Simple Story, Part2

Warning : Typo Bertebaran!

Fino mengepalkan tangan kanannya, berusaha untuk meredam amarah. Sementara gadis itu masih saja terkekeh seakan-akan menganggap remeh kekuatan Fino.

“Perkenalkan. Heheheh… aku…” gadis tadi tersenyum kecil. “Elaine Hartanto,” ucapnya

“I….Ilen ….”

“Ileeeeenn!!!! Ih! Disuruh beli susu aja susah banget sih!! Aku capek tau ngejar kamu!!”

Suara gadis lain terdengar begitu keras, tak berapa lama kemudian Elaine menatap gadis yang tak bukan adalah sahabatnya itu yang sedang berlari kearahnya.

“Kalian berdua …” Fino menggantungkan kalimatnya, otaknya masih mencerna apa yang sedang terjadi disini. Yang satu Elaine, seorang gadis mungil berambut hitam panjang yang dikuncir kuda. Dan satu lagi, gadis sipit dengan rambut agak kecoklatan.

“Ndel, apa sih sabar sebentar dong.” Ucap Elaine

“Astaga. Fino?!” Gadis yang dipanggil ‘Ndel’ oleh Elaine berteriak sambil menutup mulut dengan sebelah tangan.

Fino tersenyum saja untuk membalas panggilan Andela tadi, kemudian ia menatap sekeliling yang sudah berantakan tak berbentuk lagi. Kemudian ia kembali menatap Elaine.

“Kamu, yang benar saja?” Tanya Fino

Elaine tertawa kecil begitupun dengan Andela. “Iya aku emang sering ngerusakin desa ini, sebenernya sih itu kedai nya gak sengaja kena juga,”

Fino menggelengkan kepalanya, lalu menatap kearah kedai yang sudah hancur tiga per empatnya. Elaine kembali tertawa kencang melihat perubahan raut wajah Fino yang merupakan teman lamanya itu.

***

Di sisi lain, Veranda dan juga Shania sedang berjalan beriringan dengan menggunakan kuda masing-masing. Desa yang berada di arah Barat ini tak terlalu ramai, para penduduk lebih memilih untuk berdiam diri di dalam rumah.

Sluuuuurrrrttt….

Sebuah anak panah meluncur dengan sangat kencang dari arah yang tidak diketahui. Shania lah yang pertama kali menyadari akan hal tersebut, ia segera mengangkat tangan kirinya keatas atau lebih tepatnya kearah Ve.

Shuuushhhh…

Sebuah angin berhembus dengan cukup kencang, membuat anak panah yang sebelumnya mengarah pada Veranda kini berbelok dan menancap di tanah. Ve membelalakkan kedua matanya ketika mendengar suara anak panah menancap itu, kemudian ia menoleh kearah Shania.

“Maaf, Ve. Cuma itu yang bisa kulakukan,”

“Terima kasih,” ucap Ve.

Beberapa prajurit tampak bersiap dengan serangan yang mungkin akan datang ketika melihat tangan kanan Ve terangkat keatas sambil mengepal. Ve memang mengangkat tangannya itu untuk mencari tahu apakah ada sesuatu yang bergerak melalui angin di sekitar.

“ARGHHHH…!!!”

Teriakan seorang prajurit membuat Ve menoleh kearahnya. Tubuh prajurit tersebut terkena sebuah anak panah berwarna merah dengan sebuah kertas yang menempel di sekelilingnya. Ve segera turun dari kuda yang ditungganginya kemudian mencabut anak panah tersebut.

Ia membuka kertas yang menempel di anak panah tadi, sebuah tulisan dengan tinta merah tertera disana. Ve tak yakin apakah itu tinta atau darah yang digunakan untuk menulis, ia membaca tulisan yang ada disana dalam hati.

Pergi dari sini jika ingin selamat, Putri Veranda. Kawasan ini telah dikepung oleh ‘teman’ ku. Kuharap anda mengerti. Salam hormat, L. Devils.

Ve menoleh ke kiri dan ke kanan berusaha mencari asal dari anak panah tersebut. Shania kini ikut turun dari kuda putihnya kemudian menepuk ringan pundak kanan sahabatnya itu, ia melihat kearah kertas yang dipegang oleh Veranda itu.

“V-Ve…” panggil Shania

Veranda mengangguk kecil dan kemudian meremas kertas tersebut dengan sebelah tangan. Ia memandangi beberapa rumah yang berada disana, semua warga masih berada di dalam dan sedikit mengintip dari kaca jendela karena mendengar teriakan prajurit tadi.

“SEMUANYA, CEPAT GELEDAH LOKASI INI. DAN KAU, CEPAT LAKUKAN YANG SUDAH KUTUGASKAN!” Seru Veranda

Semua prajurit tampak tersentak sesaat akan tetapi mereka langsung mengubah posisi, sedangkan satu prajurit mulai mengeluarkan sesuatu dari tas kecil yang dibawa olehnya. Terlihat empat prajurit lain mulai melindunginya sementara yang lainnya segera bergegas menggeledah desa ini.

“Dasar keras kepala”

***

Di tempat Niko, ia sangat jelas menunjukkan kemalasannya saat berjalan-jalan mengelilingi desa. Kuda miliknya diikatkan pada sebuah besi yang berada di dekat salah satu rumah disana. Ia memilih untuk berjalan kaki untuk mengelilingi desa ini.

Sambil bersiul merdu, ia berjalan seraya meletakkan kedua tangan di dalam saku tepat di sela-sela baju besinya itu. Desa ini sangat ramai penduduk, banyak sekali anak kecil yang berlalu lalang untuk bermain kejar-kejaran, juga beberapa orang tua yang berlarian demi mengejar anaknya yang sedang bermain itu.

Seorang prajurit mendatangi Niko hendak membicarakan sesuatu, akan tetapi suara ledakan menyedot perhatian Niko terlebih dahulu. Ia memalingkan wajahnya ke udara untuk melihat apa yang terjadi. Sebuah asap hijau terlihat disana, Niko menepuk bahu prajurit tadi.

“Siapkan kuda, kita bergegas dari sini,”

.

.

Sementara itu di tempat Aldy, ia sedang membaca sebuah buku yang merupakan buku dimana asal mula desa desa terbentuk. Di sebuah perpustakaan umum yang ada disana, ia sudah menumpuk beberapa buku menjadi satu tumpukan yang cukup tinggi.

Bunyi keras yang berasal dari desa sebelah membuatnya menoleh kearah langit, sebuah asap hijau terlihat dengan jelas disana. Aldy menutup bukunya kemudian segera bergegas keluar dari perpustakaan tersebut tanpa mengembalikan seluruh buku yang belum habis dibaca olehnya.

Ia menarik saddle kuda nya kemudian memegang erat tali kekang dari kuda tersebut. Beberapa prajurit mengikuti apa yang dilakukan Aldy kemudian menjalankan kuda mereka mendekati sang pangeran tersebut.

“Ada apa, tuan Aldy?”

Salah satu prajurit bertanya dengan sangat sopan. Aldy memandang kearah langit sekali lagi kemudian menghela nafas dari mulutnya.

“Kak Ve sudah menemukannya. Lebih cepat kita pergi sekarang,”

Sang prajurit menatap prajurit lain dengan tatapan kebingungan sementara yang ditatap pun hanya dapat menaikkan kedua bahu tanda kalau ia tak tau.

.

.

.

Di tempat Fino, ia sudah melihat asap tersebut sedaritadi. Dirinya yang telah bersiap di atas punggung kuda putih miliknya itu langsung saja menarik tali kekang miliknya. Ia sedikit melirik kearah Elaine dan Andela yang terlihat bingung.

“Ah, aku sedang menjalankan misi untuk mengetes devils hari ini. Kalian berdua mau ikut? Kalau mau, ada kuda yang dapat kalian pakai disana,”

Fino menunjuk seekor kuda coklat yang terikat di besi tempat meletakkan kuda. Kuda yang seharusnya kepunyaan prajuritnya itu kini sendirian, nyaris 60% pasukan Fino telah tewas dan sisanya segera berlari kembali menuju kerajaan untuk mengabarkan berita itu.

Andela lah yang pertama kali menaiki kuda tersebut, ia menarik tali kekang dengan kencang. Elaine pun menaiki kuda itu dan duduk di belakang Andela, sang kuda tak henti-hentinya bergerak kesana kemari. Andela menghentakkan tali kekang tersebut, kuda itupun terdiam.

“Tunjukan jalannya,” ucap Andela.

Fino mengangguk kemudian menghentakkan tali kekang dengan kedua tangan yang sangat kencang, sang kuda pun segera berlari dengan kencang, disusul oleh kuda yang ditunggangi Andela dibelakangnya.

Di tengah hutan, derap langkah kaki kuda mereka berdua memecah keheningan. Fino memimpin untuk memberi tahukan jalan menuju desa Barat dimana Ve berjaga. Andela begitu gesit mengendalikan kudanya, karena memang sedari kecil ia sudah dilatih untuk menaiki kuda sejak berumur 5 tahun.

.

.

.

Di tempat kejadian, Ve dan Shania masih saja menyuruh para prajurit menggeledah desa ini. Mereka berdua berdiskusi kecil mengenai surat yang mereka temukan di anak panah tadi, Shania menyuruh Ve untuk tenang sebentar dan membuat rencana baru, tetapi Ve menolaknya.

Di keheningan desa, terlihat seorang gadis yang mengenakan jubah hitam beserta hoodie yang dikenakannya melintas di tengah desa. Bow yang ia bawa di tangan kiri serta beberapa anak panah di dalam kantung yang ia bawa di punggungnya menunjukkan kalau dialah yang memanah anak panah tadi.

Gadis berambut panjang dan bertubuh tinggi itu masih berjalan dengan perlahan. Tangan kanannya mengambil salah satu anak panah dan mulai meletakkannya di Bow miliknya itu. Shania dan Ve dengan sigap mengambil ancang-ancang dengan kedua tangannya.

 

Sluuurrtttt…!

 

Anak panah itu meluncur bebas, baik Ve maupun Shania tak dapat melihat kearah mana panah tersebut mengarah. Tiba-tiba saja sebuah es terjatuh dari dekat mereka berdua. Tidak itu bukan sembarang es, melainkan itu adalah anak panah yang meluncur tadi.

Gadis berhoodie tadi menoleh ke samping dengan tatapan terkejut ketika melihat seorang pria bertubuh tegap nan tinggi yang mengenakan jaket kulit disertai dengan celana jeans biru. Rambut pria itu berwarna hitam berantakan ditambah dengan tatapan mata yang sangat tajam.

“Siapa kau?!”

Pria tadi hanya tersenyum kecil mendengar perkataan gadis itu. Pria dengan wajah rupawan ini pun mendekat kemudian ia mengulurkan tangannya kearah es anak panah tadi, seketika itu juga es tersebut mencair dan memperlihatkan sebuah anak panah polos milik gadis tadi.

“Bagaimana dengan kau sendiri? Siapa kau sebenarnya?” Balas pria tadi.

Gadis tersebut tertawa, tawa yang tadinya kecil kini keras dan semakin keras. Ia kemudian terkekeh sambil memainkan Bow miliknya dengan sebelah tangan, tatapan matanya berubah menjadi serius kearah pria tadi.

“Kau masih polos rupanya sampai-sampai tak tahu siapa aku ini, ya,”

Shania memiringkan sedikit tubuhnya kearah Ve kemudian berbisik. “Ve, sepertinya aku tahu siapa pemilik suara ini. Gadis ini seperti teman latihan kita, Lidya namanya. Tapi masa iya dia itu adalah Lidya?”

Ve menoleh kearah Shania dengan pandangan yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Kemudian ia mengangkat kedua bahu tanda ia benar-benar tak tahu siapa gadis itu.

“Oh ya, kembali ke topik utama. Hei Ve, apa kau tak tahu kenapa tadi aku menyuruhmu untuk pulang, hm?” Tanya gadis berhoodie tadi

“Memangnya ada apa?”

“Heheheh…. Lebih baik kau melihat kerajaanmu itu sekarang, sebelum nantinya kau menangis seperti seorang bayi,”

“Hei, jaga bicaramu !” Sahut Shania.

“Untuk apa kujaga perkataanku, kalau orang tuanya saja tak dapat menjaga perkataannya terhadapku? Hahahahah…”

Gadis tadi membuka hoodie hitam miliknya. Kini terpampang lah dengan jelas wajah si gadis beserta rambutnya yang memiliki warna tak beres. Warna ungu dengan beberapa bagian yang berwarna putih, di tambah dengan tattoo yang berada di dekat mata kanannya.

Dengan sedikit senyuman, gadis itu mulai berkata lagi. “Apakah kalian tak menyadari kalau aku menghilang? Ya jelas tentu kalian tak menyadarinya karena selalu sibuk dengan kesibukan kalian berdua saja,”

“Li… Lidya..” gumam Ve tak percaya.

Flashby

Di sebuah lapangan yang masih merupakan area dari kerajaan, terlihat beberapa gadis tengah berkumpul disana mereka masing-masing membawa panahan pribadi mereka. Ve dan Shania sedang mendapatkan giliran untuk mengetes kemampuan memanah mereka.

Ve berhasil mengenai satu lingkaran sebelum lingkaran tengah, yaitu hanya mendapatkan 9 poin saja dari 10. Sedangkan Shania berhasil mengenai lingkaran tengah yang memiliki poin 10. Semua anak bertepuk tangan karenanya, mereka tersenyum bangga pada diri sendiri ketika melihat papan yang jauh berada di depan sana.

 

Kini giliran Lidya dengan satu gadis lagi. Sang pelatih segera memberi aba-aba seperti satu dua tiga, tapi tanpa memperhatikan aba-aba itu, Lidya sudah meluncurkan anak panahnya terlebih dahulu. Dan, ya anak panah itu dengan sempurna mengarah kearah lingkaran 10 poin.

Gadis yang berlatih bersama Lidya itu hanya memandangnya dengan ngeri akibat keahlian Lidya yang sangat terlihat. Pelatih pun tersenyum bangga kepada Lidya, sementara itu gadis tadi hanya mendapatkan poin 7 karena mengenai lingkaran yang cukup jauh dari 10 poin.

Selesai sudah latihan hari ini, para gadis tadi segera membubarkan diri masing-masing. Seperti biasa, Shania sedang mengobrol dengan Veranda yang berjalan bersama menuju castil kerajaan. Ia tertawa ketika Ve berkata yang tidak-tidak, membuat wajah sang putri itu memerah malu.

Sementara itu, Lidya berjalan menyusuri hutan menuju desa dimana ia tinggal. Lidya tinggal di desa Barat, dimana ayah dan ibunya menetap disana. Perjalanan yang sebenarnya tak memakan waktu lebih dari 20 menit itu kini terasa lama sekali.

Setelah mengetahui sesuatu, Lidya dengan cepat memanah kearah langit dengan anak panah miliknya.

Slaarchhhh….

Sebuah pecahan kaca yang pecah berkeping-keping seakan-akan menjadi penanda kalau dirinya terjebak ke dalam sebuah ilusi. Ia memandang kesekeliling kemudian kembali berjalan, ternyata dirinya hanya diam di tempat sedaritadi ketika ia menoleh ke belakang dan itu masih saja area kerajaan.

Tiba-tiba saja dua gadis berjaket hitam juga berhoodie menghalangi jalannya. Dua-duanya sama-sama tersenyum ketika Lidya melihat kearah mereka, dengan cepat salah satu darinya mengulurkan sebelah tangan.

Semuanya menjadi gelap.

Lidya tak sadarkan diri akibat kemampuan salah satu gadis itu, kemudian gadis yang lain dengan sigap membawa tubuh Lidya di sebelah pundaknya. Ia mengangguk sebentar kearah temannya itu kemudian mereka segera meloncat kearah atas pohon dan bergegas menjauh darisana.

Tepat setelah kedua gadis itu pergi membawa Lidya, Shania melangkahkan kakinya, hendak pulang karena memang waktu sudah menunjukkan sore hari. Dengan ragu Shania melangkah kearah Utara dimana desa ia tinggal berada disana.

.

.

.

Lidya kini membuka kedua matanya, ia terkejut ketika melihat dirinya sendiri di balik sebuah cermin. Lampu penerangan yang hanya terbuat dari sebuah bohlam kecil membuatnya susah untuk mengenali keadaan sekitar.

“Hei, ada orang?!” Tanyanya

Tak ada yang menjawab. Sepertinya ia benar-benar sendirian disini. Dua gadis yang membawanya kini datang dari arah depan, Lidya tentu saja tak menyadarinya karena kondisi sekitar yang memang gelap itu.

Kedua gadis tadi melepas hoodie mereka, kemudian memandang tajam kearah Lidya. Satu dari mereka membawa sebuah cairan berwarna ungu yang sudah berada di dalam sebuah suntikan medis. Lidya melihat pantulan cahaya yang terlihat di jarum tadi kemudian tertegun sejenak.

“Siapa kau dan mau apa kau padaku?!”

Gadis si pembawa jarum suntik tadi maju kearah Lidya. Ia tersenyum ramah kemudian mengangkat kedua bahunya. “Kau tentu mengetahui siapa kami, dan sekarang aku dan temanku mau kau menjadi teman kami. Kau tak memiliki teman bukan?”

Lidya mengangguk kecil.

“Kalau begitu, ikutlah bersama kami. Kita bertiga akan menjadi teman selamanya,” sambung gadis kedua.

Lidya pun pasrah. Ia memberikan lengan kirinya kearah gadis yang membawa suntikan tadi, tanpa ragu gadis itupun mulai menyuntik Lidya tepat di lengannya. Cairan aneh tadi itupun kini mengalir melalui jarum tajam tadi, Lidya sedikit terkejut dengan rasa sakitnya.

Saking terkejut, tiba-tiba semuanya kembali menggelap. Tidak bukan karena Lidya tak kuat menahan rasa sakit, melainkan di dalam cairan itu memang sengaja diberikan obat tidur agar Lidya mendapatkan hasil yang maksimal.

“Apa ini tak apa? Terlalu cepat untuknya berubah. Seharusnya kita sekap dia terlebih dahulu,”

Gadis yang satu berkomentar sementara temannya sedang menyuntikkan cairan hijau dengan jarum yang berbeda. Gadis si penyuntik itu menoleh kemudian tersenyum.

“Aku ingin tahu saja rasanya mendapatkan teman dari sifat aslinya,”

“Terserah sajalah,”

.

.

.

Keesokan harinya, latihan pemanah kembali diadakan. Jadwal memang 4 kali seminggu sesuai dengan perjanjian kepada seluruh anak didiknya. Sang guru mulai mengabsen semua peserta didik.

“Lidya Maulida Djuhandar?”

Hening. Tak ada satupun yang mengangkat tangan apalagi mengangkat suara.

“Kemana anak itu? Ada yang tahu?”

Lagi-lagi semuanya terdiam. Ve dan Shania memandang satu sama lain, lalu mengangkat bahu bersama-sama. Guru pun melanjutkan absensinya.

Hingga akhir pertemuan, tak ada tanda-tanda Lidya datang kesana. Guru yang sudah selama ini mengajar anak didiknya itu kini kebingungan, pasalnya Lidya tak pernah absen selama pelajarannya 3 tahun ini. Dan dirinya tahu kalau Lidya merupakan anak yang berbakat.

“Shania, Veranda. Kalian tidak tahu kemana Lidya?” Tanya guru tersebut.

“Tidak. Kemarin saya dan Shania segera masuk ke dalam castil untuk membersihkan diri dan kemudian Shania pulang,”

“Di perjalanan pun saya tak melihat Lidya, pak. Saya pulang dengan biasa saja kemarin,”

“Ah begitu. Terima kasih sebelumnya,”

Ve dan Shania sama-sama mengangguk kemudian kembali melakukan latihannya. Sang guru itu sangat kebingungan.

“Kemana kau Lidya?” Gumamnya.

StoryB!

“Lidya? Itu benar dirimu?”

Shania maju beberapa langkah, namun sebuah anak panah yang diluncurkan Lidya membuatnya tak melanjutkan langkahnya itu pasalnya anak panah tadi tepat jatuh di depan tanah yang Shania injak.

“Jangan dekati aku lagi. Kalian bukanlah siapa-siapaku sekarang. Aku sudah bahagia disini, bersama dengan dua teman baruku,”

“Siapa? Siapa temanmu itu?” Tanya Ve

Plok Plok..

Lidya menepuk kedua tangannya dua kali, kini muncullah kedua gadis yang mengenakan hoodie juga jaket hitam sama seperti yang dikenakan oleh Lidya. Mereka berdua tersenyum ketika melihat lawan di depannya adalah anak kerajaan, yaitu Ve.

“Kerja bagus, Lid,”

Derap langkah kuda yang memasuki desa kini semakin keras dan semakin berisik. Fino segera turun dari kudanya disusul oleh Andela dan Elaine yang mengikutinya dari belakang. Ia mengarahkan pedang miliknya kearah gadis yang berdiri di sebelah kanan.

“Ternyata tebakanku benar, rupanya itu benar-benar dirimu,”

Fino memutar pedangnya kemudian menancapkannya ke dalam tanah. Pria tadi memandangi Fino dengan tatapan yang jelas sekali keanehannya. Elaine dan Andela menjadi penonton sebentar disini.

“Huh, kenapa kau juga ada disini?”

Gadis yang ditunjuk oleh Fino kini membuka suaranya kemudian menatap tajam kearah Fino. Ia bersiap dengan sebuah bola api di tangan kanannya, namun Lidya menghentikkan aksinya itu. Lidya menoleh ke temannya kemudian menggeleng kecil. Bola api itupun menghilang.

“Empat tahun tak bertemu, jadi sekarang ini pekerjaanmu? Munafik sekali,” ucap Fino

“He-Hei, apa maksudmu, hah?!”

“Dulu kau bilang ingin menjaga seluruh desa dengan kekuatan dan tubuhmu sendiri. Dan sekarang apa? Mengandalkan kekuatan yang bukan milikmu, dan yang lebih parah kau bukan menjaga seluruh desa melainkan menghancurkannya,”

“Cukup sudah,”

Gadis tadi membuat sebuah bola api yang cukup besar di kedua tangannya kemudian diluncurkannya lah kedua bola api tersebut kearah Fino. Tetapi Ve dengan sigap mengeluarkan kekuatan anginnya, membuat bola-bola api tadi menghilang seperti debu.

“Nabilah! Apa yang kubilang tidak boleh menggunakan kekuatan di daerah desa ini?!” Sahut Lidya marah.

Kini Elaine dan Andela lah yang dibuat cengo oleh perkataan Lidya. Mereka memanglah tidak mengenal Lidya, tapi mereka mengenal siapa itu Nabilah. Fino tersenyum kecut ketika memang perasaannya mengetahui itu adalah Nabilah benar adanya.

“Hah!” Nabilah membuka hoodie nya kemudian mengacak-ngacak rambutnya sendiri.

Gadis yang satu juga membuka hoodie miliknya sambil tersenyum sombong kearah kelompok Veranda. Pupil matanya sudah berubah warna menjadi hijau terang dan rambutnya berwarna merah dengan sebagian rambut berwarna putih yang tercampur.

“Jeje,”

Pria berambut acak-acakan itu mengangkat suara, Jeje, nama gadis yang satu lagi menoleh kearah pria tadi kemudian terkekeh kecil.

“Ah kak Devan rupanya. Hihi, apa kabar?”

Pria bernama Devan itu memukul sebuah dinding rumah yang berada di sebelahnya dengan penuh amarah. Jika dilihat dari segi fisik, Jeje bukanlah Jeje yang dirinya kenali lagi. Terlebih lagi dari segi hati, mungkin Jeje yang sekarang ini tak menganggap dirinya sebagai kakak lagi.

“Kalian saling kenal?” Tanya Lidya

“Dia dulu adalah kakakku, tapi sekarang dia tidaklah lebih berharga ketimbang tanah di depan rumah kita,”

“Nabilah ..”

Elaine memberanikan diri untuk memanggil sahabat lamannya itu. Nabilah menoleh sedikit kemudian tersenyum kecut ketika ia menyadari keberadaan Elaine juga Andela disana.

“Siapa yang membawa anak bebek ke sini?”

“Nabilah, kenapa kamu jadi seperti ini? Kenapa?” Tanya Andela

“Menurutmu? Aku dari dulu juga seperti ini, kalian saja yang terlalu sibuk satu sama lain jadi tak dapat melihatku,”

“Mungkin mereka tidak, tapi kau tau aku selalu menemanimu, bukan?” Tanya Fino

“Itu dulu. Tapi semenjak kalian bertiga lebih dekat, kalian seakan-akan tak menganggapku ada. Dan sekarang aku menyesal, menyesal pernah mengenal kalian,”

“Tapi kami tak pernah menyesal pernah bersahabat denganmu, kami sedih karena kamu pergi tanpa bilang-bilang seperti malam itu!” Sahut Andela

“Aku tak peduli lagi dengan itu semua. Je, Lid, ayo kita pergi dari sini. Ini hanya membuang waktu saja,”

Nabilah terlebih dahulu menaiki atap salah satu rumah kemudian melompat ke rumah lain disusul oleh Jeje dan Lidya melakukan hal yang sama. Devan menatap kepergian Jeje dengan tatapan nanar.

“Lidya ..” panggil Ve lemah.

“Aku telah gagal menjaga seorang sahabat!!!”

Dengan kesal, Fino kembali mengambil pedangnya kemudian dilemparkannya lurus kearah jalanan desa yang sepi itu sangat kencang sampai tak terlihat lagi. Ia melepaskan seluruh baju besinya kemudian menaiki punggung kuda putihnya itu.

“Aku pergi dulu. Jika ingin mencariku, kalian tahu dimana aku,”

Bersambung…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s