganggunya. Alhasil dia pergi.

Masih belum puas, saat dia duduk di taman belakang sendirian gua iseng menutup matanya dengan kedua tangan gua dari belakang.

“Siapa hayo?”

Dia melepas kedua tangan gua dan menoleh kebelakang. Dia kaget dengan kedatangan gua lalu menampar kedua pipi gua dengan kedua tanganya. Alhasil gua terkapar di taman belakang.

Sepertinya niat dia untuk menjauh dari gua emang kuat. Gua memutuskan untuk tidak menganggunya lagi walaupun kenapa gua gak bisa menerimanya.

Pacarnya sendiri terlihat tengil. Dia kayak preman sekolah yang sok cool. Gua bingung kenapa Vienny suka ama dia. Yang gua denger dia udah pacaran beberapa kali.

Dan juga gua pernah liat dia jalan ama cewek lain. Gua berpikir positif aja, siapa tau itu kakak ato sepupunya.

Isirahat kali ini, gua berada di kantin. Kalau ditanya kenapa, karena Heza mentraktir gua dan Dino makan bakso. Katanya kalau gak ke kantin gak bakal ditraktir. Dengan hati yang berat gua akhirnya menerima ajakan itu.

Lumayan, jadi hemat.

“Bang, bakso 3 mangkuk sama minumnya es teh 3 juga!”

Heza memesan makan dan minum, sedangkan gua dan Dino duduk manis menunggu.

“Rivan, gua denger Vienny ngejauhin lu?” Tanya Heza yang baru datang sehabis memesan.

“Hmm,” Gua hanya berdehem pelan.

“Wah! Akhirnya Vienny sadar juga ya,” Ucap Dino.

“Maksud lu apa?”

“Kagak.”

Karena dari tadi kita ngobrol dari Vienny yang jauhin gua sampe kenapa celana dalem bentuknya segitiga, akhirnya pesanan kita datang.

“Makan bro! Mumpung gua traktir,” Ucap Heza bersemangat.

“Weis! Makasih ya Za,” Balas gua.

“Yoow! Thanks bro!” Dino membalas dengan alaynya.

Baru saja mau menikmati satu bakso bulat ini, tiba-tiba meja yang gua tempati digebrak sama seseorang entah siapa dia.

BRAK!

Gua reflek melihat pelaku penggebrakan meja. Gua melihat wajahnya, tapi gua gak kenal sama orang ini.

“Lu yang namanya Rivan?” Ucapnya menatap gua.

“Iya. Lu siapa?”

“Gua pacarnya Vienny.”

“Oh, Veranda.”

“FERNANDO!”

“Eits, beda dikit doang. Mau apa lu?”

Dia tersenyum lalu mencengkram kerah baju gua, “Jangan deket-deket Vienny! Lu kan udah diperingatin ama dia! Masih berani deketin lagi!”

“Lah, lu siapanya dia?”

“Pacarnya!”

“Oh iya!”

“Emangnya kenapa kalo gua deketin Vienny?” Tanya gua menantang.

“Oh, simpel aja,” Tiba-tiba dia mengambil mangkok bakso dan gelas es teh gua.

PRANG!

Gua menatap bakso dan es teh yang berceceran di lantai kantin ini. Dengan cepat, perhatian seisi kantin menuju ke arah jatuhnya mangkok dan gelas itu.

“Lu bakal bernasib sama kayak mangkok dan gelas barusan.”

Tanpa berpikir panjang gua langsung memukul bocah sialan ini.

BUK!

Pukulan mendarat di pipinya, membuat dia teriak kesakitan. Gua langsung mendorongnya ke dinding lalu mencengkram kerah bajunya dengan tangan kiri gua.

“Pertama, gua belom cobain 1 pun bakso atau nyeruput es tehnya.”

Gua memukul dinding tepat disebelah kanan kepalanya.

“Kedua, gua gak yakin lu anak baik-baik. Udah jatohin mangkok ama gelas itu, trus gua liat lu sering jalan sama cewek lain dengan mesra. Lu selingkuh sama Vienny?”

Dia tersenyum, “Kalau iya kenapa?”

Emosi gua bertambah dan kembali gua memukul dinding yang sama.

“Jangan mac-“

“BERHENTI!”

Teriakkan perempuan itu cukup keras sehingga seisi kantin memandang ke arah sumber suara.

Ternyata itu adalah Vienny yang baru saja datang ke kantin bersama Nadila dan Ikha di belakangnya.

Vienny berjalan ke arah gua dan melepaskan cengkraman gua ke Fernando. Dia menjauhkan jarak gua dari Fernando. Ada sedikit perbincangan antara Vienny dan Fernando. Kemudian Vienny datang dan menghadap gua.

“Rivan! Aku kecewa sama kamu!”

“Vin! Dia main dibelakang lu! Dia cuma mainin perasaan lu!”

“Cukup Van! Kamu gak tau apa-apa tentang dia! Dia itu pacar aku!”

“Tapi gua ngelakuin ini demi kebaikan lu!”

“Omong kosong!”

Plak!

Tamparan yang begitu keras yang membuat kacamata gua jatuh ke lantai. Walaupun sudah pernah ditampar berkali-kali, rasanya tamparan ini paling sakit.

“Aku gak mau ketemu ama kamu lagi dan jangan pernah sapa aku lagi dimanapun! Gak usah ikut campur urusan aku! Aku benci kamu!”

Gua mengambil kacamata yang tergeletak di lantai, kemudian memakainya. Gua menatap tajam wajah Vienny.

“Dengan senang hati.”

Gua pergi meninggalkan tempat itu. Semua orang melihat kepergian gua, dan sepertinya ada 2 orang yang mengejar gua dari belakang.

Saat di koridor, tangan gua ditarik dari belakang. Gua pun menoleh kearahnya, terlihat Ikha dan Nadila dengan raut muka sedih menatap gua.

“Rivan, maafin Vienny ya,” Ucap Ikha dengan nada pelan.

“Gua kan udah bilang Kha. Gua gabakal marah sama Vienny. Udah wajar kok kalau dia gitu,” Ucap gua sambil tersenyum.

“Tapi-“

“Udah, gua ke kelas dulu,” Gua melepaskan genggamannya dan berjalan menuju kelas.

Nadila ikut berjalan disamping gua sambil menunduk dan Ikha? Entah apa yang dia akan lakukan, bukan urusan gua.

Ah… Hari yang berat.

[Glassy Sky]

Semenjak insiden itu, lebih tepatnya 2 minggu yang lalu, gua mengikuti permainan Vienny. Dia suruh gua untuk menjauh dan tidak pernah lagi menyapanya, maka gua mematuhi perintahnya. Daripada gua dicap sebagai cowok brengsek.

Dan semenjak kejadian itu juga, Fernando dan Vienny makin deket. Mereka sering ke mall bareng, ke taman bermain, ke kebun binatang. Kenapa gua tau? Y-Ya namanya juga gua.

Tapi, dugaan gua yang tadinya positif menjadi negatif. Gua melihat Fernando berjalan berdua bersama seorang cewek dengan mesra. Gua pernah ikutin dari belakang, tiba-tiba Fernando mencium cewek itu. Gak mungkin kalau mereka saudara.

Rasanya gua ingin memukul Fernando karena selingkuh, tapi ya, apa kata. Gua gak ada hubungannya dengan ini. Vienny kan juga sudah menyuruh gua untuk gak campur urusan. Yaudah.

Nadila juga sikapnya berubah. Entah apa hubungannya, dia menjadi lebih peduli sama gua. Dari selalu sms dan telpon setiap malam, di sekolah dia selalu ngajak makan ke kantin atau bawa bekel untuk gua.

Untung hobi kita sama, sama-sama suka baca komik. Jadi kalau ngobrol gitu nyambung.

Siapa sih yang gak seneng dideketin sama cewek cantik?

Huehehehehe.

             Kalau Ikha ya, dia juga jadi baik sama gua. Mungkin rasa bersalah itu membuatnya kasihan sama gua. Dia juga terus meminta maaf atas kelakuannya Vienny. Dan berkali kali gua bilang sudah memaafkannya.

Ah iya, ingatkah kalian tentang perjanjian antara gua dan kak Naomi? Setiap malam minggu gua harus menemaninya berjalan. Atau bahasa mudahnya Kencan.

Saat gua tanya alasannya sih, dia menjawab biar gua gak canggung sama cewek. Tapi kalau gua tebak-tebak, dia ingin berjalan sama cowok seumuran. Karena pacarnya sudah putus, dia memilih gua.

Sial!

Bukannya gak seneng jalan ama cewek cantik. Tapi ya, duit gua setiap malam minggu berkurang banyak sekali. Gua yang kepengen beli game baru akhirnya harus menundanya. Tapi lumayan lah, jalan ama cewek cantik setiap malam minggu.

Dan pada hari ini, tepatnya malam minggu ini, gua bersama kak Naomi berada di suatu mall terkenal. Kita berada di toko baju.

Dari tadi kak Naomi kebingungan memilih baju. Mengangkat baju yang dipegang di tangan kanannya dan menaikan baju yang dipegang di tangan kirinya. Dahinya mengkerut dan menatap gua.

“Yang mana?”

“Gak dua-duanya.”

“Kenapa?”

“Itu baju kurang bahan banget. Cari yang tertutup dikit napa,” Balas gua kesal.

“Cih! Padahal seneng kan liat kayak gituan!” Dia menaruh kedua baju tersebut kembali ke tempatnya lalu menuju tempat baju lain.

Gua sebenernya udah capek dari tadi, tapi kalau gua ngeluh dia bakal nangis lagi. Cowok sejati mana yang biarin cewek cantik nangis. Lebay banget gua.

Setelah berdebat tentang baju yang kekurangan bahan itu, akhirnya kita keluar dari toko itu tanpa membeli apapun.

Perut yang mulai berbunyi ini menjadi tanda bahwa kita harus mengisinya. Lalu kak Naomi memutuskan untuk makan di restoran perancis.

Lagi-lagi gua gak ngerti dengan isi menu ini. Gua menyerahkan urusan makanan ke kak Naomi. Setelah memesan gua membuka handphone.

“Rivan, kamu masih berantem sama Vienny?”

“Hmmm,” Gua hanya berdehem sambil menatap layar handphone.

“Kamu sih.”

“Dia yang mulai duluan.”

“Jadi cowok gentle dong.”

“Pacarnya gak gentle. Masa main cewek dibelakang Vienny. Giliran dikasih tau malah nampar.”

“Terserah deh!”

Setelah beberapa lama, pesanan kami datang. Kita melahapnya dengan rakus. Setelah urusan perut selesai, kita memutuskan untuk pulang karena sudah malam.

Di perjalanan pulang, kak Naomi menyetir mobil sedangkan gua memandang jendela menikmati indahnya pemandangan kota saat malam.

Disaat melewati taman kota, gua melihat pasangan duduk di pinggir taman. Mereka pelukan dengan mesra. Sepertinya gua mengetahui siapa cowoknya.

Saat gua melihat lebih teliti, ternyata itu Fernando. Tapi cewek itu bukan Vienny. Bener kan, dia selingkuh.

“Kak, berhenti sebentar.”

“Eh, kenapa?”

“Itu pacarnya Vienny selingkuh,” Ucap gua sambil menunjuk keluar jendela mobil yang sudah dibuka.

“Yakin kamu itu pacarnya Vienny?” Tanyanya tidak percaya.

“Yakin lah. Bentar kak aku keluar dulu,” Ucap gua sambil keluar mobil.

“Eh? Jangan lama-lama!”

Gua mendekati pasangan tersebut dengan diam-diam. Gua bersembunyi dibalik pohon dekat mereka. Gua coba menguping apa yang mereka bicarakan sambil mengintip dikit.

“Sayang kamu cantik deh.”

“Kamu juga.”

“Aku juga cantik?”

“Ish! Enggak! Ganteng maksud aku,” Ucap cewek itu sambil memukul bahu cowok tersebut.

“Hihihihi.”

“Hihihihi.”

Mereka pun berpelukan layaknya teletabis.

Gua jijik liat pasangan sok mesra kayak gitu. Udah mukul-mukul trus dipeluk-peluk. Gua gak iri kok. Cuma dikit doang sih.

Sedari gua mengintip pasangan tersebut, gak sengaja gua melihat cewek mendekati mereka berdua. Gua sangat familiar dengan tubuh dan wajahnya.

“ITU VIENNY!” Batin gua.

            Mampus! Gua harus ngapain? Kalo mereka ketemu, Vienny bakal ngamuk.

Dari tadi gua mikir dan baru sadar kalo Vienny udah didekat pasangan itu.

Drama pun dimulai.

Gua lihat Vienny membentak Fernando. Fernando mencoba menggenggam tangan Vienny tapi ditepis. Lalu Vienny membentak cewek disebelah Fernando juga.

“Kamu jahat Fer! Katanya kamu setia!”

“Aku bisa jelasin Vin!”

“Cowok brengsek!”

Plak!

            Beh! Ditampar sama Vienny! Enak kan?

Fernando tiba-tiba mencengkram lengan kanan Vienny. Dia tampak kesal. Vienny malah ketakutan. Sedangkan perempuan disebelahnya malah main handphone.

“Berani-beraninya lu!”

“S-Sakit,” Vienny mengerang kesakitan.

“Cewek murahan! Gua mana suka sama lu! Gua Cuma ngincer kepopuleran lu! Makan nih!” Fernando mengambil posisi menampar.

Entah ada apa dengan gua, gua berlari ke arah mereka dengan perasaan kesal. Sebelum menampar Vienny, gua udah menahan tangan Fernando.

Fernando kaget, begitu juga dengan kedua cewek ini. Gua melepaskan cengkraman tangan Vienny dan menyuruhnya kebelakang.

“Ngapain lu kesini!? Gausah ikut campur urusan orang lain!”

Gua tersenyum kecil dan menatap tajam wajah Fernando. Dia mulai bingung dan takut.

“Lu nyentuh Vienny lagi, gua jamin lu gak bisa lihat hari esok!”

Fernando tampak mundur. Sepertinya ancaman gua berhasil. Didukung dengan faktor muka yang lumayan serem ini.

“Cih! Ayo sayang, kita pergi!” Ucap Fernando sambil menarik tangan selingkuhnnya dan meninggalkan kita.

“Gitu doang takut lu!”

Setelah keadaan aman, gua menoleh kebelakang. Vienny tampak takut dan menangis. Gak tega, gua mencoba mengelus kepalanya.

“Udah tenang aja. Ada gua,” Ucap gua sok cool.

Dia masih menangis dan dilanjutkan dengan memeluk gua. Gua gak membalas pelukannya, gua masih mengusap kepalanya itu.

5 menit kemudian, gua mengajaknya untuk pulang naik mobil bersama kak Naomi. Dia gak membalas apa-apa. Gua pun langsung menarik tangannya dan berjalan menghampiri mobil.

Gua suruh dia duduk dibelakang sedangkan gua duduk didepan. Baru saja dia duduk, dia memegang lengan gua sambil menundukkan kepalanya.

Gua mengerti maksudnya, gua ikut duduk dibelakang bersama Vienny. Kak Naomi tidak berkomentar apapun. Dia menjalankan mobilnya pulang.

Setelah sampai, gua membangunkan Vienny yang ketiduran di pundak gua. Tapi, sepertinya dia ngantuk berat.

“Kak, masuk duluan aja. Aku gendong Vienny ke kamarnya dulu,” Ucap gua seraya menggendong tubuh Vienny keluar dari mobil.

Kak Naomi mengangguk paham, kemudian dia memasukan mobilnya ke halaman rumah gua.

Terlihat ibunya Vienny keluar rumahnya dan membukakan pagar. Tanpa sempat bertanya, gua langsung menjelaskan kejadian tadi. Lalu dia meminta gua untuk mengantarnya ke kamar.

Sesampai di kamarnya, gua menaruh badan yang lumayan berat ini ke kasurnya. Gua melihat wajahnya yang cantik. Gua mengelus kembali kepalanya, lalu berjalan keluar kamar.

“Tunggu,” Vienny memegang tangan kiri gua.

Dia duduk di pinggir kasur, gua berinisiatif duduk disebelahnya. Dia masih menundukkan kepalanya. Mungkin dia merasa bersalah.

“Rivan.”

“Ya?”

“Maafin Inyi.”

Gua tersenyum, kemudian gua elus lagi kepalanya.

“Gapapa kok.”

“Inyi jahat banget sampe nampar kamu. Inyi harusnya percaya kata kamu.”

“Udah.. Gak usah dipikirin lagi. Mending sekarang kamu tidur.”

Dia memeluk gua, gua pun kaget. Gua mulai salah tingkah.

“Makasih ya Van.”

Dia melepaskan pelukannya kemudian tersenyum manis ke arah gua.

“Sekarang tidur. Besok masih sekolah.”

“Iya~” Ucapnya lucu.

Dia merebahkan badannya di kasur kemudian menutupnya dengan selimut. Gua bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamar.

“Selamat malam. Mimpi indah.”

Ceklek.

[Glassy Sky]

            “Jadi kamu udah baikan ama Vienny?”

“Ya gitu deh. Abis nolongin dia deket gua gitu,” Gua berdehem pelan.

“Cie-cie. Dideketin Vienny lagi,” Ucapnya menggoda gua.

“Padahal kan gua mau deketin lu Nad,” Gua menoleh ke arahnya.

“Eh? Kenapa?”

“Kan gua cinta lu,” Ucap gua bercanda

“E-Eh!? K-Kamu bohong kan?” Ucapnya gugup.

Gua tertawa melihat ekspresinya yang menjadi gugup. “Hahahaha! Bercanda kok.”

Dia tertunduk lesu setelah mendengar ucapan gua. Sedangkan gua kebingungan melihat tingkahnya.

“Eh Van! Ini udah jam isitirahat. Kamu gak ke kantin? Aku lupa bawa bekel,” Ucapnya tiba-tiba sambil mengangkat kepalanya.

“Gua masih kenyang. Lu kalo mau ke kantin duluan aja Nad,” Balas gua.

“Yaudah deh,” Dia beranjak dari tempat duduknya. “ Duluan ya.” Dia pergi keluar kelas sambil melambaikan tangannya ke gua.

Gua melihat kepergian Nadila itu lalu mengalihkan pandangan ke tempat duduk bagian depan. Terlihat ada seorang perempuan duduk sendiri sambil melamun.

Gua berinisiatif menghampirinya kemudian duduk disebelahnya tanpa menunggu izin. Setelah duduk, gua pandangi wajahnya kemudian mulai memanggilnya.

“Vienny.”

Tanpa jawaban apapun, dia langsung menadahkan kepalanya di pundak gua. Gua sontak kaget. Gua mencoba mengendalikan diri agar gak khilaf.

Setelah selesai mengendalikan diri gua mencoba mengelus kepalanya dengan lembut. Gua lirik sedikit wajahnya, dia tersenyum indah.

Tiba-tiba aura kelas berubah menjadi mencekam. Gua coba melihat seisi kelas dan terlihat sekumpulan orang dipojok melihat gua dengan tatapan tajam. Sepertinya mereka anggota fans clubnya Vienny.

Gua menang banyak.

Tentang Fernando, dia sudah pindah sekolah. Entah kenapa, semenjak insiden itu, kemarin saat di sekolah, banyak orang yang gak suka dengan  kehadiran Fernando dan banyak juga yang berantem dengannya.

Mungkin dia pindah karena gak tahan dengan ancaman di sekolah. Kepergian Fernando didukungi oleh gerakan #SelamatkanVienny yang dibuat oleh anggota fans club Vienny.

Sepertinya mereka tahu tentang insiden Vienny diancam dan membuat anggota fans club Vienny mengeluarkan Fernando dari sekolah.

Dan sekarang sudah waktunya pulang sekolah. Seperti dulu, gua mengantar Vienny ke rumahnya. Kontrak dengan Nadila dibatalkan olehnya dengan alasan tertentu.

Mungkin melihat kedekatan gua dengan Vienny membuat dia cemburu. Ya kali, gua dicemburuin.

Sesampainya di rumah, Vienny turun dari jok motor gua. Dia tidak langsung masuk rumah melainkan diam mematung didepan gua.

“Kenapa?” Tanya gua.

“I-Itu,” Ucapnya terbata-bata.

“Itu kenapa?”

“Nanti malem ada acara?”

“Enggak.”

“M-Mau jalan gak? M-Mumpung besok libur,” Dia menundukan kepalanya.

“B-Boleh sih,” Gua kenapa ikutan gugup.

“J-Jam 7 Nanti k-kamu anter ya. Dah!” Dia langsung masuk ke rumahnya dengan cepat.

Gua gak ambil pusing. Gua memasukan motor ke halaman lalu masuk ke dalam rumah.

Di ruang tengah, kak Naomi sedang menonton drama korea. Dia menyadari kedatangan gua dan menolehkan kepalanya ke gua.

“Rivan, nanti malem jalan yuk!”

“Gak bisa,” Gua berjalan menuju dapur.

“Loh? Kamu ada acara emang? Biasanya juga tidur mulu,” Kak Naomi muncul dari belakang.

“Diajakin jalan sama Vienny,” Gua mengambil gelas lalu mengisinya dengan air.

“Wah! Kalian udah baikan?”

“Hmmm,” Gua berdehem sambil meminum

“Yaudah deh. Kakak ngalah aja. Baik-baik ya kalian!” Ucapnya sambil memasuki kamar dia.

Gua berjalan menuju ruang tengah hendak menaruh kunci motor yang terbawa. Gua melihat TV yang masih menyala.

“TV-nya dimatiin napa kak!”

“Lupa!” Teriaknya dari kamar tapi kedengeran sampai keluar.

Gua memutuskan untuk duduk dan menonton acara di TV. Tetapi kantuk gua mulai menyerang dan gua gak bisa menahannya.

Gua ketiduran lagi.

Malam akhirnya tiba, gua yang baru bangun langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari keringat hari ini.

Sedang asik melakukan ritual, tiba-tiba pintu kamar mandi gua digedor.

“Rivan! Cepetan!”

“Baru gek masuk kak!”

“Vienny nungguin didepan noh!”

Hah?

Mampus! Gua baru inget kalo ada janji ama Vienny.

“Emang sekarang jam berapa?” Tanya gua sedikit teriak.

“Jam 8! Cepetan napa! Kasian itu!”

Gua langsung mandi secepat kilat dengan perlakuan seadanya. Gua keluar kamar mandi dan langsung menuju kamar untuk ganti baju.

Beberapa menit kemudian gua keluar kamar dengan pakaian yang rapih, rambut acak-acak, dan sedikit wangi parfum yang tadi gua semprotkan.

Gua panik dan langsung berlari keluar rumah untuk menemui Vienny. Biasanya kalo gua telat 1 menit aja dia ngamuk-ngamuk. Akhirnya gua meredamkan amarah itu dengan membelikan buku yang dia mau.

“Sorry Vin. Tadi ketiduran,” Ucap gua yang sudah keluar rumah dan melihat Vienny.

Dia menoleh kearah gua sambil tersenyum. “Yaudah gapapa. Ayok!” Dia beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan keluar pagar.

Gua bingung melihat sikapnya yang biasa-biasa saja. Gua masih diam mematung menatapnya.

Merasa bahwa gua gak diikuti, dia menoleh kebelakang. “Ngapain? Nanti kalau lama-lama pulangnya kemaleman loh.”

“I-Iya,” Gua pun mengikutinya.

“Naik apa?” Lanjut gua.

“Motor aja.”

“Yaudah,” Ucap gua seraya mengeluarkan motor di halaman. Untung saja tadi gua bawa kunci motor langsung.

Setelah mengeluarkan  motor, Vienny langsung menaiki jok belakang.

“Helmnya Vin.”

Dia menurut tanpa bantahan satu pun. Dia turun dari motor, memasuki halaman rumah dan mengambil 2 helm kemudian kembali ke tempat gua.

“Nih,” Dia menyodorkan helm hitam.

“Makasih,” Gua menerima helm tersebut

“Sama-sama,” Dia tersenyum lalu menaiki jok belakang.

Tanpa basa-basi lagi, gua menjalankan motor menuju tempat yang biasa kami kunjungi yaitu mall besar di tengah kota.

Setelah sampai, gua langsung memarkirkan motor kemudian masuk ke mall.

“Kamu udah makan Van?”

“Belum.”

“Yaudah makan dulu yuk!” Dia menarik tangan gua.

Gua hanya bia pasrah mengikuti kemauan dia. Semoga aja bukan restoran yang aneh-aneh lagi.

Kita sampai di restoran Jepang, dan Vienny masih memegang tangan gua dan memasuki restoran tersebut.

Kita duduk berhadapan lalu pelayan datang untuk menanyakan menu.

“Paket spesial satu,” Gua menoleh ke arah Vienny. “Lu apa?”

“Samain aja. Hehe,” Ucapnya sambil tertawa.

“Yaudah mba. Paket spesial satunya pesen dua.”

Pelayan tersebut mengangguk dan pergi meninggalkan kita berdua.

“Gua kira lu gak suka makanan jepang.”

“Coba-coba aja sih.”

“Yaudah.”

Setelah beberapa saat, ada pelayan lain membawakan makanan pesanan kami. Setelah ditaruh, kami langsung menyantap makanan tersebut.

Gua melihat Vienny yang makan sambil tersenyum-senyum. Gua rasa dia suka makanan disini.

“Enak Vin?”

Dia menoleh kaget ke arah gua. “E-Eh, I-Iya. Enak banget.”

“Makan yang kenyang,” Gua menatapnya dengan tatapan mesum.

Sedangkan dia terlihat salah tingkah.

Setelah kenyang makan, gua memutuskan untuk menonton film. Untung saja masih ada beberapa yang diputar malam ini.

“Gua mau nonton ini,” Ucap gua sambil menunjuk salah satu poster.

“Yaudah aku ikut aja.”

Gua menatap Vienny dengan tatapan tidak percaya. Gua gak nyangka dia bisa nurut gini. Biasanya juga kan dia gak satu suara sama gua.

Gua langsung memesan tiket dan snack untuk nanti nonton. Filmnya diputar 5 menit lagi, jadi kami bergegas masuk teater yang tertera dalam tiket.

Gua menikmati film tersebut. Dari segi cerita maupun visual memang film itu bagus.

Gua menoleh ke arah Vienny. Dia menonton film tersebut dengan muka kebingungan. Mungkin dia gak suka dengan film ini.

“Pffft,” Gua tertawa pelan.

“Eh? Kenapa Van?” Dia menoleh kearah gua.

“Gapapa. Muka kamu lucu aja,” Gua mengelus pipinya yang lembut.

Mukanya terlihat memerah dan langsung menundukkan kepalanya. Gua yang tersadar langsung melepas tangan dari pipinya.

Kita menonton dengan keadaan canggung.

Setelah menonton, kita keluar bioskop dengan niat ke toko buku. Tapi gua lihat Vienny yang mulai ngantuk soalnya tadi dia menguap.

“Lu ngantuk Vin?”

“E-Enggak kok.”

“Pulang aja yuk. Gua ngantuk.”

“Yaudah,” Ucapnya lemas.

Kita langsung menuju parkiran tempat dimana motor gua diparkir. Setelah bersiap, gua langsung menjalankan motor menuju rumah.

Sesampainya didepan rumah, Vienny turun dari motor gua dan memberi helm yang tadi ia kenakan.

“Makasih ya Van, mau nemenin malam ini.”

“Sama-sama.”

“Aku seneng banget,” Ucapnya sambil memegang tangan gua dan menatap mata gua.

Gua terdiam cengo. Gak biasanya juga Vienny habis jalan kayak gini.

“A-Aku masuk duluan ya. Selamat malam,” Ucapnya seraya masuk ke dalam rumah.

“Met tidur Vin.”

Gua memasukkan motor ke halaman rumah. Setelah itu, gua memasuki rumah dan melihat kak Naomi sedang bermain handphone di sofa.

“Sukses Van?” Ucapnya sambil bermain handphone.

“Sukses apaan?”

“Itu, kencannya,” Dia menatap mata gua sambil menggoda.

“Biasa aja,” Ucap gua gak peduli.

“Ih kamu ya. Eh, ada telpon… H-Halo?” Kak Naomi langsung beranjak dari sofa dan keluar rumah.

Gua tersenyum. Karena sepertinya kak Naomi berbicara sama cowok lewat telpon itu. Gua yang gak mau menganggunya langsung masuk ke kamar dan tidur.

Malam yang indah.

[Glassy Sky]

Jam 9 lewat 45 menit pagi, gua berada di dapur hendak bersiap untuk sarapan setelah mandi. Gua duduk di kursi meja makan sambil bermain handphone. Sedangkan kak Naomi dan ibu gua memasak nasi goreng.

Kenapa gua gak sekolah?

Karena hari ini libur nasional. Jadi gua memanfaatkan libur ini dengan bangun siang. Indahnya bangun siang.

Tiba-tiba saja ada chat masuk dari seseorang yang gua kenal.

Nadila : Nanti siang ada acara gak?

Rivan : Enggak. Kenapa?

Nadila : Jam 10 ke taman kota ya. Ditunggu.

Rivan : Gak dijemput?

Nadila : Gak usah. Sampai ketemu ya~

Gua menerima ajakannya karena emang gaada kerjaan. Daripada gabut di rumah kan bisa cuci mata.

Kak Naomi dan ibu gua datang dengan 3 piring nasi goreng yang harumnya mantap jiwa.

Buat kalian yang bingung dimana ayah gua dari awal ceirta, lagi ada urusan di luar kota selama 3 bulan. Jadi ya, dia gak pulang untuk sementara waktu.

Setelah menyantap nasi goreng buatan duo mak ini, gua langsung beranjak dari tempat duduk untuk pergi ke kamar dan ganti baju.

Merasa ganteng, gua turun ke lantai 1 dan melihat kak Naomi dan ibu gua sedang menonton drama korea di TV.

“Mau kemana sayang?” Tanya ibu gua sambil menoleh.

“Ke taman kota,” Gua masih berjalan cuek.

“Mau ngapain kamu? Pacaran ama Vienny lagi?” Sekarang kak Naomi yang bertanya.

“Bukan. Lagian gua juga gak pacaran ama Vienny.”

“Awas kamu buat Vienny sedih.”

Gua tiba-tiba terdiam mendengar perkataan kak Naomi. Dia berjalan dan menghadap ke arah gua. Sedangkan gua tersenyum melihat wajahnya yang jutek.

“Tenang aja kak. Gak bakal gua biarin Vienny sedih.”

“Kakak pegang janji kamu,” Dia tersenyum.

Gua pun pamit kepada mereka berdua. Gua memutuskan pergi ke taman kota sambil jalan kaki. Itung-itung olahraga ditambah jaraknya gak begitu jauh.

Sesampainya di taman, gua langsung mencari Nadila. Gua gak berniat chat dia karena bakal ribet ngeluarin handphone.

Sebenernya ketinggalan di rumah.

Selama 3 menit gua mencari, gua melihat sesosok perempuan mirip seperti Nadila duduk di tengah kursi taman. Gua langsung menghampirinya.

“Nad,” Panggil gua ramah dari belakang.

Dia menoleh ke arah gua. Untung benar itu Nadila. Mukanya serius sekali kayak pengen mukul seseorang. Kemudian dia berdiri dan menatap gua. “Aku mau ngomong.”

“Ngomong aja.”

“Aku suka sama kamu dan aku mau kamu jadi pacar aku,” Ucapny

Eh?

Gua ditembak? Pertama kali ada cewek yang nyatain perasaan ke gua loh.

Gua mencoba mengendalikan diri dan bersikap cool. “A-Apa yang lu suka dari gua?”

“Sifat kamu.”

Sifat gua yang mesum?

“C-Contohnya?”

“Pas kamu hadang bola basket yang melaju ke arah aku.”

Hah?

Gitu doang?

Soal kejadian itu, ya pernah terjadi lah. Dia lagi jalan di koridor sekolah, dan sebelah koridor itu lapangan. Gak sengaja ada anak yang main basket ngelempar bolanya ke koridor dan itu pas ke arah Nadila.

Gua yang gak jauh darinya reflek berlari ke arahnya dan membuang bola itu ke lapangan. Saat gua lihat Nadila, dia jatuh karena syok. Gua coba bantu dia berdiri dan mengantar ke kelasnya.

“Yang lain?” Tanya gua lagi.

“Pas kamu berantem ama anak kelas lain yang lagi goda aku.”

Kalau yang itu, pas itu gua lagi ke taman belakang karena di kelas suntuk banget. Gak sengaja gua liat 3 orang yang mojokin Nadila di sudut taman.

Nadila tampak ketakutan, langsung gua deketin mereka. Tanpa basa-basi gua hajar 3 orang yang goda Nadila.

Setelah di hajar, gua malah panik. Gua mencoba meminta maaf, tapi mereka yang meminta maaf dan bilang gak bakal ganggu Nadila lagi. Mereka lari terbirit-birit meninggalkan kita berdua.

“A-Ada lagi?”

“Banyak. Mau aku sebutin satu-satu?”

Banyak? Perasaan gua, sifat gua biasa-biasa aja.

“Oke Gausah.”

Dia menatap gua seakan menunggu jawaban dari gua.

Jujur sih, gua seneng ada cewek yang nyatain perasaannya kayak gini. Sebenernya gua pengen terima perasaannya. Tapi mulut gua gak bisa mengucapkan itu.

“Gimana Van? Kamu terima gak?

Gua gelagapan. Gua merasa pengen bunuh diri dan kabur dari kenyataan ini.

Hup!

            Tiba-tiba Nadila memeluk gua dengan erat.

“Aku gak bisa mendem perasaan ini lagi Van.”

Gua mencoba membalas pelukannya. Kemudian gua mengelus kepalanya dengan lembut.

Tiba-tiba terbesit di pikiran gua tentang seseorang.

Vienny.

Saat itu, dia juga memeluk gua dengan erat di taman ini. Entah kenapa perasaan saat itu sangat nyaman dibandingkan sekarang.

Gua menghentikan elusan di kepalanya dan mencoba melepaskan pelukan darinya kemudian memegang kedua bahunya.

“Nad gua-“

“R-Rivan?” Ucap seseorang dari belakang gua.

Seketika gua dan Nadila menoleh dan melihat sosok tersebut.

“Vienny!?”

“M-Maaf ganggu,” Dia berlari meninggalkan gua dan Nadila dengan wajah sedih.

Gua langsung melepas pegangan di pundak Nadila dan mengejar Vienny. Sayangnya, tangan gua ditahan.

“Tunggu! Jawaban kamu apa?”

“Cih! Lepas! Nanti gua kasih tau!” Ucap gua kesal sambil melepas paksa pegangan tangannya.

Dia terlihat kaget saat gua melepaskan genggaman tangannya dengan paksa. Gua gak peduli, gua langsung kejer Vienny.

Sial!

Vienny sudah masuk taksi dan taksinya sudah pergi.

“AH! SIALAN!”

Gua kesal. Gua marah.

Tapi gua gak tau kenapa. Kenapa ada perasaan ini di hati gua.

Tanpa berpikir panjang gua pulang dengan angkot yang baru saja lewat.

Gua turun di dekat rumah. Gua gak langsung pulang melainkan mampir ke rumah Vienny. Gua berharap dia sudah pulang.

Baru saja di depan pagar rumahnya, gua melihat ibunya Vienny sedang menyapu halaman rumah.

“Permisi tante, Vienny udah pulang?”

“Eh, Rivan. Udah pulang kok. Tapi dia nangis gitu pas pulang. Mau tante panggil kamu tadi.”

“Saya boleh liat gak Vienny-nya?”

“Boleh-boleh. Ayo masuk.”

Ibunya Vienny mempersilahkan gua masuk. Setelah masuk rumah, Gua langsung menuju ke depan kamar Vienny.

Terdengar samar suara tangis dari dalam. Gua merasa sakit hati. Gua menyesal.

“Vin. Ini gua,” Panggil gua sambil mengetok pintu.

Tidak ada respon yang diberikan Vienny.

“Gua… Minta maaf ya.”

Terdengar suara hentakan di pintu. Gua kira dia bakal buka pintunya tapi enggak.

“Kamu gak salah Van,” Ucapnya pelan tapi masih terdengar.

“Boleh gua masuk?”

Tidak ada respon selama beberapa menit gua pun mencoba memanggilnya lagi. “Vin?”

“U-Untuk sekarang, biarin aku sendiri dulu.”

Gua hanya bisa pasrah mendengar balasannya. “Yaudah. Gua pulang ya. Maaf sekali lagi.”

Tidak ada respon dari Vienny. Gua mencoba pergi menjauh dari kamarnya walau terasa sangat berat.

Gua pamit ke ibunya Vienny dan tidak langsung pulang ke rumah, tapi ke rumah Heza. Di perjalanan, di pikiran gua masih terngiang tentang Vienny.

Kelamaan berpikir, akhirnya gua sampai didepan rumah Heza.

“Eh Rivan! Kenapa?” Panggil Heza karena melihat gua sudah ada didepan rumahnya.

Gua gak merespon panggilannya. Gua memasang muka serius. Dia yang melihat muka gua, langsung menawarkan duduk di teras rumahnya dan menyuruh gua menceritakan apa yang terjadi.

“Jadi gitu,” Ucapnya sambil menopang dagu di tanganya.

“Kurang lebih begitu.”

“Jadi, lu sayang sama Vienny?” Dia pun menoleh ke gua.

“Gua nganggep dia kayak adek. Pastinya gua sayang dia.”

“Tapi, mungkin perasaan lu sekarang gak kayak dulu,” Dia memegang pundak kanan gua. “Cinta itu bakal berkembang seiring berjalannya waktu.”

“Maksud lu?”

“Coba gua tanya, Perasaan lu pas Fernando pacaran ama Vienny gimana?”

Gua mencoba mencerna ucapannya. Memang rasanya sakit saat melihat Vienny mencintai seseorang selain gua. Gua menundukkan kepala gua dan memegang dada gua yang sakit.

“Kenapa lu selalu ngikutin Vienny sama Fernando pas mereka pacaran?”

“Hah!? M-Maksud lu apaan?”

“Gausah boong Van,” Dia mengeluarkan handphone-nya dan menunjukan gambar-gambar di galeri. “Setiap Fernando jalan ama Vienny, pasti lu selalu ngikutin kan.”

Gua terdiam melihat gambar yang ditunjukkan Heza

“Liat noh, setiap gambar mereka pacaran pasti ada elu nyempil,” Ucapnya menunjuk salah satu orang yang nyempil di setiap gambar.

Ya, harus gua akui. Setiap mereka jalan, hati gua gak tenang. Gua mengikutinya untuk memastikan apakah Vienny baik-baik saja.

Heza menaruh handphone-nya di meja kemudian menatap gua. “Jujur ama perasaan lu sendiri Van. Lu sebenernya cinta ama Vienny kan?”

“J-Jadi ini yang namanya cinta?”

Dia mengangguk sambil tersenyum.

“Gua harus apa Za?”

“Lu harus lakuin apa yang seharusnya lu lakuin.”

Gua langsung mendapat apa yang dia katakan. Gua beranjak dari duduk gua dan menatap langit.

“Thanks Za. Lu emang sahabat gua yang hebat,” Gua menoleh kearahnya.

“Anytime Rivan,” Dia tersenyum mantap.

“Gua tau apa yang harus gua lakuin. Gua pamit dulu ya. Makasih sekali lagi!” Ucap gua sambil pergi meninggalkan Heza.

“Semoga beruntung.”

[Glassy Sky]

Tok Tok Tok

Gua mengetuk pintu kayu yang lumayan besar. Saat ini gua berada didepan rumah Nadila. Gua mau menyelesaikan masalah gua tadi.

Ceklek

Terlihat perempuan berkacamata dengan rambut pendek membukakan pintu kayu tersebut dan menatap gua dengan takut.

“K-Kenapa Van?”

“Huft,” Gua menghela nafas dan mengumpulkan keberanian gua. “Gua mau ngomong sesuatu.”

“Aku juga mau ngomong,” Ucapnya sambil memegang pintu kayu.

“Gua min-“

“Aku minta maaf!” Ucapnya lantang.

“Eh?”

“A-Aku tau, aku terlalu lancang buat nyatain perasaan ke kamu. Aku cuma orang luar yang masuk ke dalam hidup kamu. Aku bikin orang yang kamu sayang sedih. Maafin aku!”

Gua tersenyum mendengar perkataannya. “Gua juga minta maaf, karena gua kasar sama lu. Dan maaf lagi, gua gak bisa bales perasaan lu.”

Dia tertunduk lesu setelah mendengar ucapan gua. “B-Boleh minta peluk?” Ucapnya malu-malu.

Tanpa basa-basi gua langsung memeluknya. Pelukan yang sangat erat dan nyaman. Tapi tak senyaman pelukan gua dengan Vienny.

“Terimakasih.” Ucapnya pelan.

“Sama-sama.”

Gua melepaskan pelukannya dan mengelus kepalanya.

“Jadi, sekarang kamu mau ngapain?” Ucapnya.

“Lakuin apa yang harus gua lakuin.”

“Begitu, yaudah. Semoga beruntung Van.”

“Makasih. Gua pamit dulu ya,” Ucap gua sambil melepaskan elusannya.

Gua kemudian meninggalkan Nadila sendirian didepan rumahnya. Yang terakhir gua lihat, dia tampak tersenyum terpaksa.

Gua berlari sambil melihat kearah jam tangan gua.

Jam 2 siang.

Lama juga gua jalan-jalannya tadi.

Gua langsung menuju ke tempat yang spesial. Rumah Vienny.

Sesampainya di rumah Vienny gua melihat ibunya kebingungan di depan rumah.

“Kenapa tante?” Tanya gua sopan.

“Eh. Rivan lagi. Itu Vienny tiba-tiba pergi gak ngasih tau kemana. Kamu mau bantu cariin gak?”

Gua sontak kaget mendengar ucapannya. “Y-Yaudah tante. Saya cari dulu Vienny-nya. Pamit dulu ya.”

“Makasih ya Rivan.”

Gua mengambil motor dari halaman, dan sialnya kuncinya kan didalem rumah. Gua masuk rumah dan mengambil kunci motor.

“Mau kemana Van?” Tanya kak Naomi yang tiba-tiba muncul.

“Menyelamatkan negara. Udah! Gua mau pergi dulu! Dah!” Gua langsung menjalankan motor.

“EH! JANGAN NGEBUT!” Teriak kak Naomi dari halaman yang masih terdengar.

Gua berjalan tanpa arah tujuan. Berharap Vienny tiba-tiba muncul didekat gua.

“Vienny, kamu dimana?”

[Glassy Sky]

            Jam 5 lewat 15 menit.

Gua masih belum menemukan Vienny. Gua mencari diseluruh tempat yang biasanya Vienny kunjungi.

Bahkan, mall yang sering dia kunjungi gua puter sampe 10 kali. Tapi dia masih gak ketemu.

Ada 1 tempat lagi. Tapi itu bukan tempat favoritnya, tapi tak ada salahnya mencoba.

Gua mencoba menuju kesana dengan motor gua yang bensinnya tinggal sedikit. Tempat itu bisa dibilang “Bukit Ujung”.

Kenapa dinamakan Bukit Ujung? Karena itu bukit yang berada di ujung kota. Simpel kan?

Dulu pas smp gua pernah kesana 1 kali sama Vienny. Kala itu, dia sedih karena dimarahi orang tuanya karena nilainya anjlok. Gua menghiburnya dengan cara mengajak kesana dan menonton matahari terbenam.

Ya, setelah itu gua dimarahin karena pulangnya malem. Tapi dia terlihat senang waktu itu.

Setelah sampai, gua coba memarkirkan motor di tempat yang lumayan ramai. Gua mencari-cari Vienny, tapi yang gua lihat malah kebanyakan orang pacaran.

Gua coba cari ditempat dulu kita pernah datangi. Saat disana, gua lihat perempuan nan cantik walau hanya tampak dari belakang sedang duduk dipinggiran jurang.

Gua menghampirinya dengan nafas yang masih belum teratur.

“Vin,” Gua menepuk pundaknya.

“Eh copot!”

Dia kaget dan langsung menoleh kebelakang. Untung aja itu Vienny. Kalau salah orang berabe.

“Ih Rivan! Kaget tau!”

“Sorry-sorry,” Ucap gua sambil duduk disebelahnya.

Dia pun langsung menyenderkan badannya ke gua. Gua yang melihat tingkah itu langsung mengelus kepalanya.

“Nunggu dari kapan?” Tanya gua.

“Jam 2.”

“Wah! Gak bosen?”

“Enggak dong! Pemandangannya bagus kok. Gak kerasa aja udah 3 jam lebih disini.”

Gua menoleh kearahnya, dia tampak tersenyum manis.

“Rivan.”

“Hmm?”

“Kamu tau gak kenapa aku disini?”

“Kenapa?”

“Karena waktu dulu pas kita disini, saat kamu nyemangatin aku, aku merasa bahwa aku bersama orang yang tepat, aku ngerasa aku bakal dilindungin.”

Gua gak merespon perkataannya dan masih mengelus kepalanya.

“Maafin Inyi ya waktu itu nampar kamu. Inyi nyesel.”

Gua tersenyum melihat mukanya yang indah itu. Jantung gua berdebar dengan kencang.

“Vienny,” Ucap gua dengan serius.

“Ya?” Dia menoleh ke arah gua.

“G-Gua mau ngomong serius.”

Dia menganggukan kepalanya dua kali dengan mulutnya yang ditutup rapat.

“G-Gua pengen lu selalu disamping gua, gua pengen ngelindungin lu, gua pengen lu bahagia bersama gua.”

Aduh, Cringe banget.

            Tidak ada jawaban darinya. Yang ada malahan dia tertawa pelan.

“Pffft. Hahahaha! Sok romantis banget sih!”

“Hahaha….” Tawa gua dengan ekspresi datar.

“Aku seneng loh. Kamu ngomong gitu.”

“J-Jadi?”

Dia malah memejamkan matanya dan mendekatkan mukanya ke gua.

Gua yang mengerti dengan perbuatannya, dengan sigap gua…… Menyentil keningnya.

Cletak!

            “Aw! Sakit Van!” Ucapnya sambil mengelus keningnya.

“Cium-cium. Masih sekolah lu!”

“Ih! Gak romantis banget.”

“Jadi gimana Ratu?”

Dia tersenyum kemudian menatap langit sore. “Aku gak mau jadi pacar kamu.”

“E-Eh?”

Kemudian dia mengahadap gua sambil menaruh jari telunjuk ke bibir gua.

“Biarkan langit ini menjadi saksi. Bahwa kita akan selalu bersama.”

“G-Gua gak ngerti.” Ucap gua sambil melepaskan jari telunjuk di bibir gua.

Dia tersenyum manis. “Aku gak mau pacaran. Nanti kalau pacaran putus, hubungan kita bakal gak baik.”

Gua menatapnya tidak percaya. Bisa-bisanya Vienny ngomong gini.

“Biarkan langit ini menjasi saksi bahwa kamu akan selalu disisiku,” Dia memeluk gua.

“Gua gak bilang janji.”

“Kalau kamu sudah siap, kamu harus lakukan apa yang kamu lakukan ya?” Dia merenggangkan pelukannya dan menatap gua.

“Lihat saja nanti,” Ucap gua sambil tersenyum.

Dia kembali memeluk gua dan gua juga memeluknya. Pelukannya yang sangat erat seakan gua gak mau melepaskannya.

Romantis sekali (baca: cringe)

[Glassy Sky]

Dan disinilah gua, di kamar kesayangan. Sekarang sudah jam 6 pagi dan gua masih tiduran dengan posisi enak.

“RIVAN! BANGUN!” Ucap seseorang perempuan sambil menarik selimut gua.

“Aaah! Gua masih ngantuk!”

“Udah jam 6! Kamu kan sekolah! Bangun!” Dia memukul badan gua.

“Iye-iye Vin. Santai aja,” Ucap gua sambil mengambil posisi duduk diatas kasur.

“Cepet mandi! Aku tunggu kamu dibawah, Radhitya Rivan.”

“Iya, Ratu Vienny Fitrilya.”

Dia keluar dari kamar gua. Sedangkan gua, bersiap-siap untuk ritual pagi.

Setelah kejadian romantis (baca: cringe) itu, setiap pagi, Vienny bakal bangunin gua dengan segala cara. Mau dipukul, disiram, dibakar, atau disayang. Eh?

Gua sih gak protes dengan kelakuannya. Walaupun dia kembali menjadi pribadi yang manja,cengeng, dan penakut itu.

Setidaknya, itulah Vienny yang gua sayang.

.

.

.

Eh?

-The End-

 

Bacotan Penulis:

Hahahahahaha. Selesai juga ff ini, berakhir dengan 48 halaman (ngidol). Kesan gua selama menulis ya, cringe gitu lah. Delusi tingkat tinggi ini tak bisa dihindarkan. (gananya)

Untuk selanjutnya gua bakal buat cerbung. Udah gua buat konsep sama bannernya sih. Kalau penasaran ya, follow gua di twitter aja untuk melihat perkembangan dan tingkah gua yang gak jelas.

Twitter : https://twitter.com/rivanngidol

Terimakasih telah membaca, maaf membuat kalian semua muntah-muntah. Sampai jumpa di ff gajelas selanjutnya. Dadah~

Iklan

4 tanggapan untuk “Glassy Sky

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s