Hate Love, part 2

Ketika malam hari, aku merasa sangat kedinginan. Lebih dingin dari AC kamarku di Jakarta. Dan lebih hangat dari musim dingin di Jepang kala aku sedang berlibur bersama keluargaku. Tapi dinginnya angin pegunungan membuat tubuhku sedikit menggigil. Ditambah, kami tidak membuat api unggun dan hanya duduk di depan tenda. Aku sedang memikirkan nanti bagaimana aku bisa tidur karena hanya ada 1 tenda. Masa iya aku harus satu tenda dengan Darrel?

Kulihat Darrel sedang menyalakan api unggun. Sebentar. Dia mendapatkan kayu bakar dari mana? Ini kan hanya tanah lapang yang luas khusus untuk tempat berkemah. Mata ku menyusuri tempat ini. Ah ternyata dia mendapat kayu bakar dari tenda sebelah yang juga sedang menghangatkan diri di depan api unggun, tenda dari sepasang suami istri yang sedang berbulan madu, Mas Guntur dan Mba Ve.

“Nah udah siap!” Seru Darrel.

Aku duduk tepat di depan api unggun itu, menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku. Dan sesekali menempelkan nya di pipi ku.

“Dingin ya yup,”

“Mm..sedikit,”

Darrel duduk disebelah ku dan perlahan melepaskan jaketnya. Menaruh nya di tubuhku. Aku menatapnya heran.

“Kamu gak dingin emang?” Tanya ku pada Darrel.

“Aku udah biasa disini. Ini istana aku. Angin nya juga udah sahabatan sama aku. Nama nya bupu.” Aku meyerngit kan dahi ku.

“Angin kok dikasih nama,” Ujar ku.

“Biar lebih akrab yup, haha” Dia terkekeh memeluk dirinya sendiri.

“Nanti kamu tidur di dalam tenda aja yup,” Lanjutnya

“Terus kamu?”

“Kan aku udah bilang, ini istana nya aku”

“Beneran gak papa?”

“Ngga yupiii” dia mengacak-ngacak poniku. Aku cemberut. Melihatku yang cemberut, Darrel hanya terkekeh.

~O~

Darrel POV

Matahari menyilaukan mataku. Membuat aku tersentak dan terbangun. Ku lihat tenda sudah terbuka, tapi gadis kecil itu tidak ada di dalam tenda. Kemana gadis bermata coklat seperti hazelnut itu?
Aku menyusuri tempat ini, dan ternyata gadis mungil itu sedang menikmati matahari dengan Mba Ve. Perempuan memang cepat sekali akrab satu sama lain. Entah apa penyebabnya. Ku lihat mereka seperti sedang tertawa girang bersama. Entah tren fashion terkini atau apa yang sedang mereka bicarakan.

Aku pun memilih untuk membereskan tenda dan membersihkan bekas api unggun semalam, yang kini hanya menyisakan abu nya saja. Hari ini kami akan turun gunung dan aku harus pergi ke Lombok untuk mengurus bisnis hotel ku disana. Jika Yupi tidak keberatan, aku akan memintanya untuk ikut denganku berlibur di Lombok. Tapi, yang membuat ku bingung hingga kini adalah apa Orang tua nya tidak khawatir akan putri kecil nya yang pergi travelling sendirian?

“Woooo, “ Gadis kecil dengan suara yang mengalahkan suara bel sekolah ku saat masa sekolah dulu itu mengagetkan ku.

“Ya ampun yupiii, gimana kalau aku sampe jantungan? Hmm?” Kesalku padanya. Dia hanya memamerkan deretan gigi putih nya. Aku mencubit pipi nya dengan gemas.

“Nanti agak siangan kita turun ya? Ah ya yup, rencana nya aku bakal ke Lombok buat nyelesaiin kerjaan aku di sana. Kamu mau ikut gak?”

“Lombok? Mm..nanti nya kalau aku ikut malah ngerepotin kamu,”

“Aku suka kok direpotin anak kecil,”

“Huftyup  paan sih manggil nya anak kecil,”

“Kamu emang anak kecil kan? Jadi mau ikut gak nih?”

“Mm..boleh deh”

~o~

Darrel POV End

Saat ini mereka sudah sampai di Bandara Husein Sastra Negara, Bandung. Setelah sebelumnya Yupi sudah membatalkan paket tour ke pantai pangandaran nya. Darrel yang sedari tadi sibuk menelfon kolega nya yang berada di Lombok seperti lupa kalau ia akan pergi bersama Yupi kali ini. Yupi merasa sangat bosan karena pesawat nya yang akan membawa ia dan Darrel delay selama 2 jam.

“Kamu laper yup?” Tanya Darrel setelah memutuskan telfon bersama kolega nya itu.

“Kita Mam Pizza yuk!” Tambah Darrel menirukan gaya bicara Yupi.

Sepertinya Darrel sudah tahu benar makanan kesukaan Yupi, padahal mereka baru mengenal satu sama lain selama 1 minggu.

Yupi tersenyum manis, mata hazelnut nya membulat poninya yang selalu menutupi dahi nya bergoyang-goyang seperti gorden di sebuah warung makan. “Mau mau Yupi mau mam pizza”

Sepertinya ini yang selalu membuat Darrel menganggap Yupi sebagai anak kecil. Bagaimana tidak. Setelah berkata seperti itu yupi melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil. Darrel hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Perasaan nya aneh saat di dekat yupi. Seperti ingin selalu ada di dekat Yupi.

Mereka pun pergi ke sebuah restoran pizza yang ada di Bandara itu. Restoran pizza dengan logo mirip topi. Yupi terlihat sangat senang dan begitu menggemaskan bagi Darrel. Darrel seperti memiliki adik kecil. Dan Yupi selalu merasa nyaman jika berada di dekat Darrel. Padahal mereka baru kenal selama 1 minggu saja.

~o~

Yupi dan Darrel kini sedang berada di lobby hotel milik Darrel. Sedari tadi Yupi menangis karena tas nya jatuh tertinggal saat turun dari pesawat. Tas yang berisi kotak make up dan bando juga pita-pita lucunya. Darrel sudah berusaha menenangkan yupi dengan mengatakan akan mengantar yupi ke pusat perbelanjaan di Lombok dan membelikan kotak make up yang baru untuk yupi. Tapi Yupi tidak menggubris perkataan Darrel dan terus menangis.

“Udah dong yup, nanti aku beliin yang baru deh” Ucap Darrel saat mereka sudah tiba di kamar yang Darrel siapkan untuk Yupi.

“Nggaa aku mau nya tas aku kembalii tas tobeli akuu huwaa” Yupi masih saja menangis, matanya sudah sangat merah.

“Nanti beli deh tas apa? Tobeli? Iya tas tobeli nya sama pizza tobeli sama es krim tobeli kalo perlu,”

Yupi terdiam menatap Darrel. Yupi berhenti menangis dan tersenyum menang. “Bener ya? Es krim tobeli, pizza tobeli, tas tobeli sama kotak make up tobeli”

Darrel tersenyum melihat tingkah yupi. Yupi memang anak kecil, pikirnya.

“Yaudah kamu siap-siap ya, aku mau ajak kamu nemuin temen lama aku yang tinggal di kota ini, nanti sepulang dari sana kita beli tobeli tobelinya” Ucap Darrel pada Yupi.

Yupi mengangguk patuh dan segera siap-siap setelah Darrel keluar dari kamarnya.

~o~

Ternyata Yupi diajak Darrel untuk menemui mantan pacar Darrel saat SMA, Shani Indira namanya. Sekarang Shani sudah berkeluarga dan mempunyai putri kecil yang lucu bernama Zara.

Menurut Miko, teman Darrel yang merangkap menjadi seorang yang Darrel percayai untuk mengurusi bisnis hotel nya di Lombok yang Yupi temui di lobby hotel sebelum mereka pergi bahwa Darrel masih tergila-gila akan sosok Shani dan masih tidak bisa melupakan Shani hingga saat ini. Dan Miko memberi tahu bahwa Darrel itu seorang playboy yang suka mengganti-ganti pasangan sesuka hatinya. Maklum lah seorang pebisnis muda dan memiliki tampang yang rupawan membuat Darrel menjadi buah bibir diantara para wanita.

“Mm..Yup,” Ucap Darrel

“Iya?”

“Nanti didepan Shani, kita pura-pura pacaran ya,”

“Ha? Apa? Pura-pura pacaran? Ngapain? Gak mau ah”

“Please yup.. Janji deh nanti aku beliin kamu pizza sama es krim sepuasnya”

“Ngga yupi ngga mau”

“Ayolah yup mau ya?” Ucap Darrel memohon, mata nya yang sebiru samudera menatap mata hazelnut milik yupi dengan lekat. Entah dorongan dari mana, yupi mengangguk pelan.

Mereka turun dari mobil dan memasuki rumah milik Shani itu. Yupi berfikir Shani pasti rajin karena dari depan rumahnya saja terlihat sangat bersih dan indah. Seorang wanita cantik sedang menggendong seorang anak kecil kira-kira umurnya sekitar 1,5 tahun. Sepertinya itu Shani.

“Hai Darrel apa kabar?” Seru perempuan cantik itu pada Darrel.

“Hai shan aku baik kok kamu sendiri gimana?” Ucap Darrel, benar saja perempuan manis itu adalah Shani.

Yupi terkesiap saat Darrel merangkul pinggangnya dengan lembut. Membuat Shani seperti seolah bertanya siapa gadis ini.

“Kenalin shan, ini Yupi pacar aku” Ucap Darrel. Bersamaan dengan itu yupi membulat kan matanya kaget. Tapi Darrel mencubit kecil pinggang Yupi seolah memberi kode agar Yupi memperkenalkan diri.

“A.. Aku Cindy Yuvia. Orang-orang panggil aku Yupi.” Ucap Yupi dengan memberikan senyum terbaiknya pada Shani.

“Aku Shani, biar lebih enak ngobrol nya di dalem aja yuk. Rel, Yup mari masuk” Ajak Shani.

Mereka pun masuk ke rumah Shani. Shani menurunkan zara dari gendongan nya. Anak kecil itu berlari memasuki kamar. Shani ke dapur untuk membuatkan minuman dan mengambil sedikit cemilan untuk mereka.

Entah kenapa, Yupi merasa cemburu saat Darrel selalu tersenyum manis pada Shani dan selalu berkata dengan lembut pada Shani. Yupi segera membuang pikiran nya jauh-jauh. Apa yang ia pikirkan? Seharusnya ia tidak merasa seperti itu karena Darrel bukan siapa-siapanya. Hanya teman dan itu tidak lebih.

Tak lama kemudian, shani datang dan menata cangkir berisi teh manis hangat dan beberapa camilan dimeja. Mereka membicarakan masa sekolah Shani dan Darrel. Yupi ikut mencairkan suasana dengan larut dalam topik yang Darrel dan Shani bicarakan.

Entah karena apa, Yupi merasa sangat sakit hati saat melihat sorot mata Darrel pada Shani. Darrel seperti sangat gembira bercerita dengan Shani. Mata sebiru samudera milik Darrel selalu menatap Shani dengan berbeda.

~o~

Mereka kini berada di salah satu pusat perbelanjaan di kota Lombok. Yupi sedang memilih tas untuk tempat kotak make up dan bando juga pita baru untuknya. Sebagai pengganti hilangnya tas itu di Bandara tadi pagi.

Semenjak dari rumah Shani, Yupi terlihat tak seceria biasanya. Ia lebih banyak diam dan itu membuat Darrel merasa aneh juga bingung. Mungkin karena PMS, itu yang Darrel pikirkan.

“Udah selesai yup?” Tanya Darrel lembut.

“Sebentar. Tas, perlengakapan make up, bando kupu-kupu, pita warna pink.. Mmm..udah semua deh kayaknya”

“Yaudah yuk pulang,”

Setelah selesai mengantar yupi untuk membeli barang keperluannya. Mereka kembali ke hotel. Selama di mobil, Yupi hanya diam. Padahal saat berangkat tadi yupi dengan suara berisik nya ikut bernyanyi mengikuti irama lagu dari radio yang diputar. Tapi kali ini, Yupi hanya diam menatap jendela mobil yang ditetesi air hujan. Selain Jingga, Yupi juga sangat menyukai hujan.

Yupi mengucapkan selamat malam pada Darrel lalu masuk ke kamarnya. Ia membersihkan tubuhnya terlebih dahulu dan ia pun tidur.

~o~

Pagi-pagi sekali yupi berniat ingin menjaili Darrel dengan mengagetkan nya di kamar yang Darrel tempati. Saat ia keluar dari kamarnya dan ia melihat Darrel sudah rapih dan sedang mengobrol dengan seseorang. Saat orang itu berbalik,

“Ha? Orang itu lagi?” Ucap Yupi.

*Bersambung..

Created by : @Amanda_zanuba

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s