Theory of Love

tol

            Panasnya matahari membuat kepala ini pusing. “Seharusnya aku tidak perlu mengikutinya.” Gumam seorang anak laki-laki.

Jalan yang panjang dia lewati agar dia mengetahui tempat tinggal gadis itu. “Sudah sampai kah?” Langkah bocah lelaki itu pun terhenti.

Dia memandang pada sebuah rumah yang sangat besar. Sebenarnya dia tertarik pada seorang gadis yang sangat jenius. Jenius dalam hal seni bukan pelajaran. Gadis itu sangatlah pandai dalam memainkan piano. Dia adalah Ratu Vienny Fitrilya. Fitrilya adalah marga yang sangat terkenal akan kehebatan dalam memainkan alat musik.

Dulu sekali ada seseorang perempuan yang berhasil memenangkan perlombaan violin tingkat internasional dan terkenal kesana kemari. Dia menginginkan keturunanya agar dapat bermain alat musik seperti dia. Setelah anak perempuan itu sudah cukup umur, perempuan itu langsung mengajarkan seni musik kepada anaknya. Dia sangatlah keras kepada anaknya karena dia menginginkan keturunanya seperti dia.

Lelaki itu langsung memanjat pagar rumah itu dari belakang. Dia sangat berhati hati agar tidak ketahuan.

“Sedikit lagi- Yes berhasil!” Ucap bocah itu. Halaman rumah itu sangat luas. Bocah itu sangat takjub dengan luasnya area rumah itu.

Dia memandang sekeliling rumah itu sambil mencari gadis yang dia cari. Lalu dia melihat seorang gadis cilik cantik yang sedang duduk di depan piano.

“Ternyata di lantai 2. Bagaimana aku harus naik?” Ucap bocah laki laki itu. Seketika dia melihat pohon yang agak dekat dengan jendela ruangan itu.

“Ayolah..” Ucap bocah laki-laki itu sambil memanjat pohon. “Oke, sudah sampai diatas!”.

Sekarang dia kebingunan bagaimana cara menarik perhatian perempuan itu. Karena dia seperti termenung memandangi piano yang klasik itu. Kalaupun dia teriak pasti tidak akan terdengar.

Saat dia berpikir dia melihat sebuah apel yang masih muda terletak agak jauh dari tempat dia berada. Dia berpikir untuk melempar apel itu ke jendela dengan pelan agar dia mendapat perhatian perempuan itu. Walaupun begitu, tangan nya tidak sampai ke apel tersebut.

Dia terpaksa agak memajukan tempat dia berada. Saat dia memajukan dia hampir terjatuh. “AAAAH-“ Teriak bocah itu dengan agak kencang  saat dia hampir terjatuh dari pohon apel tersebut.

Walaupun begitu dia berhasil mendapatkan apel tersebut. Saat dia menoleh ke jendela, ternyata perempuan tersebut memandangi bocah laki-laki yang seumuran itu. Bocah laki-laki itu kaget dan hampir terjatuh untuk kedua kalinya.

 

“Kamu.. Siapa?” Tanya perempuan itu setelah membuka jendela kamar.

“Eh… aku..  anu…” Ucap bocah laki-laki itu dengan gugup. “Halo, perkenalkan nama aku Raditya Rivan. Kamu bisa panggil aku Rivan. Aku kelas 6C. Kamu Viny dari kelas 6A kan? Sekolah kita sama kok.” Ucap bocah laki-laki itu dengan semangat.

“Ya aku dari kelas 6A. Tapi Kenapa kamu kenapa disini? Kalau ingin bertamu kan bisa lewat pintu depan.” Ucap perempuan itu.

“Ya… bagaimana ya. Aku hanya ingin bertemu kamu. Walaupun aku berkata kepada orang tuamu untuk bertemu kamu, mungkin tidak dibolehkan.” Ucap bocah itu dengan senyuman yang dipaksakan.

“Kenapa?” Ucap gadis itu kebingungan

“Kenapa ya? Mungkin status keluargaku ini yang jadi masalahnya.” Ucap bocah itu sambil menunduk. “Oh iya kamu jago main piano kan? Tolong main kan 1 lagu untukku dong.” Tambah bocah laki-laki itu.

“EH? Aku tidak jago bermain piano kok. Kata mamaku permainan ku juga buruk.” Ucap perempuan itu sambil menunduk.

“Tapi.. Apakah kamu bahagia?” Perempuan itu kaget untuk kedua kalinya. Dia merasa tatapan bocah laki-laki itu menanyakan apa yang dia rasakan selama ini.

“Suka..” Ucap perempuan itu dengan suara pelan.

“Eh?” Bocah laki laki itu kebingungan.

“Aku suka piano! Aku suka bermain piano! Tetapi kenapa semua nya harus memaksaku untuk menjadi yang terbaik? Itu membuat ku muak! Aku Benci! Benci Orang tuaku! BENCI!” Ucap gadis itu sambil marah dan menangis.

Bocah laki-laki itupun tersenyum dan berkata “Jangan begitu. Bersyukurlah kamu masih mempunyai orang tua mu. Lagian mereka pasti menyayangimu. Ya, kalau kamu emang terpaksa, mending gausah main piano. Lagian sesuatu yang dipaksakan tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik.”

Perempuan  itu pun terkejut dengan perkataan bocah itu dan berhenti menangis. Dia merasa angin sepoi sepoi mengenai mukanya dan suasana damai telah datang. Saat perempuan itu ingin berkata, terdengar teriakan ibunya dari bawah.

“Ups… Sepertinya aku harus pergi. Sampai ketemu di sekolah.” Ucap bocah laki-laki itu sambil menuruni pohon. Lalu bocah itu pun memanjat pagar dan menghilang. Perempuan kecil yang melihat tingkah laku nya hanya tertawa kecil dan bekata “Sampai ketemu lagi..”

[Theory Of Love]

Viny duduk di bangku taman sekolah sendirian. Bisa dibilang Viny tidak mempunyai teman di sekolahnya. Karena memang orang tuanya tidak ingin. Orang tuanya berpikir itu hanya akan mengganggu keseriusan Viny dalam bermain piano.

Saat Viny melamun sambil menghadap ke langit, tiba tiba dia dikejutkan dengan tepukan di pundaknya.

“Eh.. kamu ngapain melamun? Nanti kesambet loh. Hehe..” Tanya Rivan yang langsung duduk disamping Viny.

“Eh.. e-enggak kenapa kenapa kok. Kamu ngapain kesini? Gak ke kantin?” Balas Viny.

“Aku ga punya uang untuk jajan.” Balas Rivan. Viny pun kebingungan dengan jawaban dari Rivan.

“Bawa bekal?” Rivan pun menggeleng.

“Gak laper apa? Nih makan bekal ku aja.” Ucap Viny sambil menyodorkan bekal ke Rivan.

“Gausah. Lagian kata kakak aku jangan ngerepotin orang lain.” Balas Rivan sambil tersenyum.

“Gapapa makan aja. Lagian aku gabakal makan ini. Gaenak ah. Aku gasuka.” Respon Viny sambil menjulurkan lidahnya.

“Kamu jangan gitu. Kasian dong yang udah buat ini susah susah. Yaudah aku makan tapi kamu ikut makan juga. Oke?” Balas Rivan sambil mengacungkan jempolnya.

“Hmm.. yaudah deh tapi aku makan dikit aja. Soalnya aku udah agak kenyang.” Ucap Viny sambil membuka kotak makan itu.

Saat makan bekal tersebut, yang paling banyak makan adalah Viny. Rivan yang memperhatikanya hanya tersenyum kecil melihat tingkah Viny.

“Eh, jangan bengong aja. Makan ayo.” Ucap Viny sambil menyodorkan makanannya ke Rivan.

Rivan akhirnya memakan makanan tersebut walaupun sedikit. Karena dia tahu bahwa Viny menyukai makanannya. Oleh karena itu dia mengalah. Toh bukan bekal dia juga jadi dia makan sedikit aja.

“Oh iya. Kok kamu suka di ejek ejek sih? Emang kamu salah apa?”. Tanya Viny yang penasaran.

Rivan memberhentikan makan nya. “Aku ini orang tidak bercukupan. Kalau kata merka orang ‘miskin’. Jadi ya aku sering dibully mereka.” Balas Rivan sambil menundukan kepalanya.

“Emangnya orang tua kamu kerja apa?” Tanya Viny lagi.

“Aku yatim piatu. Kedua orang tuaku meninggal saat aku masih TK karena kecelakaan. Dulu yang mengurusi hidup aku dan kakakku adalah pamanku. Sekarang kakakku juga ikut bekerja dan ya cukup untuk menghidupi kita berdua.” Balas Rivan dengan agak sedih

“Maaf, seharusnya aku tidak menanyakan itu.” Ucap Viny sambil menunduk.

“Gak apa apa kok.” Balas Rivan dengan senyum.

“Teman-Teman! Lihat ada yang lagi pacaran! Cie cie~” Ucap salah satu murid yang sedang lewat di dekat mereka.

“Ih.. Viny kok makan sama Rivan sih? Mau aja di deketin ama si miskin. Gak pas banget ya?. Hahahahaha” Ucap siswa lain yang ikut memperhatikan mereka berdua.

Mendengar ucapan tersebut, Rivan pun menunduk dan pamit pergi lalu dia berlari menjauhi Viny. Viny pun terkejut melihat tingkah Rivan. Dia langsung menutup kotak makan nya dan mengejar Rivan yang sudah jauh.

Setelah beberapa saat akhirnya Viny menemukan Rivan yang sedang berdiri di pojokan. Viny pun menghampiri Rivan.

“Kamu kenapa pergi sih? Omongan mereka gausah dimasukin hati.” Ucap Viny

“Anu… Gimana ya? Kayaknya kalau aku deket kamu ga pantes deh. Aku kan bukan siapa siapa kamu.” Balas Rivan sambil menggaruk kepalanya.

“Ih kamu ya. Gaboleh gitu. Lagian aku biasa aja kalau dekat kamu. Yaudah kalau begitu sekarang kita berteman oke?” Balas Viny sambil membuat huruf o di tanganya.

“Tapi kamu gapapa kalau dikatain lagi? Aku kan yang ga enak jadinya.” Tanya Rivan sambil menundukan kepalanya.

“Gapapa kok. Kan tadi aku udah bilang. Aku biasa biasa aja kok kalo deket kamu. Kamu juga jangan masukin hati ya. Jadi kita temenan kan?” Balas Viny sambil tersenyum

Rivan pun menaikan kepalanya. Dia tersenyum. “Oke, mulai sekarang kita berteman!” Ucap Rivan dengan penuh semangat.

Semenjak saat itu, mereka sering mengobrol, makan, bahkan belajar bareng. Mereka sangat akrab.

Tapi, semua itu berubah sejak saat perlombaan piano yang akan diselenggarakan sebentar lagi. Ibunya Viny memperketat jadwal latihan Viny.

Viny sendiri diajari oleh ibunya karena ibunya dulu juga seorang pianist. Walaupun begitu Viny dan Rivan tetap berusaha berkomunikasi walaupun sangat jarang.

Rivan selalu menyemangati Viny. Viny pun senang, padahal Viny sebenernya tertekan dengan porsi latihan yang diberikan ibunya. Viny tersiksa. Apalagi kalau dia berbuat salah. Pasti akan mendapat hukuman yang berat.

Hari yang ditunggu telah tiba. Hari dimana Viny akan ikut perlombaan piano. Rivan menyemangati Viny dan berjanji kalau dia menang Rivan akan mengajari Viny semua pelajaran UN. Rivan bisa dibilang sangat pintar.

Viny duduk di ruang tunggu peserta. Sambil menunggu dia mengingat apa yang telah ia pelajari. Dia tidak percaya akan kemampuanya. Bahkan ibunya berkata bahwa permainanya masih buruk. Sebenarnya dia tertekan, tapi dia selalu mengingat Rivan. Mungkin hanya dia yang membuat pikiran Viny tenang.

Saat nama Viny dipanggil dia langsung bergegas menuju panggung. Dia diiringi ibunya ke panggung. Tetapi ibunya tidak boleh masuk panggung jadi dia menunggu di dekat panggung.

Saat ingin memasuki panggung, ibunya berkata, “Kalau kamu gagal dalam perlombaan ini, Kamu harus masuk sekolah musik di luar negri dan ya, kita akan pindah ke luar negri pastinya.”

Viny kaget dan perkataan ibunya menghantui pikiran Viny. Akhirnya dia memasuki panggung dengan tekanan yang sangat berat. Dia gemetar, berkeringat, takut. Viny pun duduk di kursi piano.

Sayang sekali, Rivan tidak bisa ikut menonton karena tiket yang sangat mahal. Viny memulai menggerakan jarinya. Di awal dia dapat bermain dengan lancar walaupun ada sedikit kesalahan. Saat di pertengahan dia mulai berpikir.

“Kalau aku pindah keluar negri, berarti aku tidak bisa menemui Rivan.”  Batin Viny.

“Dan juga aku pasti akan belajar piano terus. Apakah aku akan disiksa lagi? Tidak.. Tidak mau.”

Permainanya mulai kacau. Penonton mulai ribut dengan permainan Viny. Ibunya terlihat kesal dan memukul dinding di dekatnya.Viny tersadar, dia telah mengacaukan permainanya. Ritmenya sudah tidak berirama. Dia mulai ketakutan dan terlihat keluar air mata dari matanya.

Viny mulai menghentikan permainanya. Dia mulai menangis sambil menutup mukanya dengan kedua tanganya.

[Theory Of Love]

“KENAPA VINY? KENAPA? KAMU MENGHANCURKAN PERMAINANYA? KENAPA!?” Bentak Ibu Viny sambil menggoyangkan tubuh Viny.

“Hiks..Hiks” Isak tangis Viny yang masih belum berhenti dari tadi

“VINY? JAWAB!”

“Hiks..Hiks”

“ANAK KURANG AJAR!”

PLAK!

Tamparan mendarat di pipi Viny. Keadaan mulai hening. Semua orang yang ada di lobby itu mulai menatap mereka berdua.

Viny menatap kosong. Lalu ia menengok ke arah ibunya yang kaget karena tidak percaya apa yang telah ibunya lakukan kepadanya.

“Viny.. Mama gak bermak-“

“Mama jahat! Gak pernah ngertiin Viny! Jahat!” Teriak Viny sambil lari keluar gedung itu.

“Viny! Tunggu nak!” Panggil Ibu Viny.

Viny lari sekencang kencang sambil menangis. Ia tak percaya apa yang telah dilakukan ibunya. Dia hanya memikirkan berlari sejauh-jauhnya sampai tak ada yang menemukanya.

“AKU BENCI SEMUA!”

[Theory Of Love]

Terlihat seorang perempuan dan bocah lelaki sedang berteduh di pinggir jalan. Ya, hujan deras membasahi dataran bumi ini.

“Duh, hujan segala.” Keluh bocah itu.

“Iya nih. Deres lagi. Jadi harus neduh kan.” Jawab perempuan itu.

“Kak Yona emang gabawa payung?” Tanyanya

“Eh? Oh iya. Bawa tadi. Hehe.” Jawab perempuan bernama Yona itu.

“Heleh kak kak. Gimana si.”

“Maapin kakak ya Rivan adekku lucu. Yuk pulang.” Ucap Yona sambil membukakan payungnya.

“Kuy hal.” (Yuk lah)

Mereka berdua akhirnya berjalan dibawah payung itu. Mereka berbincang. Kadang kadang mereka tertawa karena bocah itu berkata sesuatu yang lucu.

“Eh kak. Itu siapa?” Tanya bocah itu.

“Iya ya? Samperin bentar yuk.”

Mereka berdua melihat seorang anak kecil yang duduk dipinggir jalan. Dia dibasahi oleh hujan yang deras, tidak meneduh. Dia terlihat menangis.

“Halo dek, ngapain disini?” Tanya Yona.

Bocah perempuan yang tadinya menunduk langsung mengangkat kepalanya dan melihat mereka berdua. Tiba tiba bocah itu langsung memeluk Yona. Yona kaget begitu juga dengan adiknya.

“Viny? Kamu ngapain disini?” Tanya Rivan.

Tetapi Viny tidak menjawab. Dia melanjutkan tangisanya yang semakin menjadi-jadi.

“Udah kita bawa kerumah dulu. Kasian dia kehujanan.” Ucap Yona sambil melepaskan pelukan Viny.

“Oke. Vin ke rumahku yuk.” Ajak Rivan.

Viny hanya mengangguk dan tangisanya pun reda. Akhirnya mereka bertiga pulang kerumah.f Ah, hari yang berat.

[Theory Of Love]

Saat sudah sampai rumah mereka, Viny terkejut karena rumahnya tidak besar. Rumah itu kecil. Lalu mereka bertiga masuk ke rumah itu.

“Maaf ya rumahnya kecil.” Ucap Yona sambil mengambil handuk di kursi ruang tamu.

“Gapapa kok kak.”  Balas Viny sambil tersenyum

“Nih Vin. Punya kakaku. Lumayan lama sih tapi masih muat kayaknya.” Ucap Rivan sambil menyodorkan baju dan rok.

“Makasih ya.”

“Rivan. Itu kayaknya kegedean deh.” Ucap Yona.

“Kan badan kakak emang gede.”

“Kamu ya. Sini!” Ucap Yona sambil menggelitiki adiknya.

“HAHAAHAHAHA! AMPUN KAK!”

Viny hanya tersenyum melihat tingkah laku adik dan kakak itu.

“Hihi.”

Viny menceritakan mengapa ia bisa sendirian dipinggir jalan saat hujan. Rivan dan Yona yang mendengar menjadi bersedih. Viny berkata bahwa ia tak ingin kembali ke rumahnya. Yona terlihat bingung tapi akhirnya dia menyutujuinya untuk “Sementara”.

[Theory Of Love]

Sudah 2 hari Viny menginap di rumah Rivan dan Yona. Dia mulai terbiasa dengan kehidupan sederhana. Cepat sekali dia beradaptasi dan menurutnya hidup seperti ini sangatlah menyenangkan daripada hidup menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak penting.

Malam hari mereka dikejutkan dengan kedatangan mobil hitam mewah yang berhenti di depan rumah Rivan dan Yona. Yona yang penasaran langsung menyambut tamu yang tidak diduga itu di depan rumah.

“Maaf, apakah ini rumah Rivan? Temanya Viny di sekolah?” Tanya seorang ibu yang keluar dari mobil itu.

“Ya, benar. Saya kakaknya. Ada keperluan apa ya bu?”

“Begini, saya ibunya Viny. Sudah 2 hari Viny tidak pulang ke rumah. Apakah Viny mampir kesini?”

Yona diam sebentar lalu menghela nafas. Dia mulai berfikir apa yang harus dia jawab. Akhirnya dia memutuskan untuk mengajak masuk ibu itu.

Viny yang tahu ibunya datang langsung bersembuny di kamar bersama Rivan sambil menguping apa yang Yona dan Ibunya bicarakan.

“Maaf ya rumahnya kecil dan minumanya cuma ini.” Ucap Yona sambil duduk di ruang tamu.

“Tidak apa-apa.”

“Jadi, saya memang tahu Viny bu. Rivan sering cerita. Memangnya alasan dia sampai kabur begitu? Bukan maksud ikut campur bu. Mungkin saya bisa membantu.” Tanya Yona.

“Tidak apa-apa kok. Saya juga bingung sebenernya. Jadi ya, Saya ini kan seorang pianist dan saya menginginkan keturunan saya itu juga mengikuti jejak karir saya. Dan saat suatu perlombaan sepertinya saya terlalu mengancamnya.” Jawab Ibu Viny.

Yona akhirnya bisa tahu dengan jelas alasan Viny kabur dari rumahnya.

“Saya juga berbuat kasar kepada Viny. Saya memang keterlaluan. Saya sadar. Saat saya ingin meminta maaf dia langsung berlari.” Ibunya Viny mengambil minuman dan meminumnya sedikit.

“Saya dulu punya teman. Dia dekat sekali dengan saya. Singkat cerita teman saya dipaksa orang tuanya untuk menjadi dokter. Tetapi dia menolak karena dia ingin menjadi penyanyi. Karena tekanan dari kedua orang tuanya dia memutuskan untuk bunuh diri.”

Yona kaget dengan cerita ibunya Viny. Viny dan Rivan yang mendengarnya di kamar juga kaget.

“Jadi saya tidak ingin Viny seperti itu. Saya tidak ingin menjadi ibu yang jahat. Saya ingin meminta maaf. Saya masih sayang dengan Viny. Aduh maaf ya jadi curhat begini.” Ucap ibunya Viny sambil menyeka air mata yang keluar.

“Gapapa bu. Saya jadi mengerti dan saya juga ingin membantu ibu.” Balas Yona sambil tersenyum.

“Terimakasih.”

Viny yang mendengar ucapan ibunya langsung terdiam menunduk. Dia merasa bersalah walau bukan sepenuhnya salahnya. Viny tiba tiba langsung berdiri dan keluar dari kamar. Rivan yang tadi ingin menghentikan Viny tapi dia sudah terjatuh karena kaget.

“Mama…” Panggil Viny dengan pelan.

Yona dan ibunya Viny langsung menengok kearah sumber suara. Betapa kagetnya ibunya Viny saat melihat anaknya.

“Viny!” Panggil ibunya Viny sambil berlari menuju Viny.
“Mama!”

Mereka berdua akhirnya berpelukan dengan sangat erat sambil menangis.

“Maafin mama ya. Mama udah jahat sama kamu. Maafin mama ya.”

“Yang salah itu Viny ma. Maafin Viny ya udah kabur dari rumah.”

Yona dan adiknya yang melihat itu tersenyum memandang rasa kasih sayang ibu dan anaknya.

Setelah itu Viny dan ibunya pamit pulang. Sebelum pulang Yona meminta maaf karena tidak memberitahu keadaan dan posisi Viny kepada ibunya Viny.

“Tidak apa. Terimakasih ya telah menjaga Viny dan menjadi teman curhat saya.”

“Sama-sama bu.” Jawab Yona.

Saat ingin memasuki mobil, tiba tiba Viny menghampiri Rivan.

“Rivan. Kamu masih mau belajar bareng kan? Buat UN.” Tanya Viny.

“Tenang aja. Aku pasti ajarin kamu. Lagian apaguna ilmu kalau tidak dibagikan.” Balas Rivan.

“Makasih ya.” Ucap Viny yang sambil memasuki mobil.

“Kami pamit dulu ya. Kalian kapan kapan mampir ke rumah Viny ya.” Ucap ibunya Viny.

“Iya bu.” Jawab Yona.

Ibunya Viny tersenyum dan memasuki mobil. Mobil itu akhirnya berjalan menjauhi rumah Yona dan Rivan. Rivan yang dari tadi memandang mobil itu tiba tiba terkejut melihat kepala Viny yang keluar dari jendela mobil.

“Besok aku kerumah kamu ya!” Teriak Viny sambil menggoyangkan tanganya.

Rivan hanya tersenyum dan berkata “Oke!”

Yona tertawa kecil melihat tingkah adiknya dan temanya itu. Akhirnya mereka memasuki rumah mereka dan tidur.

[Theory Of Love]

Seperti yang dikatakan Viny, dia akan mengunjungi Rivan di rumahnya. Bukan hanya sekali dua kali, hampir setiap hari Viny datang kerumah Rivan. Kadang untuk bermain atau belajar bersama. Ibunya Viny tidak keberatan begitu juga dengan Yona. Viny dan Rivan juga sering belajar di sekolah walaupun masih diejek.

Saat hari UN tiba, Rivan memberikan semangat ke Viny. Rivan telah mengajarkan banyak hal sampai tips-tips mengerjakan soal yang susah. Viny yakin akan kemampuanya.

Saat mengerjakan soal, Viny mengerti hampir semua soal yang dilihat. Itu semua berkat Rivan. 3 hari telah berlalu. Hari hari menegangkan itu akhirnya telah dilewati.

Akhirnya Rivan bisa bermain bersama Viny kerumahnya. Mereka sudah sangat akrab. Rivan sangat takjub dengan seisi rumah Viny. Dia merasa malu berkunjung kerumah Viny karena status keluarganya yang sudah sangat terkenal. Tetapi ibunya Viny malah senang dengan kedatangan Rivan. Dia bahkan menyuruh untuk sering sering bermain kerumahnya.

Hari yang ditunggu telah tiba. Hasil UN akhirnya keluar. Terlihat raut muka sedih dan bahagia dari para siswa. Rivan ternyata mendapatkan nilai tertinggi di sekolahnya disusul oleh Viny. Mereka berdua senang dan akhirnya mereka mendaftar ke salah satu SMP negri favorit. Akirnya mereka akan menjadi anak SMP.

[Theory Of Love]

Saat hari libur, pagi-pagi Viny datang kerumah Rivan.Viny disambut oleh Yona lalu dia duduk di ruang tamu sambil menunggu Rivan. Rivan yang datang sambil membawa kemasan susu langsung duduk disebelah Viny.

Mereka mengobrol tentang masalah sekolah. Terkadang Rivan membuat Viny tertawa karena Rivan berkata tentang hal yang lucu. Lalu tiba-tiba Rivan bertanya kepada Viny.

“Vin, kamu kenapa gak les piano lagi?” Tanya Rivan sambil meminum susu kemasan.

“Emm.. Aku udah gadisuruh les lagi sama mama. Katanya kalau aku gamau belajar piano lagi mama gak maksain.” Balas Viny sambil menggoyangkan kakinya.

“Tapi.. Kamu masih suka bermain piano kan? Kalau masih suka belajar aja lagi.”

“Ya masih suka sih. Kalaupun aku belajar lagi, guru les ku udah pindah keluar negri. Mama juga sibuk dengan kerjaanya jadi aku gak mau mengganggu.”

Rivan hanya manggut manggut saja. Tiba-tiba Yona datang menghampiri mereka berdua karena mendengar sesuatu yang menarik.

“Viny, kamu masih mau belajar piano?” Tanya Yona.

“Emm… Iya kak. Cuma aku bingung nyari gurunya. Kalau yang lain takut gak percaya.” Jawab Viny.

“Oh… Oh iya! Kakak punya temen. Dia jago banget main piano. Kebetulan dia juga buka kursus piano. Gak jauh dari sini.” Teriak Yona.

“Gak usah teriak kak.” Ucap Rivan yang menutup kedua telinganya.

“Hehe. Maaf dek. Jadi gimana Vin? Mau?” Tanya Yona kepada Viny.

“Emm… Nanti aku tanya mama dulu ya. Kalau dibolehin aku mau deh.” Balas Viny.

“Oke nanti kabarin aja ya.” Ucap Yona sambil mengacungkan jempolnya.

Akhirnya mereka bertiga mengobrol hal lain sampai tak terasa waktu telah menunjukan pukul 11 siang. Akhirnya Viny pamit karena nanti dia ada acara.

[Theory Of Love]

Esok harinya saat jam istirahat, Viny dan Rivan duduk berdua di taman sekolah seperti biasa. Mereka berdua sudah seperti sebuah pasangan. Walaupun mereka berbeda kelas tetapi mereka selalu terlihat bersama.

“Viny! Kamu masih suka deket deket ama Rivan? Ih jijik deh.”

“Vin, sadar dong. Rivan gapantes deket ama lu!”

“Viny kamu kenapa suka deket ama Rivan sih? Kalo aku sih no ya.”

Seperti itulah ejekan teman sekolahnya kepada Rivan. Viny sudah memberitahu Rivan bahwa kata-kata itu jangan dimasukan hati. Walaupun sulit, tetapi Rivan sudah bisa menerima dan menghiraukanya.

“Eh Rivan.” Panggil Viny.

“Hm?” Rivan menoleh.

“Kemarin aku udah tanya mama. Katanya boleh aku les di tempat temen kakakmu itu. Tapi syaratnya aku harus dianter dan dijemput setiap mau les sama supir aku.” Ucap Viny.

“Wah bagus dong.”

“Tapi..” Viny menundukan kepalanya.

“Ada masalah?”

“Kamu aja yang anter sama jemput ya. Aku males sama supir. Naik mobil mulu. Pusing tau gak?” Pinta Viny.

“Gimana ya. Aku sih mau aja. Cuma dibolehin gak ama mama kamu?” Tanya Rivan sambil menggarukan kepala.

“Tenang aja pasti boleh. Nanti aku minta sama mama deh.”

“Yaudah. Nanti aku tanya kak Yona dulu kapan mulainya.”

“Hehe. Makasih ya.” Viny tersenyum.

Rivan yang melihatnya langsung salah tingkah.

“E-eh. Iya. Sama sama.” Balas Rivan sambil membuang wajahnya.

Viny yang melihat tingkah Rivan langsung tertawa kecil. Rivan malu akan tingkahnya dan menghiraukan tawa Viny.

Keesokan harinya, Viny memberitahu bahwa Rivan diizinkan untuk mengantar dan menjemput Viny. Rivan juga mengabarkan bahwa Viny sudah terdaftar dan akan memulai lesnya minggu depan.

Sebenarnya, Rivan tidak keberatan untuk mengantar dan menjemput Viny, tetapi dia kasihan melihat Viny jalan kaki dari sekolah ke tempat les lalu pulang ke rumahnya. Sebenarnya, itulah yang Viny inginkan. Dia ingin hidup sehat dengan berjalan kaki. Rivan hanya bisa menyutujuinya.

Minggu depanya, saat pulang sekolah Viny langsung pergi ke tempat les bersama Rivan. Rivan mengantarnya dan saat sampai, Rivan menunggu di luar tempat les karena tidak ingin mengganggu.

Saat Viny bertemu dengan guru lesnya, alangkah terkejutnya guru les Viny. Ternyata yang dimaksud adalah Viny dari keluarga Fitrilya. Dia merasa terhormat bisa mengajari Viny dan akan berusaha keras.

Seperti biasanya, Saat mereka berdua telah pulang sekolah, Rivan langsung mengantarkan Viny ketempat les.

Suatu hari pada saat Viny memainkan piano di tempat les, gurunya langsung menyuruh Viny untuk memberhentikanya. Dia duduk disamping Viny.

“Viny, jujur saja. Kakak mendengar permainan kamu dari kemarin memang bagus. Tetapi ada rasa hambarnya. Seperti tidak ada tujuan.” Ucap guru les Viny.

“Kalau kakak boleh bertanya, kenapa kamu bermain piano?”

“Karena aku suka piano.” Jawab Viny.

“Suka dari segi apa?”

“Lantunan nadanya mungkin? Itu sangat indah dan aku ingin memainkanya.”

Gurunya langsung menghela nafas. Dia memandang Viny dan menepuk pundaknya.

“Viny, lantunan nada piano memanglah indah. Semua orang pasti suka dengan itu. Yang kakak tanya kenapa kamu bermain piano? Lebih tepatnya untuk apa atau untuk siapa?” Tanya gurunya kembali.

Viny terdiam. Dia memang tidak tahu tujuan kenapa dia bermain piano. Mungkin itulah alasanya kenapa dia permainanya masih kurang sempurna.

“Tidak ada? Kalau tidak ada, sekarang tentukanlah!” Seru gurunya.

Viny menunduk. Dia berpikir mengapa dia ingin bermain piano. Yang dia tahu dia ingin bermain piano karena ingin mendengar lantunan nada yang dia mainkan sendiri.

Tetapi, untuk siapa?

Viny menutup matanya. Dia memikirkan orang orang yang selalu ada disisinya. Akhirnya Viny tersadar bahwa dia ingin menunjukan permainanya kepada orang yang dia kenal dan dia sayang. Terutama Rivan, karena dia pernah meminta memperlihatkan permainanya tetapi sampai sekarang ia belum pernah menunjukanya.

“Aku sudah tau kak! Aku ingin memperlihatkan permainanku untuk orang yang ku kenal dan ku sayangi. Aku ingin mereka mendengar isi hatiku lewat lantunan nada yang ku mainkan!” Ucap Viny dengan semangat.

Gurunya pun tersenyum. “Kalau begitu, ketika kamu bermain piano, ingatlah semua orang yang kamu kenal dan kamu sayangi. Keluarkan lah semua isi hatimu dari permainanmu agar mereka bisa mendengar isi hatimu!”

Viny akhirnya mengerti kenapa dia masih susah merasakan nada nada di piano. Sekarang dia punya tujuan! Sekarang saat dia mencoba bermain piano, nada nada yang keluar bisa dia rasakan.

Viny pamit pulang kepada guru lesnya. Ia tak lupa berterimakasih karena telah membantu menemukan tujuanya.

Saat keluar dari tempat les, Viny melihat Rivan yang duduk di kursi sambil menatap langit. Viny berniat mengagetkanya tetapi tidak jadi karena Rivan telah menyadari keberadaan Viny.

“Udah selesai?” Tanya Rivan.

“Udah dong. Ayok pulang. Udah mau gelap.” Ajak Viny sambil berjalan duluan.

Rivan beranjak dari kursi dan menyusul Viny. Di perjalanan mereka berbincang bincang dan terkadang juga tertawa. Akhirnya mereka sampai pada Rumah Viny.

“Oh iya, hampir lupa!” Viny merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak.

“Ini Hp buat kamu. Biar kita bisa komunikasi walau jauh.” Ucap Viny sambil menyodorkan Kotak Hp tersebut.

“Eh. Gausah. Lagian gapake Hp kan kita juga bisa ketemu.” Tolak Rivan.

“Ih jangan gitu! Ini disuruh mama juga! Kan kalau aku pergi masih bisa ngobrol ama kamu.”

Rivan hanya terdiam. Dia kebingungan harus berbuat apa. Viny semakin menjadi jadi. Dia terus menyodorkan kotak Hp tersebut. Akhirnya Rivan menerimanya.

“Nah gitu dong. Coba buka deh. Aku ajarin cara makenya.”

Rivan membuka kotak tersebut dan menyalakan Hpnya. Viny langsung mengajari cara cara menggunakanya.

“Oh gitu. Hebat ya jaman sekarang.” Ucap Rivan.

“Nah tadi nomor aku udah kamu save. Nanti kamu kirim SMS aja.” Ucap Viny sambil menunjukan Hpnya.

“Hp kita sama kan. Bedanya kamu warna biru aku pink. Hehe.” Lanjutnya.

Rivan tersenyum dan tidak lupa mengucapkan terimakasih. Rivan pamit pulang. Viny berkata bahwa dia harus mengirimkan SMS saat sudah sampai di rumah. Rivan mengangguk dan dia pergi pulang kerumahnya.

Saat sudah sampai rumah terlihat Yona sedang tiduran di sofa ruang keluarga.

“Eh adekku udah pulang. Itu kotak apaan?” Tanya Yona sambil menunjuk kotak yang dimaksud.

“Ini Hp. Dikasih Viny tadi. Maksa banget dia. Daripada ribet mending diterima aja.”

“Oh. Jadi sekarang bisa sering ngobrol deh. Cie.” Goda Yona.

“Apasih kak. Lebay deh.” Ucap Rivan sambil memasuki kamarnya.

Rivan lalu teringat dengan ucapan Viny. Dia langsung mengirimkan pesan kepada Viny. Walau masih bingung dia berhasil mengirimkan pesanya.

Rivan : Udah pulang sist.

Viny : Siap gan. Jangan lupa makan.

Rivan : Sip.

Setelah itu Rivan langsung mematikan Hpnya. Karena kata Viny Hp itu tidak boleh boros baterai jadi dia mematikanya agar hemat. Setelah itu Rivan langsung melanjutkan aktivitasnya.

Waktu menunjukan pukul 21:48. Rivan sudah terbaring di kasurnya. Setelah belajar dia biasanya langsung tidur. Entah mengapa malam ini dia tidak bisa langsung tidur. Selama 40 menit dia menatap langit langit kamarnya. Lalu dia kesal karena tidak bisa tidur.

Pandangannya tertuju kearah Hp barunya. Sebenarnya dia tidak ada niat untuk membuka Hpnya, tetapi karena tidak ada kerjaan dia memutuskan untuk sekedar mengecek Hpnya.

“8 Misscall, 24 New messages.”

Itulah tulisan yang muncul sesaat setelah dia membuka Hpnya. Yang menelpon dan mengirim pesan itu tidak lain dan tidak bukan yaitu Viny. Karena hanya Viny satu satunya kontak yang terdaftar di Hp Rivan.

Baru saja Rivan ingin membalas pesan itu, Tiba-tiba ada panggilan masuk. Segera saja dia menjawab panggilan.

“Halo Vi-“

“KENAPA BARU JAWAB!?” Terdengar teriakan seorang perempuan.

Rivan langsung menjauhkan Hp tersbut dari telinganya.

“Ya.. Kan dimatiin. Biar hemat.” Balas Rivan.

“Gausah dimatiin juga kali Rivan.”

Ya, Rivan sangat gaptek.

“Oh iya, besok kamu anter aku ya. Kayak biasa.” Pinta Viny.

“Tenang aja Vin.”

“Takutnya kamu lupa. Makanya diingetin.”

“Gausah diingetin juga inget kok. Kan emang itu kerjaan aku.”

“Hehe.” Viny tertawa kecil.

Akhirnya mereka mengobrol sepanjang malam dan sudah tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 23.49 malam.

“Eh Vin. Udah malem. Besok sekolah.”

“Eh iya. Yaudah sampai jumpa besok ya. Jangan lupa anter aku.”

“Iya santai aja.”

Klik

[Theory Of Love]

Singkat cerita, mereka berdua sudah naik ke kelas . Dan sebentar lagi akan ada kompetisi piano yang lumayan besar. Viny sudah memutuskan untuk ikut kompetisi tersebut. Dia sudah sangat yakin dengan kemampuan bermain pianonya.

Viny juga sudah meminta saran kepada Gurunya, Mamanya, Rivan dan yang lain. Mereka semua setuju dan mendukung keputusan Viny. Viny pun menjadi semangat dan berusaha keras untuk permainanya di kompetisi tersebut.

Suatu sore saat pulang sekolah, Viny dan Rivan sedang berjalan pulang. Seperti biasa, Rivan mengantar Viny pulang dahulu. Saat perjalanan tiba tiba Rivan bertanya sesuatu.

“Vin, kamu yakin kan dengan keputusanmu?”

“Yakin lah. Lagian kamu juga setuju.” Balasnya.

“Aku mau ngomong sesuatu.” Rivan menghentikan langkahnya.

Viny yang berada didepan juga menghentikan langkahnya dan menengok kebelakang.

“Semua itu ada prosesnya. Berhasil atau enggak itu tergantung usaha kamu. Usaha keras itu takkan mengkhianati. Jadi kalau kamu gagal berarti usaha mu kurang keras.”

Viny tertegun mendengar ucapan Rivan.

“Tapi tenang aja. Usaha kamu itu udah keras. Karena aku saksinya. Jadi tunjukan yang terbaik.” Rivan melanjutkan langkahnya.

Viny pun tersenyum dan tertawa kecil. Lalu dia menyusul Rivan yang berada didepan.

“Akan aku buktikan.”

Mereka pun melanjutkan perjalanan pulangnya ditemani oleh sinar matahari saat sore.

[Theory Of Love]

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hari dimana Viny akan memperlihatkan kemampuan bermain pianonya didepan banyak orang.

Viny sudah mengajak Rivan dan Yona untuk datang dan menonton dan untungnya mereka berdua bisa ikut dikarenakan hari tersebut hari libur. Sayang sekali, ibunya Viny tidak bisa datang karena urusan kerjaan.

Viny masih bersiap-siap selagi menunggu peserta lain. Dia tampak gugup. Gurunya yang menemani Viny dibelakang panggung berusaha menyemangatinya.

“Tenang aja Viny. Jangan gugup. Ingat semua yang telah kamu pelajari dan tujuan kamu. Ingat!”

Viny tersenyum dan mengacungkan jempolnya.

Di bangku penonton, terlihat Rivan dan Yona sedang membicarakan sesuatu.

“Walaupun bukan kompetisi besar tapi penontonya banyak juga ya.” Ucap Rivan.

“Iya. Kakak dengar katanya yang menang di kompetisi ini bisa diundang ke kompetisi tingkat nasional. Pastinya reputasinya naik.”

“Oh gitu ya. Eh kak. Itu Viny!” Rivan menunjukan jarinya ke arah Viny.

Setelah permainan peserta yang lain selesai, Viny masuk ke panggung. Dia membungkukan punggungnya dan mulai berjalan ke tempat duduk piano.

“Oke Viny. Fokus. Ingatlah semua yang pernah kamu ajari dan tujuanmu. Oke. Fokus.” Batin Viny.

Viny mulai memainkan piano tersebut. Dia memulainya dengan baik. Semua penonton disana fokus mendengarkan permainan nada tersebut.

Sampai ini, permainanya masih bagus. Bahkan bisa dibilang sempurna. Semua penonton terasa terhipnotis dengan permainanya Viny. Termasuk Rivan dan Yona yang terkesima dengan permainannya.

Setelah permainannya berakhir, semua penonton langsung menepuk tanganya bahkan ada beberapa penonton yang melakukan Standing Applause dikarenakan permainan tersebut sempurna.

Viny akhirnya bisa bernafas lega. Dia merasa berhasil. Dia lalu membungkukan tubuhnya lagi dan meninggalkan panggung.

Dibelakang panggung, Gurunya seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia langsung berlari menuju Viny dan memeluknya.

“Viny. Permainan kamu sangat sempurna. Kakak sangat bangga bisa mengajari kamu. Terimakasih.”

“Ih kakak. Aku yang harusnya berterimakasih. Makasih ya kak udah ngajarin aku.” Viny membalas pelukan Gurunya.

Saat yang menegangkan telah tiba. Pengumuman pemenang. Terlihat ada beberapa peserta tadi berdiri diatas panggung. Mereka penasaran mendengar siapa yang akan menjadi pemenangnya.

Rivan dan Yona yang duduk dibangku penonton pun penasaran dengan hasilnya.

“Pemenang dari kompetisi ini adalah….”

.

.

.

.

“Ratu Vienny Fitrilya!”

Semua penonton bersorak. Begitu juga dengan Rivan dan Yona. Mereka semua merasa kagum dengan permainan Viny dan menginginkan Viny yang menjadi juara.

Viny sendiri terkejut dan langsung menangis. Dia tidak percaya bahwa dia bisa memenangkan kompetisi ini. Viny menerima sebuah piala dan sertifikat. Dia diminta berfoto bersama ketua penyelenggara kompetisi tersebut.

Setelah berfoto, ketua memberikan selamat dan juga penutup untuk kompetisi ini. Setelah menutup acara , penonton mulai berpergian begitu juga dengan peserta.

Diluar gedung, Rivan dan Yona menghampiri Viny dan gurunya yang sedang menunggu mereka.

“Wih menang nih.” Ucap Rivan.

“Hehe. Udah aku buktiinkan kalo aku bisa.” Viny tersenyum sambil memamerkan pialanya.

“Iya iya. Pinter banget Inyi. Ih lucu deh.” Yona memeluk Viny.

“Hehe makasih kak.”

Rivan dan gurunya Viny pun tertawa melihat kelakuan mereka berdua.

“Oh iya kak. Nanti malem ke rumah aku ya. Mau ada makan makan.” Ajak Viny.

“Waduh Vin. Kakak gabisa. Ada urusan diluar kota nanti malem. Mungkin lain kali.” Balas gurunya Viny.

“Yah, yaudah deh. Kalau Rivan ama Kak Yona bisa kan?”

“Bisa kok.” Ucap mereka berdua.

“Oke ditunggu ya.”

Gurunya Viny mendapat panggilan dan langsung menjawabnya. Sepertinya ada urusan mendadak.

“Viny, kakak pergi dulu ya. Selamat ya jadi juara.”

“Iya makasih kak. Hati hati dijalan ya.”

Gurunya Viny mencium kening Viny dan berpamitan kepada mereka bertiga.

“Rivan, kak Yona pulang nya bareng aku aja. Ada supir aku.”

“Aduh jadi ngerepotin. Makasih ya.” Yona menggaruk kepalanya.

“Gapapa kok kak. Ayok pulang.”

Mereka bertiga menuju mobil dan pulang kerumah.

[Theory Of Love]

Di sekolah, Viny menjadi sangat terkenal. Bagaimana tidak? Media seperti koran, televisi sudah mengenalkan nama Ratu Vienny Fitrilya.

Di sekolah, Viny didekati banyak orang. Bahkan ada yang jatuh cinta kepadanya. Maupun itu cowok atau cewek. Dia sudah masuk kalangan kelas atas dan teman temanya pun juga termasuk kelas atas.

Bukan hanya terkenal dengan sebutan “Pianis Jenius”. Dia juga terkenal dengan kecantikanya. Bahkan dia sempat ditawari untuk datang ke salah satu acara di televisi. Tentu saja dia setuju dengan tawaran tersebut.

Bagaimana dengan Rivan?

Rivan masih menjadi teman dekat Viny. Mereka masih jajan bersama, pulang bersama. Walaupun sibuk Viny dan Rivan masih menjadi teman baik.

“Vin, kamu itu artis. Gausah deket ama Rivan lagi.”

“Viny cantik. Rivan itu miskin. Gak pantes buat kamu.”

Tetap sama. Ejekan untuk Rivan dari teman temanya Viny. Pernah suatu hari, kelompok fanatik Viny mengeroyok Rivan di belakang sekolah. Alasanya ya begitu, “Karena tidak pantas dekat bersama Viny.” Untung saat itu ada guru yang datang dan menghentikan mereka.

Walaupun sibuk, Rivan masih mengajari Viny pelajaran-pelajaran yang tak ia mengerti. Rivan pernah berpesan kepada Viny.

“Pendidikan itu penting. Jangan sampai ketenaranmu lupa dengan pendidikan.”

Viny hanya meng-iyakan saran Rivan. Viny merasa pendidikan sudah tidak penting jika kamu sudah sukses.

[Theory Of Love]

Seperti yang pernah dibicarakan, Pemenang dari kompetisi tersebut akan diundang untuk mengikuti kompetisi tingkat nasional.

Pada saat kenaikan kelas 9, Viny diundang untuk mengikuti kompetisi tingkat nasional. Tentu saja Viny senang. Dia sangat rajin berlatih piano bersama gurunya. Dia menargetkan untuk memenangkan kompetisi tingkat nasional.

Sebenarnya, Rivan tidak setuju. Karena mereka sudah kelas 9 dan harus fokus untuk UN nanti. Tetapi apa daya. Rivan tidak bisa menolaknya dan ini juga merupakan kompetisi tingkat nasional. Rivan memutuskan untuk mendukungnya.

Di sore hari. Masih seperti biasanya, Rivan mengantar Viny ke sekolah, saat pulang menemaninya ke tempat les dan menunggunya. Lalu setelah selesai les, Rivan mengantarnya pulang.

“Rivan.” Panggil Viny.

“Ya?” Balas Rivan.

“Kamu ga bosen apa nemenin aku terus?” Tanya Viny.

“Engga sih. Emang kenapa?”

“Ya soalnya, setiap hari nemenin aku gitu. Kalau kamu bosen gausah nemenin aku juga gapapa.”

Rivan terdiam dengan ucapan Viny. Dia kaget.

“Vin.”

“Y-ya?” Viny menengok ke arah Rivan

“Aku ini ikhlas nemenin kamu. Gaada beban. Apa kamu nganggep aku ini pengganggu?” Rivan bertanya dengan nada serius.

“Eh? Engga sema sekali. Aku malah seneng kok. Masih ada yang mau nemenin aku saat aku berusaha keras.”

Rivan tersenyum lalu mendekati Viny.

“Kalau gitu, latihan yang rajin. Dan jangan lupa belajarnya.” Rivan mengelus kepala Viny.

“Iya iya.” Viny memanyunkan bibirnya.

Lalu mereka berdua melanjutkan perjalanan pulang.

[Theory Of Love]

Hari dimana kompetisi tingkat nasional diselenggarakan pun tiba. Berbeda dengan kompetisi-kompetisi sebelumnya. Kompetisi ini diselenggarakan di gedung yang sangat besar.

Untuk mendapatkan tiket nontonya pun sangat mahal dan susah. Untungnya Viny dapat membelikan Rivan tiket nontonya. Sedangkan Yona sibuk dengan kerjaanya.

“Wah besar juga tempatnya.” Rivan melongo melihat aula besar didalam gedung.

“Iya ya. Besar banget. Eh, aku udah harus masuk backstage. Kamu duduk disana kan?” Viny menunjuk tempat yang agak jauh.

“Iya ini di tiketnya ada tulisanya kok. Yaudah ke backstage sana. Inget ya. Fokus.”

“Doain aku ya. Dah~” Viny melambaikan tanganya lalu pergi meninggalkan Rivan.

Rivan tersenyum dan melambaikan tanganya. Lalu dia berjalan menuju tempat duduk yang tertulis di tiketnya. Saat sampai, dia langsung duduk manis dan menunggu acara segera dimulai.

Selagi menunggu acara dimulai, Rivan membuka Hpnya dan mengirimkan pesan semangat ke Viny. Dia berharap agar Viny tidak grogi dan lancar dalam memainkan piano tersebut.

Di backstage, Viny terlihat sangat gugup. Dia tidak bisa berhenti berjalan. Tiba tiba ada pesan masuk.

Ratu Vienny, Jangan grogi. Dibawa santai aja. Lagian udah berusaha keras kok. Usaha keras takkan mengkhianati. Semangat~

Viny tertawa kecil melihat pesan tersebut. Lalu dia menjawab pesanya.

Makasih ya. Aku semangat kok. Hehe 🙂

Grogi Viny pun sudah mulai hilang. Lalu dia mengingat kembali tentang apa yang telah dia pelajari.

Tiba-tiba cahaya di aula tersebut mulai meredup dan membuat aula tersebut menjadi gelap. Pertanda bahwa acara ini akan segera dimulai. Rivan lalu duduk tegap dan mulai memerhatikan panggung.

Dimulai dengan pembuka setelah itu sambutan, lalu disusul dengan peserta pertama. Peserta pertama tersebut memberi salam lalu mulai berjalan menuju tempat piano tersebut.

Dia memainkan piano tersebut dengan halus. Semua penonton terhipnotis mendengar lantunan nadanya. Termasuk Rivan. Memang benar, yang bermain di kompetisi ini bukanlah orang biasa. Melainkan profesional.

Setelah selesai bermain, Para penonton bertepuk tangan. Mereka semua takjub dengan. Peserta tersebut memeberi salam lagi dan menuju ke backstage.

Tidak mau kalah, peserta yang lain juga menunjukan bakatnya. Semua penonton merasa kagum dengan penampilan-penampilan dari peserta lain.

“Wah yang lain ternyata hebat juga. Viny bisa ga ya?” Pikir Rivan.

Sementara di backstage, Grogi Viny tampak kembali. Dia merasa kurang percaya diri. Dia tertunduk lesu. Gurunya yang berada di dekatnya pun memberi motivasi.

“Viny, kamu itu bisa. Kamu harus percaya diri. Kamu adalah anak dari keluarga Fitrilya. Kamu itu spesial. Kamu harus tunjukkan semua bakat yang kamu punya. Ingat fokus. Dan jangan lupa tujuanmu.”

Viny menatap gurunya lalu ia memeluknya.

“Oke kak. Aku akan menunjukan yang terbaik.”

“Peserta selanjutnya. Ratu Vienny Fitrilya.”

Dengan semangat, Viny berjalan menuju panggung. Dia merasa sangat percaya diri. Saat sampai di panggung, Viny memberi salam kepada penonton dan juri. Lalu dia duduk di kursi dan mulai memainkan pianonya.

[Theory Of Love]

Di SMA 1, Rivan memasuki kelas dan langsung duduk di bangkunya. Dia menghela nafas lalu menadahkan kepalanya di tangan kanan.

Selang beberapa menit, seorang perempuan memasuki kelas juga. Dia melihat sekitar. Seperti mencari orang. Lalu dia melihat Rivan yang duduk dibelakang. Dia berjalan menghampirinya dan menyapanya.

“Pagi Rivan.”

“Pagi.”

“Lesu amat. Semangat dong.”

“Kebiasaan. Susah ilangnya.”

Perempuan itu langsung duduk di sebelahnya. Dia merogoh tasnya dan mengeluarkan suatu novel lalu membacanya. Rivan memerhatikan perempuan itu.

“Baca novel itu mulu. Gabosen?”

“Kebiasaan. Susah ilangnya.”

“Iye-iye.”

Rivan mengambil Hpnya lalu mengirimkan pesan kepada seseorang. Setelah itu dia kembali menaruhnya. Dia sangat berharap pesanya dibalas cepat.

Beberapa saat kemudian bel berbunyi. Pelajaran pertama pun dimulai. Rivan mendengus kesal. Dia bangkit dari tempat duduknya.

“Mau kemana? Udah bel loh.”

“Kantin. Bosen disini.”

Saat dia ingin keluar kelas tiba tiba ada guru yang ingin memasuki kelas. Rivan kaget dan langsung kembali ke tempat duduknya. Guru itu menggelengkan kepalanya dan memasuki kelas.

“Yak semuanya. Kita mulai pelajran pertama. Oh iya, Viny masih izin. Katanya ada urusan di luar kota.”

Viny sudah sangat sibuk sekarang. Setelah dia memenangkan kompetisi tingkat nasional, sekarang dia disebut “Artis”. Dia mendapatkan interview, kerjaan dari luar kota bahkan sampai luar negri.

Dengan wajah cantik dan kulit putihnya, wajar kalau dia diincar banyak orang. Bahkan sekarang dia sudah mempunyai pacar.

“Rivan, pacarnya Viny itu kakak kelas ya?”

“Iya. XI-A. Fernando kalo gasalah namanya.”

“Oh itu. Kapten tim futsal yang tinggi ganteng itu toh. Wajar sih.”

“Gausah bahas itu nin. Belajar.”

“Cie cemburu.” Perempuan itu menyolek pundak Rivan.

“Rivan! Anin! Kalau kalian berisik keluar aja!” Teriak guru itu.

“Maaf bu.” Ucap mereka berbarengan.

[Theory Of Love]

Bel istirahat pun berbunyi. Banyak siswa langsung menuju kantin seperti zombie kelaparan. Tapi banyak juga yang berdiam diri di kelas. Rivan beniat untuk berdiam diri di kelas. Anin juga sama. Dia ingin menamatkan novel yang tadi ia baca.

Rivan membuka Hpnya lagi. Dia menghidupkanya lalu melihat layar Hp tersebut. Dia menghela nafas lalu mematikanya lagi.

“Ga dibales?” Tanya perempuan di sebelah Rivan.

“Ya gitu deh.”

“Sibuk kali. Kan dia udh terkenal sekarang.”

“Iya sih.”

Rivan beranjak dari tempat duduknya. Dia berniat keluar kelas.

“Mau kemana?” Anin menolehkan kepalanya.

“Toilet.”

“Oh. Hati-hati.” Anin kembali fokus membaca.

“Ke toilet aja bilang hati-hati.”

Anin tidak memperdulikan perkataan Rivan. Rivan mendengus kesal dan langsung keluar dari kelasnya.

Di perjalanan, dia mendengar perbincangan yang sedang dibicarakan oleh siswa di sepanjang koridor.

“Viny masih temenan ama Rivan?”

“Dia kan udah punya pacar.”

“Iya, pacarnya kan jago futsal, ganteng. Lah Rivan apaan?”

“Eh jangan keras-keras. Ada orangnya.”

Rivan menghiraukan perkataan orang lain. Dia sudah sangat biasa mendengar hal tersebut. Dia mempercepat langkahnya menuju toilet.

Saat sampai di toilet, Rivan melepas kacamatanya dan membasahi wajahnya. Lalu dia berpikir tentang sesuatu.

“Apa sebaiknya gua jauhin Viny? Kalo gua deket lagi, gua bisa kena masalah. Apalagi ama pacarnya.”

Dia lalu memasang kembali kacamatanya dan keluar dari toilet.

Di perjalanan menuju kelas, dia bertemu dengan Fernando dan gengnya. Rivan dihadang oleh Fernando dan gengnya.

“Rivan. Lu denger kata gua. Lu jauhin Viny. Dia itu gasuka deket ama lu.” Ucap Fernando.

“Fer, gua temen dari kecilnya. Gua lebih tau dai daripada lu.”

“Hahaha. Rivan. Lu itu miskin. Ga punya duit. Lagian, semua orang di sekolah ini tau kalo gua lebih pantes daripada lu.”

“Terserah lu fer. Gua gamau debat.” Rivan pergi meninggalkan kerumunan itu.

“Inget kata kata gua! Jauhin Viny atau lu bakal terima akibatnya.” Teriak Fernando dari kejauhan.

[Theory Of Love]

Keesokan harinya di saat pagi, Rivan berangkat sekolah setelah pamit kepada Yona. Dia langsung menuju ke tempat sekolahnya berada.

Dia sudah tidak lagi mengantar jemput Viny. Alasanya, pacarnya lah yang sekarang bertugas mengantar jemput Viny. Viny juga sudah tidak les ditempat teman Yona. Viny memilih privat dengan guru dari luar negri.

Rivan menguap sambil menutup mulutnya itu. Dia masih ngantuk karena harus berangkat pagi. Jarak antara rumah dan sekolahnya tidak begitu dekat. Jadi dia harus berangkat lebih awal.

Di tengah perjalanan, tiba tiba ada seorang perempuan yang mengagetkanya dari belakang.

“Wayoloh!”

Rivan hanya diam. Lalu dia menoleh kebelakang. Dia menatap perempuan itu dengan ekspresi datar.

“Yah ga kaget. Gaseru.” Perempuan itu cemberut dan mulai berjalan.

“Apa yang harus dikagetkan. Gaada seremnya sama sekali nin.”

“Pura-pura kaget gitu. Biar bikin aku seneng.”

“Ngapain coba? Ga penting.”

“Hvft” Anin memanyunkan bibirnya,

Sesampainya di sekolah, di depan kelas mereka berdua terlihat sangat ramai. Mereka berdua pun mendekatinya dan mencoba masuk ke kelas.

Di dalam kelas juga lumayan ramai. Mereka berdua mencari sumber perhatian itu. Rivan pun melihat keramaian di tempat duduknya. Dia mendekatinya dan melihat perempuan duduk disebelah bangkunya.

Perempuan itu menoleh. “Eh Rivan.”

“Viny?”

Perempuan itu beranjak dari tempat duduknya lalu mendekati Rivan.

“Kamu apa kabar loh? Sehat kan?” Tanya perempuan itu dengan ceria.

“Kok kayak udah ga ketemu 3 tahun sih. Sehat kok.”

“Gapapa kan khawatir kayak gini. Hihi.”

Selagi mereka mengobrol, tiba tiba guru masuk dan menyuruh seluruh murid untuk duduk. Dan ada satu perempuan yang menatap mereka berdua dengan rasa cemburu.

“Kayaknya aku harus pindah tempat duduk.”

Saat jam pelajaran pun, Viny dan Rivan yang duduk bersebelahan masih mengobrol diiringi dengan candaan. Lagi-lagi, dari jauh perempuan itu menatap mereka dengan rasa cemburu.

Bel isitirahat pun tiba. Para murid yang dari tadi pusing dengan pelajaran yang disampaikan oleh guru akhirnya bisa menikmati hidup. Ada yang berolahraga di lapangan, ada yang duduk di depan kelas, dan pastinya banyak yang pergi ke kantin untuk menghilangkan rasa lapar.

Di suatu kelas, seorang perempuan sedang melamun memikirkan sesuatu. Tiba-tiba dia disadarkan dengan panggilan oleh seorang laki-laki didepanya.

“Nin, mau ke kantin ga? Ama Viny juga.”

“Ayo nin. Udah lama kita ga bareng ke kantin.”

Anin yang mendengar ucapan mereka sebenernya ingin ikut. Tapi dia mengalah karena dia tau laki-laki itu hanya ingin berdua.

“Gausah van. Aku gak laper. Kamu ke kantin ama Viny aja.” Balas perempuan itu dengan senyum.

“Yaudah deh kalo gak laper. Ayo Vin.”

“Dadah nin.” Viny melambaikan tanganya ke Anin.

Anin membalas lambaian tangan tersebut dan menatap mereka berdua yang keluar kelas. Sebenernya rencananya, dia ingin menguntit mereka berdua. Setelah agak lama, Anin keluar kelas dan menuju di kantin.

Sesampainya di kantin, Anin melihat seisi kantin. Dia mencari ke seluruh penjuru kantin dan akhirnya dia menemukanya. Rivan dan Viny yang duduk berdua. Anin melihat mereka berdua sangat akrab. Seringkali mereka bercanda dan membuat hati Anin menjadi sedih. Dia tersenyum sambil mengeluarkan air mata.

“Setidaknya kamu bahagia Rivan.”

Berbeda dengan Anin, ada seorang laki-laki yang melihat mereka berdua dengan marah.

“Lihat saja nanti.”

Saat pulang sekolah, Viny pamit duluan karena dia ada les piano. Viny dijemput dengan supirnya jadi Rivan tidak bisa mengantarnya. Dan Anin belum pulang, jadi Rivan berniat untuk mengantarnya pulang.

“Anin, pulang yuk. Apa mau nginep di kelas?”

“Ish, apaan sih. Ayok pulang.”

Mereka berdua pun keluar dari kelas dan menuju gerbang sekolah. Saat di dekat gerbang sekolah, mereka berdua dicegat oleh Fernando cs.

“Apa-apaan ini.”

“Heh, Rivan. Kan gua udah bilang ke lu.” Fernando menepuk pundak Rivan.

“JANGAN DEKETIN VINY. DIA ITU PACAR GUA.”
BUGH!

Sebuah pukulan mendarat di perut Rivan. Dia nampak kesakitan tapi masih bertahan. Anin yang melihat kejadian itu langsung mundur dan menutup mulutnya.

Lalu Fernando memberi komando kepada teman temanya. Teman temanya pun mengerti dan langsung memukuli Rivan.

BUGH! PLETAK! JDUK!

Rivan menerima serangan bertubi-tubi dari Fernando dan teman-temanya sampai akhirnya dia terjatuh ke tanah akibat tidak bisa bertahan.

“Segini doang kekuatan lu? Lemah!”

“Bacot.” Ucap Rivan dengan suara yang kecil.

“Oooh. Nantangin dia.” Fernando lalu memberi komando lagi.

Disaat mereka ingin memukuli Rivan tiba tiba seorang perempuan langsung menghadangnya.

“Hentikan!”

Mereka kaget melihat seorang perempuan yang berdiri di hadapan mereka. Begitu juga dengan Rivan yang melihat perempuan itu melindungi dirinya.

“Wah, ada pelindungnya nih. Cewek lagi. Haha.”

“Pergi lu. Jangan sampe lu juga kena pukulan.”

Rivan berusaha berdiri dan mendekat ke perempuan itu.

“Nin. Udah. Kamu gaada hubunganya. Sekarang kamu pergi nin.”

“Aku gaada hubunganya? Kamu itu temen aku van. Biar aku yang melindungi kamu.”

Fernando dan teman-temanya yang mendengar ucapan Anin langsung tertawa terbahak bahak. Fernando pun mendekat ke Anin lalu memegang tanganya dengan keras.

“Heh sok pahlawan. Lu temenya kan. Berarti lu harus ngerasain yang dia rasain.”

Tangan Fernando semakin kuat memegang tangan Anin. Anin nampak ketakutan ketika Fernando memegang kuat tanganya.

“S-Sakit.”

Fernando pun tertawa dan langsung melancarkan pukulanya.

BUGH!

Anin yang menutup matanya tidak merasakan apa-apa. Saat dia membuka mata, dia dikagetkan dengan sesosok laki-laki yang berada di depanya menahan tangan Fernando.

“Lu lukain dia, gua pastiin lu gabisa nafas lagi.”

Laki-laki itu semakin kuat mencengkram tangan Fernando yang sedang mengepalkan tanganya. Saat dia ingin melepaskan genggaman itu, dia mendengar suara tulangnya.

“Lepasin!”

Fernando pun melepaskan genggaman tanganya pada Anin. Lalu Rivan juga melepaskan genggaman tanganya pada Fernando. Fernando langsung mundur dan melemaskan tanganya.

“Lain kali lu gabakal selamat. Ayo guys, cabut.”

Fernando pun meninggalkan mereka berdua. Saat Fernando cs sudah pergi, Anin langsung membawa Rivan ke UKS. Di UKS Anin mengobati muka Rivan yang penuh dengan luka.

“A-a-a. Pelan pelan nin.”

“Iya ini juga udh pelan.”

Hening sejenak. Anin masih mengobati luka Rivan dan Rivan diam saja sepanjang waktu.

“Nin, kamu kenapa lindungin aku? Kamu kan cewek harusnya aku yang lindungin.”

“Ya aku kan temen kamu. Gak penting cewek atau cowok. Setidaknya aku udah bantu kamu.” Anin menjawab dengan senyum.

“Atau kamu anggep aku bukan temen?”

“Kamu itu bukan temen aku nin.”

“Heh!?” Anin terkejut dengan jawaban Rivan.

“Kamu itu sahabat aku. Lebih dari temen.” Rivan memadang Anin dengan senyum.

Anin ikut tersenyum mendengar jawaban Rivan. Lalu dia menidurkan kepalanya di pundak Rivan.

“Makasih ya van.”

“Kok kamu yang bilang makasih. Harusnya aku. Kamu udah ngelindungin aku.”

“Ya gapapa. Biar beda aja. Hihi.”

Anin dan Rivan pun tertawa. Di ruang itu, sebuah cinta telah muncul. Akankah cinta itu tetap bertahan dan dapat terwujud?

“Terimakasih telah menjadi bagian dari hidupku.”

[Theory Of Love]

Suatu malam di ruang tamu kecil, kakak dan adik sedang berbincang tentang sesuatu. Mereka tampak serius.

“Jadi… Kakak mau nikah?” Tanya seorang adik laki-laki.

“Ya. Dan rencananya calon kakak itu mau ngelamar besok.”

“Terus kenapa?”

“Kamu setuju kan? Kamu kan tau, orang tua kita udah gaada. Jadi kakak minta persetujuan kamu. Kamu kenal kok orangnya.”

“Yang mana emang kak? Yang sering nganter jemput kakak itu?”

Perempuan itu mengangguk. Dan laki-laki itu tampak berfikir dengan serius.

“Gini kak. Kakak cinta dan sayang kan ama dia?”

“Iya.”

“Kalo kakak cinta dan sayang, berarti kakak harus serius. Jangan mentang mentang dia ganteng ama kaya doang.”

“Dek, kakak ini masih sayang kamu. Kakak juga mikirin masa depan kamu. Kakak itu ga mengincar kekayaanya. Kakak tulus sama dia. Dia juga serius sama kakak sampai mau ngelamar.”

“Tau darimana dia serius?”

“Kamu kan tau sendiri. Dia sering ajak kita jalan, traktir dan masih banyak.”

Perempuan itu lalu mengambil secangkir teh dan mulai meminumnya. Setelah meminumnya dia menaruh lagi dan melanjutkan perkataanya.

“Dia juga berniat mau ngasih biaya kuliah kamu nanti. Dia juga mau ngasih pekerjaan kakak yang lebih enak.”

Laki-laki itu pun tersenyum.

“Kalo kakak serius, ya aku setuju. Lagian dia baik juga kok sama aku. Kenapa harus nolak juga?”

“Bener nih? Ikhlas?”

“Ya bener lah. Ikhlas kok.”

Perempuan itu tersenyum dan memeluk adiknya.

“Makasih ya adeku Rivan.”

Laki-laki itu membalas pelukanya.

“Sama-sama kakakku Yona.”

Di ruang tamu kecil itu, sepasang kakak dan adik bercanda gurau membuat suasana menjadi tentram.

“Oh iya dek. Katanya dia punya adek juga loh. Seumuran sama kamu.”

“Terus?”

“Ya gapapa. Hihi.” Perempuan itu tertawa kecil melihat ekspreksi adiknya.

Keesokan harinya. Banyak orang datang ke rumah kecil itu. Di pagi itu akan diadakan proses pelamaran. Calon pria dan wanita sudah duduk di sofa ruang tamu itu. Mereka sudah siap melakukannya.

“Jadi saya disini ingin melamar wanita ini, Viviyona Apriani. Apakah anda setuju?”

Laki laki yang duduk disebelah Yona tersenyum dan memberikan jawaban.

“Ya, setuju.”

Semua yang ada disana pun bersorak gembira.

“Udah gini doang?”

“Yaudah. Emang gimana lagi?”

“Oh gitu doang. Jadi rencana akad nya kapan?”

“Recananya akhir tahun sekalian resepsinya. Doakan lancar ya.”

“Aamiin.”

Semua orang disana pun langsung bersalam salaman. Setelah itu mereka berbincang, ada juga yang langsung pulang. Di pojokan ruang tamu, Rivan sedang menyendiri sambil minum sirup buatan kakaknya.

“Jadi van, kamu itu adeknya kak Yona toh? Jauh banget loh.” Seorang perempuan menghampirinya.

“Ya. Banyak orang yang bilang gitu sih. Wajar. Kamu sendiri ama calon kak Yona juga jauh kok nin.”

“Yaiyalah. Kakakku ganteng kalo aku cantik. Hehe.” Balasnya dengan senyum yang manis.

Ada hening sejenak. Perempuan itu sepertinya memikirkan sesuatu.

“Rivan.”

“Ya?”

“Viny kabarnya gimana sekarang?”

“Anin. Dia udah sibuk sekarang. Aku gabisa mantau dia terus. Lagian dia udah punya pacar kok. Aku yakin dia udah bahagia.”

Perempuan yang bernama Anin itu pun tersenyum dan menadahkan kepalanya di pundak Rivan.

“Coba nanti malem kamu telpon dia. Siapa tau dijawab.”

“Ya semoga aja.”

Tiba-tiba kakaknya Anin memanggil Anin dan Rivan. Dia berniat untuk pamit dan mengucapkan terimakasih. Lalu Anin dan kakaknya pergi dari rumah Rivan.

Malam harinya, Rivan duduk di teras rumah. Dia brniat untuk menelpon Viny. Percobaan pertama, gagal. Kedua, gagal. Telpon itu tidak dijawab.

“Kalau yang ini gak dijawab juga, gajadi nelpon aja dah.”

Saat dia mencoba menelpon untuk yang ketiga kali, akhirnya telpon itu diangkat.

“Halo Rivan?”

“Halo Viny.”

“Tumben nelpon. Ada apa?”

“Ya gapapa. Udah lama kan kita ga telponan. Kangen aja.”

“Oh modus nih ceritanya.”

“Engga juga sih. Eh ceritain dong karir kamu.”

“Hihi, oke oke. Jadi, aku sekarang udah jadi artis gitu van. Aku ditawarin main film gitu. Tapi aku nolak karena aku fokus main piano. Hehe.”

“Piano kamu gimana?”

“Piano aku ya, besok aku gaada acara sih. Jadi kayaknya free. Tapi mulai sibuk bulan depan. Padet jadwalnya gitu.”

“Oh gitu.”

Sudah hampir 1 jam mereka berbincang lewat telpon. Ditemani oleh cahaya rembulan dan suara jangkrik.

“Eh Rivan, udahan ya. Aku dipanggil nih.”

“Bentar. Aku mau ngomong sesuatu.”

“Ngomong apa?”

Rivan menelan ludah dan mengumpulkan keberanianya.

“Kamu, udah bahagia kan?”

Ada hening sejenak. Viny tidak merespon jawaban itu. Sekitar 40 detik baru dia menjawabnya.

“Ya… Aku bahagia. Makasih ya Rivan telah bikin aku bahagia. Oh iya, besok aku sekolah jadi sampai ketemu di sekolah. Daah~”

“Dah.”

Rivan mengakhiri panggilanya. Dia terlilhat sangat bahagia. Lalu dia menghadap ke langit dan berharap semoga Viny dapat lebih bahagia lagi.

Di malam sunyi itu, mereka tidak pernah berkomunikasi lagi.

[Theory Of Love]

Menginjak kelas 12, Rivan sudah sangat fokus dengan kegiatan belajar nya. Dia ingin memasuki salah satu universitas negri yang favorit. Di dampingi temanya, Anin, mereka berdua berjuang bersama sama meraih mimpinya.

“Makan Van.”

“Duluan aja.”

Anin menatap temannya yang sedang sibuk mengerjakan soal. Padahal sudah masuk waktu makan siang. Sekarang Rivan berubah. Dia menjadi lebih pendiam. Dikarenakan kejadian itu.

Suatu hari saat mereka kelas 10, Viny tiba-tiba diumumkan pindah sekolah. Padahal harusnya Viny masuk sekolah tapi pengumuman itu diberitahukan lewat wali kelas dikarenakan kesibukan Viny.

Entah mengapa, hati Rivan saat itu sakit. Dia merasa kecewa. Seharusnya dia tidak boleh kecewa. Dia hanya teman Viny. Tetapi entah kenapa, pengumuman mendadak itu tidak bisa diterimanya.

Dia juga berusaha mengontak Viny, tapi hasilnya nihil. Telponya tidak pernah diangkat, pesan juga tidak pernah dibalas. Pernah Rivan datang ke rumah Viny, tetapi penghuni rumahnya sudah tidak ada.

Dia merasa frustasi. Dia tidak pernah se stress ini. Dia ditinggal oleh teman masa kecilnya tanpa memberi kabar apapun tentang kepergianya. Lalu dia sadar, bahwa semua ini hanya akan membuat dirinya rusak. Jadi, sekarang dia melupakan Viny dan fokus kepada cita-citanya.

 

Saat pulang sekolah, yang biasanya Rivan mengajak Anin pulang, sekarang Anin yang biasanya mengajak Rivan pulang. Walaupun Rivan sudah berubah, Anin yang menjadi temanya sejak kelas 10 tetap menemaninya.

“Rivan. Pulang bareng yuk.”

Rivan hanya mengangguk dan beranjak dari kursinya. Mereka berdua berjalan keluar kelas, lalu keluar gerbang sekolah. Rivan masih asyik membaca bukunya. Sedangkan Anin melihat Rivan disamping nya terlihat cemberut.

Saat sudah agak jauh dari sekolah, Anin mengehntikan langkahnya. Rivan yang menyadari Anin berhenti, ikut berhenti dan menengok kearahnya.

Hening sejenak. Tidak ada yang memulai percakapan. Anin menundukan kepalanya dan tubuhnya bergetar.

“Kenapa?” Tanya Rivan.

“Aku mau ngomong sesuatu.”

“Ngomong aja.”

“Aku..”

“Ya kamu?”

“Aku suka sama kamu Rivan!”

Rivan yang mendengar pernyataan itu tidak terlalu kaget. Tetapi  dia tidak pernah berfikir bahwa temanya akan menyatakan perasaanya disini. Rivan tersenyum dan menjawab.

“Aku juga suka kamu nin.”

Anin terkejut mendengar jawaban Rivan. Dia seolah tak percaya bahwa perasaanya telah dibalas.

“Jadi kita-“

“Aku juga sayang kamu, tapi gak cinta kamu.”

“Eh?”

Anin terlihat kebingungan mendengar pernyataan itu. Sedangkan Rivan masih tersenyum.

“Di prinsip ku itu, suka, sayang dan cinta adalah 3 hal yang berbeda.”

“Perbedaanya?”

“Suka itu adalah rasa peduliku untuk orang lain. Kalo sayang itu rasa untuk memiliki seseorang yang aku suka. Dan kalau cinta adalah lebih dari kedua itu. Tidak bisa aku jelaskan.”

“Tapi, kalau kamu mencintai seseorang tapi cinta itu tak terbalas?”

“Cinta itu gak boleh dipaksakan. Asalkan orang yang aku cintai bahagia walaupun bukan denganku, aku ikhlas.”

“Jadi, apa kamu sedang jatuh cinta pada orang lain?”

“Ya. Aku jatuh cinta. Tetapi orang itu telah pergi jauh. Dia sudah menjadi sosok yang terkenal.”

Anin mengetahui siapa yang Rivan maksud. Dia adalah Viny. Teman masa kecil Rivan yang sekarang sudah pergi jauh.

“Apakah kamu masih menunggu sosok itu?”

“Aku pasti menunggunya.”

“Apakah nanti saat kamu sudah tidak jatuh cinta kepada sosok itu, kamu akan jatuh cinta kepadaku?”

“Lihat saja nanti.”

“Apakah aku boleh menunggu?”

“Tentu saja.”

Anin langsung memeluk Rivan. Rivan tidak membalas pelukanya. Dia mengusap kepalanya sambil tersenyum.

“Terimakasih.”

 [Theory Of Love]

Terlihat seorang perempuan duduk di kursi piano sambil memainkan piano tersebut. Seseorang yang lebih tua memperhatikan permainan pianonya. Setelah agak lama seseorang yang lebih tua menyuruh untuk berhenti bermain.

“Ratu, ini sudah ke-10 kalinya. Permainan kamu terasa hampa. Saya tidak bisa melihat sesuatu dalam permainan mu.”

Perempuan yang duduk di kursi piano itu menundukan kepalanya.

“Maaf guru. Saya sudah berusaha dengan keras.”

Seseorang yang dipanggil guru itu pun menghela nafasnya. Lalu dia memandang ke luar jendela.

“Sepertinya kamu butuh istirahat Ratu.”

Perempuan itu kebingungan saat mendengar ucapan gurunya.

“Oke, kamu akan libur selama 2 hari. Dan setelah itu kamu harus kembali kesini dan mengembalikan permainanmu yang dulu. Mengerti?”

“Baik guru!”

Perempuan itu keluar dari suatu gedung yang tadi dia gunakan sebagai tempat bermain piano. Lalu dia memasuki mobil dan berjalan pulang kerumahnya. Di perjalanan, perempuan itu berpikir apa yang salah dari dirinya. Dia berpikir tentang itu sampai-sampai dia telah sampai kerumahnya.

Saat memasuki rumahnya, dia disambut oleh seorang pelayan.

“Selamat datang Ratu. Mari saya pegang jaketnya.”

“Terimakasih.”

Dia memberikan jaketnya dan berjalan ke ruang tengah. Di ruang tengah dia disambut mamanya.

“Viny. Bagaimana latihanmu?”

“Baik ma. Cuma kata guruku permainan ku terasa hampa.”

“Itu lagi ya. Hmmm. Coba kamu ingat ingat apakah permainan mu salah?”

“Tidak.”

“Hmm. Kamu sudah fokus?”

“Sudah.”

“Coba kamu pikir pikir lagi.”

Perempuan bernama Viny itu berpikir dengan keras. Dia masih kebingungan mengapa dia tidak bisa membuat permainan nya menjadi lebih berisi.

“Viny, coba kamu ingat ingat kata guru-guru les mu yang dulu.”

“Sama aja kok ma. Yang penting itu latihan, fokus dan…”

“Dan?”

“Tujuan.”

“Tujuan? Tujuan bermain piano?”

“Iya itu. Kenapa kamu bermain piano.”

“Yaudah. Kenapa kamu bermain piano Viny?”

“Untuk menunjukan permainan indahku kepada orang yang aku sayangi.”

“Untuk mama?”

“Bukan untuk mama saja.”

Viny menjadi fokus. Dia sekarang megerti mengapa permainanya terasa hampa.

“Iya itu dia!”

[Theory Of Love]

Di bandara, seorang perempuan sedang menunggu taksi. Dia menunggu antrianya. Saat nomornya di panggil, dia bergegas masuk ke dalam taksi tersebut.

“Mau kemana mbak?”

Perempuan itu mengatakan alamat sebuah rumah yang dia catat. Pengemudi itu langsung menjalankan mobilnya dan menuju alamat tersebut.

Di perjalanan, perempuan itu memandangi pemandangan kota lewat jendela taksi tersebut.

“Sudah 5 tahun ya.”

Tak terasa akhirnya mereka sampai ke alamat yang dituju. Disana rasanya sudah tidak asing lagi tetapi ada sesuatu yang berbeda.

“Ini kan tempatnya mbak?”

“Bentar mas.”

Perempuan itu keluar dari taksi. Memandangi sebuah rumah yang kecil. Dia terkejut melihat tulisan “DIJUAL”.

Perempuan itu langsung masuk lagi dan mengubah arah tujuanya. Pengemudi itu menjalankan mobilnya lagi dan menuju ke tempat yang lain.

“Oh iya, mbak itu Ratu Vienny kan? Pernah liat wajahnya di TV nih.”

“Mirip aja kali mas.”

“Gausah bohong mbak. Saya tahu kok. Tenang mbak, saya orang baik kok. Ada urusan apa kesini mbak?”

“Yaudah deh. Saya kesini mau ngelihat temen saya.”

“Yang tadi rumahnya?”

“Harusnya sih, tapi tadi tulisanya dijual. Jadi sekarang ke tempat guru les saya dulu.”

“Oke mbak.”

Akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Perempuan bernama Viny membayar ongkos dan keluar dari taksi tersebut. Viny berada di depan rumah yang sudah tidak asing lagi. Itu adalah tempat lesnya dulu.

“Permisi.” Viny mengetuk pintu rumah itu.

“Ya.”

Seorang wanita yang agak tinggi membukakan pintu dan betapa kagetnya melihat seseorang yang dia kenal.

“Viny!? Ya ampun. Apa kabar?”

“Halo kak. Baik kok.”

“Eh masuk dulu sini. Kakak buatin teh.”

“Hehe ngerepotin nih. Permisi.” Viny memasuki rumah itu.

Gurunya mempersilahkan Viny duduk di sofa. Lalu dia ke belakang untuk mengambil minuman. Setelah itu dia kembali sambil membawa minuman dan ikut duduk.

“Ada urusan apa kesini?”

“Kangen aja sih kak.”

“Oh iya. Kamu kenapa udah jarang tampil? Dulu sering padahal.”

“Iya itu. Permainan ku sudah tidak sebagus dulu. Guruku juga komplain. Jadi aku diberi waktu untuk istirahat dulu.”

“Oh begitu.

Mereka berbincang sangat lama. Dimulai dari basa basi, kabar karir dan sampai ke maksud Viny berkunjung.

“Ngomong ngomong kak. Itu rumah Rivan sama kak Yona kok dijual?”

“Itu, mereka udah pindah. Kamu tau gak sih? Yona kan udah nikah. Rivan tinggal sama Yona dan suaminya sekarang.”

“Oh gitu, pantesan. Kakak tau alamatnya?”

“Tau kok ini nih.”

Gurunya memberitahu alamat rumah mereka. Viny pun berterimakasih dan langsung pamit pergi lagi karena waktu liburnya tidak dikit.

“Makasih ya kak. Maaf loh ngerepotin.”

“Gapapa kok Vin. Kakak seneng bisa ngobrol ama kamu lagi. Hati hati dijalan ya.”

Viny pun memesan taksi online dari Hpnya. Setelah dapat dia langsung menelpon lokasinya dan menunggu. 3 menit kemudian, sebuah mobil sedan hitam mendekati Viny.

“Mbak Ratu?”

“Ya bener pak. Tujuanya sama kok.”

Pengemudi itu hanya mengangguk dan Viny memasuki mobil itu. Selama perjalanan, Viny merasa tidak sabar menemui temannya dan teman kakaknya. Sudah 5 tahun terhitung mereka tidak bertemu semenjak Viny pindah kota.

Saat sudah sampai ke alamat tujuan, Viny membayar ongkosnya lalu keluar dari mobil. Saat diluar, Viny melihat rumah yang agak besar yang di cat putih itu. Dia memencet bel yang berada di pagar.

TINUNG

            “Ya sebentar.” Suara yang muncul dari dalam rumah.

Beberapa saat kemudian, muncul seorang perempuan tinggi dan putih membuka pintu rumah. Betapa kagetnya Viny saat melihat perempuan itu.

“Kak Yona!?”

“Viny?!”

Perempuan yang dipanggil Yona itu membuka pagar rumahnya lalu memeluk Viny. Setelah cukup lama mereka melepaskan pelukanya.

“Viny. Kamu apa kabar? Duh udah lama gak ketemu.”

“Aku baik kok kak. Kakak sendiri apa kabar?”

“Kakak juga baik. Eh ayo masuk dulu. Kakak mau cerita banyak.”

Yona pun mengantar Viny masuk kedalam rumahnya. Di dalam, Yona mempersilahkan duduk Viny. Lalu Yona menyuruh pembantunya membuatkan minum.

“Jadi gimana karir kamu Vin?”

“Baik kok kak. Cuma sekarang lagi istirahat aja.”

“Wah bagus dong. Sekarang kakak kerja di cafe suami kakak. Ya itung itung daripada bengong dirumah.”

“Oh iya, suami kakak mana? Gak keliatan.”

“Suami kakak lagi kerja. Oh iya, bentar.”

Yona beranjak dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan Viny. Beberpa saat kemudian dia datang sambil menggendong bayi.

“Nih anak kakak. Baru 1 tahun. Lagi bobo tadi dikamar.”

“Iih. Lucu banget.”

Setelah bermain main dengan bayi tersebut, Yona menyuruh pembantunya untuk membawa bayinya kembali ke kamar.

“Oh iya kak. Rivan apa kabar kak? Tinggal disini juga?”

“Rivan baik kok. Dia tinggal disini juga cuma lagi pergi keluar. Sekarang dia kuliah semester 3. Oh iya, Kakak mau ngomongin sesuatu tentang Rivan.”

Yona menjadi serius. Viny yang tadi meminum minuman yang dibawa oleh pembantunya Yona menaruhnya dan tatapan nya menjadi serius juga.

“Kamu tau kondisi Rivan sekarang?”

“Emang kenapa kak? Dia sakit?”

Yona menggelengkan kepalanya. Setelah itu dia menceritakan semuanya. Viny sangat terkejut mendengar pernyataan yang dikatakan oleh Yona.

“Iya sih. Aku gak ngasih kabar soalnya itu juga mendadak. Kalau soal gajawab pesan ama telpon soalnya Hp aku diganti sekaligus nomor aku juga.”

Yona merubah posisi duduknya menjadi disebelah Viny. Dia lalu mengelus kepala Viny.

“Dia itu cinta sama kamu Vin. Dia masih menunggu. Walaupun kamu sudah terkenal, dia yakin kalau suatu hari dia bisa mendapatkan kamu.”

Viny kembali terkejut. Dia tidak sadar bahwa teman semasa kecilnya bisa jatuh cinta kepadanya. Memang dari dulu yang selalu disisinya hanyalah Rivan. Yang selalu mendukungnya juga.

“Sekarang Rivan dimana kak?”

“Tadi sih katanya main ke rumah temen. Kalo gasalah tempat nya itu disekitar..”

Yona memberitahu lokasi Rivan berada. Lalu dengan buru buru Viny pamit dan bergegas ke tempat tersebut.

“Viny, semoga kamu bisa menjadi yang terbaik.”

[Theory Of Love]

Sekarang Viny berada di salah satu cafe di kota itu. Dia merasa kelelahan. Dia sudah mencari Rivan di lokasi yang telah di beritahukan oleh Yona. Dan hasilnya nihil. Dia menadahkan kepalanya ke meja dan memandangi segelas kopi yang tadi ia pesan.

Lalu dia memejamkan matanya. Dia melamun. Tiba tiba ia dikagetkan dengan tepukan dan suara yang sumbernya ada di sebelahnya.

“Viny?”

Viny langsung menengok kearahnya. Dia melihat sosok perempuan yang dia kenal.

“Anin?”

“Wah beneran kamu toh. Apa kabar?” Mereka berpelukan dan melakukan cipika cipiki.

“Wah Anin. Baik dong.” Setelah itu Anin duduk di depan Viny.

“Kamu kesini gak bilang bilang. Sama kayak dulu.”

“Ih kamu. Dulu itu mendadak. Hp aku sama nomornya diganti juga.”

“Hehe. Tenang aja kok mbak pianis.”

Anin memanggil salah satu pelayan di cafe tersebut. Dia memesan kopi yang sama yang dipesan oleh Viny.

“Anin. Tolong beritahu aku kondisi Rivan semenjak aku pergi.”

Anin menghela nafasnya. Dia memandang jendela cafe. Lalu menadahkan dagunya ke tangan kananya.

“Semenjak kamu pergi, dia jadi stress. Kamu udah tau?”

“Ya aku tahu yang itu.”

“Dia menjadi sangat fokus belajar. Katanya sih pengen mewujudkan cita citanya.”

Viny nampak fokus mendengar semua yang Anin ucapkan. Tentang pernyataan perasaan, UN, ujian masuk universitas dan saat kuliah.

“Kayaknya aku emang gak cocok buat dia Vin. Walaupun semenjak kamu pergi dia sama aku terus. Dia masih menunggu kamu Vin. Dia percaya hari ini akan datang.”

Viny menyandarkan tubuhnya di kursi. Dia merasa sangat bersalah karena tidak bisa mengetahui perasaan Rivan yang sebenernya dan juga tidak mengabarkan kepergianya.

“Dia sekarang ada di taman kota Vin. Cepat pergi!”

Dengan sigap, Viny beranjak dari kursi dan berterimakasih kepada Anin.

“Makasih ya nin atas semua ini.”

Anin membalasnya dengan senyum dan menyuruh untuk cepat. Viny pun berlari cepat keluar dari cafe itu. Anin yang melihatnya mulai mengeluarkan air mata.

“Hanya untuknya, dia rela menunggu selama ini.”

[Theory Of Love]

Perempuan itu sekarang berada di pinggir taman. Sema seperti sebelumnya, dia sudah berusaha mencari dan hasilnya nihil. Dia berjalan mencari tempat duduk karena sudah sangat kelelahan. Dia melihat pengunjung taman kota itu banyak yang memegang balon.

Setelah menemukan tempat duduk yang kosong, dia duduk di kursi itu. Dia menundukan kepalanya dan menutup wajahnya dengan tanganya. Isak tangis mulai terdengar. Dia sudah menyerah mencari Rivan. Baginya ini seperti karma. Dia tidak mengabari kepergianya dulu dan sekarang dia tak bisa menemukanya.

“Maaf mbak. Jangan sedih gitu dong. Tolong diambil.”

Viny yang masih mengeluarkan air mata langsung menaikan kepalanya dan melihat seorang laki laki yang menawarkan sebuah balon. Tanpa berpikir, dia langsung memeluk laki-laki tersebut.

“Eh mbak. Nanti balonya lepas. Yah lepas beneran.”

Viny tidak menghiraukan perkataan laki laki itu. Dia semakin erat memeluk laki laki tersebut. Viny mulai menangis keras. Laki laki tersebut pun menenangkanya.

“Udah jangan sedih gitu.”

Viny memundurkan tubuhnya. Dia mulai menatap wajah laki laki tersebut.

“Aku jahat. Aku gak pernah sadar bahwa selama ini kamu peduli ama aku. Aku gak sadar kalau aku gak ngabarin kamu kalau aku akan pergi. Aku sombong. Aku egois. Aku ga berguna.”

Laki-laki itu mengelus kepala Viny dan tersenyum.

“Maafin aku. Aku emang jahat. Maafin aku Rivan.”

“Gapapa kok. Aku udah maafin dari dulu.” Rivan menyeka air mata yang keluar dari mata Viny.

“Jadi sekarang kita sudah bertemu. Apakah kamu masih menungguku, Rivan?”

“Bagaimana dengan pacarmu?”

“Pacar? Dia bukan sesuatu yang penting. Dia hanya mengincar ketenaran dan kekayaanku.”

“Bagaimana dengan karirmu? Orang sepertimu bersama denganku bukankah sebuah ketidakadilan?”

“Aku sudah puas dengan pencapaian ku. Dan juga aku berniat melanjutkan kuliahku. Dan membuka usahaku sendiri.”

Rivan tersenyum dan memandang Viny.

“Aku selalu menunggumu, Viny.”

Setelah itu mereka berdua mulai berpelukan di pinggir taman kota itu. Hari itu, cinta lama mulai bersemi kembali.

[Theory Of Love]

Di ruang tamu. Seorang perempuan sedang mengecek barang barang yang ada di koper. Dia terlihat kebingungan. Beberapa saat kemudian dia menutup koper-koper itu dan menuju keluar rumah.

Di luar rumahnya terlihat seorang laki laki berkemeja sedang berbincang kepada seseorang. Setelah selesai berbincang laki-laki itu menengok ke arah perempuan tersebut.

“Apakah kamu sudah siap?” Tanya laki-laki itu.

Perempuan itu hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Kemudian dia berjalan sambil membawa 2 koper. Laki-laki itu mengambil 2 koper tersebut dan menaruhnya ke dalam memasukanya ke dalam bagasi mobil.

Perempuan itu lalu masuk ke dalam mobil dan duduk disebelah kursi pengemudi. Laki laki itu masih berbincang dengan seseorang. Beberapa saat kemudian dia memasuki mobil dan duduk di kursi pengemudi.

“Sebelum berangkat, bolehkah aku bertanya 1 hal?”

“Apa itu?” Perempuan itu memiringkan kepalanya.

Laki laki itu menghela nafasnya dan menatap wajah perempuan itu.

“Apakah kamu sudah bahagia?”

Perempuan itu diam beberapa detik kemudian tersenyum dan memeluk laki laki tersebut.

“Ya, aku sudah bahagia.”

-THE END –

Rivan Pamungkas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

6 tanggapan untuk “Theory of Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s