Pengagum Rahasia 2, Part 32

*TAP!

            Gracia menarik tangan Deva.

“Ikut aku!”

“Eeehhh!? M-Mau kemana?” tanya Deva

Dengan terpaksa Deva mengikuti perkataan gadis yang rambutnya digerai kebelakang itu. Sampai pada akhirnya mereka berada di sebuah Cafe yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tersebut.

“Hoi! Gw lagi nungguin kak Melody, kalau dia tau gw gak ada disana bisa gawat!”

“Jangan khawatir, tempat ini gak jauh dari rumah sakit kok,”

“Tapi kenapa kita mesti kesini sih!?”

“Ada yang mau aku omongin sama kamu,”

“Eh…,” Deva terdiam dengan wajah polos yang menampakan keraguan

“kenapa gak disana aja sih?” ucap Deva lagi

“Aku khawatir kalau ada anggota keluargaku yang liat kita berduaan nanti,”

“K-Kenapa!?”

“Karena sebenarnya aku ini udah dijodohkan,”

Deva terdiam.

5 Detik kemudian…

“Wah! Hebat lu Gre!”

“Hah?” Gracia tampak kebingungan

“Ternyata gak sia-sia lu punya tampang yang kayak gini,” ucap Deva sembari mencubit pipi Gracia

“Ish! Bukan itu jawaban yang aku harapkan dari kamu Dev!” ucapnya sambil menepis tangan Deva

“Eehh?”

“Lagipula…aku gak suka dijodohin, terlebih lagi cowok itu…aku gak suka,” Jelasnya dengan wajah yang murung

Deva mengendus sambil tertawa kecil seolah-olah ia menertawakan gadis dihadapannya itu.

“Bukannya percuma kalau lu udah dijodohin terus pura-pura jadi pacar gw di depan mami lu? Itu gak akan merubah ap…,”

“Kamu salah Dev…,” potong Gracia

Deva berhenti berbicara.

“Hanya ada satu cara untuk membatalkan tunangan itu,”

“Tunangan?” ucap Deva”

“Ya. Sekitar 4 hari dari sekarang, keluarga cowok itu bakalan datang lagi ke rumahku dan dia bakal ngelamar aku,”

“Dan seperti yang aku bilang tadi, hanya ada satu cara untuk batalin pertunangan itu,”

“Eh…kayaknya gw tau tujuan dari obrolan ini sebenarnya,” ucap Deva sembari menggaruk kepalanya

“Yup, aku mau kamu jadi pacar aku untuk sementara,”

Mereka tiba-tiba terdiam sejenak.

“Untuk sementara ya…,” ucap Deva sambil berjalan mengelilingi Gracia

“kok kedengerannya aneh,” tambahnya

“Gak mau yah?” Gre tiba-tiba menatap ke arah Deva

“Eeeehh…Anu…,” Deva seperti terlihat ketakutan

Gracia masih menatap tajam ke arah Deva.

5 Detik…

10 Detik…

“Oke deh, gw mau Gre…,”

“Bagus…,”

“Ingat Dev, ini cuman sementara kok,”

“K-Kalau gitu…eng iya deh…,”

“Tapi lu bisa kan sembunyiin hubungan ini dari orang-orang lainnya? Terutama dari anak-anak 48,” ucap Deva

“Oh, ternyata kita sependapat. Aku juga mau nyembunyiiin hubungan palsu ini dari siapapun,”

“eh…gw jadi sedikit tenang sekarang,”

“Kalau gitu besok aku undang kamu untuk makan malam di rumah aku Dev,”

“Hah?”

“Aku harus kenalin kamu ke keluarga aku bukan?”

“Eng…Y-yah,” Deva tampak menyetujuinya meskipun terlihat terpaksa

“Lagipula besok itu kan weekend,” ucap Gracia

“Eng…kan besok itu hari jumat Gre,”

“Ya, menurut aku besok tuh weekend, udah jangan banyak komen!”

“EH! I-iyaudah deh,” Deva mengalah

“Kalau gitu nanti aku kabarin lagi pas sampai rumah, aku harus ke ruangan papi dulu,” ucap Gracia kemudian ia pergi

“Ruangan papi?” pikir Deva

Gracia telah berjalan melewati Deva. Sejenak Deva berfikir sambil menghela nafas, ia melihat langit-langit yang mulai gelap itu.

“Duh…muncul lagi masalah yang baru, kenapa dia tiba-tiba jadi menyeramkan gitu!?”

“Eh gw musti balik lagi kesana nih!”

Deva buru-buru kembali ke tempatnya semula.

~oOo~

“Hah! Kak Melody!” ucap Deva dengan nafas yang terengah-engah

“Oh…keluyuran yah? Belum tau rasanya di usir dari rumah?”

“Eh-eh! Ampun kak! T-Tadi itu Deva mau beli minuman, cuma gak ada yang jualan disekitar sini,”

“Cih! Alesan…udah ayo cepetan, langit udah mendung gini lagi, jemuran di rumah gak ada yang ngangkat,”

“Y-yaudah ayo,”

Melody jalan lebih dulu.

“E-Eeeehhh!? Mobilnya Ve!?” ucap Deva

“Mobil Gw!” ucap seseorang tiba-tiba menjewer telinga Deva dari belakang

“A-aduh!”

“Nih Nal, yang bikin kita nungguin lama tuh dia!” ucap Melody

“Oh, jadi dia ya?”

“A-Ampun kak Kinal!” ucap Deva

“Huh…udah-udah cepetan masuk, nanti keburu hujan lagi,” ucap Melody

“Iya-iya,” balas Deva

Deva duduk di kursi depan sementara kakaknya itu berada di kursi belakang.

“Jangan ada yang ganggu ya,” ucap Melody tiba-tiba

Ia terlihat memegang earphone di tangannya.

“Huft…,” Deva menghela nafas

Sementara itu mobil pun telah melaju dan meninggalkan rumah sakit.

“Mumpung dia lagi dengerin lagu, ini kesempatan kita,” ucap Kinal

“Eh?”

“A-Apa!?” ucap Deva lagi

“Lupa ya? Soal tawaran kerja itu loh,” Jelas Kinal

“Eng…,” Deva menggaruk kepalanya

“Sebelum itu, ada yang mau Deva tanyain dulu kak,”

“Hmm? Ya?” balas Kinal sambil terus fokus mengemudikan

“Sorry ya kalau pertanyaan Deva ini kedengarannya keterlaluan, tapi…Kenapa kak Kinal keliatannya maksa banget pengen Deva ikut kerja disana,”

*Glek…

            Deva menelan ludahnya. Keringat dingin mulai bercucuran di lehernya.

“Hmm…lo bakalan tau jawabannya setelah jadi pegawai honorer disana,” Jawabnya

“A-Ah?”

“Itu kan sama aja pertanyaan gw gak dijawab kale!” gerutu Deva dalam hati

“Jadi gimana? Pengen tau kan kenapa gw maksa lo buat kerja disitu?”

“Eh…,” Deva terlihat masih mempertimbangkannya

“Oke deh…,”

“Nice!” ucap Kinal bersuara keras sambil menggebrakan kemudi mobilnya

“HE! Hati-hati kak!” ujar Deva dengan ketakutan

“Oke mulai besok pulang sekolah lo langsung ke restauran ini…,” ucap Kinal sambil memberikan sebuah alamat

Deva pun mulai membaca kertas di tangannya itu.

Van Molet…,” ucapnya ketika membaca kertas itu

Pembicaraan mereka pun berlanjut sampai mereka sampai di tujuan. Arlojinya menunjukan pukul 14.00 dan tampaknya Kinal sengaja mengemudikan mobilnya itu dengan sangat lamban. Namun pada akhirnya mereka sampai di depan rumah Deva.

“Akhirnya, bisa menghirup udara segar,” ucap Deva sambil meregangkan badan

“Heh, emang Ac di mobil gw gak nyala ya?”

“Eeeehh! M-maksudnya kan kalau Ac di mobil sama udara di luar itu beda kak,” ucap Deva lagi

“Oh, gitu ya?” balas Kinal

“Wah sampai rumah juga,” ucap Melody yang baru saja keluar dari mobil

“Eh Deva jadi inget lagi, kok sekarang Ve jarang main kesini lagi ya kak?” tanya Deva

“Hemm…kangen ya?” ucap Melody

“Bukan kangen juga sih, ya aneh aja,” ucap Deva lagi

“Aneh-aneh, itu namanya kangen!” ucap Kinal juga

“ya ampun…kalian berdua ini gak tau Ve yang sebenarnya itu kayak gimana. Makannya Deva bilang tumben Ve gak kesini,” Jelas Deva

“Hemmmm…,” ucap Kinal dan Melody bersamaan

“Huft…serah dah,” Deva pun masuk ke dalam lebih dulu

“Cieeeeeeeee….,” Ejek kakaknya itu

“Dasar…,” ucap Kinal

“Apa nal?” tanya Melody

“Eh-eh…gak kok, kalau gitu gw pulang dulu ya mel,”

“Yah, gak mampir dulu?”

“Gak deh, lagian gw masih ada urusan di kantor,”

“Oh, yaudah deh hati-hati di jalan,” ujar Melody

“ya,” balasnya singkat

~oOo~

Keesokan harinya tepat di pagi hari ketika Deva akan berangkat menuju sekolah…

“Gre!?” ucapnya dengan wajah yang begitu terkejut

“Huh…baru bangun? Jam segini baru mau berangkat ke sekolah,” balas Gracia namun nada bicaranya seperti mengejek Deva

“Eh, biasanya juga jam segini gw berangkat ke sekolah,” Jawab Deva

“Hmm, gitu ya,” Gre kemudian menghampiri Deva dan tiba-tiba ia sedikit lebih dekat dengan Deva

Jari-jarinya itu mulai meraih tangan Deva dan pada akhirnya mereka saling berpegangan tangan.

“Jadi kapan kita mau berangkat?” tanya Gracia

“Ek! Harus kayak gini juga Gre!?” ucap Deva

“Lupa ya?” tanya Gracia lagi

Deva menggelengkan kepala. “G-Gak lupa kok,” ucapnya

Gracia tersenyum manis.”Yuk,”

“Ah…ya ayo,”

Berjalan berduaan dengan saling memegang tangan, mereka berjalan begitu lamban sambil menikmati suasana di pagi hari.

“Gre,”

“HIIH! Geli Dev!” ucap Gracia sambil mengusap telinganya

“S-sorry,” ucap Deva

“Mau ngapain sih!?”

“B-bukannya kalau kita pegangan tangan gini terus keliatan sama anak 48, bukannya nanti berakibat fatal?”

“Ah…sebenarnya aku punya rencana baru lagi Dev,”

“Eeehh?”

“Aku pikir kita juga harus pura-pura pacaran di sekolah Dev,”

“Heeeeeeeeee!” Deva kaget dengan apa yang dikatakan Gre

“Kenapa gitu!?”

“Semakin banyak orang yang tau soal hubungan kita, mami sama papi juga makin percaya sama hubungan kita ini Dev,” Jelas Gracia

“Eng, I-iya sih…,” pikir Deva

“Jadi…gimana? Kamu mau bantu aku kan?”

“Umm,” Deva pun mengangguk

“Oh iya Gre, makan malamnya jangan sekarang yah please…,”

“Hari ini gw ada acara penting,” Jelas Deva

“Em, iya deh, kalau kamu udah bilang kayak gitu sih…aku ngerti kok,” ucap Gracia

“Huft…sukur deh, gw kira lo gak bakalan ngizinin,”

“Kalau itu bener-bener penting, aku pasti bakal izinin kok,”

Deva mengagguk sambil sedikit tersenyum.

~oOo~

Kreeeng! Kreeeng!

“Pas banget,”

“Untung gak telat,”

“Kan udah dibilang gak bakalan telat,”

“Ya tetep aja kita hampir telat, kalau misalkan ada suatu hal yang terjadi di jalanan, ujung-ujungnya kita bakal berakhir di taman dan rumah cantik, tau?”

“Hem, iya-iya Gre ku sayang,” ucap Deva sambil mencubit pipi Gre

“Jangan cubit-cubit, pipi aku ini gak se-buntet pipinya kak Ve,”

“Yaelah buntet, dikata apaan,”

“Eh Deva,” ucap seseorang di belakang mereka

Lantas Deva dan Gracia pun langsung berbalik, dan seseorang yang menyapa Deva yaitu…

“Sinka,” ucap Deva

“Eeehh….Anu,” Deva seperti gugup di hadapan Sinka

Dengan pandangan yang tertuju ke arah sesuatu di sana, Sinka masih terfokus memperhatikannya. Namun tak lama kemudian Deva yang menyadarinya pun langsung melepas tangan Gracia.

“Eng…aku ke kelas dulu ya, jangan lupa pulang nanti,” ucap Gracia

“Um, I-iya,” balas Deva

Kini hanya tinggal mereka berdua yang ada di depan gerbang sekolah, yang tak lain dan tak bukan yaitu Deva dan Sinka.

“Em, yuk ke kelas,” ajak Deva

“Tunggu sebentar Dev,” Sinka tiba-tiba menahan Deva dengan memegang tangannya

“E-Eh…,” Deva hanya diam sambil memandang wajah Sinka

“Apa ada sesuatu yang mau kamu jelasin, Dev?”

“He-Eh…G-gak ada sin,” Jawabnya dengan gugup

“Um…,” Sinka pun terdiam

“Ah S-Sin, nanti kita telat masuk kelas,” ujar Deva

Sinka hanya mengangguk pelan.

“Ayo,” Deva pun jalan lebih dulu dengan masih memegang tangan Sinka

“Besok jam 9 pagi di depan halte sekolah kita,”

“Eh?” Deva menoleh

“M-Maksud kamu sin?” tanya Deva

“Aku mau kamu temenin aku ke pusat kota besok,” balas Sinka

“Eeeehhh!? M-maksudnya…,”

“Ya, aku mau kita kencan besok,” ucap Sinka memperjelas

*Glek!

Deva yang hanya bisa menelan ludahnya pun menyetujuinya dengan mengangguk pelan. Setelah itu Sinka kini berjalan lebih dulu menuntun Deva disana.

“Tanpa tanya dulu apa besok gw Free atau enggak, dia langsung ngajak kencan gitu aja? Gimana kalau tiba-tiba besok kak Melody lembur!? Gak ada yang jaga rumah nanti!” ucapnya dalam hati

“Uhm…hari ini…,” ucap Sinka tiba-tiba

“Kita pulang bareng ya Dev,” ajaknya

“A-Ah…Sorry sin, aku ada urusan hari ini,” balas Deva

“Hem, yaudah deh. Tapi inget ya, besok…,”

Deva mengagguk.

~oOo~

Jam pulang sekolah pun tiba. Sesuai dengan apa yang direncanakan oleh Deva di awal, ia langsung pergi menemui teman dekatnya yaitu Ihza.

“Cuy nebeng!”

“Buset dah, datang-datang minta nebeng, kan kita gak se-komplek,”

“udah cepetan, hari ini gw mau ke restauran yang tempatnya kayaknya gak jauh dari komplek rumah lu,”

“Hah? Apaan?” tanya Ihza

“Restauran Van Molet,”

“Van Molet? Oh! Yang itu toh, yang nyatu sama hotel ya?”

“Nyatu sama hotel?”

“Iya, emang tuh restauran nyatu ama hotel,” Jelas Ihza lagi

“I-iyaudah penjelesannya nanti aja, buruan ke parkiran!” ucap Deva memaksa

“Huft…oke-oke,”

Mereka pun mulai bergerak setelah Ihza selesai memasukan barang-barangnya. Di sisi lain, seorang gadis tampaknya tengah memerhatikan tingkah laku Deva sedari tadi.

“Uhm! Mau pulang sin?”

“E-Eh Shania,” balasnya

“Ngapain pake sembunyi di balik tembok segala? Lagi ngintip ya?”

“Ah enggak kok!” bantahnya

“Oh iya, gimana soal latihan kemarin? Sukses kan?” ucap Shania dengan tersenyum-senyum

Bahkan alisnya itu terlihat naik turun.

“Um…,” Sinka hanya mengagguk sambil menundukan kepala

“Yah…kok loyo gini sih? Rencananya kurang bagus ya sin?”

Sinka kemudian menggelengkan kepala.

“Maaf shan, aku harus pulang,” ucap Sinka

“E-Eh, yaudah deh hati-hati,” balas Shania

Sementara itu, Deva dan juga Ihza kini berada di luar area sekolahan. Bisa dibilang mereka tengah berada di perjalanan menuju tempat yang dikatakan oleh Deva sebelumnya. Dengan memacu gas motornya sedikit lebih cepat, mereka tampaknya hampir sampai di tujuan.

“Yang ini?” ucap Ihza saat berhenti tepat di depan restauran itu

“Ah masa sih?”

“Yee…lu malah nanya balik,”

“Ya gw juga bingung kale,” ucap Deva lagi

“Terus ngapain dong lu nyuruh gw nganterin kesini,”

“Justru itu, gw pengen tau jawabannya setelah masuk ke dalem,” Deva lalu turun dari motor

“Seriusan lu mau masuk kesana?”

“Yap, Thankyou ye udah nganterin,”

“Hah…gw  gak tau tujuan lu kesini mau apa, tapi…yah, hati-hati di dalem ye,” ujar Ihza juga

Setelah itu, Deva pun langsung masuk ke dalam restauran tersebut.

“Mana lagi nih kak Kinal?”

Ia masih celingak-celinguk melihat ke semua penjuru restauran, sampai suatu ketika ia berjalan dan tanpa sengaja menabrak pelayan yang tengah membawa makanan di tangannya.

*Prank!

“Aaahhh! Sorry mas!”

Lantas Deva pun langsung membantunya.

“Sorry-sorry saya gak sengaja tadi,”

“Waduh…gawat nih,” ucap pelayan itu

“K-Kalau gitu biar saya bantu deh,” ucap Deva menawarkan

“Kebetulan saya kesini juga mau cari kerja kok,” Jelasnya lagi

“Eh, kalau gitu ikut saya ke dapur,” ujar pelayan itu

“B-Baik mas…,”

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_So

Iklan

3 tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 32

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s