Death Lullaby. Chapter one

kznnm5fq

 

Aku memandangi langit langit yang berwarna sedikit coklat, seharusnya warnanya tak seperti itu tapi karena debu yang menumpuk warna putihnya memudar. Kenapa aku tiba tiba menjadi puitis, mungkin karena Shani dari klub sastra kemarin atau mungkin Yuri dari klub drama yang senang membuatku mendengarkan monolognya.

Aku mengerakan kepalaku kesamping dan duduklah ketua dari klub modern dance di meja rias milik klubnya.

“Jam berapa ?” tanyaku pada Michelle yang sedang memakai seragamnya.

Michelle tersenyum padaku lalu melihat jam tangan biru kecilnya.

“Kayaknya istirahat pertama deh,” jawabnya.

Aku memaksakan diriku untuk bangun, meski hanya matras olahraga tapi semua jenis kasur itu berbahaya membuat ku sulit untuk bangun. Setelah beberapa percobaan yang gagal aku menyerah dan memilih untuk bersandar di dinding. Michelle duduk di meja make up dan mulai merapikan diri, menyisir rambut hitamnya yang tergerai lurus sampai ke bahu. Membubuhkan make up tipis di wajah manisnya, dan menutup sesi mempercantik dirinya dengan mengoleskan lipstik tipis dibibir tipisnya.

“Nih tangkap,”

Aku menangkap celana yang dilemparkan oleh Michelle. Dia sudah selesai memakai seragamnya kembali, sedangkan aku masih kesulitan untuk bangun. Tapi meski aku menjadi pesuruh OSIS yang membuatku bisa melanggar beberapa peraturan, peraturan dasar seperti memakai seragam tetap harus kupatuhi.

“Kamu ngapain sih make up-an ?” tanyaku yang sedang kesulitan memakai celana.

“Biar cantiklah,” jawabnya dengan sedikit berteriak.

Aku tak mengerti banyak soal wanita, mereka senang menutupi kecantikan mereka dengan make up. Aku tak pernah suka melihat mereka saat memakai make up yang tebal, aku suka melihat mereka apa adanya karena itulah aku suka memandangi mereka saat tidur.

“Nanti telpon ya kak,”

“Iya,”

Adik kelasku itu meninggalkanku sendiri, aku juga harus segera melapor ke ruangan klubku karena mungkin kali ini aku akan mendapat tugas. Ku pakai seragamku dan keluar dari ruangan klub milik Michelle.

Ruangan klubku untungnya berada diseberang ruangan klub Michelle, aku tak perlu berjalan jauh. Dari kejauhan aku melihat om Thunder salah satu pesuruh OSIS seperti ku berjalan dengan seorang gadis, itu menarik karena om Thunder tak pernah bicara tentang kekasihnya.

Aku mengabaikan om Thunder dan mengetuk pintu ruangan klubku, komunitas pecinta Shania bisakah kau percaya itu ? entah siapa itu Shania.

“Password ?” tanya seseorang dari dalam.

“Sejak kapan kita punya punya password ?”

Pintu terbuka dan berdirilah mahluk yang juga anggota komunitas pencinta hamster ini. Dia memandangiku dengan tatapan, well berbunga bunga, aku nggak tahu apa yang membuatnya bahagia hari ini. Senyuman…oh bukan cengirannya masih sama saat pertama kali aku bergabung. Dia memakai seragam yang nggak disetrika karena banyak garis garis bekas jemuran, dan aku bisa melihat kaos oranye menyembul dari dalam seragamnya.

“Om Thunder kapan punya pacar ? tanyaku pada mahluk itu.

“Hmmm..om Gun punya pacar, nggak mungkinlah paling majikannya,” jawabnya sambil terus mengutak ngatik sebuah sirkuit elektronik ditangannya.

Well mahluk itu bernama Sagha, aku nggak ingat nama panjangnya tapi dia juga pesuruh OSIS sama sepertiku. Dia seorang yang hyperactive, ditangannya selalu ada sesuatu untuk dikutak katik, dia selalu bahagia dan dia selalu seperti orang yang kebanyakan makan gula. Meski begitu dia orang yang baik, dia genius dalam banyak hal IT salah satunya. Karena itu aku sering meminta bantuannya untuk mencari informasi, atau sekedar mencari tahu tentang gadis yang menarik perhatianku.

“Lu ngapain sih sama Michelle tadi riuh banget ?” ucap mahluk lain yang berada diruangan ini.

Aku mendorong Sagha agar aku bisa masuk kedalam, dan yang bertanya tadi sedang duduk diujung. Badannya jauh lebih besar dariku dengan otot otot yang mengembung dari seragamnya yang nampak kekecilan. Wajahnya seram persis seperti preman jalanan, itu cocok lagi pula dialah otot dari grup ini.

“Paduan suara,” jawabku asal.

“Gue serius monyet,” ucap mahluk itu lagi kali ini dengan nada yang lebih tinggi.

“Kayak nggak tahu aja lu dho, lagian lu yang lebih berpengalaman.”

Mendengar jawabanku mahluk bernama Edho itu kehilangan ketertarikannya dan lanjutkan sketsa yang sedang dibuatnya.

Aku mengalihkan pandanganku kepada mahluk terakhir yang ada diruangan ini, dia sedang sibuk dengan handphonenya, Rizal. Dia mahluk yang paling misterius digrup ini, aku tak tahu bagaimana cara tepat mengambarkannya.

Dia jarang bicara, dia lebih senang menghabiskan waktu dengan handphonenya dan menghilangkan keberadaannya. Kedengaran aneh tapi jika kau bisa muncul dan hilang tiba tiba mungkin aneh kata yang tepat. Sedikit berlebihan tapi itulah yang kurasakan tentangnya. Dia anggota kelompok ini jadi pasti ada alasan kenapa dia dipilih oleh OSIS.

Aku mengambil tempatku dan duduk disofa yang berada dibelakang komputer. Meski kami semua pesuruh OSIS tapi kami mendapatkan fasilitas yang tak didapat klub lain. Dua buah komputer dengan spesifikasi tinggi, juga dengan WI-FI yang cepat, dua buah sofa, kulkas yang kami samarkan jadi rak buku dan juga toilet pribadi, dan itulah yang terpenting toilet pribadi.

“Eh lu bukannya pacaran sama adik ketua OSIS kok lu masih main main sama cewek lain,” celetuk Sagha yang sedang mensolder papan sirkuitnya.

“Selama Frieska nggak tahu nggak masalah,” jawabku.

“Chris ada pesan dari ketua OSIS, kau diminta melapor,” ucap sebuah suara dengan nada yang dingin, suara milik Rizal.

Aku melirik kearah Rizal dan dia menunjukan layar handphonenya padaku, aku membaca pesan yang ditulis disana.

“Baru dibilangin, gue rasa ini terakhir kalinya lu bakalan ada di ruangan ini jadi senang bisa kenal dengan lu,”

Sagha berdiri dan mengulurkan tangannya mengajakku bersalaman, ekspresinya sekarang sedih.

“Apaan sih lu,” ucapku menolak jabat tangannya.

“Tapi kalo lu mati, ini bakal jadi perpisahan,” ucap Sagha yang memaksa untuk berjabat tangan. Apa dia benar benar mengharapkan ku mati, disudut lain Edho berusaha menutupi tawanya dengan buku sketsanya dan Rizal…aku tak tahu tahu bagaimana mengambarkan ekspresi wajahnya.

“Kalo gue mati, lu bisa ambil tuh semua,” ucapku menunjuk lokerku.

“Semua reward lu ?”

“Iya semuanya,”

“Kalo gitu mati aja deh lu,”

Aku cepat cepat meninggalkan ruangan sebelum aku emosi dan melakukan sesuatu yang buruk pada Sagha. Aku berjalan melewati lorong lorong sekolah dan turun tangga untuk sampai ke ruang OSIS yang berada di lantai dua. aku mengetuk pintunya beberapa kali sebelum masuk ke dalam.

Didalam beberapa orang sedang sibuk mengurus dokumen, mereka lalu lalang menyusun, menulis dan dimeja yang berada ditengah ruangan ketua OSIS sekolahku sedang duduk menandatangangi dokumen. Dia melihatku dengan tatapan tajamnya seperti biasa, lalu dengan satu gerakan tangan aktivitas sibuk diruangan itu berhenti.

Mereka menghentikan aktivitasnya, memasukan semua map yang tadi sibuk mereka urus ke dalam lemari. Beberapa orang lalu menutup tirai dan pergi meninggalkan ku sendiri dengan gadis yang sedang duduk memandangiku.

Melody adalah gadis yang cantik. Dia punya mata bulat dengan bola mata coklat yang indah, hidung yang mancung, pipi yang tirus serta rambut hitam sebahu. Dia adalah gadis dengan kulit paling putih yang pernah kukenal, satu satunya kekurangan yang kutahu dari sosok sempurnanya adalah tinggi badan. Meski begitu untuk gadis kecil, aura yang dimilikinya sangat mengerikan.

“Duduk,” ucapnya dengan suara tegas dan aku menuruti perintahnya itu.

“Ada apa Mel ?”

“Jangan panggil aku Mel saat disekolah,” protesnya.

Melody ketua OSIS sekolahku bukanlah orang yang asing bagiku. Aku mengenalnya sebelum dia menjadi siswa dengan jabatan tertinggi disini. Aku mengenalnya sebelum aku menjadi pesuruhnya, malah dialah yang membuatku bergabung dengan kelompok buatannya itu. Tapi semenjak memiliki kekuasaan aku bahkan tak bisa memanggilnya seperti dulu.

“Baik,”

“Apa kau sudah mendengar isu tentang lagu kematian disekolah kita ?” ucap Melody yang tak suka basa basi. Dia bahkan tak menanyakan kabarku. Tapi sudahlah berdua begini saja sudah cukup.

“Kau tahu aku tak percaya hal seperti itu,”

“Aku tahu, tapi ada sebuah rumor yang menyebar dan itu membuatku khawatir,”

“Bagaimana isu klenik membahayakan OSIS ?”

Tugas tugas yang kami lakukan biasanya adalah membereskan hal yang menggangu kenyamanan atau membahayakan kekuasaan OSIS. Atau sebaliknya menunjukkan seberapa berkuasanya OSIS. memukuli beberapa orang yang dianggap berbahaya bagi OSIS, mengancam klub yang tak mematuhi perintah dan hal hal menyenangkan lainnya. Tentu saja semua itu dilakukan dalam bayang bayang, tak ada yang boleh tahu karena OSIS punya nama baik yang harus dijaga.

“Sekarang belum, tapi histeria massal bisa terjadi jika isu ini tak diselesaikan dengan cepat,” jelasnya.

“Baiklah, aku ingin reward penuh untuk tugas kali ini,”

“Semua yang kau butuhkan ada disini, selesaikanlah dan kau akan mendapat rewardmu,”

Melody memberikan amlop coklat padaku, seperti biasa amplop itu berisi detail tugas yang harus kulakukan.

“Kalau begitu aku permisi dulu….. Mel,” aku sengaja melakukan itu karena wajahnya yang marah adalah hal terlucu yang pernah kulihat. Aku dulu sering menganggunya demi melihat dia marah, tapi itu dulu dan sekarang aku merindukannya.

Aku menunggu ekspresinya untuk berubah, tapi dia tetap memasang wajah kakunya yang kubenci. Nampaknya dia tak ingin memberikan kesenangan itu padaku, jadi aku melangkahkan kakiku pergi meninggalkan ruangan.

“Chris,”

Aku membalikan badanku dan sebuah pena terbang kearahku, aku mengambil langkah mundur untuk menghindar tapi daguku terluka karena terlambat menghindar. Aku memandang kearah Melody dan disanalah hal yang ingin kulihat sedari tadi terpampang. Dan rasa sakitku tertutupi oleh perasaan senang melihat wajah marah seorang gadis.

“Aku tahu tentang kau dan gadis lain selain adikku, jika kau mematahkan hati adikku maka aku akan mematahkan lehermu,”

Sial ternyata dugaan bocah gula itu benar, Melody tahu dan nampaknya dia benar benar ingin membunuhku.

“Cukup adil,” ucapku mencoba menutupi sedikit rasa takut yang baru pertama kali muncul saat melihat Melody marah.

Aku keluar dari ruangan OSIS membawa detail tugasku kembali ke ruangan klub. Aku perlu melihat detail tugas ini, dan memutuskan apa yang harus kulakukan selanjutnya. Juga luka di daguku cukup dalam, aku harus mengunakan dasiku untuk menutupinya dan menampung darah yang keluar.

Sesampainya disana aku tak menunggu Sagha untuk membukakannya, aku menendang pintu untuk membukanya. Semua orang awalnya terkejut melihat ulahku, tapi saat melihat darah yang menetes dari daguku ekpresi mereka berubah.

Edho membuka lemari P3K yang ada di dinding, Sagha mengambil beberapa es batu dari kulkas dan mengambil sebuah handuk kecil. Sebuah tangan menarik tanganku, itu tangan dari Rizal dan dia mendorongku untuk duduk di kursi.

“Apa gue bilang ketahuankan,” ucap Sagha yang mulai mengompres luka ku dengan handuk yang diberi es batu. Sialan nih bocah tahu aja.

“Iya ini salah gue,” ucapku yang mengakui kesalahanku.

Mahluk seram bernama Edho walau dengan badan besarnya punya tangan yang terampil. Setelah Sagha selesai dengan es batunya, Edho memberikan beberapa tetes obat merah pada lukaku lalu menutupnya dengan perban. Semua dilakukan tanpa bicara, hanya tangan berotot yang mengobati luka di daguku.

“Kau cukup beruntung masih bisa hidup,”

Aku ingin melompat saat Rizal yang sedari tadi keberadaannya tak kurasakan tiba tiba berbicara dibelakangku. Dia melakukan semua itu tanpa merubah ekspresi diwajahnya, serius mahluk satu ini benar benar bisa membunuhku tanpa kusadari.

“Iya kau benar,” jawabku pada mahluk yang hampir membuatku terkena serangan jantung.

“Jadi kau dipanggil Cuma untuk ini ?” tanya Edho yang ikut dalam pembicaraan.

Aku mengangkat amplop coklat yang tadi diberikan oleh Melody, dan semua orang mengerti maksudnya. Aku memberikannya pada Sagha karena dialah yang biasanya mengurus detail tugas. Dia membawa amplop itu dan membukanya dimeja yang ada ditengah ruangan. Isinya adalah beberapa foto, sebuah mp3 player, dan beberapa lembar file.

“Tentang apa ?” tanya Sagha.

“Lagu kematian,” jawabku santai.

“Njirr serem, tapi  kok OSIS ngurus yang beginian ?” sambungnya.

“Melody nggak mau kalau hal itu menyebar dan buat kepanikan.”

“Terus ini apaan ?” Edho memutar mp3 player itu dan mulai terdengar sebuah alunan nada yang sedih, aku tak mengenali nada itu.

“Lavender town,”

Jika aku tak sedang kesakitan mungkin aku akan memukul wajah Rizal, dia berbicara dengan nada yang halus tepat disebelah telingaku. Aku tak tahu apa lavender town yang dimaksud oleh Rizal, tapi nada itu bisa benar benar menjadi lagu kematianku jika dia terus melakukan…ugh hal yang bisa dilakukannya.

“Lu tahu lagu ini pang ?” tanya Edho.

Rizal melangkah pergi meninggalkanku, syukurlah, dan mendatangi meja untuk mendengar nada tersebut dengan lebih jelas.

“Ya ini adalah BDM dari lavender town, mereka berkata jika lagu ini memiliki misteri dan ada yang berkata ini lagu kematian.

Aku tak pernah percaya dan suka tentang hal hal mistis, tapi dengan adanya Rizal aku rasa aku harus memikirkannya lagi.

“Trus nih cewek siapa ?” Edho mengangkat beberapa foto yang ada dimeja dan menunjukkannya padaku. Aku tak mengenali siapa gadis yang berada difoto itu, tapi aku mengenali jaket yang dipakainya.

“Minta filenya dong,” ucapku.

Sagha memberikan file yang ada diatas meja kepadaku. File tugas kali ini tak terlalu tebal, hanya beberapa lembar. File tentang detail tugas yang diberikan oleh OSIS selalu tebal, dengan detail yang lengkap hingga detail terkecil tentang target, tempat, hingga hasil akhir yang diharapkan. Tapi kali ini hanya ada beberapa lembar laporan, laporan tentang kecelakaan yang dialami oleh beberapa siswa. Dan yang menghubungkan mereka semua adalah lagu yang diputar saat mereka mengalami kecelakaan. Lalu hanya ada nama target, tak seperti biasanya.

“Gha tolong lu cari info yang bisa lu dapat soal Aninditha Rahma Cahyadi,” itu adalah nama yang tertulis dilaporan, dia adalah siswi yang dicurigai oleh OSIS sebagai pelaku.

Sagha dengan cepat melompat ke depan komputer dan mulai melakukan trik trik nya, aku tak terlalu mengerti apa yang dia lakukan karna tangannya bergerak begitu cepat diatas keyboard. Rizal memasukan kembali semua detail tugas ke dalam amplop, lalu membuang mereka ke tong sampah dan membakarnya. Prosedur standar karena tak boleh ada bukti.

“Udah ketemu,” ucap Sagha dengan wajah berbunga bunga.

“Lahir lima januari…darah O….157 cm……capricon….eskul renang,”

Pantas saja aku mengenali jaket itu, dia anggota eskul yang sama dengan Frieska. Kalau begitu aku bisa meminta bantuan Frieska untuk mencari tahu lebih tentang Anin.

“Ya udah gue jalan dulu,” ucapku seraya melangkah keluar, didepan pintu Edho sedang memeriksa kerusakan pada pintu yang tadi kutendang.

Menurut file yang diberikan oleh OSIS, Anin selalu menjadi orang pertama yang menemukan para korban. Menemukan lima korban yang sekarat, aku rasa itu masuk akal mencurigai Anin. Tapi sesuatu yang terlalu cocok seperti yang menemukan korban adalah pelaku, itulah sesuatu yang mencurigakan.

kasus lagu kematian yang pertama terjadi satu bulan yang lalu, Diani siswi kelas satu ditemukan tak sadarkan diri diperpustakaan. Dia mengalami dehiradsi parah dengan sebuah botol minuman berada disampingnya. Tentu hal itu aneh, dan lagu lavender town sedang diputar di mp3 player yang ada di handphonenya. Dari keterangan yang diberikan Diani, dia tak pernah punya lagu itu sebelumnya.

Kasus kedua terjadi tiga hari setelahnya, seorang anggota eskul balap sepeda mengalami kecelakaan parah yang hampir membunuhnya. Rantai sepedanya putus dan rem sepedanya dirusak. Dari pengakuan siswa tersebut dia selalu mengecheck sepedanya sebelum dan setelah latihan. Dia juga mengaku mendengar lagu aneh yang membuatnya terkejut, dan lagu tersebut adalah lagu yang sama, lavender town.

Kasus ketiga menimpa salah seorang satpam sekolah. Dia ditemukan keracunan makanan di pos satpam, dan sebuah mp3 player ditemukan sedang memutar lavender town disampingnya. Aku rasa tak mungkin seorang satpam tahu apapun tentang pokemon, apalagi memiliki BDM nya.

Kasus keempat merupakan teror yang dialami oleh seorang guru. Komputer guru tersebut diretas, dan membuatnya tak henti hentinya memutar sebuah video pembunuhan. Dan lagu yang sama seperti tiga kasus sebelumnya, lavender town juga diputar tanpa henti.

Dan kasus terakhir baru saja terjadi kemarin, seorang anggota OSIS ditemukan pingsan ditoilet dengan luka sayatan diwajahnya. Sama seperti keempat kasus sebelumnya Anin lah yang pertama kali sampai di TKP. Dan dari laporan yang dia buat, lagu yang sama diputar oleh handphone korban seperti empat kasus sebelumnya.

Berada di TKP pertama kali, lima kali berturut turut mungkin hanya sebuah kebetulan. Tapi itu sebuah kebetulan yang terlalu aneh jika diabaikan. Mungkin ada alasan Anin menemukan mereka, atau mungkin Anin hanya punya keberuntungan yang sangat sangat buruk.

Ruangan eskul renang berada tepat disamping kolam renang sekolah. Untuk mencapai kolam renang sekolah, aku harus turun ke lantai satu, dari sana aku harus melewati lorong sekolah menuju kolam renang sekolah yang berada disamping gedung olahraga.

Dulu aku sering datang kemari, hanya untuk melihat para gadis berenang. Aku selalu membuat alasan untuk bisa melihat mereka berenang dengan bikini mereka. Sampai akhirnya aku bertemu dengan Frieska, dan aku punya alasan yang cukup bagus yaitu menjemputnya.

Tapi semenjak aku menjadi salah satu pesuruh OSIS, aku harus membuat alasan kepada Frieska kenapa aku tak bisa menjemputnya. Saat aku tiba,Para anggota eskul renang nampak sedang serius mendengarkan penjelasan Frieska, Frieska adalah ketua eskul renang yang baru ( semenjak Rizal membuat ketua yang lama “mengundurkan diri” ).

Aku memilih duduk disalah satu bangku, karena nampaknya apa yang sedang dijelaskan oleh Frieska adalah masalah yang serius. Aku hanya melambai saat Frieska melihat kearahku, membuat para anggota lain juga melihat kearahku. Lalu setelah Frieska selesai, dia datang menghampiri ku.

Frieska jauh lebih tinggi dari Melody, meski begitu mereka memiliki paras yang hampir sama. Hidung yang mancung dan sama seperti kakaknya bola mata coklatnya menenangkan untuk dilihat.

Dia memiliki bibir yang jauh lebih sensual dari melody, pipi yang juga lebih chubby serta sebuah tahi lalat dipipi kiri.

Bikini kuning yang dipakainya menampilkan  kaki jenjangnya, dan sebuah handuk putih tergantung dipundak menutupi tubuh bagian atasnya.

“Ini kenapa ?” tanya Frieska sambil memegang daguku.

“Nggak tadi Cuma kecakar waktu grooming,” jawabku.

“Makanya hati hati,”

Dia duduk disebelahku dan mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk yang dibawanya.

“Ada apa tumben ?” ucap Frieska, dan aku tahu dia sedang menyindirku.

“Cuma lagi kangen aja,”

Tak mungkin aku bertanya padanya langsung dimana Anin. Dan aku bagaimana ingin bertanya pada Anin, Tentang bagaimana dia bisa menjadi yang pertama menemukan para korban.

“Yakin karena kangen ?”

“Maksudnya ?”

Aku bisa melihat eskpresi wajah Frieska berubah, aku orang yang cukup ahli berbohong jadi aku ragu ekspresinya berubah karena tahu aku berbohong.

“Tunggu disini ada yang ingin aku tunjukan ke kamu,”

Frieska pun pergi berjalan menuju area loker, aku tahu karena beberapa kali aku pergi kesana. Aku merasa ada yang salah dengan tingkah Frieska.

Dia adalah orang yang sangat jujur dengan perasaannya. Dia akan menyampaikan hal apapun yang dirasakannya, meski ucapannya kadang tak seharusnya terucap. Tapi itulah dia, alasan lain kenapa aku suka kepadanya pada saat pertama.

Tapi hal itu mungkin akan segera terjawab, aku tak tahu apa tapi apa yang ingin ditunjukan Frieska mungkin adalah jawabannya. Yang harus kucari sendiri jawabannya adalah kasus yang sedang coba kupecahkan.

Para anggota eskul renang sedang tampak serius berlatih. Beberapa dari Mereka melakukan peregangan, ada yang sedang membaca buku panduan, dan beberapa sedang berlomba.

Sebagian besar dari mereka sudah mengenal siapa aku, mereka sudah maklum melihatku berada diruang klub mereka. Beberapa mungkin lebih mengenalku secara personal, dan beberapa anggota baru sedang nampak berbisik dengan temannya saat melihatku.

Aku hanya tersenyum pada mereka, seperti yang selalu kulakukan. Akan menyenangkan jika aku bisa memandangi mereka saja, menikmati apa yang ada didepanku, tapi mungkin lain kali, karena sekarang aku memandangi mereka dengan suatu tujuan.

Aku tak bisa menemukan Anin diantara mereka semua, aku mencoba sekali lagi mencari wajah yang ada difoto tadi tapi hasilnya tetap sama. Aku tak bisa menemukan Anin diantara mereka semua.

Apakah sesuatu terjadi pada Anin ? apakah OSIS sudah melakukan sesuatu terlebih dahulu, Sesuatu yang membuat Anin tak ada diruangan eskulnya. OSIS pernah melakukan hal itu sebelumnya, dan Om Thunder masih tak bisa memaafkan kejadian itu. sekarang apakah Melody sudah melakukan sesuatu ?

Aku melihat Frieska sudah kembali dari area loker, dan dia membawa amlop coklat bersamanya.

“Hei,” sapa ku.

“Apa kau kenal dengan Aninditha ?” ucap Frieska.

“Tidak,” tidak secara langsung, tapi kenapa Frieska bertanya tentang target ku ?

“Beberapa hari yang lalu terjadi beberapa kejadian disekolah, dan Anin adalah saksi dari kejadian itu. Surat ini datang tadi pagi, surat pengunduran diri dari kegiatan eskul.”

Frieska membuka amplop itu dan memberikan sebuah surat kepadaku. Aku membaca surat itu, dan itu bukanlah tulisan tangan Melody. Itu berarti Melody tak mencampuri kasus ini, dan jangan bertanya padaku bagaimana aku bisa tahu tulisan tangan Melody.

“Jadi kau khawatir kejadian ini berhubungan ?”

Frieska mengangguk.

“Apa yang kau tahu tentang Anin..ditha ?”

Aku memberikan surat itu kembali pada Frieska, dia memasukannya kembali ke dalam amplop lalu kembali duduk. Aku mengikuti langkahnya dan duduk disebelahnya.

Guratan guratan sedih mulai muncul diwajah Frieska, matanya berubah teduh dengan bibir yang dikatupkan. Ekspresi yang menandakan bahwa dia khawatir, yang terakhir kulihat saat eskulnya terkena masalah dan hampir dibubarkan.

“Anin adalah anggota yang baru yang menjanjikan, dia memiliki kemampuan hebat sehingga dia adalah satu satunya anggota tim utama yang berasal dari kelas satu.”

“Ok lalu ? apakah ada hal yang terjadi selama Anin menjadi anggota ?”

“Tidak, dia anggota yang rajin latihan, dia juga membantu teman temannya untuk menjadi lebih baik. Aku menanggapnya sebagai calon ketua setelah aku mundur,”

Jadi Anin adalah ace, orang hebat sepertinya pasti punya hater. Dia pasti punya orang yang tak suka melihat kesuksesannya. Tapi aku harus mencari tahu lebih, aku tak bisa mengambil kesimpulan begitu saja.

“Lalu apa yang membuatmu memberitahuku semua ini ?”

“Aku rasa Anin tak mungkin begitu saja mengundurkan diri, kami akan mengikuti audisi nasional bulan depan. Dan Anin tak mungkin melewatkan itu,”

“Tunggu, kenapa ?”

“Dia lah yang paling kompetitif di tim ini,”

Aku mengambil napas dalam untuk mencoba mengerti. Anin adalah seorang ace yang kompetitif, orang hebat yang ingin menunjukan seberapa hebat dirinya adalah magnet untuk masalah. Meski ini hanya dugaan awal, tapi mungkin bukan sebuah kebetulan Anin menemukan mereka semua.

Tapi aku butuh petunjuk, sesuatu yang bisa mengarahkanku pada jawaban. File yang diberikan oleh OSIS tak membantu, aku harus menemukan petunjukku sendiri.

“Jadi kau ingin aku mencari tahu alasan Anin keluar dari tim ini ?”

“Ya,”

“Kau tahu aku dari klub hamster bukan ?”

“Ya dan aku tahu jika kuku hamster tak cukup tajam untuk membuat luka di dagumu itu,”

“Aku…ber..”

“Aku mengetahui lebih dari yang kau kira,”

Tunggu dulu dia tahu.

“Semuanya ?”

Mendadak aku teringat dengan wajah Melody sebelum dia melemparkan penanya padaku. Rasa sakit yang tadi kurasa kembali ke daguku,dan entah kenapa aku membayangkan yang terburuk.

“Tidak semuanya,”

“Seberapa jauh ?” pertanyaan buruk, tapi itulah yang terucap tanpa kusadari.

“Aku tahu bahwa itu bukanlah klub hamster, aku tahu kalian melakukan pekerjaan kotor OSIS dan aku tahu klub mu yang menyelamatkan klub renangku.”

Aku tak tahu mana yang lebih buruk, Frieska yang mengetahui semuanya tentang klub pesuruh OSIS itu, atau Melody yang tahu tentang Frieska yang tahu.

“Baiklah tapi aku butuh bantuanmu,”

Tak ada gunanya lagi membantah ucapan Frieska, tapi paling tidak dia tak tahu semuanya.

“Bantuan apa ?”

“Tunjukin loker Anin.”

 

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “Death Lullaby. Chapter one

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s