Annihilation part 29

cover

*500 Years Later*

Seorang Iblis dan Malaikat jika dipandang dari segi usia, mereka bisa hidup sampai ribuan tahun lamanya. Kedua dunia mereka sangat jelas berbeda dengan tahun yang dijalani manusia. Kelvin, Shani, Ve dan tokoh-tokoh lainnya kecuali Aidan dan Gabriel rata-rata berusia sekitar 2000-1000 an tahun /35-25 tahun umur manusia. Sementara Aidan dan Gabriel berusia 3000 tahun/ 50 tahun umur manusia.

~

Kelvin dan Shani sudah benar-benar tidak ikut campur dengan konflik Malaikat dan Iblis yang seakan tiada akhir. Namun, meskipun sudah jarang bertarung, Kelvin tetap melatih ilmu pedang dan Roost nya beberapa kali dalam seminggu, sekedar untuk berjaga-jaga jika ada sekelompok Iblis/Malaikat yang menyerang.

Keduanya hidup dengan damai di daerah pegunungan, meskipun tanpa buah hati mereka, Krishna. Namun keduanya tetap mengisi satu sama lain, mereka tetap hidup bahagia. Pada tempo hari, Gabriel pernah mengunjungi mereka untuk memberitahukan bahwa Krishna baik-baik saja selama di Surga. Ia sudah tumbuh menjadi sosok Malaikat setengah Iblis yang tampan, mewarisi ketampanan Ayahnya. Shani lega mendengar kabar itu. Tak hanya itu, Gabriel juga mengundang Shani dan Kelvin untuk ke Surga, dengan tujuan untuk mengajarkan Krishna ilmu Exflame dan beberapa sihir kuno yang dimiliki Kelvin. Tentu saja Shani langsung menerima ajakan itu, meskipun awalnya Kelvin menolak, namun setelah dibujuk beberapa kali, kekasihnya itu luluh juga dan setuju untuk pergi ke Surga menemui anak mereka

“Kapan kita kesana ?”

“Entah. Tapi menurut Gabriel, mungkin sekitar seminggu lagi. Ia yang akan menjemput kita sendiri” jawab Shani

“Aku masih merasa keberatan jika harus kesana” gumam Kelvin

“Ayolah… memangnya kau tidak ingin bertemu dengan anak kita ? Ia pasti sudah tumbuh tumbuh menjadi Malaikat muda yang tampan sekarang”

“Malaikat setengah Iblis, Shani” potong Kelvin

“A..ah m..maaf” ucap Shani merasa bersalah

Bagaimanapun, darah mereka berdua mengalir deras dalam Krishna. Oleh karena itu, Krishna merupakan sosok yang unik, setengah Malaikat dan setengah Iblis.

“Mau tidak mau darah jahatku mengalir di tubuhnya” Kelvin tertunduk lesu

“Jahat ? heei kau tidak jahat”

“Tapi Iblis identik dengan jahat dan kejam”

“Tapi kau tidak, kau sebaliknya”

“Haah.. sudahlah” Kelvin menghela nafasnya

“Kenapa kau berkeberatan ke Surga ?” potong Shani bertanya

“Sudah kubilang, aku sedikit tidak suka dengan Gabriel”

“Dia Malaikat yang baik”

“Baik ? itu menurutmu. Menurutku tidak sama sekali”

“Ya itu karena kau adalah Iblis. Emh maksudku, sebelum kau bertemu denganku, kau kan menjadi tangan kanan Aidan, yang merupakan musuh besar Gabriel. Wajar jika sampai sekarang dia bersikap tidak baik padamu”

“Percayalah, jika sudah mengenalnya. Dia merupakan sosok yang baik” lanjut Shani
lagi

“Terserah kau sajalah” Kelvin mencuci wajahnya yang penuh keringat di sungai. Ia baru saja selesai berlatih ilmu pedang dan sedikit Roost

“Yasudah, aku siapkan makan dulu untukmu” Shani masuk ke dalam rumah kayu berwarna coklat itu

~

Sementara itu, Kerajaan Iblis yang dipimpin Pangeran Aidan mengalami kemajuan pesat dalam ilmu senjata dan Roost, sepertinya kehilangan sosok Kelvin tidak begitu berpengaruh bagi mereka. Razkal diangkat menjadi tangan kanan Aidan, untuk menggantikan posisi Kelvin, sekaligus untuk menemani mantan kekasihnya yaitu Ve sebagai tangan kanan kerajaan. Keduanya tidak kembali menjalin hubungan seperti sebelumnya, sepertinya Ve sudah jera dengan yang namanya cinta, terlebih di saat kejadian 500 tahun lalu, ketika Kelvin menolak pernyataan cintanya dan memilih seorang Malaikat bernama Shani. Sekarang ini, ia lebih mementingkan kepentingan kerajaan diatas segalanya

Setelah Kerajaan Iblis menyatu kembali. Pangeran Aidan membentuk seperti bagan organisasi yang berisi jabatan-jabatan dari yang tertinggi sampai yang terendah. Diantaranya adalah Raja, tangan kanan, Jenderal, Panglima, Roost Master, pimpinan pasukan, sampai yang terendah yaitu para pasukan.

Raja tentu saja diisi oleh Aidan sendiri, tangan kanan berisikan Ve dan Razkal, di bagian Jenderal, mereka mempunyai Stanley, Artha dan Vinze. Panglima berisikan Reyzuu dan Wildann. Roost Master ada Melody dan Elaine. Tugas dari Roost Master sendiri tidak begitu rumit, hanya memimpin sekelompok pasukan yang ahli Roost di dalam perang dan juga melatih mereka sehari-hari jika tidak berperang. Di pimpinan pasukan, ada seorang Iblis yang naik pangkat, dari sebelumnya hanya pasukan biasa, kini menjadi seorang pimpinan pasukan. Ia bernama Nathan. Seorang Iblis yang cukup ahli dalam ilmu pedang, memiliki rambut coklat dan mata yang menawan. Iblis itu masih sangat muda, jika diukur dalam usia manusia, mungkin Iblis bernama Nathan tersebut baru berusia 18 tahun

“Ve, kau mendapati informasi tentang keberadaan si pengkhianat dan Malaikat itu ?” tanya Raja Aidan tegas, ia duduk di singgasananya

“Tidak, Yang Mulia” jawab Ve hormat

“Kau, Razkal ?”

“Tidak berbeda dengan Ve, Yang Mulia. Kelvin tidak ditemui keberadaannya”

“Bagaimana bisa ?” Aidan mengernyitkan dahinya bingung

“Sepertinya ada kekuatan mistik yang melindungi mereka, Yang Mulia. Sehingga kami tidak bisa melacak keberadaan mereka meskipun mereka berada di Bumi” kata Ve

“Kekuatan mistik ?”

“Seperti ada kekuatan Roost dari Para Malaikat, Yang Mulia” Razkal menyahut

Memang disaat Gabriel, Rafael dan Michael waktu itu mengejar Kelvin dan Shani untuk mendapatkan Krishna, sang pemimpin Malaikat tersebut sempat menyelubungi
rumah kayu Kelvin dan Shani dengan kekuatan mistiknya. Sehingga sampai saat ini, keberadaan rumah di pegunungan itu seakan tersembunyi dari pandangan.

“Sial, pasti ini ulah Gabriel..” geram Raja Aidan kesal

“Entah ada apa sampai dia melindungi pasangan bodoh itu” lanjut Raja Aidan sambil mengepalkan tangannya

~oOo~

Hari masih cukup terang saat Krishna membuka matanya pada suatu sore yang indah. Ia menggeliat malas diatas tempat tidurnya. Tubuhnya terasa sangat lelah karena seharian tadi, Padris dan Chris menyiksanya dengan latihan Roost yang berat. Krishna sudah tahu bahwa ia di didik sangat keras untuk perang yang akan datang melawan kaum Iblis, Gabriel sudah menjelaskan kepadanya panjang lebar tentang hal itu.

Ratusan tahun lalu, ketika Krishna masih anak-anak. Ia sudah dijelaskan tentang asal-usul kedua orangtuanya, mulai dari Kelvin yang seorang Iblis, dan Shani seorang Malaikat. Lalu keduanya berkhianat terhadap Kerajaan masing-masing dan memilih untuk menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Setelah mendengar semua itu, kini tahulah ia darimana sayap setengah putih dan hitamnya itu berasal. Krishna juga sudah tahu perihal kenapa ia sampai dipisahkan dengan kedua orangtuanya dan tinggal menetap di Surga. Gabriel sudah memberitahunya bahwa ia merupakan sesosok yang mereka sebut sebagai “Penyelamat”. Sampai-sampai kelahirannya tersebut sudah diramalkan jauh-jauh hari oleh Tuhan sendiri.

Awalnya ia merasakan beban yang sangat berat di pundaknya. Bagaimana mungkin seorang yang masih muda sepertinya dapat mengalahkan kaum Iblis yang terkenal hebat dan menyeramkan ? Jelas sangat mustahil. Namun hari-demi hari Para Malaikat membantu untuk menguatkannya sehingga lama-kelamaan rasa percaya diri Krishna mulai tumbuh. Ia mulai menerima takdirnya sebagai “Penyelamat” yang Para Malaikat bicarakan

“Apakah ada kabar dari kedua orangtuaku, Gabriel ?” tanya Krishna

Meskipun umur mereka terpaut sangat-sangat jauh. Krishna hanya memanggilnya dengan namanya saja, tanpa ada panggilan khusus yang lebih sopan. Itu juga merupakan permintaan Gabriel sendiri. Awalnya Krishna memanggil dengan sebutan Kakak, Paman, Malaikat, sampai Raja. Namun dirasa, semuanya tidak begitu cocok baginya, sehingga Gabriel sendiri yang memutuskan agar Krishna memanggilnya hanya dengan namanya saja

Gabriel mengangguk singkat

“Benarkah ?” wajah Krishna langsung berseri-seri, ia sangat tidak sabar untuk bertemu kedua orangtuanya

“Ya, Krishna. Kedua orangtuamu mungkin minggu depan akan berkunjung kesini”

“Berkunjung ? Hanya berkunjung ?”

“Tergantung mereka, apakah mau tetap tinggal disini atau memilih tinggal di Bumi. Yang pasti, pintu Istana ini selalu terbuka lebar bagi kedua orangtuamu”

“Kenapa ? apakah mereka tidak sayang padaku ?”

“Tentu saja mereka sangat sayang padamu, Krishna”

“Lalu ? kenapa mereka tidak mau tinggal menetap di sini bersama denganku ?” tanya Krishna penuh kebingungan

“Ada satu dan lain hal yang membuat mereka berpikir dua kali untuk tinggal disini”

“Apa itu ?”

“Belum waktunya kau untuk tahu, sayang” Gabriel kadang suka memanggil Krishna dengan sebutan ‘sayang’. Ia sudah menganggap Krishna sebagai anaknya sendiri

Krishna sedikit memberengut kesal karena Gabriel urung memberitahunya

“Sudah, kau kembalilah istirahat. Besok kalau tidak salah, kau ada latihan memanah bersama Rafael bukan ?” Krishna mengangguk

“Persiapkan dirimu, makan dan minum yang cukup. Istirahatlah” lanjut Gabriel. Krishna kembali ke dalam kamarnya, dengan cepat ia terlelap

~

Keesokan harinya, Krishna bangun lebih pagi daripada biasanya dan segera bersiap-siap lalu berlari menuju ke lapangan memanah. Disana, sudah banyak beberapa Malaikat seumuran Krishna yang akan berlatih bersamanya. Cukup lama mereka menunggu kedatangan Rafael sampai pada akhirnya

CLAP CLAP CLAP

Tiba-tiba dari arah atas, terlihat tiga anak panah melesat dan menancap di tanah. Bulu-bulu putih halus menghiasi ekor anak-anak panah itu. Tak lama kemudian, terdengar kepakan lembut sayap milik Rafael. Ia mendarat dengan anggun diiringi rambutnya yang berkibar-kibar tertiup angin

“Selamat pagi semua” sapa Rafael dengan suara keras namun bernada lembut

“Selamat pagi, Guru” jawab mereka serentak

“Baiklah, kali ini kita kembali berlatih memanah…” Rafael sempat tersenyum sejenak melirik Krishna sebelum ia kembali melanjutkan omongannya

“Kalian mengerti ???” tanya Rafael lantang setelah ia menjelaskan latihan yang akan dilakukan pada hari ini

“Siap, kami mengerti !!”

Puluhan Malaikat tersebut termasuk Krishna menempati posisinya masing-masing, Rafael berputar-putar sambil memperhatikan mereka satu demi satu. Sebuah busur panah yang terbuat dari es tergantung di punggungnya. Dengan teliti dilihatnya cara puluhan Malaikat itu memanah. Beberapa saat kemudian, ia berjalan mendekati Krsihna

“Coba tembakkan panahmu, Krishna”

Krishna cepat-cepat mengambil sebatang anak panah dari punggungnya dan dengan cepat menembakkannya ke papan sasaran. Anak panah itu menancap dengan tepat di titik tengah

“Luar biasa, Krishna” puji Rafael

“Coba kau lakukan sekali lagi” lanjut Rafael memerintah

Krishna mengambil lagi sebatang anak panah dan sudah siap menembakkannya ketika dirasanya tangan Rafael menggengam erat lengan kirinya

“Sekarang lepaskan panahmu, Krishna”

Kali ini Krishna merasakan panahnya melesat jauh lebih cepat dan tepat dari biasanya. Genggaman Rafael yang mantap membuatnya bisa menembakkan anak panahnya dengan lebih terarah

“Tangan kirimu harus lebih kokoh, jangan sampai bergetar sedikit pun saat membidikkan anak panah karena itu bisa mengurangi kecepatan anak panahmu” kata Rafael

“Baik, Guru” jawab Krishna patuh. Padahal jika hari-hari biasa, ia memanggil Rafael dengan namanya saja, namun disaat latihan. Ia memanggilnya dengan ‘Guru’ mengikuti murid-murid yang lain

Kini, Rafael berjalan kearah seorang Malaikat yang bernama Finn

“Hai, Finn, maukah kau menembakkan anak panahmu ?”

Finn mengangguk perlahan, ia maju beberapa langkah kedepan kemudian mengangkat busur panahnya dan bersiap menembakkan anak panahnya. Dengan mantap dilepaskannya anak panahnya dan anak panah itu melesat menuju titik tengah papan sasarannya.

“Kau memang sangat hebat, Finn” puji Rafael

“Terimakasih, Guru”

Latihan panah itu terus berlanjut, beberapa dari mereka tidak merasakan kesulitan jika dilatih dengan Rafael. Bahkan Krishna yang awalnya tidak begitu bisa memanah, sekarang cukup mahir dalam memanah setelah dilatih Rafael. Begitu juga dengan murid-murid lainnya.

*To Be Continued*

instagram : kelvinmandala
blog : mandalakelvin.wordpress.com
YT channel : www.youtube.com/user/WWEKelvinMP
patreon.com/KelvinMP

twitter : @KelvinMP_WWE

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s