“Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 23

Sekarang waktu telah menunjukkan pukul 10.15. Robby berjalan menuju kantin kampus dengan langkah cepat, rahangnya mengatup keras dan tangannya juga mengepal kuat. Entah mengapa, emosinya sangat tinggi sekarang.

Di kantin yang kebetulan teman-temannya sudah selesai dengan mata kuliah paginya, mereka tengah duduk bersama-sama.

“Itu Robby ngapain? Bukannya hari ini dia gak ada kelas ya?” Beby menatap Robby dengan heran.

“Gak tau. Mau ngejemput Shani kali,” ucap Reizo asal.

“Aku gak minta jemput sama dia,” ucap Shani yang berada di samping Viny.

“Terus dia ngapain? Mana ke sini lagi. Kayaknya ada perlu deh,” ucap Beby.

Mereka semua mengangguk, mungkin ada perlu makanya dia ke sini. Dan sedari tadi juga, Viny hanya berdiam diri saja. Ia terus menatap Robby yang berjalan mengarah pada mereka. Firasatnya mengatakan akan ada sesuatu yang terjadi setelah ini.

“Kamu kenapa diem deh? Kamu tau sesuatu?” tanya Aldy pada Viny.

Semuanya pun menengok pada Viny. Viny yang tersadar apa arti dari tatapan semuanya pun menjawab.

“Enggak kok. Aku cuma mikir ngapain dia ke sini gitu. Kalau enggak ngejemput Shani, terus ngapain?” elak Viny.

Semuanya pun memikirkan apa yang dilakukan oleh Robby di kampus ini, padahalkan dia tidak ada kelas hari ini.

“Liat Benny gak?” tanya Robby yang kini tengah berada di tempat mereka.

“Benny?” Mereka menatap satu sama lain.

“Iya, Benny. Ada liat gak?”

“Enggak ada deh kayanya Rob, kenapa emang?” tanya Reizo.

“Yaudah, makasih.” Robby berjalan keluar kantin.

Mereka semua menatap kepergian Robby, Shani merasa ada yang tidak beres akan terjadi setelah ini. Begitu pula dengan Viny dan Beby. Shani pun langsung bangkit dari duduknya, dan mengejar Robby.

Viny yang melihat itu, mau tak mau ia harus mengejar juga.

“Mending kita susulin deh, aku ngerasa ada sesuatu yang bakalan terjadi,” ucap Viny.

Beby mengangguk, “Iya, aku juga ngerasa kayak gitu. Yaudah, ikutin yuk.”

Dan semuanya pun mau tak mau mengejar Robby dan juga Shani yang terlebih dahulu mengejar Robby…

Mereka kini tepat berada di parkiran kampus, apa yang dipikirkan oleh mereka pun terjadi.

BUGH!

Robby memukul wajah samping kanan Benny. Sehingga membuat Benny tersungkur, dan ia pun langsung bangkit berdiri memegang wajahnya yang dipukul oleh Robby.

“Eh, lo apa-apaan sih mukul gue?!” tanya Benny emosi.

Robby mencengkram kerah baju milik Benny, “Lo breng-,”

“Robby udah!” teriak Shani.

“Ck, ikutin gue kalau lo mau tau apa salah lo!” bentak Robby, kemudian ia mendorong Benny hingga membentur salah satu motor yang terparkir di sana.

Robby berjalan menuju mobilnya, ia menyalakan mesin, kemudian segera melaju. Tanpa membantah ataupun menolak, Benny pun menuju motornya dan mengikuti Robby.

“Ck, sial. Jadi dia udah tau?” tanya Reizo.

Viny menghela nafasnya, “Kemarin dia ngeliat Shania dijemput sama Benny..”

Aldy, Reizo, Beby pun menengok pada Viny. Dahi mereka mengkerut.

“Udah, nanti aja ceritanya, lebih baik sekarang kita ikutin mereka,” ucap Shani.

“Ah iya, lebih baik kita ikutin mereka.” Aldy menuju motornya. “Ayo cepetan naik. Keburu jauh.” Suruh Aldy pada Viny.

“Sama aku aja Shan,” ucap Beby.

Shani mengangguk. Kemudian Beby pun bersama Shani menuju mobilnya. Sedangkan Reizo menuju motornya. Dan Viny bersama Aldy. Viny yang telah naik dan memasang helmnya pun lebih dulu melajukan motornya. Kemudian disusul oleh Reizo, baru setelah itu Beby dan Shani..

Robby melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dan di belakangnya sedari tadi Benny mengikutinya. Robby membelokkan mobilnya di kawasan sepi dengan pencahayaan minim. Lebih tepatnya, sebuah gedung tua yang sudah tidak diurus lagi.

Robby keluar dari mobilnya dan langsung menghampiri Benny, sedangkan Benny, ia baru saja melepaskan helmnya.

“Turun!” Robby menarik kerah baju Benny. “Ck! Lo denger gak sih? Gue bilang turun!” bentak Robby penuh emosi.

Benny pun turun dari motor dan meletakkan helmnya. Dan tanpa diduga, Robby kembali mendaratkan pukulannya pada wajah Benny.

“Maksud lo apa Ben?” tanya Robby. “Maksud lo apa ngedeketin pacar gue?! Maksud lo apa brengsek?!” Robby menarik Benny sampai berdiri lagi.

Dahi Benny mengerut bingung, pacar? Siapa pacarnya? Pikir Benny.

Benny mendorong tubuh Robby, kemudian ia pun memukul balik Robby, “Maksud lo apaan mukul-mukul gue begitu? Gue juga gak tau pacar lo itu siapa!”

BUGH!

Benny melayangkan tinjunya kembali tepat di wajah Robby.

“Jangan pura-pura gak tau lo!” Robby meninju perut Benny membuat ia tersungkur ke tanah. Robby membuang ludahnya yang bercampur darah ke samping.“Lo tau Shania kan?”

Lagi dahi Benny mengerut bingung, kenapa dia tau? A-atau jangan-jangan..

Robby tertawa sinis, “Kenapa wajah lo pucat gitu pas gue sebut Shania? Baru sadar sekarang?”

Benny tertawa mengejek sambil menyeka sudut bibirnya, “Itu bukan urusan lo!” Benny meninju Robby.

“SHANIA ITU MILIK GUE BEN!” teriak Robby sebelum membalas tinjuan Benny.

“Pacar lo? Terus Shani itu apa? Mainan lo gitu?” Benny tersenyum dengan jahatnya.

“Brengsek lo!”

Perkelahian mereka pun terus berlanjut, sampai teman-teman mereka pun datang. Setelah Viny turun, Aldy pun langsung turun dari motornya untuk melerai mereka berdua begitu pula dengan Reizo yang membantu Aldy. Sedangkan Viny, kini ia berjalan menuju Beby dan Shani yang berada di depan mobil Beby.

“Gara-gara lo Shania sekarang berubah! Gara-gara lo!” Robby memukul Benny dengan sangat keras, sehingga membuat Benny kembali tersungkur.

Seketika itu juga Aldy langsung menahan Robby yang kembali hendak memukul Benny. Sedangkan Reizo, membantu Benny yang hendak berdiri.

“Udah Rob, kendaliin emosi lo.” Aldy menahan tubuh Robby.

“Tapi dia udah berani deketin Shania Dy!” teriak Robby.

“Iya-iya gue tau, udah kendaliin emosi lo dulu,” ucap Aldy.

“Bener tuh kata Aldy, mending kendaliin emosi lo dulu,” ucap Reizo yang kini tengah berada bersama mereka. Dan soal Benny, Reizo membantunya berjalan sampai menuju motornya dan menyuruhnya untuk segera pergi dari sini. Pada saat itulah Viny, Beby dan Shani pun mendekati mereka bertiga.

“Tunggu dulu.” Robby menjauhkan dirinya pada Aldy dan Reizo.

“Maksud lo tadi apaan Dy?” tanya Robby yang menatap Aldy, “Jadi, lo udah tau kalau si brengsek itu sama Shania?” tanya Robby yang menekan kata-katanya.

“Benny Rob,” ucap Viny.

“Terserah,” ucap Robby malas.

Aldy menghela nafasnya kasar, “Sebenarnya gue, Reizo, Beby sama Viny udah tau kalau Benny deket sama Shania. Gue gak bilang sama lo, karena gue gak mau kayak gini. Dan sekarang, lo malah tau sendiri. Gue-,”

“Ck, sialan lo!” Robby memukul wajah Aldy yang membuat ia tersungkur.

“Aldy!” Viny langsung mendekati Aldy.

“Robby..” panggil Shani yang sedang terisak pelan.

“Males gue jadinya sama kalian.” Robby pun berjalan dengan tergopoh-gopoh menuju mobilnya.

“Robby tunggu dulu,” ucap Shani yang mengejarnya.

Shani memegang tangan Robby, berniat untuk menahannya sebentar membicarakan semuanya dengan baik.

“Apa lagi sih?!” bentak Robby emosi yang menghempaskan tangan Shani.

Shani terdiam menatap Robby, seketika itu juga nyali Shani menjadi ciut, ia tidak mengenali Robby yang sekarang berada di depannya ini. Sangat berbeda sekali Robby yang ia kenal.

Tidak mendapatkan jawaban apapun, Robby pun kembali berjalan menuju mobilnya dengan cukup susah…

Setelah itu, ia masuk ke dalam mobil, dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan mereka yang masih terdiam mematung.

Shani merasakan lututnya yang melemas, dan ia pun terjatuh dengan lutut menjadi tumpuannya. Perlahan air matanya keluar dengan sendirinya, baru kali ini ia mendapatkan perlakuan seperti itu dari Robby yang langsung membuat hatinya merasa sakit.

Beby berjalan menuju Shani, ia berjongkok dan mengelus pundak Shani.

“Udah Shan, Robby lagi emosi. Jadinya dia kayak gitu,” ucap Beby.

“Robby..”

~

Shania berjalan dengan langkah santainya menuju tempat perjanjiannya. Entah karena hal apa, teman barunya yang mungkin sedang dekat dengannya ingin bertemu padanya hari ini. Dan di sinilah sekarang Shania, ia berada di sebuah café yang cukup lumayan jauh dari rumahnya.

“Benny?” panggil Shania ketika melihat seseorang yang duduk membelakanginya.

Ya, teman barunya itu adalah Benny. Dan mungkin saja, mereka bisa lebih dari teman..

Benny pun menoleh ke belakang. Wajahnya berubah menjadi datar. Dan Shania pun langsung menghampirinya, lalu duduk tepat di hadapan Benny. Baru saja ia duduk, ia langsung terdiam menatap wajah Benny.

“Ben.. muka kamu kenapa?” Shania meneliti wajah Benny yang terdapat lebam dimana-mana.

“Kamu tau Robby?” tanya Benny tanpa menghiraukan perkataan Shania.

Wajahnya mendadak menjadi pucat, “I-iya tau, kenapa?”

Benny membenarkan posisi duduknya, “Dia pacar kamu?”

Shania terdiam, bagaimana ia tau kalau Robby adalah pacarnya? Apakah Robby yang memberitahunya? Tapi bagaimana? Pikir Shania.

“Jadi benar ya dia itu pacar kamu.” Benny tersenyum tipis.

Shania menundukkan kepalanya, “M-maaf Ben.”

Benny menghela nafasnya, “Kenapa gak jujur dari awal sih Shan?”

Shania mengatur nafasnya yang sedari tadi naik turun, “A-aku t-takut.”

“Takut? Kenapa? Bukannya kamu seharusnya lebih takut kalau Robby ninggalin kamu?”

Shania mendongakkan kepalanya, “Hh, iya aku juga takut itu. Tapi aku mau merasakan apa yang hilang akhir-akhir ini dari Robby.”

Benny menggelengkan kepalanya, “Terserah kamu. Lagian aku gak bisa juga kan sama kamu?” Benny bangkit dari duduknya.

“Dan ah iya, masalah mukaku ini. Robby yang udah ngelakuin semuanya ini, dan ya aku tau dia sayang banget sama kamu. Pasti wajar kayak gitu,” tambah Benny.

Setelah itu Benny pun meninggalkan Shania yang masih duduk di sana. Shania terdiam ketika Benny mengatakan hal itu. Kini perasaan takut Shania semakin bertambah, perasaan takut akan kehilangannya kembali…

~

Malam harinya, kini Shani tengah berjalan menuju apartement Robby. Ia harus bertemu dengan Robby sekarang, ia tidak mau Robby semakin menjadi tingkah lakunya seperti pagi tadi. Setelah memasukkan kode apartement milik Robby, ia pun masuk ke dalam.

Gelap. Hening. Dan.. berantakan. Entah apa yang telah dilakukan oleh Robby, yang jelas berantakan sekali di sini.

Suasana di dalam apartement Robby sangat tidak mengenakkan sekali. Shani yang takut gelap pun mendadak menjadi pucat, ia mengambil handphonenya lalu menyalakan flash yang ada di handphonenya.

Shani berjalan dengan sangat hati-hati karena terdapat benda-benda yang berhamburan di lantai. Ia memencet tombol lampu yang ada di dinding ruang tengah. Dan lampu pun menyala, Shani mematikan lampu flash handphonenya dan memasukkan handphonenya ke dalam tas yang ia bawa.

Betapa menyedihkannya keadaan apartement Robby sekarang, terlihat seperti kapal pecah..

Ia berjalan hendak menuju kamar Robby, tetapi pada saat di ruang tengah ia menemukan Robby yang tengah duduk di bawah dengan keadaan ia memeluk lututnya sambil menenggelamkan kepalanya.

Shani berjalan menuju tempat Robby berada, dengan perlahan ia pun memegang pundak Robby.

“Robby.” Panggil Shani.

Robby tidak bergeming, ia tidak merespon panggilan Shani. Entah kenapa Shani merasakan suhu tubuh Robby agak sedikit panas. Shani pun menggoncangkan tubuhnya. Dan Robby pun mendongkkan kepalanya dengan mata mengerjap-ngerjap beberapa kali.

“Shani?” Robby masih memandang Shani dengan seksama.

Shani mengangguk, “Kamu ngapain kayak gini di sini?” Shani membantu Robby untuk berdiri dan duduk di sofa.

Shani meneliti wajah Robby yang masih lebam dan darah segar yang telah mengering.

“Kamu belum ngobatin luka di muka kamu ini Rob?” tanya Shani.

Robby mengangguk perlahan.

“Yaudah, kamu tunggu di sini ya. Aku mau ngambil obat sama air hangat dulu. Obat P3K-nya dimana Rob kamu taruh?” tanya Shani yang bangkit hendak mencari kotak P3K dan mengambil air hangat di dapur.

“Di lemari kecil dekat jendela yang ada di dapur Shan,” jawab Robby.

Shani pun berjalan menuju lemari kecil yang disebutkan oleh Robby, dan ia pun mengambil kotak P3K tersebut. Kemudian ia menaruh kotak P3K terlebih dahulu di ruang tengah tepat di meja kecil di samping sofa, lalu ia kembali ke dapur mengambil air hangat yang ia taruh di dalam baskom kecil.

Shani berjalan kembali ke ruang tengah sambil membawa baskom kecil dan handuk kecil yang ia ambil sebelumnya di lemari kamar Robby.

“Sini, aku obatin dulu.” Shani memasukkan handuk kecil yang berisikan air hangat ke dalam baskom. Kemudian memeras handuk kecil tersebut.

Shani mengompreskan pada wajah Robby yang lebam dengan perlahan dan sangat hati-hati.

“Sshh..” Robby meringis pelan ketika Shani mengompreskan

Shani yang melihat Robby tengah meringis karena sakit itu pun, mau tak mau ia menjadi sangat hati-hati.

“Sakit banget ya? Tahan dulu ya,” ucap Shani sambil mengompreskan lebam di wajah Robby.

Robby hanya mengangguk saja membalas ucapan dari Shani.

Setelah selesai mengompres, Shani pun membuka kotak P3K yang telah ia ambil. Kemudian ia mengambil alkohol, lalu meneteskan pada kapas yang telah ia pegang. Shani pun mengoleskan pada luka yang terdapat pada wajah Robby, dan Robby pun kembali meringis tapi tidak seperti yang tadi.

Kemudian Shani pun meneteskan betadin ke kapas yang baru ia ambil, dan mengoleskannya pada luka Robby. Shani mengambil hansaplast yang ada di kotak P3K, setelah dibuka ia pun menempelkannya pada luka yang ada di wajah Robby.

“Udah selesai.” Shani membereskan barang-barang yang ia pakai tadi. Kemudian ia pun menaruhnya ke meja kecil yang ada di samping sofa.

“Makasih ya Shan,” ucap Robby.

Shani mengangguk tersenyum, “Sama-sama. Nanti kalau kayak gini, langsung diobatin ya.”

“Iya, Indira.”

Perlahan Robby menarik Shani ke dalam pelukannya, “Maaf ya tadi udah ngebentak kamu.”

Shani mengangguk dalam pelukannya, “Iya, gakpapa kok. Asal jangan kayak gitu lagi ya? Janji?”

“Iya, janji.” Robby mengelus-ngelus puncak kepala Shani dengan lembut.

Mereka terdiam satu sama lain, tetap dengan posisi seperti ini. Mereka memberikan kehangatan untuk sama lain. Dan disaat bersamaan juga, pintu apartement terbuka. Masuklah seorang perempuan tinggi yang sangat manis untuk dilihat.

Ia mengernyit heran ketika banyak benda-benda pecah yang berhamburan di apartement Robby. Dan ia pun berjalan masuk ke dalam, saat melihat di ruang tengah lampunya sedang menyala. Ia terdiam, kini di depannya terdapat laki-laki yang dicintainya sedang berpelukan dengan seorang perempuan.

Dengan sendirinya, air matanya pun perlahan lolos dari matanya melewati pipinya.

“Robby.” Panggilnya dengan air mata yang kini mulai mengucur deras.

Sontak Robby dan Shani pun melepaskan pelukan mereka. Dan menoleh pada sumber suara tersebut.

“S-Shania?” ucap Robby terbata.

Tak mau lebih lama lagi melihat pemandangan yang ada di depannya, Shania pun langsung berjalan keluar apartement Robby. Dan Robby pun mengejarnya, yang meninggalkan Shani sendiri di apartementnya..

Shania berlari setelah keluar dari apartement Robby, kini ia tengah berada di luar. Dengan langkah tergesa-gesa ia terus berjalan. Dan saat di luar itu bersamaan dengan turunnya hujan yang deras.

Apa ini hukuman untuknya? Karena telah mengkhianati orang yang dicintainya? Apa ini balasan dari Tuhan untuknya?

Tubuh Shania terhenti ketika tangannya ditahan oleh seseorang yang mengejarnya.

“Shan, tungguin dulu.”

“Kamu mau apa lagi?! Mau jelasin apa yang aku lihat tadi?! Iya?!” teriak Shania emosi, dan ya tentunya supaya terdengar oleh Robby karena hujan yang membuat sedikit pembicaraan mereka tidak terdengar.

“Shan, bukan it-,”

“Apa?! Aku dengan jelas lihat kamu tadi pelukan sama dia! Bukannya kamu udah janji sama aku?!”

Robby tau walaupun wajah Shania basah karena hujan, ia pasti menangis karena ulahnya tadi. Dan Shania walaupun hujan yang membuyarkan pandangannya, ia pun tetap bisa melihat wajah Robby yang terdapat beberapa plester hansaplast yang menempel, ia jadi teringat dengan wajah Benny yang lebam.

“Iya aku janji sama kamu! Tapi kamu kenapa kayak gitu?! Main di belakang aku sama dia! Kamu kira aku gak tau?! Dia itu temen kampusku Shan!”

Shania tercekat. Terjawablah sudah semuanya pertanyaan yang ada di kepalanya, bagaimana Benny tau tentang Robby dan ia dapat menyimpulkan luka yang terdapat pada wajah keduanya itu.

“Kenapa diem Shan?! Aku kira kamu bakal sama kayak dulu, tapi nyatanya enggak! Aku kecewa sama kamu..”

Shania masih terdiam sambil menatap Robby yang tanpa Shania ketahui ia sedang menahan buliran cairan bening keluar dari matanya.

“Aku mau kita udahan Shan.” Tambah Robby.

Air mata Shania bertambah derasnya ketika Robby mengatakan hal tersebut, tidak bisa dipungkiri bahwa kisah cintanya akan berakhir seperti ini.

Shania mengatur nafasnya, “Baiklah, kalau mau kamu itu. Kita putus sekarang!”

Shania berlari menuju jalan tol dengan air mata yang tak kunjung berhenti. Ia menyetop taksi yang kebetulan lewat di sana. Setelah itu ia masuk ke dalam taksi dengan keadaan basah, dan tentunya dengan air mata yang terus mengalir. Kemudian taksi itu pun jalan meninggalkan tempat tersebut..

Sedangkan Robby kini ia tengah berdiri sambil memejamkan matanya dan mendongakkan kepalanya ke atas. Setelah itu lututnya pun melemas, ia pun terjatuh dengan lutut sebagai tumpuannya.

Tiba-tiba, seseorang datang di hadapan Robby dan memayungi dirinya untuk tidak terkena hujan lagi.

“Ayo masuk, nanti kamu sakit.” Shani mengulurkan tangannya untuk membantu Robby berdiri.

Robby pun mendongakkan kepalanya, “Shani..”

Shani tersenyum tipis, “Nanti kamu sakit Robby.”

Robby pun tersenyum lirih menatap Shani. Sedari tadi Shani melihat mereka berdua, dan Shani juga mendengar kalau Robby dan Shania telah putus. Ketika Shania telah pergi, Shani pun datang sambil membawa payung untuk memayungi dirinya.

“Kenapa?” tanya Shani yang sedari tadi merasa kalau Robby menatapnya, dan tidak menjawab perkataannya.

Lalu Robby berdiri dan langsung memeluk Shani erat, tanpa sadar payung yang dipegang oleh Shani pun terjatuh ketika Robby membisikkan sesuatu pada telinganya.

“Ajari aku mencintaimu Shan..”

 

*To be continued*

 

Created by: @RabiurR

Iklan

6 tanggapan untuk ““Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 23

  1. Tor cuma mau menyampaikan uneg-uneg aja sepertinya cerita ini belum jelas arah tujuannya semoga kedepannya bisa jelas akhinya
    #cuma saran murahan dari nubie aja

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s